Sosialisasi Pengembangan Sistem Manajemen Mutu dan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Timika

KERANGKA ACUAN KEGIATAN

Sosialisasi Pengembangan Sistem Manajemen Mutu Dan
Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Timika

  LATAR BELAKANG

Belakangan ini sistem rujukan kesehatan mendapat perhatian yang besar. Hal ini karena sistem rujukan  merupakan masalah global dan tentunya menjadi masalah pada institusi pelayanan kesehatan di Indonesia. Beberapa hasil penelitian tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan menunjukkan bahwa rujukan dari layanan primer ke rumah sakit terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Selain itu, juga ditekankan bahwa belum ada suatu sistem di pelayanan primer untuk mencermati detil proses, kesesuaian dan jumlah rujukan dibandingkan dengan sistem lainnya di pelayanan primer seperti halnya pengobatan (Evans et al., 2011)

Pelaksanaan sistem rujukan di Indonesia diatur dalam Peraturan Mnteri Kesehatan RI No 001 Tahun  2012 tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan.Pada bab III pasal 3 disebutkan bahwa sistem rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik, baik vertikal maupun horizontal. Pasal 4 ayat 1-3 dijelaskan tentang mekanisme rujukan mulai dari bidan-perawat sampai dengan pelayanan kesehatan tingkat ketiga (Kemenkes 2012).

Berlakunya Sistem Jaminan Kesehatan per 1 Januari 2014 akan membuat dokter yang memberikan layanan primer (termasuk dokter yang bekerja di Puskesmas) akan bertugas sebagai “gatekeeper”, dimana dari sisi layanan tingkat lanjut (rumah sakit) juga akan memberikan manfaat berupa: Meningkatkan efisiensi layanan kesehatan; Meningkatkan mutu layanan kesehatan; Memperbaiki akses layanan kesehatan di tingkat lanjut. Gatekeeper dapat terlaksana secara efektif apabila memiliki sistem rujukan yang baik, yaitu yang terdiri dari komponen sistem rujukan, diantaranya adalah: Manual rujukan (rencana detail kegiatan rujukan); dan Sistem monitoring dan evaluasi.

Agar pengembangan sistem rujukan kesehatan di Kota Timika ini dapat terlaksana dengan baik maka dibutuhkan kesamaan sudut pandang dari pemangku kepentingan terkait.  Untuk itu perlu ada pertemuan bersama dalam bentuk sosialisasi antara Dinas Kesehatan Kota Timika sebagai pemilik kegiatan dengan melibatkan pengambil keputusan kebijakan daerah, LPMAK, Puskesmas, RSUD serta RS Mitra Masyarakat.

 

  TUJUAN

Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan kegiatan pengembangan sistem manajemen mutu Puskesmas Kota Timika serta pengembangan sistem rujukan pelayanan kesehatan di Kota Timika.

PESERTA 

Adapun peserta yang diharapkan hadir pada sosialisasi ini adalah:

  1. Bupati atau wakil Bupati
  2. Kepala Dinas Kesehatan Kota Timika beserta penanggung jawab sistem rujukan kesehatan
  3. Direktur RSUD Timika beserta penanggung jawab pelayanan rujukan RS
  4. Direktur RS Mitra Masyarakat beserta penanggung jawab pelayanan rujukan RS
  5. Kepala Puskesmas Timika beserta penanggung jawab pelayanan rujukan Puskesmas


Waktu dan Tempat

Kegiatan sosialisasi pengembangan sistem rujukan akan dilakukan pada tanggal 5 Februari 2012 di ………… Kota Timika.

  AGENDA

No.

Waktu

Acara/Materi

Narasumber

09.00 – 09.30

Pembukaan

LPMAK / Dinas Kesehatan Kota Timika

Pengarahan

Bupati/ yang mewakili

09.30 – 09.15

Rehat Pagi

09.15 – 09.45

Sambutan/Penjelasan Program Pengembangan Kesehatan LPMAK

LPMAK

09.45 – 11.15

Gambaran Pengembangan Sistem Manajemen Mutu Puskesmas Kota Timika

Hanevi Djasri

11.15 – 12.00

Gambaran Pengembangan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Kota Timika

PKMK – UGM

12.00 – 12.30

Diskusi

12.30- Selesai

Makan Siang

 

Narasumber

Narasumber pada seminar sosialisasi ini adalah dr. Hanevi Djasri MARS dan tim, dari Divisi Manajemen Mutu Pusat Kebijakan Manajemen Pelayanan Kesehatan (PKMK,) Fakultas Kedokteran UGM.

 

 

Laporan Kegiatan

Workshop Pengembangan Sistem Pengingat dan Pendukung Pengambilan Keputusan Klinis Dalam Pelayanan TB dan TB/MDR di Rumah Sakit dilakukan pada tanggal 12-13 Maret 2015 di Hotel 101 Yogyakarta. Workshop ini mengundang tiga rumah sakit yang terlibat dalam penelitian ini, yaitu RS Bethesda Yogyakarta, RS Islam Jakarta Cempaka Putih, dan RSUP Dr. Sardjito. Setiap rumah sakit mengirimkan undangannya masing masing 6 orang, yang terdiri dari manajemen rumah sakit yang diwakili oleh Wakil Direktur Pelayanan Medik, Klinis atau Dokter spesialis yang menangani kasus TB (2 orang), dan perawat atau petugas yang menangani kasus TB (2 orang) baik di rawat jalan maupun di rawat inap.

Pada hari pertama workshop acara diawali dengan sambutan dan sekaligus penghantar kegiatan, drngan penjelasan kegiatan HDMS Phase 2 dan upaya pengembangan sistem pengingat (remainder) dalam mendukung pengambilan keputusan klinis, dalam kerangka kerja (framework) Sustainable Hospital and Managing System TB and MDR/TB Phase 2. Sambutan dan penghantar ini disampaikan oleh dr. Trisasi Lestari, MPH.

Acara dilanjutkan oleh dr. Hanevi Djasri dengan penyampaian materi utama berjudul Clinical Decision Support Systems (Sistem Pendukung Keputusan Klinis). Sebelum memulai dr. Hanevi Djasri menggaris bawahi bahwa judul dari materi ini hanya pendukung keputusan klinis, ini merupakan kesengajaan, karena berdasarkan beberapa referensi bahwa remainder merupakan bagian dari clinical decision support system. Ada 6 poin utama dalam materi ini, yaitu Definisi, Kategori CDSS, Rancang bangun, Manfaat, Kekurangan, dan diskusi. Clinical Decision Support Systems (CDSS) didefinisikan sebagai a clinical decision-support system is any computer program designed to help health professionals make clinical decisions. Definisi ini lebih mengarah pada upaya penyusunan software atau application yang didesain untuk membantu para klinisi dalam pengambilan keputusan klinis. Software atau application ini didesain sebagai Pengingat (alerts and reminders), membantu menegakan diagnosis, membantu merencanakan terapi, membantu menunjukan dan menganalisa gambar. Jadi definisi yang tepat CDSS adalah active knowledge systems, which use two or more items of patient data, and to generate case-specific advice. Komponen utama dari CDSS adalah Medical knowlarge, Patient data, and Case-specific advice. Demikian halnya dengan rancang bangun CDSS, terdiri dari 2 yipe yaitu pasif, dimana klinisi dapat menggunakan sistem ini apabila memerlukan saran. Kedua, aktif, dimana sistem akan selalu diaktifkan untuk memberi saran pada klinisi.

Dari sisi manfaat, dijelaskan bahwa sistem ini apabila ada keterbatasan sumber daya, misalnya klinis sudah overload atau keterbatasan waktu untuk proses diagnosa dan perencanaan terapi. Kedua, sitem CDSS ini diperlukan bila ingin meningkatkan mutu terutama proses dan outcome. Akan tetapi kekurangan dari sistem ini adalah, merubah hubungan antara pasien dan klinisi. Kedua, membatasi kemungkinan klinisi untuk melakukan pemecahan masalah secara mandiri. Dan ketiga, implikasi hukum: siapa yang bertanggung jawab terhadap penggunaan CDSS? Jika ada perbedaan pendapat bagaimana pemecahannya. Di¬akhir presentasinya dr. Hanevi Djasri, MARS mendiskusikan kemungkinan ke¬mung¬kinan jika CDSS ini dilakukan di rumah sakit khususnya dalam kasus TB dan TB/MDR. Bagaimana cara kita melakukan analisa sistem dan mengembangkan konsep. Bagaimana kita mengembangkan desain dan pembuatan program. Dan bagaimana cara uji coba dan penerapan serta evaluasinya. Dan perlu diingat bahwa sistem ini akan selalu berubah apabila munncul evidence evidence baru, maka akan dilakukan revisi revisi berdasarkan PNPK,PPK yang telah disahkan oleh rumah sakit.

Narasumber kedua dalam workshop ini adalah dr. Rezaldy Pinzon, MKes, Sp.S. Materi yang disampaikan berjudul CDSS dan CRS di RS Bethesda Yogyakarta: studi kasus pada stroke. Mengawali penyampaian materinya, dr. Rezaldy Pinzon, MKes, Sp.S dengan mendiskripsikan CDSS dan CRS yang merupakan integrasi data pasien dan clinical practice guideline untuk pengambilan keputusan klinik yang lebih baik. Penggunaan CRS akan memudahkan pemberi pelayanan kesehatan dapat melacak dengan mudah data pasien sebagai dasar pengambilan keputusan. Data dalam bentuk algoritma dan single integrative database pasien yang tersedia sebagai bagian point of care.

Dr. dr. Rezaldy Pinzon, MKes, Sp.S dalam pemaparannya menggunakan studi kasus pelayanan Stole di RS Bethesda yang dikelolanya. Untuk kasus di RS Bethesda ini CDSS berfungsi untuk pencegahan stroke primer, untuk tatalaksana stroke di bangsal, dan CRS untuk pencapaian target faktor risiko stroke untuk pencegahan serangan ulang. Lebih lanjut narasumber lebih banyak menjelaskan tentang teknis pelaksanaan aplikasi dari CRS dan CDSS pada pelayanan stoke di RS Bethesda. Dan terakhir narasumber menekankan pada prinsipnya semua programer dapat membuat aplikasi ini, akan tetapi yang perlu saya tekankan adalah dalam penyusunan aplikasi ini harus melibatkan klinisi yang menjalankan program ini. Data data apa yang akan dimasukkan dan teknis pemasukan datanya. Sistem klik-ing sangat memudahkan para klinisi dalam menjalankan aplikasi ini. Untuk kasus pada pelayanan stroke di RS Bethesda, background aplikasipun di komunikan dengan para klinisi, sebagai pengguna. Di akhir presentasinya Dr. dr. Rezaldy Pinzon, MKes, Sp.S, menyimpulkan bahwa; Satu, CDSS dan CRS membantu para pemberi pelayanan kesehatan dan pasien mencapai tujuan. Kedua, Integrasi sistem database pasien dan CPG/ clinical pathway. Dan Ketiga, “Teknologi informasi yang dikembangkan berdasar masukan pengguna akan lebih diterima dan bermanfaat”.

Acara dilanjutkan dengan diskusi tentang pelaksanaan CP di masing-masing rumah sakit dan bagaimana dengan kemungkinan pelaksanaan CDSS dan CRS. Dr. Bambang Sigit menanyakan yang dimaksud dengan remainder sistem ini apakah untuk pasien atau untuk klinisi ? maka dijelaskan oleh dr. Sasi bahwa remainder ini dapat digunakan untuk keduanya. Sedangkan dr. Iswanto dari Bethesda memberikan gambaran bahwa model CRSnya itu , misalnya apakah rumah sakit yang telah memiliki CP akan langsung dibuatkan CRSnya, artinya CP elektronik. Kedua, apakah CRS ini bentuknya seperti CP tetapi pada bagian tertentu tidak dimasukkan, misalnya pelacakan kasus.
mBak Titin petugas TB RS Betehsda, mengusulkan bagaimana CRS ini dapat mengingatkan kita sebelum pasien itu kontrol. Selama ini petugas akan mengingatkan pasien, baik melalui telpon maupun sms setelah pasien tidak kontrol.

Dr. Wiwin, menanyakan tentang pengalaman RS Bethesda tenang penemuan TB HIV, biasanya pasien akan ditemukan saat pasien rawat inap, pengalaman bethesda bagaimana ? CP TB HIV baru diterapkan Januari 2015. Pelaksanaan CP ini baru digunakan setelah positif TB HIV. Ini berlaku baik di IGD maupun di poli. Anamnese sangat penting disini, salah satunya jika rongga mulut menunjukkan adanya jamur, maka akan diarahkan untuk pemeriksaan HIV yang lebih intensif Jika semua itu sudah positif maka CP ini baru digunakan, itupun untuk rawat inap hanya dibatasi 7 hari. Yang sulit itu apabila pasiennya tidak mau ditest HIV. Dr. Ummi dari RS Islam Jakarta, bahwa CP ini diisi oleh dokter ya.., permaslahan kami dokter kita sebelumnya tidak memiliki dokter tetap. Selama ini dilakukan oleh dokter tamu dari persahabatan yang super sibuk. Nah pada bulan ini sudah ada dokter tetap.Kami sangat ingin mencontoh kegiatatan pelayanan TB ini dari Bethesda. Kiat kiat apa yang dilakukan oleh RS Bethesda dalam menjalankan ini, pengisian CP, agar tetap konsisten, karena setelah kita coba salah satu kendalanya adalah waktu pelayanan menjadi lambat. Tanggapan dr. Iswanto, soal soal sosialisasi memang sangat penting untuk dilakukan. Sebenarnya kalau dilihat lebih detil yang dilakukan oleh dokter itu sebenarnya tidak banyak. Beberapa pengisian dilakukan oleh perawat, misalnya soal anamnesa pemeriksaan penunjang dan penyuluhan. Soal remainder tadi ini masih usulan untuk unit TB. Apabila dinilai memperlambat maka yang dimasukkan dalam remainder yang sekaligus CP tadi hanya poin poin tertentu saja yang paling penting. Terutama untuk pemeriksaan fisik yang harus dilakukan oleh dokter. Salah satu yang juga mendukung jalannya pelayanan TB di RS Bethesda adalah 2 orang petugas ini sejak tahun 2007 hingga sekarang tidak dirotasi. Sedangkan di rawat inap relatif banyak. Untuk di rawat inap maka yang sangat berperan adalah kepala ruangnya.

Dr. Dewi RS Islam menanyakan bagaimana tentang evaluasi CP di RS Bethesda, setiap berapa bulan ? Kalau evaluasi dari external biasanya dilkaukan oleh tenaga tenaga dari FK UGM, sedangkan dari internal akan dilakukan sendiri (SMF) sesuai acuan acuan yang sudah kita sepakati. Evaluasi dilakukan 1 tahun sekali. Diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan dari Dr. Ummi RS Islam Jakarta, bagaimana dgn varian dalam CP apakah ada gambaran ? dr. Iswanto menjelaskan bahwa seperti biasa varian ini kita masukkan dalam kotak varian yang sudah ada sesuai kolom kolom yang ada.

Diskusi dilanjutkan dengan permasalahan TB MDR, kalau di RS Islam Jakarta kasus kasus MDR akan langsung dirujuk ke RS Persahabatan. Untuk CP TB MDR di RSUP Sardjito sudah berjalan akan tetapi dikarenakan kasus MDR murni pada umumnya jarang terjadi. Kebanyakan kasus MDR selalu komorbiditas dengan yang lain, bisa DM, Hipertensi, Sicoprenia, atau yang lain. Dr. Heni Retno Wulan menjelaskan bahwa dari 4 kasus TB MDR, yang murni TB MDR hanya 1 kasus. Berarti CP TB MDR hanya dapat digunakan pada 1 kasus tersebut. Untuk CP TB Anak di RS Sardjito sudah dilaksanakan. Yang menjadi catatan dari pelaksanaan TB Anak, seperti dijelaskan oleh dr. Amalia, Sp.A, bahwa CP TB Anak mulai diberlakukan jika pasien sudah masuk suspek TB Anak. Ada kemungkinan pasien tersebut sudah rawat inap beberapa hari, selama belum masuk dalam suspek TB maka CP ini belum diberlakukan. Jadi mulai hari H nya itu ketika pasien mulai dikonsulkan sebagai suspek TB. Hingga sekarang CP TB Anak ini berlaku hingga penegakan diagnosis dan pemberian terapi pertama. Hal ini dilakukan agar kita ada keseragaman dalam penegakan diagnosis. Kalau dari sisi kepatuhan penggunaan CP, memamng hingga saat ini para klinisi masih harus diingatkan untuk penggunaanya, kami juga berharap akan secepatnya kepatuhan penggunaan CP ini menjadi sebuah kebiasaan yang harus dilakukan, khususnya dalam penegakan diagnosis.

Sharing pengalaman dilanjutkan dengan pelaksanaan CP di RS Islam Jakarta, disampikan oleh dr. Wiwin bahwa implementasi CP CP yang ada di RS Islam belum sepenuhnya berjalan dikarenakan sosialisasi CP hingga saat ini belum menyentuh semua dokter yang praktek di RS Islam Jakarta. Ditambahkan oleh dr. Ummi bahwa kendala nya terutama pada keinginan dari anggota SMF Paru, terutama dalam hal terapinya. Kami sebenarnya sangat iri dengan pelaksanaan CP di RS Bethesda. Dari pertemuan ini banyak sekali yang dapat kami pelajari baik dari RS Bethesda dan RSUP Sardjito.

Diskusi tentang presentasi dr. Pinzon. Dr. Wiwin dari RS Islam Jakarta menanyakan untuk stroke registry apakah ini menggunakan panduan nasional atau membuat sendiri. Bagaimana dengan stroke dengan varian apakah dokter dokter telah menuliskan dengan jelas ? Stroke registry kami kembangkan dari panduan nasional. Sedangkan dalam proses pelaksananya kami sangat dibantu oleh para petugas kami yang sudah terlatih. Sistem yang kami kembangkan dengan sistem KLIKING. Tujuan dari disusunnya sistem ini adalah kita dapat menyampaikan data berdasarkan evidence yang sudah ada.

Stroke registry ini belum menyatu dengan SIMRS, karena jika menyatu akan sangat lama dalam proses perijinannya maupun dalam penerapannya, karena yang kami butuhkan adalah data real, berapa outcomennya, bagaimana prosesnya.Data data yang terakumulasi akan masuk dalam format excel dengan segala parameternya, jadi akan dengan mudah kita memanfaatkannya. Berjalannya sistem ini di RS Bethesda tentu tidak lepas dari dukungan menejemen. Dr. Dyah, Sp.An, Wadir Yanmed RS Bethesda, menyatakan bahwa dari manajemen sebelum sekarang ini sudah mendukung untuk dikembangkannya sistem ini. Secara keseluruhan sistem ini belum bisa dikembangkan diseluruh rumah sakit. Hal ini sangat dipengarumi oleh masing masing SMF. Sementara ini yang sudah jelas progresnya di RS Bethesda adalah dari SMF Syaraf dan SMF Paru.

Diskusi tentang presentasi dr. Hanevi Djasri, MARS diawali dengan pertanyaan dr. Bambang Sigit Sp.PD dari RSUP Sardjito, clinical decision support system ini ibaratnya kayak mesin yang tercomputeraize yang dibuat, disisi yang lain ada literatur literatur sebagai rujukan, Nah literatur tadi apakah ada system oatau orang yang memprogram hal tersebut, misalnya jenis teraphinya, dosis, atau justifikasi saran yang sudah terprogram. Lalu apakah ada space dimana berdasarkan kerumitan kasus yang ada. Nah space ini bisa berdasarkan pendapat organisasi profesi.

Dr. Dewi dari RS Islam Jakarta, kegiatan ini kalau tidak salah akan menegembangkan sistem computerize dalam pelayanan, apakah dari pihak PKMK FK UGM akan mengundang programer rumah sakit apa yang harus dia kerjakan dalam mempersiapkan clinical decision support system ini.

dr. Bambang Sigit Sp.PD dari RSUP Sardjito berarti ini ada 2 programer, yaitu programer system dan programer klinis.
Dr. Ummi dari RS islam Jakarta, kegiatan ini secara garis besar sangat bagus. Tidak hanya mengembangkan dalam pengambilan keputusan klinis, akan tetapi juga mengembangkan bagi klinisi bahwa data data yang dimasukkan dapat digunakan sebagai bahan penelitian atau prakteknya sehari hari. Saya masih kebayang tentang tekniknya. Pada saat sekarang kami di RS Islam Jakarta sedang proses membangun medical record electronic dimana user masih proses mapping sistem elektronik ini. Masih ada para klinisi yang belum terbiasa dengan medical record electronic ini. Apabila sistem ini kita buat maka seharusnya setiap proses terapi penyakit ada saran saran untuk diagnosa maupun terapinya. Nah kami menyarankan kegiatan ini mulai dari Komite Mediknya. Untuk itu saya mengusulkan Komite Medik untuk dilibatkan.

Dr. Hanevi Djasri, MARS memberikan masukan bahwa model ini masih dalam proses pilot hanya untuk kasus TB dan TB MDR. Apabila ini akan diterapkan dalam skala Hospital Wide maka kasus ini dapat digunakan sebagai contoh kedepannya. Pada saat sekarang kita belum kearah hospital wide.

Diakhir acara workshop Clinical Decision Support System ini disusun POA (Plan Of Action) dalam menyiapkan system ini. Untuk menyiapkan sistem ini perlu finalisasi keseluruhan CP yang telah disusun. Untuk RS Islam Jakarta contak personnya adalan dr. Mia koordinasi dengan dr. Diana. Akan diselesaikan selama 2 minggu. Total ada 3 CP TB. RS Bethesda contact personnya adalah dr. Nia dengan 5 CP TB. Kondisi sekarang sudah selesai. RSUP Dr. Sardjito menunjuk contact personnya dr. Amalia, Sp.A dan dr. Bambang Sigit, akan diselesaikan selama 3 minggu. CP yang akan dikembangkan adalah CP TB MDR, TB DM, TB HIV dan TB Anak. Masing masing 3 CP untuk pengembangannya.
Setelah finalisasi CP di masing masing RS akan ada workshop penyusunan analisa system. Workshop pertama ini akan diselenggarakan di masing masing RS, yang perlu dipersiapkan adalah Tim IT di masing masing RS, dan kami dari PKMK akan membawa fasilitator dari SIMKES FK UGM yang akan mendapingi Tim IT masing masing RS dalam proses Analisis System dengan menganalisa sistem yang sudah ada sekarang di masing masing RS.

Workshop kedua, Pengembangan Program CDSS (Clinical Decision Support System). Workhop ini dilakukan 1 hari di masing-masing RS, difasilitasi oleh tim Simkes PMPK FK UGM, 1 bulan setelah WS I. Pihak RS menentukan tim IT (programer), dan Programer mempersiapkan usulan-usulan teknis pengembangan program CDSS
Workshop ketiga, penyajian hasil pengembangan program. Workshop ini dilakukan 1-2 hari, bersama-sama, difasilitasi oleh tim PKMK FK UGM, 1 bulan setelah WS II. Diikuti oleh tim Inti dan tim IT masing-masing RS. Masing-masing RS akan menyajikan demo program (atau hasil uji coba bila sudah dilakukan)

 

 

Perkembangan Teknologi dan Metode Keperawatan Terhadap Pasien Pengidap Diabetes Melitus (DM)

(Sebuah Analisis Komparatif antara Indonesia dan Amerika Serikat)

Salah satu penyakit paling berbahaya di dunia adalah Diabetes Melitus, dengan jumlah penderita di seluruh dunia diperkirakan mencapai angka 382 juta jiwa. Jumlah yang cukup besar jika dibandingkan dengan populasi dunia saat ini. Di Amerika Serikat, jumlah pengidap diabetes melitus mencapai 25,8 juta, menempati peringkat ketujuh dalam urutan penyakit paling mematikan di negara tersebut.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan jumlah pengidap diabetes melitus tertinggi di dunia. Hasil survei yang dilakukan World Health Organitation (WHO) menempatkan Indonesia di peringkat ke-4 teringgi di dunia. Data yang tentu saja mengambarkan masih buruknya kondisi kesehatan masyarakat dalam skala nasional terutama dalam kasus Diabetes Melitus.

Terdapat banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka pengidap DM di Indonesia, jika sekilas dilakukan analisis perbandingan mengenai jumlah pengidap DM di Indonesia dan AS maka akan muncul pertanyaan apakah faktor tingkat “kemajuan” sebuah negara juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh signifikan?

Diabetes Melitus –bahkan dalam dunia medis- merupakan kasus yang masih “kabur” (setidaknya dalam memastikan penyebab utama kemunculannya). Semisal bahwa sejauh ini ilmu medis belum memberi kepastian yang tegas tentang hubungan antara kemunculan diabetes melitus dengan faktor genetik seseorang. Penelitian lanjutan masih dibutuhkan untuk setidaknya memastikan apakah diabetes melitus masuk dalam kategori penyakit generatif atau degeneratif. Namun hal ini tidak berarti perkembangan dunia medis tidak memberi sumbangsih yang berarti dalam upaya penanganan masalah Diabetes Melitus. Banyak hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa gaya hidup merupakan salah satu penyebab utama kemunculan diabetes melitus telah terbukti sebagai hasil temuan keilmuan yang berharga. Bahkan di Amerika, perkembangan dunia keperawatan (terutama dalam pengembangan metode penanganan dan perawatan pasien pengidap diabetes melitus) sangat dipengaruhi oleh hasil-hasil penyimpulan penelitian yang terus bekembang.

Tanpa mengesampingkan banyaknya faktor yang menyebabkan seseorang dapat mengidap penyakit diabetes, satu hal menarik yang patut ditelaah dalam kasus diabetes melitus adalah perkembangan metode penanganan dan perawatan pasien pengidap. Di Indonesia hal ini mungkin belum begitu terasa dan masih relatif sulit dilacak. Namun tidak demikian dengan yang terjadi di Amerika Serikat, pendekatan-pendekatan dan metode keperawatan baru dengan hasil yang relatif lebih optimal dapat dengan mudah ditemui dalam aktivitas medis perawatan pasien pengidap diabetes. Salah satu aspek yang paling menarik sekaligus menjadi pembeda antara proses perawatan di AS dengan Indonesia yakni pada tingkat intervensi dan improfisasi yang dapat dilakukan dalam tindakan perawatan oleh perawat. Namun hal ini hanya berlaku pada penanganan medis untuk diabetes tipe 2 atau yang dikenal dengan sebutan diabetes melitus tidak tergantung insulin (non-insulin-independent diabetes melitus).

Adapun bentuk intervensi dan improvisasi perawat dalam proses penanganan dan perawatan pasien pengidap diabetes di Amaerika Serikat dikenal dengan istilah Diabetes Control and Complication Trial (DCCT) dan Nurse Practition (NP). Hal-hal yang dilakukan diantaranya ialah menilai kebutuhan dasar pasien, menjelajahi sejarah/rekam medis pasien, melakukan pemeriksaan fisik hingga pada mengubah dan menyesuaikan resep dengan atau tanpa seizin dokter. Kemampuan mengubah dan menyesuaikan resep inilah yang kemudian dianggap sebagai sesuatu yang berharga dalam perawatan pasien karena terbukti menunjukkan hasil klinis yang lebih optimal.

Bentuk inisiatif lain yang tidak kalah menarik adalah perawat menjalin komunikasi dengan ahli gizi untuk mngkonsultasikan kebutuhan diet yang tepat dengan kondisi pasien. Hal ini memungkinkan pasien mendapatkan penangan dan perawatan maksimal dan holistik karena dalam proses tersebut perawat mengupayakan integrasi persfektif dan pendekatan dari berbagai praktisi ahli yang berbeda. Sehingga proses pemulihan dan penyembuhan pasien yang menjadi mungkin dilakukan melalui berbagai sisi.

Sebuah kasus menarik, pasien 69 tahun menderita DM tipe 2. Tahun 1997 menderita DM tipe 2. Pasien tinggal dengan seorang istri dan telah memiliki 2 orang anak yang telah menikah. Kedua orang tua penderita menderita diabetes tipe 2. Pasien memiliki pengetahuan yang terbatas tentang manajemen perawatan diri dan menyatakan tidak mengerti mengapa dia menderita diabetes karena dia tidak pernah mengonsumsi gula. Sejarah diet pasien menunjukkan asupan karbohodrat yang berlebih dalam bentuk roti dan pasta. Berdasarkan riwayat kesehatan, catatan, pemeriksaan fisik, laboratorium pasien dinilai menderita diabetes tipe 2 tidak terkontrol. Kasus ini ditangani oleh perawat. Tugas pertama perawat dalam memberikan perawatan adalah memilih masalah kesehatan yang paling mendesak dan memprioritaskan perawatan medis untuk mengatasinya.

Rujukan ke ahli gizi menjadi priortas pertama. Perawat menghubungi ahli diet melalui telpon untuk fokus terhadap penurunan berat badan dan meningkatkan diabetes kontrol. Ahli gizi meminta agar selama intervensi, pasien merekam asupan makanan dan mencoba memperkirakan porsi makanan. Pasien juga melakukan jalan kaki 15-20 menit setiap hari. Rencana ini ditulis oleh perawat termasuk tanggal dan waktu untuk telpon serta evaluasi obat, dan memberikannya kepada pasien. Dalam kunjungan tersebut, pasien diajarkan cara menggunakan alat pengukur glukosa yang dapat diguanakan 2 kali sehari yakni saat sarapan dan makan malam. Dalam kasus ini NP memenuhi kebutuhan dasar pasien dengan cara mengubah gaya hidup pasien sehingga dihasilkan klinis yang optimal.

Sayangnya hal yang sama belum dipraktekkan di Indonesia. Perkembangan metode perawatan di Indonesia memang belum menunjukkan tanda-tanda yang memuaskan. Padahal hal tersebut merupakan faktor yang sangat penting karena berkaitan dengan tingkat harapan hidup atau peluang kesembuhan pasien. Kata kuncinya bisa saja pada hal-hal yang berkenaan dengan penelitian terkait perkembangan teknologi keperawatan. Entah karena minimnya jumlah penelitian atau karena tidak adanya “link and match” antara hasil-hasil penelitian dengan kebijakan-kebijakan di bidang kesehatan?.

Oleh : Eva Tirtabayu Hasri S.Kep, MPH
Sumber : Geralyn Spollett, MSN, C-ANP, CDE. Case Study: A Patient With Uncontrolled Type 2 Diabetes and Complex Comorbidities Whose Diabetes Care Is Managed by an Advanced Practice Nurse. Diabetes Spectrum Volume 16, Number 1, 2003.
http://spectrum.diabetesjournals.org/content/16/1/32.full.pdf+html 

{module [150]}

Peningkatan Layanan Pasien DM Tipe-2 di Rumah Sakit

Peningkatan pelayanan terhadap pasien di rumah sakit telah diatur oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit melalui kegiatanasesmen pasien (AP) serta peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP). Tujuannya untuk menganalisis kebutuhan pasien sejak datang, hingga standar pelayanan pengobatan yang diperlukan pasien selama berada di rumah sakit. Salah satu penyakit dengan kompleksitas tinggi adalah diabetes melitus tipe 2 (DM-2). Setiap pasien DM-2 pasti memiliki kebutuhan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, mulai pemberian kalori dalam diet yang berbeda hingga penanganan komplikasi berbeda. Belum lagi dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sejak 2014 lalu berakibat pada lonjakan kunjungan pasien DM-2 ke rumah sakit, hal ini dikarenakan pasien dimudahkan untuk mendapatkan obat secara murah. Jika hal ini tidak mendapatkan perhatian khusus maka dapat terjadi pemborosan bahan habis pakai dan juga obat-obatan yang digunakan oleh rumah sakit. Untuk dapat terus bertahan, rumah sakit perlu memperhatikan prinsip kendali mutu dan kendali biaya.

Studi tentang diabetes 1 menunjukkan adanya peningkatan resiko jatuh yang lebih besar pada pasien DM-2 dikarenakan adanya komplikasi yang berupa neuropathy dan retinopathy. Hal ini terjadi bukan karena masa tulang yang berkurang, tetapi akibat adanya penurunan kekuatan tulang untuk menahan beban karena adanya perubahan arsitektur mikro dalam tulang penderita DM-2.

art-20apr

 

Resiko jatuh di rumah sakit lebih besar pada pasien usia tua dibandingkan muda dan lebih besar pada pasien DM dibandingkan yang tidak, dan pasien wanita juga diketahui lebih mudah terjatuh dibandingkan pria, terlebih apabila pasien tersebut memiliki gejala komplikasi seperti seperti neuropathy, retinopathy, vestibulopathy, gangguan kognitif atau kelemahan otot gerak. Neuropathy DM menyebabkan terjadinya gangguan sensoris, motoris, otonom hingga hypotensi orthostatik pada saat berdiri. Seluruh gejala itu menyebabkan kecepatan gerak dan ayunan langkah sering tidak terkoordinasi dengan baik, kondisi ini juga diperberat dengan adanya hypotensi ortostatik dimana pasien akan pingsan apabila melakukan gerakan bangun secara tiba-tiba dari posisi tidur. Resiko jatuh akan meningkat dengan adanya gangguan ini.

Rumah sakit memang tidak dapat mencegah 100% pasien terjatuh dari kasur, tetapi berdasarkan data bahwa 30% pasien jatuh dapat dihindari dengan adanya pengawasan yang baik dari keluarga ataupun dari perawat jaga. Di Amerika, kejadian pasien jatuh tidak besar, sebanyak 1 kasus dari 700.000 rawat inap, namun tentunya hal ini tidak dapat dilihat secara statistik, karena pastinya akan berdampak buruk pada kesehatan pasien. Luka memar merupakan bentuk ringan dari pasien DM-2 yang terjatuh, tetapi pasien banyak pula yang mengaami kejadian patah tulang pinggul. Pemeriksaan menggunakan dual energy x-ray absorptiometry atau asessment dengan kuisoner algoritma resiko patah tulang FRAXÒ yang dikeluarkan oleh WHO. Adanya pemeriksaan ini akan menjadi sebuah panduan bagi perawat untuk melakukan pengawasan terhadap pasien yang memiliki resiko tinggi untuk jatuh.

Oleh: dr. M. Hardhyanto Puspowardoyo

Sumber: 1.E.A.C. de Waard et al. 2014. Increased Fracture Risk In Patients With Type 2 Diabetes Mellitus: An Overview Of The Underlying Mechanisms And The Usefulness Of Imaging Modalities And Fracture Risk Assessment Tools. Maturitas 79 (2014) 265–274

http://www.maturitas.org/article/S0378-5122(14)00264-3/pdf

{module [150]}

“Selamat Hari Diabetes Nasional – 18 April 2015”

Pada Sabtu, 18 April 2015 lalu kita memperingati Hari Diabetes Nasional, peringatan ini seperti mengingatkan kita semua untuk senantiasa waspada agar tidak ‘dihinggapi’ penyakit tersebut. Seperti kita ketahui bahwa diabetes adalah penyakit dimana penderitanya tidak bisa secara otomatis mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya. Upaya yang bisa kita lakukan agar terhindar dari penyakit ini adalah dengan memperhatikan gaya hidup, pola makan, kebiasaan kita untuk berolah raga dan berbagai kebiasaan baik lainnya sehingga seluruh fungsi tubuh kita dapat berjalan dengan baik.

Mengapa penyakit diabetes harus dicegah seoptimal mungkin? Pertanyaan ini seperti pertanyaan retoris bagi kita semua, tetapi yang perlu diingat bahwa semakin memburuknya penyakit diabetes dapat memicu munculnya penyakit-penyakit berbahaya lainnya.

Pencegahan penyakit diabetes merupakan hal yang penting untuk kita lakukan, namun bagi individu yang telah menderita penyakit ini, maka upaya optimal ‘wajib’ dilakukan pada penatalaksanaan penyakit ini baik oleh provider pelayanan kesehatan maupun individu yang bersangkutan. Apabila minggu lalu kita telah menyimak artikel mengenai penyakit Diabetes Melitus dari sisi pasien, maka minggu ini akan kita ulas bagaimana upaya penatalaksanaan yang dapat dilakukan di tingkat unit pelayanan. Dua artikel berikut, masing-masing akan menyampaikan pengetahuan terkait risiko patah tulang pada pasien dengan Diabetes Melitus Tipe 2, dan artikel lainnya akan mengulas mengenai perkembangan teknologi dan metode keperawatan terhadap pasien pengidap Diabetes Melitus, yang diharapkan dapat memperkaya upaya peningkatan pelayanan mutu, “Selamat Hari Diabetes Nasional 2015”. (LEI)

{module [152]}

Persepsi Pasien Tentang Edukasi Diabetes Melitus

Upaya besar diperlukan oleh pasien yang mengidap penyakit Diabetes tipe 2, dimana edukasi diperlukan untuk meningkatkan kesehatan dengan tetap menghormati kebutuhan individu serta pilihan sukarela mereka. Artikel ini akan menyampaikan hasil penelitian ujicoba konstruk teori intervensi edukasi tersebut, dengan berfokus pada perspketif pasien terkait nilai yang mereka peroleh dengan adanya intervensi edukasi.

Meningkatnya penyakit kronis diantaranya penyakit diabetes, memerlukan manajemen yang baik sehingga tatalaksana penyakit tersebut dapat efektif, salah satu strategi yang dapat dilaksanakan adalah dengan melakukan edukasi yang memiliki tujuan jelas dan pasien terlibat dalam proses pelayanan kesehatan yang mereka terima. Pada artikel ini akan dibahas mengenai pemberdayaan edukasi pasien diabetes, penerapannya, serta penyampaian manfaat jangka panjang yang dapat diperoleh. Pengawasan diabetes sendiri merupakan suatu hal yang komplek serta memiliki berbagai perawatan dengan berbagai edukasi sesuai dengan jenis perawatan. Namun strategi manajemen diabetes yang saling memiliki ketergantungan, berpusat di tiga elemen kunci, yakni:

  • Pendidikan dan dukungan untuk manajemen diri (termasuk pengurangan faktor risiko gaya hidup)
  • Strategi pengobatan yang efektif untuk menjaga tingkat normal glukosa darah dan lipid, serta tekanan darah normal
  • Pengawasan yang efektif untuk deteksi dini dan pengobatan komplikasi

Pada studi ini dilakukan perbandingan antara teori yang berhubungan dengan pengalaman belajar orang dewasa (tabel I) dengan perilaku menjaga kesehatan (tabel II).

17art-1

Edukasi kesehatan adalah kegiatan yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk pencapaian pada kesehatan atau penyakit yang berhubungan dengan pembelajaran, dan beberapa relatif membuat perubahan permanen dalam kemampuan dan disposisi individu. Efektivitas edukasi kesehatan dapat mengubah pengetahuan dan pemahaman cara berpikir, yang mungkin dapat berdampak pada perubahan perilaku atau gaya hidup.

Berikut adalah model kerja edukasi pasien yang mendasarkan pada berbagai teori yang saling berhubungan, dan menggambarkan bagaimana berbagai teori fokus pada lima domain pembelajaran, dimana perubahan dapat terjadi pada; pengetahuan, ketrampilan, pemahaman, sikap, dan aplikasi.

17art-3

Partisipan dalam penelitian ini dipilih secara acak dan dibagi kedalam beberapa kategori intervensi, yang terbagi menjadi:

  • Kelompok percobaan jangka pendek (0 bulan)
  • Kelompok kontrol jangka pendek (6 bulan)
  • Setelah itu kelompok jangka pendek digabung untuk membentuk kelompok percobaan jangka panjang
  • Kelompok kontrol jangka panjang (> 12 bulan)

Sedangkan percobaan ini dirancang, agar partisipan menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait edukasi, sebagai berikut:

  • Apakah berdampak pada keyakinan pasien terhadap penyakit?
  • Menyebabkan perubahan dalam perilaku perawatan diri?
  • Berdampak pada kontrol gula darah?

Jumlah sampel untuk kelompok percobaan sebesar 53 orang, dan kelompok kontrol sejumlah 36 orang. Sekitar 40% yang bersedia berpartisipasi dari jumlah keseluruhan yang diminta terlibat, sebagian menolak untuk berpartisipasi, penolakkan yang terjadi dengan berbagai alasan antara lain; kurangnya ketertarikan terhadap penelitian, keterbatasan waktu, kebutuhan pasien yang memiliki komitmen pada program edukasi selama 8 minggu. Hal-hal tersebut kemungkinan berpengaruh pada proses rekrutmen.

Untuk intervensi yang dipilih berdasarkan pada Program Otoritas Edukasi Kesehatan ‘Look After Yourself”. Intinya adalah memberdayakan edukasi kesehatan yang didasarkan pada anggapan bahwa akusisi pengetahuan tidak cukup membekali individu untuk melakukan tindakan mandiri. Intervensi ‘The Diabetes Look After Yourself’ dilaksanakan selama 8 minggu, yang masing-masing sesi setiap minggunya berlangsung selama 2 jam, dan disampaikan oleh tutor yang semuanya adalah perawat spesialis diabetes dan telah dilatih serta dilengkapi dengan panduan mengajar untuk memastikan standarisasi konten. Konten dari kursus meliputi; latihan olah raga dan relaksasi serta berbagai topik kesehatan yang berkaitan dengan self-management diabetes.

Pada pelaksanaan penelitian, hasil yang diperoleh dibagi menjadi temuan klinis dan perspektif pasien. Berikut adalah tabel temuan klinis:

17art-4

Sedangkan untuk mengkaji perspektif pasien dilakukan penilaian kualitatif dengan melaksanakan 10 Focus Group Discussion (FGD), 5 FGD dilaksanakan segera setelah kursus selesai dan 5 FGD dilaksanakan setelah percobaan selesai dilakukan. Untuk menggali persepsi pasien terhadap intervensi dan dampak yang dihasilkan dipergunakan tool semi terstruktur. Hasil penilaian kualitatif dengan FGD seperti terangkum dalam tabel berikut:

17art-5

Penggalian data dilakukan pada dua kategori dan penentuan tema dikembangkan dari pertanyaan yang berkaitan dengan persepsi pasien tentang nilai apa yang diperoleh dari adanya intervensi. Berikut dua kategori yang ditentukan dalam studi kualitatif:

Kategori 1 : Kesesuaian intervensi untuk pasien dengan diabetes tipe 2
Tema 1 : Keahlian dan kemampuan bimbingan yang dimiliki perawat
Tema 2 : Negosiasi kurikulum
Tema 3 : Pengalaman pembelajaran
Tema 4 : Dukungan kelompok dan pembelajaran kolaboratif

Kategori 2 : Timeline beserta diagnosis
Tema 1 : Serapan edukasi yang berbeda
Tema 2 : Menyelaraskan kebutuhan pasien agar sesuai dengan intervensi

Artikel ini menguraikan bagaimana suatu teori dipergunakan untuk membuat suatu framework untuk mengarahkan edukasi terhadap pasien beserta evaluasinya. Mengacu pada hasil uji hipotesis yang dilakukan, diketahui bahwa terdapat hubungan antara data yang diperoleh. Sedangkan keterbatasan percobaan terletak pada jumlah partisipan yang bersedia terlibat dalam penelitian ini. Selain itu data secara terperinci juga tidak dihasilkan dalam penelitian ini, sehingga hasil studi ini memiliki keterbatasan untuk digeneralisasi. Sehingga kedepannya diperlukan penelitian lebih lanjut, terkait alasan kesediaan atau ketidaksediaan seseorang untuk terlibat dalam inisiatif edukasi.

Berdasarkan hasil studi ini, beberapa hal yang bisa disampaikan antara lain:

  • Pertama adalah studi ini fokus pada persepsi pasien bahwa apa yang mereka dapatkan membantu mereka.
    Mereka mendeskripsikan bagaimana penghargaan, kepercayaan, empati, dan keahlian adalah hal kritis yang penting bagi mereka, demikian juga dengan pembelajaran dari pasien lain dengan penyakit sejenis.
  • Kedua adalah intervensi menghasilkan outcome klinis yang positif atau baik untuk periode singkat, tetapi dampak ini tidak dirasakan secara longitudinal.
    Temuan dalam FGD menyebutkan bahwa alasan yang terkait dengan hasil ini adalah kurangnya pengetahuan khusus diantara tenaga kesehatan profesional dan pada sistem pelayanan kesehatan yang membatasi tanggungjawab personal dan keinginan untuk mengendalikan nasib mereka.
  • Ketiga adalah rendahnya serapan edukasi pasien mungkin tidak hanya mencerminkan iklim budaya yang menyebabkan ketergantungan, tapi kemungkinan juga mencerminkan keinginan pasien untuk ‘meneruskan’ peran pasif mereka

Konklusi dari studi ini dapat disampaikan bahwa edukasi dapat memberdayakan pasien untuk ambil bagian dalam tanggungjawab untuk mengelola penyakitnya, namun mereka tidak dapat mencapai kesuksesan jangka panjang tanpa bantuan dari tenaga kesehatan profesional yang dapat memberikan dukungan fasilitas untuk mencapai tujuan pasien. Peran ini memerlukan pemahaman mengenai teori edukasi pasien dan kemampuan komunikasi yang baik, sehingga diperlukan integrasi antara pengetahuan medis dan sosial ke dalam suatu edukasi profesional sehingga kemitraan dengan pasien dalam tatalaksana penyakit diabetes dapat terwujud.

Dirangkum oleh : Lucia Evi Indriarini
Sumber : Cooper et. al., Patients’ perspectives on diabetes health care education. Health Research Education. Theory and Practice. Vol. 18 No. 2. 2003.
http://her.oxfordjournals.org/content/18/2/191.full.pdf+html

{module [150]}

The importance of quality care

dailyAt a recent event during his walk across Pennsylvania, Admiral Joe Sestak expressed support for health care professionals. I’m glad he took the time to discuss such an important topic.

Continue reading