Setiap 28 Juli diperingati sebagai Hari Hepatitis Sedunia untuk meningkatkan kesadaran seluruh masyarakat terhadap virus hepatitis. Peringatan ini juga bertujuan sebagai pengingat bahwa tindakan secara dini harus segera dilakukan untuk mewujudkan perluasan akses, integrasi perawatan, dan pemberantasan hepatitis pada tahun 2030.
WHO Warns of Slowing Global Health Gains in New Statistics Report
WHO published its World health statistics report 2025, revealing the deeper health impacts caused by the COVID-19 pandemic on loss of lives, longevity and overall health and well-being. In just two years, between 2019 and 2021, global life expectancy fell by 1.8 years—the largest drop in recent history— reversing a decade of health gains.
Satu Abad Perjalanan Peningkatan Mutu Kesehatan
Perjalanan peningkatan mutu layanan kesehatan terus berkembang pesat hingga saat ini. Selama lebih dari satu abad, perkembangan mutu layanan kesehatan telah melalui perjalanan panjang. Paul Batalden dan Tina Foster dalam jurnal International Journal for Quality in Health Care mengungkap bagaimana pendekatan peningkatan mutu layanan kesehatan berevolusi pada tiga fase penting yang saling melengkapi. Pada awal abad ke-20, pendekatan peningkatan mutu dikenal sebagai fase Quality 1.0. Fokus utama fase Quality 1.0 adalah menetapkan ambang batas layanan yang dianggap “baik”. Melalui pendekatan Quality 1.0, aspek mutu lainnya mulai berkembang.
Contoh aspek mutu lainnya meliputi standar dasar, akreditasi rumah sakit, audit eksternal, panduan kualifikasi tenaga medis, kebersihan fasilitas, dan keselamatan layanan. Meskipun pendekatan Quality 1.0 sangat penting sebagai pondasi mutu layanan kesehatan, seiring waktu terdapat beberapa keterbatasan yang terlihat. Keterbatasan disebabkan oleh kecenderungan praktik yang lebih menekankan pada layanan pemenuhan prosedur administratif daripada dampak nyata bagi pasien.
Perkembangan selanjutnya, yakni fase Quality 2.0 berperan memperbaiki keterbatasan pada praktik fase sebelumnya. Perkembangan fase Quality 2.0 dipengaruhi oleh manajemen mutu di industri manufaktur. Fase Quality 2.0 menerapkan prinsip perbaikan berkelanjutan, pengurangan kesalahan, dan peningkatan efisiensi mulai diterapkan pada layanan kesehatan. Fokus fase Quality 2.0 tidak hanya menekankan pada standar formal tetapi juga pada proses layanan secara keseluruhan. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa mutu bukanlah tanggung jawab individu semata melainkan hasil kerja sama seluruh sistem yang mencakup kolaborasi dokter, perawat, dan staf pendukung. Melalui langkah ini, layanan kesehatan menjadi lebih terukur, terkoordinasi, dan berorientasi pada hasil yang lebih baik bagi pasien.
Saat ini, dunia kesehatan telah memasuki fase Quality 3.0 yang menekankan pendekatan bahwa pasien ditempatkan sebagai mitra yang setara dalam menciptakan pelayanan kesehatan. Konsep tersebut disebut coproduction yang berarti layanan tidak hanya “diberikan” oleh tenaga kesehatan tetapi juga “dibangun bersama” antara pasien dan profesional. Orientasi layanan kesehatan tidak lagi sekadar hanya menanyakan “apa yang salah?” tetapi “apa yang penting bagi pasien?”. Hubungan penuh empati, saling percaya, dan kolaboratif menjadi kunci keberhasilan pada fase ini. Pendekatan fase Quality 3.0 juga menekankan pentingnya keterhubungan yang berarti bahwa optimalnya sistem kesehatan tercipta dari kerja sama antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga, dan komunitas.
Perjalanan perkembangan mutu layanan kesehatan memberikan pelajaran penting baik bagi praktisi maupun mahasiswa kesehatan. Layanan kesehatan diharapkan tidak hanya dilihat sebagai sistem yang saling terhubung tetapi juga harus membangun hubungan yang lebih manusiawi dengan pasien. Pada akhirnya, mutu layanan kesehatan tidak hanya soal prosedur yang benar tetapi juga tentang bagaimana layanan tersebut memberikan nilai yang nyata dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Para ahli memperkirakan Quality 4.0 akan hadir dalam perkembangan perjalanan peningkatan mutu layanan kesehatan dengan menggabungkan teknologi digital, pembelajaran sistem, dan nilai sosial komunitas. Meskipun terus berkambang, esensi mutu pelayanan kesehatan tidak akan berubah dengan prinsip: mutu layanan kesehatan yang terbaik selalu lahir dari kolaborasi yang tulus antara tenaga kesehatan dan pasien.
Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)
Selengkapnya: https://academic.oup.com/intqhc/article/33/Supplement_2/ii10/6445911
US rejects WHO pandemic changes to global health rules
The United States has rejected amendments adopted in 2024 by members of the World Health Organization to its legally binding health rules aimed at improving preparedness for future pandemics following the disjointed global response to COVID-19.
Perubahan iklim dan penyakit menular di Eropa: Dampak, proyeksi dan adaptasi
Perubahan iklim global bukan lagi isu lingkungan semata, tetapi kini menjadi ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat di Eropa. Penelitian terbaru mengungkap bahwa peningkatan suhu, perubahan pola hujan, dan musim panas yang lebih panjang telah menciptakan lingkungan yang ideal bagi penyebaran penyakit infeksi yang sebelumnya hanya ditemukan di wilayah tropis dan subtropis. Tren ini mulai tampak nyata dalam satu dekade terakhir.
Nyamuk, lalat pasir, dan kutu yang menjadi vektor berbagai penyakit kini semakin banyak ditemukan di Eropa bagian selatan, bahkan merambah ke wilayah tengah dan utara. Kasus-kasus lokal chikungunya, dengue, dan virus West Nile telah terjadi di Italia, Prancis, dan Spanyol. Sementara itu, lalat pasir penyebar Leishmania dan kutu pembawa Lyme serta encephalitis menunjukkan perluasan ke wilayah pegunungan dan utara Eropa.
Suhu yang lebih hangat mempercepat siklus hidup vektor, memperluas masa aktif mereka, dan meningkatkan kemungkinan penularan antar manusia. Perubahan iklim juga menggeser habitat alami vektor dan memperpendek musim dingin, memungkinkan spesies tropis bertahan hidup lebih lama di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka.
Ancaman ini tidak merata. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan kondisi ekonomi rendah lebih mungkin terdampak. Mereka tinggal di lingkungan yang kurang layak, lebih sering terpapar faktor risiko, dan memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan serta sarana pencegahan seperti kelambu, insektisida, atau sistem pendingin ruangan.
Peneliti menekankan bahwa masalah ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan medis. Diperlukan strategi lintas sektor, seperti pendekatan “One Health” yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Kolaborasi antara sektor kesehatan, pertanian, lingkungan hidup, dan perencanaan kota sangat penting untuk mencegah epidemi di masa depan.
Uni Eropa sendiri telah mulai menyesuaikan kebijakan dengan meninjau kembali regulasi seperti Ambient Air Quality Directive dan REACH. Namun, peneliti juga menyoroti bahwa masih banyak kesenjangan data dan penelitian, terutama terkait dampak gabungan dari polusi udara, paparan panas ekstrem, dan kontaminasi kimia terhadap imunitas manusia.
Selain itu, kurangnya pemahaman tentang penyebaran penyakit di dalam ruang tertutup juga menjadi perhatian. Banyak vektor seperti nyamuk dan lalat mampu berkembang di area dalam rumah yang lembap dan tidak berventilasi baik. Edukasi publik dan penataan hunian menjadi faktor penting dalam upaya mitigasi di tingkat individu dan komunitas.
Eropa tidak lagi kebal terhadap penyakit tropis. Jika tidak ada langkah konkret dan terintegrasi untuk adaptasi terhadap perubahan iklim, maka masyarakat Eropa akan menghadapi lonjakan kasus penyakit infeksi baru yang lebih sering, lebih luas, dan lebih mematikan. Perlindungan kesehatan publik di era perubahan iklim menuntut kecepatan, kolaborasi, dan kebijakan berbasis bukti.
Selengkapnya dapat diakses mengakses:
https://www.thelancet.com/journals/lanepe/article/PIIS2666-7762%2821%2900216-7/
Alat Skrining yang Digunakan di Layanan Kesehatan Primer untuk Mengidentifikasi Perilaku Kesehatan pada Anak (Usia 0–16 Tahun)
Tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN) sebagai momentum penting untuk meningkatkan kepedulian terhadap hak-hak anak serta memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar anak-anak Indonesia secara optimal. “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” Tema ini menegaskan bahwa anak-anak hari ini adalah pondasi utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, yakni visi Indonesia maju di usia ke-100 tahun kemerdekaannya. Perwujudan tagline tersebut bukan hanya dalam tulisan, namun juga dalam mempersiapkan anak agar menjadi anak yang sehat. Obesitas pada anak dan remaja telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang semakin mengkhawatirkan dalam beberapa dekade terakhir.
Data tahun 2018 di negara Meksiko menunjukkan bahwa sekitar 8% anak usia 0–4 tahun, 35% anak usia 5–11 tahun, dan hampir 40% remaja usia 12–19 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Sayangnya, sebagian besar upaya pencegahan dan intervensi masih berfokus pada perilaku individu dan belum cukup mempertimbangkan faktor budaya yang turut membentuk pola makan, gaya hidup, serta persepsi masyarakat terhadap kesehatan dan tubuh.
Penelitian yang dilakukan oleh Dutch et. al (2024) mengidentifikasi faktor-faktor sosio-budaya yang memengaruhi obesitas pada anak dan remaja di wilayah Meksiko. Dengan menggunakan kerangka kerja Sunrise Enabler Model dari teori Cultural Care, peneliti melakukan tinjauan sistematis terhadap 24 studi kualitatif yang melibatkan berbagai kelompok responden, termasuk anak-anak, remaja, orang tua, guru, staf sekolah, pedagang makanan, dan pembuat kebijakan. Studi-studi ini dianalisis untuk menggali nilai, kepercayaan, norma sosial, dan praktik sehari-hari yang berkaitan dengan obesitas anak.
Hasil kajian menunjukkan bahwa obesitas anak di Meksiko sangat dipengaruhi oleh tiga dimensi budaya utama. Pertama, nilai dan kepercayaan sosial seperti persepsi bahwa tubuh gemuk menandakan anak sehat masih banyak dianut oleh keluarga. Kedua, kebiasaan makan keluarga—termasuk konsumsi makanan cepat saji, porsi besar, dan penggunaan makanan sebagai simbol kasih sayang—mendorong pola konsumsi berisiko. Ketiga, pengaruh sosial seperti tekanan teman sebaya, ekspektasi masyarakat, dan kebijakan sekolah memengaruhi keputusan makan dan aktivitas fisik anak.
Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan yang sensitif terhadap budaya dalam mengatasi obesitas anak dan remaja. Alih-alih hanya menyasar perubahan perilaku individu, strategi pencegahan perlu memperhatikan struktur sosial dan nilai budaya yang sudah mengakar. Misalnya, pelibatan keluarga dalam edukasi gizi, pelatihan pedagang makanan di sekitar sekolah, serta kampanye kesehatan yang tidak bertentangan dengan identitas budaya lokal akan lebih efektif dalam menciptakan perubahan berkelanjutan.
Sebagai kesimpulan, studi ini memberikan wawasan mendalam bahwa budaya bukan sekadar latar belakang, melainkan bagian integral dari masalah obesitas anak di Meksiko. Intervensi yang memperhitungkan konteks sosial dan budaya tidak hanya akan lebih diterima oleh masyarakat, tetapi juga berpotensi memberikan dampak yang lebih besar dalam jangka panjang. Oleh karena itu, upaya pencegahan obesitas perlu dirancang secara holistik, dengan memadukan pendekatan medis, edukatif, dan budaya secara seimbang.
Selengkapnya dapat diakses mengakses:
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38192203/
Four Startups Harnessing Artificial Intelligence to Strengthen Healthcare Systems for Children
UNICEF Venture Fund announces a new cohort improving access to quality health care services in emerging economies. The UNICEF Venture Fund invests up to $100,000 in equity-free funding for early-stage startups in emerging economies, developing frontier technology prototypes and open-source licensing to meet the needs of the marginalized and underserved, especially children.
Inovasi Layanan Kesehatan: Integrasi Perangkat Digital, AI, dan Data Lingkungan untuk Manajemen Penyakit Kronis
Pengelolaan penyakit kronis masih menjadi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan. Kondisi beberapa penyakit seperti obesitas, gangguan panik, dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronik) sering kali memerlukan pemantauan jangka panjang. Namun, prakteknya banyak kasus yang menunjukkan bahwa kontrol rutin di rumah sakit tidak selalu mencerminkan kondisi nyata pasien dalam keseharian. Penelitian terbaru dari National Taiwan University menawarkan pendekatan inovatif melalui layanan kesehatan presisi yang mengintegrasikan perangkat digital, sensor kualitas udara, aplikasi smartphone, serta analisis berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk pemantauan pasien secara real-time. Sistem integrasi ini dirancang agar data gaya hidup pasien—mulai dari detak jantung, pola tidur, jumlah langkah, hingga konsumsi kalori—dapat dikumpulkan secara otomatis melalui perangkat digital seperti Fitbit, Garmin, atau Apple Watch. Sementara itu, sensor lingkungan dapat mendeteksi paparan polusi udara seperti PM2.5 dan karbon monoksida serta variabel suhu dan kelembaban yang juga berpengaruh pada kondisi kronis.
Semua data kesehatan yang telah dikumpulkan akan terhubung ke platform “NTU Medical Genie”. Data tersebut kemudian dianalisis oleh model prediksi berbasis machine learning dan deep learning untuk memproyeksikan risiko kejadian akut hingga 7 hari ke depan. Menariknya, hasil penelitian menunjukkan performa prediksi yang sangat baik. Model prediksi PPOK mencapai akurasi 91%, model serangan panik mencapai 83%, dan model obesitas mencapai 93%. Model ini lebih hemat sumber daya dan siap diterapkan dalam praktik klinik sehari-hari. Bagi praktisi kesehatan, manfaatnya penelitian ini sangat signifikan. Pemantauan pasien tidak lagi terbatas pada kunjungan tatap muka. Dokter dan tenaga kesehatan dapat melihat tren data pasien secara lengkap termasuk aktivitas fisik, kualitas tidur, serta paparan lingkungan yang relevan terhadap kondisi klinis. Jika terdapat tanda bahaya, sistem secara otomatis mengirimkan peringatan dini agar intervensi segera dilakukan. Pendekatan ini memungkinkan pergeseran layanan dari kuratif menjadi preventif dengan memanfaatkan data yang lebih komprehensif untuk pengambilan keputusan klinis.
Selain meningkatkan kualitas pemantauan, layanan kesehatan presisi juga dapat mengurangi beban sistem kesehatan. Pasien tidak perlu terlalu sering melakukan kunjungan ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan rutin dan dokter tetap dapat memantau status pasien dengan akurat. Sistem ini juga mampu memberikan rekomendasi gaya hidup yang lebih personal. Contohnya dengan membatasi aktivitas luar ruangan pada hari dengan polusi tinggi atau meningkatkan aktivitas fisik untuk mencegah kenaikan BMI.
Penelitian ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut, termasuk penerapan digital twin—model virtual pasien untuk simulasi kondisi kesehatan—yang dapat memperkuat personalisasi layanan kesehatan. Inovasi teknologi ini tidak hanya relevan untuk manajemen penyakit kronis saat ini tetapi juga memiliki potensi besar sebagai fondasi e-health generasi berikutnya. Melalui integrasi data gaya hidup, lingkungan, dan faktor klinis yang dianalisis secara real-time, layanan kesehatan presisi dapat membantu praktisi kesehatan memberikan intervensi yang lebih tepat sasaran, efisien, dan berbasis kebutuhan individual pasien.
Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)
Selengkapnya: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36199984/
Increases in vaccine-preventable disease outbreaks threaten years of progress, warn WHO, UNICEF, Gavi
Immunization efforts are under growing threat as misinformation, population growth, humanitarian crises and funding cuts jeopardize progress and leave millions of children, adolescents and adults at risk, warn WHO, UNICEF, and Gavi during World Immunization Week, 24–30 April.
Ahli Paru Ingatkan Perlunya Update Formulasi Vaksin Covid-19 saat Lonjakan Kasus
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, meminta Kementerian Kesehatan untuk memberikan kejelasan ihwal vaksin yang sesuai untuk menangkal lonjakan Covid-19 di Asia Tenggara.