When it Comes to Health Care, the Glass is Half-Full

HnNSeveral developments — fewer uninsured, a focus on value, declining mortality, among others — indicate our health system is moving in a positive direction.

Many health care executives and professionals are wary, glass-half-empty people, conditioned by long experience to dwell on business risks. However, today’s health care environment is actually full of good news. Reflect on the following:

Continue reading

Ulang Tahun Emas Hari Kesehatan Nasional

HKN-50Jakarta (ANTARA News) – Peringatan HKN Ke-50 atau ulang tahun emas Hari Kesehatan Nasional (HKN) dimaksudkan untuk menjadikan perjalanan pembangunan kesehatan Indonesia selama setengah abad terakhir ini sebagai inspirasi untuk mempercepat terwujudnya bangsa Indonesia yang sehat jasmani, rohani, dan sosial, serta bermutu, produktif, dan berdaya-saing.

Continue reading

Meningkatkan Keselamatan Pasien dengan Membaca Kembali Informasi Penting yang Diterima Melalui Telpon

Penerapan patient safety adalah bersifat menyeluruh untuk semua bagian di rumah sakit. Unit-unit atau bagian-bagian di rumah sakit dengan banyak prosedur atau tindakan di dalamnya mengandung konsekuensi risiko tersendiri untuk terjadinya kesalahan. Hal ini terjadi karena pelayanan kesehatan banyak melibatkan aspek kolaborasi antar banyak tenaga kesehatan sehingga mempunyai dampak terhadap peningkatan potensi terjadinya kejadian yang tidak diharapkan. Atas dasar tersebut, RS diharuskan mampu memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik terhadap pasien dengan mengharuskan rumah sakit untuk berusaha mengurangi medical error sebagai bagian dari penghargaannya terhadap derajat kesehatan manusia yang setinggi-tingginya.

Dalam perjalananya, banyak sekali permasalahan yang membutuhkan penyelesaian mulai dari skala yang besar hingga cara-cara yang sederhana namun memiliki dampak yang besar, misalnya memperbaiki komunikasi. Ini merupakan hal sederhana namun sangat penting dan seringkali merupakan penyebab dominan medication error sehingga harus menjadi perhatian. Berbagai teknik komunikasi efektif sudah diupayakan untuk mencegah medication error sebagai contoh pada industri penerbangan bahwa pihak penerbangan sudah memiliki kesepakatan yang mensyaratkan pilot agar mengulangi instruksi yang diterima dari pengawas lalu lintas udara. Hal serupa juga bisa diterapkan pada dunia kesehatan bahwa untuk petugas diharapkan melakukan membaca kembali instruksi yang diterima secara lisan maupun melalui telepon atau melaporkan hasil pemeriksaan penting yang membutuhkan verifikasi oleh orang yang menerima informasi.

Meningkatkan keselamatan pasien dengan melakukan read back atau membaca kembali dalam penelitian yang dilakukan oleh Joan Barenfanger dkk mengungkap fakta bahwa dari 822 telepon yang keluar dari pihak laboratorium terdapat 29 kesalahan yang terdeteksi (rata-rata kesalahan 3,5%), telepon tersebut paling tinggi berasal dari tenaga kesehatan. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk meminta informasi dan melakukan pengulangan pesan memerlukan waktu hingga 12,8detik per panggilan dimana dapat membenarkan atau mengkoreksi terjadinya 29 kesalahan tersebut. Ternyata hal sederhana tersebut memiliki potensi mengurangi risiko kesalahan dan meningkatkan keselamatan pasien apabila dapat dilakukan secara maksimal. Meskipun ada sedikit kenaikan biaya ketika melakukan pengulangan pesan kepada penerima hasil laboratorium namun dampak yang dihasilkan sangat besar, karena terkadang kesalahan komunikasi dapat berdampak fatal.

Pada penelitian tersebut juga dijelaskan jenis kesalahan yang sering dilakukan yakni kesalahan nama pasien, kesalahan bahan percobaan dan penolakan bagi si penerima untuk mengulangi pesan. Hal ini perlu ditekankan kembali kepada si penerima hasil laboratorium untuk memastikan bahwa mereka menerima pesan yang benar. Maka, diperlukan sebuah catatan harian yang menanyakan kembali kepada si penerima pesan untuk mengulangi data yang sudah diterima, dengan pernyataan sebagai berikut “untuk menjamin pesanan yang anda terima dengan informasi yang benar, maka silakan mengulangi kembali nama, tes, dan hasil yang sudah kami berikan kepada Anda”.
Hasil dari telephone back dapat dituliskan dalam bentuk catatan harian dengan format sebagai berikut:

Laboratory area

Date

Report result

Repeat result

Person receiving report

Floor/unit receiving report

If refuse to repeat

Time necessary to entire phone call (second)

Time necessary for repeating data

Oleh: Andriani Yulianti

Referensi:
Barenfanger, L Robert (ed). 2014. Improving Patient Safety by Repeating (Read-Back) Telephone Reports of Critical Information. American Society for Clinical Pathology, Am J ClinPathol;121:801-803

{module [150]}

New Health Plans Help Improve Quality and Affordability for Federal Employees and Retirees

new health planHARTFORD, Conn.–()–Aetna (NYSE: AET) is expanding its presence in the Federal Employees Health Benefit Program (FEHBP) with two new options: a new Aetna Direct plan designed for federal retirees; and a new joint venture between Aetna and Inova Health Systems called Innovation Health. These new options add to Aetna’s broad variety of plans already available to federal employees.

Continue reading

RSUD Surakarta Siap Menerima Pasien KIS

RSUD Surakarta
Solo (ANTARA News)
– Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Surakarta siap menampung pasien yang menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS), meskipun Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta sampai saat ini belum menerapkan sistem KIS yang diluncurkan Pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini.

RSUD Surakarta prinsipnya tidak ada masalah dan siap menerima pasien jika kondisinya darurat mereka menggunakan kartu KIS. 

Continue reading

BAB V Pembinaan

Apabila hasil deteksi dini terbukti ada potensi fraud yang dilakukan oleh manajemen dan/atau staf rumah sakit, maka perlu adanya upaya pembinaan agar fraud tidak berkembang lebih lanjut di rumah sakit. Pembinaan yang dapat dilakukan adalah berupa pemberian sanksi. Jenis pembinaan yang dapat diberikan kepada pelaku fraud di rumah sakit yaitu Pembinaan Administrasi. Direktur memberi pembinaan administrasi kepada staf/pelaku yang melakukan fraud dengan sanksi disiplin sebagai berikut:

  1. Peringatan tertulis
  2. Skorsing tergantung beratnya tindakan yang dilakukan
  3. Pencabutan kewenangan klinis bagi klinisi

Cat : untuk dibuat bagaimana penindakan fraud yang terbukti

{jcomments on}

Seminar Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer di Provinsi DKI Jakarta

Kerangka Acuan
Seminar Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer
di Provinsi DKI Jakarta

11 November 2014

Kerjasama antara Dinas Kesehatan Provinsi DKI dengan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

   PENDAHULUAN

Audit mutu rujukan di 41 Puskesmas Kecamatan di DKI Jakarta telah dilakukan dan hasilnya telah dipaparkan pada pertemuan tanggal 21-22 Juli tahun 2014. Hasil audit mutu rujukan menunjukkan, terjadi ketidaksesuaian pada surat rujukan yakni sebesar 58,4 % pada hasil anamnesa, 52,9 % pada hasil pemeriksaan fisik, 56,6 % pada terapi sementara, 57,5 % pada tindakan yang telah diberikan. Sedangkan untuk proses rujukan, ketidaksesuaian terjadi pada pemberian edukasi pasien (74 %) dan komunikasi dengan RS (35 %). Secara khusus audit mutu rujukan juga menunjukkan bahwa untuk penyakit-penyakit tertentu mutu rujukan juga perlu ditingkatkan.

Dari berbagai kesenjangan yang didapat dari hasil audit mutu rujukan tersebut, dapat diatasi dengan mengembangkan Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer. Saat ini pengembangan Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer telah disusun dan siap diterapkan dalam bentuk uji-coba di Provinsi DKI Jakarta. Sistem rujukan yang dikembangkan ini diharapkan dapat menjadi payung dari berbagai komponen rujukan layanan primer dan diharapkan kedepan dapat dibakukan dalam pentuk peraturan Gubernur DKI. Sedangkan pedoman rujukan dikembangkan untuk menjadi petunjuk teknis pelaksanaan berbagai komponen rujukan layanan kesehatan primer dalam bentuk keputusan Kepala Dinas Kesehatan.

 

   TUJUAN

Tujuan Umum: Seminar ini bertujuan untuk menjelaskan isi dari Pengembangan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Primer dan Pedoman Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Primer yang telah disusun bagi Provinsi DKI Jakarta. Secara khusus seminar ini bertujuan untuk

  1. Menjelaskan isi Pengembangan Sistem Rujukan PeLayanan Kesehatan Primer
  2. Menjelaskan Pedoman Rujukan Layanan Primer untuk 4 Penyakit
  3. Diskusi Rencana Tindak Lanjut, Penerapan dan Evaluasi Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Primer

 

  WAKTU & TEMPAT

Hari dan tanggal: Selasa, 11-12 November 2014, Jam: 09.00 – 15.00 WIB
Tempat: Hotel Puri Denpasar, Jakarta

 

PESERTA

Pertemuan ini diharapkan dapat diikuti oleh satu orang perwakilan dari masing-masing Kepala Puskesmas kecamatan (44), dan perwakilan dari RS dan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

Tim Fasilitator
Fasilitator akan berasal dari tim Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) dan tim Dinas Kesehatan Provinsi DKI, yang terdiri dari:

  1. Prof Adi Utarini, MSc, MPH, PhD
  2. dr. Hanevi Djasri, MARS
  3. Armiatin, SE, MPH
  4. dr. M. Hardhantyo

 

  JADWAL KEGIATAN

Waktu

Kegiatan

Fasilitator

Hari I (11 November 2014)

08:30-09:00

Registrasi

Panitia

09:00-09:30

Pembukaan acara

Dinas Kesehatan Provinsi DKI

09:30-10:00

Review Pengembangan Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer di Provinsi DKI

  Progress Project DKI – Hanevi Djasri

 

Prof. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD

10:00-11:00

Pengembangan Sistem Rujukan Layanan Primer  (Pengalaman Australia)

  Materi Presentasi

Monash University

11:00-12:00

  Draf Sistem Rujukan Layanan Primer

  Draf Sistem Rujukan DKI

Armiatin, SE, MPH

12:00-13.00

Lunch Break

 

13:00-14:00

Pedoman Rujukan Layanan Primer untuk 4 Penyakit

  PEB

  DBD

  Diabetes

  Hipertensi

  Panduan Praktek Klinis bagi Dokter

dr. M. Hardhantyo

14:00-15:00

Diskusi rencana Penerapan dan Evaluasi Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Primer

Hanevi Djasri, dr. MARS

Hari II (12 November 2014)

09.00-10.30

Diskusi Kelompok Penyusunan, Tanggapan dan Perbaikan  terhadap Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer

4 Kelompok

10.30- 12.00

Presentasi Hasil Kelompok

(Masing-masing Kelompok, Presentasi selama 20 menit)

4 Kelompok

12.00-12.30

Tanggapan Terhadap Hasil Diskusi Sistem dan Pedoman Rujukan Layanan Kesehatan Primer

Tim FK UGM

12.30 -13.00

Penutup (makan siang)

 

Pembiayaan: Kegiatan ini dibiayai dari APBD Dinas Kesehatan Provinsi DKI