Peranan Pasien dan Keluargannya Dalam Upaya Pencegahan Bahaya dan Adverse Event di Pelayanan Kesehatan

Dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan memerlukan peran aktif pasien, keluarga atau orang lain yang menemani-merawat pasien (carers) dan masyarakat (untuk selanjutnya disebut pasien-masyarakat). Pasien dapat melakukan banyak peran penting ketika menerima pelayanan kesehatan serta dukungan keluarga yang baik bisa menjadi sumber motivasi, semangat dan perlindungan terhadap resiko-resiko bahaya kepada pasien, karena keluarga merupakan unit paling dekat dengan pasien, dan merupakan perawat utama bagi pasien.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rangkuti, NA., 2020 mengenai peranan pasien dan keluargannya dalam upaya pencegahan bahaya dan adverse event di pelayanan kesehatan, menggunakan metode deskriptif yang memberikan gambaran secara jelas dari suatu masalah dan keadaan berdasarkan data-data yang sebenarnya. Serta menggunakan metode litertature review melalui mengumpulkan data, membaca, mengkaji dan menganalisis data tersebut dari berbagai sumber seperti buku teks, e-book, jurnal, buku referensi yang berhubungan dengan tema yaitu peran pasien dan keluarga sebagai partner di pelayanan kesehatan untuk mencegah terjadinya bahaya dan adverse events.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran aktif pasien‐masyarakat dalam meningkatkan mutu keselamatan pasien sangatlah diharapkan, baik oleh profesi kesehatan, pasien‐masyarakat ataupun pihak manajemen yang dapat ditingkatkan melalui keterlibatan pasien sebagai partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di RS harus memiliki system dan mekanisme mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban&tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Beberapa bukti‐bukti positif dalam hal penanganan penyakit kronis juga telah menunjukkan adanya dampak positif peran aktif pasien terhadap keluaran klinisnya. Baca lebih lanjut di link berikut……

selengkapnya

 

 

Patient Communication Strategies for Chronic Disease Prevention

Chronic disease prevention is a critical aspect of patient care at all risk levels, but becomes particularly important when a patient moves into rising risk. When that happens, clinicians need to employ targeted patient communication strategies to drive patient engagement with key lifestyle and healthy behavior changes.

Continue reading

Patient Safety: Harga Mati!

SEJAK 2019 World Health Organization (WHO) mengkampanyekan keselamatan pasien melalui World Patient Safety Day. Dalam kampanyenya disebutkan bahwa tidak seorang pun boleh mendapatkan bahaya ketika sedang menjalani perawatan di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan. Namun, kenyataannya, ada 134 juta orang pasien rumah sakit per tahun yang mendapatkan bahaya akibat perawatan yang tidak aman di rumah sakit-rumah sakit negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Petaka itu berkontribusi pada kematian 2,6 juta orang setiap tahun di kelompok negara-negara tersebut.

Data lain menambah keprihatinan dan sekaligus menunjukkan pentingnya pelayanan kesehatan yang aman untuk keselamatan pasien (patient safety). Hal ini akibat pelayanan yang tidak aman yang makin mengkhawatirkan karena insidennya makin banyak, baik di negara berpenghasilan rendah, berpenghasilan menengah, maupun berpenghasilan tinggi. Walhasil, masalah pelayanan kesehatan yang tidak aman merupakan masalah global, tantangan berat yang harus dihadapi bersama-sama.

Menurut WHO, pelayanan kesehatan yang tidak aman merupakan salah satu dari 10 penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Di negara-negara berpenghasilan tinggi saja diperkirakan terdapat satu dari setiap 10 pasien mendapatkan bahaya saat menerima perawatan di rumah sakit. Secara global, sebanyak empat dari setiap 10 pasien mendapat insiden membahayakan dalam pelayanan kesehatan primer dan rawat jalan. Kabar baiknya, kasus-kasus itu sebenarnya bisa dihindari karena hingga 80% dari insiden-insiden membahayakan tersebut dapat dicegah.

Fakta-fakta itu mendorong WHO mengingatkan semua pihak akan pentingnya “budaya” keselamatan pasien (patient safety). Untuk itu, WHO kemudian menetapkan tanggal 17 September sebagai Hari Keselamatan Pasien Sedunia (World Patient Safety Day) yang untuk pertama kalinya diperingati pada tahun 2019.

Buku Patient Safety: Harga Mati! ditulis oleh Nico A. Lumenta, seorang pakar keselamatan pasien dan juga Ketua Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit PERSI yang pertama, serta pelaku sejarah pengembangan patient safety (keselamatan pasien) di Indonesia. Selain Nico, buku ini juga mendapat dukungan dari kontributor yang berpengalaman di bidang keselamatan pasien seperti Bambang Tutuko, Ketua Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit, dan tokoh-tokoh bidang keselamatan pasien lainnya.

Penulis :
Dokter Nico A. Lumenta, K.Nefro, MM, MHKes, FISQua adalah salah satu tokoh bidang patient safety (keselamatan pasien) Indonesia yang memiliki kompetensi mumpuni baik dari sisi keilmuan, pengalaman, maupun keorganisasian keselamatan pasien. Ia adalah ketua pertama organisasi nasional di bidang keselamatan pasien di Indonesia, yakni sejak diangkat menjadi Ketua Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS) Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) tahun 2005.

TOKOPEDIA    SHOPEE

 

 

Upaya Meningkatkan Mutu dan Keselamatan Pasien Di Masa Pandemi Covid-19 (Mendesain lebih baik, serta belajar lebih cepat)

Disarikan oleh: Andriani Yulianti (Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK KMK UGM)

Pandemi Covid-19 telah mengharuskan sistem kesehatan berubah lebih cepat dari biasanya. Pandemi Covid-19 bukanlah alasan seseorang yang masuk dalam sarana pelayanan kesehatan tidak mendapatkan mutu dan keselamatan pasien yang dipersyaratkan, melainkan hak terhadap mutu dan keselamatan pasien harusnya diterima oleh pasien di berbagai kondisi, termasuk di masa pandemi Covid-19.

Saat ini, beberapa upaya meningkatkan mutu telah dilakukan oleh institusi pelayanan kesehatan misalnya, banyak staf saat ini telah mendapatkan pelatihan dan metode dalam peningkatan mutu dan keselamatan pasien yang dapat digunakan untuk mendukung desain sistem baru, serta mempercepat praktek dan beradaptasi dengan pembelajaran yang baru yang kian cepat berubah di masa Pendemi Covid-19.

Dalam sebuah artikel yang disampaikan oleh Fitzsimons, 2021 menjabarkan mengenai prinsip-prinsip peningkatan mutu dan ilmu keselamatan pasien, pilihan pendekatan, metode dan alat, yang mungkin berguna dalam situasi krisis seperti pandemi saat ini. Disampaikan bahwa peningkatan mutu melibatkan upaya merancang, mengimplementasikan dan mempelajari tentang perubahan sistem yang diperlukan untuk menanggapi kebutuhan kesehatan masyarakat yang dinamis. sehingga kegiatan perbaikan dalam situasi krisis harus memastikan dan meningkatkan outcome terbaik pasien dalam sistem meskipun di bawah tekanan. Meskipun kecendrungan bahwa pada situasi darurat terungkap masalah baru yang membutuhkan solusi baru yang mungkin, atau mungkin tidak berhasil seperti yang dibayangkan.

Fitzsimons, 2020 juga menekankan pada Ilmu peningkatan mutu didasarkan pada teori, seperti yang sampaikan oleh W. Edwards Deming, yang membantu mengidentifikasi upaya perbaikan termasuk sifat sistem, psikologi perubahan, pemahaman variasi dalam proses dan pengukurannya serta bagaimana pengetahuan baru ditemukan. Beberapa tips yang disampaikan oleh Fitzmons yakni pentingnya pola pikir, konsep, dan semua alat peningkatan mutu dan keselamatan pasien dapat digunakan dalam situasi krisis seperti masa pandemi Covid-19 saat ini.

Kemudian memilih ide-ide yang baik dan belajar melalui tes perubahan skala kecil dalam setting yang nyata sambil mengindentfikasi apa saja yang dapat menyebabkan gangguan minimal untuk situasi kritis, maupun yang dapat mendukung pengambilan keputusan yang baik ketika sumber daya diperluas. Serta, melatih tenaga kesehatan dalam keterampilan non-teknis utamanya, mengenai kesadaran akan situasi bersama akan kondisi krisis dan meningkatkan komunikasi agar dapat belajar dan beradaptasi dengan situasi yang dinamis untuk meningkatkan keamanan dan efektivitas.

Menurut Fitzmore bahwa siklus belajar yang cepat merupakan pendekatan inti dari semua upaya perbaikan. Bahkan di situasi krisis, penting untuk memperjelas tujuan untuk setiap upaya perbaikan pada struktur dan proses yang ada dalam sebuah sistem. Dalam siklus belajar cepat bertujuan untuk belajar dengan cepat dengan gangguan seminimal mungkin.

misalnya, menguji ide upaya perbaikan di suatu tempat selama 30–60 menit, kemudian amati dan kumpulkan beberapa data, lalu segera memberikan umpan balik tentang kelayakannya sebelum merencanakan langkah selanjutnya. Jika sekali perubahan tersebut dianggap layak, maka pengujian skala luas yang cepat dapat dilakukan, dilanjutkan dengan menyebarkan ke daerah lain jika dianggap bermanfaat.

Berikut ini beberapa contoh siklus belajar cepat yang digambarkan oleh Fitzmore, yang dapat di implementasikan ke dalam pekerjaan sehari-hari, dapat menggunakan data yang sudah dikumpulkan atau belajar dari diskusi rutin atau saat serah terima pekerjaan. Namun, contoh di bawah ini bukanlah panduan langkah-demi-langkah karena setiap project individu memunculkan siklusnya tersendiri tergantung pada pembelajaran dari masing-masing project PDSA sebelumnya:

  1. Upaya peningkatan mutu di ICU, yakni ingin meningkatkan mutu pemanfaatan staf perawat dengan terbatasnya pengalaman perawat di ICU
    • Tujuan: mengatur ulang penyediaan perawatan di ICU untuk memenuhi permintaan pasien.
    • Tindakan: Pengalaman keselamatan pasien saat serah terima, wawancara perawat, dan safety outcomes.
    • Ubah ide: Gunakan perawat yang berpengalaman untuk mengawasi staf ICU yang tidak berpengalaman.

PDSA1—Tim staf ICU merencanakan desain ulang perawatan ICU berdasarkan kebutuhan untuk melayani peningkatan jumlah pasien dengan memberikan perawatan dan dukungan yang aman, dan efektif. Tugas utama diidentifikasi, rasio pengawasan yang disarankan. Uji dengan berdiskusi dengan staf lain.

PDSA2— Checklists staf dan penyelia baru yang direkomendasikan

PDSA3— Checklists diperbarui dan diuji ulang.

PDSA4—Pertanyaan mengenai rasio mana yang benar untuk supervisi perawat berpengalaman, 2:1 atau 3:1. Keputusan dibuat untuk mengamati seperti apa pengalaman pengawasan 2:1 lebih dari 1 jam dengan umpan balik yang dikumpulkan dari semua staf yang terlibat.

PDSA5—Saran bahwa untuk sebagian besar pasien pengawasan 2: 1 dapat dikelola tetapi beberapa kelompok pasien membutuhkan tantangan. Amati 1 jam lebih lanjut khususnya di kelompok pasien yang teridentifikasi.

  1. Dalam kegiatan pelatihan—Meningkatkan pelatihan alat pelindung diri (APD)
    • Tujuan: Semua staf dapat menggunakan dan melepas APD dengan aman dan efisien.
    • Pengukuran: Survei terhadap pelatih dan peserta pelatihan dan observasi penggunaan APD.
    • Ubah ide: video dan pelatihan tatap muka (dengan jarak sosial).

PDSA1—Dengan para ahli (pengendalian infeksi/mikrobiologi) mengidentifikasi langkah-langkah kritis dan masalah pada penggunaan APD. Tinjau beberapa video pelatihan dan memilih fitur terbaik. Uji dalam kelompok ahli.

PDSA2—Gunakan pembelajaran untuk mengembangkan pelatihan dan pengujian pada satu orang, tiga orang kemudian lima.

PDSA3—Tentukan elemen pelatihan apa yang dapat dimasukkan ke dalam video sebelum melakukan praktik APD. Uji video pada satu, tiga dan lima orang dan lakukan adaptasi dari umpan balik.

PDSA4—Tes pada kelompok 20 orang dan adaptasi dari umpan balik. Gunakan secara luas dan pantau.

  1. Kegiatan dalam komunikasi—Membuat garis keputusan triase dan melakukan pengujian
    • Tujuan: Untuk merancang dan mengimplementasikan garis keputusan triase berbasis risiko.
    • Tindakan: Perbandingan berdasarkan pengambilan keputusan berdasarkan ahli dan berdasarkan pengalaman pengguna.
    • Ubah ide: Mengembangkan dan menyempurnakan algoritme keputusan.

PDSA1—Dengan bimbingan ahli, kembangkan algoritme untuk membantu staf yang tidak terlatih secara medis untuk menjawab pertanyaan tertentu. uji Jalur dengan rekan kerja.

PDSA2—Kembangkan skenario pemanggil tiruan dan mainkan dengan staf. Beberapa masalah diidentifikasi untuk pertanyaan non-algoritma. Algoritma diperbarui.

PDSA3—Menguji algoritme dengan penelpon yang nyata dan cadangan ahli medis. Beberapa masalah non-algoritma tetap ada. Keputusan untuk mengukur frekuensi. pertanyaan non-algoritma dengan pengujian pasien nyata dan cadangan ahli. Saran bahwa 1:10 penelpon membutuhkan bantuan ahli.

PDSA4—Tes menggunakan 1 ahli medis dengan 8 staf non-medis per panggilan shift

Fitzmore juga menekankan pentingnya penggunaan pengukuran dalam siklus belajar cepat. Model untuk Peningkatan menantang kita untuk mengidentifikasi ukuran objektif yang digunakan untuk mendukung keyakinan bahwa perubahan mengarah ke peningkatan. Serta, penting untuk menyadari akan variasi yang terjadi ketika parameter berulang kali diukur dan untuk menjaga agar tidak salah menafsirkan sinyal yang masuk secara acak sebagai bukti perbaikan. Serta, penting untuk memperhatikan Ilmu perilaku, semua perbaikan membutuhkan individu dan kelompok untuk mengubah perilaku.

Pentingnya menggunakan petunjuk dengan tepat untuk membantu mengingatkan dan mendorong orang untuk bertindak sesuai tujuan, cara dan menekankan bahwa desain yang baik (mudah dilakukan). Misalnya, merancang suatu sistem baru yang memastikan perilaku seperti mencuci tangan atau Alat Pelindung Diri (PPE) penggunaan dapat di adaptasi dengan baik.

Selanjutnya, pentingnya standar dalam perawatan krisis karena mungkin tidak memungkinkan untuk memenuhi standar mutu saat kondisi normal, sehingga pedoman etika dan operasional diperlukan untuk beradaptasi dengan skenario baru, sehingga penting membuat definisi situasional mengenai mutu. Prinsip-prinsip meliputi: keadilan, kewajiban untuk peduli, kewajiban untuk mengelola sumber daya, transparansi, konsistensi, proporsionalitas dan akuntabilitas. Serta perlunya kerja tim dan faktor manusia, banyak praktisi yang telah berpengalaman bekerja dalam waktu lama dalam tim secara efektif untuk memberikan layanan yang kompleks, namun situasi krisis terdapat tim baru yang dibentuk dan harus tampil dengan standar tinggi dalam waktu singkat.

Sehingga perlu mengidentifikasi keterampilan kritis yang dapat diajarkan yang diperlukan untuk tim yang baru agar mampu bekerja secara efektif. Serta yang terakhir, perlunya melakukan peninjauan kembali akan upaya peningkatan mutu yang dilakukan, dengan mempertanyakan beberapa hal: Apa yang kita harapkan akan terjadi? Apa yang terjadi? Mengapa ada perbedaan? Serta, Apa yang dapat kita pelajari atau lakukan dari perbedaaan tersebut?

Sumber:

Fitzsimons, J. (2021). Quality and safety in the time of Coronavirus: design better, learn faster. International Journal for Quality in Health Care, 33(1), mzaa051.

 

 

Hospital care standards ‘maintained’ in pandemic – study

Standards of care for hospital patients admitted with Covid-19 did not slip during the pandemic, a new study suggests. More than three-quarters of people admitted to hospital with coronavirus received “good” or “excellent” care, according to a new review from the Royal College of Physicians (RCP). Researchers examined the case records of 510 patients treated across 19 NHS trusts in England during 2020.

Continue reading

Penguatan Panduan Asuhan Keperawatan (PAK) Dalam Pemberian Asuhan Keperawatan Covid-19 Di Rumah Sakit

Tenaga keperawatan dalam suatu rumah sakit sangatlah penting, mengingat sumber daya manusia keperawatan sebagai salah satu tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan 24 jam sehingga perlu upaya meningkatkan kualitas pelayanannya melalui pengembangan sumber daya manusia keperawatan. Perawat harus memiliki kompetensi yang digunakan dan ditunjukkan dari hasil penerapan pengetahuan, keterampilan dan pertimbangan yang efektif dalam memberikan asuhan dan pelayanan keperawatan agar dapat memberikan pelayanan yang berkualitas.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Tarigan, R., dkk (2021) mengenai Penguatan Panduan Asuhan Keperawatan (PAK) Dalam Pemberian Asuhan Keperawatan Covid-19 Di Rumah Sakit dengan metode studi analisis, memberikan gambaran tentang proses penguatan panduan PAK dalam pemberian asuhan keperawatan Covid-19 di rumah sakit, yang dilakukan dengan cara terlebih dahulu melakukan analisis masalah dengan menggunakan fishbone. Selanjutnya, untuk menyelesaikan masalah tersebut, dilakukan dengan menggunakan pendekatan tahapan berubah Kurt Lewin (unfreeze, movement dan refreeze). Terakhir dilakukan sosialisasi, dimana hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa post-test sosialisasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan perawat setelah dilaksanakannya kegiatan penguatan PAK.

Dalam penelitian ini juga disampaikan bahwa dalam implementasinya dilakukan dengan melakukan koordinasi dan bekerja sama dengan Komite Keperawatan untuk memberikan sosialisasi PAK Covid-19 yang bertujuan untuk memberikan refreshing dan meningkatkan pemahaman perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada Covid-19. Membuat SPO penerapan PAK Covid-19 dan instrumen supervisi yang dapat digunakan oleh Kepala Ruangan untuk melakukan monitoring dan evaluasi penerapan PAK Covid-19 ini.

Baca lebih lanjut pada linnk berikut

klik disini

 

 

 

 

Pakar Unpad Ungkap Tantangan Perawat di Masa Pandemi

Dalam kondisi kasus positif Covid-19 yang terus melonjak belakangan ini, tenaga kesehatan di rumah sakit harus berjibaku menolong para pasien. Segmentasi tenaga kesehatan di Indonesia, sekitar 50 sampai 80 persen merupakan perawat. Dengan komposisi yang banyak ini, perawat menjadi garda terdepan dalam perawatan penderita Covid-19. Namun fakta di lapangan, perawat Indonesia masih dihadapkan pada sejumlah tantangan.

Continue reading