Patient Safety: Harga Mati!

SEJAK 2019 World Health Organization (WHO) mengkampanyekan keselamatan pasien melalui World Patient Safety Day. Dalam kampanyenya disebutkan bahwa tidak seorang pun boleh mendapatkan bahaya ketika sedang menjalani perawatan di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan. Namun, kenyataannya, ada 134 juta orang pasien rumah sakit per tahun yang mendapatkan bahaya akibat perawatan yang tidak aman di rumah sakit-rumah sakit negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Petaka itu berkontribusi pada kematian 2,6 juta orang setiap tahun di kelompok negara-negara tersebut.

Data lain menambah keprihatinan dan sekaligus menunjukkan pentingnya pelayanan kesehatan yang aman untuk keselamatan pasien (patient safety). Hal ini akibat pelayanan yang tidak aman yang makin mengkhawatirkan karena insidennya makin banyak, baik di negara berpenghasilan rendah, berpenghasilan menengah, maupun berpenghasilan tinggi. Walhasil, masalah pelayanan kesehatan yang tidak aman merupakan masalah global, tantangan berat yang harus dihadapi bersama-sama.

Menurut WHO, pelayanan kesehatan yang tidak aman merupakan salah satu dari 10 penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Di negara-negara berpenghasilan tinggi saja diperkirakan terdapat satu dari setiap 10 pasien mendapatkan bahaya saat menerima perawatan di rumah sakit. Secara global, sebanyak empat dari setiap 10 pasien mendapat insiden membahayakan dalam pelayanan kesehatan primer dan rawat jalan. Kabar baiknya, kasus-kasus itu sebenarnya bisa dihindari karena hingga 80% dari insiden-insiden membahayakan tersebut dapat dicegah.

Fakta-fakta itu mendorong WHO mengingatkan semua pihak akan pentingnya “budaya” keselamatan pasien (patient safety). Untuk itu, WHO kemudian menetapkan tanggal 17 September sebagai Hari Keselamatan Pasien Sedunia (World Patient Safety Day) yang untuk pertama kalinya diperingati pada tahun 2019.

Buku Patient Safety: Harga Mati! ditulis oleh Nico A. Lumenta, seorang pakar keselamatan pasien dan juga Ketua Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit PERSI yang pertama, serta pelaku sejarah pengembangan patient safety (keselamatan pasien) di Indonesia. Selain Nico, buku ini juga mendapat dukungan dari kontributor yang berpengalaman di bidang keselamatan pasien seperti Bambang Tutuko, Ketua Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit, dan tokoh-tokoh bidang keselamatan pasien lainnya.

Penulis :
Dokter Nico A. Lumenta, K.Nefro, MM, MHKes, FISQua adalah salah satu tokoh bidang patient safety (keselamatan pasien) Indonesia yang memiliki kompetensi mumpuni baik dari sisi keilmuan, pengalaman, maupun keorganisasian keselamatan pasien. Ia adalah ketua pertama organisasi nasional di bidang keselamatan pasien di Indonesia, yakni sejak diangkat menjadi Ketua Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS) Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) tahun 2005.

TOKOPEDIA    SHOPEE

 

 

Lean

 

Untuk melihat hasil silahkan klik link berikut 

Hasil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Modul 2. Strategic Purchasing dalam meningkatkan Kinerja Sistem Kesehatan

Disampaikan oleh:

  • Dr. drg. Yulita Hendrartini, M.Kes, AAK
  • Donni Hendrawan, MD, MPH

Fasilitator: Budi Eko Siswo SKM., MPH

 Deskripsi

Modul ini menjelaskan bagaimana konsep strategic purchasing dalam meningkatkan sistem kesehatan, salah satunya dengan dengan mempelajari perkembangan konsep pembelian strategis beserta kesenjangan antara teori, kebijakan, dan implementasi melalui beberapa studi kasus. Menjelaskan perkembangan konsep pembelian strategis antar negara dan solusi atau rencana tindak lanjut yang dilakukan untuk mewujudkan konsep strategis pembelian.

Modul ini juga menjelaskan mengenai pembelajaran dari tiap negara dan “who does what”, terutama identifikasi siapa dan apa peran purchaser di berbagai negara tersebut, contoh perbandingan tata kelola yang telah dikembangkan dari beberapa negara, jenis tata kelola mana yang cenderung mirip dengan sistem di Indonesia dan solusi atau rencana tindak lanjut yang dilakukan untuk mencapai tujuan dari tata kelola dalam pembelian strategis.

Menjelaskan faktor pendorong dan penghambat dalam strategic purchasing termasuk consumer voice dan accountability dan potensi pelaksanaannya di Indonesia, memberikan contoh implikasi pembelian strategis yang terjadi di beberapa negara dan sejauh mana implikasi tersebut terjadi di Indonesia, menjelaskan factor penghambat dan pendorong dalam implementasinya serta diskusi mengenai solusi atau rencana tindak lanjut yang dilakukan untuk menyikapi implikasi dari pelaksanaan pembelian strategis tersebut.

Menjelaskan mengenai Regulasi dan kebijakan yang berhubungan dengan program JKN, tidak hanya yang dikeluarkan oleh MoH namun juga oleh institusi pemerintah lainnya

 Tujuan Modul

Setelah mempelajari modul ini Peserta diharapkan memahami:

  1. Memahami konsep strategic purchasing dalam meningkatkan sistem kesehatan
  2. Memahami Faktor pendorong dan penghambat dalam implementasi strategic purchasing
  3. Memahami peran setiap stakeholders purchasing di Indonesia sesuai regulasi yang ada
  4. Menjelaskan regulasi-regulasi yang mendukung dan menghambat implementasi strategic purchasing di Indonesia

 Sub Modul

1. Implikasi dari pelaksanaan pembelian strategis 

Setiap sistem pasti memiliki implikasi yang bervariasi, demikian juga konsep pembelian strategis. Sub modul ini akan menjelaskan implikasi pelaksanaan pembelian strategis dengan menggunakan pendekatan ‘principal-agent theory’ sehingga ada perspektif yang menyeluruh, baik sebagai purchaser, pemerintah, penyedia layanan, dan masyarakat. Selain itu juga akan dijelaskan tentang Faktor pendorong dan penghambat termasuk consumer voice dan accountability dan potensi pelaksanaannya di Indonesia beserta market competition yang dihubungkan dengan peta kontrak faskes BPJS Kesehatan. Sub modul ini juga akan memberikan contoh implikasi pembelian strategis yang terjadi di beberapa negara, sejauh mana implikasi tersebut terjadi di Indonesia, beserta solusi atau rencana tindak lanjut yang dilakukan untuk menyikapi implikasi dari pelaksanaan pembelian strategis tersebut.

{tab title=”VIDEO 1″ class=”green”}

materi

{tab title=”VIDEO 2″ class=”blue”}

{/tabs}

  1. HANDOUT
  2. Referensi
    1. Purchasing to Improve Health Systems Performance
    2. Strategic Purchasing in China, Indonesia and the Philippines
2. Peran setiap stakeholders purchasing di Indonesia

Sub modul ini akan menjelaskan mengenai pembelajaran beberapa negara dan “who does what”, contoh tata kelola yang telah dirancang untuk mengaplikasikan pembelian strategis. Dalam strukturnya, tata kelola akan dijelaskan dengan kombinasi antara peran regulasi dan kajian literatur. Beberapa dimensi yang menyangkut integrasi pembelian strategis, penyedia layanan, mekanisme pasar, dan kerja sama publik-swasta akan menentukan jenis tata kelola pembelian strategis yang dapat menjadi alternatif masing-masing negara. Sub modul ini juga memberikan contoh perbandingan tata kelola yang telah dikembangkan dari beberapa negara, jenis tata kelola mana yang cenderung mirip dengan sistem di Indonesia, faktor pendorong dan faktor penghambat penyelenggaraan konsep pembelian strategis dan solusi atau rencana tindak lanjut yang dilakukan untuk mencapai tujuan dari tata kelola dalam pembelian strategis.

{tab title=”VIDEO 1″ class=”green”}

materi 1

{tab title=”VIDEO 2″ class=”red”}

materi 2

{/tabs}

  1. HANDOUT 1
  2. HANDOUT 2
  3. Referensi
    1. Purchasing to Improve Health Systems Performance
    2. Strategic Purchasing in China, Indonesia and the Philippines
3. Regulasi Strategic Purchasing di Indonesia

Sub modul ini akan menjelaskan secara umum perkembangan konsep pembelian strategis seiring dengan reformasi sistem pelayanan kesehatan. Setelah memahami konsep, sub modul ini juga menjelaskan beberapa regulasi yang mendukung strategic purchasing beserta kesenjangan antara teori ideal dan kebijakan yang tidak dapat lepas dari implementasi pembelian strategis. Sub modul ini memberikan beberapa contoh perkembangan konsep pembelian strategis antar negara, regulasi/ kebijakan yang dapat mendukung pelaksanaan strategic purchasing di Indonesia, dan solusi atau rencana tindak lanjut yang dilakukan untuk mewujudkan konsep pembelian strategis.

materi

  1. HANDOUT
  2. Referensi
    1. Regulasi terkait pembelian strategis di Indonesia
    2. Purchasing to Improve Health Systems Performance
    3. Strategic Purchasing in China, Indonesia and the Philippines

Soal Pretest dikerjakan pada saat sebelum launching Modul 2 melalui link berikut https://mutupelayanankesehatan.net/test dengan memasukkan user dan password yang dikirimkan oleh panitia. Soal berjumlah 10 pilihan ganda.


Jadwal Tatap Muka

Kegiatan tatap muka melalui webinar akan diselenggarakan pada:
Hari Kamis, 5 Oktober 2017. Pukul 10.00 – 12.00 WIB.

Tor kegiatan

Link webinar https://attendee.gotowebinar.com/register/6334358341494232578 

 Post Test

Soal dapat diakses pada link berikut https://mutupelayanankesehatan.net/test dengan memasukkan user dan password yang dikirimkan oleh panitia.
Post test dapat dilakukan pada hari jumat minggu kedua Modul 2.

Evaluasi akhir modul

Soal evaluasi akhir modul akan dikerjakan melalui online pada web ini. Soal akan dipublish pada hari Jumat minggu kedua. Soal berjumlah 12 terdiri dari 10 pilihan ganda dan 2 essay.

 Forum Diskusi Modul

Silahkan menuliskan pertanyaan pada laman ini dengan memberikan nama lengkap.

 

alert



   
REMINDER TO APPLY!

The HIMSS Asia Pacific Governing Council invites nominations for three vacancies on the HIMSS Asia Pacific Governance Council for a three year term to begin on 1 July, 2017 and end 30 June, 2020.

 

About HIMSS

HIMSS is a global, cause-based, not-for-profit organization focused on better health through information technology (IT). HIMSS leads efforts to optimize health engagements and care outcomes using information technology. HIMSS produces health IT thought leadership, education, events, market research and media services around the world.Founded in 1961, HIMSS encompasses more than 65,000 individual members, of which more than two-thirds work in healthcare provider, governmental and not-for-profit organizations across the globe, plus over 640 corporations and 450 not-for-profit partner organizations, that share this cause. Additionally, HIMSS reaches nearly one million people worldwide through its events, publications, web resources and other activities. HIMSS, headquartered in Chicago, serves the global health IT community with additional offices in the United States, Europe, and Asia.

 

About HIMSS Asia Pacific

HIMSS Asia Pacific was formed in 2008 with the headquarters in Singapore, offering dedicated programmes for the region, including its flagship initiative, HIMSS AsiaPac Conference.  HIMSS Asia Pacific has expanded its educationalprogrammes and initiatives in the region to include, eHealth Summit, eHealth Forum, Community Engagement Events, etc. New members of the HIMSS Asia Pacific Governing Council will therefore make their contribution to an exciting time in HIT in Asia.

 

About HIMSS Asia Pacific Governing Council

HIMSS Asia Pacific Governing Council is a dedicated and committed group of industry experts to drive the industry forward through the use of healthcare information technologies and management systems. In addition, the Council will provide advice and content expertise for HIMSS in the region. The Council will help focus efforts in Asia Pacific on our worldwide goal of transforming healthcare through IT. The Council is comprised of representatives from the different countries, regions, constituencies and skills relevant to HIMSS Asia Pacific. Selections will therefore be made both on the basis of individual qualifications as well as of the general balances sought.

 
             
 

NOMINATION GUIDELINES

For each nomination, the following are requested:

1) A letter from the individual who is submitting the nomination, detailing his/her reasons for the nomination and describing his/her potential contributions to the Governing Council and to HIMSS

2) A current CV or short biography of the nominee

3) Information about memberships, affiliations,volunteer activities etc. in the field of eHealth and other relevant fields. This information can be provided in the letter, in the CV, or on a separate sheet.

4) Proof of HIMSS membership (ie your member number)

   

Nominations should be directed, no later than 15 May 2017, to:

Please send your submission in word or PDF formatelectronically to Maureen Gallagher atmgallagher@himss.org.

   
             

coba accordion

heading 1

heading 2

heading 3

heading 4

heading 5
heading 6

 

Diskusi

“Forum diskusi ini terbuka bagi siapa saja yang akan menyampaikan pemikiran, pertanyaan dan komentar tentang mutu pelayanan kesehatan. Terimakasih”

 

Knowledge Management dan Community of Practice

Knowledge management merupakan sebuah disiplin yang mendorong penggunaan secara komprehensif dalam melakukan identifikasi, menangkap masalah, melakukan evaluasi, mengambil kembali dan berbagi semua informasi kelembagaaan untuk meningkatkan kinerja lembaga tersebut. Menurut (Alvesson dan Karreman, 2001; Malhotra, 2000; Prusak, 2001) ada beberapa pendekatan untuk knowledge management, namun pada tujuannya adalah pemanfaatan yang efektif akan informasi dan pengetahuan di lembaga tersebut terutama untuk tingkat keterampilan dan pengetahuan tenaga kerja atau SDM sehibgga nantinya berwujud pada peningkatan kinerja.

Salah satu bagian dari knowledge management adalah dengan mengembangkan Community of practice (CoP). Secara garis besar definisi Community of Practice ini adalah sebuah komunitas yang berisikan sekelompok orang yang memiliki profesi sama berbagi pengetahuan tentang topik tertentu yang spesifik. Menurut Eitenne Wenger definisi CoP yaitu sekelompok orang sama profesi yang peduli dengan sesuatu topik atau masalah untuk menjadi bahan belajar dan diskusi rutin sehingga menjadi lebih baik lagi. Peserta CoP adalah masyarakat praktisi berdasarkan ahlinya, seseorang yang nantinya akan menjadi anggota paling tidak mempunyai pengalaman dalam melakukan prkatek dibidangnya.

cop2

cop1

Dari grafik diatas menggambarkan ciri khas dari CoP yaitu peserta yang terlibat jumlahnya sedikit dengan tingkat pengetahuan dan aplikasi ilmu yang tinggi untuk lembaga, serta ketertarikan tinggi dengan topik khusus. Cakupan masyarakat praktisi dibedakan menjadi dua yaitu scope masyarakat praktisi yang berada dalam lembaga dan berada diluar lembaga (antar lembaga).

cop2

A simplified graphic representation of the conceptual framework for assessing communities of practice in health policy.
(Bertone et al. Health Research Policy and Systems 2013 11:39)

Dalam hal ini CoP sebagai modal suatu lembaga untuk mengatur sumber daya manusia. Dengan tujuan meningkatnya ilmu pengetahuan, membangun relasi serta membuat keputusan kebijakan dari waktu ke waktu. Strategi untuk membuat sebuah CoP ini berkembang yaitu harus menetapkan definisi dari tujuan CoP, menetukan siapa saja praktisi yang tergabung di dalamnya, menetapkan sumber daya yang membantu menangani kegiatan CoP itu sendiri. Sumber daya bisa berupa tenaga kerja, pendanaan dan teknologi informasi yang digunakan. Serta menentukan bagaimana sistem CoP yang akan dilangsungkan.

Divisi Mutu PKMK FK UGM sebagai salah satu institusi yang menjadi fasilitator pengembangan dan penerapan sistem manajemen mutu didalam pelayanan kesehatan mengambil inisitatif untuk mulai mengembangakan masyarakat praktisi (CoP) dalam bidang mutu layanan kesehatan dengan Visi dan Misi sebagai berikut:

Visi

Masyarakat Praktisi Dalam Bidang Mutu Pelayanan Kesehatan PKMK FK UGM bertekad untuk menjadi media pembelajaran dan berbagi pengalaman dalam pengembangan dan penerapan sistem manajemen mutu pelayanan kesehatan di Indonesia

Misi

  1. Menyediakan berbagai sumber pembelajaran dalam bidang mutu pelayanan kesehatan
  2. Menyelenggarakan berbagai media diskusi dan berbagi pengalaman
  3. Menyelenggarakan berbagai media pelatihan dan peningkatan kompetensi

Masyarakat praktisi (CoP) yang dikembangkan oleh Divisi Mutu PKMK UGM adalah sebagai berikut:  

Community of Practice Pengelola
Akreditasi Rumah Sakit Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS. FISQua
Akreditasi Puskesmas Nusky Syaukani, S.Sos, MPH
Manajemen Mutu Keperawatan Eva Tirtabayu Hasri, MPH
Manual Rujukan KIA Andriani Yulianti, MPH
Anti Fraud Layanan Kesehatan Drg. Puti Aulia Rahma, MPH, CFE
Cost of Quality Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lucia Evi I, SE, MPH

Tujuan dari Community of Practice ini adalah menyediakan cara bagi para praktisi untuk berbagi ilmu, tips, saran dan pengalaman-pengalaman terbaik. Bertanya ke rekan sejawat atau seprofesi serta mendukung satu sama lainnya.

Seiring dengan kemajuan teknologi, semakin memudahkan masyarakat untuk mengakses berbagai macam hal melalui internet. Selain itu alat komunikasi telepon genggam yang kita gunakan pun semakin canggih. Software yang digunakan sebagai alat komunikasi sudah semakin banyak, ada yang berbayar dan ada yang gratis. Dengan demikian, untuk memudahkan terlaksananya kegiatan Community of practice, maka terdapat 4 teknis pelaksanaan adalah sebagai berikut :

  1. Tatap Muka langsung
    Tentatif untuk waktu dan tempat. Kegiatan tatap muka ini dalam bentuk pelatihan atau diskusi yang topiknya sesuai dengan yang telah ditentukan
  2. Webinar
    Menggunakan konsultan dua kali sebulan membahas satu topik yang saat ini sedang menjadi trend dikalangan praktisi.
  3. Diskusi Group Via WhatsApp’
    Diskusi dengan menggunakan aplikasi handphone WhatsApp yang dibuat dalam sebuah group, dimana dalam group tersebut bisa dilakukan diskusi setiap saat.

  REFERENSI


  KONTAK KAMI
 

Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, keluhan dapat disampaikan melalui fitur Comment yang tersedia atau dapat melalui email mutuyankes@gmail.com 

 

Hubungi Kami

home Gd. Litbang Lt, 1 PKMK FK-KMK UGM
Jl. Medika, Sendowo, Sinduadi, Mlati, Sleman
Yogyakarta 55281
email

Email   : mutuyankes@gmail.com
Twitter : @mutuyankes
Fanpage FB : Indonesian Healthcare Quality Network

telpon    

Telp     : (0274) 549425