aktivitas

Program Sister Hospital (SH) dan Performance Management Leadership (PML) merupakan kerjasama antara pemerintah Australia dan Indonesia dalam bidang kesehatan terutama kesehatan ibu dan anak di Nusa Tenggara Timur (NTT). Project ini menitikberatkan pada peningkatan kapasitas 11 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) demi menjamin pelayanan PONEK 24 jam dengan pemenuhan dokter spesialis, capacity building, monitoring evaluasi dan exit strategy. Didalam implementasi program ini, setiap 3 bulan sekali diadakan monitoring evaluasi pencapaian program, namun karena berbagai pertimbangan sejak 2013 kegiatan ini dilakukan 6 bulan sekali. Di dalam monitoring evaluasi tersebut, ada 4 aspek yang menjadi kriteria penilaian yakni aspek klinis, aspek manajemen, aspek kualitatif, dan aspek PML.

Evaluator dalam kegiatan monitoring evaluasi ini berasal dari berbagai pihak yang professional dalam bidangnya seperti organisasi profesi (HOGSI, POGI, IDAI), peneliti dan konsultan (PKMK UGM, P2K3 Undana) serta melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi NTT sebagai pemilik program ini sekaligus yang akan melanjutkannya apabila bantuan dari AIP sudah berkurang atau terhenti. Proses monitoring ini tidak hanya sebatas penilaian saja namun juga pemaparan hasil temuan sementara di RSUD yang menjadi lokasi monitoring dan evaluasi serta diseminasi besar yang melibatkan seluruh stakeholder dan pemerintah daerah dari 11 RSUD peserta program.

11apr-1

Narasumber: dr. Sitti Noor Zaenab dan dr. Hardhantyo Puspowardoyo

Kota Balikpapan saat ini sedang menyusun manual rujukan KIA, yang telah dikembangkan sejak Bulan Januari 2015 yang lalu, serangkaian kegiatan awal telah digulirkan, mulai dari sosialisasi awal manual, pembentukan tim tingkat kabupaten dan rencana kerja, hingga pembagian kasus. Terdapat 10 langkah kegiatan yang harus dilakukan didalam penyusunan manual rujukan. Upaya intensif dari dinas kesehatan kota Balikpapan telah berujung manis, yakni kesadaran seluruh elemen tenaga kesehatan bahwa manual rujukan ini penting bagi kemajuan kesehatan masyarakat. Dalam 3 kali kunjungan tim, Kota Balikpapan telah berada dalam langkah ke 4 pengelompokan kasus dan lahkah ke-5 penyusunan Sistem Informasi.

8mei-1

Dokumen ini merupakan hasil dari kegiatan pendampingan AMP di 3 Kabupaten yang dilakukan pada bulan februari hingga mei 2015. Kabupaten yang dipilih merupakan 3 Kabupaten yang ternaung didalam program sister hospital NTT dengan kematian ibu tertinggi pada tahun 2014. Berdasarkan temuan dilapangan diketahui bahwa kegiatan AMP seringkali hanya dilakukan sebagai penggugur kewajiban untuk dilaksanakan, bukan sebagai sarana perbaikan, indikatornya adalah banyak rekomendasi yang dihasilkan tidak ditindaklanjuti. Hal inilah yang menimbulkan adanya kelelahan bagi tenaga medis yang terlibat untuk melakukan kegiatan ini terus menerus.

Seluruh petunjuk dalam buku sudah cukup lengkap, sehingga tidak ada perubahan yang dilakukan terhadap materi dalam buku panduan, namun lebih kepada melengkapi tata cara teknis tentang bagaimana melakukan kegiatan Audit Maternal Perinatal yang benar, yang tidak ada dalam buku panduan tersebut.

22apr-1

Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia masih cukup memprihatinkan terlebih apabila kita bandingkan dengan para negara tetangga di Asia. Data terakhir yang ada yaitu AKI dan AKB dari tahun 2007 dari SDKI. AKI berada pada posisi 228/100.000 kelahiran hidup dan AKB ada 34/1000 kelahiran hidup. Sedangkan AKI di Kota Bontang tahun 2014 sebanyak : 8 kasus dan AKB : 41 kasus. Angka ini lebih memprihatinkan apabila kita lihat AKI dan AKB Tahun 2013, jumlah riil kematian ibu dan bayi. Khusus untuk Ibu memberi kontribusi kematian yang cukup besar kurang lebih sebesar 232% , dan komponen ini sangat terkait dengan pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas.

Hal ini cukup membuat program Kesehatan Ibu dan Bayi harus melaksanakan upaya akselerasi mengingat hampir semua ibu hamil sudah bertemu dengan tenaga kesehatan pada saat mereka mendapatkan pelayanan antenatal pertama kali. Angka capaian tahun 2014 di Kota Bontang menunjukkan Kunjungan I Antenatal mencapai 103.6%, kunjungan antenatal minimal 4 kali (K4) lebih kecil yaitu 100.1% Sayangnya belum semua ibu tersebut mendapatkan pelayanan Antenatal berkualitas, mengingat angka dan bahkan tidak semua mendapatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terampil (Pn. 96.8%).

22apr

(Kerjasama Badan Mutu Pelayanan Kesehatan dengan PKMK FK-UGM)

PKMK FK UGM- Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) bekerjasama dengan Badan Mutu Yogyakarta menyelenggarakan BIMTEK audit medis di Hotel Santika, 13-14 April lalu. Badan Mutu mempercayakan dr. Hanevi Djasri MARS sebagai pembicara yang didampingi oleh drg. Puti Aulia Rahma MPH dan Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH

BIMTEK diikuti oleh 13 peserta yang berasal dari RSPAU dr Hardjolukito, RS UGM , RSUD Panembahan Senopati Bantul, RST dr.Soejono Magelang, RSU Nur Hidayah Bantul, RS Pura Raharja, RS Elizabeth, RS Rajawali Citra, RSI Cawas Klaten dan Dinkes Bontang. pelatihan ini diikuti oleh semua dokter. Audit medis sebaiknya diikuti oleh klinisi dalam hal ini adalah dokter dan perawat, bagian manajemen dan rekam medik ungkap dr. Hanevi ketika ada peserta yang bertanya tentang siapa peserta yang sebaiknya mengikuti BIMTEK. drg. Betha Candrasari (Direktur Badan Mutu) menuturkan dengan BIMTEK ini diharapkan peserta mampu menyusun instrumen dan menerapkan Audit Medis di RS, sehingga keterlibatan manajemen sangat penting dalam menindaklanjuti hasil audit medis.