FGD Dinkes

Kerangka Acuan Kegiatan

Focus Group Discussion Pelaksanaan Program Surveilans Penyakit Di 5 Provinsi
(Provinsi Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Papua)

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 – 24 Desember 2020

  PENDAHULUAN

Berdasarkan permenkes nomor 45 tahun 2014, surveilans kesehatan adalah kegiatan pengamatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit. Hal ini dilakukan agar dapat memberikan kewaspadaan dini dari potensi kejadian luar biasa dan menyusun rencana pengendalian dan penanggulangan secara efektif dan efisien. Dalam peraturan permenkes nomor 1479 tahun 2003 tersebut terdapat 29 penyakit menular yang harus dimonitor di rumah sakit dimana 25 diantaranya dapat dilakukan pendataan oleh pelayanan primer (Puskesmas).

Sistem surveilans yang dilaksanankan saat ini menitikberatkan pada integrasi unit – unit penyelenggara surveilans dengan laboraturium, sumber sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah. Data yang terkumpul di setiap unit akan diintegrasikan dan terhubung sampai ke pusat. Informasi yang cepat dan akurat dapat menjadi landasan yang kuat pengambilan kebijakan strategis di tingkat lokal maupun nasional.

Program INSPIRASI (Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response in Indonesia) memiliki tujuan untuk membantu pelaksanaan kegiatan surveilans kementerian kesehatan, termasuk dinas kesehatan provinsi dan kabupaten dalam mendeteksi, mencegah, dan merespon potensi bencana kesehatan.

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Mengetahui proses pelaksanaan surveilans penyakit dari prosedur deteksi dini, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik
  2. Mengetahui kendala, saran dan harapan perbaikan dalam pelaksaaan surveilans berbasis kejadian dan surveilans berbasis indikator (SKDR)

  TIM KERJA

  1. Core team :
    • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua (Principle Investigator)
    • dr. Hardhantyo MPH, Ph.D (Project Director)
    • Anantasia Noviana (Business official)
    • Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. Supporting team
    • Andriani, SE, MPH
    • Eva Tirta Bayu S.Kep, NS, MPH
    • dr. Bernadeta Rachela
    • dr. I Wayan Cahyadi
  3. Project Partner
    • Project HOPE

  JADWAL KEGIATAN

Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
08.00 – 08.05 Pendahuluan Program INSPIRASI 2020 ~ 2025 dr. Hardhantyo, MPH, PhD
08.15 – 09.25 Wawancara pelaksanaan kegiatan surveilans, kendala serta usulan perbaikannya Moderator:
dr. Bernadeta Rachela
09.25 – 09.30 Penutup dr. Hardhantyo, MPH, PhD

 

 PESERTA

Dinas Kesehatan Provinsi :

  • Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
  • Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi
  • Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular

Dinas Kesehatan Kabupaten

  • Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
  • Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi
  • Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular

MATERI WAWANCARA

Detail pertanyaan terdapat dalam guideline, adapun informasi umum terkait materi wawancara seperti yang tertera dalam komponen dibawah ini.

  1. Secara umum mohon Bapak / Ibu dapat memberikan pandangan tentang apa saja program surveilans yang dikerjakan diwilayah Bapak / Ibu saat ini?
  2. Bagaimana pelaksanaan surveilans berbasis kejadian mulai dari sistem deteksi, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik
  3. Bagaimana pelaksanaan surveilans berbasis indikator (SKDR) sistem deteksi, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis, respon hingga komunikasi hasil surveilans kepada publik.
  4. Mengetahui kendala dan saran perbaikan dalam pelaksaaan surveilans berbasis kejadian dan surveilans berbasis indikator (SKDR).5. Adakah kendala dalam pemakaian aplikasi / website pelaporan data surveilans, adakah integrasi data antara simpus dengan aplikasi / website
  5. Mohon memberikan input terkait program surveilans covid – 19 di wilayah Bapak / Ibu? Apa bagaimana proses pencatatannya, apa saja kendalanya, apakah terhubung dengan system informasi data milik pemerintah pusat secara langsung
  6. Bagaimana pengalokasian anggaran dan SDM dalam surveilans.
  7. Komponen apa yang dapat kita perbaiki bersama dalam waktu dekat. Apakah harapan terhadap system yang ada saat ini.

 

 

 

 

 

 

FGD BPBD

Kerangka Acuan Kegiatan

Focus Group Discussion Pelaksanaan Program Kesiapsiagaan dan Manajemen Penanganan Bencana Public Health di 5 Provinsi (Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Papua).

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 – 24 Desember 2020

  PENDAHULUAN

Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan /atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, sebagain besar wilayah Indonesia merupakan perairan yang terdiri dari 17.508 pulau, dengan lima pulau besar. Bencana hidrometerologi sangat berpotensi terjadi dengan topografi yang beragam dan kompleks, berbukit bukit, banyak aliran sungai disertai pengaruh perubahan iklim. Posisi geografis Indonesia juga terletak diantara 3 lempeng besar dunia, yakni lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, lempeng Indo Australia. Sehingga secara geografi Indonesia juga rawan mengalami gempa tektonik maupun vulkanik. Berbagai latar belakang tersebut menyebabkan Indonesia sangat rawan terjadi bencana alam. Bencana alam secara mudahnya dapat diartikan sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor.

Bencana sosial merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas dan teror. Keanekaragaman suku, budaya, serta jumlah penduduk sebesar 255.182.144 jiwa dengan luas wilayah daratan 1.910.931km2 yang sebagian besar tinggal di pulau Jawa (57%) sebagiannya lagi menyebar dari Sabang-Merauke, menurut Badan Pusat Statistik (2015). Menjadi faktor resiko terjadinya bencana sosial.

Hubungan dengan masyarakat global, pariwisata, pengembangan pusat pusat industri dan beberapa daerah yang memiliki penyakit endemis juga menyebabkan Indonesia mengalami kerentanan dalam hal bencana non alam. Jika diartikan bencana non alam merupakan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam antara lain berupa gagal teknologim gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit. Hal ini tentunya masih dapat kita rasakan sampai saat ini, sebagai salah satu contoh yakni pandemi Covid 19 yang terjadi hampir setahun.

Berbagai potensi tersebut seolah seperti pisau bermata dua, dapat menguntungkan sekaligus merugikan. Merugikan karena bencana alam, non alam dan sosial rawan terjadi di Indonesia. Bencana non alam dibidang kesehatan masyarakat seperti kejadian luar biasa, wabah dan Pandemi Covid 19 yang berlangsung hampir satu tahun memang berdampak langsung pada sistem kesehatan. Namun bencana lain baik alam maupun sosial juga dapat berdampak pada sistem kesehatan atau yang sering disebut dengan krisis kesehatan. Krisis kesehatan yang terjadi diantaranya korban mati, korban luka, sakit, pengungsi, lumpuhnya pelayana kesehatan, penyakit menular, sanitasi lingkungan, gangguan jiwa, dan masalah kesehatan lainnya.

Sebagai salah satu lembaga bentukan pemerintah daerah yang diamanahi oleh Undang Undang No 24 Tahun 2007, BPBD menjadi lembaga yang memiliki dua unsur yakni pengarah penanggulangan bencana dan pelaksana penanggulangan bencana. Lembaga ini menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam penanggulangan bencana baik dalam situasi tidak terjadi bencana (pra), tanggap darurat (saat bencana) maupun setelah bencana(pasca), hal tersebut yang melatarbelakangi kami untuk melakukan focus group discussion untuk mengetahui kesiapan dan kendala yang dihadapi BPBD dalam menangani bencana alam, non alam dan sosial. Sehingga dapat membantu peningkatan kapasitas penanggulangan bencana yang mengacu pada sistem penanggulangan bencana nasional.

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. Mengetahui mekanisme BPBD (Public Health Emergency Operation Center – PHEOC) dalam menangani bencana alam, sosial, dan terkhusus terkait bencana public health (krisis kesehatan, wabah penyakit, epidemi dan pandemi) dan kesiapan pencegahannya di masa mendatang.
  2. Mengetahui kendala dan saran perbaikan dalam pelaksanaan PHEOC

  TIM KERJA

  1. Core team :
    • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua (Principle Investigator)
    • dr. Hardhantyo MPH, Ph.D (Project Director)
    • Anantasia Noviana (Business official)
    • Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. Supporting team
    • Andriani, SE, MPH
    • Eva Tirta Bayu S.Kep, NS, MPH
    • dr. Bernadeta Rachela
    • dr. I Wayan Cahyadi
  3. Project Partner
    • Project HOPE

  JADWAL KEGIATAN

Waktu Materi Pembahasan Narasumber / Fasilitator
08.00 – 08.05 Pendahuluan Program INSPIRASI 2020 ~ 2025 dr. Hardhantyo, MPH, PhD
08.15 – 09.25 Wawancara pelaksanaan kegiatan surveilans, kendala serta usulan perbaikannya Eva Tirta Bayu, S.Kep, MPH, dan dr. I Wayan Cahyadi
09.25 – 09.30 Penutup dr. Hardhantyo, MPH, PhD

 

 PESERTA

  1. Tim BPBD Provinsi : Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Papua
  2. Tim BPBD Kabupaten Sulawesi Selatan

MATERI DISKUSI

  1. Secara umum mohon bapak/ibu dapat memberikan pandangan tentang managemen penanggulangan bencana alam dan non alam yang ada di Indonesia saat ini? Apakah sudah sesuai dengan undang-undang 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana
  2. bagaimana peran BPBD mulai pra bencana, adakah system yang disiapkan untuk kejadian bencana epidemi/pandemic? (Mengikuti siklus penanggulangan bencana : pencegahan, mitigasi, kesiapan, peringatan dini, tanggap darurat, pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi
  3. Mapping sumber daya yang dapat digunakan pada saat terjadi bencana.
  4. Prosedur koordinasi penanggulangan bencana public health bersama kementerian kesehatan, pembagian wilayah kerja
  5. Kegiatan drill emergency exercise persiapan pandemi / epidemi? 

 

 

 

 

 

 

 

Usage of current surveilans data for early outbreak

Kerangka Acuan Kegiatan

Workshop of current surveillance data for early outbreak detection
for Province Health Office and District Health Office (4 days)

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

14 Januari 2021

  PENDAHULUAN

………………………………….

 

 

  TUJUAN PERTEMUAN

  1. ………………………………….

 

  PESERTA

  1. Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. UGM
  3. Project HOPE
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  5. Dinas Kesehatan Provinsi
  6. Dinas Kesehatan Kabupaten
  7. Peneliti dalam pusat penelitian
  8. Mahasiswa Program FETP, KMPK

  JADWAL KEGIATAN

Hari : Sabtu, 20 Februari 2021
Waktu : 09.00 – 11.30
Lokasi : 

 

Identifying and Investigating Outbreaks: The Basics

Learning about basic outbreaks. All the way through identifying the pathogens and figuring out what’s going on to reporting and responding to the outbreak. In doing so we’re going to learn several important epidemiological concepts.

What Is an Outbreak
Identify Cases
Describe the Outbreak by Person, Place, and Time
Identify and Characterize the Cause
Risk Factor Study in a Defined Population
Risk Factor Study in an Open Population
Intervene and Report
Practice : Case

Weighing Evidence and Identifying Causes

learning about how to ask precise epidemiologic questions and how to investigate these using important tools.
Introduction to Weighing Evidence and Identifying Causes
General Questions to Precise Hypotheses
Identifying Comparison Groups
Understanding Basic Statistical Tests
Practice : Case

Measure Epidemic Dynamic

Measures of Transmissibility: Attack Rates
Measures of Transmissibility: Reproductive Numbers
Natural History
Implications for Control
Summary of The Terrible Law: Basic Epidemic Dynamics
Practice : Case COVID 19

 

 

Pertemuan Koordinasi UGM – Project HOPE – CDC

Kerangka Acuan Kegiatan

Pertemuan Koordinasi UGM – Project HOPE – CDC

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025
(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

13 & 14 Januari 2021

  PENDAHULUAN

Pertemuan ini merupakan pertemuan koordinasi internal yang akan membahas detail pelaksanaan kegiatan program INSPIRASI. Kegiatan yang akan dibahas adalah teknis pelaporan, serta materi dalam pelaksanaan risk assessment PHEOC di Makasar.

  TUJUAN

Tujuan kegiatan ini adalah

  1. Membahas detail dan capaian kegiatan yang telah dilakukan oleh UGM dan CDC, melaporkan hasil sementara kegiatan asesmen kesenjangan pelaksanaan kegiatan surveilans penyakit di Indonesia.
  2. Membahas detail dalam pelaksanaan kegiatan selanjutnya, berupa mapping system data interoperability, penjelasan tentang kegiatan data sharing agreement, dan rencana peningkatan interoperabilitas data surveilans Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  3. Disepakati detail dan tanggal pada aktivitas 1.3 (Systems mapping and interoperability architecture development and design, Technical assistance in Jakarta to strengthen the current web-based surveillance data entry platform, Workshop in the data sharing agreements and protocols in line with the existing system), 1.4 (pelatihan bagi staff surveilans dinas kesehatan provinsi dan kabupaten), 1.5 (Established policy group and PHEOC steering committee in province and confirm legal authority PHEOC, Kunjungan risk assessment dan analisis kesenjangan pelaksanaan PHEOC di Sulawesi Selatan , Reviewing results of assessment gaps and recommendations of past event)

  PESERTA

  1. Centres for Disease Control and Prevention (CDC)
    • William Hawley, MPH, Ph.D (Country Director, Indonesia, Centers for Disease Control and Prevention)
    • C. Yekti Praptiningsih MDDs, MEpid (Medical Epidemiologist, Centers for Disease Control and Prevention)
    • Bu amalya
  2. UGM
    • Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua (Principle Investigator)
    • dr. Hardhantyo MPH, Ph.D (Project Director)
    • Anantasia Noviana (Business official)
  3. Project HOPE
    1. drh. Yogi Mahendra (Emergency Response Specialist)

  JADWAL KEGIATAN

Hari dan Tanggal : Rabu, 13 Januari 2020
Pertemuan di Kantor CDC Country Office Indonesia

Waktu Materi/ Kegiatan Narasumber
09.00 – 09.15 WIB Pengantar dan Sambutan Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, Fisqua
09.15 – 09.45 WIB Laporan hasil kegiatan asesmen kesenjangan pelaksanaan kegiatan surveilans di Indonesia dan rencana program INSPIRASI dr. Hardhantyo MPH, Ph.D
10.00 – 10.15 WIB Diskusi dan rencana tindak lanjut persiapan untuk kegiatan audiensi dengan Kemenkes

 

 

 

Pertemuan Koordinasi UGM – Project HOPE

Kerangka Acuan Kegiatan

Pertemuan Koordinasi UGM – Project HOPE

Program INSPIRASI 2020 ~ 2025

(Improving Quality Of Disease Preparedness, Surveillance And Response In Indonesia)

12 Januari 2021

  PENDAHULUAN

Pertemuan ini merupakan pertemuan koordinasi internal yang akan membahas detail pelaksanaan kegiatan program INSPIRASI. Kegiatan yang akan dibahas adalah teknis pelaporan, persiapan kegiatan system mapping, persiapan kegiatan pelatihan di 1.4 dan pelaksanaan risk assessment PHEOC di Makasar (1.5).

   TUJUAN

Tujuan kegiatan ini adalah

  1. Koordinasi internal
  2. Tersusun detail pelaksanaan kegiatan 1.3 (Systems mapping and interoperability architecture development and design, Technical assistance in Jakarta to strengthen the current web-based surveillance data entry platform, Workshop in the data sharing agreements and protocols in line with the existing system)
  3. Tersusun detail pelaksanaan kegiatan 1.4 (pelatihan bagi staff surveilans dinas kesehatan provinsi dan kabupaten)
  4. Tersusun detail pelaksanaan kegiatan 1.5 (Established policy group and PHEOC steering committee in province and confirm legal authority PHEOC, Kunjungan risk assessment dan analisis kesenjangan pelaksanaan PHEOC di Sulawesi Selatan , Reviewing results of assessment gaps and recommendations of past event)

   PESERTA

  1. UGM
    1. Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua (Principle Investigator)
    2. dr. Hardhantyo MPH, Ph.D (Project Director)
    3. Anantasia Noviana (Business official)
  2. Project HOPE
    1. drh. Yogi Mahendra (Emergency Response Specialist)
    2. John Bronson (Technical Strategy & Operations)
    3. Laura Brye, MSc. (Senior Program Officer)
    4. Dr. Tom Kenyon, MD, MPH (Chief Health Officer)

   JADWAL KEGIATAN

Hari dan Tanggal : Selasa, 12 Januari 2020
Pertemuan di Kantor Project HOPE Country office Indonesia

Waktu Materi/ Kegiatan Narasumber
09.00 – 11.00 Pembahasan kegiatan 1.3 Integrate MOH data source from disease surveillance using web portal Tim
11.00 – 13.00 Pembahasan kegiatan 1.4 Conduct Training of MOH Staff Tim
13.00 – 15.00 Pembahasan kegiatan 1.5 Established or strengthen provincial PHEOC in Sulawesi Selatan Tim

 

 

 

Seminar Upaya Peningkatan Mutu Surveilans Penyakit di Masa Pandemi: Tantangan dan Harapan

Kerangka Acuan Kegiatan

Seminar Upaya Peningkatan Mutu Surveilans Penyakit
di Masa Pandemi: Tantangan dan Harapan

INSPIRASI Program 2020 – 2025
(Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response In Indonesia)

Diselenggarakan oleh PKMK FKKMK UGM
Bekerjasama dengan: Kemenkes RI dan CDC Indonesia

Kamis, 4 Februari 2021 (08.30 – 12.00 WIB)

  Pengantar

Surveilans kesehatan menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 45 Tahun 2014 adalah kegiatan pengamatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit. Hasil dari surveilans tersebut dapat memberikan informasi kepada pengambil kebijakan agar dapat melakukan langkah pencegahan dan pengendalian penyakit untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB) dan mengembangkan respon segera. Informasi surveilans akan bermanfaat bagi kementrian kesehatan, kementrian keuangan dan donor untuk memonitor sejauh mana populasi telah terlayani dengan baik. 

Situasi pandemi seperti saat ini menjadi sesuatu yang baru bagi sistem surveilans di Indonesia. Selama pandemic, kegiatan surveilans berfokus pada pandemi Covid-19, namun tanpa mengesampingkan penyakit menular lain yang secara rutin dimonitor di rumah sakit dan pelayanan primer. Pandemi juga menunjukan peranan penting teknologi informasi dalam sistem pelaporan dan pencatatan, namun masih banyak terjadi ketidaksamaan dalam pelaporan kata lain belum terwujud satu data. Hal tersebut tentunya menjadi tantangan dalam membangun kesepakatan dan komitmen menetapkan strategi yang dapat meningkatkan kualitas surveilans dan manajemen data surveilans. Kegiatan seminar ini akan meninjau pelaksanaan system surveilans yang ideal secara akademik dan melihat kemungkinannya untuk dikembangkan di Indonesia. Selain kegiatan ini juga akan memperkenalkan secara singkat kegiatan INSPIRASI 2020 – 2025 guna mendapatkan gambaran input program dari para stakeholders di provinsi/daerah.

  Tujuan

Tujuan dari webinar ini adalah

  1. Mengetahui prosedur surveilans penyakit yang ideal sesuai tinjauan akademik mulai dari prosedur deteksi dini, registrasi, konfirmasi, pelaporan, analisis hingga diseminasi umpan balik hasil surveilans kepada publik.
  2. Mengetahui peranan dan manfaat teknologi informasi dalam manajemen data surveilans
  3. Peluncuran dan penjelasan kegiatan Inspirasi.

  Sasaran peserta

  1. Kementrian Kesehatan (Direktorat Jenderal P2P)
  2. Pusdatin Kementerian Kesehatan
  3. CDC Country office Indonesia
  4. Dinas Kesehatan Provinsi (34 Provinsi)
  5. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
  6. Organisasi profesi
  7. Perguruan tinggi / Universitas
  8. LSM Kesehatan
  9. Perwakilan Fasyankes, Primer – Tersier

  Jadwal Kegiatan

Hari dan Tanggal: Kamis, 4 Februari 2021
Media: zoom meeting

Waktu Materi/ Kegiatan Narasumber
08.30 – 08.40 WIB Pengantar dan Sambutan Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, Fisqua
08.40 – 09.10 WIB

Upaya peningkatan mutu pelaksanaan surveilans penyakit di Masa Pandemi: Tinjauan ideal dari perspektif akademik

materi   video

Pemateri:
dr. Riris Andono Ahmad, MPH, PhD

Moderator:
dr. Bernadeta Rachela

09.10 – 09.25 WIB Tanya jawab  
09.25 – 09.55 WIB

Komponen esensial dalam upaya interoperabilitas data surveilans di Indonesia

materi   video

Pemateri:
dr. Guardian Yoki Sanjaya, MHlthInfo

Moderator:
dr. I Wayan Cahyadi Surya

09.55 – 10.10 WIB Tanya jawab  
10.10 – 11.40 WIB

Pengenalan program INSPIRASI dalam upaya peningkatan mutu surveilans di Indonesia

materi   video

Pemateri:
Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, Fisqua

Moderator:
dr. Hardhantyo MPH, Ph.D

Pembahas:
Kementerian Kesehatan Direktorat P2P

11.40 – 10.55 WIB Diskusi  
10.55 – 11.35 WIB

Sesi Panel

Tantangan pelaksanaan surveilans dan respon terhadap alert, sebelum dan pada saat pandemi COVID-19.

Panelis :

Kepala Dinas Provinsi Sulawesi Selatan

materi   video

Kepala Dinas Provinsi DI Yogyakarta

materi   video

Moderator:

dr. Hardhantyo MPH, Ph.D

11.35 – 11.50 WIB Diskusi  
11.50 – 12.00 WIB

Penutup

video

Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, Fisqua

 

 

Strategi Penguatan Surveilans Covid-19

Disarikan oleh: Andriani Yulianti
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu, PKMK FKKMK UGM)

Surveilans Kesehatan adalah kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus menerus terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah kesehatan untuk memperoleh dan memberikan informasi guna mengarahkan tindakan pengendalian dan penanggulangan secara efektif dan efisien.

Surveilans Kesehatan sangat penting bagi pengambil keputusan di bidang kesehatan dalam rangka upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk terselenggaranya Surveilans Kesehatan yang optimal diperlukan peran serta semua sektor, terutama seluruh fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah ataupun swasta dalam menjamin mutu informasi yang diberikan, baik instansi kesehatan di daerah maupun di pusat, dibutuhkan harmonisasi secara lintas program dan lintas sektor yang diperkuat dengan jejaring kerja surveilans kesehatan.

Pada masa pandemi ini Surveilans merupakan kegiatan utama dalam rangka penanganan dan dapat menjadi barisan terdepan dalam usaha pencegahan dan penanggulangan Pandemi Covid-19. Telah disampaikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada 5 Januari yang lalu bahwa beberapa hal dibawah ini menjadi strategi dalam penguatan survailance Covid-19 yakni; penguatan dari sisi tes, lacak, isolasi, & manajemen data serta pentingnya peran kepala daerah menjadi kunci keberhasilan program surveilans, diantaranya adalah:

  1. Dari sisi tes
    • Melengkapi 514 Kab/Kota dengan mesin PCR & lab BSL-2, Didahului dengan mapping lab PCR untuk pemerataan jumlah PCR di daerah.
    • Melengkapi seluruh Puskesmas dengan rapid antigen & suplai yang dibutuhkan.
    • Melakukan tes pada seluruh kontak erat, minimal dengan rapid antigen & jika (+) dilanjutkan dengan PCR. Kemudian merevisi pedoman & menerbitkan juknis penggunaan rapid antigen dengan klasifikasi produk sesuai standar WHO.
    • Mendorong surveilans genomik secara rutin di kota-kota besar di Indonesia.
  2. Lacak
    • Meningkatkan jumlah tracers hingga 80.500 orang (rasio 30 tracers/100.000 penduduk). Menggerakkan 6000 Babinsa, 60.000 Babinkamtibmas, & para kader untuk tracing.
    • Menetapkan matriks capaian daerah yaitu 30 kontak erat dilacak per 1 kasus konfirmasi.
    • Memanfaatkan teknologi digital untuk tracing.
  3. Isolasi
    • Melakukan isolasi terpusat untuk kasus konfirmasi tidak bergejala & bergejala ringan di kabupaten/kota.
    • Memberikan BLT & perlindungan terhadap PHK pada orang yang menjalankan karantina/isolasi.
    • Memperbaiki SOP, memperketat pengawasan, memberlakukan denda bagi pelanggar karantina/isolasi.
  4. Data
    • Integrasi berbagai sistem informasi surveilans yang ada di Kemenkes maupun di daerah.
    • Mendorong seluruh lab & Faskes agar terdaftar di Pusdatin dan melaporkan hasil tesnya ke dalam sistem > 48 jam sejak tes dilakukan
  5. Perubahan Perilaku
    • Bekerjasama dengan Ibu PKK/BKKBN – Program Dasa Wisma PKK (Kemendagri) untuk aktif mempromosikan Perubahan Perilaku dan Tracking & Isolasi.

Sumber:

  • Kemenkes RI (2014) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 45 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan
  • Kemenkes (Januari, 2021) Paparan Menkes, materi rapat koordinasi Gubernur Republik Indonesia bersama Menteri Kesehatan dalam penanganan covid-19 ( diakses 5 Januari 2020) terlampir

 

Vaksinasi Tidak Menegasikan Surveilans dan Disiplin Protokol Kesehatan

Pemerintah Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang, Selasa (5/1/2021), menyatakan tidak akan menegasikan pelaksanaan surveilans dan disiplin protokol kesehatan kendati proses vaksinasi akan dimulai awal Januari. Vaksinasi tidak bisa berdiri sendiri untuk melawan Covid-19, pelaksanaan surveilans dan disiplin protokol kesehatan tetap perlu dilakukan secara gencar.

Continue reading

INSPIRASI (Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance and Response In Indonesia)

Kegiatan INSPIRASI singkatan Improving Quality of Disease Preparedness, Surveillance & Response In Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kualitas surveilans dan respon terhadap penyakit dengan potensi KLB. Kegiatan INSPIRASI berfokus pada solusi untuk mengatasi kendala dalam sistem surveilans di Indonesia. Tantangan besar dalam surveilans saat ini adalah ancaman terhadap new emerging disease seperti Monkey Pox dan berbagai penyakit yang telah ada sebelumnya.

Sistem surveilans harus mampu untuk mendeteksi potensi ancaman berbagai penyakit, mencegah, dan merespons ancaman kesehatan masyarakat secara cepat melalui sistem surveilans real-time dengan pelaporan elektronik yang terintegrasi serta mudah untuk dioperasionalkan oleh tim di lapangan. Pengembangan interkoneksi sistem surveilans di Kementerian Kesehatan, akan mampu merespons ancaman kesehatan masyarakat secara cepat dan efektif.

 

  Berita Terbaru

Pelatihan Penyusunan Rancangan Simulasi KLB/Wabah Berpotensi Krisis Kesehatan untuk Tim Klaster Kesehatan

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bekerja sama dengan United Stated Center for Disease Control and Prevention (US CDC) telah menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Rancangan Simulasi KLB/Wabah Berpotensi Krisis Kesehatan untuk Tim Kluster Kesehatan pada 28 – 31 Juli 2025.

Kegiatan pelatihan dilaksanakan sebagai upaya untuk memperkuat penyusunan rancangan simulasi kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi krisis kesehatan akibat kejadian luar biasa (KLB) atau wabah. Selain bekerja sama dengan US CDC, kegiatan ini juga melibatkan kolaborasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia, Dinas Kesehatan Provinsi DIY, dan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Readmore


Finalisasi Kurikulum dan Bahan Ajar MOOC SKDR

Tanggal 28-29 Mei 2024, PKMK UGM telah sukses menyelenggarakan pertemuan Finalisasi Massive Open Online Course (MOOC) Pelatihan Penguatan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Penyakit Menular Potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) di Unit Pelapor. Kegiatan ini merupakan tonggak penting dalam memastikan kualitas dan kesesuaian kurikulum dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Kegiatan ini merupakan Kerjasama antara PKMK dengan kementrian kesehatan, WHO (World Health Organization), JICA (Japan International Cooperation Agency), Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto dan didukung oleh CDC (Centers for Disease Prevention and Control) dan safetynet.

Readmore


Reportase Workshop Pertemuan Penyusunan Kerangka Strategis Direktorat Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan

 

Kegiatan penyusunan kerangka strategis ini merupakan langkah strategis dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks, terutama dalam mendeteksi dan merespons potensi wabah penyakit dengan cepat dan tepat.

Kita ketahui bahwa Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan dan responsivitas sistem kesehatan terhadap ancaman pandemi. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 lalu bukanlah yang terakhir, mengingat tingginya mobilitas penduduk dan peningkatan dinamika interaksi manusia dengan lingkungan dan hewan yang terus berubah. Perlu adanya pendekatan program yang mampu menyasar aspek strategis dalam mendukung kesiapsiagaan terhadap berbagai ancaman kesehatan masyarakat.

Readmore


Diseminasi Riset Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi

Pandemi menunjukkan bahwa kerja sama antar lembaga sangat penting dalam mengelola bencana kesehatan masyarakat. Tidak hanya Kementerian Kesehatan, tapi juga Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan perlu berkolaborasi dengan pendekatan One Health untuk mencegah dan menangani penyakit zoonosis. Kolaborasi ini penting untuk menghadapi tantangan kesehatan di masa depan. Penelitian dalam kerangka “Kolaborasi dan Kemitraan dalam Menghadapi Tantangan Kesehatan Masyarakat Pasca Pandemi” memberikan informasi dan wawasan untuk mengatasi dampak kesehatan masyarakat setelah pandemi. Tujuan utamanya adalah menyebarkan hasil penelitian ini dan membahas masalah kesehatan yang akan muncul di masa depan.

PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan CDC US menggelar Diseminasi Lima Studi Kolaborasi Dampak Jangka Panjang COVID-19 di Indonesia pada 28 Februari 2024 di Jakarta, informasi selengkapnya dapat diakses pada link berikut

Readmore


Pertemuan Sosialisasi dan Pelatihan Enumerator Evaluasi Penerapan Kode ICD-10 dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Penyakit Menular dengan Potensi Wabah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

25jan23

PKMK FKKMK UGM bekerja sama dengan CDC Indonesia pada bulan September 2022 – Desember 2022 telah melakukan uji validasi kode ICD-10 dengan melibatkan dinas kesehatan kabupaten/kota dan puskesmas di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku Utara. Untuk meningkatkan kualitas pelaporan dan data SKDR, maka diperlukan sosialisasi kepada dokter klinisi dan petugas surveilans di puskesmas sebagai unit pelapor.

Penggunaan kode ICD-10 untuk SKDR telah diimplementasi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sejak April 2023. Sosialisasi bagi dokter umum dan petugas surveilans di puskesmas-puskesmas di wilayah DIY telah dilaksanakan pada bulan Mei-Juli tahun 2023. Evaluasi penggunaan kode ICD-10 dalam algoritma sistem kewaspadaan dini dan respon di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta perlu dilakukan untuk mengetahui efektivitas dan kualitas data laporan SKDR sebagai acuan dan bahan pertimbangan bagi provinsi lain.

Readmore


Functional Exercise Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (Public Health Emergency/ PHE)

Pandemi COVID-19 di Indonesia juga menunjukkan bahwa tidak mungkin satu lembaga bekerja sendiri untuk mengelola bencana kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan, selaku pimpinan di sektor kesehatan, tidak mungkin mampu untuk mencegah dan menangani penyakit zoonosis seorang diri, karena penanganannya membutuhkan peran dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui pendekatan One Health. Maka dari itu salah satu aspek yang menjadi tujuan besar dari kegiatan ini adalah untuk mampu meningkatkan kolaborasi lintas sektor, lintas lembaga dalam menghadapi tantangan permasalahan kesehatan di masa depan. 

Kegiatan penelitian dalam rangka “Request for Proposal: Collaboration and Partnership in Addressing Public Health Challenges After the Pandemic” telah mulai dilaksanakan. Supervisi pelaksanaannya perlu dilakukan untuk memastikan pelaksanaannya sesuai dengan protokol.

selengkapnya


Functional Exercise Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (Public Health Emergency/ PHE)

PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan Center for Disease Control (CDC) di bawah program INSPIRASI mengadakan “Functional Exercise Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (Public Health Emergency/ PHE) di Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar dan Kabupaten Maros” bertempat di Four Points Hotel, Makassar selama 4 hari sejak 22 – 25 Agustus 2023. Kegiatan ini dibagi dalam 4 hari, dimulai dari hari pertama merupakan persiapan Functional Exercise, hari kedua academic session dan briefing, hari ketiga pelaksanaan functional exercise, dan hari keempat merupakan kegiatan evaluasi dan revisi dokumen perencanaan sesuai dengan hasil temuan functional exercise hari ketiga.

TOR   reportase