Editorial, Senin 18 Agustus 2014

Berbagai Faktor Yang Perlu di Pertimbangkan dalam Mencari Menteri Kesehatan untuk Indonesia

rakernas

Jum'at 15 Agustus 2014 yang lalu, PKMK FK UGM telah menyelenggarakan diskusi mengenai berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan dalam Mencari Menteri Kesehatan untuk Indonesia. Menteri Kesehatan merupakan jabatan politis yang tentunya ditentukan oleh Presiden tepilih. Terkait asal usul Menteri Kesehatan mendatang, tidak masalah bila Menteri Kesehatan Mendatang berasal dari partai politik, perguruan tinggi, birokrasi pemerintah, kalangan swasta, ataupun dari militer. Konsekwensi bahwa Menteri Kesehatan merupakan jabatan politis, maka harus ada penyeimbang dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan.

Read More

Agenda Mendatang

pra-forum 01

Artikel

SHS : Antara Wisata Kesehatan dan Pasar Bebas ASEAN

art-7apr Surabaya Health Season (SHS) 2014 - sebagai acara tahunan dalam memperingati hari jadi kota Surabaya – berakhir. Acara yang berlangsung sekitar 1,5 bulan ini sejak 13 April lalu menyebutkan bahwa sejumlah fasilitas kesehatan seperti 58 rumah sakit (RS), klinik kesehatan, 62 puskesmas dan laboratorium .....

More


Menghasilkan Mutu Audit Rujukan Melalui Pendekatan Assessment Scala

art-20mei-2 Audit rujukan yang berkualitas tidak kalah pentingnya seperti tindakan klinik dan merupakan hal yang esensial dari good clinical care karena merupakan hubungan antara healthcare professionals di primary dan secondary environments. Melalui audit rujukan, informasi dikumpulkan dan digunakan sebagai prioritas kedepan, memberikan rekomendasi sebagai tindakan selanjutnya selain itu banyak hal dapat dikaji, dikenali, dievaluasi sehingga menghasilkan tindakan yang efektif dan efisien.

More


Mutu Pelayanan Kesehatan

Meningkatkan Peran Dinas Kesehatan Provinsi dalam Akreditasi RS di Indonesia

Posted in agenda

Share

Oleh : dr. Hanevi Djasri, MARS

PMPK UGM & The Nossal Institute for Global Health Melbourne University (Nossal Institute) didukung oleh AusAID telah mengadakan fellowship dari Australian Leadership Award (ALA) pada tanggal 3-21 september 2012. Program selama 3 minggu fellowship ini bertujuan untuk mengambil pembelajaran dari Australia, mendiskusikan isu-isu yang terkait dan relevan di Indonesia serta menetapkan rencana tindak lanjut yang perlu dilakukan untuk mendukung Kemenkes mencapai target tersebut.

Peserta program ALA 2012 terdiri dari 2 kelompok, kelompok I terdiri dari 13 orang yang merupakan kelompok penelaah sistem akreditasi di Australia berdasarkan materi yang disampaikan atau diberikan oleh narasumber, kemudian membawanya kedalam diskusi dengan konteks di Indonesia baik untuk mengidentifikasi relevansi serta urgensinya pembelajaran tersebut untuk diterapkan di Indonesia. Kelompok ini kemudian juga menyusun rencana tindak lanjut (POA). Kelompok I terdiri dari perwakilan Kemenkes (2 orang), Dinkes Provinsi DIY (3 orang), Dinkes Provinsi Jateng (2 orang), KARS (2 orang), PERSI (2 orang) dan PMPK UGM (2 orang) anggota ditunjuk oleh pimpinan instansi masing-masing. Hasil penyusunan POA dari Kelompok I kemudian dipresentasikan kepada Kelompok II yang merupakan kelompok pengambil keputusan yang terdiri dari 6 orang, mewakili BUKR (1 Kasubdit, 1 staf), KARS/PERSI (1 Ketua), Dinkes Provinsi (2 Kadinkes) dan UGM (1 narasumber).

gb1Peserta ALA kelompok I

Program ALA 2012 meliputi kegiatan literatur review, presentasi dan diskusi dengan narasumber, kunjungan ke lapangan serta diskusi kelompok untuk mengidentifikasi lesson learnt, isu-isu di Indonesia dan Plan of Action baik POA bersama maupun individu institusi. Seluruh kegiatan tersebut difasilitasi oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PMPK FK-UGM) bekerjasama dengan The Nossal Institute for Global Health Melbourne University (Nossal Institute).

gb2diskusi peserta

Terdapat 3 bagian tindak lanjut yang perlu dilakukan untuk meningkatkan peran Dinkes provinsi dalam program akreditasi RS. Bagian pertama berada ditingkat makro, yaitu menyusun Kerangka Kerja Nasional Peningkatan Mutu dan Keselamatan dalam Pelayanan Kesehatan, pedoman ini akan menjelaskan posisi program akreditasi serta menjelaskan peran dan kewenangan Kemenkes, KARS, Dinkes provinsi/kab/kota, PERSI pusat/daerah. Peran tersebut meliputi tahap persiapan, penyelenggaraan dan monitoring-evaluasi program akreditasi. Pedoman ini juga akan terkait dengan peran Badan Pengawas RS (BPRS) dan Komisi Nasional Keselamatan Pasien RS (KNKPRS)

Bagian kedua berada ditingkat mikro, yaitu Mengembangkan Proses Penyelenggaraan Program Akreditasi oleh KARS. Bagian ini akan terkait dengan draft Pedoman Tatalaksana Survei Akreditasi yang saat ini telah disusun oleh KARS yang akan dilengkapi dan disempurnakan pada bagian terkait dengan keterlibatan dan komunikasi Dinkes provinsi pada saat pra-survei, survei dan pasca survei. Disamping itu bagian ini akan terkait dengan rencana kerja KARS termasuk dalam memperoleh akreditasi dari ISQua.

Bagian ketiga adalah Capacity Building Tim Dinas Kesehatan Provinsi (akan terdiri dari staf dinkes, PERSI daerah, klinisi dan BPRS provinsi), materi capacity building terutama akan berasal dari pedoman yang disusun pada langkah pertama dan kedua. Peningkatan kompetensi ini tidak bertujuan menjadikan Tim Dinkes Provinsi sebagai Survior ataupun Pembimbing KARS namun sebagai regulator, pembina dan pengawas RS yang berada diwilayah kerjanya.

Jawa Tengah sebagai salah satu peserta Program ALA 2012 telah menyanggupi sebagai lokasi Pilot Project Peningkatan Peran Dinkes Provinsi dalam Program Akreditasi yang dapat segera dilakukan pada bulan Oktober-Desember tahun 2012 ini. Hasil pilot project ini diharapkan dapat menjadi model Nasional yang akan disosialisasikan pada tahun 2013.

gb3Peserta ALA kelompok I dan II beserta para fasilitator

MINGGU I

Tanggal

Agenda

Narasumber

3 September 2012

orientasi peserta mengenai program ALA Fellowship

Nossal Institute

4 September 2012

Literature review course

5 september 2012

Me-review literatur :

  1. Selecting indicators for patinet safety at health system level in OECD conuntries
  2. Impact of accreditation on the quality of healthcare services : A systematic review of the literature
  3. The attitude of health care profesionals toward accreditation : A systematic review of the literature
  4. Linking organizational structure to the external environment : experiences from hospital reform in transition economies
  5. Improving provider skills, strategies for assisting health workers to modify and improve skills : developing quality health care- a process of change

Peserta ALA

6 september 2012

Persentasi hasil me-review literatur dan diskusi

Perserta ALA & Nossal Institute

7 september 2012

Short course tentang akses penyandang keterbatasan fisik (disability) terhadap pelayanan publik.

MINGGU II

10-12 September 2012

Short course di Australian Concil for Health Service (ACHS) (Lembaga Akreditasi)

ACHS

13 September 2012

Persentasi mengenai peran board atau badan pengawas di RS

Northern Health Board (Badan Pengawas tingkat distrik).

14 September 2012

Presentasi tentang Australian Commision on Safety and Quality in Health Care (ACSQHC)

Margaret Banks (ACSQHC)

MINGGU III

17 September 2012

penyusunan kesimpulan  mengenai points pembelajaran kelompok I kepada kelompok II

Peserta ALA

18 September 2012

Presentasi tentang Clinical Governance

Professor Rosemary Aldrich (Nossal Institute)

19 September 2012

Presentasi tentang Akreditasi di Victoria

Victorian Deptartemen of Health

20-21 September 2012

Penyusunan plan of action dari masing-masing kelompok (6 topik dengan 10 action Plan)

  1. Safety and quality framework
  2. Peran Pusat dan Daerah
  3. Pengelolaan Lembaga Akreditasi
  4. Benchmark Nasional Kinerja RS
  5. Disability dalam Program Akreditasi
  6. Evidence based policy making

Peserta ALA

Daftar peserta

Peserta gelombang I (penelaah sistem dan penyusun POA)

  1. Yuli Kusumastuti, Dinkes DIY
  2. Arif Dani Dahlius, RS Kota Jogja
  3. Betha Candrasari, Badan Mutu Jogja
  4. Sadono Wiwoho, Dinkes Jateng
  5. Ida Witiasati Idajati, RS Moewardi, Solo
  6. Octi Palupi Rahayuningtyas, Kemenkes
  7. Yuwanda Nova, Kemenkes
  8. Luwiharsih, KARS
  9. Masaah Amatyah, KARS
  10. Handjaja Rono Sulistyo, PERSI
  11. Johan Thamrin Saleh, PERSI
  12. Hanevi Djasri, PMPK UGM
  13. Luh Putu Eka Putri Andayani, PMPK UGM

Peserta gelombang II (pengambil keputusan)

  1. Sutoto, Ketua KARS & PERSI
  2. Anung Sugihantono, Kadinkes Jateng
  3. Sarminto, Kadinkes DIY
  4. Eka Anugrahi, Kasubdit RS Pendidikan, BUK-R, Kemenkes
  5. Yayan Gusman, Staf Subdit Akreditasi, BUK-R, Kemenkes
  6. Adi Utarini, Narasumber PMPK & MMR UGM

Website lain dari PKMK FK UGM


deskesMsehatmpt
    aids2

Website terkait

   
  ahrq