Direktorat Mutu dan Akreditasi Siapkan Mutu Pelayanan Faskes Era New Normal

Penulis: Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep.,MPH
(Materi ini diambil saat pelaksanaan Zoom Meeting pada forum mutu layanan kesehatan, tanggal 24 Juni 2020)

Selama pandemi COVID-19 sejumlah tenaga kesehatan gugur, ini membuat kepercayaan masyarakat terhadap mutu fasilitas kesehatan menurun, rasa ini harus segera dikembalikan. Kemenkes telah melakukan berbagai kegiatan dalam tatalaksana COVID-19, mulai dari menyiapkan 835 RS rujukan, penggunaan wisma atlit sebagai RS Darurat COVID, dan beberapa pedoman seperti pedoman pencegahan dan pengendalian corona disease, pedoman tatalaksana COVID-19 dan lainnya.

2j 1drg. Farichah Hanum, M.Kes (Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI) menyampaikan draft mutu pelayanan Faskes era new normal, pada forum diskusi manajemen mutu PKMK FK – KMK UGM, 24 Juni 2020.

Kemenkes telah menetapkan indikator kesehatan masyarakat menuju masyarakat produktif dan aman COVID-19 berbasis data, undikator ini berpedoman pada kriteria yang ditetapkan oleh WHO yaitu epidemiologi, sistem kesehatan dan surveilans kesehatan masyarakat. Terdapat indikator tentang jumlah kasus, jumlah yang meninggal, jumlah kesembuhan, jumlah pemeriksaan, jumlah tempat tidur di ruang isolasi, penurunan laju insiden, penurunan angka kematian, dan angka reproduksi efektif.

2j 2

Gambar. Indikator
Sumber: Materi Presentasi Direktorat Mutu dan Akreditasi

Direktorat Mutu dan Akreditasi menyiapkan draft daftar tilik kesiapan fasilitas kesehatan dalam pemenuhan mutu layanan pada masa kenormalan baru yang berfokus pada dimensi yang berfokus pada pasien, adil, efisien, efektif, tepat waktu, aman dan terintegrasi.

Dimensi keselamatan merekomendasikan adanya: sistem manajemen bencana, program penanggulangan bencana, standar PPI, fasilitas kesehatan memastikan skrinning dan triage pada pasien dan pengunjung, menerapkan kaidah K3, akses seluruh pengunjung, pemetaan area berisiko, supply chain management.

Dimensi efektif merekomendasikan adanya: keberlangsungan pelayanan, penyesuaian tata laksana klinis dan penunjang dengan perkembangan penanganan COVID-19 terbaru, dan pelayanan laboratorium yang esensial.

Dimensi berfokus pada pasien atau pengguna layanan merekomendasikan adanya: pelayanan esensial harus diaktifkan kembali dengan memperhatikan protokol kesehatan dan keselamatan pasien, proses skrining dan triase yang tepat dalam waktu singkat, penyediaan jalur khusus untuk pasien non covid, memberikan informasi dan edukasi tentang COVID-19, pelayanan dengan memanfaatkan teknologi informasi, media – media informasi dan edukasi yang memadai, khusus untuk fasilitas kesehatan primer yang menyelenggarakan pelayanan UKBM dapat melakukan kunjungan rumah atau komunitas dalam memberikan pelayanan essential.

Dimensi efisien merekomendasikan adanya: kesediaan obat dan BMHP, pengelolaan sumber daya manusia, antisipasi surge capacity, pelayanan penunjang (gizi, linen, listrik, air, Oksigen), mengidentifikasi layanan yang dapat ditunda sementara jika diperlukan.

Dimensi tepat waktu merekomendasikan adanya: upaya surveilans terhadap kasus yang diduga terinfeski penyakit dan/atau terkontaminasi, mekanisme komunikasi internal dan eksternal yang tepat waktu, memastikan semua pelaporan dilakukan tepat waktu, pelayanan diberikan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, pelayanan rawat jalan dengan sistem perjanjian, prosedur triage di area gawat darurat, mengatur prioritas jadwal pelayanan untuk pasien non covid dengan komorbid

Dimensi adil merekomendasikan adanya: pelayanan kesehatan dapat diberikan pada seluruh pasien baik covid maupun non covid, bagi pasien kelompok rentan rumah sakit menyediakan pelayanan khusus (daring atau kunjungan ke rumah).

Dimensi integrasi merekomendasikan adanya: antisipasi surge capacity, sistem rujukan, memperkuat mekanisme koordinasi, menetapkan tim/satgas sebagai koordinator pelayanan pada masa kenormalan baru.

2j 3Upaya menjaga mutu fasilitas pelayanan kesehatan dilakukan melalui redesign program mutu dan keselamatan pasien (PMKP), disampaikan Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQUA (Konsultan Manajemen Mutu PKMK FK – KMK UGM, Ketua IHQN) saat membahas presentasi dr. Hanum. Dr. Hanevi menyampaikan usulan ISQUA kepada ahli mutu atau tim PMKP: 1) memperkuat sistem manajemen dengan cara menilai kesiapan, mengumpulkan bukti, menyiapkan pelatihan, mempromosikan keselamatan staf dan memperkuat peer support; 2) membangun partisipasi masyarakat, keluarga dan pasien untuk bersama mencapai kesepakatan dan melaksanakan berbagai upaya pencegahan penularan; 3) aktif meningkatkan pelayanan klinisi dengan cara memisahkan alur pelayanan, mengadakan lokakarya kilat tentang kerjasama tim, dan mengembangan sistem dukungan keputusan klinis; 4) proaktif mengelola risiko: baik untuk pasien COVID-19 dan non COVID-19; 5) mengembangkan sistem pembelajaran dengan cara mencari peluang perbaikan, sesuaikan setiap saat sesuai perkembangan.

Pembaca dapat memberikan rekomendasi kepada direktorat mutu dan akreditasi tentang draft kesiapan fasilitas kesehatan dalam pemenuhan mutu layanan pada masa kenormalan baru.

 

Cara Efektif Melakukan Failure Mode And Effect Analysis (FMEA) dan RCA

logo

Bimbingan Teknis

Untuk Rumah Sakit dan Pelayanan Kesehatan Primer

Online Melalui Zoom pada 25 – 26 Februari 2021

  Topik Ini Menjawab Masalah Apa ?

Banyaknya kejadian tidak diharapkan (KTD) yang sebenarnya dapat dicegah di FKTP maupun FKRTL telah lama menjadi pusat perhatian. Saat ini, baik di standar akreditasi FKTP maupun FKRTL mewajibkan fasyankes untuk memilih minimal satu proses prioritas yang berisiko untuk dilakukan Failure mode and effects analysis (FMEA) setiap tahun, untuk dapat mengidentifikasi berbagai upaya pencegahan serta mendokumentasikan proses pelaksanaannya.

Pengelolaan risiko tidak hanya bersifat proaktif, namun dapat bersifat reaktif. Pengelolaan risiko bersifat proaktif merupakan analisa risiko sebelum suatu masalah terjadi, sedangkan pengelolaan risiko bersifat reaktif dilakukan suatu analisa setelah terjadi suatu masalah yakni dengan melakukan RCA untuk mengetahui alasan terjadinya luaran yang tidak diharapkan atau kegagalan yang terjadi. Proses analisa RCA dapat dikategorikan baik apabila dapat menganalisis keseluruhan proses dan semua sistem pendukung yang terkait dalam suatu kejadian spesifik untuk meminimalkan semua risiko yang terkait dengan proses, dan terulang kembalinya suatu kejadian.

Untuk itu, kami menyelenggarakan online course untuk membantu Pimpinan dan Staf Fasilitas layanan kesehatan dalam memahami konsep maupun implementasi Failure mode and effects analysis (FMEA) agar terwujud pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu.

 

  Apa Saja Yang di Bahas ?

  1. Memperkenalkan konsep dasar FMEA dan RCA
  2. Melakukan persiapan pelaksanaan FMEA dan RCA
  3. Menentukan proses yang mempunyai resiko tinggi dan membentuk tim
  4. Menyusun diagram proses dan brainstorming potential faiure modes dan menentukan efeknya
  5. Menentukan prioritas failure modes
  6. Mengidentifikasi akar penyebab masalah (root causes) dari failure modes
  7. Membuat rancangan ulang proses
  8. Analisis dan pengujian terhadap proses
  9. Pelaksanaan dan pengawasan terhadap proses hasil rancangan ulang
  10. Menyusun Plan of Action

Manfaat Apa Yang Anda Dapatkan?

  1. Peserta pelatihan memahami konsep dasar FMEA dan RCA
  2. Peserta pelatihan mampu mengidentifikasi proses-proses penting yang membutuhkan perbaikan 
  3. Peserta mampu melakukan langkah-langkah FMEA dan RCA

  Narasumber dan Fasilitator

Narasumber dalam pelatihan ini adalah:

Hanevi Djasri, dr., MARS, FISQua
Konsultan dan Peneliti di Pusat Kebijakan dan Manajemen FK-UGM, Dosen Magister Manajemen RS di UGM, Pengurus PERSI Pusat, Pengurus ARSADA Pusat, Pengurus PDMMI Pusat, dan Ketua Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN).
Telah mendapatkan sertifikat Fellow of The International Society for Quality in Healthcare (FISQua) dari ISQua, lembaga yang mengakreditasi PERSI dan JCI, telah mengikuti pelatihan manajemen mutu dan keselamatan pasien di ACHS Australia, dan telah mengikuti workshop PMKP KARS.

 

  Sasaran Peserta

  1. Pimpinan dan Staf Sarana pelayanan kesehatan (rumah sakit, Puskesmas, rumah bersalin dan sebagainya) baik pemerintah maupun swasta.
  2. Pimpinan dan Staf lembaga regulator sarana pelayanan kesehatan (Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan, Organisasi Profesi, dan sebagainya)

  Biaya

Rp. 750.000/ orang.

Biaya pendaftaran dapat ditransfer melalui: Bank BNI UGM Yogyakarta No. Rekening 9888807172010997 atas nama UGM FKU PKMK Dana Kerjasama Penelitian Umum.

Jadwal Kegiatan

Jadwal pelatihan diselenggarakan selama 2 (dua) hari pada 25-26 Februari 2021, mulai pukul 09.00 – 12.00 WIB setiap hari pelaksanaan.

Fasilitas

Fasilitas yang akan Anda dapatkan dalam Bimtek ini adalah:

  1. Materi pelatihan (modul dalam bentuk PPT & template yang digunakan dalam praktikum) dalam bentuk soft file yang dapat di unduh di website
  2. Sertifikat kepesertaan dalam bentuk soft file

 

  Kontak

Silakan hubungi kami bila Anda membutuhkan informasi lebih lanjut

Andriani Yulianti
081328003119
ndiani_86@yahoo.com

www.mutuyankes@mutupelayanankesehatan.net

Pengelolaan Tim Emergensi RS dalam Keselamatan Pasien (COVID dan Non-COVID) dan Keselamatan Anggota Tim pada Masa Pandemi

Kerangka Acuan Kegiatan
Forum Diskusi Mutu Pelayanan Kesehatan Online

Pengelolaan Tim Emergensi RS dalam Keselamatan Pasien (COVID dan Non-COVID) dan Keselamatan Anggota Tim pada Masa Pandemi

diselenggarakan oleh
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK – KMK UGM
Bekerjasama dengan Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN)

Rabu, 22 Juli 2020

  Latar Belakang

Pandemi COVID-19 adalah tantangan terbesar bagi sistem kesehatan di seluruh dunia saat ini. Rumah sakit di Indonesia dihadapkan pada pengembangan surge capacity agar kebutuhan pelayanan medis yang meningkat dapat dipenuhi dengan baik. Wabah COVID-19 yang berkembang pesat di Indonesia mengharuskan semua rumah sakit untuk dapat beradaptasi dengan cepat dan memastikan pelayanan yang aman bagi pasien maupun petugas kesehatan. Namun, dalam situasi yang berat dan lingkungan kerja yang kurang optimal, risiko keselamatan pasien dan tenaga kesehatan selama pandemi ini meningkat.

Masing – masing rumah sakit membentuk tim penanganan COVID-19 dan menjalankan pelayanan medis dengan protokol kesehatan yang berlaku selama pandemi ini. Penggunaan triage klinis di fasilitas layanan kesehatan untuk tujuan identifikasi dini pasien yang mengalami ISPA untuk mencegah transmisi patogen ke tenaga kesehatan dan pasien lain (Kementerian Kesehatan, 2020). Di rumah sakti, triase dilakukan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan juga instalasi rawat jalan. Pasien datang dengan berbagai kondisi medis, begitu juga dengan kondisi pasien yang rawat inap baik pasien COVID-19 maupun non COVID-19 yang dapat berada dalam kondisi gawat darurat. Gugus tugas emergensi harus diaktifkan dengan rantai komando, peran dan tanggung jawab yang jelas, memiliki wadah untuk berbagi informasi yang dapat diandalkan serta dengan pendekatan proaktif (The Italian Network for Safety in Healthcare dan International Society for Quality in Healthcare, 2020). Tim harus disiapkan untuk menangani berbagai kondisi emergensi dengan segera walaupun dalam situasi pandemi ini, beberapa setting emergensi membutuhkan penyesuaian salah satu contohnya adalah praktik resusitasi.

Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memastikan pasien dengan atau tanpa COVID-19 yang mengalami henti jantung mendapatkan kesempatan untuk selamat tanpa membahayakan keselamatan penolong yang tentunya akan dibutuhkan untuk merawat pasien – pasien berikutnya. Ditambah dengan COVID-19 yang sangat menular, hal ini tentunya menimbulkan tantangan tersendiri dalam hal respon emergensi dan mungkin mempengaruhi angka morbiditas maupun mortalitas. Sekitar 12 – 19% pasien yang positif COVID-19 membutuhkan perawatan di rumah sakit, dan 3 – 6% berada pada kondisi kritis (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia, 2020).

Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga mutu dan keselamatan pasien di tengah keterbatasan rumah sakit di Indonesia terhadap sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pelayanan di era COVID-19. World Health Organization (2018) mendefinisikan mutu pelayanan kesehatan sebagai pelayanan kesehatan yang efektif, aman, people-centred, tepat waktu, adil, terintegrasi dan efisien. Apakah pelayanan emergensi di rumah sakit saat ini tetap mengedepankan mutu seperti definisi WHO? Bagaimana mengelola tim agar bekerja efektif dan mengedepankan keselamatan dalam penanganan emergensi di masa pandemi ini?

  Tujuan

Tujuan Forum ini adalah

  1. Membahas pengelolaan tim emergensi di rumah sakit dalam kaitannya dengan keselamatan pasien dan keselamatan anggota tim selama pandemi COVID-19 
  2. Membahas tantangan penerapan mutu dan keselamatan pasien dalam pelayanan emergensi di rumah sakit selama pandemi COVID-19

  Peserta

Forum ini dapat diikuti oleh pimpinan, manajer dan staf RS maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya serta para pemangku kepentingan, khususnya yang terlibat dalam pelayanan emergensi.

  Pembicara

Narasumber:

  1. dr. Firman Fauzan Arief Lutfie, Sp.JP (Ketua Tim Code Blue RSA UGM)
  2. dr. Meirina Mulia Wardani, MPH (Kepala Seksi Pelayanan Medik RS UNS, Dosen FK UNS)

Pembahas: dr. Nenny Sri Mulyani, Sp.A (K) – Ketua Komite Mutu Keselamatan Pasien RSUP Dr. Sardjito Tahun 2014-2019
Moderator: dr. Novika Handayani

Waktu Kegiatan Pembicara
14.00 – 14.05 Pembukaan Moderator

14.05 – 14.35

Pemaparan materi 1 “Efektivitas Serta Manajemen Tim Code Blue RSA UGM Terkait dengan Angka Harapan hidup dan Keselamatan Pasien”

dr. Firman Fauzan Arief Lutfie, Sp.JP, FIHA dan Tim Code Blue RSA UGM

materi

14.35 – 15.05 Pemaparan Materi 2 “Manajemen Instalasi Gawat Darurat RS UNS di Era Covid-19”

dr. Meirina Mulia Wardani, MPH

materi

15.05 – 15.25

Pembahasan

dr. Nenny Sri Mulyani, Sp.A (K)

materi

15.25 – 15.55 Diskusi
15.55 – 16.00 Penutupan Moderator

REPORTASE

 

Narahubung 

dr. Novika Handayani
Telp: 08561075368

 

 

 

 

Kriteria untuk Mengeluarkan Pasien COVID-19 dari Isolasi

Latar Belakang

Pada tanggal 27 Mei 2020, WHO menerbitkan pedoman sementara yang diperbarui tentang manajemen klinis COVID-19 dan memberikan rekomendasi yang diperbarui tentang kriteria untuk mengeluarkan pasien dari isolasi. Kriteria yang diperbarui tercerminkan dari temuan baru-baru ini bahwa pasien yang gejalanya telah sembuh masih mungkin memiliki tes positif virus COVID-19 (SARS-CoV-2) oleh RT-PCR selama beberapa minggu. Terlepas dari hasil tes positif ini, pasien-pasien ini tidak ada kecenderungan menularkan virus ke orang lain.

Ringkasan ilmiah ini memberikan dasar pertimbangan dalam melakukan perubahan terhadap pedoman manajemen klinis COVID-19, berdasarkan bukti ilmiah terbaru. WHO akan memperbarui kriteria ini seiring dengan berkembangnya informasi. Untuk informasi lebih lanjut tentang perawatan klinis pasien COVID-19, lihat panduan lengkap WHO.

Rekomendasi sebelumnya

Rekomendasi awal (dipublikasikan pada 12 Januari 2020)

Pada panduan teknis awal WHO untuk pedoman manajemen klinis virus corona, yang saat ini dikenal sebagai COVID-19, yang diterbitkan pada awal Januari 2020, tak lama setelah sekelompok kasus pneumonia atipikal pertama kali dilaporkan di Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok, dan memasukkan rekomendasi kapan pasien dengan COVID-19 tidak lagi dianggap menular.

Rekomendasi awal untuk mengkonfirmasi bebas dari virus, dan dilepaskan dari isolasi, mengharuskan pasien untuk pulih secara klinis dan memiliki dua hasil RT-PCR negatif pada sampel berurutan yang diambil setidaknya 24 jam terpisah. Rekomendasi ini didasarkan pada pengetahuan kami dan pengalaman dengan coronavirus yang serupa, termasuk yang menyebabkan SARS dan MERS.

Rekomendasi yang diperbarui

Rekomendasi baru (diterbitkan pada 27 Mei 2020 sebagai bagian dari pedoman pelayanan klinis yang lebih komprehensif)

Dalam pedoman sementara Manajemen Klinis COVID-19 yang diterbitkan pada tanggal 27 Mei 2020, WHO memperbarui kriteria untuk mengeluarkan dari isolasi sebagai bagian dari jalur pelayanan klinis pasien COVID-19. Kriteria ini berlaku untuk semua kasus COVID-19. Terlepas dari lokasi isolasi ataupun tingkat keparahan penyakit.

Kriteria untuk mengeluarkan pasien dari isolasi (mis., Menghentikan tindakan pencegahan berbasis transmisi) tanpa memerlukan tes ulangi:

  • Untuk pasien dengan gejala: 10 hari setelah timbulnya gejala, ditambah setidaknya 3 hari tambahan tanpa gejala (termasuk tanpa demamii dan tanpa gejala pernapasaniii)
  • Untuk kasus asimptomatikiv: 10 hari setelah tes positif untuk SARS-CoV-2

Misalnya, jika pasien memiliki gejala selama dua hari, maka pasien dapat dikeluarkan dari isolasi setelah 10 hari + 3 = 13 hari dari tanggal timbulnya gejala; untuk pasien dengan gejala selama 14 hari, pasien dapat dipulangkan (14 hari + 3 hari =) 17 hari setelah tanggal timbulnya gejala; untuk pasien dengan gejala selama 30 hari, pasien dapat dipulangkan (30 + 3 =) 33 hari setelah gejala serangan).

* Negara dapat memilih untuk terus menggunakan pengujian sebagai bagian kriteria dalam melepaskan pasien dari isolasi. Jika demikian, rekomendasi awal dua negatif Tes PCR setidaknya 24 jam terpisah dapat digunakan

Apa alasan untuk melakukan perubahan?

Dalam konsultasi dengan jaringan pakar global dan Negara-negara Anggota, WHO telah menerima umpan balik yang menerapkan rekomendasi awal dari dua tes RT-PCR negatif setidaknya 24 jam terpisah, mengingat terbatasnya persediaan laboratorium, peralatan, dan personel di daerah dengan transmisi yang kuat, telah sangat sulit, terutama di luar pengaturan rumah sakit. Dengan penyebaran masyarakat yang meluas, kriteria awal untuk SARS-CoV-2 ini menimbulkan beberapa tantangan:

  • Masa isolasi yang lama untuk individu dengan deteksi RNA virus yang berkepanjangan setelah penyelesaian gejala, berdampak pada kesejahteraan individu, masyarakat, dan akses ke pelayanan kesehatan.
  • Kapasitas pengujian yang tidak memadai untuk memenuhi kriteria dalam mengeluarkan dari isolasi di sebgian besar negara.
  • Pelepasan virus yang berkepanjangan di sekitar batas deteksi, memiliki hasil negatif diikuti dengan hasil positif, yang tidak perlu mendahului tingkat kepercayaan pada sistem laboratorium.

Tantangan ini dan data yang baru tersedia tentang risiko penularan virus selama penyakit COVID-19 menyediaan kerangka kerja untuk memperbarui posisi WHO pada waktu pemakaian pasien yang pulih dari isolasi di dalam dan di luar perawatan fasilitas kesehatan. WHO secara terus menerus meninjau literatur ilmiah tentang COVID-19 melalui tim Divisi Sains dan teknis COVID-19. Semua aspek manajemen klinis pasien COVID-19 dan strategi pengujian laboratorium dibahas oleh WHO dan dengan Negara-negara Anggota dan jaringan pakar WHO yang terdiri dari ahli kesehatan masyarakat, dokter, dan akademisi di seluruh dunia. Jaringan pakar Strategic Technical Advisory Group for Infectious Hazards (STAG-IH) (STAG-IH)7 mempertimbangkan tantangan dan meninjau data yang tersedia dalam proses pengambilan keputusan untuk mengubah rekomendasi awal.

Kriteria yang diperbarui untuk mengeluarkan dari isolasi menyeimbangkan antara resiko dan manfaat; Namun, tidak ada kriteria yang bisa diimplementasikan secara praktis tanpa risiko. Ada risiko residual minimal yang dapat ditularkan dengan kriteria yang tidak berdasarkan tes. Mungkin ada situasi di mana risiko residu minimal tidak dapat diterima, misalnya, pada individu dengan risiko tinggi penularan virus kelompok rentan atau mereka yang berada dalam situasi atau lingkungan berisiko tinggi. Dalam situasi ini, dan pada pasien yang mengalami gejala dalam jangka waktu yang lama, pendekatan berbasis laboratorium masih bisa bermanfaat.

WHO mendorong komunitas ilmiah untuk mengumpulkan bukti tambahan untuk lebih mengembangkan kriteria mengeluarkan dari isolasi dan menetapkan kondisi di mana isolasi dapat disingkat atau di mana kriteria kemungkinan risiko saat ini membutuhkan adaptasi lebih lanjut. Pemahaman yang lebih baik tentang risiko penularan di antara individu dengan presentasi klinis atau komorbiditas yang berbeda dan dalam pengaturan yang berbeda akan membantu penyempurnaan lebih lanjut dari kriteria ini. Untuk situasi yang mungkin masih membutuhkan berbasis pendekatan laboratorium, kami mendorong optimisasi lebih lanjut dari algoritma laboratorium tersebut. WHO mendorong negara untuk melanjutkan pengujian pasien, jika mereka memiliki kapasitas untuk melakukannya, untuk pengumpulan data yang sistematis yang akan meningkatkan pemahaman dan keputusan panduan yang lebih baik tentang pencegahan infeksi dan langkah-langkah pengendalian, terutama di antara pasien dengan penyakit yang berkepanjangan atau mereka yang kelainan imun.

Pemahaman terkini tentang risiko penularan

Infeksi virus yang menyebabkan COVID-19 (SARS-CoV-2) dikonfirmasi oleh adanya RNA virus yang terdeteksi dengan tes molekuler, biasanya menggunakan RT-PCR. Deteksi viral RNA tidak selalu berarti bahwa seseorang itu terinfeksi dan mampu menularkan virus ke orang lain. Faktor-faktor yang menentukan risiko penularan meliputi apakah virus masih memiliki kemampuan untuk mereplikasi, apakah pasien memiliki gejala, seperti batuk, yang dapat menyebarkan tetesan infeksius, dan perilaku serta faktor lingkungan yang terkait dengan individu yang terinfeksi. Biasanya 5-10 hari setelah infeksi dengan SARS-CoV-2, individu yang terinfeksi mulai secara bertahap menghasilkan antibodi penetral. Mengikat antibodi penetral terhadap virus ini diharapkan dapat mengurangi risiko penularan virus. 

RNA SARS-CoV-2 terdeteksi pada pasien 1-3 hari sebelum timbulnya gejala, dan viral load pada puncak saluran pernapasan dalam minggu pertama infeksi, diikuti oleh penurunan bertahap dari waktu ke waktu. Dalam tinja dan saluran pernapasan yang lebih rendah, viral load ini tampaknya memuncak pada minggu kedua penyakit.19 Viral RNA terdeteksi di saluran pernapasan atas (URT) dan saluran pernapasan bawah (LRT) dan tinja, terlepas dari tingkat keparahan penyakit.19 Ada kecenderungan dalam deteksi virus yang lebih lama RNA pada pasien yang sakit parah. Studi pendeteksian viral load pada pasien kelainan imun terbatas, tetapi satu studi menyarankan deteksi RNA virus yang berkepanjangan pada pasien transplantasi ginjal. Beberapa penelitian menganalisis risiko penularan terkait dengan gejala awal, dan risiko penularan diperkirakan tertinggi pada atau sekitar waktu timbul gejala dan dalam 5 hari pertama sakit. 

Kemampuan virus untuk mereplikasi dalam sel yang dikultur berfungsi sebagai penanda pengganti infektivitas tetapi membutuhkan kemampuan laboratorium khusus dan mungkin tidak sepeka PCR. model seperti hewan dapat membantu pemahaman mengenai risiko penularan. Dalam sebuah studi oleh Sia, et al., Hamster yang terinfeksi SARS-CoV-2 ditempatkan dengan hamster yang sehat pada hari 1 atau hari 6 setelah infeksi. Penularan ke hamster yang sehat terjadi pada kelompok hari 1, tetapi tidak pada mereka yang terpapar 6 hari setelah inokulasi. Dalam model ini, waktu penularan berkorelasi dengan deteksi virus menggunakan kultur sel, tetapi tidak dengan deteksi RNA virus dalam donor cuci donor.

Studi yang menggunakan kultur virus dari sampel pasien untuk menilai keberadaan infeksi SARS-CoV-2 masih terbatas. Virus yang dapat hidup terus telah diisolasi dari kasus tanpa gejala. Sebuah penelitian terhadap 9 pasien COVID-19 dengan penyakit ringan hingga sedang tidak menemukan virus SARSCoV-2 yang dapat dikultur dari sampel pernapasan setelah munculnya gejala hari ke-8. Tiga studi terhadap pasien yang dirahasiakan dari tingkat variabel penyakit yang menunjukkan ketidakmampuan untuk membiakkan virus setelah hari 7-9 dari munculnya gejala. Pasien yang merupakan RT-PCR positif pada tes ulang setelah RT-PCR negatif awal dari isolasi juga dipelajari, dan tidak ada pasien yang menghasilkan kultur virus positif. Satu kemungkinan outlier adalah laporan kasus pasien dengan COVID-19 ringan yang tetap positif PCR selama 63 hari setelah timbulnya gejala. Pada pasien ini, kultur virus positif dari spesimen saluran pernapasan bagian atas hanya pada hari munculnya gejala, tetapi kultur positif dari sampel dahak sampai hari ke 18. Tidak jelas apakah ini menimbulkan risiko penularan karena pasien tidak memiliki gejala pernapasan. Dalam sebuah studi berbasis rumah sakit dari 129 pasien sakit parah atau kritis dengan COVID-19, diketahui 23 pasien menghasilkan setidaknya satu kultur virus positif. Penelitian ini termasuk 30 pasien dengan kelainan imun. Median durasi pelepasan virus yang diukur dengan kultur adalah 8 hari setelah timbulnya gejala, kisaran interkuartil adalah 5-11, dan kisaran 0-20 hari. Probabilitas mendeteksi virus dalam kultur turun di bawah 5% setelah 15,2 hari setelah gejala. Dalam penelitian ini, pasien dengan tes positif dengan kultur virus masih mengalami gejala pada saat pengumpulan sampel. di penelitian lain menggambarkan korelasi antara berkurangnya infektivitas dengan penurunan viral load dan peningkatan netralisasi antibodi Meskipun RNA virus dapat dideteksi oleh PCR bahkan setelah hilangnya gejala, jumlah virus yang terdeteksi RNA secara substansial berkurang dari waktu ke waktu dan umumnya di bawah ambang batas di mana kemampuan replikasi virus dapat diisolasi. Oleh karena itu, kombinasi waktu setelah timbulnya gejala dan hilangnya gejala tampaknya menjadi pendekatan yang aman berdasarkan data saat ini.

Kesimpulan:

Berdasarkan bukti yang menunjukkan kelangkaan virus yang dapat dikultur dalam sampel pernapasan setelah 9 hari setelah timbulnya gejala, terutama pada pasien dengan penyakit ringan, biasanya disertai dengan meningkatnya kadar antibodi penetral dan penyelesaian gejala, tampaknya aman untuk mengeluarkan pasien dari isolasi berdasarkan kriteria klinis yang membutuhkan waktu minimum dalam isolasi 13 hari, bukan hanya pada hasil PCR berulang. Penting untuk dicatat bahwa kriteria klinis mensyaratkan bahwa gejala pasien telah diselesaikan untuk setidaknya tiga hari sebelum dilepaskan dari isolasi, dengan waktu minimum dalam isolasi 13 hari sejak munculnya gejala.

Perubahan terhadap kriteria untuk mengeluarkan dari isolasi (di fasilitas kesehatan atau di tempat lain) menyeimbangkan pemahaman risiko infeksi dan kepraktisan yang membutuhkan tes PCR negatif berulang, terutama dalam pengaturan transmisi intens atau pasokan pengujian terbatas. Meskipun risiko penularan setelah hilangnya gejala cenderung minimal berdasarkan apa yang diketahui saat ini, itu tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan. Namun, tidak ada pendekatan tanpa risiko, dan ketergantungan yang ketat pada konfirmasi PCR terhadap viral load RNA menciptakan risiko lain (mis. Mengurangi sumber daya dan membatasi akses ke pelayanan kesehatan untuk pasien baru dengan penyakit akut). Pada pasien dengan penyakit parah yang bergejala untuk jangka waktu yang lama, pendekatan berbasis laboratorium juga dapat membantu pengambilan keputusan tentang perlunya isolasi yang berkepanjangan. Pendekatan berbasis laboratorium semacam itu dapat mencakup pengukuran viral load dan tingkat penetral antibodi (atau antibodi yang terbukti setara). Diperlukan lebih banyak penelitian untuk memvalidasi pendekatan semacam itu.

WHO akan memperbarui kriteria ini karena semakin banyak informasi tersedia. Untuk informasi lebih lanjut tentang pelayanan klinis pasien COVID-19, lihat panduan lengkap WHO.

Referensi

  1. World Health Organization. Clinical management of COVID-19 (Interim Guidance) https://www.who.int/publicationsdetail/clinical-management-of-covid-19, published 27 May 2020.
  2. World Health Organization. Coronavirus disease (COVID-19) Situation Report – 129. 28 May 2020. Available at: https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200528-covid-19-sitrep129.pdf?sfvrsn=5b154880_2
  3. ProMED International Society for Infectious Disease. 30 December 2019. (https://promedmail.org/promedpost/?id=6864153%20#COVID19 )
  4. World Health Organization. Laboratory testing of human suspected cases of novel coronavirus (nCOV) infection (Interim Guidance) (https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/330374/WHO-2019-nCoV-laboratory-2020.1-eng.pdf 10 January 2020)
  5. World Health Organization. Technical guidance laboratory Middle East Respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) (https://www.who.int/csr/disease/coronavirus_infections/technical-guidance-laboratory/en/)
  6. World Health Organization. Global surveillance for COVID-19 caused by human infection with COVID-19 virus. (Interim Guidance) (https://www.who.int/publications/i/item/global-surveillance-for-covid-19-caused-by-human-infection-withcovid-19-virus-interim-guidance, 20 April 2020)
  7. World Health Organization. Strategic and Technical Advisory Group for Infectious Hazards (STAG IH) (https://www.who.int/emergencies/diseases/strategic-and-technical-advisory-group-for-infectious-hazards/en/)
  8. Bullard J, Dusk K, Funk D, et al. Predicting infectious SARS-CoV-2 from diagnostic samples, Clin Infect Dis. 2020 doi: 10.1093/cid/ciaa638.
  9. Arons MM, Hatfield KM, Reddy SC, et al. Presymptomatic SARS-CoV 2 infections and transmission in a skilled nursing facility. N Engl J Med. 2020; 382: 2081-90.
  10. Wolfel R, Corman VM, Guggemos W, et al. Virological assessment of hospitalized patients with COVID-19. Nature. 2020; 581: 465-69.
  11. Personal communication with van Kampen JJA first author of preprint of: Van Kampen JJA, Van de Vijner DAMC, Fraaij PLA, et al. Shedding of infectious virus in hospitalized patients with coronavirus disease 2019 (COVID-19): duration and key determinants. (Preprint) Medrxiv. 2020 doi: 10.1101/2020.06.08.20125310.
  12. To KK, Tsang OTY, Leung WS, et al. Temporal profiles of viral load in posterior oropharyngeal saliva samples and serum antibody responses during infection by SARS-CoV-2: an observational cohort study. Lancet Infect Dis. 2020; 20(5): p. 565-74. Criteria to release COVID-19 patients from isolation: Scientific brief -4-
  13. Cheng HY, Jian S, Liu D, et al. Contact Tracing Assessment of COVID-19 Transmission Dynamics in Taiwan and Risk at Different Exposure Periods Before and After Symptom Onset. JAMA Intern Med. 2020; e202020. doi: 10.1001/jamainternmed.2020.2020.
  14. Zhou R, Li F, Chen F, et al. Viral dynamics in asymptomatic patients with COVID-19. Int J Infect Dis. 2020 doi: 10.1016/j.ijid.2020.05.030.
  15. He X, Lau EHY, Wu P, et al. Temporal dynamics in viral shedding and transmissibility of COVID-19. Nat Med. 2020; 26(5): p.672-5.
  16. Lu Y, Li Y, Deng W, et al. Symptomatic infection is associated with prolonged duration of viral shedding in mild coronavirus disease 2019: A retrospective study of 110 children in Wuhan. Pediatr Infect Dis J. 2020; 39(7): e95-9. doi: 10.1097/INF.0000000000002729.
  17. Munster VJ, Feldmann F, Williamson BN, et al. Respiratory disease in rhesus macaques inoculated with SARS-CoV2. Nature. 2020 doi: 10.1038/s41586-020-2324-7.
  18. Widders A, Broom A, Broom J. SARS-CoV-2: The viral shedding vs infectivity dilemma. Infection Dis Health. 2020 doi: 10.1016/j.idh.2020.05.002.
  19. Weiss A, Jellingsoe M, Sommer MOA. Spatial and temporal dynamics of SARS-CoV-2 in COVID-19 patients: A systemic review. (Preprint) Medrxiv. 2020 doi: 10.1101/2020.05.21.20108605.
  20. World Health Organization. Laboratory biosafety guidance related to coronavirus disease (COVID-19) (https://www.who.int/publications/i/item/laboratory-biosafety-guidance-related-to-coronavirus-disease-(covid-19 , 13 May 2020)
  21. The COVID-19 Investigation Team. Clinical and virologic characteristics of the first 12 patients with coronavirus disease 2019 (COVID-19) in the United States. Nat Med; 2020 doi: 10.1038/s41591-020-0877-5.
  22. Liu WD, Chang SY, Wang JT, et al. Prolonged virus shedding even after seroconversion in a patient with COVID-19. J Infect. 2020 doi: 10.1016/j.jinf.2020.03.063.
  23. Yuan J, Kou S, Liang Y, et al. PCR Assays Turned Positive in 25 Discharged COVID-19 Patients. Clin Infect Dis. 2020 doi: 10.1093/cid/ciaa398.
  24. Tang X, Zhao S, He D, et al. Positive RT-PCR tests among discharged COVID-19 patients in Shenzhen, China. Infect Control Hosp Epidemiol. 2020 doi: 10.1017/ice.2020.134.
  25. Qu YM, Kang EM, Cong HY. Positive result of Sars-Cov-2 in sputum from a cured patient with COVID-19. Travel Med Infect Dis. 2020; 34: p101619. doi: 10.1016/j.tmaid.2020.101619.
  26. Li Y, Hu Y, Yu Y, et al. Positive result of Sars-Cov-2 in faeces and sputum from discharged patient with COVID-19 in Yiwu, China. J Med Virol. 2020 doi: 10.1002/jmv.25905.
  27. Xiao AT, Tong YX, Zhang S. False-negative of RT-PCR and prolonged nucleic acid conversion in COVID-19: Rather than recurrence. J Med Virol. 2020 doi: 10.1002/jmv.25855.
  28. Xing Y, Mo P, Xiao Y et al. Post-discharge surveillance and positive virus detection in two medical staff recovered from coronavirus disease 2019 (COVID-19), China, January to February 2020. Euro Surveill, 2020; 25(10): 2000191. doi: 10.2807/1560-7917.ES.2020.25.10.2000191.
  29. Unpublished data, manuscript in preparation, personal communication Malik Peiris, Hong Kong University.
  30. Centers for Disease Control and Prevention, Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Symptom-Based Strategy to Discontinue Isolation for Persons with COVID-19. Website, accessed on 12 June 2020. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/community/strategy-discontinue-isolation.html
  31. Sia SF, Yan LM, Chin AWH et al. Pathogenesis and transmission of SARS-CoV-2 in golden hamsters. Nature. 2020 doi: 10.1038/s41586-020-2342-5.
  32. Wang W, Xu Y, Gao R, et al. Detection of SARS-CoV-2 in Different Types of Clinical Specimens. JAMA. 2020; 323(18): 1843-4. doi:10.1001/jama.2020.3786.
  33. Zhu L, Gong N, Liu B, et al. Coronavirus disease 2019 pneumonia in immunosuppressed renal transplant recipients: a summary of 10 confirmed cases in Wuhan, China. Eur Urol. 2020; 77(6):748-54.
  34. La Scola B, Le Bideau M, Andreani J, et al. Viral RNA load as determined by cell culture as a management tool for discharge of SARS-CoV-2 from infectious disease wards. Eur J Clin Microbiol Infect Dis. 2020 doi: 10.1007/s10096-020- 03913-9.
  35. Atkinson B, Petersen E. SARS-CoV-2 shedding and infectivity. Lancet. 2020; 395(10233): p.1339-40.
  36. Zou L, Ruan F, Huang M, et al. SARS-CoV-2 Viral Load in Upper Respiratory Specimens of Infected Patients. N Engl J Med. 2020; 382(12): p.1177-9. Criteria to release COVID-19 patients from isolation: Scientific brief -5-
  37. Young BE, Ong SWX, Kalimuddin S, et al. Epidemiologic Features and Clinical Course of Patients Infected With SARSCoV-2 in Singapore. JAMA. 2020;323(15):1488–1494. doi:10.1001/jama.2020.3204.
  38. Lescure FX, Bouadma L, Nguyen D, et al. Clinical and virological data of the first cases of COVID-19 in Europe: a case series. Lancet Infect Dis. 2020; 20(6): p. 697-706. doi: 10.1016/S1473-3099(20)30200-0.
  39. Pan Y, Zhang D, Yang P, Poon LLM, Wang Q. Viral load of SARS-CoV-2 in clinical samples. Lancet Infect Dis. 2020; 20(4): p. 411-2. doi: 10.1016/S1473-3099(20)30113-4.
  40. Ling Y, Xu SB, Lin YX, et al. Persistence and clearance of viral RNA in 2019 novel coronavirus disease rehabilitation patients. Chin Med J (Engl). 2020; 133(9): p. 1039-43. doi: 10.1097/CM9.0000000000000774.
  41. Hu Z, Son C, Xu C, et al. Clinical characteristics of 24 asymptomatic infections with COVID-19 screened among close contacts in Nanjing, China. Sci China Life Sci. 2020; 63(5): p. 706-11. doi: 10.1007/s11427-020-1661-4.
  42. Xu K, Chen Y, Yuan J, et al. Factors associated with prolonged viral RNA shedding in patients with COVID-19. Clin Infect Dis. 2020 doi: 10.1093/cid/ciaa351.
  43. Qi L, Yang Y, Jiang D, et al. Factors associated with duration of viral shedding in adults with COVID-19 outside of Wuhan, China: A retrospective cohort study. Int J Infect Dis. 2020 doi: 10.1016/j.ijid.2020.05.045.

Sumber: Criteria for releasing COVID-19 patients from isolation, World Health Organization. (2020).

 

 

Rekomendasi Keselamatan Pasien Untuk Wabah Epidemi Covid-19 (Pelajaran dari Pengalaman Italia)

Penulis:
Dr Novika Handayani (Divisi Manajemen Mutu PKMK FK KMK UGM)

Italia adalah negara Eropa pertama yang mendapatkan dampak besar dari Covid-19 sehingga pada akhirnya negara tersebut menetapkan lockdown. Dua turis China yang terkonfirmasi positif pada tanggal 31 Januari 2020 menjadi kasus awal di Italia. Sampai dengan 23 Juni 2020, total kasus di Italia mencapai 238,433 dengan 34.675 kematian.

The Italian Network for Safety in Healthcare (INSH) telah mengumpulkan pelajaran penting yang telah mereka pelajari dalam pandemi di Italia dan bersama dengan Internasional Society for Quality in Health Care (ISQua) menerbitkan ‘Patient Safety Recommendations For Covid-19 Epidemic Outbreak’. Rekomendasi ini berisi pesan-pesan praktis bagi petugas garda depan, bukan merupakan sebuah pedoman yang rumit. Dokumen ini juga masih terus dikembangkan dan akan diperbarui oleh para profesional.

Pelayanan kesehatan bukan lagi patient-centered (berpusat pada pasien) namun kini sudah bergerak menjadi people-centered dimana pelayanan melindungi pasien dan juga harus melindungi penyedia layanan kesehatan. Dalam rekomendasi ini, terdapat tiga aspek yang dijelaskan berdasarkan pendekatan SEIPS Human Factors yaitu sistem kerja, proses pelayanan, dan outcome.

Dalam bab sistem kerja, dikeluarkan rekomendasi umum untuk penanganan Covid-19 yaitu:

1. Membangun tim (termasuk komunikasi dan budaya tim)

  • Emergency task-force harus mengaktifkan rantai komando yang jelas, peran dan tanggung jawab yang jelas, wadah komunikasi yang diandalkan dan pendekatan proaktif.
  • Unit manajemen risiko klinis atau mungkin di Indonesia bisa diterapkan oleh tim PMKP RS, berperan untuk menyediakan pedoman atau dokumen praktik klinis yang mendukung pencegahan dan penanganan Covid-19, serta mendukung tenaga kesehatan untuk melaporkan adverse event untuk menciptakan budaya keselamatan dengan meyediakan tools pelaporan yang mudah.

2. Pembagian Tugas dan Keterampilan yang dibutuhkan

  • Buat pelatihan singkat untuk tenaga medis tentang penggunaan APD, kembangkan video tutorialnya
  • Mengadakan kursus penyegaran tentang kebersihan tangan, pencegahan VAP (Ventilator Associated Pneumonia) dan CLABSI (Central Line Associated Bacterial Infection), pengenalan sepsis dini dan manajemen untuk semua petugas kesehatan, khususnya untuk staf yang tidak berada di garis depan kasus kegawatdaruratan yang dapat disebut sebagai “pengganti”.
  • Perlunya dukungan dokter ahli / perawat ahli kepada dokter/perawat muda, serta dukungan antar dokter spesialis
  • Terapkan instruksi desinfeksi lingkungan yang benar

3. Perlengkapan yang dibutuhkan untuk melindungi staf

  • Tindakan pencegahan kontak dan droplet digunakan dalam pelayanan pasien rutin pasien ataupun pasien dengan dugaan/ terkonfirmasi COVID-19
  • Tindakan pencegahan kontak dan airborne dilakukan ketika melakukan prosedur penghasil aerosol (AGPS), termasuk intubasi dan bronkoskopi
  • Mencegah kekurangan APD dengan cara penggunaan yang jangka panjang, penggunaan kembali face-shield dan masker disposable (secara terbatas), mengidentifikasi urutan prioritas pengguna, menyediakan re-usable suit/coveralls, dan simpan perangkat tersebut di tempat yang terkunci atau area yang aman serta pendistribusian kepada staf secara tepat.

4. Perlengkapan yang dibutuhkan untuk pasien

  • Berikan masker bedah bagi pasien yang periksa, terlepas dari gejala, pada kontak pertama mereka di fasilitas pelayanan kesehatan
  • Di area pelayanan khusus untuk pasien Covid-19, pastikan bahwa terdapat analisa haemo-gas, pulse oximeters, oksigen, ventilator therapy equipment dan suction yang semuanya berfungsi dengan baik
  • Terapkan dengan ketat, tanpa kecuali, indikasi untuk desinfeksi lingkungan dan peralatan (sodium hypochlorite atau 0,5% atau 70% larutan etil alkohol)
  • Cegah defisiensi germisida dengan menggunakan sediaan galenic.
  • Pertimbangkan pengadaan rumah sakit khusus
  • Bila masih dijalankan klinik rawat jalan: hindari berkumpul di ruang tunggu (rekomendasikan orang menunggu di luar, beri jarak setidaknya 1 m antar kursi), menginformasikan pasien bergejala dengan demam dan / atau batuk dan / atau dispnea untuk tidak pergi ke klinik, edukasi standar kebersihan dan kesehatan di ruang tunggu.

5. Pasien

  • Mengurangi rawat inap di rumah sakit, kunjungan rutin ke klinik rawat jalan, prosedur bedah rutin dan mengatur kunjungan di rumah sakit.
  • Lakukan prosedur yang tepat bagi pasien dengan gejala, suspek dan terkonfirmasi, prosedur isolasi, screening interview pasien sebelum ke ruang periksa atau bagi yang memerlukan tindakan seperti pembedahan atau persalinan
  • Orang yang kontak dengan pasien Covid-19 harus diambil alih oleh Dinas Kesehatan setempat untuk tujuan epidemiologis dan surveilans aktif dan akan dievaluasi secara klinis di fasyankes yang ditunjuk jika orang tersebut menunjukkan gejala.
  • Gunakan definisi kasus luas dan strategi testing intensif. Pelacakan kontak secara agresif dan testing yang intensif bersamaan dengan isolasi dirumah adalah strategi kemenangan bagi beberapa daerah di Italia dan di negara Asia.

Selain itu, juga terdapat rekomendasi untuk melakukan re-organisasi staf di pelayanan emergensi untuk Covid-19 seperti pengaturan jumlah staf yang dibutuhkan di ruang pelayanan intensif, subintensif dan ruangan biasa (disesuaikan dengan jumlah tempat tidur di masing-masing tempat) dan kriteria staf yang dibutuhkan di ruang pelayanan intensif.

Dalam pembahasan proses pelayanan yang dituangkan dalam bab rekomendasi clinical pathway, rekomendasi yang diberikan cukup holistik karena tidak hanya untuk diagnosis dan penanganan Covid-19, tapi juga bagaimana rekomendasi pelayanan bagi wanita hamil, anak, pasien kanker, pelayanan hemodialisis, rekomendasi bagi dokter umum, prosedur penanganan jenazah suspek atau terkonfirmasi Covid-19 sampai dengan rekomendasi kesehatan psikologis para staf serta mental wellbeing pasien.

Impak dari pelayanan Covid-19 penting untuk diukur. Pengukuran outcome dilakukan untuk mendukung pemantauan respon penyedia layanan kesehatan (RS) Covid-19 yang efektif termasuk kapasitas yang memadai untuk merawat pasien dengan kondisi kegawatan lainnya seperti serangan jantung, stroke, dan trauma untuk memastikan kesehatan publik dilindungi semaksimal mungkin. Berikut contoh indikator yang dapat diukur:

  1. Tingkat rawat inap untuk COVID-19 (ukuran hasil tidak langsung dari wilayah tersebut)
  2. Tingkat mortalitas pasien rawat inap di rumah sakit untuk COVID-19
  3. Rerata Length of Stay pasien COVID-19
  4. Persentase pasien COVID-19 yang dirawat di ICU
  5. Angka kematian di rumah sakit dari pasien non-COVID-19 dirawat karena AMI (Acute Myocardial Infarction)
  6. Angka kematian di rumah sakit dari pasien non-COVID-19 dirawat karena Stroke
  7. Angka kematian di rumah sakit dari pasien non-COVID-19 dirawat karena PPOK
  8. Persentase pasien rawat inap non-COVID-19 yang terinfeksi COVID-19 selama rawat inap
  9. Tingkat infeksi COVID-19di antara staf
  10. Survival rates

Bila memungkinkan, indikator 1-7 harus dikelompokkan berdasarkan kelompok umur. Pengukuran ini harus digunakan dan diinterpretasikan dengan sangat hati-hati jika digunakan untuk membandingkaan kualitas pelayanan antar provider.

Selain pengukuran outcome, berikut contoh indikator untuk pengukuran “proses”:

  1. Length of stay
  2. Persentase pasien dengan penyakit komorbid
  3. Profil pasien : usia, jenis kelamin, etnis, penyakit komorbid
  4. Persentase staf dengan dan tanpa APD yang tepat
  5. Persentase jumlah staf yang terlatih
  6. Jumlah tes yang dilakukan untuk staf RS

Pengukuran lainnya yang dapat dilakukan contohnya:

  1. Tingkat infeksi staf
  2. Tingkat kematian staf
  3. Kesejahteraan staf
  4. Mental illness

Sumber:

  1. The Italian Network for Safety in Healthcare (INSH) dan Internasional Society for Quality in Health Care (ISQua). Patient Safety Recommendations For Covid-19 Epidemic Outbreak. Tersedia online pada https://www.isqua.org/blog/covid-19/covid19-resources/patient-safety-recommendations-for-covid19-epidemic-outbreak.html
  2. https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries 

 

 

Improving Patient Safety in Hospitals as They Reopen Post-COVID-19

To say that the coronavirus pandemic will change the world is an understatement. It can never be stressed enough as to how much it has and will continue to impact our lives. After lockdowns were implemented for months to reduce the cases of infections, states are opening up slowly with precautions still in place. The US healthcare system is no exception – some providers are planning to open up while shuttered hospitals are planning to reopen due to the coronavirus.

Continue reading

Forum Diskusi Mutu Pelayanan Kesehatan On-line

Kerangka Acuan

Forum Diskusi
Mutu Pelayanan Kesehatan

Rabu 24 Juni 2020  |  Pukul 13.00 – 15.00 Wib

 

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM

bekerjasama dengan

Direktorat Mutu dan Akreditasi Kementerian Kesehatan RI, dan

Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN)

Menyelenggarakan Forum Diskusi Mutu Pelayanan Kesehatan Seri I dengan topik:

Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan dalam Pandemi COVID-19

  Latar Belakang

Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2019 mengeluarkan konsep untuk mewujudkan layanan kesehatan yang efektif, aman, berfokus pada individu, tepat waktu, efisien, adil, dan terintegrasi bagi individu dan populasi sesuai standar, perkembangan ilmu pengetahuan terkini, serta memperhatikan hak dan keterlibatan pasien – masyarakat yang dapat meningkatkan luaran kesehatan yang optimal. WHO merekomendasikan setiap negara untuk National Quality Policy and Strategy (NQPS).

Berdasarkan pedoman tersebut, saat ini Indonesia sudah selesai menyusun Kebijakan dan Strategi Nasional Mutu (KSNM) Pelayanan Kesehatan Indonesia sebagai kerangka penerapan berbagai upaya perbaikan mutu di tingkat pusat dan daerah. Penerapan kerangka ini membutuhkan peran kuat dari pemerintah pusat dan daerah yang sudah dikelompokkan dalam 7 strategi yang terbagi dalam 4 strategi umum dan 3 strategi fungsional.

Bertepatan dengan akan diterbitkannya kebijakan dan strategi tersebut, Indonesia dan seluruh negara di dunia menghadapi Pandemi Covid-19, sehingga diperlukan pembahasan tambahan apakah KSNM/NQPS yang telah disusun secara kontekstual juga sesuai dalam kondisi menghadapi pandemi sebuah penyakit.

  Tujuan

Forum Diskusi Mutu Pelayanan Kesehatan on-line seri I ini bertujuan untuk membahas berbagai aspek mutu pelayanan kesehatan terkait dengan pelayanan kesehatan dalam Pandemi Covid-19

  Tempat & Waktu

Kegiatan akan dilakukan secara online, manggunakan aplikasi Zoom Meeting

Hari, tanggal : Rabu, 24 Juni 2020
Waktu           : 13.00 – 15.00 WIB 

  Narasumber & Pembahas

Narasumber: drg. Farichah Hanum, M.Kes: Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Pembahas: Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua, Konsultan Manajemen Mutu PKMK UGM, Ketua IHQN

  Kontak

Maria Lelyana
Mobile 081329760006
lelyana.pkmk@gmail.com

  

Kegiatan akan dilakukan secara online, manggunakan aplikasi Zoom Meeting

Hari, tanggal: Rabu, 24 Juni 2020

Waktu: 13.00 – 15.00 WIB

Zoom Meeting ID: 814 2701 2832, Password: 449184