Angka Kematian Ibu dan Bayi di NTT Berhasil Ditekan

Share

Kupang (Suara Karya) - Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, persentase jumlah ibu melahirkan yang ditolong tenaga kesehatan mengalami peningkatan dimana pada tahun 2011 sebesar 69,51 persen meningkat menjadi 81, 71 persen pada tahun 2012. Sedangkan target MDGs, hingga tahun 2015 persalinan dilayani tenaga kesehatan mencapai 90 persen.

Kepala Dinas Kesehatan NTT, Stefanus Bria Seran kepada wartawan di Kupang, Sabtu (16/2) menjelaskan, peningkatan persentase jumlah ibu melahirkan yang ditolong tenaga kesehatan ini terjadi di semua kabupaten dan kota. Rata-rata peningkatan persentase setiap daerah berkisar antara 10 sampai 20 persen. Peningkatan paling besar terdapat di Kabupaten Alor yakni dari 63, 89 persen menjadi 99, 36 persen. Kota Kupang dari 78, 85 persen menjadi 93, 04 persen, dan Manggarai Timur dari 55,66 persen menjadi 83, 40 persen.

"Namun masih ada dua kabupaten yang persentase jumlah ibu melahirkan yang ditolong tenaga kesehatan menurun pada dua tahun terakhir yakni, Kabupaten Ende dari 79,89 persen menjadi 73,66 persen dan Sumba Barat dari 86,48 persen menjadi 71,97 persen," kata Bria Seran. Ia menjelaskan, peningkatan persentase ibu melahirkan yang ditolong tenaga kesehatan ini karena adanya peraturan gubernur NTT nomor 42/2009 tentang revolusi kesehatan ibu dan anak (KIA). Peraturan itu mengharuskan semua ibu melahirkan wajib dilaksanakan di fasilitas kesehatan yang memadai.

Fasilitas kesehatan dimaksud yakni pondok bersalin desa (polindes), puskesmas, dan puskesmas pembantu (pustu). Bila tidak bisa ditangani di fasilitas pelayanan dasar ini, barulah dirujuk ke rumah sakit. Revolusi KIA itu berhasil menekan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Lebih lanjut Bria Seran akui, walau angka kematian ibu dan bayi baru lahir masih di atas rata- rata nasional, tapi NTT telah menunjukkan kinerja penurunan angka kematian dimaksud.

"Percepatan penurunan kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir hanya bisa dilakukan melalui upaya yang sungguh- sungguh dengan dana yang luar biasa," tandas Bria Seran. Bria Seran menerangkan, syarat minimal seorang ibu hamil sebelum melahirkan adalah memeriksakan kehamilannya paling sedikit empat kali. Rata- rata setiap kabupaten dan kota, kunjungan pemeriksaan kehamilan pertama (K1) persentasenya cukup tinggi, namun pemeriksaan kehamilan keempat (K4), persentasenya menurun. Tingkat NTT pada tahun 2012, kunjungan kehamilan K1 sebesar 88, 57 persen, sedangkan kunjungan K4 menurun menjadi 67,63 persen.

Ia mengungkapkan, untuk menekan angka kematian ibu dan bayi baru lahir, pemerintah mengeluarkan program jamian persalinan (Jampersal). Sasaran dari program ini adalah semua ibu hamil tanpa membedakan status sosial ekonomi. Dilayani pada fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang ada ikatan kerja sama dengan pemerintah. Program ini juga bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu hamil saat kehamilan, persalinan, pasca lahir ibu dan bayi, serta pelayanan keluarga berencana pasca melahirkan.

Wakil Ketua Komisi D yang membidangi pendidikan,kesehatan dan kesejahteraan rakyat DPRD NTT, Visen Pata meminta pemerintah kabupaten dan kota untuk meningkatkan fasilitas dan pelayanan di puskesmas. Sehingga para pasien terutama ibu hamil yang hendak melahirkan bisa ditangani puskemas terdekat. (Bonne Pukan)

Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=321484

Add comment


Security code
Refresh

Website lain dari PKMK FK UGM


deskesMsehatmpt
    aids2

Website terkait

   
  ahrq