Bimbingan Teknis Optimalisasi Fungsi Audit Mutu Internal dan Tinjauan Manajemen dalam Upaya Peningkatan Mutu di Puskesmas

Yogyakarta,
26 – 27 Februari 2020   |   8 – 9 April 2020   |    17 – 18 Juni 2020

  Topik ini membahas masalah apa?

Bagaimana cara untuk mengukur efektifitas penerapan sistem manajemen mutu di suatu organisasi, baik dari sisi kekuatan, kelemahan dan perbaikan yang diperlukan dalam penerapan sistem manajemen mutu. Hal ini agar terbentuk konsistensi dalam penerapan sistem manajemen mutu melalui pendekatan Plan, Do, Check, Action (PDCA) dapat ditetapkan, direncanakan dan dipelihara. Memastikan bahwa kegiatan audit menjadi suatu proses yang berkesinambungan dalam rangkaian penerapan sistem manajemen mutu berdasarkan standar akreditasi puskesmas (Kriteria 3.1.4, EP 2-4). Selain itu juga akan membahas mengenai cara mensimulasikan rapat tinjauan manajemen sesuai persyaratan standar akreditasi puskesmas

  Manfaat apa yang anda dapatkan?

  1. Peserta memahami dan mampu menjalankan peran sebagai auditor mutu internal dalam pemeliharaan dan peningkatan sistem manajemen mutu.
  2. Peserta memahami dan mampu menerapkan Sistem manajemen mutu dengan pendekatan proses Plan Do Check Action (PDCA)
  3. Peserta memahami dan mampu menyusun Program Audit meliputi perencanaan, persiapan dan pelaksanaan audit internal serta menyusun laporan audit mutu internal.


  Apa saja yang dibahas?

  1. Pemahaman tentang pentingnya pelaksanaan audit mutu internal
  2. Keterampilan dalam menilai kegiatan sistem manajemen mutu dan semua aktivitas yang terkait dengan mutu apakah telah dilaksanakan secara efektif dan memenuhi persyaratan sesuai standar Akreditasi Puskesmas.
  3. Keterampilan dalam menilai adanya ketidak-sesuaian atau penyimpangan dan mampu memberikan saran-saran konstruktif & positif dalam melakukan perbaikan dan mencegah agar hal tersebut tidak terulang kembali.
  4. Keterampilan dalam melakukan rapat tinjauan manajemen dengan membahas keseluruh agenda yang dipersyaratkan.


  Sasaran Peserta

Peserta pelatihan merupakan calon maupun tim auditor mutu internal yang telah ditetapkan oleh pimpinan puskesmas.

Narasumber

Tim Konsultan Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM yang berkualifikasi TOT Pendamping Standar Akreditasi Puskesmas dari Kementerian Kesehatan

Fasilitas

Fasilitas yang akan Anda dapatkan dalam Bimtek ini adalah:

  1. Seminar kit.
  2. Materi pelatihan dalam bentuk soft file.
  3. Sertifikat kepesertaan dalam bentuk cetak.

Kami mendukung kehidupan bumi yang lebih hijau dan sehat sehingga kami mengurangi pencetakan berbagai dokumen. Semua materi akan kami kirim ke email Anda. Pastikan email Anda aktif dan storage email Anda cukup.

  Biaya

  1. Regular Rp. 3.500.000/ orang
  2. Khusus*: Potongan Rp. 500.000/ orang, untuk:

Peserta yang melakukan pembayaran 1 (satu) minggu sebelum acara, ATAU
Peserta yang mendaftar berkelompok (minimal 5 orang) dari 1 institusi, 
Biaya di atas belum termasuk transportasi dan akomodasi peserta.

Biaya pendaftaran dapat ditransfer melalui:
Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 9888807172010997 atas nama UGM FKU PKMK Dana Kerjasama Penelitian Umum

  Kontak

Silakan hubungi kami bila Anda membutuhkan informasi lebih lanjut
Andriani Yulianti | 081328003119
Email ndiani_86@yahoo.com 

 

 

 

Bimbingan Teknis Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien di FKTP

Yogyakarta, 29-30 Oktober 2018

  Topik ini membahas masalah apa?

Berbagai macam kebutuhan Anda mengenai Aspek peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) kesehatan tingkat pertama (FKTP). Dimulai dari penetapan Kebijakan tentang mutu dan keselamatan pasien dan dokumen turunan dari kebijakan tersebut, Juga mengenai pengetahuan dalam menyusun kerangka implementasi mulai dari menyusun kebijakan, menetapkan individu yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan, menyusun pedoman dan program mutu, penetapan dan pengukuran indikator, serta bagaimana memonitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan.


  Manfaat apa yang anda dapatkan?

Dalam bimtek ini anda akan mendapatkan :

  1. Pemahaman mengenai pengelolaan kegiatan mutu dan keselamatan pasien.
  2. Pemahaman mengenai proses penyusunan dokumen kegiatan mutu dan keselamatan pasien
  3. Pemahaman mengenai tahapan pelaksanaan kegiatan mutu dan keselamatan pasien


  Apa saja yang dibahas?

  1. Mengidentifikasi dan menyusun Dokumen Regulasi yang dibutuhkan terkait upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien di FKTP
  2. Cara menyusun, mengukur, menganalisa indikator-indikator Keselamatan Pasien
  3. Cara menyusun dan mempraktekkan Tools Risk Management meliputi: Severity Assessment, risk Register, Root Cause Analysis (RCA)


  Sasaran Peserta?

Peserta yang diharapkan hadir pada Bimtek ini adalah:

  1. Pimpinan maupun Pengelola FKTP
  2. Penanggung jawab kegiatan mutu atau Ketua Tim Mutu
  3. Anggota tim mutu dan keselamatan pasien FKTP
  4. Serta seluruh karyawan yang peduli tentang mutu dan keselamatan pasien di FKTP.


  Narasumber

Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah:

Hanevi Djasri, dr., MARS
Kepala Divisi Manajemen Mutu – PKMK FKKMK UGM sejak 2003. Narasumber terlibat dalam penelitian dan konsultasi bidang peningkatan mutu dan keselamatan pasien di berbagai fasilitas kesehatan serta aktif dalam kegiatan pelaksanaan manajemen mutu lembaga kesehatan secara nasional, antara lain melalui IHQN (Indonesian Health care Quality Network) dan bekerja sama dengan lembaga internasional seperti ISQua (International Society for Quality in health care). Sejak 2017, terlibat dalam penyusunan Kebijakan dan Strategi Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia, bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dan WHO.

Fasilitator utama dalam kegiatan ini adalah:

Nusky Syaukani, S.Sos, MPH
Konsultan dan Peneliti di Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan, FKKMK UGM. Membidangi Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan, banyak terlibat dalam pengembangan sistem manajemen mutu melalui Akreditasi di Fasilitasi Kesehatan Tingkat pertama (FKTP) dan RS.

Asisten Fasilitator dalam kegiatan ini adalah:

  1. Andriani Yulianti, SE, MPH
  2. dr.Novika Handayani
  3. Lucia Evi Indriani, S.E, MPH
  4. Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH


  Fasilitas

Fasilitas yang akan Anda dapatkan dalam Bimtek ini adalah:

  1. Seminar kit.
  2. Materi pelatihan dalam bentuk soft file.
  3. Template Program Peningkatan mutu dan keselamatan pasien & formulir pencatatan kejadian terkait mutu dan keselamatan pasien.
  4. Sertifikat kepesertaan dalam bentuk cetak.

Kami mendukung kehidupan bumi yang lebih hijau dan sehat sehingga kami mengurangi pencetakan berbagai dokumen. Semua materi akan kami kirim ke email Anda. Pastikan email Anda aktif dan storage email Anda cukup.

Persiapan Peserta

Hal-hal berikut perlu Anda siapkan dan lakukan sebelum Anda mengikuti Bimtek:

  1. Notebook/ laptop untuk praktikum.
  2. Download semua materi yang kami kirim via email. Bila Anda sempat, pelajari sekilas materi tersebut.


  Biaya

  1. Regular Rp. 3.500.000/ orang
  2. Khusus* Rp. 3.000.000/ orang, untuk:

Peserta yang melakukan pembayaran 1 (satu) minggu sebelum acara, ATAU
Peserta yang mendaftar berkelompok (minimal 5 orang) dari 1 institusi, ATAU
Peserta yang berasal dari institusi yang mengirimkan minimal 2 peserta untuk 2 bimtek berbeda (syarat ini hanya berlaku untuk 2 bimtek yang diselenggarakan dalam minggu yang sama).

*Syarat biaya khusus satu dan lainnya tidak dapat digabungkan.


  Kontak

Silakan hubungi kami bila Anda membutuhkan informasi lebih lanjut
Andriani Yulianti | 081328003119
ndiani_86@yahoo.com 

 

 

Reportase hari kedua

{tab title=”Part 1″ align=”justify” class=”red”}

Morning Plenary
Patient-Reported Outcome Measurement (PROM): Past, Present, and Future – A Personal Account

Patient-Reported Outcome Measurement (PROM) adalah alat pengukuran yang digunakan untuk menilai patient-reported outcome (PRO). PROM memungkinkan baik pasien dan dokter untuk berkomunikasi dan menelusuri pencapaian tujuan dan hasil dari pelayanan kesehatan. Menggunakan PROM melalui instrumen survei, wawancara dan atau pengukuran indikator output kesehatan tidak hanya memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pelayanan mereka, tetapi juga memungkinkan pasien untuk lebih memperhatikan kebutuhan khusus mereka dan mengkomunikasikan hal tersebut kepada penyedia layanan mereka sebelum mereka melakukan kunjungan ke fasyankes (Baca lebih lanjut di https://www.hal-health.org)

1okt2 1

1okt2 2

1okt2 3

Penggunaan PROM untuk apa?

  1. Health system : Performance assessment, value for money
  2. Healthcare provider organization: benchmarking, quality improvement
  3. Clinical trials: screening, treatment outcomes
  4. Clinical practice: diagnosis, monitoring progress
  5. Information for patients or clinicians: choice of provider, choice of treatment

1okt2 4

Royal Address

Dalam pidato yang disampaikan oleh His Royal Highness Sultan Nazrin Muizzuddin Shah Ibni Almarhum Sultan Azlan Muhibbuddin Shah Al-Maghfur-Lah, dibahas mengenai Artificial Intelligent (AI). Artificial Intelligent membawa keuntungan dan kemudahan dalam pelayanan tetapi tetap diutamakan hubungan interpersonal antara tenaga medis dan pasien.

1okt2 5

Penulis: Hanevi Djasri dan Novika Handayani

 

{tab title=”Part 2″ class=”green”} 

Who Needs QI (Quality Improvement) Education?

  1. Quality improvement berpengaruh kepada:
    • Individual : staff
    • Pelayanan dan fasilitas
    • Organisasi
  2. Dalam melakukan QI kolaborasi sangat penting
  3. Setiap orang butuh QI education terutama praktisi klinis dalam penyampaian hal-hal klinis
  4. Cara menjelaskan kompleksitas kepada staff untuk mencapai kinerja yang lebih baik akan membantu staff dalam melakukan perubahan
  5. E-learning tidak bisa dianggap remeh termasuk untuk pasien karena bisa di akses dimana saja dan oleh siapa saja

Panel debat ini tentunya sepakat semua perlu mendapatkan pelatihan QI, namun yg diperdebatkan adalah seberapa dalam materi pelatihan dan bagaimana cara melatihnya?

Penulis: Dewi Fankhuningdyah dan Hanevi Djasri

Data For Improvement

Materi 1. Positive Deviance to Improve Patient Safety: Learning from Four Studies in the UK
Good practice to scalling up the improvement -> Dilakukan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi unit atau layanan yang akan menjadi prioritas, secara konsisten melakukan pengumpulan data baik yang sedang ditingkatkan maupun temuan-temuan baru dari tracer. Hal ini dilakukan dengan konsep bradley fourstep (routine collect, identify, explore, analisa kuantitatif, diseminasi) dilakukan praktek pada 4 unit yaitu eldelry medical ward, hip and knee surgery untuk surgical pathway, general practice, dan transition of care.
Untuk melakukan improvement secara konsisten diperlukan team multidisiplin yang secara aktif berintegrasi di area yang berbeda.

Materi 2: Measured for Safety – The Apollo Quality Program
Quality dashboard untuk meningkatkan konsistensi improvement dimulai secara konsisten dengan melakukan berbagai audit di berbagai macam aspek dari keselamatan pasien. Semua temuan tersebut langsung di ekskalasi di top management dan kemudian di turunkan ke masing-masing manager dan unit. Masing-masing unit kemudian melakukan Root Cause Analysis (RCA) dan menindaklanjuti dengan solusi yang sesuai. Berbagai macam temuan serta solusi tersebut memiliki timeline yang divisualisasikan pada dashboard tersebut. Karena Apollo juga mengalami turnover pegawai yang tinggi, salah satu solusi yang mereka lakukan adalah dengan menstandarisasi dengan baik dan detail berbagai macam prosedur yang sudah terbukti dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Materi 3. A Clinical Practice Improvement Project to Reduce the Rate of Central Line Associated Bacteraemia in Haemodialysis Catheters (CLABSI)
Penurunan infeksi ini dilakukan dengan melakukan bundle pencegahan yang diantaranya adalah menggunakan Personal Protective Equipment (PPE), antibacterial disc, removal bungs, transparant dressing dan edukasi pasien (agar pasien tahu tanda-tanda infeksi dan melaporkan dengan segera). Another highlights : RS dapat melakukan audit pada pasien-pasien dengan diagnosa sepsis untuk mengetahui apakah memang RS sudah merespon dengan cepat pasien dengan tanda-tanda sepsis.

Penulis: Dewi Fankhuningdyah (RS Pelni)

A National Approach to Sustainable Quality Improvement, The Experience from Ireland

Belajar dari Irlandia yang saat ini juga sedang menyusun NQPS seperti Indonesia. Mereka menetapkan framework yg terdiri dari:

  1. Metode Improvement
  2. Keterlibatan staf
  3. Keterlibatan pasien dan keluarga
  4. Kepemimpinan mutu
  5. Tatakelola manajemen mutu
  6. Pengukuran mutu

Catatan untuk Indonesia: framework ini sepertinya bisa digunakan untuk level fasyankes atau daerah atau nasional. Lebih lanjut dapat dibaca di www.qualityimprovement.ie 

Penulis: Hanevi Djasri

Hospitals accreditation in Different Countries and Context

Akreditasi rumah sakit merupakan kebijakan dengan mekanisme yang kompleks dan banyak diadopsi untuk memastikan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Meskipun banyak pertanyaan tentang dampaknya, mempertimbangkan kompleksitas mekanisme, jauh lebih penting kita melakukan:

  1. Pembelajaran dari apa yang berhasil dalam sistem ini (bukan lagi mempertanyakan apakah bermanfaat)
  2. paya berkelanjutan untuk update standar dan memperbaiki metode penilaian
  3. Mempertimbangkan keragaman satu standard tidak mungkin cocok untuk semua kondisi
  4. Mengurangi beban yg ditimbulkan dalam progtam akreditasi utk semua stakeholders

Pembelajaran dari Qatar: Integrasi antara lisensi dan akreditasi sebagai satu mekanisme berkelanjutan dengan framework yang sama. Lisensi fokus pada persyaratan mendasar, aspek struktur seperti fasilitas, tekhnologi, dan lingkungan. Sedangkan akreditasi berfokus pada kemampuan meningkatkan mutu berkelanjutan.

Pembelajaran dari Taiwan : Terdapat empat strategi yaitu: 1) Memastikan standar update melalui kajian, menurunkan jumlah item pada jumlah yang optimim antara beban dan kemampuan pembeda, termasuk menurunkan frekuensi document check, dan pelibatan pasien; 2) standarisasi surveyor sebagai upaya mengendalikan variasi; 3) memaksimalkan penggunaan teknologi informasi dalam proses, dokumentasi, merapatkan jarak pelaporan (setiap minggu…untuk memastikan berkelanjutan) sekaligus mendorong pemanfaatan data; 4) program monitoring dan peningkatan mutu berkelanjutan : upaya benchmarking rumah sakit berdasarkan indikator mutu yang disepakati

Pembelajaran dari Australia: Berbeda dengan dua negara lain, akreditasi bukan regulatory, dan voluntary. Berdasarkan kerangka mutu dan keselamatan pasien nasional sebagai acuan standar dan strategi. Updating standar di lakukan dengan memberikan penguatan pada aspek clinical governance untuk meningkatkan physician engagement pada mutu, disamping clinical governance adalah backbone bagi mutu dan keselamatan pasien

Pertanyaan dan tantangan ke depan

  1. Standarisasi assessor and surveyor
  2. Apakah menjamin mutu dan keselamatan pasien 100%
  3. Motif yang mendasari, kewajiban atau kebutuhan
  4. Berapa biaya mutu, apakah bermakna

Refleksi untuk Indonesia: Apakah kita Indonesia berada dalam track yang tepat? What can we do to improve? Studi menggunakan data, evidence based policy dengan keterbukaan data akan membantu kita menemukan bright spot, belajar dan berbagi dari keberhasilan dan tidak berfokus pada kelemahan…

Penulis: Viera Wardhani

Primary and Community Based Care

Materi 1. The Health Care Home and The Quadruple Aim

Quadruple aim terdiri dari:

  • Patient experience
  • Cost
  • Staff engagement
  • Clinical indicator

Dalam rangka mencapai quadruple aim salah satunya adalah dengan mengembangkan layanan homecare yang berfokus pada pasien

Materi 2. Children and Young People’s Contacts in Primary Care Within 3 days of an Admission to Hospital with Meningitis
Pemaparan mengenai hasil riset pasien meningitis usia < 25 tahun pada tahun 2001 sampai 2013. Kesimpulan yang didapat adalah 59% tidak ada catatan lanjutan dari DPJP karena dokter kesulitan membedakan penyakit meningitis dengan penyakit pada umumnya dan 31% yang sudah terdiagnosa meningitis dirujuk dari luar rumah sakit biasanya berobat

Materi 3. Better communication with eConsult
Latar belakang pembuatan eConsult adalah sulitnya mengakses dokter spesialis di Kanada. Penggunaan eConsult menggunakan modul berbasis website yang tersebar di 8 negara bagian di Kanada. Metode eConsult seperti modul email yaitu mengisi form registrasi yang berisisi identitas, keluhan dan dokter spesialis yang diinginkan. Dalam beberapa hari berikutnya akan ada jawaban dari dokter spesialis terkait yang berisikan diagnosa dan resep.

Penulis: Dewi Fankhuningdyah

Applying Structured Quality Improvement Methods to Reduce HIV-Related Stigma and Discrimination in Healthcare Facilities: Implementation of the Southeast Asia Stigma Reduction Learning Network

Stigma dalam pelayanan dapat memunculkan adanya diskriminasi pada gender, suku, status sosial dan ekonomi. Namun yang menjadi perhatian adalah stigma dan diskriminasi dapat memunculkan konsekuensi yang berat. Bahwa seseorang dgn HIV/AIDS yang seharusnya mendapat pelayanan atau pengobatan dalam penyembuhan penyakit tetapi justru menolak untuk mendapatkan pengobatan sehingga meningkatkan infeksi pada penderita HIV/AIDS serta meningkatkan kematian.

Tujuan

  1. Mendukung Kementerian Kesehatan untuk mengimplementasikan quality improvement melalui networking untuk menurunkan stigma dalam pelayanan kesehatan dengan melakukan perubahan dalam pemeriksaan, pemeriksaan rutin dan membina kelompok dengan penderita HIV/AIDS
  2. Mengimplementasikan kebijakan yang mengajak secara aktif penurunan stigma dalam aktivitas pelayanan kesehatan
  3. Mendukung patient support group agar berperan aktif dalam pengambilan keputusan pelayanan kesehatan di tingkat fasilitas, regional dan level nasional
  4. Saling bertukar pengetahuan yang meningkatkan pengetahuan tentang bagaimana sebuah stigma dapat diturunkan dalam fasilitas pelayanan kesehatan, yang akan mengubah kehidupan orang dengan HIV/AIDS di Asia Tenggara dan dunia

Proses perbaikan outcome:

  1. Clinical performance data
  2. Survey pelayanan kesehatan
  3. Feedback pasien

Ketiganya menghasilkan hasil yang baik

Intervensi yang dilakukan:

  1. Sosialisasi informasi
  2. Mengubah alur pelayanan klinik
  3. Konseling dan support
  4. Melakukan analisis terhadap gap antar komuniti
  5. Rutin melakukan assesment terhadap staff dan pasien terkait stigma didalam pelayanan kesehatan
  6. Membuat strategi untuk meningkatkan frekuensi interaksi pasien dan pelayan kesehatan

Kesuksesan implementasi:

  1. Koordinasi dan kerjasama antara kementerian kesehatan, masyarakat dan organisasi sosial
  2. Integrasi antara data dari pasien dan pelayanan kesehatan dalam pelayanan rutin untuk meningkatkan aktivitas QI
  3. Meningkatkan level pemahaman dalam menilai stigma dan diskriminasi serta mengaplikasikan QI dalam proses menurunkan stigma tersebut
  4. Mengadopsi secara bertahap dan memahami bagaimana menggunakan data tersebut untuk aktivitas QI
  5. Mengembangkan sebuah konsensus tentang stigma terkait HIV dan diskriminasi dapat dilakukan dan diturunkan

Penulis: Dewi Fankhuningdyah

Innovations and Improvement in Low and Middle-Income Countries (LMIC)

Beban Pelayanan di LMIC salah satunya adalah perawatan yang berkualitas buruk dengan jumlah kematian sebesar 5,74 sampai dengan 8,47 juta atau diatas 15% dari kematian tahunan WHO. Angka kematian tertinggi dari total kematian diantaranya adalah trauma, diakibatkan oleh tidak adanya penilaian kualitas layanan.

Maka dari itu di buatlah National Quality Policy dan Strategy (NQPS)

Mengapa harus di buat NQPS?

  1. Menciptakan budaya yang mendukung penyedia layanan untuk memberikan dan menuntut pelayanan yang berkualitas
  2. Menyatukan berbagai intervensi mutu yg sistematis dan terorganisir untuk meningkatkan kualitas pelayanan
  3. Menciptakan komitmen tingkat tinggi terhadap mutu melalui keterlibatan para pemangku kepentingan dan pembangunan konsensus untuk mewujudkan tujuan kesehatan nasional
  4. Memperjelas struktur untuk akuntabilitas pemerintah dan pemantauan upaya mutu nasional

Global Learning Laboratory (GLL) WHO for Quality in UHC

Tujuan:

  1. Untuk mengeksplorasi pembelajaran global yang melibatkan mutu dalam konteks UHC
  2. Untuk memberikan contoh pembelajaran negara dalam kebijakan dan strategi mutu pelayanan kesehatan nasional
  3. Untuk menguji penerapan kemitraan antara lembaga lain untuk peningkatan pelayanan kesehatan di tingkat fasilitas

Transformasi pembelajaran

  1. Hasil sebelumnya di implementasikan
  2. Fokus pada masalah dibalik peningkatan mutu pelayanan kesehatan
  3. Apa, Siapa, Bagaimana, Kapan, Mengapa
  4. Fokus ke kesehatan global yang digerakkan secara lokal
  5. Pelajari lebih lanjut tentang perubahan kunci yang dapat mengubah layanan-layanan di semua tingkat sistem kesehatan dan seterusnya

Cara Menangkap pengetahuan?

  1. Pengetahuan: ide, konsep atau teori dari anggota GLL untuk meningkatkan pemahaman dan menginformasikan implementasi dalam bidang subjek tertentu
  2. Ringkasan Tindakan: Intervensi atau tindakan lokal dari pekerjaan negara GLL yang dapat diadaptasi untuk diterapkan di negara lain
  3. Snapshot: Infografis yang membantu mengomunikasikan pesan utama pada tautan antara mutu, UHC, dan bidang subjek tertentu.
  4. Ubah Peringatan: terobosan praktis Succint yang meningkatkan mutu pelayanan yang membutuhkan diseminasi cepat melalui GLL

Pembelajaran dari Malaysia

Di Malaysia, Quality Assurance Program dikembangkan pada tahun 1985 dengan tujuan untuk menetapkan mekanisme untuk memantau mutu layanan, mendeteksi kekurangan dalam mutu, untuk menyelidiki secara sistematis dan melembagakan langkah-langkah perbaikan dalam peningkatan mutu.
Kementerian Kesehatan Malaysia telah merencana aksi kesehatan malaysia untuk tahun 2016 sampai dengan 2020 melalui berbagai macam strategi.

Contoh intervensi di Malaysia untuk peningkatan mutu:

  1. Melibatkan individu, keluarga, dan masyarakat
  2. Mengunjungi rumah setelah melahirkan
  3. Survei kepuasan pelanggan
  4. Survei pengalaman pasien
  5. Keselamatan Pasien

Kesimpulan: Malaysia akan terus beradaptasi dengan konteks saat ini dan masa depan serta mengatasi berbagai tantangan terhadap sistem pelayanan kesehatan. Perlu didefinisikan dengan pemikiran baru dan pendekatan baru agar tetap relevan, penting dan “menarik” serta memastikan bahwa pasien dan keluarga mereka mendapat pelayanan yang aman, efektif, dan berpusat pada pasien.

Penulis: Dewi Fankhuningdyah

 

{tab title=”Part 3″ class=”orange”}

Using the patient’s voice to improve outcomes

Tujuan dari menggunakan “suara” pasien adalah untuk meningkatkan:

  1. Outcome untuk diri mereka sendiri
  2. Outcome pasien lain
  3. Memperbaiki desain mikrosistem
  4. Memperbaiki desain makrosistem

isq 3

Di USA, IORA Primary care mengembangkan sebuah sistem dimana dokter pada fasilitas pelayanan kesehatan primer memiliki peran sebagai health coach. Health coach berperan dalam membantu pasien mencapai tujuan kesehatannya, baik dalam penanganan suatu penyakit atau perubahan gaya hidup yang lebih baik, contohnya pada pasien yang ingin berhenti merokok. Satu health coach akan bertanggung jawab untuk tiga pasien. Health coach akan membantu pasien mencapai tujuan yang diinginkan, memastikan pasien mengerti akan diagnosis dan pengobatan yang akan diterima dan menjadi jembatan antara pasien dan dokter penanggung jawab pasien di rumah sakit. Sehingga, fungsi dari health coach adalah “mendengarkan” pasien. Selain itu, pasien diberi semangat untuk membentuk perkumpulan dengan pasien lain agar saling menyemangati dan belajar satu sama lain untuk mencapai tujuan masing-masing. Contohnya adalah diabetes club dan woman’s club. Selain itu juga dibentuk patient and family advisory board, dimana survei pasien (tentang kesehatan, pelayanan yang diterimanya dan tujuan yang ingin dicapai pasien) dilakukan setiap hari untuk setiap pasien. Dengan mengajak perwakilan pasien dan meminta mereka untuk berpendapat, membuktikan proses advokasi untuk perubahan kebijakan menjadi lebih kuat.

Patient-Centered Care

Hubungan pasien dan pemberi layanan kesehatan (provider)

isq 4

 

Planetree, sebuah organisasi yang fokus di bidang perspektif pasien, mengatakan bahwa mendapatkan feedback dari pasien adalah hal yang penting. Planetree mengembangkan sebelas kriteria/dimensi inti pelayanan yang berpusat pada pasien (patient-centered care), yaitu:

  1. Struktur yang diperlukan untuk perubahan budaya (menjadi budaya patient-centered care)
  2. Fungsi yang diperlukan untuk perubahan budaya (menjadi budaya patient-centered care)
  3. Interaksi manusia
  4. Edukasi pasien
  5. Pilihan
  6. Tanggung jawab (dari pilihan yang diambil)
  7. Keterlibatan keluarga
  8. Makanan dan nutrisi
  9. Lingkungan yang mendukung penyembuhan
  10. Komunitas yang sehat
  11. Pengukuran

Kriteria berfokus pada pengalaman pasien, pengalaman anggota keluarga, staf medis, tim kepemimpinan, penasehat pasien dan keluarga, dan anggota dewan. (Lengkapnya dapat di klik di https://planetree.org/designation-2/)

Penulis: Novika Handayani

 

{tab title=”Part 4″ class=”grey”} 

GOVERNANCE, LEADERSHIP AND HEALTH POLICY

Title : Succession of Physician Leadership and Talent Management in Public, Private and Military Hospital
Speaker : Arifatul Khorida
Chair : Bruno Lucet

Kepemimpinan di RS merupakan hal yang penting bagi kualitas pelayanan pasien maupun kualitas RS. Sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia, direktur RS harus seorang dokter. Keharusan ini membutuhkan adanya pengembangan kepemimpinan dari para dokter, atau jika tidak ada pengembangan kepemimpinan dokter maka akan terjadi kekurangan kandidat yang memiliki kualifikasi kepemimpinan. Sehubungan dengan itu, hal yang menantang untuk diketahui dan dipersiapkan adalah: bagaimana kesiapan dokter dan RS? Bagaimana peran jenis kepemilikan RS? Bagaimana mempersiapkan dokter menjadi pemimpin?

Studi dilakukan untuk mengukur keinginan, kebutuhan dan kapasitas kepemimpinan dokter, mengukur dan mengeksplorasi kesiapan dokter dan RS, mengeksplorasi suksesi kepemimpinan dokter di RS pemerintah, swasta dan militer untuk mengembangkan strategi talent management. Dengan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif (mixed method), studi dilakukan di 5 RS (2 RSUD, 2 RS Swasta dan 1 RS Militer), melibatkan 67 dokter, 5 pemilik RS, 5 direktur utama RS, 5 direktur medik/wadir pelayanan medik, 5 dokter pejabat struktural, 5 dokter fungsional dan 5 kasubag kepegawaian/SDM RS.

isq 4okt

Semua dokter di seluruh kepemilikan rumah sakit merasakan kebutuhan pengembangan kepemimpinan yang sama, memiliki kapasitas kepemimpinan positif yang sama, tetapi lebih banyak dokter militer menyatakan keinginan untuk menjadi pemimpin dan merasakan kesiapan TM di rumah sakit mereka.

isq 4okt 1

isq 4okt 2

isq 4okt 3

Beberapa poin penting:

  • Ada kekurangan dokter yang siap karena tidak disiapkan sebagai pemimpin
  • Talent Management diperlukan untuk mengembangkan kepemimpinan dokter
  • Kesiapan TM di rumah sakit umum dan swasta berbanding terbalik dengan keinginan dan kebutuhan pengembangan kepemimpinan dari para dokter
  • Rumah sakit militer memiliki kesiapan TM yang lebih baik dan suksesi kepemimpinan dokter yang lebih baik dibandingkan dengan RS pemerintah maupun RS swasta.
  • Rumah Sakit dapat mengadopsi strategi TM untuk mempersiapkan dokter dan suksesi kepemimpinan

Pertanyaan:

  1. Delegasi Irlandia:
    1. Mengapa direktur RS harus dokter?
    2. Jika harus dokter, sedangkan dokter terbatas atau tidak mampu, apakah akan dilatih atau anda akan menyarankan profesi lain untuk menjadi direktur (di Irlandia, Nurse lebih concern dengan manajemen RS)
  2. Delegasi Malaysia:
    Jika di Irlandia tidak wajib dokter, di Malaysia sama dengan di Indonesia. Jika tidak ada dokter yang siap menjadi Direktur Utama, minimal Direktur Pelayanan Medik harus seorang dokter.

Tanggapan:

Untuk delegasi dari Irlandia:

  1. Sesuai dengan amanat undang-undang rumah sakit yang berlaku di Indonesia
  2. Kami menyarankan agar dikembangkan talent management untuk mempersiapkan suksesi kepemimpinan dokter. Pengembangan TM sangat memungkinkan dilaksanakan di RS jika pemilik RS dan manajemen RS mendukung pelaksanaan TM ini.

dr. Arifatul Khorida, MPH

 

{tab title=”Part 5″ class=”blue”}

Laporan Presentasi Poster dan Presentasi Oral

gb9 1 

Tim Penyusun National Quality Policy and Strategy Indonesia yang terdiri dari PKMK FKKMK UGM dan Direktorat Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan mempresentasikan poster terkait Analisis Situasi Mutu Pelayanan Indonesia sebagai tahapan awal penyusunan NQPS. Poster berjudul :

  1. A Situational Analysis of The Indonesian National Quality Policy and Strategy: A Review of Regulatory Documents Related to Health Care Quality in Indonesia
  2. A Situational Analysis of The Indonesian National Quality Policy and Strategy: A Review of Methods and Interventions in Health Care Quality Improvement 

gb9 2

Kedua poster ini menjelaskan tentang tahapan penyusunan NQPS, hasil tinjauan literatur terhadap dokumen regulasi terkait mutu pelayanan kesehatan dan hasil identifikasi metode dan intervensi peningkatan mutu yang telah dilakukan di Indonesia.

gb9 3

dr. Dhimas Hari Sakti, Sp.M perwakilan Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKKMK UGM-RSUP Dr.Sardjito mempresentasikan poster hasil penelitian berjudul “Quality of Eye Care Services in Outpatient Clinic: an Evaluation for Improvement Through Patient’s Perspective”. Penelitian ini ingin mengetahui aspek-aspek kepuasan pasien melalui tool PSQ-18. Hasil yang dianggap pasien masih kurang adalah waktu antara dokter-pasien.

gb9 4

dr. Arifatul Khorida, MPH, perwakilan dari RS Jiwa Aceh mendapat kesempatan presentasi oral selama 15 menit, membawakan hasil penelitiannya yang berjudul “Succession of Physician Leadership and Talent Management in Public,  Private and Military Hospital”. Studi dilakukan untuk mengukur keinginan, kebutuhan dan kapasitas kepemimpinan dokter, mengukur dan mengeksplorasi kesiapan dokter dan RS, mengeksplorasi suksesi kepemimpinan dokter di RS pemerintah, swasta dan militer untuk mengembangkan strategi Talent Management (TM). Beberapa hasilnya adalah:

  • Talent Management diperlukan untuk mengembangkan kepemimpinan dokter
  • Kesiapan TM di rumah sakit umum dan swasta berbanding terbalik dengan keinginan dan kebutuhan pengembangan kepemimpinan dari para dokter
  • Rumah sakit militer memiliki kesiapan TM yang lebih baik dan suksesi kepemimpinan dokter yang lebih baik dibandingkan dengan RS pemerintah maupun RS swasta.
  • Rumah Sakit dapat mengadopsi strategi TM untuk mempersiapkan dokter dan suksesi kepemimpinan

gb9 5Rr. Tutik Sri Hariyati, perwakilan dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Implementation of The Nurse Corner Comptency to Improve Critical Thinking and Satisfaction”. Studi ini dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme perawat, mempromosikan pembelajara berkelanjutan dan meningkatkan kepuasan perawat sehingga akan meningkatkan kualitas pelayanan, keselamatan pasien dan mengurangi kejadian pergantian perawat. 

gb9 6dr. Viera Wardhani, M.Kes perwakilan dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya mempresentasikan poster penelitian yang berjudul “Hospital Acrreditation Status in Indonesia: Factors Explaining its Sustainability”. Evaluasi keberlanjutan akreditasi rumah sakit berdasarkan data prospektif penting untuk menilai budaya peningkatan mutu yang berkelanjutan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui keberlanjutan akreditasi RS dan hubungannya dengan karakteristik RS serta kesenjangan geografis. 

 

 

{/tabs}

 {jcomments on}

Reportase ISQua Hari Pertama

{tab title=”Part 1″ align=”justify” class=”red”}

Patient Reported Outcome Measures… Bring the Patient to the Center of Care

Viera Wardhani,
S2 Manajemen Rumah Sakit, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

Mengembangkan ukuran dalam proses pelayanan kesehatan berdasarkan perspektif pasien merupakan satu strategi penting dalam pelayanan yang berpusat pada pasien. Ukuran outcome (PROM=patient reported outcome measurement) misalnya rasa sakit, pengalaman (PREM=patient reported experience measurement) misalnya waktu tunggu, perhatian dokter, dan PCOM (patient change outcome management) akan melengkapi data kondisi dan perkembangan pasien. Esensinya adalah mengetahui “service value” atau sederhananya adalah “good buy” layak dibeli atau apa yang diperoleh dari yang dibelanjakan yang merupakan kombinasi antara outcome, service experience dan biaya.

1okt 1

Secara grafis, pengukuran yang perlu ada dalam sistem catatan medis harus bersifat komprehensif dan balance yang meliputi aspek klinis, fungsi, pengalaman (kepuasan), dan biaya (langsung maupun tak langsung). Keempat komponen tersebut akan menjadi semacam dashboard bagi dokter maupun pasien. Dalam keempat komponen tersebut selalu ada sudut pandang pasien, misal gejala yang dirasakan dalam ukuran klinis, dampak kondisi sakit terhadap fungsi sehari-hari, pengalaman dalam pelayanan, serta biaya tidak langsung.

1okt 2

Agar berhasil terdapat 6 kunci sukses sebuah PRO

  1. Gabungan antara generik dan spesifik sesuai penyakit
  2. Response rate harus 60-70
  3. Menggunakan multi mode agar menjangkau semua (app, komputer, paper)
  4. Diintegrasikan dengan medical record
  5. Akses real time
  6. Population health dashboard

Dalam mengembangan ukuran harus diawali dengan inquiry yaitu mengapa harus, apa tujuan kita, dan apa incentives yang diharapkan, siapa saja yang harus dilibatkan, kapan harus diukur, apa yang harus diukur, berapa banyak (rule 20-8, setiap 20 item perlu 8 menit).

Teknik workshop menggunakan studi kasus, dengan vignette kemudian peserta diminta memberikan skor PRO dalam hal ini PHQ untuk mengukur depresi, dengan mengumpamakan diri adalah pasien, selanjutnya peserta juga menempatkan diri sebagai dokter dan menetapkan kebutuhan pasien berdasarkan data informasi pasien ukuran tersebut. Peserta diminta mengevaluasi mudahkah mengisi PHQ?

Tugas berikutnya adalah mengidentifikasi sumber daya yang ada di RS/Praktek serta apa perannya dalam menerapkan PROM. Misal siapa yang mendistribusikan, mengisi, merekap, menganalisis dan menggunakan data tersebut? Menarik untuk dikaji meluasnya keterlibatan volunter untuk mengatasi kekurangan sumber daya. Mereka adalah pensiun yang membutuhkan aktifitas dan eksistensi diri, yang mendampingi dalam proses pengisian PROM.

Kasus juga menyajikan riwayat pengobatan, data klinis kadar glukosa darah, dan HgBA1c. Ketiga data tersebut (skor PHQ, gula darah puasa dan HgBA1C), di plotting dalam satu halaman. Peserta diminta melihat apa yang bisa diamati dengan masing-masing data dan gabungan ketiganya. Gainnya adalah dengan melihat dari berbagai sudut pandang lebih memberikan gambaran yang menyeluruh dari kondisi pasien, bagaimana kendali stres memberikan perbaikan pada gambaran klinis.

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi infomasi lain apa yang perlu disajikan dalam dashboard selain ketiga hal itu? Misal medication history, diet, aktifitas fisik, kecemasan, apa yang dirasakan pasien, beban permasalahan, biaya.

Tantangannya adalah menemukan dashboard yang seimbang, akan sangat bagus bila bisa disajikan dalam satu lembar summary, dicetak untuk dokter dan pasien sebagai laporan dan bahan diskusi.

Manusia merupakan makhluk dengan sistem yang kompleks, pendekatan kesehatan pun bersifat komprehensif bio-psiko-social-spiritual, dengan manusia sendiri sebagai intinya, maka pengukuran kesehatan pun harus melibatkan sudut pandang pasien untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap.

 

{tab title=”Part 2″ class=”orange”}

 

Catatan Peserta ISQua Hari 1 

Developing Quality Improvement (QI) Skills

Apa yg membuat pelayanan terbaik: Person Centred Care

1. Dignity respect
2. Koordinasi
3. Pelayanan personal
4. Enabling care

Quality Improvement Skill yg perlu kita miliki disamping mampu mereplikasi inovasi dari orang/institusi yg mirip dengan kita tapi juga menggali ide-ide dari orang atau institusi yang sama sekali berbeda dengan kita

Penulis: Hanevi Djasri

The Frontier of Improvement

Diawali dengan sesi interaktif melalui survei online kepada para peserta melalui web www.menti.com dgn password 896334

Survei untuk mendata upaya dan sumber daya apa yg dibutuhkan untuk QI dimasa datang

Jawaban terbanyak dari 180 peserta secara online dalam waktu 5 menit:

  • budaya mutu
  • edukasi
  • staff
  • leadership

Salah satu tantangan QI kedepan: Identitas profesional dalam integrated care terkait batas kewenangan profesi dan bagaimana mempercayai profesi lain

1okt 3

Tantangan QI yang lain: Patient and Public Involvement (PPI) in QI project

Caranya:

  1. Masukan pasien dan atau publik dalam tim QI
  2. Dengarkan dan terima usulannya (membuat pasien dan publik percaya diri bahwa memang masukkannya berharga)
  3. Buat intervensi dengan melibatkan mereka
  4. Sebarluaskan hasilnya (membuat pasien dan publik bangga)

Catatan: Proses ini baru dapat berjalan lancar dengan dukungan manajerial dan leadership

Refleksi untuk Indonesia: Secara teori kita sudah dengar ini semua, tetapi apakah sudah kita terapkan?

Penulis: Hanevi Djasri

Integrated care

Forms of Integrated care:

*Functional- macro
*Organizational-meso
*Professional-meso
*Clinical-micro

1okt 4

dr. Nico (KARS) saat sharing pengalaman Indonesia tentang Integrated care pada level clinical-micro daan diskusi tentang peran case manager dalam Integrated care (dr.Nico)

 

{tab title=”Part 3″ class=”green”}

 

National Quality Policy and Strategy (NQPS): The Missing Bolt in Improving Health Systems Performance

Sesi yang diisi oleh narasumber dari WHO ini berlangsung pada hari Minggu (23 September 2018) siang, sebagai bagian dari Pre-conference. Beberapa delegasi Indonesia, seperti Kementerian Kesehatan (yang diwakili oleh staf Direktorat Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan) serta PKMK UGM, yaitu penulis sendiri, sangan antusias mengikuti sesi yang penting dan relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.

Mutu adalah kunci penting dalam implementasi Universal Health Coverage (UHC) yang efektif dan dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs). Apakah mutu pelayanan kesehatan? WHO menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan yang memiliki dimensi mutu effective, safe, people-centred, timely, equitable, integrated dan efficient.

1okt 5

1okt 6

WHO merekomendasikan setiap negara untuk memiliki National Quality Policy and Strategy (NQPS). Dengan adanya NQPS, secara sistematis performa sistem kesehatan akan meningkat dan mutu pelayanan kesehatan akan meningkat. Apakah tujuan WHO dalam menginiasiasi NQPS?

1okt 7

NQPS berfungsi untuk menyatukan berbagai inisiatif peningkatan mutu sehingga upaya peningkatan mutu terorganisir, meningkatkan komitmen para pemangku kepentingan terkait terhadap mutu pelayanan melalui stakeholder engagement, serta memperjelas struktur tata kelola, akuntabilitas dan pengawasan mutu pelayanan kesehatan.

Terdapat delapan elemen dalam proses penyusunan NQPS yang direkomendasikan WHO. Langkah dibawah ini dapat dijadikan sebagai pedoman, tetapi tiap negara bisa memodifikasinya disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi negara masing-masing. Narasumber juga menjelaskan deskripsi setiap kedelapan elemen tersebut, dokumen yang diperlukan dan hasil dari setiap elemen yang perlu dimasukkan dalam dokumen NQPS.

1okt 8

 

Dalam sesi ini, terdapat beberapa diskusi interaktif dengan pertanyaan-pertanyaan yang memicu peserta untuk berdiskusi, seperti bagaimana kami menilai pentingnya NQPS dalam negara kita dan sharing proses NQPS yang sudah dikerjakan di setiap negara. Saya dan drg.Hanum selaku Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan berdiskusi dengan rekan dari Zimbabwe, Jepang dan Bahrain. Setelah diskusi, perwakilan kelompok diminta untuk mengemukakan pendapatnya. Ada beberapa poin menarik yang saya ambil dari berbagai pengalaman penyusunan NQPS oleh rekan dari negara lain:

  1. Walaupun sudah memiliki NQPS, implementasi NQPS tidak selalu berjalan dengan baik. Diperlukan kepemimpinan dan sistem manajemen kesehatan yang baik dan berkomitmen tinggi.
  2. NQPS perlu dikaitkan dengan program prioritas kesehatan negara masing-masing
  3. Perlunya meningkatkan budaya mutu di seluruh sistem kesehatan
  4. NQPS akan berjalan baik bila ada sumber daya yang mendukung
  5. Jangan melupakan etik dalam setiap proses peningkatan mutu

1okt 9

Tim NQPS WHO Geneva dan Tim NQPS Indonesia (Kementerian Kesehatan dan PKMK UGM)

Refleksi untuk Indonesia:

Indonesia sudah memulai penyusunan NQPS sejak tahun 2017, dimulai dengan menyusun analisis situasi yang mencakup delapan elemen. Terdapat beberapa hal yang sudah didiskusikan seperti definisi dan dimensi mutu untuk Indonesia, tetapi beberapa hal belum ditetapkan seperti struktur dan tata kelola mutu, intervensi mutu prioritas, dan indikator mutu nasional. Proses ini masih berjalan dan selanjutnya tim akan melanjutkan workshop dengan stakeholders terkait untuk menetapkan strategi, program dan implementasi strategi. Apakah NQPS akan dapat diimplementasikan dengan baik di Indonesia?

Penulis: Novika Handayani

Bahan bacaan :

  1. http://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/272465/9789241513906-eng.pdf?ua=1 
  2. http://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/272357/9789241565561-eng.pdf?ua=1 

 

{tab title=”Part 4″ class=”blue”}

Presentasi Oral

Pada hari Senin sampai Rabu (24-26 September 2018) selain poster display, terdapat beberapa delegasi Indonesia yang juga terpilih untuk oral presentation selama 10 menit atau 15 menit. Berikut ini judul presentasi oral dari delegasi Indonesia pada conference ISQua Kuala Lumpur:

  1. Implementation of The Nurse Corner Competency to Improve Critical Thinking and Satisfaction (Rr.Tutik Sri Hariyati, H. Handiyani, B. Utomo, S. Farida Rachmi)
  2. Hospital Accreditation Status in Indonesia: Factors Explaining its Sustainability (Viera Wardhani, T. Kuntjoro, S. Cokro, A. Utarini)
  3. Succession of Physician Leadership and Talent Management in Public, Private and Military Hospital (Arifatul Khorida, A. Meliala)
  4. An Exploration into Universal Health Coverage’s Potential Role in Expanding Access to Immediate Post-Pregnancy Family Planning at Private Facilities in Indonesia (Siti Nurul Qomariyah; ID, M. Christofield; US, I. Riswan, N. Agustina)
  5. Bringing Together Academia and Policy-Joint Master Program in Social Protection in Cooperation Between National Economics University, Vietnam, Universitas Indonesia and Heidelberg University, Germany (Svetla Loukanova; DE, B. Hidayat; ID, T. Long Giang; VN, M. Marx; DE)

Selamat kepada peneliti yang terpilih untuk presentasi oral!

Untuk detail program bisa klik https://www.isqua.org/events/kl-2018/conference-programme.html 

Penulis: Novika Handayani

 

{/tabs}

 

 

Bagaimana Strategi Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit?

Peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) merupakan tujuan utama dalam akreditasi rumah sakit. Banyak kegiatan yang harus disiapkan untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut. Mulai dari menentukan struktur organisasi dna alur kerja Tim PMKP; penetapan prioritas di rumah sakit; penetapan indikator mutu area manajemen, klinis, dan sasaran keselamatan pasien;pengukuran indikator untuk menilai capaian; penyusunan dan implementasi clinical pathways; hingga penyusunan laporan PMKP dengan model PDCA.

Continue reading

Kerja Sama Cegah Kecurangan dalam Sistem JKN

Jakarta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, selaku Tim Bersama Penanganan Kecurangan JKN, melaksanakan sosialisasi pedoman dan rencana kegiatan kepada asosiasi dinas kesehatan provinsi (ADINKES), asosiasi fasilitas pelayanan kesehatan (PERSI dan ARSSI), dan profesi kesehatan (IDI, PDGI, POGI, IDAI, dan IBI) di Gedung Merah Putih KPK di Jakarta, Jumat (7/9/2018) pagi.

Kegiatan ini bertujuan membangun pemahaman yang sama serta kepedulian bersama terhadap pencegahan kecurangan dalam JKN atau yang lebih dikenal dengan istilah fraud, serta bagaimana bersama-sama membangun sistem pengendalian kecurangan dalam rangka mendukung keberhasilan program JKN.

Inspektur I Itjen Kemenkes RI, Edward Harefa selaku Ketua Pokja Pencegahan Kecurangan dalam JKN, menerangkan bahwa terdapat tujuh potensi pelaku fraud, meliputi peserta JKN itu sendiri, fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga medis/kesehatan, petugas BPJS Kesehatan, penyedia obat dan alat kesehatan, pemberi kerja (perusahaan), dan pemangku kepentingan lainnya.

“Indikasi fraud bila terdapat unsur kesengajaan, tidak sesuai dengan ketentuan, mendatangkan keuntungan, dan merugikan pihak tertentu,” Edward menjelaskan.

Deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Pelayanan Rujukan BPJS Kesehatan, Budi Mohamad Arief, selaku Ketua Pokja Deteksi menyatakan bahwa kegiatan pengumpulan data dan deteksi merupakan tugas dan fungsi yang telah dijalankan sehari-hari, yang memanfaatkan data utilization review, analisis data klaim, pengaduan masyarakat, kajian tim pencegahan dan hasil audit.

“Data-data tersebut diolah dan akan dibahas nantinya di dalam tim bersama untuk ditindaklanjuti. Namun bila temuan tersebut tidak memenuhi kelayakan penyelesaian, maka tim pencegahan perlu melakukan penguatan kepada yang bersangkutan agar jangan sampai terjadi fraud di kemudian hari,” katanya.

Perwakilan dari KPK, Syahdu Winda, selaku Ketua Pokja Penyelesaian Kecurangan dalam JKN, menegaskan bila temuan kasus memenuhi kriteria tindak lanjut penyelesaian, maka akan dilakukan pemeriksaan, juga pengumpulan bahan dan keterangan agar sanksi yang diberikan sesuai dengan tingkatan berdasarkan pedoman penyelesaian.

“Tidak semua temuan diartikan pelanggaran pidana, bisa jadi merupakan pelenggaran kode etik, administrasi, atau indikasi adanya kelemahan sistem pengawasan internal institusi, kalau seperti itu yang dibutuhkan adalah rekomendasi perbaikan,” tandasnya.

Penyusunan draf pedoman saat ini sudah memasuki fase final, diharapkan dapat segera diujicobakan sebelum diimplementasikan guna penyempurnaan, sekaligus mendapatkan rekomendasi perbaikan sistem, regulasi, dan mekanisme pengenaan sanksi. Diharapkan pedoman penanganan kecurangan JKN ini dapat menjadi panduan bagi stakeholder terkait dalam membangun sistem pencegahan kecurangan JKN.

sumber: https://www.liputan6.com/health/read/3640701/kerja-sama-cegah-kecurangan-dalam-sistem-jkn