Medan, (Analisa.com). Selama 2012, baru ditemukan 64,6 persen warga yang positif mengidap TB atau 103.000 jiwa dari estimasi 160.000 orang. Walaupun estimasinya banyak, tapi jika tidak ditanggulangi, maka kasusnya akan berlipat ganda. Soalnya, kuman TB dapat menular melalui udara.
Untuk itu, penanggulangan TB perlu mendapatkan perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah daerah. Karena banyak penderita, seperti pemulung dan nelayan yang tidak mendapatkan pengobatan karena tidak memiliki dana dan tidak memiliki identitas sehingga terluput masuk dalam peserta Jamkesmas.
Executive Director of Jaminan Kesejahteraan Masyarakat (JKM) Delyuzar mengatakan, untuk menanggulangi permasalahan ini, mereka akan menjemput bola kepada penderita TB.
Dalam pelaksanaan program ini, JKM dibantu oleh United States Agency for International Development (USAID) dengan anggaran dana USD 3,77 juta selama lima tahun untuk penanggulangan TB di wilayah Jakarta, Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
“Dana ini dibagi untuk penanggulangan TB di tiga wilayah secara merata sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya dalam Workshop Membangun Komitmen Bersama dalam Penanggulangan TB, “Program Community Empowerment of People Against Tubercolusis (CEPAT) Indonesia” di Hotel Garuda Plaza, Senin (14/1).
Menurut Delyuzar, TB merupakan salah satu dari 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian. Di Sumut, TB menduduki peringkat ke-empat. Dengan cara menjemput bola ke wilayah pinggiran, pengentasan penyakit TB bisa mencapai target dan prevelansinya bisa menurun dengan baik.
Pinggiran
“Melalui program ini, daerah pinggiran yang sulit terjangkau Dinas Kesehatan (Dinkes) bisa dijangkau. Penderita TB yang tidak memiliki KTP dan biaya, bisa mendapatkan perawatan agar penyebaran penyakit ini bisa dikurangi,” tuturnya.
JKM bekerjasama dengan Dinkes untuk mendapatkan rumah sakit dan puskesmas rujukan, sehingga dana pengobatan juga bisa ditanggung pemerintah. Sedangkan USAID melalui JKM membantu untuk dana transportasi dan perawatan.
JKM juga meminta agar pemerintah daerah juga mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk TB. Karena selama ini, dana yang dianggarkan untuk penanggulangan TB kecil, dan hanya tergantung pada dana luar negeri.
Konsul Amerika Serikat Medan Kathryn T Crockart menyatakan, pemerintah mereka mendukung program ini. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat diperlukan untuk mensukseskan program CEPAT. Karena ini merupakan tantangan global. Program ini diharapkan menyentuh masyarakat pinggiran yang tidak pernah tersentuh jaminan kesehatan.
Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinkes Sumut Sukarni mengungkapkan, pada 2013 diusulkan anggaran Rp350 juta untuk penanggulangan TB. Jumlah ini naik dari tahun 2012 yang hanya Rp300 juta. Diakuinya, anggaran ini sangat kecil dan belum bisa menanggulangi penyakit TB di Sumut. Diperkirakan untuk satu kasus, dibutuhkan dana Rp600 ribu per tahun dalam pengobatan.
Selama ini, katanya, untuk menutupi kekurangan dana, bantuan dari Global Fund sebesar Rp6 miliar per tahun sangat membantu. (rel/nai)