Reportase Diskusi Pelaksanaan Intervensi Lanjut PIS PK pada pelayanan kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Masa Pandemi COVID-19

Reporter: Andriani Yulianti, MPH (Divisi Mutu PKMK FKKMK UGM)

Yogyakarta, Dinas Kesehatan Provinsi DIY bekerjasama dengan Pusat kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK FK-KMK UGM) melaksanakan pertemuan orientasi tenaga kesehatan dalam meningkatkan pelayanan KIA untuk implementasi PIS PK di masa pandemi COVID-19. Kegiatan berlangsung pada tanggal 6 Oktober secara online melalui aplikasi Zoom yang dihadiri oleh 121 Puskesmas dan seluruh Dinas Kesehatan yang ada DIY.

Hadir sebagai narasumber pada acara tersebut dari Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer, yang diwakili oleh dr.Monica Saraswati Sitepu, M.Sc, serta dari PKMK yakni DR.dr Andreasta Meliala, DPH., M.Kes., MAS dan Andriani Yulianti, MPH.

Continue reading

Monitoring PIS PK Untuk Siklus PDCA UKM Puskesmas

Berdasarkan evaluasi Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Primer, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, dr. Siti Ramlah Saifoeddin, MPH, per tanggal 7 September 2020 penginputan online data keluarga tahun 2020 melalui aplikasi Keluarga Sehat baru dilakukan oleh tujuh Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat.

Continue reading

Pelibatan Petugas Kesehatan Komunitas dalam Mendukung perawatan berbasis rumah untuk orang dengan COVID-19 pada kondisi sumber daya rendah

Diperbarui 16 September 2020

Tujuan dokumen : Dokumen ini memberikan saran tentang bagaimana Community Health Workers (CHWs) dalam mendukung perawatan berbasis rumah pada kondisi sumber daya rendah, termasuk tindakan-tindakan yang dapat diterapkan oleh CHW untuk mendukung pasien, keluarga mereka, dan komunitas mereka selama COVID-19, dan cara mengidentifikasi siapa saja yang memenuhi syarat untuk perawatan berbasis rumah. Saran ini dapat diadaptasi untuk mengikuti pedoman nasional atau lokal dan unsur-unsur lokal.

Audiens yang dituju : Pertimbangan ini ditujukan untuk manajer program dan pejabat kesehatan masyarakat lainnya yang mendukung upaya COVID-19 di Pemerintahan yang bekerja dengan program global CDC pada kondisi sumber daya rendah. Program CHW dapat bervariasi dalam struktur, organisasi, dan ruang lingkup. Kantor Pusat CDC mungkin bekerja dengan pemerintah, organisasi internasional, organisasi non-pemerintah, dan organisasi berbasis komunitas atau agama yang dapat mengelola atau melaksanakan program CHW.

Kebanyakan orang dengan COVID-19 hanya akan mengalami gejala ringan hingga sedang. Orang dengan COVID-19 yang tidak memiliki penyakit penyerta  atau kondisi kesehatan yang membuat mereka berisiko terkena penyakit parah pada umumnya dapat dirawat di rumah. Perawatan berbasis rumah yang diberikan oleh CHW kepada orang dengan COVID-19 dapat membantu meringankan beban substansial yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19 pada sistem layanan kesehatan di seluruh dunia. Pelibatan CHW dapat membantu memaksimalkan sumber daya yang tersedia untuk mengelola dan merawat orang dengan penyakit parah dan juga dapat membantu mempertahankan layanan kesehatan penting. Selain itu, perawatan berbasis rumah mengurangi risiko penularan pada orang lain selama transportasi ke dan tinggal di fasilitas kesehatan.

CHW / relawan adalah aset berharga bagi kesehatan masyarakat pada kondisi sumber daya rendah. Secara umum, CHW bekerja sebagai advokat komunitas, melakukan penjangkauan dan pelibatan komunitas untuk program kesehatan masyarakat, dan menyediakan pendidikan dan layanan kesehatan. CHW / relawan sangat cocok untuk memberikan penyuluhan, pelatihan, dan dukungan yang diperlukan kepada komunitas untuk memungkinkan orang dengan COVID-19 dirawat dengan aman di rumah. Melindungi kesehatan dan keselamatan CHW / relawan sangatlah penting. Dengan pelatihan tentang pencegahan dan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang tepat, CHW dapat melindungi kesehatan mereka sendiri dan menjadi teladan yang baik dalam komunitas yang mereka layani.

Tingkat Dukungan CHW untuk Aktivitas COVID-19 Dapat Bervariasi

Tingkat keterlibatan CHW dengan aktivitas COVID-19, serta jenis aktivitas (misalnya pendidikan masyarakat umum atau keterlibatan langsung dengan orang yang didiagnosis dengan COVID-19), akan bergantung pada banyak faktor, termasuk sumber daya yang tersedia, keterampilan CHW yang tersedia dan kesediaan mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, dan skala epidemi di komunitas tertentu. Empat skenario berikut adalah contoh bagaimana CHW dapat beroperasi dalam respons pandemi COVID-19 dan bagaimana berbagai aktivitas mitigasi dapat dibuat berlapis untuk melayani berbagai fungsi. Tingkat risiko individu untuk setiap skenario harus dinilai untuk menentukan kebutuhan akan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai, perlu diperhatikan bahwa penggunaan APD yang berlebihan atau salah dapat menyebabkan kekurangan pasokan secara umum, CHW yang memberikan perawatan atau layananan langsung kepada pasien COVID-19 di rumah (misalnya, skenario 4 di bawah) harus menggunakan APD yang sesuai, yang meliputi masker medis, gaun pelindung, sarung tangan, pelindung mata, masker filter respirator [yaitu, N95, FFP2 atau FFP3] atau peralatan lainnya. Dalam kasus di mana pasien langsung tidak memerlukan CHW berada dalam jarak 2 meter dari pasien (misalnya, skenario 1, 2 dan 3 di bawah), tindakan mitigasi lain harus digunakan (misalnya masker kain, jarak sosial, kebersihan tangan, pembersihan rutin dan desinfeksi permukaan) dan APD tidak boleh digunakan.

artikel selengkapnya

 

Alternatif Strategi dalam Mempertahankan Akses Pelayanan Jantung di Masa Pandemi

Penulis: Andriani Yulianti (Divisi Mutu, PKMK FK-KMK UGM)

Penyakit kardiovaskular masih menjadi ancaman dunia dan merupakan penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan 17,9 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah, dan 80% berasal dari serangan jantung dan stroke, serta 75% dintaranya terjadi di negara berkembang. Dalam Agenda Sustainable Development Goals (SDG’s) 2030 pemerintah telah berkomitmen untuk meningkatkan tindakan untuk mengurangi kematian dini akibat penyakit kardiovaskular dan penyakit tidak menular lainnya untuk meningkatkan dan mendorong pembangunan kesehatan.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Setidaknya, di Indonesia terdapat 15 dari 1000 orang yang menderita penyakit jantung. Oleh karena itu, peringatan hari Jantung Sedunia (World Heart Day) sebagai platform peningkatan kesadaran terbesar untuk kesehatan kardiovaskular. Dikhawatirkan kondisi status kesehatan populasi setelah pandemi berakhir nanti akan lebih buruk dibandingkan saat ini, yang akan menambah beban pada sistem kesehatan nasional dan daerah, sehingga peran layanan kesehatan primer menjadi semakin krusial dalam menjaga ketahanan sistem kesehatan.

Diketahui bahwa pasien dengan kardiovaskular merupakan pasien yang memiliki kerentanan terinfeksi COVID-19 dan berpotensi mengalami perburukan jika telah terinfeksi covid-19. Penyakit jantung juga masuk dalam urutan ke-3 sebagai penyumbang kondisi penyerta pasien dengan COVID-19 dengan jumlah 19,9 % (Data Satgas COVID-19 per tanggal 30 September 2020). WHO juga mengungkap beberapa temuan bahwa layanan kesehatan telah terganggu sebagian atau seluruhnya di banyak negara.

Lebih dari separuh (53%) negara yang disurvei sebagian atau seluruhnya telah mengganggu layanan pengobatan hipertensi; 49% untuk pengobatan diabetes dan komplikasi terkait diabetes; serta 42% untuk pengobatan kanker, dan 31% diantaranya untuk keadaan kardiovaskular yang emergensi. Di awal Pandemi, keadaan seperti ini dapat dipahami karena terdapat rekomendasi awal WHO untuk meminimalkan perawatan berbasis fasilitas yang tidak mendesak sambil menangani pandemi.

Saat ini, guna memaksimalkan penanganan pasien penyakit tidak menular, WHO telah melakukan penilaian cepat terhadap pelayanan pasien tidak menular yakni didapatkan beberapa strategi alternatif yang telah ditetapkan di sebagian besar negara untuk mendukung orang yang berisiko tinggi untuk dapat terus menerima pengobatan untuk layanan penyakit tidak menular yang membutuhkan perawatan. Data yang didapatkan bahwa secara global, sebesar 58% negara menggunakan telemedicine untuk menggantikan konsultasi langsung; dan untuk negara-negara berpenghasilan rendah angka ini berkisar 42%.

Alternatif lainnya yakni Pengalihan tugas (task shifting), pendekatan pengeluaran untuk obat-obatan penyakit tidak menular, melakukan triase untuk mengidentifikasi penyakit prioritas hingga pengalihan pasien dengan penyakit tidak menular ke fasilitas perawatan kesehatan alternatif. Hal tersebut dilakukan karena sangat penting bagi negara-negara untuk menemukan cara inovatif untuk memastikan ketersediaan akses pada layanan penyakit tidak menular dapat terus berlanjut (WHO, 2020)

Di sisi lain, Pandemi COVID-19 merupakan kesempatan untuk merefleksikan sistem pelayanan kesehatan dan praktik klinis saat ini. Strategi pengambilan keputusan yang efektif dan efisien mutlak digunakan selama pandemi COVID-19 dan telah menyoroti pentingnya keteraturan setiap individu terhadap protokol yang ada. Meskipun demikian, tentunya dampak pandemi tidak dapat terhindarkan namun dapat diminimalkan. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa diperkirakan lebih dari 50% kasus bedah elektif yang dilakukan penundaan atau pembatalan operasi elektif dapat mengakibatkan kerusakan jantung yang progresif. (Stahel P, 2020).

Untuk menghindari dampak pandemi yang lebih besar pada layanan kardiologi di masa depan, optimalisasi layanan telemedicine adalah yang terpenting (Adam S et al, 2020). Selain itu, melatih staf dan pasien untuk menggunakan telemedicine dan perawatan fasilitas kesehatan jarak jauh juga penting. Kedepan, lebih awal mengkomunikasi kepada pasien dan menjamin bahwa rumah sakit dapat memberikan perawatan jantung yang memadai, sementara memastikan terpenuhinya kebijakan pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan, hal ini dilakukan agar dapat mengurangi kecemasan dan ketakutan pasien untuk melakukan kunjungan ke fasilitas kesehatan.

Meskipun telemedicine menjadi alternatif pilihan, banyak tantangan dalam implementasinya, seperti pemenuhan infrastruktur, SDM yang terlatih sehingga penting mendorong sebuah institusi untuk memanfaatkan teknologi ini untuk mengoptimalkan pelayanan pasien. Metode dalam melakukan pelayanan kesehatan jarak jauh penting didiskusikan antara pasien dan klinisi yang disesuaikan secara individual dengan pasien untuk mengetahui kebutuhan medis pasien.

Selain itu, home care dan pelayanan klinik keliling juga bisa ditawarkan kepada pasien kardiologi; ini akan membantu mengurangi keterlambatan diagnosis dan pengobatan. Selain itu, perubahan dalam birokrasi pelayanan kesehatan juga akan bermanfaat yakni melatih ahli jantung junior untuk membuat keputusan yang seharusnya dibuat oleh para senior. Semua tindakan ini akan membantu penyedia layanan kesehatan menjadi lebih siap dan mengurangi dampak pandemi pada layanan kardiologi di masa depan. (Adam S et al, 2020).

Sumber bacaan:

  • Adam S et al. 2020. COVID-19 pandemic and its impact on service provision: A cardiology prospect Sana Adam. Acta cardiologica, Taylor and francis grup.
  • Gorodeski E, Goyal P, Cox Z, et al. 2020. Virtual visits for care of patients with heart failure in the era of COVID-19: a statement from the Heart Failure Society of America. J Card Fail.;26(6):448–456.
  • Satgas COVID Nasional. 2020. Peta sebaran kasus, diakses tanggal 30 September 2020
  • https://covid19.go.id/peta-sebaran ,
  • Stahel P. 2020. How to risk-stratify elective surgery during the COVID-19 pandemic? Patient Saf Surg.;14(1):8.
  • WHO. 2020. Covid 19 and NCD, Retrieve from
    https://www.who.int/publications/m/item/rapid-assessment-of-service-delivery-for-ncds-during-the-covid-19-pandemic 

 

Reportase Forum Diskusi Mutu Pelayanan Kesehatan: Tantangan Mutu Pelayanan Imunisasi Anak di Era COVID-19: Bagaimana Peran Pemerintah, Tenaga Kesehatan dan Komunitas?

Pada Kamis, 10 September 2020, PKMK FK – KMK UGM kembali menyelenggarakan Forum Diskusi Mutu Pelayanan Kesehatan Online seri keempat. Kegiatan ini diselenggarakan bekerjasama dengan Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) dan Komunitas Parenting La Familia Jogja. Kegiatan dilakukan melalui zoom meeting yang diikuti 163 peserta dan YouTube streaming yang diikuti oleh 258 peserta. Moderator kegiatan ini adalah dr. Novika Handayani dan diisi oleh tiga pembicara yaitu dr. Ngabila Salama, MKM selaku Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Mei Neni Sitaresmi, Ph.D, Sp.A(K) selaku konsultan tumbuh kembang Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKKMK UGM/RSUP Dr. Sardjito dan dr. Purnamawati, Sp.A(K), M.Med.Paed dari Yayasan Orangtua Peduli.

Continue reading

Awareness of COVID-19 in severe dementia patients

The ongoing coronavirus disease 2019 (COVID-19) pandemic has substantially affected patients with dementia and their caregivers. Owing to the restrictive measures taken worldwide to block the spread of COVID-19 outbreaks (including the declaration of a state of emergency in Japan), patients with dementia and their caregivers have not been able to receive the usual support and care.

Continue reading