REPORTASE

ApHaH 2026:
The First Asia Pacific Hospital at Home Congress

Taiwan, 27-28 Juni 2026

Learning from the World

Konferensi 1 mengenai Hospital at Home di Asia Pasifik dibuka di Hua Nan Bank Convention Center, dekat Gedung 101 Taipei. Hospital at Home di kawasan Asia masih merupakan hal baru. Di global sudah relative lama, yang dipacu oleh pandemic Covid19. 

Pidato pembukaan dilakukan oleh Dr. Sang-Ju Yu, Honorary Chairman, Taiwan Society of Home Health Care Hospital at Home

From Taiwan to the world

Dr Yu menyatakan bahwa  2026 merupakan tahun ke 10 Asosiasi Home Care di Taiwan. Sepuluh tahun yang sangat menantang. Selangkah demi selangkah dapat berjalan dengan baik. Terimakasih kami ucapkan ke Kemenkes, Asuransi Kesehatan Taiwan  untuk dukungannya. Juga Dewan Pengetahuan, Kementerian Ekonomi, dan industri untuk sumbangan bagi pengembangan Hospital at Home di Taiwan. Kami juga  berparter dengan Jepang, Korea, Australia Singapura dan lain-lain.  

Hospital at Home bukan hanya isu pelayanan RS tapi penting untuk mengelola Aging Society yang jumlahnya semakin banyak.  Hospital at Home tidak hanya memindahkan pasien RS ke rumahsakit. Tapi bagaimana mendefiniskan kembali pelayanan Kesehatan di rumah. Berapa jumlah pasien. Apakah pasien dapat dirawat di rumah? Bagaimana keluarga dapat merawat. Bagamana  values based care diterapkan. Hospital at Home tidak hanya Social safety Net. Tapi ini komitmen bangsa. 

Saya mengutip Abraham Lincoln untuk menutup sambutan ini. Hospital at Home untuk semua warganegara di Taiwan. Dengan prinsip pelayanan  untuk warga kita untuk semua. Kita tidak bisa melepaskan  satupun orang sakit tertinggal. Masa depan Hospital at Home masih harus menempuh jalan panjang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan keluarga pasien. Jadi kembali ke ajaran lama, kita harus merawat….. tidak terbatas menyembuhkan.  

terimakasih 

Selanjutnya ada Video: Menggambarkan perkembangan klinik untuk Home Care di pedalaman Taiwan. Dengan menggunakan teknologi digital, dilakukan pengembangan secara sistematis. Tenaga Kesehatan mendatang rumah rumah penderita dengan prinsip Patient Centre. 

 

Cheng-Wen Wu, Minister without Portfolio, Executive Yuan; Minister of NSTC 

Saya merasa sangat terhomat diundang dalam pertemuan ini. Program Hospital at Home mengembangkan Medical Care dan promosi Kesehatan di rumah. Lebih dekat dan lebih berdasarkan kebutuhan pasien. Saya melihat bahwa kegiatan ini sangat didukung oleh perkembangan teknologi. Semua orang tahu perkembangan Teknokogi seperti AI dan ICT. Taiwan merupakan kekuatan global di sektor sini. Riset dan pengembangan terus tumbuh, selama 8 tahun terakhir ini. Taiwan mempunyai indeks Kesehatan yang tinggi  di internasional 

Teknologi terbaru dibutuhkan dalam mencapai pasien di rumah termasuk perkembangan ilmu biomediks. Terimakasih ke tenaga Kesehatan yang sudah sudah payah menjangkau mereka yang membutuhkan pelayanan di rumah. Saya sangat bergembira Kementerian Kesehatan & Kesejahteraan bekerja keras di sini. Juga asuransi Kesehatan nasional kita dan Sistem Pembayaran perlu mendukung Hospital at Home.  

Terimakasih. 

Dr. Ying-Chao Chen (TW), Chairman, Taiwan Society of Home Health Care 

Sudah 10 tahun, Society kami mendapat banyak dukungan. Terimakasih.  Bagaimana mendanai semua ini? Home health care merupakan solusi sangat penting untuk Masyarakat kita yang menjadi  aging society. Kita beruntung sudah berkembang cukup kuat. Saat dulu kita melihat Jepang pada tahun  2000an, saya merasa Taiwan masih kurang untuk mendanai Hospital at Home. Tapi sekarang sudah meningkat.  Harapan pertama:  kita harus memprkuat pendanaan untuk ini. Harapan kedua: Bagaimana usaha pengembangan Hospital at Home. Kita berusaha bekerjasama dengan berbagai pihak di dunia. Ada medical diplomasi melalui Hospital at Home. Kami berharap Society kita ini dapat menjadi tempat diplomasi.  

Terimakasih 

 

Presiden Lai Ching Te 

Presiden Taiwan dalam sambutannya menekankan mengenai  pentingnya mengembangkan Hospital at Home. Kita perlu membagikan pengalaman-pengalaman dari berbagai negara di pertemuan ini. Oleh karena masa depan HAH di Asia Pasifik sangat penting. Untuk itu diperlukan tata kelola global yang baik.  

Saya mengucapkan terimakasih pada Society Hospital at Home Taiwan. Dedikasi anda sangat penting untuk terus berlanjut. Perlu pengembangan berkelanjutan. Saat para orang tua bertambah banyak, kita harus memperkuat pelayanan di rumah.  Bagaimana memperkuat care-giving system serta proaktif untuk kunjungan ke rumah rumah, masuk ke kampung-kampung, dan memberikan pelayanan Kesehatan bermartabat. Untuk Healthy Taiwan ini sangat penting. 

Sejak saya menjadi Presiden di tahun 2023, ada berbagai pilot proyek yang mengembangkan pelayanan kesehatan di rumah. Ini dilakukan melalui uji-coba telemedisin, monitoring jarak jauh, dukungan asuransi kesehatan virtual, sampai ke precise medicine. Ini semua perlu pilot-pilot project. Pemerintahan saya akan mendukung ini termasuk pendanaan dari asuransi kesehatan. Namun Masyarakat juga harus bertanggung jawab sebagian. Ke depan, perlu sistem informasi yang lebih baik, perlu  pendekatan inter discipline, sampai perlu smart hospital system. Pemerintah akan terus  mendukung  untuk masa depan yang lebih baik. Mari kita share pengalamam kita ke seluruh dunia. Mari kita teruskan kerjasama ini untuk Asia Pasifik. 

Catatan tentang Presiden Taiwan: 
Lai Ching-te, yang juga dikenal sebagai William Lai, adalah seorang politikus, dokter, dan ahli nefrologi asal Taiwan yang menjabat sebagai Presiden Republik Tiongkok ke-8 sejak tahun 2024. Sebagai anggota Partai Progresif Demokratik, ia telah menjabat sebagai ketua partai tersebut sejak tahun 2023. 

 

Policy, Governance and Funding of Hospital at Home in Australia

Membangun Hospital at Home yang Berkelanjutan Melalui Tata Kelola yang Kuat, Standar Nasional, dan Pembiayaan Berbasis Mutu

Dr. James Pollard (Australia) 

Dalam sesi bertajuk Policy, Governance and Funding of Hospital at Home in Australia, Dr. James Pollard mengajak peserta melihat bahwa keberhasilan Hospital at Home (HaH) tidak hanya ditentukan oleh kemampuan klinis dalam merawat pasien di rumah. Justru, keberlanjutan model pelayanan ini sangat bergantung pada bagaimana pemerintah, rumah sakit, penyedia layanan, dan penyandang dana membangun tata kelola, standar mutu, serta sistem pembiayaan yang saling mendukung.

Presentasi diawali dengan pertanyaan mendasar mengenai definisi Hospital at Home. Menurut Dr. Pollard, sebelum membahas pembiayaan maupun perluasan layanan, perlu ada kesepahaman mengenai apa yang dimaksud dengan Hospital at Home. Pertanyaan seperti siapa yang berwenang menetapkan definisisiapa yang menentukan standar pelayanan, dan bagaimana memastikan seluruh penyedia layanan menerapkan standar yang sama menjadi isu yang sangat penting. Hal ini semakin relevan karena di Australia terdapat berbagai mekanisme pembiayaan dan beragam organisasi penyelenggara layanan.

Untuk menjamin konsistensi mutu, Australia mendorong penerapan standar nasional minimum bagi layanan Hospital in the Home (HITH). Standar tersebut mencakup seluruh perjalanan pelayanan pasien, mulai dari seleksi pasien yang sesuai, pemantauan kondisi klinis selama perawatan, tata laksana keadaan darurat, pencatatan luaran klinis dan kejadian tidak diinginkan, hingga mekanisme yang jelas untuk mengenali pasien yang mengalami perburukan sehingga harus segera dirujuk kembali ke rumah sakit. Dengan adanya standar tersebut, pelayanan di rumah diharapkan memiliki tingkat keamanan dan kualitas yang setara dengan pelayanan rawat inap.

Pada aspek pembiayaan, Dr. Pollard mengingatkan bahwa Hospital at Home seharusnya tidak dipromosikan semata-mata sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan perawatan di rumah sakit. Menurutnya, alasan utama pemerintah dan penyandang dana mendukung model ini adalah karena Hospital at Home mampu memberikan luaran kesehatan yang lebih baik, meningkatkan pengalaman pasien, serta menggunakan kapasitas rumah sakit secara lebih efisien. Jika fokus kebijakan hanya diarahkan pada penghematan biaya, terdapat risiko munculnya kompetisi harga yang pada akhirnya mengubah Hospital at Home menjadi sekadar komoditas pelayanan dengan mutu yang menurun.

Sebagai ilustrasi, Dr. Pollard memaparkan hasil analisis ekonomi dari Inggris yang menunjukkan bahwa Hospital at Home pada pasien lanjut usia mampu menurunkan biaya pelayanan bagi sistem kesehatan nasional sekaligus mengurangi biaya yang harus ditanggung pasien dan keluarganya. Selain memberikan manfaat ekonomi, model ini juga membantu membebaskan kapasitas tempat tidur rumah sakit sehingga dapat dimanfaatkan untuk pasien lain yang membutuhkan perawatan akut.

Sesi ini juga memberikan gambaran mengenai kompleksitas penyelenggaraan Hospital at Home di Australia. Berbeda dengan beberapa negara yang hanya mengandalkan rumah sakit sebagai penyelenggara, Australia memiliki ekosistem yang lebih beragam. Selain rumah sakit publik, layanan dapat diberikan oleh rumah sakit swasta, penyedia layanan independen, maupun organisasi non-rumah sakit yang bekerja berdasarkan kontrak dengan pemerintah atau perusahaan asuransi. Keragaman ini menciptakan fleksibilitas dalam penyediaan layanan, namun sekaligus menuntut mekanisme tata kelola yang kuat agar mutu pelayanan tetap terjaga di seluruh penyedia.

Kompleksitas semakin terlihat pada sektor rumah sakit swasta dan perusahaan asuransi kesehatan. Dr. Pollard menjelaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat definisi Hospital at Home yang sepenuhnya seragam di antara berbagai rumah sakit maupun perusahaan asuransi. Kriteria kelayakan pasien dapat berbeda-beda, dipengaruhi oleh lokasi geografis, kapasitas penyedia layanan, maupun ketentuan dalam kontrak pembiayaan. Selain itu, Australia juga belum memiliki standar tarif nasional yang berlaku untuk setiap episode pelayanan Hospital at Home, sehingga variasi mekanisme pembayaran masih cukup besar.

Di penghujung presentasi, perhatian diarahkan pada pentingnya insentif finansial yang tepat. Hospital in the Home di Australia telah diakui sebagai bagian dari pelayanan rawat inap sehingga memiliki mekanisme pendanaan tersendiri. Namun demikian, sistem pembayaran tidak boleh hanya mendorong peningkatan jumlah pasien yang dilayani. Skema pembiayaan harus dirancang agar mendorong kualitas pelayanan, keselamatan pasien, dan luaran klinis yang lebih baik. Dengan kata lain, insentif finansial harus selaras dengan tujuan pelayanan, bukan sekadar meningkatkan volume layanan atau menekan biaya.

Sebagai penutup, Dr. Pollard menegaskan bahwa keberhasilan Hospital at Home membutuhkan keseimbangan antara kebijakan yang jelas, tata kelola yang kuat, standar mutu nasional, dan sistem pembiayaan yang memberikan penghargaan terhadap kualitas pelayanan. Hospital at Home tidak boleh dipandang hanya sebagai strategi efisiensi biaya, tetapi sebagai transformasi model pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien dengan tetap menjaga mutu dan keselamatan. Pesan ini menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, yang sedang mengembangkan layanan Hospital at Home sebagai bagian dari transformasi sistem pelayanan kesehatan.

Hospital-at-Home in Japan: Reorganizing Existing Home Care into a Coherent Acute-Care-at-Home System

Membangun Hospital at Home di Jepang: Bukan Menciptakan Layanan Baru, Melainkan Menyatukan Sistem yang Sudah Ada

Dr. Yuki Miyamoto (Jepang)

Salah satu presentasi pada The First Asia-Pacific Hospital at Home Congress 2026 membahas bagaimana Jepang mengembangkan konsep Hospital at Home (HaH) melalui evolusi sistem pelayanan kesehatan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa Hospital at Home di Jepang bukanlah inovasi yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil integrasi berbagai komponen pelayanan kesehatan yang telah lama berkembang.

Presentasi diawali dengan menjelaskan bahwa Jepang sebenarnya telah memiliki hampir seluruh komponen yang diperlukan untuk menjalankan Hospital at Home. Tantangannya bukan menciptakan teknologi atau layanan baru, tetapi bagaimana mengorganisasi berbagai komponen tersebut menjadi sebuah sistem pelayanan yang terintegrasi.

Fondasi yang Telah Lama Dibangun

Pembicara menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan berbasis rumah di Jepang memiliki akar sejarah yang kuat. Tradisi home-based primary care dan home-based palliative care telah berkembang selama beberapa dekade dengan kepemimpinan dokter sebagai penanggung jawab utama pelayanan.
Filosofi yang mendasari pendekatan tersebut sangat sederhana namun kuat, yaitu bahwa penyakit seharusnya dapat dirawat di rumah apabila kondisi pasien memungkinkan. Prinsip ini menjadi landasan berkembangnya pelayanan kesehatan berbasis rumah di Jepang.

Kapabilitas Pelayanan di Rumah yang Semakin Matang

Seiring waktu, pelayanan kesehatan di rumah berkembang jauh melampaui kunjungan dokter biasa. Saat ini pelayanan home-based primary care mampu memberikan berbagai intervensi medis, seperti:

  • terapi oksigen di rumah,
  • pemberian infus,
  • pemeriksaan laboratorium sederhana melalui point-of-care testing,
  • pemantauan kondisi pasien secara berkala.

Di bidang perawatan paliatif, kemampuan pelayanan di rumah juga semakin luas. Tidak hanya untuk pasien kanker, tetapi juga pasien dengan penyakit kronis non-kanker. Berbagai tindakan yang sebelumnya hanya dilakukan di rumah sakit kini dapat diberikan di rumah, termasuk:

  • pemberian opioid,
  • drainase asites,
  • drainase efusi pleura,
  • terapi oksigen,
  • ventilasi non-invasif (NPPV/NIV),
  • hingga infus dobutamin kontinu pada gagal jantung stadium akhir.

Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan di rumah telah memiliki kemampuan klinis yang cukup matang untuk menangani pasien dengan kondisi kompleks.

Ketika Kondisi Pasien Memburuk, Pelayanan Mengikuti Pasien ke Rumah

Pembicara kemudian menggambarkan bagaimana konsep Hospital at Home sebenarnya telah muncul secara alami dari praktik pelayanan primer berbasis rumah.
Dalam pelayanan primer berbasis rumah, dokter telah mengenal pasien secara berkesinambungan. Ketika pasien mengalami perburukan akut, seperti infeksi, sesak napas, atau dehidrasi, dokter tidak selalu merujuk pasien ke rumah sakit. Sebaliknya, berbagai terapi akut dapat langsung diberikan di rumah, termasuk oksigen, cairan infus, serta pemantauan ketat.
Pendekatan ini memungkinkan banyak pasien menghindari rawat inap tanpa mengurangi kualitas pelayanan.

Mengapa Belum Menjadi Sebuah Sistem?

Walaupun hampir semua komponen telah tersedia, pembicara mengajukan pertanyaan penting:

Mengapa Hospital at Home belum sepenuhnya menjadi sebuah sistem nasional?
Jawabannya bukan karena kurangnya alat, teknologi, atau jenis pelayanan baru. Masalah utamanya bersifat struktural, yaitu bagaimana seluruh komponen tersebut disusun menjadi satu model pelayanan yang utuh.

Roadmap yang ditawarkan terdiri atas tiga tahapan:

  1. memahami komponen yang telah dimiliki Jepang,
  2. mengorganisasi ulang pelayanan yang sudah ada,
  3. menghubungkan pelayanan episode akut dengan pelayanan berkelanjutan di rumah.

Sistem Jepang yang Mendukung

Pembicara menjelaskan bahwa terdapat tiga karakteristik utama sistem kesehatan Jepang yang menjadi fondasi Hospital at Home.

  • Pertama, adanya cakupan kesehatan universal dengan biaya yang relatif rendah bagi pasien, sehingga masyarakat memiliki akses luas terhadap pelayanan kesehatan.
  • Kedua, terdapat satu sistem tarif nasional meskipun sebagian besar penyedia layanan merupakan institusi swasta. Pemerintah menetapkan tarif secara nasional sehingga mendorong keseragaman pelayanan.
  • Ketiga, pelayanan rawat jalan dan pelayanan di rumah sebagian besar masih menggunakan mekanisme fee-for-service, sementara pelayanan rawat inap menggunakan sistem pembayaran paket (bundled payment).

Karakteristik tersebut memberikan peluang sekaligus tantangan dalam mengembangkan Hospital at Home.

Pembiayaan Bukan Sekadar Menambah Satu Tarif

Salah satu pesan terpenting dalam presentasi adalah bahwa Hospital at Home tidak dapat dibangun hanya dengan menambahkan satu kode pembayaran baru.
Sering muncul pandangan bahwa apabila sebagian besar komponen pelayanan telah memiliki tarif, maka cukup menambahkan tarif untuk komponen yang belum ada, misalnya terapi oksigen di rumah.
Namun pembicara menolak pendekatan tersebut. Menurutnya, Hospital at Home harus dibiayai sebagai sebuah model pelayanan yang utuh, bukan sebagai kumpulan tindakan yang berdiri sendiri.

Model tersebut memerlukan:

  • kriteria eligibilitas pasien yang disepakati,
  • jalur eskalasi pelayanan yang jelas ketika kondisi pasien memburuk,
  • interoperabilitas data antarpenyedia layanan,
  • serta sistem pembayaran yang bersifat komprehensif dan terintegrasi.

Reimbursement dengan Pengaman (Guardrails)

Pembiayaan Hospital at Home juga harus disertai mekanisme pengendalian mutu.

Beberapa aspek yang harus tersedia antara lain:

  • protokol keselamatan pasien,
  • mekanisme pemantauan dan eskalasi klinis,
  • pengaturan pelayanan malam hari dan akhir pekan,
  • indikator mutu,
  • audit pelayanan,
  • serta kriteria seleksi pasien yang jelas.

Pengalaman selama pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa tanpa aturan yang jelas akan terjadi variasi praktik dan ketidakjelasan mengenai pasien yang layak memperoleh pelayanan Hospital at Home.

Dua Perubahan Besar

Sebagai penutup, pembicara menyampaikan bahwa pengembangan Hospital at Home memerlukan dua perubahan mendasar.
Bagi penyedia layanan kesehatan diperlukan payment model, yaitu sistem pembiayaan yang mampu menginstitusionalisasikan pelayanan Hospital at Home sehingga menjadi bagian dari praktik rutin.
Sementara bagi pasien diperlukan trust model, yaitu membangun kepercayaan bahwa menerima perawatan di rumah sama amannya dengan dirawat di rumah sakit. Dengan biaya yang terjangkau dan pelayanan yang terstandar, pasien akan merasa lebih aman menjalani perawatan di rumah dan tidak menganggapnya sebagai “dipulangkan terlalu cepat”.

Kesimpulan

Presentasi ini menegaskan bahwa keberhasilan Hospital at Home tidak terutama ditentukan oleh teknologi atau perangkat medis baru. Faktor yang paling penting adalah membangun integrasi sistem, mulai dari organisasi pelayanan, mekanisme pembiayaan, tata kelola, standar mutu, hingga kepercayaan masyarakat. Hospital at Home bukan sekadar memindahkan pelayanan rumah sakit ke rumah pasien, tetapi membangun suatu model pelayanan kesehatan yang terkoordinasi, berkesinambungan, dan didukung oleh kebijakan pembiayaan yang tepat.

Reporter:
dr. Lutfan Lazuardi, PhD

 

Implementasi Hospital at Home – Pembelajaran dari Singapura

Dr. Lai Yi Feng (MOH Office for Healthcare Transformation / MOHT)

Salah satu sesi yang menarik dalam First Asia-Pacific Hospital at Home Congress disampaikan oleh Dr. Lai Yi Feng dari MOH Office for Healthcare Transformation (MOHT), Singapura, yang memaparkan pengalaman Singapura dalam mengembangkan Mobile Inpatient Care at Home (MIC@Home) sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan menuju konsep “hospital without walls.”

Dr. Lai menjelaskan bahwa Hospital at Home bukan sekadar memindahkan lokasi pelayanan dari rumah sakit ke rumah pasien, melainkan membangun model pelayanan rawat inap akut yang tetap mempertahankan kualitas dan keamanan pelayanan rumah sakit melalui dukungan teknologi, sistem, dan koordinasi multidisiplin. Model MIC@Home memberikan akses kepada pasien terhadap tim medis selama 24 jam, didukung oleh command center yang menerima laporan pasien secara terintegrasi, remote vital sign monitoring, pelayanan medis di rumah (home treatment), pemeriksaan penunjang portabel, serta kolaborasi berbagai profesi kesehatan.

Pelayanan diberikan sesuai karakteristik pasien melalui beberapa skema, mulai dari pasien yang sejak awal menjalani full Hospital at Home, maupun pasien yang terlebih dahulu mendapatkan perawatan akut di rumah sakit sebelum melanjutkan perawatan di rumah. Pemilihan model disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit, diagnosis, dan kondisi klinis pasien. Alur pelayanan juga dirancang menyerupai rawat inap konvensional, dimulai dari identifikasi pasien yang memenuhi kriteria, proses admisi, fase perawatan (in-flight), hingga proses pemulangan (discharge).

Dalam implementasinya, Singapura memulai program melalui National Regulatory Sandbox selama dua tahun. Pendekatan ini memungkinkan inovasi diuji dalam lingkungan yang terkendali sebelum diterapkan secara nasional. Selama masa uji coba tersebut, sistem pengumpulan data disiapkan secara komprehensif untuk menjawab berbagai keraguan dari para pemangku kepentingan. Evaluasi tidak hanya berfokus pada luaran program, tetapi juga menggunakan pendekatan implementation science untuk memahami mengapa suatu proses berjalan baik maupun menghadapi kendala, sehingga hasil evaluasi dapat menjadi dasar perbaikan implementasi berikutnya.

Strategi implementasi dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu implementation science, stakeholder engagement, dan building mindshare. Ketiga pendekatan tersebut bertujuan memastikan bahwa inovasi bukan hanya layak secara teknis, melainkan juga diterima oleh tenaga kesehatan, pengelola rumah sakit, pembuat kebijakan, maupun masyarakat.

Pada aspek regulasi dan pembiayaan, Singapura memilih pendekatan yang mempermudah adopsi layanan dengan merancang aturan yang semirip mungkin dengan sistem rawat inap konvensional. Parameter seperti sumber admisi, tingkat keparahan pasien, serta jenis kasus tetap mengikuti standar pelayanan rumah sakit, sehingga transisi menuju model Hospital at Home tidak memerlukan perubahan yang terlalu drastis dalam sistem pelayanan maupun mekanisme pembiayaan.

Hasil implementasi selama fase sandbox menunjukkan capaian yang baik. Dalam dua tahun pelaksanaan, program berhasil melayani hampir 3.000 pasien sekaligus membantu mengurangi kebutuhan tempat tidur fisik di rumah sakit. Keberhasilan ini menjadi dasar bagi Singapura untuk memasuki fase mainstreaming, yaitu mengintegrasikan Hospital at Home ke dalam sistem kesehatan nasional. Tanggung jawab operasional secara bertahap dialihkan dari MOHT kepada Kementerian Kesehatan bersama klaster rumah sakit, sementara MOHT akan melanjutkan pengembangan inovasi kesehatan lainnya. Di tingkat nasional, pemerintah akan berperan dalam mengoordinasikan aspek pemantauan layanan, logistik, dan pengembangan sistem secara berkelanjutan.

Dr. Lai juga menekankan bahwa semakin banyak kasus pelayanan kesehatan akan bergeser dari rumah sakit menuju komunitas, sehingga regulasi perlu berkembang mengikuti kebutuhan pelayanan. Hospital at Home dinilai mampu mempercepat akses pelayanan, meningkatkan pemantauan penyakit kronis, sekaligus mendukung keberlanjutan sistem kesehatan. Namun demikian, keberhasilan implementasi tetap bergantung pada tersedianya model pembiayaan yang memadai, jaminan bahwa intervensi klinis dapat diberikan secara tepat waktu, serta dukungan penuh dari penyedia layanan kesehatan.

Sebagai penutup, Dr. Lai menyampaikan bahwa implementasi Hospital at Home memerlukan perencanaan yang matang, strategi berkelanjutan, dan komitmen yang kuat untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Beliau juga menekankan pentingnya keberadaan asosiasi profesi sebagai wadah untuk membangun konsensus lintas pemangku kepentingan mengenai standar pelaksanaan Hospital at Home. Konsensus tersebut selanjutnya menjadi landasan untuk melibatkan pembuat kebijakan dalam menyusun regulasi yang mendukung implementasi secara berkelanjutan. Pengalaman Singapura menunjukkan bahwa transformasi menuju Hospital at Home bukan hanya inovasi pelayanan, melainkan juga perubahan sistem kesehatan yang memerlukan kolaborasi, kepemimpinan, dan proses implementasi yang terencana dengan baik.

Kebijakan Hospital at Home di Israel

Dr. Ron Sabar (Pendiri & Chief Medical Officer, Sabar Health)

Panelis kedua, Dr. Ron Sabar, memaparkan implementasi Hospital at Home (HaH) di Israel terkait pengalaman Sabar Health, penyelenggara layanan Hospital at Home terbesar di negara tersebut. Presentasi ini menunjukkan bagaimana layanan berbasis rumah berkembang dari sebuah inisiatif swasta menjadi salah satu pilar penting sistem kesehatan nasional, bahkan ketika regulasi pemerintah masih sangat terbatas.

Sabar Health mengembangkan konsep hospital without walls yang mampu memberikan pelayanan akut setara rawat inap di rumah pasien. Saat ini, layanan tersebut menangani sekitar 3.000 pasien akut secara bersamaan dengan lebih dari 1.200 kunjungan rumah setiap hari. Cakupan pelayanannya sangat luas, meliputi penyakit dalam, bedah, kardiologi, kesehatan perempuan, perawatan paliatif, hingga pelayanan kesehatan jiwa dan psikiatri akut. Seluruh layanan didanai oleh sistem asuransi kesehatan publik sehingga pasien tidak mengeluarkan biaya tambahan (out-of-pocket).

Implementasi Hospital at Home di Israel menggunakan model single-payer dengan empat Health Maintenance Organization/HMO sebagai pengelola asuransi publik. Pemerintah mengalokasikan anggaran kepada HMO melalui mekanisme kapitasi, sementara setiap warga negara diwajibkan menjadi peserta asuransi dan memiliki kebebasan untuk berpindah HMO beberapa kali dalam setahun. Karena paket manfaat layanan telah ditetapkan secara nasional, kompetisi antar-HMO tidak berfokus pada variasi produk, melainkan pada kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Dalam konteks Hospital at Home, pembiayaan layanan dilakukan melalui negosiasi anggaran antara layanan rawat inap konvensional dan layanan berbasis rumah. Pendekatan ini memungkinkan Hospital at Home menjadi bagian integral dari sistem layanan tanpa menciptakan skema pembiayaan yang sepenuhnya baru.

Pengembangan Hospital at Home di Israel didorong oleh tiga tantangan utama. Pertama, meningkatnya kebutuhan tempat tidur rumah sakit akibat kombinasi pertumbuhan penduduk dan penuaan populasi. Kedua, kebutuhan membangun kapasitas cadangan menghadapi kondisi darurat seperti pandemi maupun konflik bersenjata. Ketiga, keterbatasan kapasitas rumah sakit sebagai tempat pendidikan klinis, sehingga Hospital at Home dipandang sebagai alternatif untuk memperluas wahana pembelajaran bagi tenaga kesehatan.

Perjalanan implementasi Hospital at Home di Israel menunjukkan perkembangan yang cukup unik. Layanan ini mulai dirintis oleh sektor swasta pada 2005, kemudian memperoleh dukungan pembiayaan dari HMO sejak 2009. Selama periode tersebut, pemerintah hampir tidak mengeluarkan regulasi khusus mengenai Hospital at Home. Memasuki 2019, semakin banyak penyedia layanan mulai memasuki bidang ini, sebelum akhirnya pandemi COVID-19 pada 2020 menjadi titik balik yang mempercepat adopsi Hospital at Home secara nasional. Kemampuan layanan berbasis rumah dalam menangani pasien COVID-19 membantu mengurangi tekanan terhadap kapasitas rumah sakit sehingga pemerintah mulai menyadari pentingnya model pelayanan tersebut.

Perubahan kebijakan semakin menguat setelah pecahnya konflik bersenjata pada 2023. Ancaman terhadap fasilitas kesehatan fisik mendorong pemerintah menetapkan kebijakan agar rumah sakit memiliki kemampuan mengevakuasi sebagian besar pasien ke rumah apabila diperlukan. Dengan demikian, Hospital at Home tidak lagi dipandang sebagai inovasi tambahan, tetapi sebagai bagian dari strategi ketahanan sistem kesehatan nasional.

Meskipun implementasi layanan telah berkembang pesat, penyusunan regulasi masih menjadi pekerjaan besar. Pemerintah Israel saat ini mulai menyusun berbagai standar terkait pelaksanaan riset klinis di rumah pasien, tata kelola logistik obat dan darah, distribusi kemoterapi ke rumah, hingga pengelolaan limbah medis di lingkungan permukiman. Untuk mempercepat proses tersebut, Israel juga mempertimbangkan adopsi berbagai kerangka operasional internasional sebagai acuan penyusunan standar nasional.

Pengalaman Israel menunjukkan bahwa inovasi pelayanan kesehatan tidak selalu diawali oleh regulasi yang lengkap. Dalam kasus Hospital at Home, kebutuhan sistem kesehatan akibat keterbatasan kapasitas rumah sakit, perubahan demografi, hingga situasi krisis justru menjadi pendorong utama lahirnya inovasi. Regulasi kemudian berkembang mengikuti praktik yang telah terbukti memberikan manfaat. Pengalaman ini memberikan pelajaran bahwa transformasi layanan membutuhkan fleksibilitas kebijakan, model pembiayaan yang mendukung, serta kemampuan sistem kesehatan untuk beradaptasi secara cepat terhadap tantangan yang terus berkembang.

Sesi diskusi yang dimoderatori oleh Dr. Chia-Ming Li dan Dr. Lian-Yu Chen, Director General of National Health Insurance Administration Taiwan, membahas dua isu utama dalam pengembangan Hospital at Home (HaH), yaitu penguatan kapasitas sumber daya manusia serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Pada aspek sumber daya manusia, para panelis sepakat bahwa layanan HaH membutuhkan tenaga kesehatan dengan kompetensi khusus karena menangani pasien akut di luar lingkungan rumah sakit. Pengalaman klinis, kemampuan mengenali perburukan kondisi pasien, serta mekanisme eskalasi pelayanan menjadi kompetensi yang sangat penting. Beberapa negara telah mengembangkan pelatihan internal, program rotasi dokter residen, hingga sertifikasi khusus bagi dokter dan tenaga kesehatan HaH. Selain itu, keberadaan asosiasi profesi dinilai penting untuk mendukung standardisasi kompetensi dan pengembangan kapasitas tenaga kesehatan.

Diskusi juga menyoroti bahwa model HaH lebih menarik bagi generasi muda karena menawarkan fleksibilitas kerja dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Namun, agar dapat berkembang secara berkelanjutan, HaH perlu menyediakan jalur karir yang jelas, termasuk peluang di bidang penelitian, pendidikan, layanan rumah sakit, maupun kepemimpinan.

Terkait peluang integrasi AI dalam ekosistem HaH, para panelis menekankan bahwa AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan tenaga kesehatan, melainkan menjadi alat pendukung dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan. Pemanfaatan AI dinilai potensial untuk membantu proses skrining pasien yang layak menjalani HaH, pemantauan tanda vital secara real-time, prediksi risiko klinis, dokumentasi otomatis (AI scribing), hingga optimalisasi logistik dan manajemen operasional.

Keberhasilan implementasi AI sangat bergantung pada tersedianya infrastruktur digital yang kuat, integrasi data kesehatan nasional, serta sistem pembiayaan yang terkoordinasi. Meskipun demikian, para panelis mengingatkan bahwa isu privasi dan keamanan data tetap menjadi tantangan penting yang harus diselesaikan sebelum AI dapat diimplementasikan secara optimal dalam layanan Hospital at Home.

 

Reporter:
Hanifah Wulandari

 

Ketika Hospital at Home Berpindah dari “Apakah Mungkin?” menjadi “Bagaimana Mengembangkannya?” 

Suasana di area pameran poster

Berbeda dengan suasana formal di ruang plenary dan parallel sessions, sesi poster berlangsung lebih hidup dan interaktif. Area poster ditempatkan menyatu dengan area pameran yang menampilkan beberapa perusahaan teknologi alkes serta area coffee break dan makan siang. Kombinasi ini membuat peserta secara alami berpindah dari satu poster ke poster lain sambil menikmati kopi, berdiskusi dengan penulis, bertukar kartu nama, bahkan saling bantu memotret untuk dokumentasi masing-masing. Ini membuat suasana sangat cair dan hangat.

Selain poster cetak, panitia juga menyediakan layar digital untuk e-Poster, untuk memfasilitasi para poster presenter yang tidak dapat hadir di Taipei. Setiap peserta memperoleh enam stiker untuk memberikan suara pada poster favorit, baik poster fisik maupun e-Poster. Mekanisme sederhana ini menjadikan sesi poster bukan sekadar pajangan ilmiah, tetapi ruang interaksi yang aktif sekaligus ajang apresiasi terhadap inovasi terbaik.

Jika ditarik benang merahnya, sebagian besar poster menunjukkan bahwa HaH tidak lagi membahas apakah HaH layak diterapkan, tetapi lebih berfokus pada bagaimana mengoptimalkan dan memperluas implementasinya. Tema-tema yang banyak diangkat meliputi pengembangan model pelayanan klinis untuk berbagai kelompok pasien (geriatri, gagal jantung, infeksi akut, neonatal, pediatri, postpartum hingga penyakit terminal), pemanfaatan virtual wardremote monitoring dan early warning system, integrasi jejaring rumah sakit dengan layanan satelit, mobile X-ray, point-of-care ultrasound, transfusi darah di rumah, hingga evaluasi pengalaman pasien dan caregiver.

Sejumlah poster juga mengangkat aspek yang lebih strategis seperti tata kelola organisasi, retensi tenaga kesehatan, efisiensi sumber daya, serta kontribusi HaH terhadap pengurangan jejak karbon danplanetary health. Keseluruhan tema tersebut menunjukkan bahwa HaH kini berkembang sebagai sebuah ekosistem pelayanan yang semakin matang, dengan perhatian yang sama besar terhadap mutu klinis, pengalaman pasien, keberlanjutan sistem, dan dampak lingkungan.

Indonesia turut berpartisipasi melalui lima poster yang berasal dari Universitas Gadjah Mada, RSUD dr. Soeratno, Gemolong (Sragen), kolaborasi UGM–INSPIRY, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, serta RSUP dr. Soerojo Magelang. Salah satu poster dari Indonesia memperkenalkan Soerojo@Home, model pelayanan terintegrasi yang menghubungkan rumah sakit, rumah pasien, layanan primer, dan komunitas untuk menciptakan kesinambungan pelayanan bagi pasien lanjut usia. Hal ini mengingatkan penulis pada presentasi oral dari RSUD dr. Soeratno Gemolong – dr. Kinik Darsono – yang menyatakan bahwa jika pasien tidak mampu datang ke RS, maka RS yang akan datang ke rumah pasien.

 

Poster-poster Indonesia lainnya menyoroti pengembangan model implementasi Hospital at Home, pengalaman inovasi layanan, serta kesiapan ekosistem pendukung di Indonesia. Kehadiran karya-karya tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi hanya menjadi pengamat, tetapi mulai berkontribusi dalam diskursus ilmiah HaH tingkat internasional.

Bagi Indonesia, pelajaran terpenting dari sesi poster adalah bagaimana negara-negara lain membangun HaH secara bertahap, yang dimulai dari model layanan yang jelas, dilengkapi protokol klinis yang aman, diperkuat teknologi pemantauan, dievaluasi melalui luaran pasien dan caregiver, lalu dikembangkan menjadi bagian dari sistem pelayanan rumah sakit. Pendekatan bertahap inilah yang tampaknya menjadi kunci agar HaH dapat berkembang secara berkelanjutan dan dapat direplikasi sesuai konteks masing-masing negara. Hal ini menegaskan, HaH sudah tidak dipandang sebagai proyek teknologi, tetapi sebagai transformasi model pelayanan rumah sakit.

Video RS Soerojo

 

Reporter:
Putu Eka Andayani

PRA KONGRES

26 Juni 2026

HARI 1

27 Juni 2026

HARI 2

28 Juni 2026