BETHESDA, Md., Oct. 19, 2017 /PRNewswire/ — Quality Care Properties, Inc. (NYSE: QCP) (“QCP” or the “Company”) announced today that it has agreed with HCR ManorCare, Inc. and HCR III Healthcare, LLC, the Company’s principal tenant
Gubsu Minta Faskes Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan
MEDAN – Gubernur Sumatera Utara, HT Erry Nuradi meminta agar fasilitas kesehatan (Faskes) dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan tindakan kuratif.
Penyusunan Kebijakan dan Strategi Nasional untuk Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan: Workshop Identifikasi dan Engagement Stakeholder
Kerangka Acuan
Penyusunan Kebijakan dan Strategi Nasional untuk Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan: Workshop Identifikasi dan Engagement Stakeholder
Kerjasama antara Kementerian Kesehatan RI dengan
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM dan WHO Indonesia
Jakarta, 23-24 Oktober 2017
![]()
Latar Belakang
Mutu dan keamanan pasien sangat penting dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat secara global sehingga berbagai upaya peningkatan mutu terus dilakukan melalui berbagai macam inisiatif. Pelaksanaan Universal Health Coverage (Jaminan Kesehatan Semesta) yang bertujuan untuk secara signifikan mengurangi hambatan akses pelayanan kesehatan di banyak negara juga tidak dapat mencapai targetnya tanpa memastikan mutu layanan yang diberikan. Dengan kata lain, mutu merupakan syarat utama bagi keberhasilan Universal Health Coverage (Jaminan Kesehatan Semesta) dan lebih lanjutnya bertujuan untuk mencapai Sustainable Development Goals.
Indonesia telah mengalami perjalanan panjang dalam pengembangan dan peningkatan mutu. Berbagai upaya peningkatan mutu diselenggarakan oleh berbagai bagian di Kementerian Kesehatan dan melibatkan pemangku kepentingan lainnya. Dengan didirikannya Direktorat Mutu dan Akreditasi Kesehatan pada tahun 2016, ada kebutuhan dan kesempatan emas untuk mendokumentasikan kebijakan dan strategi yang telah dilakukan dan menyusun NQPS sebagai pedoman kedepan dalam upaya peningkatan mutu.
Departement of Service Delivery and Safety (SDS) WHO belum lama ini mengeluarkan draf awal Pedoman Pengembangan Kebijakan dan Strategi Mutu Nasional (National Quality Policy and Strategi) untuk pelayanan kesehatan, dan telah mulai bekerja sama dengan berbagai negara untuk menyusun NQPS dimasing-masing negara.
Tujuan
Workshop ini bertujuan untuk:
- Melakukan identifikasi stakeholders yang relevan dalam penyusunan NQPS
- Menilai peran dan pengaruh masing-masing stakeholders dalam penyusunan NQPS
- Menetapkan bentuk pendekatan untuk engagement masing-masing stakeholders dalam dalam penyusunan NQPS
Peserta
Akan terdiri dari perwakilan dari:
- Kementerian Kesehatan RI (Direktorat Mutu dan Akreditasi, Direktorat Yankes Rujukan, Direktorat Yankes Dasar, Direktorat P2MPL, Balitbangkes, BPPSDM)
- Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta
- Organisasi professional (IDI, PDGI, PPNI, IBI, Permapkin, PDMMI)
- Asosiasi Rumah sakit dan layanan kesehatan (PERSI, ARSADA, ARSSI, ARVI)
- Lembaga Akreditasi Fasyankes (KARS dan Komisi Akreditasi FKTP)
- BPJS (Kantor Pusat, Kantor Regional, Kantor Cabang)
- NGO kesehatan (Yayasan Orangtua Peduli, Komunitas Peduli Skizofrenia)
Fasilitator
- Prof. dr. Adi Utarini MSc, MPH, PhD
- dr. Hanevi Djasri MARS
- dr. Novika Handayani
- Oom Komariah, MPH
Metode
Tim Fasilitator akan memaparkan tentang proses penyusunan NQPS sesuai yang disarankan oleh WHO (gambar 1). Stakeholders akan diajak berdiskusi mengenai tujuan dan prioritas kesehatan di Indonesia berkaitan dengan mutu pelayanan kesehatan serta definisi mutu di Indonesia yang didapat dari berbagai regulasi yang telah ada.

Selanjutnya, stakeholders akan dibagi dalam kelompok berdasarkan perannya di bidang kesehatan (regulator, provider, asuransi kesehatan, organisasi profesional, NGO) untuk melakukan Focused Group Discussions (FGD). Hasil diskusi diharapakan dapat berupa Stakeholder Mapping dan Engagement Plan dalam pengembangan NQPS.
Tanggal dan Tempat Acara
Hari/tanggal : Senin-Selasa tanggal 23-24 Oktober 2017
Jam : 09:00-16:00
Tempat : Hotel Ibis Slipi, Jakarta
Jadwal Acara
| Waktu | Kegiatan | Fasilitator/Narasumber |
| Hari I | ||
| 09:00-09:30 | Pembukaan: Tujuan dan Target Kementerian Kesehatan Dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan | Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI |
| 09:30-10:00 |
Pengantar: Pedoman WHO dalam Penyusunan NQPS |
|
| 10:00-10:15 | Diskusi | |
| 10:15-10:30 | Coffee break | |
| 10:30-11:15 |
Tahap dan Proses Penyusunan NQPS |
Adi Utarini |
| 11:15-12:00 |
Hasil Telaah Regulasi tentang Keterkaitan Mutu Pelayanan Kesehatan dengan Tujuan dan Prioritas Kesehatan Nasional |
Hanevi Djasri |
| 12:00-13:00 | Lunch break | |
| 13:00-13:45 | Hasil Telaah Regulasi tentang Definisi Mutu Pelayanan Kesehatan di Indonesia | Hanevi Djasri |
| 13:45-15:30 | Diskusi | |
| 15:30-16:00 | Proses Pemetaan dan Engagement Stakeholeder dalam penyusunan NQPS | Adi Utarini |
| Hari II | ||
| 09:00-10:00 | FGD Identifikasi Stakeholder dalam penyusunan NQPS | Hanevi Djasri |
| 10:00-10:15 | Coffee break | |
| 10:15-11:15 | FGD Peran, Level dan Pendekatan Engagement Stakeholder dalam penyusunan NQPS | Hanevi Djasri |
| 11:15-12:00 | Dikusi | |
| 12:00-13:00 | Penutupan dan Lunch break | |
FOTO KEGIATAN


Development of National Quality Policy and Strategy in Indonesia: Situational Analysis
Term of Reference
Development of National Quality Policy and Strategy in Indonesia:
Situation Analysis on the State of Quality Policy and Strategy
![]()
Background
Quality and safety has been critical in delivering health services to the people globally and efforts to improve quality have been continuously implemented through different initiatives. Current implementation of Universal Health Coverage which significantly reduces barriers to accessing health care in many countries will also not be able to achieve its targets without ensuring quality of services delivered. In other words, quality access is the main requirement for the success of Universal Health Coverage, and for further achieving the global Sustainable Development Goals.
Recently, the WHO Department of Service Delivery and Safety (SDS) started initiating the development of National Quality Policy and Strategy (NQPS) and working with countries to institutionalize quality and catalyse global learning and action. The meeting was conducted in June 2017, held in WHO Headquaters Geneva and Indonesia was among the eight countries participating in the meeting.
Indonesia has had a long journey in developing quality and quality improvement. Among the initiatives are infrastructure and processes related to regulations on quality, implementation of hospital and primary health care accreditation, minimum service standards for hospital, licensing standards for health care facilities, clinical governance, patient safety and many others. The initiatives have been, however, organized by different sections within the Ministry of Health and also involved other stakeholders. With the new Directorate of Healthcare Quality and Accreditation established in year 2016, there is a need and a golden opportunity to document policies and strategies that have been undertaken on quality and quality improvement, their implementation and achievements for the purpose of developing a coordinated path toward achiving high quality of care in the context of Universal Health Coverage.
Objectives
This term of reference is written as part of the development of National Quality Policy and Strategy. In accordance with the need of the Directorate of Healthcare Quality and Accreditation, Ministry of Health, the consultant team will:
- Conduct literature review and analysis of existing documents relevant to quality policy and strategy;
- Assist in conducting the discussion on stakeholder mapping and engagement; and
- Develop the situation analysis on the quality policy and strategy up to current.
Scope of Work and Method
The consultant team will work closely and under the guidance of the Directorate of Healthcare Quality and Accreditation, Ministry of Health, to conduct the following scope of work:
1. Review of the literature and existing documents
The review will done by conducting international literatur review and Indonesian regulatory document review. Indonesian regulatory document review will be done by compiling various policies in the form of laws, governmental regulations, presidential regulations, health ministerial regulation, health ministerial decrees related with the quality of healthcare in Indonesia. Review will also including article and document report of quality and safety implementation on healthcare services. The review will use a framework suggested by WHO in Handbook for National Quality Policy and Strategy (draft for consultation)
2. Facilitating the stakeholder mapping and engagement
Stakeholder mapping will be broken down into four phases:
- Identifying: listing relevant groups, organizations, and people
- Analyzing: understanding stakeholder perspectives and relevance to the quality of healthcare
- Mapping: visualizing relationships to objectives and other stakeholders
- Prioritizing: ranking stakeholder relevance and identifying issues
Based on ranking/level stakholder, the consultant team will proposed the engagement approach for each stakeholder. Proposed engagement methods/activities will be between Partnership, Participation, Consultation, Push communications or Pull communications approach.
| Stakeholder organisation / group or individual | Engagement level | Purpose of engagement | Considerations for engagement | Proposed engagement approach |
|
|
||||
|
|
3. Developing the situational analysis
The situational analysis will likely consist of the following sections:
- Introduction:
- Global relevance
- National relevance
- Conceptual framework
- Donabedian’s framework on Quality
- Donald Berwick’s Chain for Quality Improvement
- WHO National Quality Policy and Strategy: co-defining a pathway for impact
- Situational Analysis: the context of National Development plan and the Ministry of Health strategic plan and situation analysis related to quality health care
- Epidemiological situation of quality problems
- Mapping of regulations related to quality
- Past and Current Quality Initiatives
- Management and organization of quality
- Researching quality
The consultant team will work closely with the Directorate of Healthcare Quality and Accreditation to carry out the following tasks:
- To identify, collect and analyse literature and relevant documents related to quality
- To describe and map past and existing quality regulations in consultation with the Directorate of Healthcare Quality and Accreditation, Ministry of Health and other relevant stakeholders
- To assess the current situation and progress made related to quality initiatives and achievements
- To identify enablers and constraints based on the available information
- To facilitate meetings necessary to undertake stakeholder mapping and situational analysis
- To conduct interviews with key stakeholders and policy makers
- To present the progress of this work and final document to the Directorate of Healthcare Quality and Accreditation and relevant stakeholders
- To write the progress and final reports
In order to facilitate the consultant’s activities, the Directorate of Health care Quality and Accreditation is expected to support with the following tasks:
- Give communication support (eg invitation letter) to other Directorates within the Ministry of Health and other stakeholders external to the Ministry of Health
- Facilitate access to existing documents related to quality within the Ministry of Health
- Appoint a contact person within the Directorate of Healthcare Quality and Accreditation for coordination purposes
Duration of Work
All activities within this Term of References will be completed within the period of August 7 to December 7, 2017. The final report will be delivered before Jan 15, 2017.
Timetable
| No | Activities | Month | Week |
| 1 | Review of the literature and existing documents | August – sept | 1-4 |
| 2 | Workshop: stakeholder mapping and engagement | october | 3 |
| 3 | Workshop : Situational analysis of healthcare quality in Indonesia | November | 2 |
| 4 | Writing Final report | November | 3-4 |
| 5 | Workshop: Dissemination of NQPS temporary results | December | 2 |
Reporting requirements
- Report of activities conducted and draft documents (on the stakeholder mapping and engagement and the situational analysis) will be used as the progress report and the final documents produced will be used as the final report.
- Financial report
Deliverable Product
- Executive Summary (bilingual)
- Review of literature and background documents (bilingual)
- Stakeholder mapping and engagement (bilingual)
- Situational analysis on the State of Quality in Indonesia (bilingual)
- All background documents (in original documents; will be provided as requested)
The deliverable product no 1-4 will be submitted to the Directorate of Health care Quality and Accreditation, Ministry of Health and WHO Office in Jakarta to be further processed for approval by the Ministry of Health, while document no 5 will be made available on request.
Consultant team
- Prof. dr. Adi Utarini MSc, MPH, PhD (team leader)
- dr. Hanevi Djasri MARS (co-team leader)
- dr. Novika Handayani (research assistant)
- Anastasia Noviana (project manager)
{tab title=”REFERENSI” class=”green”}
- National Quality Policy and Strategy: Driving Change for Stronger Health Systems and Improved Health Outcomes
- Survey tool to assess health systems quality improvement and patient safety initiatives
- National Quality Policy and Strategy, WHO Meeting Report
- 2015 National Healthcare Quality and Disparities Report and 5th Anniversary Update on the National Quality Strategy
{tab title=”CONTOH NQPS” class=”blue”}
- Framework for Improving Quality in our Health Service
- The Tanzania Quality Improvement Framework in Health Care 2011 – 2016
{/tabs}
Dugaan Kecurangan Program JKN, Pembayaran Klaim RS Patut Diwaspadai
Sejumlah kecurangan diduga mewarnai implementasi program Jaminan Kesehatan Nasional ( JKN) yang digulirkan pemerintah di berbagai fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit, klinik dan puskesmas.
Koordinator Divisi Kampanye Indonesia Corruption Watch (ICW) Siti Juliantari mengungkapkan bahwa pihaknya bersama dengan sejumlah organisasi masyarakat sipil di 15 provinsi se-Indonesia menemukan ada 49 kecurangan selama pemantauan pada Maret-Agustus 2017.
“Sebanyak 49 temuan kecurangan program JKN itu berpotensi menghambat efektivitas program JKN dan layanan fasilitas kesehatan,” kata Tari di hotel Grand Sahid, Jakarta, Kamis, (14/9/2017).
Dari semua temuan kecurangan yang ada, pemerintah dianggap perlu memberi perhatian lebih pada kecurangan pembayaran klaim tagihan yang diminta rumah sakit kepada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Sebab, kata Tari, pembayaran tagihan itu sangat potensial terjadi kecurangan, karena verifikasi klaim masih memiliki celah penyimpangan.
Kecurangan misalnya terjadi pada sisi konsumsi obat, frekuensi tindakan medis, atau penggunaan alkes pada dokumen klaim rumah sakit.
“Jadi meski ada tanda tangan pasien pada lembar tagihan rumah sakit, tapi verifikator BPJS Kesehatan tidak memverifikasi klaim diajukan rumah sakit pada pasien,” kata Tari.
“Inilah yang akan menjadi peluang bagi rumah sakit untuk melakukan mark up konsumsi obat dan alat kesehatan serta tindakan medis,” tutur dia.
(Baca juga: Bermitra atau Tidak dengan BPJS, RS Wajib Layani Pasien Darurat)
Temuan kecurangan tersebut diklasifikasikan sesuai dengan Peraturan Menkes Nomor 36 Tahun 2015.
Antara lain, memalsukan status kepesertaan untuk memperoleh pelayanan kesehatan, memanfaatkan haknya untuk pelayanan yang tidak perlu dengan cara memalsukan kondisi kesehatan.
Selain itu, memberikan gratifikasi kepada pemberi pelayanan agar bersedia memberi pelayanan yang tidak sesuai/tidak ditanggung, melakukan kerja sama dengan pemberi pelayanan untuk mengajukanKlaim palsu.
Kecurang lain, memperoleh obat dan/atau alat kesehatan yang diresepkan untuk dijual kembali dan kecurangan lainnya.
Pemantauan terhadap program JKN itu dilakukan di 54 fasilitas kesehatan yang terdiri dari 18 rumah sakit pemerintah, 13 rumah sakit swasta, dan 27 puskesmas.
Adapun provinsi yang dipantau adalah Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.
{jcomments on}
Peningkatan Mutu untuk Perawatan Penyakit Kardiovaskular pada Negara Berpendapatan Rendah dan Menengah
Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab utama kematian secara global Penyakit ini masih menjadi hal yang menakutkan bagi banyak orang. Beberapa tantangan dalam mengatasi permasalahan kardiovaskular ini seperti permasalahan anggaran dan infrastruktur dalam perawatan serta terbatasnya tenaga profesional atau langkanya sumber daya yang tersedia dalam perawatan ikut menjadi penyababnya sulitnya menekan kematian akibat kardiovasuler sedangkan jumlahnya kematiannya tidak berubah secara signifikan di negara-negara berpenghasilan tinggi sejak tahun 1990, bahkan jumlah kematian telah meningkat sekitar 66% pada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs).
Secara berlahan, kasus kardiovasuler pada ibu hamil juga sudah mulai merangkak naik, hal ini terlihat dari Riskesdas Tahun 2013 bahwa penyebab kematian ibu secara tidak langsung ditempati oleh penyakit tidak langsung yakni hipertensi sebesar 27,1%. Hal ini menuntut Negara berpengahasilan rendah dan menengah harus memperbaiki kualitas persalinan dan kualitas pelayanan Kardiovaskuler. Studi sistematik review yang disampaikan oleh Lee Edward dkk dalam meningkatkan kualitas pencegahan dan pengelolaan cardiovaskuler berbasis klinik di Negara LMICs dengan melakukan peninjauan naratif terhadap uji coba klinis komparatif yang dipublikasikan dan mengevaluasi keampuhannya atau efektivitas pengembangan pencegahan dan peningkatan kualitas cardiovaskuler berbasis klinik intervensi di LMICs.
Dari 847 artikel yang diidentifikasi dalam pencarian elektronik, 49 memenuhi kriteria inklusi penuh dan dipilih untuk ditinjau Penelitian terpilih dilakukan di 19 LMIC yang berbeda. Ada 10 studi tentang intervensi peningkatan kualitas tingkat sistem, 38 penelitian pasien/ penyedia intervensi, dan satu studi yang sesuai dengan kedua kriteria tersebut. Pada tingkat pasien / penyedia, terlepas dari Intervensi spesifik, diintensifkan, perawatan berbasis tim umumnya menyebabkan pengobatan yang lebih baik pada kepatuhan dan kontrol hipertensi.
Metode yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan penyakit Kardiovaskular dengan membuat matrix berikut:
| Fhase akut | Fhase kronis | |
|
Level sistem kesehatan |
Contoh sistem pada level akut:
|
Contoh sistem pada level kronis:
|
|
Level pasien –pemberi pelayanan kesehatan |
Contoh sistem pada level pasien akut:
|
Contoh sistem pada level pasien kronis:
|
Beberapa intervensi dari beberapa negara digunakan untuk menilai kualitas pelayanan CVD antara lain:
- Meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien melalui pil kombinasi
- Meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien melalui intervensi kesehatan bergerak. Dua belas studi menyelidiki peran kesehatan bergerak dalam pencegahan dan pengelolaan CHF, diabetes, hipertensi, dan penyakit arteri koroner di LMICs.
- Penerapan panduan dan pendidikan penyedia layanan yang mengarah pada hasil pasien yang lebih baik. Pendidikan dan pedoman praktek layanan kesehatan dapat berpotensi membakukan, memperbaiki, dan mempertahankan kualitas perawatan untuk kondisi vaskular dan kondisi lainnya di LMIC.
- Mendidik pasien untuk meningkatkan kesehatan. Kajian tersebut menemukan delapan penelitian untuk mengevaluasi pendidikan manajemen penyakit di antara pasien dengan hipertensi, diabetes, dan CHF.
Penting untuk ditekankan bahwa kesadaran, keterjangkauan, dan ketersediaan adalah hambatan umum yang dapat menunda penanganan kejadian akut pada penyakit kardiovaskular. Pendidikan masyarakat dan sistem infrastruktur, logistik, dan perencanaan sumber daya manusia yang dapat mengatasi hambatan perawatan tepat waktu dan tepat untuk CVD akut. Serta perlu juga melibatkan Integrasi sektor swasta untuk perusahaan ambulans, rumah sakit, dan penyedia layanan yang merupakan bagian penting untuk mencapai peningkatan kualitas perawatan CVD akut di LMICs, dimana sektor swasta menyediakan sebagian besar perawatan kesehatan dan berada dalam posisi secara efisien dapat mengisi kesenjangan dalam sistem perawatan kesehatan masyarakat
Mengadopsi panduan praktik klinis dari negara berpenghasilan tinggi ke LMICs merupakan kesempatan baik untuk menerapkan standar peningkatan kualitas dan benchmarking perbaikan praktik dan hasil yang signifikan. Keuntungan menggunakan panduan praktik klini dapat mendorong klinisi untuk menilai kembali kelayakan intervensi yang sudah diberikan; meningkatkan perencanaan multidisiplin dan pemecahan masalah; memelihara kepedulian semua anggota tim terhadap perkembangan pasien dan status kesehatan pasien setiap saat; menjamin bahwa intervensi dapat dilakukan tepat waktu dalam perencanaan pelayanan yang komplek; peningkatan mutu berkelanjutan; menyediakan instrumen untuk mengidentifikasi masalah sistem yang mengganggu pelayanan; instrumen pendidikan yang berharga; meningkatkan kewenangan pasien; meningkatkan komunikasi dan kepuasan staf. Studi yang diidentifikasi menunjukkan beberapa perbaikan ukuran proses klinis, untuk wilayah berpenghasilan tinggi, namun secara kualitas tidak secara konsisten memperbaiki semua hasil yang telah ditentukan sebelumnya serta Kepatuhan terhadap obat-obatan dapat menyelematkan kehidupan dan merubah gaya hidup.
Pada Tingkat penyedia layanan intensif, perawatan berbasis tim pada umumnya menyebabkan kepatuhan terhadap pengobatan yang lebih baik dan kontrol hipertensi. Pada tingkat sistem, penelitian memberikan bukti bahwa pengenalan cakupan asuransi kesehatan universal memperbaiki hipertensi dan pengendalian hasil. Yang dibutuhkan sekarang adalah lebih banyak bukti bahwa peningkatan kualitas dapat dipertahankan di jangka panjang
Secara umum 49 penelitian menunjukkan bukti bahwa program peningkatan kualitas memiliki potensi memperbaiki perawatan Kardiovaskular di LMIC, baik untuk mengobati kejadian akut atau dalam jangka panjang pencegahan dan penanganan penyakit pada level kronis.
Oleh: Andriani Yulianti, MPH.
Referensi: Lee ES, Vedanthan R, Jeemon P, Kamano JH, Kudesia P, Rajan V, et al. (2016) Quality Improvement for Cardiovascular Disease Care in Low- and Middle-Income Countries: A Systematic Review. PLoS ONE 11(6): e0157036. doi:10.1371/ journal.pone.0157036.
{jcomments on}
M-health unlocks access to qualitative healthcare
Experts have proposed innovation in use of mobile technology as the key to unlocking quality healthcare for all Nigerians, particularly women.
Speaking at the Healthcare Federation of Nigeria,
Kualitas Puskesmas Yogyakarta Mengalami Perkembangan Positif
YOGYAKARTA — Sebanyak tiga Puskesmas yakni Puskesmas Pakualaman, Ngampilan dan Kraton siap mengikuti akreditasi tahun ini.
Future of NHS ‘precarious’ with health services ‘at full stretch’ as regulator warns staff can’t work any harder
The NHS is ‘struggling to cope’ with demand as insufficient staff numbers paired with more patients than ever mean services are operating ‘at full stretch’.
PMI Jateng-DIY Lakukan Konsolidasi untuk Tingkatkan Mutu
SLEMAN – Ketua Bidang Pengurus UTD PMI Pusat, Linda Lukitari Waseso yang menghadiri Pertemuan Regional III Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Jawa Tengah dan DIY