Jakarta, CNBC Indonesia – BPJS Kesehatan kembali menjelaskan soal kebijakan layanan yang tak lagi 100% gratis.
India has one-third of world’s stunted children: Global nutrition report
With 46.6 million children who are stunted, India tops the list of countries followed by Nigeria (13.9 million) and Pakistan (10.7 million), the Global Nutrition Report 2018 said.
Meski Sanggup Bayar Selisih Biaya, Pasien BPJS Kesehatan Tak Bisa Naik Dua Kelas
BANGKAPOS.CO – Pemerintah mengeluarkan aturan baru untuk mengatasi defisit keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan ( BPJS Kesehatan).
Aturan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 51 Tahun 2018 yang mengatur urun biaya dan selisih biaya
Malnutrition: Definition, Symptoms and Treatment
Malnutrition refers to getting too little or too much of certain nutrients.
It can lead to serious health issues, including stunted growth, eye problems, diabetes and heart disease.
Ingat BPJS Kesehatan Tak Gratis Lagi! Ini Rincian Biaya Berobat & Penjelasan Resmi Menteri Keuangan
TRIBUN-TIMUR.COM – Kabar terbaru bagi Anda yang memakai jasa BPJS kesehatan.
BPJS kesehatan tak lagi gratis saat digunakan berobat.
Women and children disproportionately affected by malnutrition, report finds
Malnutrition is often associated with developing countries and poverty. But every country across the globe
BPJS Kesehatan Tak Lagi Gratis, Berikut Rincian Aturan Baru Urun Biaya
Grid.ID – BPJS Kesehatan keluarkan aturan baru urun biaya melalui Peraturan Menkes Nomor 51 Tahun 2018.
Faktor Risiko Stunting Pada Anak di 137 Negara Berkembang: Analisis Penilaian Risiko Komparatif di Tingkat Global, Regional, dan Negara
Stunting mempengaruhi sepertiga anak-anak usia dibawah 5 tahun pada negara-negara berkembang, dan 14% kematian anak-anak dianggap disebabkan oleh stunting. Penelitian oleh Danaei et al(2016) memperkirakan jumlah kasus stunting pada anak-anak berusia 24-35 bulan (yaitu, pada akhir periode kerentanan 1.000 hari) disebabkan oleh 18 faktor risiko di 137 negara berkembang. Terdapat lima klasifikasi faktor risiko, yaitu:
- Nutrisi dan infeksi ibu
- Ibu remaja dan interval kelahiran pendek
- Restriksi pertumbuhan janin (Fetal Growth Restriction / FGR) dan kelahiran premature
- Gizi dan infeksi anak
- faktor lingkungan.
Risiko utama di negara berkembang dan juga di seluruh dunia adalah restriksi pertumbuhan janin (FGR), yang didefinisikan sebagai lahir cukup bulan (saat atau setelah usia kehamilan 37 minggu) tetapi kecil untuk usia kehamilan, dan 10,8 juta kasus (dari 44,1 juta) disebabkan oleh FGR, diikuti oleh sanitasi yang tidak baik seperti kualitas air yang buruk, kondisi sanitari buruk dan penggunaan bahan bakar padat, dengan 7,2 juta dan diare dengan kasus 5,8 juta. FGR dan kelahiran prematur adalah kelompok faktor risiko utama di semua wilayah. Risiko lingkungan memiliki dampak estimasi terbesar kedua untuk stunting secara global dan kasus stunting di Asia Selatan, Afrika sub-Sahara, serta kawasan Asia Timur dan Pasifik, sedangkan nutrisi dan infeksi anak adalah kelompok faktor risiko utama kedua di wilayah lain.

Peneliti merekomendasikan upaya untuk mengurangi stunting lebih lanjut harus difokuskan pada pencegahan FGR dan sanitasi yang buruk. Hal ini membutuhkan program pencegahan yang fokus pada intervensi yang menjangkau ibu dan keluarga untuk perbaikan lingkungan hidup dan gizi mereka.
Relevansi di Indonesia: Jumlah kasus stunting berdasarkan hasil Riskesdas 2018 menunjukkan perbaikan. Proporsi balita sangat pendek dan pendek pada tahun 2018 adalah 30,8% (menurun dari 37,2% pada tahun 2013) dan proporsi baduta sangat pendek dan pendek pada tahun 2018 adalah 29,9% dengan 18 provinsi tercatat memiliki prevalensi tinggi (30%-<40%). Pemerintah melalui koordinasi 22 kementerian dan lembaga menargetkan penurunan angka stunting pada 2019 hingga ke angka 24,8 persen dengan melakukan intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif. Sementara fokus intervensi pada 2019 akan dilakukan terhadap 160 kabupaten dan kota.
Penulis: dr. Novika Handayani
Kaleidoskop Kebijakan Kesehatan 2018 https://drive.google.com/file/d/0Bzt046lJwc-DdWtYc1E0VmlNRTNPMzBCY3BlRjUwa0FFeHc0/view
Hasil Riskesdas 2018
Stunting pada Anak: Sebuah Perspektif
Stunting pada anak dapat menjadi indikator yang bagus terkait kesejahteraan anak dan refleksi yang akurat terhadap ketidaksetaraan sosial. Secara keseluruhan, indikator tingkat kesejahteraan anak dapat digambarkan dalam pertumbuhan yang linier (linear growth).
Jutaan anak di dunia masih tidak dapat mencapai potensi pertumbuhan liniernya karena kesehatan dan nutrisi yang kurang optimal, serta perawatan kesehatan yang tidak memadai. Selain tidak tercapainya pertumbuhan linier, anak-anak tersebut dapat menderita kerusakan fisik dan kognitif parah serta terhambatnya pertumbuhan.
Stunting sering tidak dapat diidentifikasi, hal ini biasa terjadi karena kendala tidak dilaksanakannya asesmen rutin pertumbuhan linier pada anak. Namun saat ini stunting menjadi prioritas kesehatan global dan menjadi fokus pada beberapa inisiatif terkenal seperti; Scalling Up Nutrition, Zero Hynger Challenge, dan Nutrition for Growth Summit.
Stunting sendiri dapat diidentifikasi dengan melakukan asesmen terhadap panjang atau tinggi anak (diukur pada anak usia kurang dari dengan posisi telentang, dan posisi berdiri pada anak usia 2 tahun atau lebih), dan dilakukan interpretasi dengan membandingkan hasil pengukuran dengan standar nilai yang dapat diterima atau ditetapkan. Penentuan kondisi stunting pada anak dapat mengacu pada kesepakatan internasional, bahwa anak-anak dapat dikategorikan mengalami stunting jika panjang/ tinggi mereka di bawah -2SDs mengacu pada median di WHO Child Growth Standards, untuk semua jenis usia dan jenis kelamin. Demikian pula, anak-anak dikategorikan termasuk sangat terhambat pertumbuhan jika panjang/ tingginya dibawah -3 SDs dari median di WHO Child Growth Standards, untuk semua jenis usia dan jenis kelamin.
Proses untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami stunting tidak dapat hanya diamati saat berinteraksi saja, namun terjadinya pertumbuhan terhambat yang sangat parah dapat diketahui dengan mengukur ketinggian anak dan membandingkannya dengan standar WHO. Pengukuran panjang anak-anak (hingga 24 bulan) atau tinggi (mulai 24 bulan ke depan) harus menjadi suatu praktik standar.
Pada prinsipinya proses menilai pertumbuhan linier pada anak tidaklah sulit, namun diperlukan kepatuhan terhadap prinsip kunci pengukuran dan perhatian terhadap detil-detilnya. Proses pengukuran tersebut sangat tergantung pada ketahanan, prsesisi, pemeliharaan, dan kalibrasi peralatan antropometrik, teknik pengukuran dan penetapan prosedur kualitas data.
Sedangkan berdasar observasi diperoleh hasil bahwa anak-anak yang berasal dari populasi keluarga mampu di negara-negara berkembang memiliki pola pertumbuhan yang sama dengan anak-anak sehat dan bergizi baik di negara-negara maju (Bhandari et al. 2002; Mohammed et al. 2004; Owusu et al. 2004; WHO Multicentre Growth Reference Study Group, 2006).
WHO Multicentre Growth Reference Study (MGRS) ini dilakukan untuk mengembangkan standar normative berdasarkan pendekatan preskriptif dan inovatif. Hasil penting dari penelitian ini adalah adanya kesamaan dalam pertumbuhan linier di enam populasi MGRS, yang menunjukkan bahwa ketika kenutuhan kesehatan, lingkungan, dan perawatan terpenuhi, pertumbuhan potensial yang secara umum adalah setidaknya pada usia minimal 5 tahun.
Stunting biasanya diawali ketika dalam kandungan dan berlanjut hingga setidaknya 2 tahun pertama setelah kelahiran. Pendekatan preskriptif pada MGRS di penelitian Intergrowth-21st menunjukkan bahawa pertumbuhan janin dan panjang bayi baru lahir serupa di beberapa setting geografis ketika kebutuhan nutrisi dan kesehatan yang diperlukan ibu terpenuhi serta kendala lingkungan untuk proses pertumbuhan hanya sedikit.
Stunting merupakan proses berulang, dimana perempuan yang terhambat pertumbuhannya di masa kanak-kanak memiliki risiko yang lebih besar untuk melahirkan anak yang terhambat pertumbuhannya, sehingga pada siklus kemiskinan antar generasiyang berkelanjutan dan ‘kerusakan’ sumber daya manusia menjadi suatu hal yang sulit di’interupsi’.
Stunting adalah bentuk malnutrisi anak yang paling umum. UNICEF, WHO, dan World Bank mengeluarkan estimasi perkiraan tahunan anak dengan malnutrisi di seluruh dunia, dengan menggunakan WHO Child Growth Standards, pada tahun 2013 diperkirakan 161 juta anak di bawah 5 tahun mengalami stunting. Sekitar setengah dari semua anak stunting tersebut berasal dari Asia dan sepertiga dari Afrika. Dan meskipun sedikit anak stunting berasal dari Amerika, namun di beberapa negara di wilayah Amerika memiliki tingkat prevelansi stunting pada anak setinggi yang ditemukan di Asia dan Afrika.
Stunting sendiri didefinisikan sebagai suatu sindrom dimana terjadi kegagalan pertumbuhan liner yang berfungsi sebagai penanda berbagai kelainan patologis, serta terkait dengan morbiditas dan mortalitas, hilangnya potensi pertumbuhan fisik, penurunan fungsi perkembangan sraf dan kognitif, serta peningkatan risiko penyakit kronis pada masa dewasa.
Stunting dikaitkan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas akibat infeksi, khususnya pneumonia dan diare (Koosman et al. 2000; Black et al. 2008; Olofin et al. 2013) dan juga sepsis, meningitis, tuberkulosis, dan hepatitis, serta menunjukkan adanya gangguan umum kekekbalan pada anak dan pertumbuhan yang sangat terhambat (Olofin et al. 2013).
Kegagalan pertumbuhan dalam 2 tahun pertama kehidupan juga dikaitkan dengan penurunan perawakan di masa dewasa (Coly et al. 2006; Stein et al. 2010). Stunting juga memiliki konsekuensi ekonomi yang penting bagi kedua jenis kelamin baik di tingkat individu, rumah tangga, maupun masyarakat. Pada usia 24 bulan pertama juga sangat penting untuk perkembangan otak. Stunting juga dilaporkan dapat mempegaruhi kesehatan orang dewasa dan risiko penyakit kronis.
Pada 2012, WHO mengadopsi resolusi untuk gizi ibu, bayi, dan anak-anak, serta menyepakati 6 target global untuk mengajak dunia bertanggungjawab atas upaya mereduksi malnutrisi (WHO 2012). Paling utama adalah target mengurani 40% jumlah anak stunting di bawah 5 tahun pada tahun 2025 yang akan datang. Sasaran stunting didasarkan pada anisis data time series dari 148 negara dan kisah sukses nasonal dalam mengatasi malnutrisi (de Onis et al. 2013).
Dirangkum oleh: Lucia Evi Indriarini, MPH.
Sumber: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5084763/
{jcomments on}
