Peluang dan Tantangan Chat GPT dalam Layanan Kesehatan

Kecerdasan buatan kini semakin dekat dan banyak digunakan dalam dunia medis. Penerapan kecerdasan buatan yang telah masif digunakan salah satunya melalui Chat GPT, sebuah platform dari OpenAI yang mampu menghasilkan jawaban menyerupai manusia. Studi terbaru oleh Javaid, Haleem, dan Singh (2023) menegaskan bahwa teknologi Chat GPT menawarkan peluang besar dalam perkembangan transformasi layanan kesehatan. Chat GPT dapat dimanfaatkan mulai dari edukasi pasien, pendukung keputusan klinis, dan otomatisasi administrasi yang selama ini menyita banyak waktu tenaga medis. Chat GPT juga dapat membantu pasien memahami penyakit, obat, atau prosedur medis melalui penjelasan sederhana. Apabila dilihat dari sisi keselamatan, sistem ChatGPT mampu menurunkan risiko kesalahan medis karena dapat menyediakan informasi berbasis bukti dengan cepat.

ChatGPT dapat berperan sebagai jembatan akses layanan dan sumber informasi medis awal sehingga berpotensi memperkecil kesenjangan pelayanan kesehatan. Dalam praktek praktisi kesehatan, dokter dapat menggunakan Chat GPT untuk membantu menyusun laporan medis, meringkas rekam medis, dan melakukan transkripsi dengan cepat dan akurat. Teknologi ini secara lebih lanjut dapat mendukung penelitian klinis dengan menganalisis data uji coba maupun literatur medis secara efisien. Chat GPT juga berpotensi menjadi asisten digital dokter untuk mengingatkan jadwal kontrol, menyusun rencana diet untuk pasien diabetes, atau memberikan rekomendasi awal berdasarkan riwayat medis. Selain manfaat tersebut, Chat GPT dapat mengurangi beban kerja administratif kesehatan. Melalui Chat GPT, beban kerja administratif dapat dikurangi sehingga tenaga medis memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi langsung dengan pasien.

Meskipun memiliki banyak manfaat dalam mempermudah akses dan sumber informasi kesehatan, penelitian ini menegaskan bahwa ChatGPT memiliki keterbatasan. Chat GPT dapat menghasilkan informasi yang keliru atau bias jika data medisnya tidak diperbarui. Isu privasi dan etika medis juga perlu diwaspadai karena data pasien sangat sensitif. Selain itu, Chat GPT tidak bisa menggantikan tenaga medis. Keputusan klinis tetap membutuhkan penilaian, empati, serta pertimbangan etis yang hanya bisa dilakukan oleh manusia.

Penting digarisbawahi bahwa implikasi Chat GPT bagi praktisi kesehatan adalah memanfaatkan penggunaannya sebagai alat bantu bukan pengganti. Penggunaannya perlu dilengkapi dengan regulasi, standar etik, dan pembaruan data medis yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan tepat, Chat GPT dapat menjadi mitra strategis dalam meningkatkan mutu layanan, memperluas akses, serta mendorong inovasi di dunia kesehatan

Dirangkum oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2772485923000224?via%3Dihub 

 

Bimbingan Teknis (Bimtek) Online Strategi Kesiapan Rumah Sakit dalam Pemenuhan Program PMKP (Peningkatan Mutu Keselamatan Pasien) dan Manajemen Risiko sesuai Standar Akreditasi Rumah Sakit

Latar Belakang

Peningkatan mutu pelayanan kesehatan merupakan suatu pendekatan sistematis dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien. Intisari dari berbagai macam upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien adalah untuk menggerakkan kepemimpinan menuju perubahan budaya organisasi; proaktif mengidentifikasi dan menurunkan risiko dan penyimpangan; fokus pada isu prioritas berdasarkan data; dan mencari cara perbaikan yang bersifat langgeng (JCI, 2012).

Berdasarkan hal tersebut maka upaya peningkatan mutu, keselamatan pasien (PMKP) dan manajemen risiko di rumah sakit harus dilakukan secara komprehensif, yang secara umum meliputi pengelolaan kegiatan peningkatan mutu, keselamatan pasien, dan manajemen risiko, pemilihan dan pengumpulan data indikator mutu, analisis dan validasi data indikator mutu, pencapaian dan upaya mempertahankan perbaikan mutu, sistem pelaporan dan pembelajaran keselamatan pasien rumah sakit, dan penetapan manajemen risiko (Kemkes, 2024)

Dalam rangka mendukung upaya peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan, diperlukan pemahaman yang komprehensif mengenai penyusunan program, pelaksanaan, serta evaluasi kegiatan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP), termasuk pengelolaan manajemen risiko secara sistematis.

Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Online ini dapat menjadi wadah pembelajaran dan penguatan kapasitas bagi tenaga kesehatan, manajemen rumah sakit, dan pemangku kepentingan lainnya. Kegiatan ini bertujuan memberikan panduan praktis dan strategis dalam merancang serta melaksanakan program PMKP, sekaligus mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko yang dapat berdampak pada mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

Tujuan

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan strategi pimpinan dan pengelola rumah sakit dalam menyusun, menerapkan dan mengevaluasi program peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) dan manajemen risiko

Peserta

Pelatihan ini secara umum perlu diikuti oleh pimpinan, manajer, staf RS, ketua dan anggota Tim PMKP, serta staf RS yang terkait dengan pengumpulan, validasi, pengolahan dan analisa data program peningkatan mutu, keselamatan pasien dan manajemen risiko

Materi

Pelatihan ini terdiri dari pokok-pokok materi, diantaranya:

  1. Pengelolaan kegiatan PMKP dan manajemen risiko
  2. Pemilihan dan pengumpulan data indikator mutu
  3. Analisis dan validasi data indikator mutu
  4. Mencapai dan mempertahankan perbaikan mutu
  5. Sistem pelaporan dan pembelajaran keselamatan pasien RS
  6. Penerapan manajemen risiko
Narasumber / Fasilitator

Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua

  • Lulus FK-UI 1994, lulus MARS-UI 1997, lulus program Doktor IKM-UGM 2019
  • Fellow of International Society for Quality in Healthcare (ISQua)
  • Berpengalaman mengelola grup RS swasta (1.000 TT) di Jakarta 1997-2003
  • Konsultan Pusat Kebijakan & Manajemen Kesehatan (PKMPK) FK-UGM sejak 2003
  • Dosen Magister Manajemen Rumah Sakit (MMR) UGM sejak 2003
  • Koodinator Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) sejak 2005
  • Pengurus Pusat PERSI dari 2009-sekarang, Pengurus Pusat Arsada dari 2016-sekarang
  • Pengurus Pusat Persatuan Dokter Manajemen Medik (PDMMI)-IDI dari 2009-sekarang
  • Anggota KNKP sejak 2020- sekarang
Persiapan Peserta
  1. Menyediakan data kinerja mutu RS atau bagian/bidang/unit masing-masing selama
    periode tahun 2025
  2. Menyediakan 1 (satu) SPO/SOP medis atau SPO/SOP manajemen
  3. Menyediakan 1 (satu) deskripsi kasus sentinel atau KTD/KNC yang pernah terjadi
  4. Menyediakan 1 (satu) contoh laporan perbaikan mutu seperti laporan GKM, PDCA,
    Kaizen, dsb
Waktu & tempat

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Selasa-Rabu, 28-29 April 2026
Waktu : 09.00–12.00 WIB
Tempat : Online melalui zoom meeting

Agenda Kegiatan
Waktu Kegiatan Narasumber/Fasilitator
Hari ke-1 
09.00 – 09.15 Pembukaan: Pengantar kegiatan, perkenalan, pembacaan tata tertib kegiatan, pre-test, dan mengunduh materi pelatihan Andriani Yulianti, MPH
09.15- 09.30 Sesi 1 : Konsep Penyusunan, Penerapan, dan Evaluasi Program Peningkatan Mutu Keselamatan Pasien & Manajemen Risiko Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua

09:30-10:30

Sesi 2: Pengelolaan Kegiatan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien

  1. Pembentukan Komite/Tim Mutu RS
  2. Penyusunan Program Pelatihan PMKP
Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua
10.30-11.30 Sesi 3: Pemilihan dan Pengumpulan data Indikator

  1. Pemilihan indikator mutu prioritas baik di tingkat rumah sakit maupun tingkat unit layanan.
  2. Pengumpulan data indikator nasional mutu, indikator mutu prioritas RS, indikator mutu prioritas unit.
  3. Membuat profil Indikator
Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua
11.30-12.00 Sesi 4: Analisis dan validasi data indikator mutu

  1. Agregasi dan Analisa data menggunakan metode dan teknik statistik terhadap semua indikator mutu
  2. Pembelajaran dari database eksternal untuk tujuan perbandingan internal
  3. Analisa efisiensi berdasarkan biaya dan jenis sumber daya yang digunakan (kendali mutu dan kendali biaya) terhadap satu proyek prioritas perbaikan yang dipilih setiap tahun.
  4. Validasi data berbasis bukti

Andriani Yulianti, MPH

Tri Yatmi, MNSc

Hari ke-2 
09.00– 10.00 Sesi 5: Pencapaian dan upaya Mempertahankan Perbaikan mutu

  1. Menyusun Dokumentasi/Laporan dengan Model PDCA/PDSA
Andriani Yulianti, MPH
10.00– 11.00 Sesi 6: Sistem pelaporan dan pembelajaran keselamatan pasien RS

  1. Sistem Pelaporan dan Pembelajaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit (SP2KP RS) dan Analisa RCA untuk Sentinel, KTD, KNC, KTC, KPCS.
  2. Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien
Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua
11.00-11.45 Sesi 7: Penerapan Manajemen Risiko

  1. Prinsip Manajemen Risiko
  2. Program Manajemen Risiko Rumah Sakit
  3. Menyusun Risk Registry
  4. Profil risiko dan rencana penanganan
  5. Menyusun FMEA
Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua
11.45–12.00 Penutup: diskusi akhir, penyusunan rencana tindak lanjut, post-test, pengisian lembar reaksi, foto bersama Andriani Yulianti, MPH

link pendaftaran

Informasi & Pendaftaran:

PJ Konten: Andriani Yulianti, MPH (081328003119)

 

 

 

 

 

In House Training (IHT): Penyusunan program, pelaksanaan dan evaluasi peningkatan mutu keselamatan pasien (pmkp) & manajemen risiko tahun 2025

Pendahuluan

Peningkatan mutu pelayanan kesehatan merupakan suatu pendekatan sistematis dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien. Inti-sari dari berbagai macam upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien adalah untuk: Menggerakkan kepemimpinan menuju perubahan budaya organisasi; Proaktif mengidentifikasi dan menurunkan risiko dan penyimpangan; Fokus pada isu prioritas berdasarkan data; dan Mencari cara perbaikan yang bersifat langgeng (JCI, 2012).

Berdasarkan hal tersebut maka upaya peningkatan mutu, keselamatan pasien (PMKP) dan manajemen risiko di rumah sakit harus dilakukan secara komprehensif, yang secara umum meliputi: Pengelolaaan Kegiatan Peningkatan Mutu, Keselamatan Pasien, dan Manajemen Risiko, Pemilihan dan Pengumpulan Data Indikator Mutu, Analisis dan Validasi Data Indikator Mutu, Pencapaian dan Upaya Mempertahankan Perbaikan Mutu, Sistem Pelaporan dan Pembelajaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit, Penetapan Manajemen Risiko (Kemkes, 2024). Melalui In House Training (IHT) ini, pimpinan dan tim rumah sakit akan mendapatkan bimbingan komprehensif: mulai dari penyusunan program, penerapan strategi, hingga evaluasi mutu dan manajemen risiko. Pendampingan dilakukan dengan metode interaktif, berbasis kasus nyata, dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing rumah sakit.

Tujuan

Bimbingan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan pimpinan dan pengelola RS dalam menyusun, menerapkan dan mengevaluasi program peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) dan Manajemen Risiko

Peserta

Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi:

  • Pimpinan & manajemen rumah sakit
  • Ketua & anggota Tim PMKP
  • Staf terkait pengumpulan & analisis data mutu
  • Unit manajemen risiko & keselamatan pasien
Detil Materi dan Metode Pelaksanaan

Durasi: 2 hari efektif
Jadwal: Fleksibel, sesuai kesepakatan antara pelatih & pemohon
Metode: Paparan, diskusi, studi kasus, simulasi, praktik langsung

Materi
  1. Konsep: Penyusunan, Penerapan, dan Evaluasi Program Peningkatan Mutu Keselamatan Pasien & Manajemen Risiko
  2. Materi & Praktek (1): Pengelolaan Kegiatan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
    1. Pembentukan Komite/Tim Mutu RS
    2. Penyusunan Program Pelatihan PMKP
  3. Materi & Praktek (2): Pemilihan dan Pengumpulan data Indikator
    1. Pemilihan indikator mutu prioritas baik di tingkat rumah sakit maupun tingkat unit layanan.
    2. Pengumpulan data indikator nasional mutu, indikator mutu prioritas RS, indikator mutu prioritas unit.
    3. Membuat profil Indikator
  4. Materi dan Praktek (3): Analisis dan validasi data indikator mutu
    1. Agregasi dan Analisa data menggunakan metode dan teknik statistik terhadap semua indikator mutu
    2. Pembelajaran dari database eksternal untuk tujuan perbandingan internal
    3. Analisa efisiensi berdasarkan biaya dan jenis sumber daya yang digunakan (kendali mutu dan kendali biaya) terhadap satu proyek prioritas perbaikan yang dipilih setiap tahun.
    4. Validasi data berbasis bukti
  5. Materi & Praktek (4): Pencapaian dan upaya Mempertahankan Perbaikan mutu
    Menyusun Dokumentasi/Laporan dengan Model PDCA/PDSA
  6. Materi & Praktek (5): Sistem pelaporan dan pembelajaran keselamatan pasien RS
    1. Sistem Pelaporan dan Pembelajaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit (SP2KP RS) dan Analisa RCA untuk Sentinel, KTD, KNC, KTC, KPCS.
    2. Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien
  7. Materi & Praktek (6): Penerapan Manajemen Risiko
    1. Prinsip Manajemen Risiko
    2. Program Manajemen Risiko Rumah Sakit
    3. Menyusun Risk Registry
    4. Profil risiko dan rencana penanganan
    5. Menyusun FMEA
Fasilitator

Fasilitator utama: Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua

  • Lulus FK-UI 1994, lulus MARS-UI 1997, lulus program Doktor IKM-UGM 2019
  • Fellow of International Society for Quality in Healthcare (ISQua)
  • Berpengalaman mengelola grup RS swasta (1.000 TT) di Jakarta 1997-2003
  • Konsultan Pusat Kebijakan & Manajemen Kesehatan (PKMPK) FK-UGM sejak 2003
  • Dosen Magister Manajemen Rumah Sakit (MMR)UGM sejak 2003
  • Koodinator Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) sejak 2005
  • Pengurus Pusat PERSI dari 2009-sekarang, Pengurus Pusat Arsada dari 2016-sekarang
  • Pengurus Pusat Persatuan Dokter Manajemen Medik (PDMMI)-IDI dari 2009-sekarang
  • Anggota KNKP sejak 2020- sekarang

Fasilitator Pendamping: Andriani Yulianti, MPH

Investasi Kegiatan:
  • Bila dilaksanakan secara Online: Rp 20.000.000,- / paket (maksimal 20 peserta)
  • Bila dilaksanakan secara Offline: Rp 30.000.000,- / paket (maksimal 30 peserta)

Termasuk:

  • Modul & Materi Pelatihan
  • Sertifikat
  • Konsultasi pasca-pelatihan (1 minggu)

*Khusus biaya Offline, belum termasuk biaya akomodasi dan transportasi Narasumber

Informasi & Pendaftaran:

Contact Person: 081328003119 (Andriani)
Email: ndiani.86@gmail.com

 

 

 

Hari Buta Warna Sedunia

Hari buta warna sedunia yang diperingati setiap 6 September merupakan upaya kampanye untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyandang buta warna. Tanggal 6 September dipilih menjadi hari buta warna sedunia sebagai penghormatan kepada John Dalton, ilmuwan yang meneliti dan menemukan kondisi buta warna pada dirinya sendiri. John Dalton adalah seorang ilmuwan yang lahir pada 6 September 1766. Dalton adalah orang pertama yang menyadari keberadaan buta warna. Sebagai seorang ilmuwan, ia menyadari bahwa baik ia maupun saudaranya tidak dapat melihat warna dengan cara yang sama seperti orang lain.

Kondisi buta warna atau colour vision deficiency (CVD) diketahui diderita oleh 1 dari 12 laki-laki (8%) dan 1 dari 200 oleh perempuan di seluruh dunia. Secara keseluruhan, sekitar 300 juta orang di seluruh dunia, diperkirakan menderita buta warna yang jumlahnya hampir sama dengan seluruh populasi di Amerika Serikat. Umumnya, buta warna ditandai dengan gejala tidak dapat membedakan warna merah atau hijau. Kondisi buta warna mayoritas bersifat genetik yang berasal dari gen ibu. Buta warna juga dapat disebabkan oleh akibat dari penyakit lain seperti diabetes dan multiple sclerosis atau karena penuaan dan konsumsi obat-obatan.

Tujuan utama peringatan ini adalah memberikan pemahaman lebih luas bahwa buta warna tidak hanya sekadar ketidakmampuan membedakan warna merah dan hijau tetapi juga kondisi yang dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari, pendidikan, hingga karier seseorang. Melalui peringatan ini, diharapkan masyarakat lebih peduli dan mendukung terciptanya lingkungan yang ramah bagi penyandang buta warna di seluruh dunia.

Selengkapnya: https://www.colourblindawareness.org/ 

 

Hari Leukemia Sedunia 2025

Setiap 4 September, kita memperingati Hari Leukemia Sedunia sebagai upaya kampanye global untuk meningkatkan kesadaran mengenai gejala, kondisi, dan pentingnya diagnosis leukemia. Saat ini, jumlah penderita yang terdiagnosis mencapai lebih dari 437.000 kasus baru setiap tahun. Leukemia sendiri merupakan kanker yang menyerang jaringan pembentuk darah, yaitu sumsum tulang yang ditandai dengan produksi sel darah putih abnormal secara berlebihan. Kondisi ini menyebabkan sumsum tulang dipenuhi sel-sel abnormal sehingga menghambat produksi sel darah normal yang sangat dibutuhkan tubuh.

Gejala leukemia seringkali tidak spesifik dan dapat menyerupai penyakit lain. Gejalanya meliputi kelelahan, nyeri sendi, infeksi berulang, demam, sesak nafas, memar, hingga perdarahan. Oleh karena itu, kepastian diagnosis hanya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan jenis sel darah putih yang terlibat, leukemia dibedakan menjadi mieloid atau limfatik. Sementara itu, berdasarkan laju perkembangannya, leukemia dibedakan menjadi akut atau kronis. Penting dipahami bahwa istilah akut dan kronis tidak merujuk pada tingkat keparahan penyakit, melainkan pada kecepatan perkembangannya. Leukemia akut berkembang dengan cepat tetapi berpotensi disembuhkan dengan pengobatan standar atau transplantasi sumsum tulang. Sementara itu, leukemia kronis berkembang perlahan dalam jangka panjang dan umumnya lebih sulit disembuhkan.

Pada 2025, Hari Leukemia Sedunia mengangkat tema “What does Leukemia mean to you?” atau “Apa arti leukemia bagi Anda?”. Melalui tema ini, masyarakat diajak untuk berbagi cerita tentang bagaimana mereka memaknai leukemia, sekaligus menegaskan bahwa penyakit ini adalah kondisi serius yang penting untuk dikenali, dipahami, dan ditangani secara tepat.

Selengkapnya: https://www.worldleukemiaday.org/

 

Wearable Devices: Peluang Besar dan Tantangan Nyata dalam Kesehatan Digital

Perkembangan teknologi kesehatan saat ini semakin erat dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi yang telah akrab dengan kita salah satunya adalah wearable devices seperti gelang kesehatan, smartwatch, dan pakaian pintar. Awalnya, wearable devices hanya populer di kalangan masyarakat umum untuk menghitung langkah atau memantau detak jantung. Namun, penggunaannya kini sudah meluas dalam penelitian biomedis, pelayanan klinis, dan pencegahan penyakit. Review Canali, Schiaffonati, dan Aliverti (2022) menunjukkan bahwa wearables memiliki empat fungsi utama, yaitu memantau kondisi tubuh, melakukan skrining awal penyakit, mendeteksi kondisi medis secara dini, dan memprediksi risiko kesehatan di masa depan. Contohnya, smartwatch dapat membantu mendeteksi detak jantung tidak normal, memantau gejala COVID-19, dan memperkirakan risiko rawat inap pada pasien penyakit paru.

Meskipun memiliki potensi besar, penggunaan wearable devices tidak lepas dari berbagai tantangan. Isu pertama berkaitan dengan kualitas data. Perbedaan sensor dan metode pengumpulan informasi membuat hasil pengukuran tidak selalu konsisten. Padahal, data yang kurang akurat dapat berakibat serius jika dijadikan dasar keputusan medis. Isu kedua berkaitan dengan masalah akurasi estimasi. Wearable devices terkadang mengalami overestimation, misalnya peningkatan detak jantung akibat flu dapat terbaca sebagai gejala COVID-19. Hal ini dapat menimbulkan kecemasan pasien bahkan menambah beban bagi sistem kesehatan. Tantangan ketiga menyangkut kesenjangan akses yang ditunjukkan dengan tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan teknologi ini. Kelompok dengan kemampuan finansial dan literasi digital yang lebih baik cenderung lebih mudah memperoleh manfaat sedangkan masyarakat dengan keterbatasan akses dapat semakin tertinggal. Isu terakhir adalah keadilan dan representasi data. Saat ini, data dari wearable devices lebih banyak terkumpul dari kelompok tertentu seperti orang dewasa muda pengguna smartwatch. Sementara itu, kelompok lain seperti lansia atau anak-anak masih kurang terwakili. Akibatnya, basis data yang terbentuk dapat bias dan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi kesehatan populasi secara menyeluruh.

Temuan ini dapat menjadi pengingat bagi praktisi kesehatan bahwa wearable devices tidak hanya sekadar menjadi tren gaya hidup tetapi juga berfungsi sebagai alat medis potensial yang perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Penting untuk memastikan kualitas data terjaga, mengedukasi pasien tentang keterbatasan interpretasi data, serta mendorong kebijakan yang menjamin akses merata. Selain itu, penggunaan data juga harus diperhatikan agar informasi dapat terintegrasi dengan rekam medis elektronik sehingga memberikan manfaat maksimal dalam praktik klinis maupun kesehatan masyarakat.

Wearable devices memang membuka peluang besar menuju pelayanan kesehatan yang lebih personal, digital, dan preventif. Namun, manfaat tersebut hanya bisa tercapai jika tantangan terkait kualitas data, akurasi, kesetaraan akses, dan keadilan benar-benar diperhatikan. Praktisi kesehatan memiliki peran penting untuk menjembatani kemajuan teknologi ini agar dapat memberikan dampak positif, tidak hanya bagi kelompok tertentu tetapi juga bagi seluruh lapisan masyarakat.

Dirangkum oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Sumber:
https://journals.plos.org/digitalhealth/article?id=10.1371/journal.pdig.0000104 

 

Workshop Implementasi Rancangan dan Pelaksanaan OSCE (Objective Structured Clinical Examination) bagi Tenaga Kesehatan

Workshop Implementasi Rancangan dan Pelaksanaan OSCE
(Objective Structured Clinical Examination)
bagi Tenaga Kesehatan

Latar belakang

Pemerintah Indonesia, melalui Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2025, menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas SDM kesehatan. Instruksi ini bertujuan untuk memastikan tenaga Kesehatan memiliki keterampilan yang terstandar dalam pelayanan pasien, serta siap menghadapi tantangan sistem kesehatan yang terus berkembang. Peningkatan kapasitas SDM kesehatan melalui workshop implementasi rancangan dan pelaksanaan OSCE, diharapkan mutu pendidikan dan evaluasi tenaga kesehatan dapat meningkat, sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat menjadi lebih optimal. Program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat sistem kesehatan nasional guna mencapai tujuan pembangunan kesehatan yang berkelanjutan.

Melalui pendekatan yang terintegrasi, kegiatan ini akan memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan evaluasi klinis, untuk mencetak lulusan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan di dunia profesional. Upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia, pengembangan sumber daya manusia (SDM) kesehatan menjadi hal yang sangat penting. Salah satu metode yang telah terbukti efektif dalam menilai kompetensi tenaga kesehatan adalah Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Metode ini tidak hanya menilai keterampilan klinis, tetapi juga pengetahuan dan sikap profesional peserta didik dalam berbagai situasi klinis. Oleh karena itu, workshop ini diselenggarakan untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan dalam melaksanakan OSCE dengan benar.

Sumber daya manusia (SDM) kesehatan merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan di Indonesia. Untuk memastikan tenaga kesehatan memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar nasional dan internasional, diperlukan metode evaluasi yang objektif dan terstruktur dalam menilai keterampilan klinis mereka. Salah satu metode yang digunakan secara luas adalah Objective Structured Clinical Examination (OSCE), yang menguji kompetensi tenaga kesehatan dalam berbagai skenario klinis melalui pendekatan berbasis praktik.

Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dirancang untuk menilai kompetensi klinis secara komprehensif, meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional. Objective Structured Clinical Examination (OSCE) telah diakui secara luas sebagai metode yang efektif, dalam praktiknya. Pelatihan semacam ini tidak hanya membantu memahami prinsip-prinsip dasar OSCE, tetapi juga memberikan panduan praktis untuk mengaplikasikannya dalam konteks nyata. Workshop implementasi rancangan dan pelaksanaan OSCE akan dilaksanakan selama tiga hari. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mendalam mengenai OSCE, dengan melibatkan narasumber yang berpengalaman di bidangnya, peserta diharapkan dapat memahami sehingga dapat mengimplementasikan prinsip-prinsip OSCE secara efektif.

Tujuan

Tujuan dari pelatihan ini adalah:

  1. Meningkatkan pemahaman tentang prinsip-prinsip OSCE
  2. Meningkatkan keterampilan peserta dalam merancang dan melaksanakan OSCE
  3. Meningkatkan kemampuan peserta sebagai penguji dalam melaksanakan penilaian OSCE
  4. Meningkatkan standar penilaian keterampilan klinis
  5. Mendiskusikan pengalaman dan tantangan dalam OSCE
  6. Memperoleh umpan balik mengenai efektivitas pelaksanaan OSCE yang telah disiapkan.
Waktu dan Tempat

Selasa-Jum’at, 24-26 September 2025.
Pelatihan ini dilaksanakan di hotel Jayakarta Jogjakarta dan Laboratorium OSCE.

Rundown Kegiatan

HARI I:

Waktu

Materi/ Kegiatan

Narasumber/ Fasilitator

07.30 – 08.00

Registrasi

Panitia

08.00 – 08.15

Pengantar dan Sambutan

Moderator

08.15 – 09.00

Sesi 1 :
Implementasi OSCE sebagai upaya dalam meningkatkan mutu SDM Kesehatan.

 

dr. M. Hardantyo, MPH., PhD

09.00 – 09.45

Sesi 2 :
Gambaran Umum Objective Structured Clinical Examination (OSCE)

 

Dr. Tridjoko Hadianto, DTMH., M.Kes.

09.45 – 10.00

Coffee break

Panitia

10.00 – 10.45

Sesi 3:
Peran Soal pada Ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE)

 

Panca Desristanto SS., MA.

10.45 – 11.30

Sesi 4:
Teknik Penilaian Objective Structured Clinical Examination (OSCE)

J.M. Metha, M.Med.Ed

11.30 – 12.30

ISHOMA

Panitia

12.30 – 13.15

Sesi 5: Gambaran pelaksanaan ujian OSCE

Dr. Tridjoko Hadianto, DTMH., M.Kes.

13.15 – 14.00

Sesi 6:
Peran Penguji Objective Structured Clinical Examination (OSCE)

J.M. Metha, M.Med.Ed

14.00 – 14.45

Sesi 7: Penetapan Batas Lulus dan Standard Setting

Dr. Tridjoko Hadianto, DTMH., M.Kes.

14.45 – 15.00

Coffee Break

Panitia

15.00 – 15.45

Sesi 8: Pengantar Persiapan Praktik dan Simulasi

J.M. Metha, M.Med.Ed

15.45 – 16.00

Refleksi

Narasumber

HARI II

09.00 – 10.30

Briefing pada Penguji

J.M. Metha, M.Med.Ed

10.30 – 10.45

Coffee Break

Panitia

10.45 – 12.15

Briefing pada Peserta

J.M. Metha, M.Med.Ed

12.15 – 13.00

ISHOMA

Panitia

13.00 – 14.30

Briefing pada Pasien Simulasi

dr. Arida Oetami, M.Kes
J.M. Metha, M.Med.Ed

14.30 – 15.00

Penjelasan Pelaksanaan Ujian

Tri Yatmi, S.Kep., Ns

HARI III

08.00 – 08.15

Persiapan Soal Ujian

Panca Desristanto SS., MA.

08.15 – 08.30

Persiapan Pasien Simulasi

dr. Arida Oetami, M.Kes

08.30 – 08.45

Persiapan Alat dan Bahan

J.M. Metha, M.Med.Ed

08.45 – 09.00

Persiapan Peserta Ujian

Dr. Tridjoko Hadianto, DTMH., M.Kes.

09.00 – 10.00

Pelaksanaan Ujian Simulasi

 

10.00 – 11.30

Evaluasi dan Umpan Balik

Narasumber

11.30 – 12.00

Penutupan

Moderator

 

Biaya Kepesertaan

Rp. 3.000.000/orang

Form pendaftaran

 

Narahubung:
Opi (0851‑1744‑8499‬)

Pendidikan Orang Tua: Kunci Menurunkan Angka Kematian Anak

Pendidikan tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga, tetapi juga berperan besar dalam menurunkan angka kematian anak. Sebuah penelitian besar yang dipublikasikan di The Lancet tahun 2021 menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, semakin rendah risiko anak meninggal sebelum usia lima tahun. Penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa pendidikan dapat dianggap sebagai salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif.

Studi ini merupakan tinjauan sistematis dan meta-analisis terbesar yang pernah dilakukan terkait topik ini. Para peneliti menganalisis lebih dari 300 penelitian di 92 negara, mencakup data sekitar 3,1 juta kelahiran hidup. Mereka menilai bagaimana pendidikan orang tua memengaruhi angka kematian pada berbagai tahap usia anak, mulai dari periode neonatal (0–27 hari), masa bayi (1–11 bulan), hingga anak usia dini (1–4 tahun). Dengan metode meta-regresi, penelitian ini mengontrol faktor-faktor seperti tingkat ekonomi, pendidikan pasangan, dan variasi budaya untuk menghasilkan gambaran yang komprehensif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan ibu memiliki dampak yang sangat signifikan. Anak yang lahir dari ibu dengan pendidikan menengah (setara 12 tahun sekolah) memiliki risiko meninggal 31% lebih rendah dibanding anak dari ibu tanpa pendidikan. Bahkan, setiap tambahan satu tahun pendidikan ibu dikaitkan dengan penurunan risiko kematian anak sebesar 3,04%. Temuan ini menggambarkan betapa pentingnya akses pendidikan bagi perempuan, karena mereka sering memiliki peran utama dalam pengasuhan dan kesehatan anak sehari-hari.

Meski pengaruh pendidikan ayah tidak sebesar ibu, perannya tetap signifikan. Anak dengan ayah berpendidikan menengah memiliki risiko kematian 17,3% lebih rendah, dan setiap tambahan satu tahun pendidikan ayah menurunkan risiko kematian anak sebesar 1,57%. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya urusan perempuan, melainkan faktor bersama yang memengaruhi kualitas kesehatan generasi berikutnya.

Efek perlindungan dari pendidikan orang tua juga terlihat konsisten di semua rentang usia anak. Dampaknya paling kuat setelah melewati bulan pertama kehidupan, masa kritis yang penuh risiko bagi bayi. Namun manfaatnya tetap terasa hingga usia prasekolah, menegaskan bahwa pendidikan orang tua bukan hanya memberi keuntungan jangka pendek, tetapi juga perlindungan kesehatan jangka panjang bagi anak-anak mereka.

Temuan ini membawa pesan penting bagi kebijakan publik. Pendidikan universal yang berkualitas, terutama bagi perempuan, adalah investasi kesehatan yang tidak bisa ditawar. Dengan meningkatkan akses pendidikan, negara bukan hanya membangun sumber daya manusia yang lebih produktif, tetapi juga secara langsung menyelamatkan nyawa anak-anak. Upaya mencapai target pembangunan berkelanjutan—baik dalam pendidikan (SDG 4) maupun kesehatan anak (SDG 3.2)—dapat dipercepat dengan menjadikan pendidikan sebagai strategi utama untuk menurunkan angka kematian anak secara global.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut:
https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/piis0140-6736%2821%2900534-1/fulltext?utm_source=chatgpt.com