Ketika banyak sistem pelayanan kesehatan yang berusaha untuk memperbaiki kualitas pelayanan dengan mengendalikan biaya, terdapat cara lain seperti berfokus pada penyedia pelayanan kesehatan melalui indikator kinerja mutu pelayanan. Pada tahun 2006, di Amerika membentuk Physician Quality Reporting Initiative (PQRI) yang mana bertujuan untuk mendukung praktek dokter dalam melaporkan mutu pelayanan perawatan medis. Dalam PQRI, dokter yang terlibat harus melaporkan setidaknya tiga ukuran mutu.
Salah satu pengukurannya adalah untuk pasien penderita kanker. Kriteria pengukuran melalui persentase kunjungan pasien dengan diagnosis kanker yang menerima kemoterapi atau terapi radiasi tanpa memperhatikan usia pasien. Dokter yang memilih untuk menggunakan pengukuran tersebut dapat menggunakan data registrasi pasien untuk melaporkan screening penyakit di setiap kunjungan yang dihitung selama periode 6 atau 12 bulan sebagai proporsi kunjungan pasien yang terpilih dalam screening penyakit. Terdapat tiga pendekatan untuk pengukuran kinerja screening penyakit meliputi apakah screening penyakit telah terjadi atau belum (1) ketika mempertimbangkan sebuah sampel kunjungan terpilih (satu kunjungan per pasien terpilih), (2) ketika mempertimbangkan semua kunjungan terpilih dan (3) ketika membuat rata-rata angka screening penyakit di antara semua pasien terpilih.
Penelitian Bentley, T et al bertujuan untuk mengidentifikasi sebagian besar strategi sampel yang paling efisien untuk mengukur kinerja dalam memperkirakan pelayanan yang tersedia di setiap kunjungan pasien. Kelompok pasien yang dipilih adalah pasien kanker stadium IV yang di diagnosis pada tahun 2006 dengan kunjungan rawat jalan selama periode 3 bulan. Penelitian dilakukan terhadap 106 pasien dengan hasil penelitian 75 % pasien melakukan 4 kunjungan dalam 3 bulan, 46 % pasien melakukan 8 kunjungan dan 29 % pasien melakukan 11 kunjungan.
Hasil penelitian Bentley, T et al menyatakan bahwa terdapat ruang besar untuk perbaikan dalam mengevaluasi penyakit kanker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan screening penyakit onkologi dalam program pengukuran kinerja menjadi evaluasi paling efisien dengan mengumpulkan data dari sampel pasien daripada dari kelompok seluruh pasien dan dari empat kunjungan yang berurutan per pasien daripada dari semua kunjungan yang dimiliki oleh setiap pasien selama periode laporan.
Kesimpulannya, bahwa PQRI dapat membantu untuk membentuk standar perkiraan dan dokumentasi penyakit untuk memastikan bahwa penyakit dapat diketahui dan dirawat dengan segera sehingga dapat mengoptimalkan efisiensi pengumpulan data, mengurangi biaya dan memperbaiki kelayakan mutu.
Daftar Pustaka :
T.G.K. Bentley, J.Malin, S.Longino, S.Asch, S.DY & KA. Lorenz. Methods for Improving Efficiency in Quality Measurement : The Example of Pain Screening. International Journal for Quality in Health Care 2011; Volume 23, Number 4; pp 657-663
Ada perbedaan besar antara standar optimum perawatan dan perawatan actual yang diterima pasien di rumah sakit saat mengalami myocardial infarction akut (AMI). Aplikasi indikator mutu untuk AMI di beberapa negara barat dihasilkan dari pengetahuan yang bernilai tinggi dalam kelayakannya, mudah digunakan dan sesuai keperluan data. Di Amerika Utara, banyak rumah sakit yang melaporkan indikator mutu secara rutin untuk membandingkan dan menilai rumah sakit. Melalui perbandingan dan penilaian, mutu perawatan terus meningkat seperti berkurangnya kematian di ruamh sakit akibat penyakit cardiovascular.
Jakarta (Beritasatu.com) –
BANTUL (Solopos.com)– kembali menambah satu lagi puskesmas Pelayanan Obstreti dan Neonatal Emergensi Dasar (Poned). Sebelumnya telah ada tiga Puskesmas Poned. Puskesmas Poned tersebut berada di Puskesmas Banguntapan II yang dilaunching, Sabtu (26/1).
Blangpidie, (Analisa). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Barat Daya (Abdya) mulai melakukan pembenahan internal, mulai dari disiplin hingga peningkatan pelayanan kesehatan bagi pasien. Direktur RSUD Abdya, dr H Yunalis MKes, kepada Analisa Kamis (17/1) mengatakan, pembenahan tersebut dilakukan agar rumah sakit itu menjadi salah satu rumah sakit rujukan terbaik.
JAKARTA (suaramerdeka.com) – Duta Besar RI, A Agus Sriyono, semalam di KBRI Wellington, menjamu 24 orang delegasi Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, yang terdiri dari berbagai Dokter Spesialis di bidangnya termasuk jajaran manajemen beberapa rumah sakit terkemuka Indonesia antara lain RS Jantung Harapan Kita, RS Kanker Dharmais, RS Fatmawati, RSIA Bunda dan RS Pondok Indah.