Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan

Perubahan iklim diketahui telah menjadi isu darurat kesehatan global. Studi terbaru oleh Carlson et. al (2025) menunjukkan bahwa pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia telah memberikan dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Penelitian ini mengungkap bahwa perubahan iklim berkontribusi langsung terhadap meluasnya penyebaran penyakit menular serta peningkatan angka kematian dan penyakit. Perubahan iklim yang umumnya terjadi adalah peningkatan suhu ekstrem.

Melalui pendekatan end-to-end attribution, para peneliti menelusuri hubungan antara perubahan iklim akibat aktivitas manusia dengan dampak kesehatan yang terjadi. Hasil analisis menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Pada periode 1991 hingga 2018, para peneliti menemukan terdapat lebih dari 270.000 kematian akibat panas ekstrem pada 43 negara yang mengalami perubahan iklim. Polusi udara dari kebakaran hutan juga diperkirakan menyebabkan lebih dari 125.000 kematian global setiap tahunnya. Selain itu, kematian bayi baru lahir akibat suhu tinggi di negara berpenghasilan rendah dan menengah ditemukan mencapai sekitar 175.000 kasus per tahun. Dampak tersebut diperparah dengan meningkatnya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan gangguan perkembangan kognitif anak yang berkaitan dengan suhu ekstrem.

Penelitian Carlson et. al (2025) juga menyoroti ketimpangan global dan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Ketimpangan yang terjadi adalah sebagian besar studi dilakukan di negara maju. Namun, populasi di negara berkembang justru paling terdampak oleh krisis iklim. Negara-negara di kawasan selatan masih menghadapi kekurangan data, keterbatasan sumber daya, dan sistem kesehatan yang belum siap menghadapi lonjakan penyakit akibat perubahan lingkungan. Hal tersebut menunjukkan bahwa krisis iklim juga merupakan krisis keadilan. Faktanya negara yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi justru menanggung beban kesehatan paling besar.

Temuan ini memberikan pesan penting bagi para praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit. Fasilitas pelayanan kesehatan harus mulai mempersiapkan diri menghadapi peningkatan kasus-kasus perubahan iklim, seperti serangan panas, gangguan pernapasan akibat polusi udara, dan peningkatan penyakit menular seperti demam berdarah dan malaria. Rumah sakit perlu memperkuat kapasitas adaptasi baik melalui penyediaan ruang pendingin darurat dan sistem ventilasi maupun penyediaan energi alternatif yang ramah lingkungan untuk menghadapi kondisi ekstrem. Selain itu, sistem pemantauan risiko kesehatan berbasis iklim perlu dikembangkan agar tenaga medis dapat memberikan respons cepat terhadap perubahan suhu dan cuaca ekstrem terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan pasien penyakit kronis. Edukasi tenaga kesehatan juga menjadi kunci penting. Para tenaga medis perlu memahami hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan agar dapat memberikan penanganan yang tepat. Upaya seperti pengelolaan limbah medis yang ramah lingkungan, pengurangan emisi karbon rumah sakit, dan penggunaan sumber energi bersih juga dapat menjadi langkah solusi nyata.

Studi ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukanlah ancaman masa depan, melainkan penyebab nyata dampak kesehatan yang terjadi. Dalam dunia kesehatan, tantangannya adalah bagaimana mengubah bukti ilmiah ini menjadi tindakan konkret. Melalui penguatan sistem kesehatan, riset, dan kolaborasi lintas sektor, masyarakat global memiliki peluang untuk mengubah krisis iklim menjadi momentum perubahan. Peluang tersebut tentunya harus dilengkapi dengan kesiapan, inovasi, dan komitmen untuk menjaga kesehatan dan bumi secara berkelanjutan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://www.nature.com/articles/s41558-025-02399-7 

 

 

 

Ancaman Tersembunyi Alat Medis: Ketika Biofilm dan Resistensi Antibiotik Menjadi Musuh Rumah Sakit

Infeksi akibat bakteri yang menempel alat medis seperti kateter, ventilator, atau selang drainase merupakan tantangan serius di rumah sakit. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar di lingkungan rumah sakit karena bakteri tersebut faktanya dapat bertahan lama pada permukaan alat medis sehingga menimbulkan infeksi berulang, mempersulit proses sterilisasi dan terapi antibiotik, hingga meningkatkan risiko komplikasi penyakit. Penelitian yang dilakukan oleh Veronica Folliero et al (2021) menyoroti hubungan antara pembentukan biofilm dan resistensi antibiotik pada infeksi dari alat medis yang disebut dengan Device-Related Infections (DRIs). Hasil penelitian menegaskan bahwa biofilm (lapisan pelindung yang dihasilkan oleh koloni bakteri di permukaan alat medis) mampu melindungi mikroba dari paparan antibiotik dan memfasilitasi pertukaran gen resistensi antar bakteri.

Penelitian melibatkan 76 alat medis yang dikumpulkan dari rumah sakit universitas di Italia selama periode Oktober 2019 hingga September 2020, meliputi kateter vena sentral, kateter urin, dan selang drainase. Berdasarkan pengamatan, ditemukan 94 isolat mikroorganisme yang terdiri dari 42,7% bakteri Gram positif, 40,3% Gram negatif, dan 17% jamur Candida. Bakteri yang paling sering ditemukan meliputi Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, dan Escherichia coli. Semua bakteri tersebut dikenal mampu membentuk biofilm kuat. Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa 56,4% dari semua isolat bakteri mampu membentuk biofilm yang sebagian besar tergolong multidrug resistant (MDR) atau kebal terhadap antibiotik. Selain itu, penelitian ini juga menemukan hubungan yang sangat kuat antara kemampuan membentuk biofilm dan resistensi antibiotik. Beberapa jenis bakteri seperti Acinetobacter baumannii, Proteus mirabilis, dan Klebsiella pneumoniae menunjukkan kapasitas pembentukan biofilm paling tinggi.

Temuan ini memberikan pesan penting bagi praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit. Biofilm tidak hanya menjadi masalah mikrobiologis tetapi juga persoalan manajemen klinis yang berdampak langsung pada keselamatan pasien. Dalam mengatasi masalah tersebut, rumah sakit disarankan perlu memperkuat penerapan kontrol infeksi, mengganti alat medis secara berkala, dan melakukan uji mikrobiologi rutin untuk mengenali pola resistansi yang berkembang di fasilitas masing-masing. Selain itu, penerapan program penggunaan antibiotik rasional (antibiotic stewardship) dan pengembangan inovasi pelapisan antimikroba pada alat medis perlu menjadi prioritas. Secara lebih lanjut, pengambilan kebijakan dalam meningkatkan kualitas layanan dan keselamatan pasien di rumah sakit terkait kontrol infeksi dan kebersihan alat medis dapat dipertimbangkan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH (Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1155/2021/9033278 

 

 

WHO Warns of Widespread Resistance to Common Antibiotics Worldwide

One in six laboratory-confirmed bacterial infections causing common infections in people worldwide in 2023 were resistant to antibiotic treatments, according to a new World Health Organization (WHO) report launched today. Between 2018 and 2023, antibiotic resistance rose in over 40% of the pathogen-antibiotic combinations monitored, with an average annual increase of 5–15%.

Continue reading

Peran Perubahan Iklim terhadap Munculnya Penyakit Menular Baru dan Kembalinya Penyakit Menular Lama

Perubahan iklim global kini tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga tantangan serius bagi kesehatan masyarakat. Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, serta meningkatnya frekuensi bencana alam telah menciptakan kondisi yang ideal bagi penyebaran berbagai penyakit menular. Fenomena ini berkontribusi terhadap kemunculan penyakit baru (emerging infectious diseases) dan kembalinya penyakit lama (re-emerging infectious diseases) di banyak wilayah. Dampak tersebut terlihat dari meluasnya distribusi vektor penyakit seperti nyamuk dan kutu, meningkatnya risiko penularan zoonosis, serta pergeseran pola epidemiologi penyakit tropis.

Penelitian yang dilakukan oleh Filho, et al. (2025) menerangkan bahwa perubahan iklim kini diakui secara luas sebagai salah satu penyebab utama munculnya dan kembalinya penyakit menular, terutama yang berasal dari hewan ke manusia (zoonosis). Kondisi iklim yang berubah, termasuk kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan dan intensitas cuaca ekstrem, membuat lingkungan semakin kondusif bagi vektor penyakit seperti nyamuk, kutu, dan tikus.

Dengan menggunakan pendekatan campuran, yakni analisis bibliometrik untuk memetakan literatur dan studi-kasus terpilih yang memperkuat bukti empiris, para peneliti mengidentifikasi empat klaster utama riset: aktivitas manusia & urbanisasi; faktor non-manusia seperti vektor dan reservoir; faktor lingkungan yang mempengaruhi habitat dan siklus hidup patogen; serta surveilans/integrasi pengendalian penyakit.

Salah satu insight penting yaitu urbanisasi dan perubahan penggunaan lahan semakin sering menempatkan manusia dalam kontak lebih dekat dengan satwa liar atau habitat alami yang terganggu, yakni kondisi yang meningkatkan risiko terjadinya spillover, dimana terjadi perpindahan patogen dari hewan ke manusia. Hal ini diperparah oleh iklim yang memudahkan vektor penyakit menyebab lebih luas.

Contohnya, perubahan suhu memungkinkan nyamuk‐penyebab penyakit seperti demam berdarah dan malaria bertahan hidup atau berkembang biak di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin. Begitu pula, banjir dan kekeringan yang intens bisa memicu peningkatan penyakit yang disebabkan air atau tikus seperti leptospirosis. Penelitian ini juga menyoroti bahwa populasi yang rentan, khususnya di negara berpenghasilan rendah atau sistem kesehatannya lemah, akan menghadapi risiko yang jauh lebih besar. Kekurangan akses ke air bersih, sanitasi dan layanan kesehatan, maka dampak perubahan iklim atas zoonosis menjadi lebih nyata dan mengancam.

Kebijakan kesehatan dan perubahan iklim yang terintegrasi, seperti memperkuat sistem surveilans penyakit, investasi riset untuk memahami nexus iklim‐penyakit, serta menanamkan pendekatan One Health, yang melihat keterkaitan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem, direkomendasikan untuk mencegah dan mengontrol penyakit menular masa depan. 

sumber: https://onehealthoutlook.biomedcentral.com/articles/10.1186/s42522-024-00127-3

 

Webinar Memahami konsep ERAS (Enhanced Recovery After Surgery): Strategi efisiensi operasi bedah dalam era JKN dan efisiensi

{tab title=”Kerangka Acuan” class=”red” align=”justify”}

Kamis 23 Oktober 2025  |  Pukul 13.00 – 15.00 WIB

Situasi Saat Ini: Operasi tetap menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengurangi angka kematian, dengan lebih dari 300 juta prosedur dilakukan secara global setiap tahun. Namun, sekitar 40% operasi mengakibatkan berbagai komplikasi. Komplikasi ini menyebabkan waktu pemulihan yang lebih lama, peningkatan biaya perawatan kesehatan, dan luaran pasien yang negatif. Keadaan ini tidak cocok untuk sistem kesehatan yang membutuhkan efisiensi, terlebih di masa JKN. Oleh karena itu diperlukan implementasi strategi pelayanan perioperatif yang efektif secara lebih konsisten.

Apa Solusinya? Berbagai teknik efisiensi saat ini dikembangkan di global. Salahsatunya adalah penerapan Protokol ERAS® (Enhanced Recovery After Surgery) yang telah terbukti secara signifikan mengurangi: (1) komplikasi pascaoperasi, (2) memperpendek masa rawat inap, dan (3) mempercepat pemulihan pasien. Studi menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap pedoman ERAS® dapat mengurangi masa rawat inap di rumah sakit hingga lebih dari 30%, menghasilkan penghematan biaya sebesar €2.500 hingga €5.500 per operasi di Inggris. Peningkatan ini tidak hanya meningkatkan luaran pasien tetapi juga memberikan efisiensi yang tinggi bagi penyedia layanan kesehatan.

Webinar ini menyajikan program ERAS®, yang dikembangkan oleh ERAS® Society dan diimplementasikan oleh Encare, yang dirancang untuk meningkatkan perawatan perioperatif dan luaran pasien menggunakan praktik berbasis bukti. Program ini mencakup Protokol ERAS®, Sistem Audit Interaktif ERAS® (EIAS), dan Program Implementasi ERAS® (EIP). Encare berkolaborasi dengan ERAS® Society untuk menawarkan EIAS dan EIP secara global kepada rumah sakit dan sistem kesehatan, menyediakan perangkat penting untuk implementasi yang efektif.

Tujuan Kegiatan:

  1. Memahami konsep ERAS sebagai alat untuk peningkatan efisiensi pelayanan klinisi.
  2. Menyajikan berbagai pengalaman klinisi di terkait dengan upaya mempercepat pemulihan pasca operasi di Indonesia
  3. Membahas kemungkinan implementasi ERAS di RS Indoenesia

Pembicara:

Eva Reinander (Encare, ERAS@ Society)

Pembahas:

Dr. dr. Birowo SpAn(K) Departemen Anastesi

dengan pembahas lainnya dari: Instalasi Kamar Bedah dan Anestesiologi RS Sardjito, Kepala KSM Bedah, KaKSM Kebidaan dan Kandungan, KaKSM Ortopedi, KaKSM Urologi, Kepala Departemen Keperawatan Bedah, dan lain-lain.

Fasilitator:

Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM: Dr. dr. Hanevi Jasri MARS, dan Prof. Laksono Trisnantoro.

Materi

Pengantar Diskusi
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD
materi
Dr. dr. Birowo SpAn(K) materi

 

{tab title=”Reportase” class=”orange”}

Pusat Kebijakan & Manajemen Kesehatan PKMK FK-KMK UGM bersama Departemen Anestesiologi dan Bedah RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta menyelenggarakan Webinar Internasional untuk membahas urgensi penerapan Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) sebagai strategi kunci mencapai efisiensi biaya dan kualitas luaran pasien di tengah tantangan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada Kamis (23/10/2025). Acara ini menghadirkan pembicara dengan perspektif global dari Encare, serta pandangan manajerial, klinis, dan kebijakan dari pakar kesehatan Indonesia.

Sesi Pembukaan dan Kritik terhadap Praktik Bedah

eras 1Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D. (PKMK FK-KMK UGM) membuka sesi dengan membuka diskusi terhadap praktik bedah. Beliau menyoroti bahwa variasi lama rawat Inap (LOS) yang lebar dalam prosedur seperti operasi kolon menunjukkan ruang perbaikan yang besar di Indonesia.

“Efisiensi bukan berarti mahal. Kualitas tidak selalu berbanding lurus dengan biaya tinggi. Saat ini, banyak praktik tradisional justru memilih yang terburuk bagi pasien, yang mengakibatkan LOS panjang dan biaya tinggi,” tegas Prof. Laksono.

Pembicara mendorong para klinisi dan manajer untuk membuat case study mendalam di Indonesia, menggunakan data yang detail, untuk membuktikan hasil nyata peran ERAS. Prof. Laksono juga menyoroti potensi pemanfaatan data BPJS untuk mengidentifikasi area yang belum efisien dan membandingkannya dengan luaran setelah implementasi ERAS.

ERAS: Prinsip Kualitas dan Kepatuhan (Eva Reinander, Encare)

eras 2Eva Reinander dan dr. Winner, MARS, MMedSc.,MSc (Encare, ERAS® Society) menegaskan bahwa prinsip utama ERAS adalah menjadikan kualitas berbasis praktik terbaik (evidence-based best practice) sebagai motor efisiensi. ERAS merupakan langkah niat untuk membuat efisiensi dengan mengurangi tradisi yang tidak lagi menguntungkan pasien. Eva menjelaskan bahwa untuk mencapai efisiensi dan cost saving yang tinggi seperti yang telah terbukti di Amerika Selatan, Korea Selatan, dan Australia diperlukan sistem audit yang ketat (seperti EIAS) untuk memastikan kepatuhan yang konsisten. Kehadiran teknologi audit inilah yang mengatasi tantangan terbesar dalam implementasi: compliance decay atau penurunan kepatuhan seiring waktu.

 

Dinamika Klinis: Anestesiologi dan Kontrol Stres Fisiologis (Dr. dr. Birowo, SpAn(K))

eras 3Dr. dr. Birowo, SpAn(K) (Departemen Anestesiologi) membahas implementasi ERAS sebagai tantangan untuk mengubah budaya dan doktrin tradisional dalam pelayanan bedah. Beliau menjelaskan bahwa ERAS adalah usaha untuk memodifikasi respons stres fisiologis dan psikologis terhadap operasi besar melalui pendekatan multimodal. Protokol Anestesi ERAS yaitu:

  • Terkait Puasa Singkat dan Cairan, Dr. Birowo mengonfirmasi bahwa diperbolehkan memberikan cairan karbohidrat tinggi 2 jam sebelum masuk kamar operasi. Hal ini bertujuan menghindari dehidrasi yang memicu fluid overload (kelebihan cairan) saat intra-operasi, yang terbukti menghambat penyembuhan luka dan proses pemulihan.
  • Kaitannya dengan Analgesia dan Mobilisasi, protokol anestesi ERAS menekankan analgesia multimodal opioid sparing dan dukungan untuk mobilisasi dini.

Perspektif Mutu Pelayanan dan JKN (Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQUA)

eras 4Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQUA (Spesialis Mutu Pelayanan) menyoroti pentingnya ERAS dari sudut pandang mutu dan kebijakan. Terkait mutu dan biaya, Dr. Hanevi menekankan bahwa mutu yang baik tidak selalu harus mahal. ERAS membuktikan bahwa kualitas didasarkan pada praktik terbaik (best practice) yang terbukti ilmiah, yang secara otomatis membawa efisiensi. Kemudian soal tantangan kepatuhan terdapat hambatan terbesar dalam implementasi ERAS di Indonesia adalah budaya organisasi dan masalah kepatuhan yang tidak konsisten (compliance decay). Terakhir, kaitannya dengan strategi penguatan mutu, dalam rangka mengatasi hambatan budaya dan memastikan keberlanjutan mutu, manajemen harus menggunakan data audit yang transparan (misalnya dari sistem EIAS) sebagai alat umpan balik untuk membangun akuntabilitas dan kolaborasi lintas disiplin. ERAS adalah inisiatif yang sangat sejalan dengan tuntutan JKN menuju pelayanan kesehatan berbasis nilai (value-based healthcare).

Strategi Manajemen: Insentif dan Efisiensi Tempat Tidur (Dr. dr. Darwito, SpB Onk (K))

eras 5Dr. dr. Darwito, SpB Onk (K) (Direktur RSA UGM) memaparkan bagaimana manajemen menerjemahkan ERAS sebagai alat untuk efisiensi dan kualitas:

  • Program terukur, hal ini dilakukan RSA UGM dengan memprogramkan inisiatif Fast-Track, termasuk untuk Seksio Sesarea (Caesarean Section), yang berhasil memangkas LOS dari satu minggu menjadi tiga hari.
  • Poli Perioperatif diupayakan melalui kunci dari manajemen adalah Poliklinik Perioperatif yang sudah stand by di RSA UGM. Poliklinik ini memastikan pasien dioptimasi di fase pra-admisi (sebelum masuk OP), sehingga 60% pasien sudah siap operasi.
  • Insentif tim diberikan untuk mendorong kepatuhan, tim yang berhasil menjalankan fast-track diberikan insentif per pasien (sekitar Rp 500.000). Hal ini membuktikan bahwa ERAS adalah investasi yang menguntungkan.
  • Sehingga hal tersebut menghasilkan dampak efisiensi → “RS dapat efisien. Adanya keterbatasan bisa 1 Tempat Tidur (TT) yang harusnya dipakai 7 hari bisa di cut menjadi efisiensi. Pasien tenang, dokter tenang,” ujar Dr. Darwito, menekankan manfaat langsung ERAS pada manajemen pemanfaatan tempat tidur.

Sesi Diskusi Kritis dan Tindak Lanjut

  • Sektor Swasta → Eva Reinander mengonfirmasi bahwa sangat mungkin bagi rumah sakit swasta yang sebagian besar klinisinya part-timer untuk mengimplementasikan ERAS, asalkan ada komitmen dan penggunaan sistem audit (EIAS) untuk menjaga standar.
  • Kerja Tim → Dr. Birowo kembali menekankan bahwa ERAS adalah keputusan multidisiplin yang melibatkan psikolog, ahli gizi, perawat, dan manajer, serta membutuhkan manajemen rehabilitasi medis dan kerja tim yang erat.

Webinar ditutup oleh Prof. Laksono yang menegaskan bahwa hasil diskusi ini menjadi modal penting bagi pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti di Indonesia. Materi kegiatan dapat diakses melalui mutupelayanankesehatan.net

video webinar

Reporter:
Salwa Nada Agfi Arofah (Divisi Manajemen Mutu, PKMK UGM)

 

 

{/tabs}

 

Hari Pangan Sedunia 2025

Setiap 16 Oktober, diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia yang merupakan bentuk komitmen global untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan dan gizi. Tahun 2025, peringatan hari pangan bertepatan dengan ulang tahun ke-80 Food and Agriculture Organization (FAO) dengan tema “Hand in Hand for Better Foods and a Better Future”. Tema ini menyerukan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan sistem pangan yang berkelanjutan dan inklusif. Melalui tema yang diangkat, FAO menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, masyarakat sipil, dan individu untuk menciptakan sistem pangan yang lebih baik. Sistem pangan yang lebih baik diharapkan dapat mewujudkan akses pangan sehat dan bergizi serta praktik pertanian ramah lingkungan. Secara lebih lanjut, sistem pangan juga diharapkan dapat menjadi inklusif dan berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat, pengurangan pemborosan pangan, dan peningkatan efisiensi rantai pasokan.

Berdasarkan laman website FAO, peringatan Hari Pangan Sedunia 2025 akan diisi dengan berbagai kegiatan. Contohnya seperti peresmian Museum Pangan dan Pertanian FAO di Roma yang bertujuan mendidik masyarakat tentang pentingnya sistem pangan berkelanjutan. Selain itu, diselenggarakan ceramah dan diskusi panel bertema “FoodS FutureS: Conversations for a Better World” untuk membahas masa depan pangan dan pertanian melalui perspektif empat pilar utama FAO. Kegiatan lokal seperti pameran, konser, lomba lari, dan aksi pengumpulan pangan juga dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan ketahanan pangan global di lebih dari 150 negara.

Meskipun bidang pangan pada praktiknya telah menghasilkan banyak banyak kemajuan, masih terdapat tantangan besar dalam mencapai ketahanan pangan termasuk perubahan iklim, konflik, dan ketimpangan ekonomi. Oleh karena itu, Hari Pangan Sedunia 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan sistem pangan yang lebih baik bagi masa depan. Peringatan ini mengingatkan kita akan pentingnya kolaborasi dalam mewujudkan sistem pangan yang berkelanjutan, inklusif, dan adil.

Selengkapnya: https://www.fao.org/world-food-day/en 

 

WHO Tobacco Trends Report: 1 in 5 Adults Still Addicted to Tobacco

The world is smoking less, but the tobacco epidemic is far from over. A new WHO global report shows the number of tobacco users has dropped from 1.38 billion in 2000 to 1.2 billion in 2024. Since 2010, the number of people using tobacco has dropped by 120 million – a 27% drop in relative terms. Yet, tobacco still hooks one in five adults worldwide, fuelling millions of preventable deaths every year.

Continue reading

Peran Tobacco Treatment Specialist (TTS) dalam Mewujudkan Upaya Berhenti Merokok pada Pelayanan Kesehatan Primer

Upaya berhenti merokok menjadi salah satu cara pencegahan keparahan penyakit dan kematian yang efektif bagi perokok. Namun, fakta menunjukkan bahwa hal ini sangat sulit dilakukan. Faktor ketergantungan nikotin, stres, dan kurangnya dukungan menyebabkan upaya berhenti merokok sering gagal. Studi Meyer, Cervenka, Lammers, dan Furst (2022) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kehadiran Tobacco Treatment Specialist (TTS) atau spesialis terapi tembakau di layanan kesehatan primer dapat memberikan dampak besar terhadap keberhasilan pasien dalam berhenti merokok. TTS merupakan tenaga profesional yang memiliki keahlian dan pelatihan khusus untuk membantu individu berhenti merokok melalui pendekatan berbasis bukti ilmiah. TTS tidak hanya memberikan obat-obatan untuk membantu mengatasi ketergantungan nikotin tetapi juga melakukan konseling, menyusun rencana terapi, memberikan edukasi, dan membantu mencegah kekambuhan. Melalui latar belakang pelatihan yang ketat dan sertifikasi nasional, TTS mampu memberikan pendampingan menyeluruh bagi pasien sekaligus menjadi sumber rujukan bagi tenaga medis lain yang ingin memberikan layanan berhenti merokok yang lebih efektif.

Penelitian yang dilakukan oleh Meyer dan rekan-rekannya melibatkan berbagai tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan asisten medis di fasilitas layanan primer. Hasilnya menunjukkan bahwa 85% staf mengetahui keberadaan TTS dan lebih dari setengahnya (55%) telah memanfaatkan perannya dalam praktik klinik. Sebagian besar staf menggunakan layanan TTS untuk rujukan kunjungan lanjutan berhenti merokok (54%) diikuti oleh konsultasi cepat (21%) dan pengelolaan obat (21%). Hampir semua responden menyatakan bahwa keberadaan TTS memberikan manfaat yang signifikan bagi pelayanan terutama karena memungkinkan pasien mendapatkan bimbingan yang lebih fokus dan berkelanjutan tanpa harus dirujuk ke tempat lain. Studi ini juga menemukan bahwa kehadiran TTS dapat membantu meningkatkan indikator kualitas kesehatan terutama pada pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes.

Bagi pasien, kemudahan mendapatkan layanan berhenti merokok di tempat yang sudah dikenal seperti klinik keluarga menjadi nilai tambah tersendiri. Mereka merasa lebih nyaman karena sudah terbiasa dengan staf dan lingkungan klinik. Faktor kedekatan dengan tenaga medis, kemudahan penjadwalan, serta rasa percaya terhadap rekomendasi dokter keluarga membuat mereka lebih termotivasi untuk berhenti merokok. Beberapa pasien bahkan menyebutkan bahwa kehadiran TTS di fasilitas layanan primer membuat proses berhenti merokok terasa lebih mudah karena dukungan yang mereka terima terasa lebih personal dan berkelanjutan. Selain itu, keberadaan TTS bagi tenaga kesehatan juga memberikan manfaat besar. Konsultasi antar profesional yang dapat dilakukan dengan cepat memudahkan pengambilan keputusan terkait terapi dan pengelolaan obat. TTS juga membantu mengurangi beban kerja dokter dan perawat dalam memberikan konseling sekaligus memastikan bahwa pasien menerima intervensi sesuai pedoman berbasis bukti.

Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa integrasi TTS ke dalam layanan kesehatan primer membawa manfaat nyata bagi pasien, tenaga kesehatan, dan sistem pelayanan kesehatan. Kolaborasi multidisiplin yang terbentuk membuat layanan berhenti merokok menjadi lebih efektif, efisien, dan manusiawi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa langkah kecil seperti menghadirkan seorang spesialis dalam lini pertama pelayanan dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan masyarakat dan menjadi contoh yang patut diterapkan di berbagai negara termasuk di Indonesia.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:
https://www.cambridge.org/