Seminar Nasional Pelaksanaan Konsep Stewardship dalam Jaminan Kesehatan Nasional

Seminar Nasional
Pelaksanaan Konsep Stewardship dalam Jaminan Kesehatan Nasional

Diselenggarakan oleh:
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM 
bekerjasama dengan
Badan Pelaksana Jaminanan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes)

Yogyakarta, Selasa 7 November 2017, Pukul 08.30 – 12.30 WIB

 

  PENGANTAR

Pembahasan mengenai konsep Stewardship berasal dari teori Principal-Agent Relationships (Waterman, Meier 1998) dan Honda et al. (2016) . Secara sederhana, teori ini berasumsi bahwa dalam kehidupan sosial ada kontrak-kontrak yang dilakukan. Pembeli dalam hubungan kontraktual ini disebut sebagai ‘principal’. Sementara itu, pihak yang menyediakan jasa pelayanan disebut sebagai ‘agent’. Oleh karena itu teori ini disebut sebagai ‘teori agensi’. Hubungan antara principal dan agent ini diatur oleh kontrak yang berisi apa yang harus dilakukan oleh agent dan apa yang harus dilakukan oleh principal sebagai imbalannya.

Dalam teori hubungan Principal-Agent, BPJS berperan sebagai purchaser yang berfungsi sebagai principal untuk lembaga pelayanan kesehatan. Sebagai principal BPJS dalam pembelian menggunakan berbagai perangkat seperti sistem kontrak, keuangan, regulasi, dan menjalankan mekanisme monitoring untuk memastikan lembaga pelayanan kesehatan yang berfungsi sebagai agent memberikan pelayanan yang bermutu, di dalam tariff yang disepakati.
Di sisi hubungan antara BPJS sebagai purchaser dengan pemerintah, maka BPJS bertindak sebagai agen yang ditunjuk pemerintah berdasarkan UU SJSN (2004) dan UU BPJS(2011). Pemerintah dalam hal ini berfungsi dalam peran Stewardship untuk menjamin keadilan dan mutu pelayanan yang ditetapkan dalam kontrak pembelian.

Apa arti Stewardship? Seminar ini akan membahas arti stewardship dalam JKN dalam konteks tiga tugas stewardship pemerintah:

  1. Perumusan kebijakan kesehatan untuk menetapkan visi dan arah pengembangan sistem kesehatan;
  2. Mempengaruhi kegiatan, termasuk melaksanakan regulasi dalam sektor kesehatan; dan
  3. Mengumpulkan serta menggunakan data untuk memonitor kinerja sistem kesehatan.

Tugas stewardship tersebut berdasarkan kebijakan desentralisasi diserahkan dari Kemenkes ke pemerintah daerah (propinsi dan kabupaten/kota). Di pemerintah daerah, tugas ini masuk ke dinas kesehatan.

  Tujuan Seminar

  1. Membahas makna Stewardship dalam konteks Strategic Purchasing di JKN
  2. Membahas aplikasi Stewardship di pusat dan di daerah.
  3. Membahas peran berbagai pihak untuk melaksanakan fungsi stewardship.

  Agenda Seminar

Jam Topik Pembicara & Pembahas
08.30 – 09.00

Pembukaan

Kebijakan untuk menggunakan prinsip Strategic Purchasing dalam JKN

 

dr. Asih Eka Putri, MPPM

(Anggota DJSN)

09:00 – 10:30

Diskusi Panel sesi I

(Fasilitator: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD)

 
  Pengantar oleh Fasilitator mengenai Stewardship dalam JKN dalam konteks Strategic Purchasing Prof. dr. Laksono Trisnantoro – PKMK FK UGM
  Peran Pemerintah Pusat (Kementerian Kesehatan) sebagai Steward dalam Jaminan Kesehatan Nasional dr. Kalsum Komaryani, MPPM – Kepala Pusat Jaminan dan Pembiayaan Kesehatan
  Pembahas Prof. Dr. dr. Fachmi Idris, M.Kes – Direktur Utama BPJS Kesehatan
10:30 – 11:00 Istirahat  
11:00 – 12:30

Diskusi Panel sesi II

(Fasilitator: dr. Hanevi Djasri, MARS)

 
  Model DIY untuk Jaminan Mutu: Badan Mutu sebagai pembantu Steward untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan dalam Jaminan Kesehatan Nasional

Prof. dr. Adi Utarini, MPH, PhD

PKMK FK UGM

  Peran Dinas Kesehatan  sebagai Steward dalam Jaminan Kesehatan Nasional

drg. Pembayun Setyaningastutie, MKes

Kepala Dinas Kesehatan DIY

  Pembahas dr. Kalsum Komaryani, MPPM – Kepala Pusat Jaminan dan Pembiayaan Kesehatan

Peserta

  1. Seluruh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota di Indonesia dan staf Dinas Kesehatan yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan JKN
  2. Seluruh Kepala Cabang dan Kepala Kedeputian BPJS Kesehatan (sebagai peserta blended learning strategic purchasing modul IV)

Metode Penyelenggaraan

Seminar Nasional ini akan diselenggarakan berbasis webbinar. Seluruh pembicara dan pembahas berada di Yogyakarta sedangkan peserta baik dari Dinas Kesehatan maupun BPJS Kesehatan akan mengikuti dari kantor cabang BPJSK masing-masing melalui webbinar.

Agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar, maka masing-masing kantor cabang BPJS Kesehatan perlu melakukan persiapan sebagai berikut:

  1. Menyiapkan ruangan dengan kapasitas 10 orang dengan peralatan webbinar (notebook atau desk top komputer dengan akses internet, kamera dan microphone serta proyektor)
  2. Melakukan konfirmasi ke dinas kesehatan tentang kehadiran kepala dinas dalam seminar ini
  3. Mendaftarkan diri mengikuti webbinar melalui link yang akan dikirim melalui email oleh panitia
  4. Menyiapkan operator webbinar

Pada saat seminar berlangsung para peserta dapat mengajukan pertanyaan atau pendapat secara langsung ataupun secara tertulis melalui fasilitas webbinar

Biaya

Peserta Seminar Nasional ini tidak dipungut biaya.

Biaya berasal dari kegiatan Blended Learning Strategic Purchasing kerjasama antara BPJS Kesehatan dengan PKMK FK UGM

 

Mengenal Metode Prevensi Sekunder Kardiovaskular Berbasis Nurse-Coordinated Prevention Programmes

Di Belanda, resiko peningkatan pasien kardiovaskular berangsur berkurang sejak diterapkannya sistem pencegahan berbasis Nurse Coordinated Prevention Programmes (NCPPs). Kemajuan ini mendorong European Society of Cardiology (ESC) pada 2012, merekomendasikan agar NCPPs diintegrasikan ke dalam praktik klinis pada sistem perawatan kesehatan di negara-negara Eropa. Meskipun tentu saja harus diakui bahwa, sebagai salah satu bentuk pendekatan pencegahan tersistem, NCPPs bukanlah sebuah program sederhana yang dapat diduplikasi dengan mudah. Faktanya Untuk membuat NCPPs berjalan dengan baik diperlukan rangkaian persiapan matang yang meliputi penyiapan sumber daya manusia yang memadai dari segi kompetensi, keahlian dan wawasan penunjang tambahan. Oleh karenanya ESC menekankan pula perlunya riset guna mengetahui jenis kompetensi dan keahlian apa saja yang harus dimiliki serta tahapan pendidikan tambahan apa saja yang diperlukan untuk menjamin kesiapan kualitas sumber daya manusia agar NCPPs sebagai kegiatan pencegahan kardiovaskular tersistem dapat berjalan secara efektif.

Adapun gambaran umum NCPPs sendiri secara singkat merupakan serangkaian kegiatan prevensi resiko kardiovaskular yang terdiri dari konseling, motivasi, konsultasi, pemeriksaan fisik berkala, intervensi terhadap pola dan gaya hidup, wawancara tentang tingkat kepatuhan konsumsi obat sesuai resep dan jadwal, hingga rekomendasi rujuk jika diperlukan. Dalam implementasinya NCPPs dijalankan oleh perawat yang direkrut melalui proses seleksi tertentu serta diwajibkan menyelsaikan beberapa tahapan pelatihan dan kursus yang diselenggarakan oleh Departemen Psikologi Medis dan Academic Medical Center Universitas Amsterdam, Belanda.

Dalam NCPPs berbagai rangkaian kegiatan prevensi di lapangan dilakukan oleh perawat dengan merujuk pada panduan nasional dan pedoman tekhnis yang telah ditetapkan. Panduan nasional berfokus pada (1) gaya hidup sehat, (2) faktor resiko biometrik dan (3) kepatuhan konsumsi obat. Sementara pedoman teknis dirumuskan untuk memenuhi target tertentu seperti gaya hidup bebas rokok, pemilihan makanan sehat, olahraga teratur, pengendalian indeks massa tubuh 25Kg/m² atau kurang, kontrol diabetes, kontrol hipertensi dan dislipidaemia serta kepatuhan terhadap rangkaian proses pengobatan. Berikut contoh daftar singkat intervensi tekhnis yang dilakukan perawat pada program NCPPs;

art okt1

Adopsi dan Integrasi NCPPs dengan Program Perkeskom dan Promkes di Puskesmas

Data Riset Kesehatan Dasar 2013 oleh Badan Litbangkes Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan jumlah pasien dengan gejala kardiovaskular berdasarkan diagnosa dokter mencapai angka 2.650.340 jiwa, dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Fakta ini tentu bisa saja mengindikasikan banyak hal, mulai dari rendahnya kualitas pola dan gaya hidup dari segi kesehatan hingga belum efektifnya program dan kegiatan pencegahan peningkatan resiko kardiovaskular oleh berbagai lembaga, intansi dan penyedia layanan kesehatan. Sebuah kondisi yang tentunya laik dikhawatirkan mengingat hingga saat ini kardiovaskular/penyakit jantung koroner termasuk dalam daftar penyumbang angka kematian tertinggi di dunia.

Sejauh ini berbagai kalangan sepakat bahwa cara paling efektif dalam mencegah dan meminimalisir resiko kematian akibat kardiovaskular adalah melalui pola dan gaya hidup sehat. Namun sayangnya kesadaran dan pemahaman sebagaian besar masyarakat terutama kalangan menengah kebawah, masih sangat terbatas terkait pola dan gaya hidup sehat. Pada akhirnya pilihan paling rasional dalam menyikapi situasi semacam ini adalah dengan memaksimalkan kegiatan pencegahan melalui berbagai kegiatan promosi dan edukasi kesehatan secara langsung dan berkesinambungan kepada masyarakat.

Di Indonesia berbagai program yang terfokus dan berorientasi pada promosi dan edukasi kesehatan telah ada dan telah terselenggara cukup lama, hanya saja belum kunjung menunjukkan hasil yang signifikan terutama dalam kaitannya dengan upaya menekan angka penderita kardiovaskular. Di tingkat fasilitas kesehatan primer Sumber: Diolah berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar2013, Badan Litbangkes Kementerian (PUSKESMAS) misalnya, kita dapat menjumpai banyak program yang berkutat pada promosi kesehatan lingkungan, keluarga dan komunitas, dua diantaranya yakni Program Perawat Kesehatan Komunitas (PERKESKOM) dan Program Promosi Kesehatan (PROMKES) akan di bahas secara singkat dalam ulasan ini.

Dua program tersebut yakni PERKESKOM dan PROMKES sebenarnya memiliki potensi untuk dapat dimaksimalkan dan diandalkan dalam menekan angka resiko peningkatan kardiovaskular. Dikatakan demikian karena dua program tersebut memiliki beberapa syarat utama yang membuatnya mungkin menjadi instrument prevensi (pencegahan) yang efektif. Misalnya bahwa dua program tersebut memuat sejumlah aktivitas kongkrit seputar promosi dan edukasi kesehatan disamping memiliki intensitas pertemuan yang tinggi secara langsung dengan masyarakat, merupakan dua modal utama yang sangat mungkin dimaksimalkan.

Sementara beberapa faktor yang membuat dua program tersebut (PERKESKOM dan PROMKES) atau program lain yang sejenis belum mampu menunjukkan signifikansi pengaruhnya pada penurunan angka radiovaskular adalah karena tugas dan fungsinya yang terlampau umum dan luas. Dengan kata lain, tidak seperti program NCPPs di belanda yang memang sejak awal di desain untuk tujuan dan tugas yang sangat spesifik dibidang pencegahan dan penanganan kardiovaskular.

Kembali pada upaya memaksimalkan program PERKESKOM dan PROMKES, penulis melihat terdapat peluang dua program tersebut dapat mengadopsi dan mengintegrasikan pola dan strategi yang diterapkan di NCPPs. Meskipun adopsi/duplikasi ini bukanlah susatu yang sederhana dan mudah mengingat terbatasnya sumber daya medis yang kita memiliki, namun bukan berarti proses adopsi dan integrasi konsep program tersebut tidak mungkin dilakukan. Kita bisa misalnya memulai dengan proses adopsi dan integrasi bertahap. Sebagai contoh, PERKESKOM dan PROMKES yang sebelumnya memiliki tugas dan sasaran yang bersifat sangat umum dalam keseluruhan aktivitas dan kerjanya, perlahan dapat diarahkan untuk menyediakan sebagian ruang dan waktu khusus dalam rangkaian aktivitasnya guna menempatkan kegiatan promosi dan edukasi yang berkaitan dengan prevensi kardiovaskular sebagai salah satu agenda prioritas.

Selanjutnya proses adopsi dan integrasi NCPPs ke dalam PERKESKOM dan PROMKES tentu membutuhkan proses pra-kondisi yang cukup. Misalnya dengan mempersiapkan tenaga petugas lapangan melalui proses literasi dan studi banding terhadap NCPPs serta berbagai bentuk persiapan dan adaptasi lain yang diperlukan. Dengan demikian ke depan PREKESKOM dan PROMKES bukan tidak mungkin dapat diandalkan serta memberikan kontribusi signifikan dalam kaitannya dengan prevensi atau pencegahan kardiovaskular.

Oleh: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH.

{jcomments on}

Upaya Peningkatan Kualitas Kesehatan Melalui Pengembangan Self-Care Interventions Program Pada Pasien dengan Penyakit Kardiovaskular

Penyakit kardiovaskular adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Setelah usia 40 tahun, risiko sepanjang hidup terhadap penyakit kardiovaskular untuk laki-laki adalah 49% dan untuk wanita adalah 32%. Di Amerika Serikat, penyakit kardiovaskular menghabiskan biaya lebih dari 108 Milyar Dollar setiap tahunnya meliputi biaya pelayanan kesehatan, obat, dan hilangnya produktivitas.

Pada 2009, American Heart Association (AHA) menerbitkan penyataan ilmiah tentang self care sebagai bagian dari manajemen gagal jantung. Dalam literatur kardiovaskular, self care mengacu pada kepatuhan pasien terhadap rekomendasi pengobatan, respon sistem dan adopsi gaya hidup sehat seperti berhenti merokok dan manajemen berat badan. Menurut rencana strategi the National Institute of Nursing Research (NINR) yang juga menekankan self care terhadap penyakit kronis, tujuan utama dari program ini untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup pasien dengan penyakit kronis. Self care interventions berjalan melalui: antar pasien dan penyedia layanan kesehatan; dalam suatu program edukasi grup penyakit tertentu; di fasilitas kesehatan ataupun di rumah; disampaikan oleh pemimpin grup sebaya (peer leaders) ataupun layanan kesehatan; dan melalui teknologi interaktif.

Dalam review penelitian oleh Dickson et al (2013) yang mengambil sampel studi nurse led self care interventions, dimana perawat yang merupakan penanggung jawab dalam program ini, intervensi dimulai saat pasien di rumah sakit dilanjutkan dengan follow up saat pasien di rumah. Pasien, dalam hal ini penderita gagal jantung, diberikan edukasi serta dukungan perilaku self care misalnya kepatuhan minum obat dan pengecekan tekanan darah secara mandiri. Studi oleh Suh et al (2010) yang memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memonitor kesehatan pasien jantung di rumah adalah Weight and Activity with Blood Pressure Monitoring System (WANDA B System). WANDA B dikembangkan oleh para peneliti dari UCLA Wireless Health Institute dan UCLA School of Nursing. WANDA B menyediakan aplikasi pemantauan berbasis website, aplikasi di iphone serta SMS Reminder dan alert system bagi pasien. Hal ini memungkinkan dokter atau perawat memantau kondisi pasien yaitu denyut jantung, tekanan darah sistolik dan diastolik serta berat badan pasien kapanpun dan dimanapun secara berkesinambungan. Sistem ini juga dapat mencegah situasi bahaya pada pasien karena dokter atau perawat bisa segera menilai kondisi pasien yang emergensi dari data yang real time. Hasil dari pemantauan ketat berat badan pasien menghasilkan penurunan angka rawat inap, meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengurangi beban dari penyakit kardiovaskular dalam sistem pelayanan kesehatan (Suh et al., 2010).

Ditinjau dari sistem mikro pada rantai mutu rumah sakit menurut konsep Berwick, solusi pemantauan pasien jarak jauh ini melibatkan peranan penting dari tenaga medis diantaranya dokter (baik dokter spesialis atau umum) dan perawat. Hasil data yang real time ini membutuhkan kecekatan oleh tenaga medis dalam membuat keputusan untuk penanganan terbaik bagi pasien yang masuk ke dalam kondisi emergensi. Tenaga medis yang terlibat harus mengerti tentang sistem yang diterapkan di tempat mereka bekerja, misalnya penggunaan website, aplikasi, SMS ataupun metode yang lainnya. Kunci dari program ini adalah edukasi oleh tenaga medis kepada pasien sehingga manajemen pengobatan terintegrasi berjalan baik dan pasien berperan aktif. Dilihat dari konteks organisasi yakni manajer atau kepala sarana layanan kesehatan, program ini sangat membutuhkan kesiapan dan komitmen manajemen RS ataupun puskesmas baik dari segi dana, SDM, dan hal-hal teknis lainnya yang mendukung. Ide self care atau self management untuk penyakit kardiovaskular sudah banyak dikembangkan oleh berbagai negara termasuk di Indonesia. Manfaat dari self management tentu saja dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien kardiovaskular. Bukan saja pasien yang mendapat dampak positif, tetapi klaim biaya pengobatan di sarana layanan kesehatan bisa ditekan sehingga, keberhasilan program ini terutama di Indonesia, perlu ditinjau lebih jauh lagi dan diterapkan dengan baik pada era JKN saat ini.

Oleh : dr. Novika Handayani

Referensi

DICKSON, V. V., NOCELLA, J., YOON, H. W., HAMMER, M., MELKUS, G. D. & CHYUN, D. 2013. Cardiovascular disease self-care interventions. Nurs Res Pract, 2013, 407608.

SUH, M.-K., EVANGELISTA, L. S., CHEN, V., HONG, W.-S., MACBETH, J., NAHAPETIAN, A., FIGUERAS, F.-J. & SARRAFZADEH, M. 2010. WANDA B.: Weight and activity with blood pressure monitoring system for heart failure patients. 1-6.

 

Reportase ISQua London 2017, Hari Ketiga

Oleh:

Hanevi Djasri1, Novi Zein Alfajri2 dan Sugiarsih2
1Mewakili Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK UGM, Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) dan Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA), 2Mewakili RS Akademik UGM


What Works Best at What level from Government to Front Line Individuals?

Sesi plenary ini menjelaskan bagaimana kita dapat bekerjsa secara lebih cerdas, yaitu pendekatan kekuatan populasi. Disampaikan oleh Geraldine Strathdee, seorang clinical leader dari public health London, melalui studi kasus di kesehatan jiwa, dimana mereka menggunakan berbagai media sosial untuk memberikan informasi dan self management untuk pasien.

Geraldine menekankan betul “power of modern social media” untuk menggerakkan partisipasi masyarakat. Contoh ke “mental health intelligence network” membuat adanya kerjasama antar institusi untuk membangun sistem peningkatan mutu kesehatan, contoh lainnya dapat disimak di www.fingertips.phe.org.uk untuk melihat benchmark.

Melalui pendekatan tersebut, UK telah bersama-sama mengidentifikasi big quality isu untuk mental health (lihat foto) yang kemudian digunakan oleh semua stakeholder sebagai dasar perbaikan mutu.

isqua3 1

Policy, Measurement & Activated Learning

Sesi ini disampaikan oleh Heitham Awadalla dari Sudan dan Ed Kelley serta Syams Syed dari WHO sebagai bagian dari sesi Triangulating for Quality Service Delivery, yaitu antara Policy-strategy, Measurment dan Learning.

Para pembicara memulai sesi dengan menyampaikan bahwa penyediaan layanan berkualitas memerlukan reformasi sektor kesehatan yang efektif, dimana upaya perbaikan dan pengukuran secara lokal (di suatu negara) memerlukan pembelajaran global sebagai masukan bagi penyusunan kebijakan dan strategi nasional.

Sesi ini berfokus pada tiga titik masuk utama dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Pertama, menggeser paradigma dari kebijakan top down menjadi bottom up untuk implementasi kebijakan dan strategi peningkatan mutu. Kedua, secara proaktif menerapkan pendekatan pengukuran untuk memaksimalkan dampak upaya peningkatan kualitas. Ketiga, pelajaran bertingkat terus – menerus di tingkat nasional dan global untuk memastikan pembelajaran aktif tentang upaya peningkatan mutu agar tercapai perubahan pada semua tingkat pemberian layanan kesehatan.

Delegasi Sudan memaparkan proses dan hasil dari penyusunan National Quality Policy and Strategy yang telah mereka kerjakan.

Pengalaman Sudan dalam membangun NQPS National Quality Policy and Strategy: Sudan telah mempunyai Direktorat Mutu sejak 2001 dengan kegiatan membuat SOP akreditasi, ps dan ppi, tapi masih tidak terintegrasi dan tidak sustain, kemudian Sudan membangun NQPS untuk: menyamakan persepsi tentang mutu; memperbaiki tata kelola dan kompetensi; memperbaiki SDM manajemen; serta membangun Health System.

Proses penyusunan NQPS sesuai yang disarankan oleh WHO (yang juga akan Indonesia kerjakan), yaitu: membuat task forces, didukung oleh WHO country office, konsultan dari WHO Pusat, analisis situasi saat ini, stakeholder meeting kemudian menyusun draft NQSP lalu melakukan proses advokasi.

Pembicara kemudian menyajikan hasil penyusunan dokumen NQSP yang terdiri dari: 1. visi dan misi; 2. dimensi dan definisi (dimensi mutu menggunakan 6 dimensi mutu WHO ditambah dimensi sustainability); 3. prioritas ada 4 (lihat foto); dan 4. Tata kelola yang dipimpin National health and sosial coordinator committee (NHSCC), semacam menteri koordinator kesehatan dan sosial.

Penulis dalam sesi tanya jawab menanyakan ada dimana metode perbaikan dan metode pembelajaran (sebagai bagian dari Triangulating for Quality Service Delivery) serta juga menanyakan apakah WHO akan menyusun daftar rekomendasi metode-metode tersebut yang telah memiliki bukti ilmiah terkait efektivitas metode tersebut dalam meningkatkan mutu dalam konteks negara-negara yang berbeda. Jawabannya, secara umum hal tersebut belum selesai disusun detail dan baru akan dipresentasikan pada pertemuan di Tokyo pada Desember tahun ini.

isqua3 2

Gambar: Proses pengembangan NQPS yang disarankan oleh WHO

665

Gambar: Tampilan web WHO Global Learning Laboratory for Quality UHC (http://www.who.int/servicedeliverysafety/areas/qhc/gll/en/)

Catatan Delegasi Indonesia

{tab title=”Note 1″ class=”green” align=”justify”}

1. Working with the patient voice to improve their system

Halo sekedar sharing, setelah kita mendapatkan data dari patient voice, lalu bagaimana melakukan pengukurannya? Dari beberapa sesi perihal data driven, dan sesi patient voice, ditutup oleh sesi dari Health quality & safety commission new zealand, dengan judul: Working with the patient voice to improve their system. Melakukan pengukuran patient experienced untuk melakukan perbaikan sistem.

Aspek Patient experienced adalah hal yang penting saat ini. Rumah sakit harus bisa memberikannya secara konsisten, pada setiap individual, dan setiap waktu. Lantas setelah konsisten tentu harus diukur efektivitasnya.

Prinsipnya adalah: importance, evidently based, affordable, dan sustainable. Tools: survey; patient wall (semacam papan kaizen tapi untuk pasien); FGD (opsional)

Dari hasil survei ketidakpuasan pelanggan, justru kita fokuskan pada area dengan skor paling rendah. Mengapa? Karena disitulah akan terlihat minor issue yang sebenarnya sensitif. Dalam statistik, skor terbesar adalah angka hasil agregasi yang tidak bisa mendeteksi kedalaman masalah. Skor terkecil justru memberikan pengaruh korelasi terbesar terhadap variabel dependen. Survei dilakukan pada ruang ranap dewasa. Kemudian kita fokuskan kembali pada what matters to them, dari apa yang mereka utarakan.

Langkah peningkatannya: di ruang manakah hal tersebut terjadi?; hal apa yg akan ditingkatkan?; mengukur discharge complain, mengukur pulang paksa dan APS, lalu dihitung korelasinya; lantas membuat analisa bagaimana kita membangun proses komunikasi pada setiap kepulangan pasien, dari hasil korelasi tadi.

Challenge di Indonesia: menghubungkan hasil pengukuran ini dengan national measures, karena belum menjadi indikator standar mengenai seberapa baik rumah sakit melakukan improvement berdasarkan patient voice.

Ide improvement untuk RS kita: mengubah goal dari hasil pengukuran itu sendiri. Before: hasil survei kepuasan dan ketidakpuasan hanya melihat skor terbesar, After : melihat improvement yang dilakukan pada skor terkecil bertahap ke skor terbesar. Kemudian didokumentasikan sebagai tindakan korporasi dalam memberikan improvement dalam hal patient centeredness care. But… Always it is to be discussed further... ?
(catatan Haryo Gumilar, R&D RS Pelni)

 

{tab title=”Note 2″ class=”blue”}

2. Benchmark

Barangkali selama ini diantara kita (penggelut dunia kesehatan), selalu benchmark di lingkup yang sama, sama-sama rumah sakit misalnya baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Rupanya jika kita melebarkan mata dan menajamkan telinga, maka kita akan mendapatkan informasi lebih yang dapat dikloning dan dimanfaatkan untuk kelangsungan proses bisnis kita.

Telah terbukti beberapa yang bisa dikloning (walaupun tidak 100%), antara lain:

  1. Industri perbankan, untuk sistem antrian;
  2. Industri manufaktur (pabrik mobil misalnya), untuk “one piece flow & just in time“;
  3. Hotel untuk layanan hospitalisasi;
  4. dan lain-lain

Dari bisnis penerbangan, rumah sakit dan layanan kesehatan lainnya, bisa banyak belajar, mereka menerapkan:

  1. Standarisasi yang cukup ketat dan ter – update setiap saat.
  2. Otomatisasi.
  3. Manajemen risiko yang sangat rapi.
  4. Bertindak profesional.
  5. Bagaimana menjaga emosi.
  6. Sangat lihai untuk mengatasi kondisi darurat.
  7. Pantang bosan menyampaikan edukasi dan informasi kala bersua dengan customer setiap saat.

Demi Keselamatan. Mereka sangat mengutamakan Rekaman (baik oral maupun visual), daripada data yang didapatkan dari wawancara. Karena hal ini mempunyai akurasi yang lebih tinggi dan menjadi barang bukti yang sangat baik. Pelajaran demi pelajaran mereka dapatkan untuk senantiasa ditindaklanjuti dengan perbaikan standar.
(Catatan oleh Danti, RS Pelni)

 

{tab title=”Note 3″ class=”green”}

3. Beberapa catatan tentang uoaya peningkatan mutu dari berbagai negara

Pembicara pertama dari Denmark, tentang apakah quality improvement akan memperbaiki outcome? Mereka membuat literature review tentang PDCA sebagai tools quality. Hasilnya there is need improvement in quality improvement .

Di Cina, RS Bedah plastik tentang Aplicationof QC circle to develop a new postoperative flap observation srandard. Clinical obs: cheap, simple, non invasive. Tapi mereka developing new postop flap microcirculation observation. Identifikasi menjadi lebih cepat dari 26 jam menjadi 12 jam. Membuat luka lebih transparan, lalu menggunakan SBAR dan mengirim foto gunakan smartphone.

Hasil: flap salvage success rate 87 -jadi 100%
Lama rawat 18-jadi 15 hr, cost 7.3973-jadi 5.2970

Di Taiwan, RS yang merawat Kawasaki disease. Mengajak otang tua yang awam untuk mengenali gejala penyakit dengan cepat menggunakan karikatur yang menggambarkan tanda-tanda pada tubuh pasien. Hasilnya lebih cepat dikenali dan cepat ditangani.

Qatar, RS yang melakukan Chronic Peritoneal dialysis. CPD dilakukan dirumah (yang memenuhi syarat) banyak terjadi peritonitis.
Team harus utamakan standard protocols and procedure, pt safety and quality system, education training and supervision dan pt and family engagement.
Faktor yg berpengaruh: skills, surrounding, system, equipment and supply.
Hasilnya peritonitis turun sd 50% dlm 1 tahun.
(Catatan Dr. Jusuf Rachmat)

 

{tab title=”Note 4″ class=”red”}

4. Persiapan ISQua 2018 di Malaysia belum ada topik yang akan diangkat secara spesifik.

Topik masih pada topik yang sama namun cara bekerja untuk melakukan improvement harus berbeda baik dari segi

  1. Regulasi makro sistem yang menunjukkan atau komitmen kepada patien safety
  2. Kerja sama makro dan mikro dalam tim kolaborasi dalam Change management untuk improvement dalam pt safety
  3. Patient Voice yang dapat mendorong perbaikan regulasi dalam peningkatan dalam pt safety .Regulator adalah Pemerintah Kemenkes BPJS Menteri Keuangan Menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak menteri Sosial dan Pemda Pengawasan pelayanan konsumen untuk mendorong patien centerness. Program dan proses Learning pt voice dan family voice yang dapat dilakukan oleh RS untuk meningkatkan pt safety
  4. Hubungan ekonomi strategic dan dan patient safety dari segi budgeting dan Cost
  5. Penggunaan Teknologi untuk meningkatkan pt safety
  6. standarisasi Nasional program pt safety
  7. Data collecting di level organisasi yang mendukung pt safety dari Regulator board service board Nursing board Profesional board dalam mencapai goals pt safety
  8. e poster memiliki kesempatan yang lebih baik untuk sempat di baca oleh peserta.
  9. Penggunaan safety program dari industri lain 

(Catatan Fathema Djan)

 

{/tabs}

Video Delegasi Indonesia

KARS menerima International Accreditation Awards dari ISQua