Editorial, Senin 21 April 2014

Melejitkan Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia dengan Penetapan Standar Tertinggi

edi-7apr

Minggu lalu, pelaksanaan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (SJSN) telah memasuki 100 hari dan mutu pelayanan kesehatan menjadi sorotan berbagai pihak. Kendali mutu pelayanan dirasakan harus diperbaiki agar masyarakat mendapat pelayanan yang prima. Masalah yang masih menjadi kendala adalah sebaran peserta terdaftar di fasilitas pelayanan kesehatan primer belum merata. Masih ada puskesmas atau klinik yang pesertanya banyak, sementara tenaga dokternya hanya satu. Ada pula puskesmas yang pesertanya sangat sedikit. Hal ini akan sangat mempengaruhi mutu layanan yang diterima peserta (Kompas.com)

Read More

Artikel

Escape Velocity: Batas Kecepatan Minimal untuk Keluar dari Orbit Mutu Biasa-Biasa Saja

art-7apr Maureen Bisognano, President and CEO Institute for Healthcare Improvement dari USA menggunakan istilah "Escape Velocity" untuk menggambarkan upaya yang diperlukan agar tingkat mutu pelayanan kesehatan dapat melejit tinggi tidak hanya sekedar naik secara bertahap. Istilah tersebut diambil dari penerbangan roket di luar angksa, yaitu batas kecepatan yang dibutuhkan sebuah roket untuk dapat keluar dari orbitnya.

More


Perubahan Mental Model Upaya Peningkatan Mutu: Dari Tahun 1980an ke Tahun 2020an

Maureen Bisognano, President and CEO Institute for Healthcare Improvement dari USA mengingatkan bahwa para pemimpin dalam bidang pelayanan kesehatan seharusnya telah menggunakan cara berpikir yang berbeda dari cara berpikir tahun 1980an, dia menjelaskan perubahan cara berpikir yang terkait dengan kepuasan pasien, keterlibatan klinisi, pengendalian biaya dan pengukuran kinerja.

More


Meningkatkan Peran Dinas Kesehatan Provinsi dalam Akreditasi RS di Indonesia

Posted in agenda

Share

Oleh : dr. Hanevi Djasri, MARS

PMPK UGM & The Nossal Institute for Global Health Melbourne University (Nossal Institute) didukung oleh AusAID telah mengadakan fellowship dari Australian Leadership Award (ALA) pada tanggal 3-21 september 2012. Program selama 3 minggu fellowship ini bertujuan untuk mengambil pembelajaran dari Australia, mendiskusikan isu-isu yang terkait dan relevan di Indonesia serta menetapkan rencana tindak lanjut yang perlu dilakukan untuk mendukung Kemenkes mencapai target tersebut.

Peserta program ALA 2012 terdiri dari 2 kelompok, kelompok I terdiri dari 13 orang yang merupakan kelompok penelaah sistem akreditasi di Australia berdasarkan materi yang disampaikan atau diberikan oleh narasumber, kemudian membawanya kedalam diskusi dengan konteks di Indonesia baik untuk mengidentifikasi relevansi serta urgensinya pembelajaran tersebut untuk diterapkan di Indonesia. Kelompok ini kemudian juga menyusun rencana tindak lanjut (POA). Kelompok I terdiri dari perwakilan Kemenkes (2 orang), Dinkes Provinsi DIY (3 orang), Dinkes Provinsi Jateng (2 orang), KARS (2 orang), PERSI (2 orang) dan PMPK UGM (2 orang) anggota ditunjuk oleh pimpinan instansi masing-masing. Hasil penyusunan POA dari Kelompok I kemudian dipresentasikan kepada Kelompok II yang merupakan kelompok pengambil keputusan yang terdiri dari 6 orang, mewakili BUKR (1 Kasubdit, 1 staf), KARS/PERSI (1 Ketua), Dinkes Provinsi (2 Kadinkes) dan UGM (1 narasumber).

gb1Peserta ALA kelompok I

Program ALA 2012 meliputi kegiatan literatur review, presentasi dan diskusi dengan narasumber, kunjungan ke lapangan serta diskusi kelompok untuk mengidentifikasi lesson learnt, isu-isu di Indonesia dan Plan of Action baik POA bersama maupun individu institusi. Seluruh kegiatan tersebut difasilitasi oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PMPK FK-UGM) bekerjasama dengan The Nossal Institute for Global Health Melbourne University (Nossal Institute).

gb2diskusi peserta

Terdapat 3 bagian tindak lanjut yang perlu dilakukan untuk meningkatkan peran Dinkes provinsi dalam program akreditasi RS. Bagian pertama berada ditingkat makro, yaitu menyusun Kerangka Kerja Nasional Peningkatan Mutu dan Keselamatan dalam Pelayanan Kesehatan, pedoman ini akan menjelaskan posisi program akreditasi serta menjelaskan peran dan kewenangan Kemenkes, KARS, Dinkes provinsi/kab/kota, PERSI pusat/daerah. Peran tersebut meliputi tahap persiapan, penyelenggaraan dan monitoring-evaluasi program akreditasi. Pedoman ini juga akan terkait dengan peran Badan Pengawas RS (BPRS) dan Komisi Nasional Keselamatan Pasien RS (KNKPRS)

Bagian kedua berada ditingkat mikro, yaitu Mengembangkan Proses Penyelenggaraan Program Akreditasi oleh KARS. Bagian ini akan terkait dengan draft Pedoman Tatalaksana Survei Akreditasi yang saat ini telah disusun oleh KARS yang akan dilengkapi dan disempurnakan pada bagian terkait dengan keterlibatan dan komunikasi Dinkes provinsi pada saat pra-survei, survei dan pasca survei. Disamping itu bagian ini akan terkait dengan rencana kerja KARS termasuk dalam memperoleh akreditasi dari ISQua.

Bagian ketiga adalah Capacity Building Tim Dinas Kesehatan Provinsi (akan terdiri dari staf dinkes, PERSI daerah, klinisi dan BPRS provinsi), materi capacity building terutama akan berasal dari pedoman yang disusun pada langkah pertama dan kedua. Peningkatan kompetensi ini tidak bertujuan menjadikan Tim Dinkes Provinsi sebagai Survior ataupun Pembimbing KARS namun sebagai regulator, pembina dan pengawas RS yang berada diwilayah kerjanya.

Jawa Tengah sebagai salah satu peserta Program ALA 2012 telah menyanggupi sebagai lokasi Pilot Project Peningkatan Peran Dinkes Provinsi dalam Program Akreditasi yang dapat segera dilakukan pada bulan Oktober-Desember tahun 2012 ini. Hasil pilot project ini diharapkan dapat menjadi model Nasional yang akan disosialisasikan pada tahun 2013.

gb3Peserta ALA kelompok I dan II beserta para fasilitator

MINGGU I

Tanggal

Agenda

Narasumber

3 September 2012

orientasi peserta mengenai program ALA Fellowship

Nossal Institute

4 September 2012

Literature review course

5 september 2012

Me-review literatur :

  1. Selecting indicators for patinet safety at health system level in OECD conuntries
  2. Impact of accreditation on the quality of healthcare services : A systematic review of the literature
  3. The attitude of health care profesionals toward accreditation : A systematic review of the literature
  4. Linking organizational structure to the external environment : experiences from hospital reform in transition economies
  5. Improving provider skills, strategies for assisting health workers to modify and improve skills : developing quality health care- a process of change

Peserta ALA

6 september 2012

Persentasi hasil me-review literatur dan diskusi

Perserta ALA & Nossal Institute

7 september 2012

Short course tentang akses penyandang keterbatasan fisik (disability) terhadap pelayanan publik.

MINGGU II

10-12 September 2012

Short course di Australian Concil for Health Service (ACHS) (Lembaga Akreditasi)

ACHS

13 September 2012

Persentasi mengenai peran board atau badan pengawas di RS

Northern Health Board (Badan Pengawas tingkat distrik).

14 September 2012

Presentasi tentang Australian Commision on Safety and Quality in Health Care (ACSQHC)

Margaret Banks (ACSQHC)

MINGGU III

17 September 2012

penyusunan kesimpulan  mengenai points pembelajaran kelompok I kepada kelompok II

Peserta ALA

18 September 2012

Presentasi tentang Clinical Governance

Professor Rosemary Aldrich (Nossal Institute)

19 September 2012

Presentasi tentang Akreditasi di Victoria

Victorian Deptartemen of Health

20-21 September 2012

Penyusunan plan of action dari masing-masing kelompok (6 topik dengan 10 action Plan)

  1. Safety and quality framework
  2. Peran Pusat dan Daerah
  3. Pengelolaan Lembaga Akreditasi
  4. Benchmark Nasional Kinerja RS
  5. Disability dalam Program Akreditasi
  6. Evidence based policy making

Peserta ALA

Daftar peserta

Peserta gelombang I (penelaah sistem dan penyusun POA)

  1. Yuli Kusumastuti, Dinkes DIY
  2. Arif Dani Dahlius, RS Kota Jogja
  3. Betha Candrasari, Badan Mutu Jogja
  4. Sadono Wiwoho, Dinkes Jateng
  5. Ida Witiasati Idajati, RS Moewardi, Solo
  6. Octi Palupi Rahayuningtyas, Kemenkes
  7. Yuwanda Nova, Kemenkes
  8. Luwiharsih, KARS
  9. Masaah Amatyah, KARS
  10. Handjaja Rono Sulistyo, PERSI
  11. Johan Thamrin Saleh, PERSI
  12. Hanevi Djasri, PMPK UGM
  13. Luh Putu Eka Putri Andayani, PMPK UGM

Peserta gelombang II (pengambil keputusan)

  1. Sutoto, Ketua KARS & PERSI
  2. Anung Sugihantono, Kadinkes Jateng
  3. Sarminto, Kadinkes DIY
  4. Eka Anugrahi, Kasubdit RS Pendidikan, BUK-R, Kemenkes
  5. Yayan Gusman, Staf Subdit Akreditasi, BUK-R, Kemenkes
  6. Adi Utarini, Narasumber PMPK & MMR UGM

Website lain dari PKMK FK UGM


deskesMsehatmpt
    aids2

Website terkait

   
  ahrq