Pendekatan dalam Implementasi Program Prevensi dan Kontrol Penyakit Zoonotik

Penyakit zoonotik merupakan penyakit infeksi yang ditularkan antara hewan ke manusia. Penyebaran penyakit zoonotik dapat terjadi lewat bakteri, virus, parasit yang menjangkiti manusia melalui kontak langsung, makanan, air, hingga lingkungan. Penyakit zoonotik erat kaitannya dengan lingkungan agrikultur yang sangat dekat dengan masyarakat. Permintaan pasar terhadap produk olahan agrikultur yang meningkat di momen- momen tertentu juga meningkatkan risiko penularan penyakit zoonotik.

Deteksi, prevensi, dan kontrol penyakit yang cepat dapat mencegah outbreak di lingkungan. Kolaborasi dan koordinasi dari berbagai instansi diperlukan untuk mempercepat dan memperluas surveilans dan kontrol penyakit. Metode prevensi dari penyakit zoonotik membutuhkan pendekatan yang berbeda berdasarkan jenis kuman penyebabnya. Prevensi yang hanya melibatkan 1 sektor (kesehatan manusia atau hewan) seringkali tidak efektif dalam mencegah penyebaran penyakit zoonotik. Contoh dari implementasinya adalah mencegah penyebaran penyakit rabies yang hanya memanfaatkan vaksin pada manusia (pencegahan paska paparan virus) tanpa memberikan vaksin serupa pada hewan yang terjangkit rabies. Akibatnya, mortalitas pada manusia menurun, namun eliminasi penyebab utama rabies pada hewan terjangkit tidak tertangani. Prevensi harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan multisektor. Program prevensi dan kontrol seharusnya tidak hanya berfokus pada vaksin di manusia, namun juga kontrol populasi anjing, vaksin rabies secara masif pada hewan bertaring, edukasi komunitas, tes diagnostik laboratorium, serta membentuk sistem surveilans dan respons terhadap kasus serupa.

Koordinasi dan keterlibatan multisektor juga dapat meningkatkan keberhasilan program prevensi dan kontrol penyakit secara signifikan dalam kondisi dengan keterbatasan sumberdaya. Memberikan pelatihan pada tenaga kesehatan di sektor kesehatan hewan dan manusia akan memperkuat dan mewadahi investigasi terhadap wabah penyakit zoonotik. Keterlibatan multisektor penting untuk dilakukan karena zoonosis yang terkait sektor agrikultur dan sektor konservasi satwa liar dapat luput dari perhatian praktisi kesehatan. Kurangnya perhatian terhadap sektor yang berbeda dalam aktivitas prevensi dan kontrol penyakit akan menurunkan alokasi sumberdaya di sektor yang dianggap kurang berpengaruh.

Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5711328/ 

WHO Guidelines on AI in Health : Impacts on privacy and regulatory considerations

The integration of artificial intelligence (AI) into healthcare offers great potential for advancing medical research, improving patient outcomes, and optimizing healthcare delivery. However, this integration also presents significant ethical, legal, and privacy challenges. The World Health Organization (WHO) has recently issued three guiding documents addressing the challenges of AI use for health. This contribution seeks to provide an overview of these guidelines, focusing on aspects of data protection and privacy in general.

Continue reading

Diagnosis Penyakit Makin Canggih dengan Stetoskop AI

Kehadiran stetoskop di dunia telah ada selama hampir 200 tahun dan masih dikalungkan di leher setiap dokter atau dimasukkan ke dalam saku jas lab. Fungsi stetoskop yang penting adalah penilaian terhadap suara detak jantung, apakah normal atau tidak.

Dokter dapat mengetahui irama jantung yang tidak teratur melalui stetoskop. Pemeriksaan awal dengan menggunakan stetoskop tanpa segala fitur tambahan sangat berguna untuk mengetahui dengan cepat, apakah orang tersebut sakit dan membutuhkan perawatan darurat untuk menyelamatkan nyawanya.

Continue reading

Finalisasi Kurikulum dan Bahan Ajar MOOC SKDR

29mei24

Tanggal 28-29 Mei 2024, PKMK UGM telah sukses menyelenggarakan pertemuan Finalisasi Massive Open Online Course (MOOC) Pelatihan Penguatan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Penyakit Menular Potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) di Unit Pelapor. Kegiatan ini merupakan tonggak penting dalam memastikan kualitas dan kesesuaian kurikulum dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Kegiatan ini merupakan Kerjasama antara PKMK dengan kementrian kesehatan, WHO (World Health Organization), JICA (Japan International Cooperation Agency), Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto dan didukung oleh CDC (Centers for Disease Prevention and Control) dan safetynet.

Continue reading

Reportase Workshop Pertemuan Penyusunan Kerangka Strategis Direktorat Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan

12mei
Jakarta, Workshop diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI bekerjasama dengan PKMK FK-KMK UGM. Kegiatan diadakan pada tanggal 12-14 Mei di Bekasi dalam rangka melakukan penyusunan lanjutan kerangka kerjas strategis di Direktorat Surveilasn dan Kekarantinaan Kesehatan. Kegiatan penyusunan kerangka strategis ini merupakan langkah strategis dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks, terutama dalam mendeteksi dan merespons potensi wabah penyakit dengan cepat dan tepat.

Kita ketahui bahwa Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan dan responsivitas sistem kesehatan terhadap ancaman pandemi. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 lalu bukanlah yang terakhir, mengingat tingginya mobilitas penduduk dan peningkatan dinamika interaksi manusia dengan lingkungan dan hewan yang terus berubah. Perlu adanya pendekatan program yang mampu menyasar aspek strategis dalam mendukung kesiapsiagaan terhadap berbagai ancaman kesehatan masyarakat.

Penyusunan dokumen didasarkan pada pentingnya membangun suatu ketahanan kesehatan nasional dalam berbagai aspek dan pilar pembangunan. Kebutuhan untuk memiliki sistem yang terintegrasi dan responsif terhadap dinamika kesehatan masyarakat, serta untuk mendukung upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengendalian penyakit. Dalam proses penyusunannya seluruh tim telah berupaya memperhatikan berbagai aspek, mulai dari identifikasi risiko, pengembangan infrastruktur dan teknologi, hingga kolaborasi antar lembaga dan institusi baik dalam maupun luar negeri.

Hasil pembahasan pertemuan ini dapat di akses melalui link berikut: https://docs.google.com/document/d/1806GEC8J3Eu5ULYbDwFkQoRlvrhsapm9/edit

Urgent call to policymakers – make chronic kidney disease a public health priority

Governments and policymakers must act now to elevate chronic kidney disease (CKD) as an urgent health policy priority, to bring the best possible outcomes for patients, caregivers, health systems, the economy and our planet.

We must make an impact on CKD worldwide

Time is crucial for the almost 850 million people – around 1 in 10 people worldwide – living with CKD. Every day that someone remains undiagnosed, CKD is allowed to progress silently

Continue reading

Kemenkes Sebut Gagal Ginjal Jadi Penyakit dengan Beban Kematian Tinggi

Kementerian Kesehatan menyebut penyakit gagal ginjal merupakan salah satu penyakit dengan beban kematian tertinggi di Indonesia. Oleh karenanya, Kemenkes menekankan pentingnya pemerataan akses pelayanan dan praktik kesehatan yang optimal di seluruh daerah.

Hal tersebut disampaikan dalam acara konferensi pers Kidney Health for All; Advancing equitable access to care and optimal medication di Hotel Aryaduta, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (13/3/2024)

Continue reading

The Role of Purchasing Arrangements for Quality Chronic Care: a Scoping Review

Sistem pembelian yang dirancang dengan baik merupakan kunci untuk mengoptimalkan layanan kesehatan. Hal ini dapat membantu mengendalikan biaya, meningkatkan kualitas, dan memperluas akses ke layanan kesehatan. Di tengah tantangan global seperti biaya kesehatan yang meningkat, kualitas layanan yang tidak merata, dan kekurangan tenaga kesehatan, sistem pembelian yang strategis dapat menjadi solusi yang efektif. Dengan merancang sistem pembelian yang tepat, pemerintah dan organisasi kesehatan dapat memastikan penggunaan sumber daya yang efisien, mendorong praktik terbaik, dan meningkatkan akuntabilitas. Hal ini akan menghasilkan layanan kesehatan yang lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi semua orang.

Terdapat konsent global yang signifikan untuk memahami bagaimana sistem pembelian dapat dirancang secara strategis untuk mengoptimalkan layanan kesehatan. Hal ini dirasa penting mengingat beban penyakit kronis yang terus meningkat di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Penyakit kronis masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia, sejumlah penyakit tak menular kategori katastrospik masih menjadi pembiayaan tertinggi dengan posisi pertama ditempati oleh penyakit jantung, disusul penyakit kanker. Kemudian, urutan ketiga ditempati oleh penyakit stroke, lalu diikuti oleh penyakit gagal ginjal dengan biaya yang sangat signifikan pada sistem kesehatan.

Layanan kesehatan untuk penyakit kronis perlu pengaturan terkait pembeliannya dengan cara berkontribusi terhadap: tujuan jaminan kesehatan universal, termasuk peningkatan kualitas, dan pada akhirnya mencapai hasil kesehatan yang lebih baik. Makalah ini akan mengeksplorasi mekanisme pembelian dalam meningkatkan kualitas pelayanan penyakit kronis. Secara khusus, makalah ini memberikan gambaran umum dan ringkasan jenis metode pembayaran yang telah digunakan, merangkum bukti efektivitas metode tersebut dalam meningkatkan kualitas layanan kronis dan menilai faktor pendukung dan hambatan dalam penerapan reformasi pembelian.

Lebih lanjut dapat di baca pada artikel berikut: https://www.who.int/publications/i/item/9789240084919

 

Pertemuan Diseminasi Studi Evaluasi SKDR melalui Audit Medik dan Studi PSP (Pengetahuan, Sikap dan Perilaku) di Provinsi DIY dan Maluku Utara

Kerangka Acuan Kegiatan

Pertemuan Diseminasi Studi Evaluasi SKDR
melalui Audit Medik dan Studi PSP (Pengetahuan, Sikap dan Perilaku)
di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku Utara

Program INSPIRASI
(Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response in Indonesia)

Diselenggarakan oleh: PKMK FKKMK UGM Bekerjasama dengan Kemenkes RI dan CDC

  Pendahuluan

Wabah penyakit merupakan peristiwa kesehatan masyarakat yang dapat menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Peristiwa ini berdampak pada aspek ekonomi, sosial dan psikologis masyarakat dan dapat menyebar ke seluruh wilayah, provinsi bahkan internasional. Indonesia memiliki beberapa penyakit yang dapat menjadi epidemi, antara lain malaria, demam berdarah, leptospirosis, diare, kolera, difteri, antraks, rabies, campak, batuk rejan,dan penyakit baru. Tanpa pengawasan yang tepat, penyakit-penyakit tersebut dapat menjadi ancaman serius bagi penduduk Indonesia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia dengan pendampingan dari WHO dan Center for Disease Control and Prevention US (CDC US) telah membangun Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) pada tahun 2009. Sistem ini berfungsi untuk mendeteksi potensi wabah penyakit menular melalui laporan mingguan, memicu peringatan atau sinyal peringatan dini jika jumlah kasus penyakit melampaui ambang batas yang ditetapkan. Selain data mingguan, SKDR Indonesia juga menggunakan sistem Surveilans Berbasis Kejadian (Event-Based Surveillance/EBS). EBS melibatkan pelaporan penyakit segera dalam waktu 24 jam setelah kejadian kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan keadaan darurat kesehatan masyarakat, dengan memanfaatkan sumber data dari media, masyarakat, dan laporan petugas kesehatan.

Terdapat 24 penyakit infeksi menular yang dilaporkan secara mingguan ke dalam aplikasi SKDR yang didasarkan kepada algoritma yang telah ditetapkan oleh Tim Kerja Surveilans, Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan. Algoritma tersebut dapat dipahami oleh tenaga kesehatan yang memiliki latar belakang klinis, seperti dokter umum. Namun kenyataan di lapangan, petugas pelapor SKDR tidak memiliki latar belakang klinis. Beberapa puskesmas juga menggunakan data rekam medis sebagai acuan pelaporan SKDR, sehingga terdapat standar yang berbeda dalam pelaporan SKDR di lapangan yang akan berpengaruh pada kualitas data SKDR. Data yang berkualitas sangatlah penting dalam menentukan KLB di berbagai tingkatan dan dalam analisis surveilans untuk mencegah terjadinya KLB di masa depan.

PKMK FKKMK UGM bekerja sama dengan CDC Indonesia telah melakukan audit medis serta studi PSP untuk mengevaluasi pelaksanaan SKDR di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku Utara. Sebagai langkah selanjutnya adalah perlu adanya diseminasi hasil evaluasi SKDR yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun rencana tindak lanjut dalam meningkatkan kualitas pelaporan dan data SKDR.

  Tujuan Pertemuan

  1. Memaparkan hasil evaluasi SKDR melalui audit medis dan studi PSP (Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku) di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan maluku Utara
  2. Mendiskusikan tindak lanjut pengembangan kurikulum SKDR

  Peserta Luring

  1. Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI
  2. CDC Country Office of Indonesia
  3. Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI)
  4. Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta
  5. Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara
  6. Balai Besar Pelatihan Kesehatan Ciloto
  7. South Asia Field Epidemiology and Technology Network (Safety Net)
  8. Japan International Cooperation Agency (JICA)
  9. WHO Representative of Indonesia
  10. PKMK FK-KMK UGM

 Peserta Daring

  1. Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta
  2. Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman
  3. Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul
  4. Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo
  5. Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul
  6. Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara
  7. Dinas Kesehatan Kota Ternate
  8. Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan
  9. Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Utara
  10. Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Tengah
  11. Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Timur
  12. Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan
  13. Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Barat
  14. Dinas Kesehatan Kabupaten Morotai
  15. Dinas Kesehatan Kabupaten Sula
  16. Dinas Kesehatan Kabupaten Taliabu

  Jadwal Kegiatan

Hari, tanggal : Kamis, 29 Februari 2024
Waktu : 08.00 – 16.00 WIB
Tempat : JS Luwansa Hotel and Convention Center
Jl. H. R. Rasuna Said No.22 Kav. C, RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Zoom Meeting

Meeting ID: 899 4596 4690
Password: 123456

Waktu Agenda

Waktu Agenda Pemateri
08.00 – 09.00 WIB Registrasi Panitia
09.00 – 09.10 WIB Pembukaan dan sambutan
  1. PKMK FKKMK UGM
  2. SKK
09.10 – 09.40 WIB

Paparan Hasil Audit Medik dan studi PSP penerapan kode ICD-10 dalam kewaspadaan dini dan respon penyakit menular potensi wabah di Provinsi DI Yogyakarta dan Maluku Utara

materi

PKMK UGM
09.40 – 10.40 WIB Diskusi Peserta
10.40 – 12.00 WIB Rencana Tindak Lanjut PKMK UGM
12.00 – 13.00 WIB ISHOMA  
13.00 – 13.30 WIB Paparan draft Kurikulum Unit Pelapor PKMK UGM
13.30 – 13.45 WIB Diskusi Peserta
13.45 – 15.45 WIB Revisi Kurikulum Unit Pelapor Peserta
15.45 – 16.00 WIB Rencana Tindak Lanjut PKMK UGM
16.00 WIB Penutup PKMK UGM

 

 

 

Diseminasi Riset Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM bekerja sama dengan CDC US 

  Latar Belakang

Pada akhir tahun 2023, Indonesia mengalami kenaikan kasus COVID-19 yang signifikan. Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat adanya sebaran varian baru COVID-19, yang dikenal sebagai JN.1. Hingga 19 Desember 2023, varian ini terdeteksi dalam 41 kasus yang ditemukan melalui pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) terhadap 77 sampel. Ini merupakan 43 persen dari 453 kasus konfirmasi COVID-19 yang tercatat sejak November hingga awal Desember 2023. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena penyebaran virus yang cepat dan beban yang ditimbulkannya pada sistem kesehatan Indonesia.

Masalah penting lainnya yang muncul bersamaan dengan pandemi adalah Long COVID. Ini adalah kondisi di mana pasien yang telah sembuh dari COVID-19 mengalami gejala yang berkepanjangan, termasuk kelelahan kronis, masalah pernafasan, dan gangguan fungsi otot. Meskipun gejala Long COVID telah terdokumentasi dengan baik di negara-negara lain, di Indonesia masih terdapat keterbatasan pengetahuan dan penelitian mengenai kondisi ini. Akibatnya, upaya pengobatan dan pencegahan Long COVID di Indonesia menjadi lebih sulit.

Pandemi juga menunjukkan bahwa kerja sama antar lembaga sangat penting dalam mengelola bencana kesehatan masyarakat. Tidak hanya Kementerian Kesehatan, tapi juga Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan perlu berkolaborasi dengan pendekatan One Health untuk mencegah dan menangani penyakit zoonosis. Kolaborasi ini penting untuk menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.

Penelitian dalam kerangka “Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi” memberikan informasi dan wawasan untuk mengatasi dampak kesehatan masyarakat setelah pandemi. Tujuan utamanya adalah menyebarkan hasil penelitian ini dan membahas masalah kesehatan yang akan muncul di masa depan.

  Tujuan Diseminasi

  1. Menyampaikan temuan, data dan analisis studi yang berkaitan dengan kebijakan dan rekomendasi dalam mengatasi tantangan kesehatan masyarakat pasca pandemi
  2. Mendapatkan umpan balik dari para stakeholder terkait temuan, data dan analisis studi untuk mendapatkan rekomendasi kebijakan bagi daerah
  3. Menyusun rencana tindak lanjut dalam penanganan long COVID-19 di Indonesia berdasarkan hasil temuan dan umpan balik

  Waktu dan Tempat

Hari : Rabu, 28 Februari 2023
Waktu : 07.30 – 16.00 Wib
Tempat : JS Luwansa Hotel and Convention Center,
Jl. H. R. Rasuna Said No.22 Kav. C, RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta

 

Waktu Agenda            PIC/Fasilitator/Narasumber
07.30-08.00 WIB Registrasi peserta PKMK FK-KMK UGM
08.00-08.05 WIB Pembukaan dan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya MC
08.05-08.30 WIB

Sambutan dan Pengantar

Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi

  1. PKMK FK-KMK UGM
  2. Dirjen P2P
  3. Rebecca Merril – CDC US
08.30-10.00 WIB

Sesi I: Paparan Tim Peneliti

Gambaran Pasca Covid di Indonesia: Studi Kasus Jawa Timur dan Sulawesi Tenggara
(Siti Nurfadilah H)

materi

Sesi II: Paparan Tim Peneliti

Gangguan Kognitif dan Gejala Lanjut Pasca Akut Covid-19 di Indonesia
dr. Amelia Nur Vidyanti, Sp. N, Sub.Sp NGD (K), Ph.D

materi

Sesi III: Paparan Tim

Pengembangan Modul Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Bagi Tenaga Kesehatan di RSUP. Nasional dr. Cipto Mangunkusumo – Dr. dr. Hervita Diatri, SpKJ(K)

materi

10.00-11.00 WIB Diskusi
  1. Tim Peneliti
  2. PKMK FK-KMK UGM
  3. CDC
11.00-12.00 WIB

Sesi IV: Paparan Tim Peneliti

Prevalensi Long Covid dan Faktor Berhubungan di Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia – Hayani Anastasia

materi

Sesi V: Paparan Tim Peneliti

Gambaran Penyintas Covid dan Faktor Risiko Long Covid Pada Populasi dengan Riwayat Covid-19 Berat
Dr. drg. Theodola Baning Rahayujati, M.Kes

materi

12.00-13.00 WIB Diskusi
  1. Tim Peneliti
  2. PKMK FK-KMK UGM
  3. CDC
13.00-14.00 WIB ISHOMA  
14.00-15.30 WIB

Penyampaian Policy Brief dan rencana tindak lanjut

policy brief

  1. PKMK FK-KMK UGM
  2. CDC
15.30-16.00 WIB Penutup
  1. PKMK FK-KMK UGM
  2. CDC
  3. MC