Pelatihan Panduan Meningkatkan Mutu dan Pendapatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Pelatihan Panduan Meningkatkan Mutu dan Pendapatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan:

Berdasarkan Pengalaman Mengikuti ISQua

Daring, 22-23 Mei 2025

  Ringkasan

Pelatihan ini akan menjelaskan tentang upaya-upaya yang dilakukan oleh fasilitas pelayanan kesehatan, baik di Rumah Sakit, Puskesmas, klinik, dan praktek mandiri untuk meningkatkan mutu dan pendapatan. Upaya-upaya yang akan kita pelajari ini merupakan pengalaman yang kami peroleh saat mengikuti konfrensi ISQua Tahun 2023. Kegiatan diawali dengan penyampaian materi tentang konsep dan dilanjutkan dengan demonstrasi atau praktek. Peserta akan mendapatkan fasilitas berupa materi dan sertifikat. Untuk kebutuhan praktek, peserta harus menyiapkan: Laptop, Panduan Praktek Klinis, Clinical Pathway, Rekam Medis elektronik/manual, data indikator mutu (silahkan ditentukan sendiri) selama 3 bulan terakhir.

  Tujuan

Pada akhir pelatihan, peserta diharapkan mempunya pengetahuan dan kemampuan tentang cara meningkatkan pendapatan dan mutu di Fasilitas Pelayanan Kesehatan:

  1. Konsep dan cara analisis indikator
  2. Konsep, cara menyusun, implementasi dan evaluasi clinical pathway
  3. Konsep dan cara melakukan audit klinis, audit keperawatan, dan audit medis

  Sasaran Peserta

Sasaran dari pelatihan ini adalah:

  1. Jajaran Direksi RS
  2. Ketua dan anggota Tim Pencegahan Kecurangan (TPK) JKN di rumah sakit
  3. Bagian casemix/JKN rumah sakit
  4. Case manager

  Tim Pengajar

Pengajar dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM).

Pengalaman Terkait Pelatihan

Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua

  • Penyusun pedoman dan regulasi tentang “penyusunan, implementasi, dan evaluasi alur klinis/clinical pathway.
  • Sosialisasi regulasi “penyusunan, implementasi, dan evaluasi alur klinis/clinical pathway”
  • Penyusun pedoman audit klinis nasional dan regulasinya.
  • Penyusun buku audit keperawatan
  • Narasumber audit klinis nasional
  • Narasumber pelatihan penyusunan dan cara analisis indikator.
  • Tim peneliti penyusun indikator berbasis website dengan BPJS Kesehatan.

Eva Tirtabayu Hasri S.Kep.,MPH

  • Penulis buku audit keperawatan
  • Penyusun pedoman dan regulasi tentang “penyusunan, implementasi, dan evaluasi alur klinis/clinical pathway”.
  • Sosialisasi regulasi “penyusunan, implementasi, dan evaluasi alur klinis/clinical pathway”
  • Fasilitator audit klinis nasional.
  • Fasilitator pelatihan penyusunan dan cara analisis indikator.
  • Tim peneliti penyusun indikator berbasis website dengan BPJS Kesehatan.

  Agenda

Waktu: 22-23 Mei 2025  |  jam 09.00-12.00 WIB

Hari 1

  1. Konsep Konsep dan cara analisis indikator
  2. Demonstrasi dan praktek
  3. Konsep, cara menyusun, implementasi dan evaluasi clinical pathway
  4. Demonstrasi dan praktek

Hari 2

  1. Konsep dan cara melakukan audit klinis, audit keperawatan, dan audit medis
  2. Demonstrasi dan praktek

Biaya

Biaya per peserta sebesar Rp. 1.350.000,00/orang

Narahubung

Eva Tirtabayu Hasri  /  0823-2433-2525

Pendaftaran

 

 

Mengolah data Fasyankes untuk Evaluasi Mutu Menggunakan Pendekatan Kuantitatif

Pelatihan Mengolah data Fasyankes untuk Evaluasi Mutu Menggunakan Pendekatan Kuantitatif

Daring, 24 April 2025

  Ringkasan

Fasilitas pelayanan Kesehatan mempunyai data yang melimpah, baik data pasien rawat inap maupun rawat jalan. Tentunya data ini dapat digunakan sebagai informasi untuk mengidentifikasi dan melakukan perbaikan. Namun, timbul tantangan dalam data, mulai dari data yang terlalu banyak, tidak ada instrumen untuk pengumpulan data, tidak ada yang mengolah data, tidak tahu cara menganalisis data dan masalah lainnya. Untuk itu, kami menyelenggarakan pelatihan agar ada medis sharing knowledge tentang pemanfaatan data di fasilitas pelayanan Kesehatan.

  Tujuan

Pada akhir pelatihan, peserta diharapkan mempunya pengetahuan dan kemampuan tentang:

  1. Konsep data: mitos tentang data, fungsi data, kelemahan data yang ada di Fasyankes
  2. Instrumen pengambilan data: jenis instrumen pengambilan data
  3. Menyusun rencana proses perbaikan: olah data dan analisis data
  4. Cara menguji peningkatan kualitas pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan: pendekatan kuantitatif

*Peserta yang butuh pendampingan lanjut untuk penelitian dan lainnya dapat mendaftar diakhir acara pelatihan

  Sasaran Peserta

Profesional Pemberi Asuhan, Penanggung Jawab Data Mutu, Tim Kendali Mutu Kendali Biaya, Komite medis, Komite Keperawatan, Komite Nakes lainnya, Peneliti, Dosen, dan pihak yang tertarik.

  Tim Pengajar

  • Narasumber: Diah Anggeraini Hasri, M.Sc. CIQnR
  • Moderator: Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH, CPCC

  Agenda

Pelatihan selama satu hari secara daring, jam 09.00-12.15 WIB.

Waktu Kegiatan Fasilitator
H-1 PreTest PKMK
09.00-09.15 Pembukaan dan Perkenalan Eva Tirtabayu Hasri MPH
09.15-10.00 Konsep data: mitos tentang data, fungsi data, kelemahan data yang ada di Fasyankes Diah Anggeraini Hasri, M.Sc. CIQnR
10.00-10.45 Konsep Instrumen pengambilan data: jenis instrumen pengambilan data Diah Anggeraini Hasri, M.Sc. CIQnR
10.45-11.30 Praktek menyusun rencana proses perbaikan: olah data dan analisis data Diah Anggeraini Hasri, M.Sc. CIQnR
11.30-12.15 Cara menguji peningkatan kualitas pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan: pendekatan kuantitatif Diah Anggeraini Hasri, M.Sc. CIQnR
12.15-selesai Penutupan Eva Tirtabayu Hasri MPH

Biaya

Biaya per peserta sebesar Rp. 350.000,00/orang

Narahubung

Eva Tirtabayu Hasri  /  0823-2433-2525

Pendaftaran

 

 

Webinar I: Penggunaan Alat Bantu Pengambilan Keputusan Klinis oleh Dokter dengan Bantuan Aplikasi

Seri Webinar: Pemanfaatan Aplikasi Alat Bantu Pengambilan Keputusan Klinis

Webinar I: Penggunaan Alat Bantu Pengambilan Keputusan Klinis oleh Dokter dengan Bantuan Aplikasi

  Latar Belakang

Dalam era digitalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, dunia kesehatanmengalami transformasi signifikan. Salah satu inovasi yang semakin populer adalah penggunaan alat bantu pengambilan keputusan klinis yang didukung oleh aplikasi berbasis teknologi. Aplikasi tersebut dirancang untuk membantu tenaga medis, khususnya dokter, dalam mengambil keputusan medis yang lebih akurat, cepat, dan berbasis bukti. Pemeriksaan, diagnosis, serta tata laksana yang berbasis bukti juga dapat mengoptimalkan biaya perawatan pasien dan mencegah dispute klaim asuransi. UpToDate merupakan aplikasi untuk membantu dokter dan klinisi kesehatan dalam pengambilan keputusan medis berbasis bukti, yang dapat menjadi solusi dalam menjawab tantangan global. Semakin kompleksnya pengobatan dan perubahan bukti yang cepat, adalah sesuatu yang urgent untuk dokter memiliki sumber daya yang dapat mendukung keputusan klinis yang dapat dipercaya dan terbukti meningkatkan hasil jangka panjang dari pasien. UpToDate memungkinkan dokter untuk mengakses pengalaman dari para dokter terkemuka dunia, dan tidak hanya tersedia kasus yang rutin, pun untuk kasus yang kompleks dan tidak jelas. Disusun oleh kolaborasi para expertise dengan topik keahlian yang mendalam, UpToDate menjadi aplikasi yang potensial bagi para klinisi.

Namun, meskipun potensinya besar, penerapan alat bantu ini di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan. Beberapa dokter mungkin belum terbiasa menggunakan teknologi ini, khawatir akan kehilangan otonomi profesional, atau merasa bahwa alat bantu tersebut kurang relevan dengan kondisi pasien tertentu. Selain itu, integrasi aplikasi alat bantu pengambilan keputusan klinis dengan sistem kesehatan yang sudah ada seringkali memerlukan investasi waktu, biaya, dan pelatihan yang tidak sedikit.

Di sisi lain, studi menunjukkan bahwa penggunaan alat bantu pengambilan keputusan klinis dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara signifikan. Misalnya, aplikasi alat bantu pengambilan keputusan klinis dapat membantu dokter dalam diagnosis awal penyakit kompleks, memberikan rekomendasi terapi berdasarkan pedoman medis terbaru, serta mengurangi risiko kesalahan medis (medical errors). Dengan dukungan aplikasi yang ramah pengguna, dokter dapat lebih mudah mengakses informasi penting tanpa harus bergantung sepenuhnya pada ingatan atau referensi manual. Dalam konteks Askes Sosial (BPJS) dan Askes Swasta, teknologi ini mampu untuk mengurangi risiko fraud.

Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dokter dalam memanfaatkan alat bantu pengambilan keputusan klinis melalui aplikasi. Webinar ini bertujuan untuk memberikan wawasan mendalam tentang manfaat, tantangan, dan strategi implementasi aplikasi alat bantu pengambilan keputusan klinis di lingkungan praktik medis. Dengan demikian, diharapkan para dokter dapat lebih percaya diri dan kompeten dalam menggunakan teknologi ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada pasien.

  Tujuan

  1. Meningkatkan pemahaman peserta tentang manfaat penggunaan alat bantu pengambilan keputusan klinis berbasis aplikasi. Kasus yang dibahas adalah UpDate.
  2. Memberikan contoh aplikasi yang relevan dan praktis untuk digunakan dalam praktik klinis sehari-hari. Kasus UpDate
  3. Mendiskusikan tantangan dan peluang penggunaan alat bantu pengambilan keputusan klinis berbasis aplikasi di Indonesia. Fokus pembahas pada Pencegahan
    Fraud dan in-efisiensi (misalnya).
  4. Mendorong diskusi dan pertukaran pengalaman antara dokter dan ahli teknologi kesehatan.

  Sasaran Peserta

  1. Dokter umum dan spesialis
  2. Mahasiswa kedokteran
  3. Praktisi kesehatan lainnya
  4. Manajemen rumah sakit
  5. Pengembang aplikasi kesehatan
  6. Pihak yang tertarik dengan teknologi kesehatan

  Narasumber

  1. dr. Lutfan Lazuardi, MKes., Ph.D – Ahli teknologi kesehatan
  2. dr. Victor Tan – BIMC Hospital Kuta Bali, Dokter dengan pengalaman dalam penggunaan aplikasi klinis
  3. Dr. Keefe Halim, MPH – Wolters Kluwer, Pengembang aplikasi kesehatan

  Agenda

Hari, tanggal : Kamis, 17 April 2025
Pukul : 09.00 – 11.00 WIB

Waktu (WIB) Topik PIC/Narasumber
09.00 – 09.05 Pembukaan

MC/Moderator:

dr. Novika Handayani – Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FKKMK UGM

09.05 – 09.10 Sambutan dan kata pengantar

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD – Guru Besar Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK KMK UGM

video

09.10 – 09.40 Materi 1: Alat bantu pengambilan keputusan klinis berbasis aplikasi

dr. Lutfan Lazuardi, MKes., Ph.D – Ahli Teknologi Kesehatan dan Ketua Departemen dan Ketua Program Studi Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM

video   materi

09.40 – 10.10 Materi 2: Penggunaan alat bantu pengambilan keputusan klinis berbasis aplikasi

dr. Victor Tan – Kepala Departemen Rawat Inap, BIMC Hospital Kuta Bali

video   materi

10.10 – 10.40

Materi 3: Contoh aplikasi alat bantu pengambilan keputusan klinis yang relevan dan praktis untuk dokter

Dr. Keefe Halim, MPH – Wolters Kluwer Indonesia

video

10.40 – 10.55 Diskusi interaktif Panelis narasumber
10.55 – 11.00 Penutup MC

 

Reportase

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM menyelenggarakan webinar Penggunaan Alat Bantu Pengambilan Keputusan Klinis oleh Dokter dengan Bantuan Aplikasi pada hari Kamis (17/4/2025). Webinar ini bertujuan meningkatkan awareness dan pemahaman terhadap peluang dan manfaat penggunaan clinical decision support system (CDSS) dalam praktik klinis. Kegiatan ini merupakan webinar pertama dari Seri Webinar: Pemanfaatan Aplikasi Alat Bantu Pengambilan Keputusan Klinis yang berkolaborasi dengan Wolters Kluwer.

Webinar dipandu moderator yaitu dr. Novika Handayani, peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM dan dibuka dengan pengantar dari Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D, Guru Besar Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM. Pada pengantarnya, Laksono menyoroti pentingnya evidence-based medicine (EBM) terkini dalam setiap pengambilan keputusan klinis demi menjamin pelayanan kesehatan yang aman, efektif, dan berpusat pada pasien. Bagaimana peran, manfaat, dan konteks implementasi aplikasi CDSS dalam proses pelayanan menjadi isu utama pembahasan pada seri webinar ini.

17 1Narasumber pertama dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes, Ph.D, ahli bidang teknologi kesehatan dan juga Ketua Departemen serta Ketua Program Studi Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM, dalam materinya menjelaskan adanya perubahan paradigma partisipasi pasien dalam interaksi dokter-pasien dari pasif menjadi aktif. Begitu pula teknologi informasi kesehatan yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangan teknologi informasi kesehatan yang lalu berfokus pada sisi manajemen dan tenaga kesehatan.

Saat ini, perkembangan yang ada berfokus pada pasien untuk meningkatkan keselamatan dan partisipasi pasien), termasuk CDSS. CDSS adalah alat bantu yang memberikan dukungan pengambilan keputusan klinis kepada dokter, perawat, serta tenaga kesehatan lain secara real-time. Selain memberikan keuntungan dalam hal mutu layanan dan keselamatan pasien, CDSS juga berdampak positif pada cost efficiency. Meski memiliki banyak dampak positif, implementasi CDSS menghadapi tantangan dari sisi sumber daya, teknis, kultur, hingga legal.

17 2dr. Victor Tan, klinisi dari BIMC Hospital Kuta – Bali, memaparkan pengalaman penggunaan UpToDate dan UpToDate Lexidrug yang merupakan contoh CDSS, dalam mendukung pelayanan pasien di Siloam Group Bali. UpToDate telah mendukung klinisi dalam menentukan diagnosis dan tatalaksana yang berbasis bukti secara efisien dan akurat sehingga meningkatkan luaran klinis pasien (clinical outcome).

Tidak hanya itu, UpToDate juga dilengkapi alur tatalaksana, kompatibilitas obat, hingga rekomendasi edukasi kepada pasien. Penggunaan CDSS dalam lingkungan rumah sakit juga meningkatkan budaya evidence-based dan mendukung perkembangan profesional dari tenaga kesehatan di dalamnya.

17 3Paparan ketiga disampaikan oleh dr. Keefe Halim, MPH, selaku Country Manager Wolters Kluwer Clinical Effectiveness for Indonesia. Keefe menyoroti maraknya isu antara rumah sakit dengan asuransi kesehatan terkait dispute klaim, fraud, hingga putus kerja sama. Penggunaan CDSS yang mendukung pengambilan keputusan klinis berbasis bukti, akurat, dan efisien diharapkan mampu mengatasi isu-isu tersebut.

Selanjutnya, dr. Keefe memberikan demo penggunaan UpToDate dalam mencari informasi untuk mendukung pengambilan keputusan klinis. Penggunaan CDSS yang seragam dalam lingkungan fasilitas kesehatan dapat mengurangi adanya variabilitas keputusan klinis tanpa mengabaikan praktik berbasis bukti dan keselamatan pasien. Keefe juga memperlihatkan bahwa UpToDate disusun oleh tim ahli sesuai spesialisasinya dan telah melalui tahap peer-review oleh reviewer lintas negara.

Reporter: Firda Alya dan dr. Aulia Shafira

 

 

 

 

Seri Webinar Nasional: Menjadi Bidan Unggul dan Profesional dalam Penguatan Pelayanan Kebidanan

Seri Webinar Nasional:

Menjadi Bidan Unggul dan Profesional dalam Penguatan Pelayanan Kebidanan

“Achieving Excellence in Health Services”

  Latar Belakang

Dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kebidanan untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensi manajerial dan klinis. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan manajemen kinerja klinis sehingga dapat memberikan layanan yang efisien dan efektif sesuai dengan standar mutu yang berlaku. Mutu pelayanan kesehatan oleh berbagai hal yang saling berkaitan, termasuk pengelolaan sumber daya manusia, penggunaan teknologi informasi, manajemen administrasi dan keuangan, serta penerapan standar kualitas dalam layanan kesehatan.

Sumber daya manusia kesehatan (SDMK) menjadi kunci dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Beberapa permasalahan terkait SDMK dalam pengembangan manajemen kinerja yang masih banyak dihadapi fasyankes adalah sebagai berikut:

  1. Sumber daya manusia kesehatan (SDMK) belum pernah mengikuti pelatihan manajemen kinerja klinis
  2. Sumber daya manusia kesehatan (SDMK) memiliki pemahaman yang berbeda terkait standar kualitas pelayanan kesehatan
  3. Kurang adanya pembinaan sumber daya manusia kesehatan (SDMK)
  4. Belum dikembangkan sistem monitoring dan evaluasi kinerja bagi sumber daya manusia kesehatan (SDMK) di fasyankes

Peningkatan dan pengembangan kapasitas SDMK (quality of care) dan penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan tugas (quality of services) berperan penting dalam menentukan mutu layanan kesehatan. Perlu adanya upaya peningkatan kinerja pelayanan SDMK sebagai upaya menjamin mutu layanan kesehatan. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) UGM menyelenggarakan Seri Webinar Nasional: Menjadi Bidan Unggul dan Profesional dalam Penguatan Pelayanan Kebidanan sebagai solusi strategis untuk menjawab tantangan dan kebutuhan yang ada.

  Tujuan

Tujuan umum dari kegiatan adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan yang diberikan oleh bidan melalui peningkatan kemampuan manajemen kinerja, kompetensi, dan kapasitas bidan.
Tujuan khusus dari kegiatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Menerapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam praktik pelayanan kebidanan.
  2. Meningkatkan kualitas manajemen kebidanan klinik (praktik klinik).
  3. Mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi kinerja kebidanan klinik dalam pelayanan kebidanan.

  Sasaran Peserta

Sasaran dari pelatihan ini adalah:

  1. Bidan profesi
  2. Bidan vokasi

Indikator Pelatihan

Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:

  1. Menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) secara efektif dalam praktik kebidanan
  2. Mengidentifikasi dan mengelola risiko terkait dengan pelayanan kebidanan
  3. Melakukan evaluasi dan pemantauan kinerja secara rutin menggunakan indikator kinerja yang telah ditetapkan
  4. Menerapkan prinsip-prinsip etika profesi dalam semua aspek pelayanan kebidanan.
  5. Berpartisipasi aktif dalam diskusi kasus dan refleksi praktik

  Materi Pelatihan

Kegiatan ini akan diselenggarakan terbagi menjadi 3 (tiga) sesi dengan materi yang berbeda dan berkesinambungan.

Webinar 1: Peran Manajemen Kinerja dan Standar Kompetensi dalam Pelayanan Kebidanan

Rabu, 9 Juli 2025  |  13.00 – 16.00 WIB

No.

Judul Materi

Narasumber

Ruang lingkup materi

1

Pengantar Konsep Manajemen Kinerja

dr. Tridjoko Hadianto, DTH&M., M.Kes

Pemahaman dasar tentang definisi, prinsip, dan pentingnya manajemen kinerja dalam meningkatkan mutu pelayanan kebidanan

 2

Visi, Tantangan dan Peluang dalam Masa Depan Pelayanan Kebidanan

Dr. Yudhia Fratidhina, SKM, M.Kes

Perkembangan pelayanan kebidanan nasional hingga global, serta bagaimana bidan harus beradaptasi untuk tetap relevan dan kompeten 

 3

Standar Kompetensi dan Standar Profesi Kebidanan

Gita Nirmala Sari, SST, M.Keb, PhD 

Penjelasan tentang standar kompetensi dan standar profesi kebidanan yang berlaku saat ini dan menjadi acuan praktik profesional bidan di Indonesia 

 4

Implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) sesuai Standar Profesi untuk Peningkatan Mutu Layanan Kebidanan

Dr. Indra Supradewi, SKM, MKM

Penerapan SOP dalam praktik nyata untuk menjamin kesetaraan dan keseragaman pelayanan kebidanan yang berkualitas 

 5

Memahami Standar Etika Profesi Kebidanan

Prof. Dr. Mufdlillah, S.Pd., S.SiT., M.Sc 

Prinsip etika dalam praktik kebidanan untuk melindungi hak pasien dan menjaga integritas profesi. 

 

Reportase Kegiatan

Seri 1: Peran Manajemen Kinerja dan Standar Kompetensi dalam Pelayanan Kebidanan

seri1 2

Dalam upaya memperkuat pelayanan kebidanan yang unggul dan profesional, Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM bekerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menyelenggarakan Webinar Nasional Seri 1 bertajuk “Peran Manajemen Kinerja dan Standar Kompetensi dalam Pelayanan Kebidanan” pada Rabu (9/7/2025). Kegiatan yang digelar secara daring ini menjadi wadah penting untuk memperbarui wawasan dan meningkatkan kapasitas para bidan dalam menjawab tantangan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Dalam sambutannya, Dr. Ade Jubaedah, SSiT, MM selaku Ketua Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas layanan kebidanan. Bidan adalah garda depan kesehatan perempuan dan anak. Peningkatan kapasitas bidan dapat berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Hal ini selaras dengan pengantar dr. Muhammad Hardhantyo, MPH, Ph.D selaku ketua Divisi Manajemen Mutu PKMK yang menyampaikan bahwa RPJMN 2025–2029 menargetkan penurunan angka kematian ibu dan anak serta peningkatan gizi yang menempatkan peran bidan pada posisi krusial dalam sistem kesehatan nasional.

Materi pertama disampaikan oleh dr. Tridjoko Hadianto, DTH&M., M.Kes yang membahas pentingnya manajemen kinerja kebidanan dalam meningkatkan mutu layanan bidan. Ia memaparkan bahwa manajemen kinerja bukan sekadar evaluasi administratif, tetapi mencakup standar operasional prosedur (SOP), uraian tugas, indikator kinerja klinis, diskusi refleksi kasus, serta monitoring dan evaluasi berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, bidan tidak hanya berfokus pada hasil akhir tetapi juga proses kerja yang berkualitas dan kolaboratif.

Selanjutnya materi dilanjutkan oleh Dr. Yudhia Fratidhina, SKM, M.Kes dengan materi tantangan dan peluang masa depan profesi kebidanan. Saat ini, profesi bidan dihadapkan pada kebutuhan untuk terus beradaptasi di tengah era digitalisasi dan perubahan demografi. Bidan harus mampu bekerja secara inklusif, profesional, dan memanfaatkan teknologi—termasuk media sosial—untuk menjangkau masyarakat. Ia menekankan pentingnya transformasi menuju bidan profesional yang tidak hanya bekerja sesuai standar tetapi juga memiliki semangat belajar sepanjang hayat.

Materi ketiga oleh Gita Nirmala Sari, SST, M.Keb, PhD mengupas aspek hukum dan standar profesi dalam praktik kebidanan yang mengacu pada UU Nomor 17 Tahun 2023 dan PMK Nomor 320 Tahun 2020. Bidan memiliki peran yang spesifik dan strategis, terutama dalam pelayanan kesehatan perempuan. Standar kompetensi yang tengah direvisi akan semakin menyesuaikan dengan kerangka kerja internasional. Bidan tidak hanya sebagai pelaksana klinis, tetapi juga pendidik dan advokat dalam sistem kesehatan.

Sementara itu, Prof. Dr. Mufdilah, S.Pd., S.SiT., M.Sc membahas etika profesi sebagai pilar kepercayaan dan kualitas layanan. Bidan unggul harus memiliki kompetensi, empati, integritas, serta kemampuan kolaborasi lintas profesi. Etika menjadi pondasi dalam menghadapi berbagai tantangan seperti dokumentasi, legalitas praktik, dan tekanan sosial budaya. Beliau menegaskan bahwa profesionalisme harus dijaga melalui pendidikan berkelanjutan, refleksi diri, dan keterlibatan dalam pengembangan ilmu.

Materi terakhir oleh Dr. Indra Supradewi, SKM, MKM membahas implementasi SOP sebagai alat penting dalam menjaga mutu pelayanan kebidanan. SOP tidak hanya berfungsi sebagai dokumen formal tetapi juga panduan teknis yang wajib dipahami dan dilaksanakan secara konsisten. Pelaksanaan SOP yang baik harus dilandasi kedisiplinan, kesadaran, dan evaluasi berkala. Dalam konteks praktik, SOP juga menjadi pegangan penting dalam menghadapi kondisi darurat dan penanganan rujukan.

Lima materi yang disampaikan dalam webinar ini saling melengkapi dan membentuk benang merah yang kuat. Semua bermuara pada satu tujuan utama, yakni memperkuat profesionalisme bidan dalam menjalankan pelayanan yang bermutu tinggi. Webinar ini tidak hanya sebagai sarana transfer ilmu tetapi juga refleksi kolektif untuk menumbuhkan semangat belajar dan beradaptasi di tengah perubahan sistem kesehatan. Seri webinar ini akan berlanjut pada sesi 2 dan 3. Bidan di Indonesia diharapkan semakin mampu dalam memperkuat identitas profesionalisme, menjaga mutu pelayanan, dan tetap setia pada panggilan mulia profesinya.

Reporter:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz (PKMK UGM)

Webinar 2: Peningkatan Kualitas Pelayanan Kebidanan

Kamis, 7 Agustus 2025   |   13.00 – 16.00 WIB

No.

Judul Materi

Narasumber

Ruang lingkup materi

1

Penerapan Indikator Kinerja (Performance Indicator) dalam Praktik Kebidanan

Juli Oktalia, SST, MA – Kolegium Kebidanan

Prinsip dasar hingga praktik penggunaan indikator untuk evaluasi kinerja bidan dan layanan yang diberikan

 2

Pengenalan dan Praktik Diskusi Refleksi Kasus (DRK): Kasus Umum dalam Pelayanan Kebidanan

dr. Arida Oetami, MKes

Pendekatan reflektif dengan DRK berbasis kasus nyata untuk melatih kemampuan analisis dan pengambilan keputusan

 3

Sistem Monitoring dan Evaluasi (MONEV) Kinerja dalam Praktik Kebidanan

Prof. Dr. Mufdlillah, S.Pd.,S.SiT., M.Sc

Teknik penyusunan, implementasi, dan pelaporan MONEV untuk mendukung perbaikan berkelanjutan dalam praktik kebidanan

 4

Model Pelayanan Bidan Berkualitas melalui “Bidan Delima”

Endang Sundari, SST., MKM

Studi model praktik kebidanan berbasis mutu, standar layanan, dan citra profesionalisme yang telah diakui secara nasional

 

Reportase Kegiatan

Seri Webinar Nasional kembali digelar oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM. Pada seri kedua ini, tema yang diangkat adalah “Peningkatan Kualitas Pelayanan Kebidanan” dengan menghadirkan empat narasumber dari institusi akademik dan organisasi profesi kebidanan. Monita Destiwi, SKM, M.A., berperan sebagai moderator dalam webinar kali ini, membuka dan memandu jalannya webinar, serta menekankan urgensi peningkatan kualitas pelayanan kebidanan sejalan dengan standar profesi, kebutuhan masyarakat, dan penguatan mutu layanan kesehatan ibu dan anak.

Narasumber pertama yaitu Juli Oktalia, SST, MA, Ketua Bidang Pengembangan Kompetensi Kolegium Kebidanan, yang menyampaikan materi berjudul Penerapan Indikator Kinerja dalam Praktik Kebidanan. Juli menekankan pentingnya indikator kinerja sebagai bentuk akuntabilitas praktik kebidanan. Indikator dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif, dengan tujuan memastikan akurasi intervensi dan mutu layanan. Tantangan utama penerapan indikator kinerja dalam praktik kebidanan adalah beban dokumentasi dan kurangnya umpan balik. Narasumber menekankan pentingnya penyusunan indikator yang sederhana, relevan dengan praktik, dan mencontohkan penggunaan prinsip SMART–Specific (Spesifik), Measurable (Terukur), Achievable (Dapat Dicapai), Relevant (Relevan), dan Time-bound (Batas Waktu).

Materi kedua, Pengenalan dan Praktik Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dalam Pelayanan Kebidanan, disampaikan oleh dr. Arida Oetami, MKes, Kepala Divisi Pelatihan PKMK FK-KMK UGM. Arida memaparkan peran metode Diskusi Refleksi Kasus (DRK) sebagai sarana pembelajaran kolektif antar bidan. DRK memungkinkan bidan untuk merefleksikan pengalaman praktik, baik yang berhasil maupun yang belum optimal, melalui diskusi kelompok kecil (5-7 orang). Langkah-langkah DRK mencakup identifikasi kasus, analisis faktor penyebab, serta refleksi terhadap standar yang ada. DRK diyakini efektif untuk meningkatkan mutu layanan secara berkelanjutan.

Prof. Dr. Mufdlilah, S.Pd.,S.SiT., MSc, Guru Besar Ilmu Kebidanan UNISA Yogyakarta, menyampaikan materi ketiga yang membahas Sistem Monitoring dan Evaluasi (MONEV) Kinerja dalam Praktik Kebidanan. Mufdlilah menjelaskan peran monitoring dan evaluasi (monev) sebagai instrumen utama untuk menjamin kualitas, efektivitas, efisiensi, dan keberlanjutan pelayanan kebidanan. Tujuan utama dari monev adalah memastikan pencapaian indikator KIA, mengidentifikasi kendala, serta memberikan rekomendasi perbaikan untuk meningkatkan mutu layanan dan penguatan layanan. Pihaknya menegaskan bahwa monev perlu diposisikan sebagai forum refleksi kinerja, bukan sekedar pengawasan, sehingga menciptakan budaya belajar di kalangan bidan.

Materi terakhir disampaikan oleh Endang Sundari, SST, MKM, selaku General Manager Bidan Delima Pusat. Bu Endang memaparkan materi dengan topik Model Pelayanan Bidan Berkualitas melalui “Bidan Delima”. Bu Endang memperkenalkan Bidan Delima sebagai program unggulan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) untuk memastikan pelayanan kebidanan bermutu dan sesuai standar. Program ini mengintegrasikan peningkatan kompetensi bidan, sistem monitoring, serta branding praktik mandiri bidan. Selain itu, aplikasi Odelia diluncurkan dengan modul Tele-Bidan, Tele-Konsul, dan Tele-Delima untuk mendukung digitalisasi praktik kebidanan. Hingga kini terdapat sekitar 9.000 tempat praktik mandiri bidan (TPMB) yang sudah terdaftar dalam sistem Odelia.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan beragam pertanyaan peserta untuk semua narasumber, di antaranya terkait strategi agar indikator kinerja tidak menjadi beban administrasi semata, upaya mengatasi hambatan dalam pelaksanaan DRK, mekanisme monitoring dan evaluasi, dan bagaimana membangun budaya reflektif agar Monev tidak hanya dianggap sebagai pengawasan. Webinar ditutup dengan kesimpulan bahwa peningkatan kualitas pelayanan kebidanan membutuhkan sinergi indikator kinerja, refleksi praktik, monitoring-evaluasi, dan program berbasis standar seperti Bidan Delima. Bidan yang unggul bukan hanya terampil secara teknis, tetapi juga peduli, reflektif, dan terus belajar.

Reporter: dr. Aulia Shafira, MPH (Divisi Manajemen Mutu, PKMK UGM)

Webinar 3: Keselamatan Pasien dan Manajemen Risiko dalam Praktik Kebidanan

Kamis, 21 Agustus 2025   |   13.00 – 16.00 WIB

No.

Judul Materi

Narasumber

Ruang lingkup materi

1

Sistem Rujukan dalam Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (dalam konfirmasi)

Mekanisme, prinsip, tantangan, dan batasan dalam rujukan pelayanan kebidanan

 2

Manajemen Risiko dan Keselamatan Pasien dalam Pelayanan Kebidanan

Dr. Heni Puji Wahyuningsih, S.SiT., M.Keb

Strategi mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko klinis untuk mencegah insiden keselamatan pasien

 3

Peningkatan Daya Saing
Profesi Bidan

dr. M. Hardhantyo P.W., MPH., PhD

Penguatan kompetensi dan inovasi untuk menjawab tantangan dalam konteks profesi bidan

 4

Peningkatan Komunikasi Efektif dan Kolaborasi Multidisiplin dalam Tim Kesehatan

Sri Nenggih Wahyuni, S.IP., MA

Teknik membangun kemampuan komunikasi efektif dan koordinasi efektif
antarprofesi untuk meningkatkan kualitas layanan

 5

Strategi Penanganan
Komplain dalam Praktik
Kebidanan

Nunik Endang Sunarsih, S.ST,. SH,.MS.c

Cara efektif dan profesional dalam merespon dan menangani keluhan pasien untuk menjaga reputasi layanan

 

Reportase Kegiatan

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan webinar bertajuk “Keselamatan Pasien dan Manajemen Risiko dalam Praktik Kebidanan” pada Kamis (21/08/2025). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh bidan, akademisi, serta mahasiswa. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan melalui penguatan kemampuan manajemen kinerja, kompetensi, serta kapasitas bidan dalam memberikan layanan yang aman dan bermutu.

21ags 1Sesi pertama menghadirkan Arida Oetami, M.Kes yang membahas sistem rujukan pelayanan kesehatan perseorangan. Dengan moderator Tri Yatmi, diskusi menyoroti perbedaan sistem rujukan lama tahun 2012 dengan regulasi baru melalui PMK Nomor 16 Tahun 2024. Sistem ini menekankan pentingnya rujukan berbasis kebutuhan medis pasien, kemampuan fasilitas kesehatan, jarak dan waktu tempuh, serta keselamatan, bukan lagi pertimbangan biaya. Arida menjelaskan bahwa rujukan kini menggunakan sistem elektronik terintegrasi yang memuat identitas pasien, fasilitas asal dan tujuan, rekam medis, serta alasan rujukan. Pihaknya menambahkan bahwa pemerintah pusat dan daerah memiliki tanggung jawab dalam pembinaan, pengawasan, dan evaluasi pelaksanaan sistem rujukan. Dengan diterapkannya PMK Nomor 16 Tahun 2024, diharapkan pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien, tepat sasaran, dan aman bagi pasien.

21ags 2Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Heni Puji Wahyuningsih, S.SiT., M.Keb, Ketua PD IBI Yogyakarta, yang menekankan pentingnya manajemen risiko dan keselamatan pasien dalam praktik kebidanan. Ia menjelaskan bahwa setiap fasilitas kesehatan, baik rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun praktik mandiri, memiliki potensi risiko yang harus diidentifikasi, dianalisis, dan dimitigasi. Manajemen risiko, menurut Heni, tidak hanya melindungi pasien, tetapi juga tenaga kesehatan dan institusi. Ia menyoroti hubungan erat manajemen risiko dengan keselamatan pasien, khususnya dalam mencegah kesalahan medis, mengurangi biaya akibat insiden, serta meningkatkan kualitas layanan. Mengutip data WHO, Heni menegaskan bahwa kesalahan pelayanan kesehatan masih menjadi faktor signifikan kematian pasien, sehingga manajemen risiko harus diinternalisasi sebagai budaya kerja sehari-hari di fasilitas kesehatan.

21ags 3Paparan ketiga disampaikan oleh dr. M. Hardhantyo P.W., MPH., Ph.D., Kepala Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM, yang menguraikan penerapan Total Quality Management (TQM) dalam praktik kebidanan. Ia menjelaskan bahwa pelayanan kebidanan harus unggul, aman, responsif, dan berbasis data. Delapan prinsip TQM, seperti mendengarkan suara konsumen, keterlibatan tim, perbaikan berkelanjutan, hingga pengambilan keputusan berbasis data, dapat menjadi pedoman untuk meningkatkan mutu. Hardhantyo mencontohkan inovasi pelayanan, seperti tele-laktasi untuk mendampingi ibu menyusui atau sistem pengingat berbasis WhatsApp untuk perawatan pasca operasi. Menurutnya, refleksi kasus juga perlu dilakukan sebagai pembelajaran bersama, bukan untuk mencari kesalahan individu, melainkan memperbaiki proses pelayanan secara konsisten.

21ags 4Selanjutnya, Sri Nenggih Wahyuni, S.IP., MA menyampaikan materi tentang pentingnya komunikasi efektif dalam pelayanan kesehatan. Ia menegaskan bahwa komunikasi adalah kunci membangun kepercayaan antara tenaga kesehatan dengan pasien maupun antar profesi di fasilitas layanan. Komunikasi yang efektif harus bersifat dua arah, disertai empati, keterbukaan, serta sikap suportif. Nenggih juga menekankan pentingnya memperhatikan aspek nonverbal seperti sikap tubuh, ekspresi wajah, dan penampilan yang dapat mempengaruhi kesan pasien. Ia mengingatkan bahwa komunikasi kolaboratif antar profesi sangat penting untuk menghindari ego sektoral dan memastikan koordinasi yang baik.

21ags 5Nunik Endang Sunarsih, S.ST., S.H., M.Sc, Ketua I PP IBI, yang menjadi pembicara terakhir membawakan materi tentang “Strategi Penanganan Komplain dalam Praktik Kebidanan”. Ia menegaskan bahwa bidan harus bekerja sesuai aturan hukum, termasuk Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 dan PP Nomor 28 Tahun 2024. Nunik menyampaikan bahwa komplain pasien seringkali berakar pada kegagalan komunikasi, sehingga metode standar seperti SBAR dan closed-loop communication perlu diterapkan. Ia menjelaskan strategi penanganan komplain yang meliputi mendengarkan dengan empati, menyampaikan terima kasih, meminta maaf, menawarkan solusi, hingga menindaklanjuti hasilnya. Menurutnya, komplain bukan hambatan, melainkan peluang untuk memperbaiki mutu layanan kebidanan.

Webinar ini menegaskan bahwa keselamatan pasien, manajemen risiko, mutu layanan, komunikasi efektif, dan penanganan komplain merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam praktik kebidanan. Melalui penguatan kompetensi bidan di berbagai aspek tersebut, diharapkan pelayanan kebidanan di Indonesia dapat semakin berkualitas, aman, dan berorientasi pada kepuasan pasien.

Reporter: Indra Komala R.N. M.P.H.

Biaya Kepesertaan

  • 1 webinar Rp 100.000/peserta
  • 3 webinar Rp 250.000/peserta

Kesetaraan Kesehatan Perempuan, Hak Dasar yang Masih Sulit Dipenuhi

Perempuan telah menorehkan banyak prestasi di berbagai bidang, mulai dari politik, sains, olahraga, hingga dunia bisnis, menunjukkan bahwa mereka memiliki kapasitas dan kontribusi besar bagi masyarakat. Namun, di balik pencapaian tersebut, masih ada kesenjangan kesetaraan yang nyata di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam akses terhadap hak-hak dasar kesehatan.

Continue reading

Tinjauan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pengalaman Kenyamanan Pasien di Rumah Sakit

Kenyamanan pasien mengacu pada rasa bahagia, rileks, dan puas yang dialami pasien selama menjalani perawatan medis. Hal ini sangat penting dalam perawatan kesehatan karena sangat mempengaruhi kesejahteraan pasien dan persepsi mereka terhadap keseluruhan proses, yang mengarah pada pemulihan yang lebih cepat dan hasil kesehatan yang lebih baik. Kualitas udara dalam ruangan (IAQ), aliran udara, dan sistem ventilasi merupakan faktor yang berdampak signifikan pada lingkungan fisik rumah sakit, sehingga memengaruhi kenyamanan pasien. Selain itu, lingkungan sosial dan humanistik rumah sakit sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti perawatan dan pola makan, privasi, dan komunikasi. Dengan menciptakan lingkungan yang rileks dan menyenangkan, kekhawatiran dan kecemasan dapat dikurangi serta pengalaman yang positif dan nyaman dapat diberikan.

Menghormati privasi pasien dan memastikan ruang pribadi yang memadai sangat penting untuk kenyamanan mereka. Komunikasi yang jelas dan empatik dari profesional perawatan kesehatan, termasuk penjelasan yang transparan tentang prosedur medis, diagnosis, dan pilihan pengobatan, membantu pasien merasa lebih nyaman dan memegang kendali atas perjalanan perawatan kesehatan mereka. Mendorong interaksi sosial yang positif di antara pasien dan dengan staf perawatan kesehatan dapat menciptakan rasa kebersamaan dan mengurangi perasaan terisolasi. Selain itu, menyediakan perawatan berkualitas tinggi dapat memenuhi kebutuhan emosional dan psikologis pasien, yang perlu difokuskan pada pengalaman kenyamanan pasien dan mengambil tindakan untuk mengatasi masalah atau isu apa pun. Lebih jauh lagi, tempat duduk yang tepat, toilet yang bersih, dan makanan bergizi sangat penting untuk kenyamanan pasien. Memastikan kebutuhan mendasar ini membantu pasien merasa diperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan umum mereka. Dengan menganalisis literatur yang relevan, penelitian ini akan mengidentifikasi faktor-faktor utama yang berkontribusi atau menghambat kenyamanan pasien.

Memenuhi kebutuhan kenyamanan pasien dapat membantu mengurangi kecemasan dan stres pasien, sehingga mempercepat pemulihan pasien. Selain itu, suasana yang santai di rumah sakit membantu pasien merasa tenang, mengurangi kecemasan dan stres, mencegah reaksi fisiologis, dan memenuhi persyaratan serta harapan keluarga pasien dan pengunjung rumah sakit, yang pada akhirnya meningkatkan kenyamanan pasien.

Studi yang dilakukan oleh Tian, Yu (2023), menganalisis 913 artikel dengan topik kenyamanan pasien dari tahun 1977 hingga 2023. Faktor yang mempengaruhi kenyamanan pasien di rumah sakit, yakni:

Faktor lingkungan fisik

  1. Kualitas udara ruangan
    Kualitas udara di bangsal rumah sakit dapat terpengaruh secara negatif oleh berbagai polutan umum. Penggunaan gas, penanganan peralatan, dan pemotongan jaringan selama operasi pembedahan dapat menghasilkan partikel. Selain itu, risiko infeksi pasien dapat dipengaruhi oleh produksi bioaerosol oleh personel bedah dan penempatan komponen yang tidak tepat dalam sistem ventilasi. Perlu dicatat bahwa bakteri atau virus yang menempel pada permukaan partikel dapat menurunkan kualitas udara, yang selanjutnya menyebabkan partikel tersebut menjadi infeksius.

    Keberadaan partikel di udara dapat mempengaruhi kesehatan pernapasan pasien secara signifikan. Angka kejadian dan kematian penyakit jantung meningkat saat orang terpapar partikel. Pasien yang mengalami asma atau gejala alergi pernapasan lebih terpengaruh oleh hubungan ini. Partikel di udara, seperti debu, serbuk sari, atau alergen lainnya, dapat mengiritasi saluran pernapasan, menyebabkan ketidaknyamanan, batuk, atau kesulitan bernapas. Penggunaan disinfektan yang berlebihan seperti alkohol, hidrogen peroksida, atau pemutih menunjukkan hubungan dengan kerusakan saluran pernapasan dan peningkatan risiko terkena dan mengobati asma.

    Kontaminasi biologis di bangsal rumah sakit mencakup berbagai mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, dan patogen lainnya, yang dapat hidup di udara. Risiko infeksi meningkat secara signifikan di bangsal rumah sakit tertentu tempat mikroorganisme ini tersebar luas, khususnya di bangsal hematologi/onkologi, bangsal ortopedi, bangsal bedah, unit perawatan intensif neonatal (NICU), dan unit perawatan intensif lainnya. Mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi rumah sakit, yang dapat bertahan hidup pada pasien, pengunjung, atau profesional perawatan kesehatan dan menimbulkan risiko infeksi yang tinggi pada pasien yang rentan. Selain itu, peralatan medis, bahan pembersih, dan sumber lainnya dapat melepaskan polutan kimia seperti patogen di udara atau bahan kimia beracun lainnya.

Faktor lingkungan sosial

  1. Perawatan dan diet
    Manajemen nyeri yang efektif dapat membantu meringankan ketidaknyamanan ini dan meningkatkan pengembangan diri serta pengalaman tidur pasien. Selain itu, kualitas perawatan yang diterima pasien di rumah sakit juga dapat memengaruhi pengalaman kenyamanan mereka. Dalam hal pola makan, rejimen pengobatan dan pantangan makanan memengaruhi kehidupan pasien, pola makan pasien memainkan peran penting dalam kenyamanan dan kepuasan mereka secara keseluruhan terkait makanan dan nutrisi.
  2. Privasi dan komunikasi
    Pasien mungkin merasa rentan secara internal selama dirawat di rumah sakit, jadi memastikan privasi dan kerahasiaan mereka dihormati sangatlah penting. Saleem dkk. melakukan wawancara terstruktur dengan 571 pasien di ruang gawat darurat. Studi tersebut menemukan bahwa 10% pasien akan menolak pemeriksaan fisik karena masalah privasi, terutama di lingkungan akut dengan tingkat kejadian dan kematian yang tinggi yang sangat penting untuk diperhatikan. Menutup tirai dan pintu selama pemeriksaan atau operasi dapat membuat pasien merasa lebih nyaman.

    Dalam aspek komunikasi, pasien dapat memperoleh dukungan emosional melalui layanan konsultasi atau metode komunikasi lainnya, yang dapat membantu mencapai pengalaman yang sangat nyaman. Dengan memanfaatkan umpan balik pasien dan memenuhi preferensi mereka sebagai strategi manajemen lingkungan, rumah sakit dapat menciptakan pengalaman yang nyaman bagi pasien.

Selengkapnya dapat diakses di:

https://jhpn.biomedcentral.com/articles/10.1186/s41043-023-00465-4#ref-CR54

 

 

Reportase Pelatihan Optimalisasi Tim Casemix & Tim Kendali Mutu Kendali Biaya Teknis Rumah Sakit untuk Peningkatan Mutu Klaim dan Klinis

eva25Penyebab kematian terbanyak bukan karena akses, namun karena pelayanan yang tidak bermutu. Pelayanan yang tidak bermutu dapat disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya pembiayaan. Sejak 2014, muncul kurang baiknya implementasi JKN. Isu yang tidak pernah lepas dibahas hingga saat ini tentang klaim pending atau BPJS Kesehatan yang tidak membayar klaim rumah sakit dengan berbagai alasan seperti tidak lengkapnya dokumen administrasi. Permasalahan ini menyebabkan timbulnya revisi pada regulasi yang ada yaitu UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023, disebutkan bahwa tenaga medis dan tenaga kesehatan wajib menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya dengan cara audit pelayanan kesehatan. Sehingga, kinerja Tim Kendali Mutu Kendali Biaya (TKMKB) teknis yang berhubungan erat dengan tim casemix memerlukan pelatihan khusus agar mutu klaim dan klinis dapat meningkat.

Pada Kamis dan Jumat (10 – 11 Maret 2025) Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan workshop dengan topik “Optimalisasi Tim Casemix & Tim Kendali Mutu Kendali Biaya Teknis Rumah Sakit untuk Peningkatan Mutu Klaim dan Klinis” yang diisi oleh narasumber dr. Endang Suparniati, M. Kes yang pernah menjabat sebagai Kepala Instalasi Penjaminan di RSUP Dr. Sardjito dan Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH, CPCC yang merupakan peneliti di Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (PKMK FK-KMK) UGM. Workshop ini dipandu oleh moderator yaitu dr. Opi Sritanjung ini diikuti peserta melalui Zoom dan live streaming Youtube.

Materi hari pertama yaitu “Koding ICD-9 dan ICD-10” yang memaparkan tentang teknik menentukan ICD-9 dan ICD-10 berdasarkan diagnosis, intervensi medis yang dilakukan, perjalanan suatu penyakit, dan cara penulisan koding yang baik dan benar agar mudah diidentifikasi. dr. Endang menjelaskan bahwa kesalahan dari koding yang tampak tidak berdampak besar dapat menimbulkan selisih klaim yang cukup signifikan. Contoh penulisan koding dan cara mencari koding dengan spesifik yakni dengan identifikasi tipe pertanyaan, menentukan lead term, mencari kata di volume 3 dari buku ICD-10, membaca tiap catatan, mengikuti petunjuk rujukan silang, cek ketepatan koding di volume 1, membaca inclusion atau exclusion, dan terakhir menentukan kode.

Hari kedua diisi dengan materi bersubjudul “Cara Melakukan Kendali Mutu dan Kendali Biaya oleh TKMKB Teknis”. Materi pertama mengenalkan klaim pending yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti ketidaktepatan coding dan resume medis tidak lengkap. Audit klinis dengan penerapan Panduan Praktik Klinis yang dilakukan melalui alur klinis (clinical pathways) juga dibahas secara rinci. Sesi ini membahas mengenai audit klinis dengan menerapkan clinical pathway di tiap rumah sakit. Alur klinis dapat digunakan sebagai standar pelayanan yang bermanfaat untuk menurunkan lama rawat inap, meningkatkan luaran klinis, menurunkan biaya perawatan dan manfaat lainnya.

Peserta sangat antusias di setiap sesi diskusi. Peserta juga banyak memberikan pertanyaan terkait clinical pathway dan juga mengenai cara koding yang baik dan benar dalam beberapa kasus diagnosis. Peserta membagikan pengalamannya juga mengenai pembuatan clinical pathways baru, pembentukan tim audit, hingga proses koding yang terkadang masih dianggap salah, sehingga dikoreksi bersama saat diskusi. dr. Endang dan Eva menekankan kerjasama dan koordinasi tim untuk memaksimalkan luaran dari klaim dan audit.

Reporter:
dr. Opi Sritanjung (Divisi Manajemen Mutu, PKMK UGM)

 

 

Keamanan Pangan: Prioritas Kesehatan Masyarakat

Makanan yang aman dan bergizi dalam jumlah yang cukup sangat penting untuk mendukung kehidupan dan meningkatkan kesehatan. Namun, makanan juga bisa menjadi tempat berkembang biaknya mikroba, dan jika terkontaminasi, dapat menyebarkan bakteri, virus, parasit, serta prion yang menyebabkan keracunan makanan. Selain itu, makanan sering kali tercemar bahan kimia beracun yang ada secara alami atau terkontaminasi secara tidak sengaja atau sengaja, yang juga dapat membahayakan.

Makanan yang tidak aman yang mengandung mikroorganisme patogen dan bahan kimia beracun dapat menyebabkan lebih dari 200 jenis penyakit, mulai dari diare hingga kanker. Penyakit diare yang ditularkan melalui makanan dan air menyebabkan sekitar 2 juta kematian setiap tahunnya di seluruh dunia, termasuk banyak anak-anak. Jika penyakit yang ditularkan melalui makanan bisa dikurangi sebesar 10%, diperkirakan 5 juta jiwa dapat diselamatkan. Hampir semua jenis makanan dapat menjadi sumber penyebaran penyakit. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mencatat 1.565 wabah yang disebabkan oleh satu jenis komoditas makanan antara 2003 dan 2008.

Kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap risiko kesehatan akibat makanan adalah mereka yang berada dalam kondisi miskin. Selain berdampak buruk pada kesehatan masyarakat, penyakit yang ditularkan melalui makanan juga memberikan dampak negatif pada ekonomi individu, keluarga, komunitas, dan negara.
Wabah penyakit yang disebabkan oleh makanan telah terjadi di seluruh dunia dalam dekade terakhir, menunjukkan betapa pentingnya masalah ini dalam kesehatan masyarakat. Meskipun penyakit bawaan makanan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat luas, hanya sekitar 10%, atau bahkan kadang-kadang hanya 1%, dari kejadian penyakit bawaan makanan yang sebenarnya tercatat dan dilaporkan.Faktor-faktor yang memainkan peran penting dalam epidemiologi penyakit bawaan makanan yang muncul meliputi yang berikut ini:

  1. Perubahan patogen: Adaptasi mikroba melalui seleksi alam;
  2. Pengembangan: Pengenalan makanan baru melalui rantai makanan yang lebih panjang dan lebih kompleks, meningkatkan peluang kontaminasi;
  3. Kemiskinan dan polusi: Kurangnya fasilitas persiapan makanan yang aman;
  4. Kebiasaan makan: Praktik diet untuk makanan mentah atau berbahaya;
  5. Perjalanan dan migrasi: Pelancong dapat dengan cepat menyebarkan penyakit ke lingkungan yang baru dan jauh; Perdagangan makanan, pakan ternak, dan hewan: Pergerakan cepat makanan yang berasal dari tumbuhan dan hewan berkontribusi terhadap penyebaran penyakit bawaan makanan ke daerah-daerah baru;
  6. Kendaraan penularan makanan baru: Perhatian yang semakin meningkat difokuskan pada buah-buahan dan sayuran.

Deteksi organisme patogen membutuhkan fasilitas laboratorium dan tenaga ahli yang terlatih. Namun, banyak bahan kimia berbahaya yang sering ditemukan sebagai kontaminan dalam makanan dapat dideteksi menggunakan metode sederhana, bahkan dengan alat uji tertentu. Banyak zat kimia (pengotor) yang dilarang ditambahkan dalam makanan sengaja digunakan oleh pedagang yang tidak jujur untuk meraih keuntungan cepat, meskipun terkadang zat-zat ini juga bisa tercampur secara tidak sengaja. Makanan yang sering terkontaminasi meliputi susu dan produk olahannya, tepung, minyak nabati, sereal, bumbu, kacang, kopi, teh, permen, baking powder, minuman nonalkohol, cuka, tepung gram, kari, sayuran, dan ikan.

Namun, hal terpenting adalah memastikan makanan yang aman bagi konsumen. Untuk mencapai hal tersebut, perlu ada kolaborasi yang kuat antara sektor kesehatan masyarakat dengan sektor terkait lainnya, khususnya pertanian dan kesehatan hewan, guna memastikan kerjasama yang efektif. Berbagai langkah telah diambil untuk melindungi konsumen dari makanan yang tidak aman. Salah satunya adalah ISO 22000, standar yang dikembangkan oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) yang fokus pada keamanan pangan. Standar internasional ini menetapkan persyaratan untuk sistem manajemen keamanan pangan yang meliputi komunikasi interaktif, manajemen sistem, program prasyarat, dan prinsip-prinsip Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).

Penggunaan bahan kimia pengotor dalam makanan tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan. Namun, bahan kimia ini seringkali sulit dideteksi hanya dengan inspeksi visual. Untuk mengatasi masalah ini dan meningkatkan kesadaran, Otoritas Keamanan dan Standar Pangan India telah mengembangkan manual berjudul “Uji Cepat untuk Beberapa Bahan Kimia Pengotor dalam Makanan” untuk melindungi rumah tangga, industri kecil, dan masyarakat umum dari pemalsuan makanan.

Namun, untuk memberikan dampak yang lebih besar, WHO pada tahun 2010 telah memulai rencana strategis untuk mengambil tindakan terhadap isu-isu prioritas di bidang keamanan pangan dan zoonosis bawaan makanan untuk periode 2013-2022. Cakupan rencana tersebut meliputi keamanan pangan dalam semua percabangannya, yang meliputi pendekatan pertanian-ke-meja dan penyakit zoonosis bawaan makanan. Rencana tersebut dikembangkan melalui kerja sama dengan para ahli keamanan pangan di tingkat global, regional, dan negara (WHO). Komponen utama dari rencana strategis tersebut adalah:

  1. Pengambilan keputusan berbasis sains yang menyediakan dasar ilmiah untuk langkah-langkah di sepanjang seluruh rantai pangan untuk mengurangi risiko kesehatan bawaan makanan,
  2. Kolaborasi lintas sektoral dengan tujuan untuk meningkatkan kolaborasi lintas sektoral internasional dan nasional serta peningkatan komunikasi dan advokasi, dan
  3. Kepemimpinan dan bantuan teknis untuk menyediakan kepemimpinan dan membantu dalam pengembangan dan penguatan sistem nasional terintegrasi berbasis risiko untuk keamanan pangan.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9850283/