Taiwan, 27-28 Juni 2026
UGM-Yogyakarta. Pada hari 2 kongres pagi hari dilakukan Deklarasi Asia Pacific Hospital at Home di Taiwan (28/6/2026). Dari Jepang, Taiwan, Singapura, Australia, HongKong, dan negara-negara yang sudah mempunyai society dan asosiasi hadir. Memang namanya bervariasi, ada yang asosiasi dan ada yang society. Deklarasinya sebagai berikut:
Negara-negara di Asia Pasifik menghadap situasi dengan semakin menuanya masyarakat, semakin meningkatnya beban penyakit kronis, dan tekanan pada pelayanan yang berkelanjutan. Situasi ini menjadi sangat penting untuk membayangkan kembali infrastruktur pelayanan klinis. COVID-19 telah menunjukkan betapa rapuhnya pelayanan kesehatan yang berorientasi ke rumah sakit. Kesemuanya ini mempercepat transisi ke arah patient-centre, serta pelayanan berbasis masyarakat di semua negara. Hospital at Home merupakan model inovatif yang memberikan pelayanan kesehatan level akut ke rumah-rumah pasien. Dalam pertemuan ini telah didemonstrasikan berbagai kegiatan dalam memperkuat aksesibilitas pelayanan kesehatan, meningkatkan mutu dan keberlanjutan pelayanan, serta meringankan beban sistem kesehatan.
Tagline yang diangkat dalam deklarasi ini:
H: Hospital at Home as a Pillar of System Resilience
E: Equity and Clinical Appropriateness
A: Advancing Evidence Based and Patient Centered Decision
L: Leveraging Technology and Home-Based Integration
T: Transdisciplinary and Cross Sector Collaboration
H: Harnessing Sustainable Financing and Policy Framework.
Selanjutnya dirumukan kebulatan tekad untuk meningkatkan kerjasama antar negara di Asia Pasifik, membagi pengalaman dan praktek terbaik, meningkatkan riset, mengembangkan kebijakan melalui dialog. Bersama kita bertujuan untuk mengembangkan Hospital at Home dan pelayanan kesehatan di rumah untuk mencapai status kesehatan yang lebih baik dan meningkatkan martabat manusia .
Deklarasi ini kemudian di tandatangani oleh society dan asosiasi dari berbagai negara di Asia Pasifik dan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan.
Reporter:
Prof Laksono Trisnantoro
Chung-Liang Shih, MD, PhD
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan
The 1st Asia-Pacific Hospital at Home Congress, Taipei, 28 Juni 2026
Taiwan tengah menjalani transformasi besar dalam sistem pelayanannya sebagai respons terhadap perubahan demografi yang sangat cepat. Dalam presentasinya yang berjudul “The New Blueprint for Home Healthcare in Taiwan”, Dr. Chung-Liang Shih menjelaskan bagaimana negara tersebut membangun paradigma baru pelayanan kesehatan yang tidak lagi berpusat di rumah sakit, melainkan berpindah ke rumah dan komunitas melalui konsep Hospital at Home.
Presentasi diawali dengan gambaran mengenai perubahan struktur penduduk dunia yang menunjukkan peningkatan populasi lanjut usia secara signifikan. Taiwan menjadi salah satu negara dengan proses penuaan penduduk tercepat di dunia. Setelah memasuki fase aging society pada tahun 1993 dan aged society pada tahun 2018, Taiwan resmi memasuki era super-aged society pada tahun 2025, ketika lebih dari 20 persen penduduknya berusia 65 tahun atau lebih.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Taiwan, tetapi juga menjadi tantangan global. Diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia di dunia akan melampaui 2,2 miliar orang pada akhir abad ini. Bersamaan dengan itu, penyakit tidak menular menyumbang sekitar 75 persen kematian global, sementara kebutuhan tenaga kesehatan diproyeksikan meningkat drastis hingga terjadi kekurangan lebih dari 11 juta tenaga kesehatan pada tahun 2030.
Perubahan tersebut menuntut sistem kesehatan yang lebih tangguh, efisien, dan mampu mempertahankan kualitas pelayanan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Taiwan meluncurkan visi nasional Healthy Taiwan yang memiliki dua sasaran utama.
Pertama, meningkatkan angka harapan hidup masyarakat hingga mencapai 82 tahun. Kedua, menurunkan proporsi unhealthy life expectancy, yaitu masa hidup yang dijalani dalam kondisi sakit atau disabilitas, dari 9,4 persen menjadi 8 persen. Dengan demikian, keberhasilan sistem kesehatan tidak lagi diukur semata-mata dari bertambahnya usia harapan hidup, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk tetap sehat, mandiri, dan produktif selama proses menua. Perbandingan dengan berbagai negara menunjukkan bahwa Taiwan telah memiliki angka harapan hidup yang tinggi, namun masih menghadapi tantangan dalam mengurangi jumlah tahun kehidupan yang dijalani dengan penyakit kronis atau keterbatasan fungsional.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Taiwan menjalankan lima strategi utama. Strategi pertama adalah memperkuat promosi kesehatan dan pengendalian penyakit tidak menular melalui pendekatan pencegahan. Strategi kedua adalah mengembangkan pelayanan kesehatan berbasis komunitas yang terdesentralisasi sehingga masyarakat memperoleh layanan lebih dekat dengan tempat tinggalnya. Strategi ketiga adalah melakukan reformasi sistem pembayaran menuju value-based payment, sehingga pembiayaan lebih menekankan pada hasil pelayanan dibandingkan volume pelayanan.
Dua strategi pendukung lainnya adalah memperkuat ketahanan industri farmasi dan biomedis, serta mempercepat transformasi digital yang disertai penguatan keamanan siber. Seluruh strategi tersebut diarahkan untuk membangun sistem kesehatan yang lebih resilien dan berorientasi pada luaran kesehatan masyarakat.
Perubahan paling mendasar dalam blueprint Taiwan adalah transformasi model pelayanan kesehatan. Jika sebelumnya pelayanan akut hampir seluruhnya diberikan di rumah sakit, maka kini pelayanan secara bertahap dipindahkan menuju rumah pasien dan komunitas. Transformasi ini diwujudkan melalui tiga kelompok layanan utama.
Pertama, peningkatan efisiensi pelayanan rumah sakit melalui berbagai program seperti Outpatient Parenteral Antimicrobial Therapy (OPAT) dan Enhanced Recovery After Surgery (ERAS). Kedua, pengembangan pelayanan holistik yang mencakup telehealth, pelayanan penyakit kronis, program dokter keluarga, serta layanan terintegrasi berbasis komunitas. Ketiga, perluasan layanan Home Healthcare, termasuk Acute Care at Home (ACAH), home dialysis, dan home hospice care. Dengan pendekatan ini, rumah sakit tetap menjadi pusat keahlian medis, tetapi sebagian pelayanan berpindah ke rumah pasien sehingga kontinuitas pelayanan dapat dipertahankan dengan lebih baik.
Dr. Shih menjelaskan bahwa pengembangan pelayanan kesehatan di rumah bukanlah program yang muncul secara tiba-tiba. Sejak diberlakukannya National Health Insurance (NHI) pada tahun 1995, Taiwan telah memberikan pembiayaan untuk layanan medis di rumah.
Perkembangannya berlangsung secara bertahap. Pada tahun 2016 diperkenalkan Integrated Home Healthcare Program yang mendorong pelayanan multidisiplin berbasis tim. Tahun 2019 dilakukan perluasan cakupan pelayanan, termasuk layanan gawat darurat, transitional care, serta pelayanan farmasi. Tonggak penting berikutnya adalah peluncuran Acute Care at Home Pilot Program pada Juli 2024 yang menjadi implementasi awal konsep Hospital at Home.
Pada tahun 2025, program kembali diperluas dengan layanan home hemodialysis. Seiring perkembangan tersebut, jumlah kunjungan pelayanan kesehatan di rumah meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun.
Program Acute Care at Home (ACAH) menjadi inti transformasi pelayanan akut di Taiwan. Program ini memberikan alternatif bagi pasien yang sebelumnya harus menjalani rawat inap meskipun kondisi klinisnya relatif stabil. Pasien dengan pneumonia, infeksi saluran kemih, infeksi kulit dan jaringan lunak, maupun beberapa penyakit infeksi lainnya dapat memperoleh terapi akut di rumah dengan supervisi tenaga kesehatan.
Model pelayanan melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas dokter, perawat, apoteker, dan profesi kesehatan lainnya. Pelayanan didukung oleh telemedicine, kunjungan rumah, konsultasi penyakit infeksi, pusat layanan 24 jam, serta mekanisme rujukan cepat apabila kondisi pasien memburuk.
Pendekatan ini memberikan berbagai keuntungan, antara lain mengurangi risiko infeksi nosokomial, meningkatkan kenyamanan pasien, menurunkan kepadatan rumah sakit, serta mempercepat proses pemulihan. Hingga Maret 2026, program ACAH telah melibatkan sekitar 190 tim pelayanan dari 862 institusi kesehatan, dengan sebagian besar penyedia berasal dari klinik pelayanan primer.
Sebanyak lebih dari 7.200 pasien telah mengikuti program, dan sekitar 89 persen berhasil menyelesaikan terapi di rumah tanpa memerlukan rawat inap lanjutan. Rata-rata lama perawatan hanya sekitar 7,2 hari, jauh lebih singkat dibandingkan perawatan konvensional yang berkisar 11–15 hari.
Biaya pelayanan juga hampir 50 persen lebih rendah dibandingkan rawat inap biasa. Keberhasilan tersebut mendorong pemerintah meningkatkan berbagai tarif pelayanan mulai Mei 2026, termasuk kunjungan perawat, pelayanan farmasi rumah, serta pemeriksaan laboratorium dan radiologi berbasis point-of-care.
Selain pelayanan akut di rumah, Taiwan juga mengembangkan model Early Supported Discharge (ESD). Program ini memungkinkan pasien pulang lebih awal setelah kondisi akutnya stabil, kemudian melanjutkan perawatan di rumah dengan dukungan tenaga kesehatan. ESD dilengkapi dengan standar lama perawatan untuk berbagai diagnosis, sistem pembayaran yang jelas, indikator mutu, serta insentif bagi fasilitas kesehatan yang mampu mempertahankan kualitas pelayanan. Prinsip utamanya adalah memastikan setiap pasien memperoleh pelayanan yang tepat, di tempat yang tepat, dan pada waktu yang tepat.
Taiwan tidak berhenti pada pelayanan akut. Pemerintah sedang mengembangkan berbagai inovasi baru, salah satunya Home-Based Chemotherapy, yang memungkinkan pasien kanker tertentu menjalani kemoterapi di rumah secara aman melalui pemantauan telemedicine, pemantauan tanda vital jarak jauh, kunjungan perawat, serta dukungan tim multidisiplin.
Di sisi lain, Taiwan juga memperkuat kompetensi tenaga kesehatan melalui program sertifikasi nasional bagi dokter, perawat, apoteker, dan profesi lainnya yang terlibat dalam Hospital at Home. Langkah ini diharapkan berkembang menjadi subspecialty resmi sehingga menjamin kualitas pelayanan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Seluruh model pelayanan tersebut didukung oleh transformasi digital. Melalui Virtual National Health Insurance Card, masyarakat dapat melakukan registrasi, konsultasi daring, memperoleh resep elektronik, hingga melakukan pembayaran secara digital. Taiwan juga membangun Home Care Services Information Platform, yaitu platform nasional yang mengintegrasikan data rumah sakit, layanan primer, pelayanan kesehatan di rumah, dan layanan perawatan jangka panjang. Integrasi data ini memungkinkan koordinasi pelayanan berlangsung lebih cepat, memudahkan pemantauan pasien secara real time, serta mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih akurat.
Presentasi Dr. Chung-Liang Shih menunjukkan bahwa keberhasilan Hospital at Home tidak hanya bergantung pada penyediaan layanan medis di rumah. Taiwan membangun transformasi secara menyeluruh melalui reformasi pembiayaan, pengembangan tenaga kesehatan, digitalisasi layanan, integrasi lintas sektor, serta penyusunan kebijakan nasional yang konsisten.
Blueprint ini menggambarkan perubahan paradigma dari sistem kesehatan yang berorientasi pada rumah sakit menuju sistem pelayanan yang lebih terintegrasi, berpusat pada pasien, dan mampu memberikan pelayanan akut secara aman di rumah. Pengalaman Taiwan memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara lain di kawasan Asia-Pasifik yang mulai mengembangkan Hospital at Home sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan di tengah meningkatnya tantangan masyarakat menua.
Reporter:
Lutfan Lazuardi
Jika sesi-sesi sebelumnya banyak menampilkan pengalaman implementasi dari berbagai rumah sakit, keynote ini memberikan perspektif yang lebih luas mengenai arah masa depan Hospital at Home (HaH). Berangkat dari pengalamannya sebagai dokter geriatri, dr. Bruce Leff menceritakan bahwa saat menjadi residen di John Hopkins Hospital ia sering melakukan kunjungan rumah. Pengalaman tersebut membangun keyakinannya bahwa pelayanan kesehatan akan jauh lebih efektif jika pasien – bukan rumah sakit – yang menjadi pusat pelayanan.

Pengalaman tersebut kemudian diperkuat oleh berbagai bukti ilmiah. Menurutnya, pelayanan berbasis rumah mampu menurunkan biaya yang sebenarnya dapat dicegah, mengurangi kejadian tidak diinginkan selama perawatan, serta menghasilkan luaran klinis yang lebih baik. Momentum Pandemi COVID-19 makin mempercepat perkembangan HaH, terutama ketika sistem pembiayaan mulai mendukung, dimana pelayanan di rumah dianggap setara dengan rawat inap konvensional yang dilakukan di rumah sakit. Bahkan dr. Bruce Leff menyebutkan bahwa, jika HaH adalah obat, maka ia akan menjadi blockbuster drug.
Dari model tersebut, dr. Bruce Leff membayangkan visi pelayanan kesehatan di masa depan. Sistem pelayanan rumah sakit di masa depan akan berfokus pada layanan yang benar-benar membutuhkan teknologi tinggi, seperti kegawatdaruratan, tindakan bedah, dan perawatan intensif. Sebaliknya, sebagian besar pelayanan kesehatan justru berpindah ke komunitas dan rumah pasien. Ia menekankan bahwa Hospital at Home bukanlah tujuan akhir, melainkan fondasi untuk membangun sistem kesehatan yang lebih berpusat pada pasien, lebih efisien, dan mampu menghadapi tantangan masyarakat yang semakin menua. Namun, transformasi tersebut membutuhkan perubahan budaya organisasi, kepemimpinan yang kuat, serta reformasi sistem pembiayaan karena perubahan perilaku institusi kesehatan tidak dapat terjadi secara instan.

Bagi Indonesia, gagasan ini memberikan perspektif bahwa pengembangan Hospital at Home sebaiknya tidak dimulai sebagai layanan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari pembangunan ekosistem pelayanan kesehatan berbasis rumah. Disinilah tatangan terbesarnya: meningkatnya populasi lansia, tingginya beban penyakit kronis, keterbatasan kapasitas rumah sakit, sistem pembiayaan, serta kebutuhan untuk integrasi layanan kesehatan dengan transformasi digital dan dukungan sosial di masyarakat. Pesan penting dr. Bruce Leff adalah bahwa keberhasilan Hospital at Home tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau kemampuan klinis, tetapi juga oleh kebijakan pembiayaan, kepemimpinan, koordinasi lintas sektor, dan keberanian mengubah paradigma pelayanan dari hospital-centered care menjadi person-centered care. Pesan ini sangat penting bagi Indonesia yang sedang mulai mencari model pelayanan yang mampu menjawab tantangan peningkatan penyakit kronis, penuaan penduduk, sekaligus keterbatasan kapasitas dan pendanaan RS.
Reporter:
Putu Eka Andayani
Sesi Asia-Pacific Home Care Development Roundtable Forum yang dimoderatori oleh Dr. Sang-Ju Yu dan Dr. Ping-Jen Chen menghadirkan para pakar dari Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Australia, dan Amerika Serikat untuk berbagi perkembangan serta arah pengembangan Hospital at Home (HaH) di masing-masing negara. Meskipun setiap negara memiliki sistem kesehatan dan tantangan yang berbeda, seluruh narasumber sepakat bahwa keberhasilan Hospital at Home bergantung pada penguatan bukti ilmiah, tata kelola, pembiayaan yang berkelanjutan, serta integrasi ke dalam sistem kesehatan nasional.
Dr. Okino (Jepang) menjelaskan bahwa pengembangan Hospital at Home di Jepang masih menghadapi tantangan berupa belum kuatnya landasan hukum sehingga masyarakat masih cenderung memilih perawatan di rumah sakit. Selain itu, meningkatnya jumlah lansia yang hidup sendiri menyebabkan kebutuhan terhadap caregiver menjadi semakin besar. Ke depan, Jepang memprioritaskan standarisasi pelayanan, peningkatan edukasi, perluasan akses layanan, dukungan keluarga, reformasi sistem, serta penguatan penelitian dan kolaborasi untuk menghasilkan bukti ilmiah yang mendukung pengembangan ekosistem Hospital at Home.
Prof. Hyejin Lee (Korea Selatan) memaparkan bahwa pengembangan home-based medical care di Korea difokuskan pada penguatan model pelayanan berbasis bukti, peningkatan cakupan layanan dan kapasitas sumber daya manusia, serta reformasi sistem dan integrasi layanan agar Hospital at Home dapat menjadi bagian dari pelayanan kesehatan yang berkesinambungan.
Dr. Sang-Ju Yu (Taiwan) menjelaskan bahwa layanan home-based care di Taiwan telah berkembang sejak program visiting nurse care pada 1995 dan kemudian diperluas ke layanan paliatif di rumah. Namun, hingga saat ini data pelayanan home-based care masih tersebar pada berbagai sektor pelayanan, seperti rawat jalan, rawat inap, dan instalasi gawat darurat. Taiwan kini terus mengembangkan arah kebijakan agar pelayanan berbasis rumah dapat menjadi bagian yang lebih terintegrasi dalam sistem kesehatan nasional.
Dr. Lai Yi Feng (Singapura) menekankan bahwa keberlanjutan Hospital at Home sangat bergantung pada model pendanaan yang didukung oleh bukti ilmiah dari implementasi nyata (real-world use cases). Selain itu, tata kelola, sistem monitoring dan evaluasi perlu terus diperkuat untuk mempercepat adopsi layanan. Tujuan akhirnya adalah memastikan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang tepat tanpa harus selalu datang ke rumah sakit.
Dr. James Pollard (Australia) memaparkan bahwa implementasi Hospital at Home di Australia masih menghadapi variasi antar wilayah, seperti perbedaan akses terhadap instalasi gawat darurat, jalur pemulangan pasien, dan mekanisme rujukan yang masih bergantung pada keputusan klinisi. Untuk menjawab tantangan tersebut, Australia terus memperkuat kebijakan dan investasi serta mengembangkan kerangka pelayanan yang mencakup pengganti rawat inap akut (acute admitted substitution), pencegahan rawat inap (admission avoidance), virtual ward, pelayanan subakut di rumah, serta pemantauan penyakit kronis. Ke depan, arah pengembangan ditujukan menuju konsep virtual hospital dengan jalur pelayanan yang lebih terintegrasi, semakin mampu menangani kasus akut, dan memiliki standar pelayanan yang seragam.
Dr. Bruce Leff (Amerika Serikat) menyoroti bahwa keberlanjutan Hospital at Home dipengaruhi oleh struktur sistem kesehatan, kondisi demografi, serta dukungan dari kalangan akademik dan pembuat kebijakan. Beliau menjelaskan bahwa sebagian besar biaya rumah sakit berasal dari investasi infrastruktur tetap (fixed cost), sedangkan pada Hospital at Home biaya lebih banyak dialokasikan langsung untuk pelayanan pasien (variable patient cost). Untuk memperkuat implementasi di masa depan, Hospital at Home perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan dokter residen dan program pelatihan tenaga kesehatan, sehingga kompetensi implementasi dapat dibangun sejak tahap pendidikan profesional.
Diskusi ini menunjukkan bahwa meskipun setiap negara berada pada tahap perkembangan yang berbeda, terdapat kesamaan arah pengembangan Hospital at Home, yaitu membangun model pelayanan yang didukung oleh bukti ilmiah, pembiayaan yang berkelanjutan, tata kelola yang kuat, sumber daya manusia yang kompeten, serta integrasi yang semakin erat dengan sistem kesehatan nasional.
Reporter:
Hanifah Wulandari
Menggambarkan apa yang disebut dengan pelayanan di rumah tidak mudah. Namun satu hal yang sangat penting. Jenisnya sangat bervariasi. Dalam kongres di Taiwan ini tidak ada keharusan untuk menggunakan satu definisi untuk Hospital at Home. Namun ada yang memetakan spektrum pelayanan kesehatan di rumah dengan cukup detil. Dalam diagram di bawah ini ada berbagai jenis pelayanan kesehatan di rumah (Leff 2026).

Dengan model ini, ada banyak jenis pelayanan kesehatan di rumah. Berbagai pengalaman empiric yang disajikan dalam bentuk poster menunjukkan spektrum yang luas dari pelayanan kesehatan di rumah. Di masa depan, terlalu berisiko apabila suatu negara mengandalkan pelayanan hanya di RS secara tradisional. Jumlah tempat tidur akan sulit menampung demand dan biaya yang sangat besar dalam operasionalnya. Pihak asuransi kesehatan/jaminan kesehatan juga akan kesulitan untuk membayar.

Dalam konteks Indonesia, kebutuhan tempat tidur rawat inap di terus melonjak, namun RS dibatasi oleh batas maksimal pembangunan fisik dan keterbatasan dana untuk membangun. Model bisnis rumah sakit tradisional (brick and mortar) membutuhkan ke hati-hatian para pengelola arus kas RS. Tempat tidur konvensional menyedot postur anggaran yang berisiko, yakni 70% Capital Expenditure (CapEx) dan 30% Operational Expenditure (OpEx). Bagaimana dengan opsi menambah tempat tidur di luar RS. Pengalaman di Singapura dibahas di APHaH Congress ini. Implementasi MIC@Home (Mobile Inpatient Care at Home) secara radikal membalikkan struktur biaya institusi menjadi 20% CapEx dan 80% OpEx. Pertanyaannya apakah pelayanan Kesehatan di rumah akan meningkat? Hal ini yang menjadi pertanyaan besar di Taiwan.
Namun membuat sebuah pelayanan kesehatan di rumah tidaklah mudah. Banyak hal detil yang harus dipikirkan. Gambaran ekosistem di bawah ini menunjukkan betapa rumitnya sebuah pelayanan kesehatan di rumah. Tidak boleh asal membuat.

Berdasarkan ekosistem dengan perspektif kesehatan, pasien yang berada di rumah menjadi pusat ekosistem pelayanan Kesehatan. Terlihat dalam ekosistem ini ada masalah medik, kerumitan pelayanan kesehatan, data/informasi, sumber daya manusia, penjagaan mutu, sampai ke pendanaan dan pemberian pembayaran untuk petugas. Cara menggambarkan ekosistem ini sangat bagus untuk melihat bagaimana pelayanan Kesehatan di rumah berjalan. Namun penggambaran ekosistem seperti ini belum mampu memberikan Gambaran mengenai situasi makro dan kebijakan public mengenai pelayanan Kesehatan di rumah.
Setelah mengikuti kegiatan di Taiwan ada refleksi yang saya dapatkan. Ekosistem Home Health Care/Hospital at Home di Indonesia dapat dianalisis melalui pendekatan industri yang berbeda dengan deskripsi ekosistem diatas. Mengapa? Pelayanan Kesehatan di rumah berada di sebuah ruang makro yang rumit dengan berbagai kebijakan public yang berbeda antar negara. Pendanaan pelayanan kesehatan di rumah menjadi salahsatu kunci yang menentukan ekosistem pelayanan kesehatan di rumah. Ada negara yang tinggi kemampuan keuangannya, dan ada yang rendah.
Apa yang disampaikan oleh Presiden Taiwan saat membuka 1st Asia Pacific Congress in Hospital at Home mengenai pendanaan pemerintahnya yang kuat untuk Hospital Care di rumah merupakan suatu komitmen politik pemerintah. Komitmen ini dapat didukung secara finansial karena Taiwan merupakan negara yang mempunyai ekonomi kuat. Pendapatan per kapita (PDB per kapita) Taiwan jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Pada tahun 2026, PDB per kapita nominal Taiwan diproyeksikan mencapai US$45.610 (sekitar Rp725 juta), sementara PDB per kapita nominal Indonesia berada di angka US$5.362 (sekitar Rp85 juta)
Namun juga disebutkan bahwa sebagian anggota masyarakat harus bertanggung-jawab. Peserta dari Australia juga menyatakan walaupun dana untuk pelayanan Kesehatan di rumah sebagian besar dari pemerintah, namun masyarakat harus tetap membayar persentase tertentu. Taiwan dan Australia adalah negara kaya. Pendapatan per kapita Australia saat ini berada di kisaran USD 65.000 hingga USD 67.000 per tahun. Bagaimana di Indonesia?
Di Indonesia pelayanan kesehatan di rumah saat ini tidak didanai oleh BPJS atau pemerintah. Sejak BPJS berjalan di tahun 2014. Hal ini dapat dipahami karena kemampuan keuangan BPJS tidak memungkinkan, dan dana pemerintah tidak ada. Artinya pendanaan memang benar-benar diserahkan sebagian besar ke masyarakat. Dari BPJS ada obat yang dapat diambil di RS atau di Puskesmas. Namun biaya SDM dan fasilitas kesehatan tetap dari masyarakat. Dalam situasi yang tidak ideal ini, mau tidak mau akan terjadi pelayanan kesehatan di rumah yang berdasarkan prinsip pasar. Ada demand dari masyarakat mampu dan supply.
Oleh karena itu penggambaran ekosistem dengan menggunakan Porter dapat dilakukan dengan berbagai modifikasi, terkait pendanaan yang berasal dari pemerintah dan filantropi. Jadi pendanaan tidak harus dari Masyarakat saja, namun ada kemungkinan pemerintah daerah yang mampu, dikombinasikan dengan dana filantropi akan membuat pelayanan Kesehatan di rumah berjalan. Dibawah ini ada prinsip Porter yang dimodifikasi dengan masuknya pendanaan dari pemerintah atau filantropi. Akan tetapi secara keseluruhan masih bertumpu pada pasar karena memang terbukti selama 12 tahun ini tidak ada pendanaan dari BPJS dan pemerintah.

Gambar 1: Model Industri Porter
Pertama adalah mengenai Pengguna . Dalam hal ini, pengguna layanan Kesehatan di rumah terbagi menjadi masyarakat mampu yang membeli sendiri dan tidak mampu yang didanai pihak lain. BPJS belum berperan. Terjadinya kegiatan ini dapat diterangkan dengan pendekatan Needs and Demand. Ada Needs (kebutuhan) medik yang ditentukan oleh dokter untuk mendapatkan pelayanan di rumah. Namun membutuhkan dana agar menjadi Demand (Permintaan). Tidak semua Masyarakat mempunyai dana yang membuat menjadi Demand.
Masyarakat mampu:
Masyarakat mampu merubah Need menjadi Demand dengan cara membeli melalui Out-of-Pocket. Untuk asuransi Kesehatan swasta saat ini belum ada skema yang memberi perlindungan untuk pelayanan Kesehatan di rumah. Dengan kemampuan membayar (ablilty to pay) masyarakat mampu dapat membeli pelayanan kesehatan di rumah secara menyeluruh. Saat ini di berbagai daerah di Indonesia sudah terjadi kegiatan ekonomi untuk pelayanan kesehatan di rumah bagi masyarakat mampu.
Demand dari masyarakat mampu ini akan direspon dengan penyediaan jasa oleh RS-RS yang kompeten dalam menangkap peluang usaha ini. Tentunya menggunakan strategi pengembangan produk baru yang bersifat differensiasi. Bagaimana memenuhi kebutuhan medik dan kenyamanan masyarakat mampu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah.
Masyarakat tidak mampu.
Bagi masyarakat tidak mampu ada kesulitan dalam merubah Need menjadi Demand. Mendapatkan pelayanan Kesehatan di rumah membutuhkan dana untuk membiayai berbagai kebutuhan pelayanan. Dana ini tidak mungkin di dapat dari keluarga. Oleh karena itu biaya diharapkan berasal dari pemerintah daerah yang mempunyai kemampuan fiscal, dan/atau sumber dana filantropi. Paper Trisnantoro dkk di Taiwan memperlihatkan hal ini.
Apa yang menjadi Need (kebutuhan) medik?
Pembeli atau penyandang dana menyerahkan dana ke penyedia jasa karena memang ingin sembuh. Dengan demikian ada berbagai masalah penyakit yang dapat diatasi dengan Hospital at Home. Atau masa menjelang kematian (end of life) yang dapat dilalui dengan lebih baik melalui pelayanan Hospital at Home. Berbagai isu di sini di bahas dalam Sesi-Sesi diskusi dan Poster.
Siapa Pelaku industry yang kompetitif ini. Para pelaku adalah RS-RS dan klinik-klinik yang menyelenggarakan pelayanan home-care. Dalam hal ini tidak ada persaingan dengan RS di luarnegeri karena memang perawatannya di rumah. Dalam konteks hubungan dengan pembeli, pelaku (operator RS atau KLinik) penyediaan jasa pelayanan Kesehatan di rumah dapat di bagi menjadi 2: (1) melayani pembeli mampu; dan (2) melayani pembeli tidak mampu. Persaingan antar pemberi pelayanan terjadi secara local. Factor jarak antara RS dan klinik dengan Rumah pasien sangat berpengaruh dalam konteks perawatan di rumah. Paper dari Singapura menunjukkan bahwa Singapura dibagi-bagi dalam berbagai wilayah untuk home-care.

Ada produk susbtitusi berupa pelayanan tidak resmu. Pelayanan tidak resmi ini (bisik-bisik) dari staf RS yang menyediakan pelayanan setelah discharge. Seperti kita ketahui banyak RS belum memberikan pelayanan Kesehatan di rumah secara terintegrasi. Pelayanan di rumah bagi pasien yang dipulangkan dalam bentuk belum sembuh secara baik dilakukan oleh sekelompok staf RS secara informal (bisik-bisik).
Secara garis besar sisi supply untuk membuat RS-RS dan klinik dapat memberikan pelayanan dibagi menjadi 2: (1) Sumber Daya Manusia; dan (2) Bahan dan fasilitas.
Sumber Daya Manusia
Apakah tersedia tenaga dokter, perawat, social workers, psikolog klinis yang kompeten dalam pelayanan Kesehatan di rumah? Ini tergantung dari Kolegium Dokter Keluarga, Kolegium Perawat Rumah, dll. Tempat-tempat Pendidikan SDM.
Fasilitas dan Peralatan

Dalam konteks pembeli yang mampu dan yang didanai pihak lain, jenis supply dapat bervariasi. Sebagai Gambaran tempat tidur di rumah sapat berupa tempat tidur RS yang sederhana dengan engkol, atau yang menggunakan mesin. Demikian juga dengan obat-obatan dan gizi. Pertemuan di Taiwan banyak membahas situasi supplier di sini dengan dukungan teknologi IT.
Satu hal lagi adalah kebijakan pemerintah yang mengatur industry pelayanan Kesehatan di rumah. Hal ini terkait dengan kematangan pemerintah dan Masyarakat menangani hal ini. Kematangan ini didorong oleh fakta demografi dengan adanya Super-Aged Community. Masyarakat yang didominasi oleh orang-orang usia sangat tua. Jepang merupakan negara yang mengalami perjalanan Sejarah panjang dalam menangani pelayanan Kesehatan di rumah. Demikian juga Taiwan. Namun banyak negara belum mempunyai aturan yang jelas mengenai pelayanan Kesehatan. Di berbagai negara ada pendekatan Sandbox untuk membangun kebijakan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan di rumah.
Di Taiwan, kebijakan pemerintah sudah jelas dan dipaparkan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan. Kebijakan ditetapkan berdasarkan bukti dengan menggunakan berbagai Pilot program seperti ACAH (Acute Care at Home). Pilot program ini memcakup perubahan insentif pembayaran agar berjalan dengan baik. Kebijakan ini juga mencakup pengembangan sertifikasi SDM untuk mengelola pelayanan rumah. Juga ada Early Supported Discharge Pilot Program. Di Jepang walaupun pelayanan sudah lama, belum ada kebijakan pemerintah untuk pelayanan home cara. Dengan demikian masih banyak pembayaran out-of-pocket untuk pelayanan Kesehatan rumah di Jepang. Hal ini terkait dengan ketersediaan tempat tidur di RS Jepang yang sangat besar.
Di dalam penutupan semua negara menyatakan bahwa masa depan pelayanan Kesehatan di rumah sangat besar. Akan ada apa yang disebut “virtual hospital” dengan ribuan tempat tidur di luar RS. Pathways yang baik dan efisien serta standarisasi yang baik
Perlu belajar dari pengalaman di Asia Pasifik dan Global.