Surabaya (suarasurabaya.net) – Pada suatu kesempatan dua tahun silam, dr. Imam Soewono, SpPD ketika itu sebagai Ketua Surabaya Health Season, menyebutkan perwujudan dari cita-cita Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Jawa Timur salah satunya membangun citra rumah sakit di Indonesia menuju Health and Medical Tourism.

Bertolak pada keyakinan akan kemampuan rumah sakit di Indonesia, khususnya Surabaya dalam memberikan pelayanan yang bermutu dan profesional, serta memuaskan sesuai harapan masyarakat. Seluruh elemen PERSI Jawa Timur pun berbenah, menata diri dan membSurabaya (suarasurabaya.net) – Pada suatu kesempatan dua tahun silam, dr. Imam Soewono, SpPD ketika itu sebaguat programprogram berkesinambungan untuk mewujudkan citacita tersebut.


Wacana health and medical tourism kian menyeruak, mewarnai setiap langkah dan perkembangan dunia medis di Kota Surabaya, khususnya. Layanan profesional pada tiap rumah sakit tidak sebatas bidang medis, kini ditambah dengan nilai non medis. Harapan idealnya, mewujudkan rumah sakit yang baik sesuai dengan harapan masyarakat nasional maupun internasional.

Dalam tulisan Khas Surabaya edisi ini, Surabaya City Guide coba hadirkan enam rumah sakit di Surabaya dengan kekhasannya, dan masih terkait dengan wacana health and medical tourism. Kekhasan masing-masing ternyata mampu memberi nilai tambah bagi layanan rumah sakit, termasuk dalam memikat kepercayaan masyarakat. Kekhasan masing-masing juga telah membangun pemahaman baru tentang arti pelayanan rumah sakit di jaman modern.

1. RS. MATA SURABAYA, Warisan Green Hospital

Soerabaiasche Oogheelkundige Kliniek adalah awal lahirnya Rumah Sakit Mata Surabaya, seperti yang ada sekarang.

Mulanya klinik ini berangkat dari gerakan dokter-dokter Belanda yang tersentuh nuraninya, karena wabah penyakit mata Trachoma. Penyakit yang sifatnya menular cepat dan menyebabkan kebutaan.

Tahun 1915, relawan dari lembaga kesehatan milik Belanda, Officier Van Gezondheid, Dr. Steiner, tersentuh melihat banyak rakyat pribumi yang menderita penyakit mata. Sehingga rumah pribadi dokter perwira di jalan Genteng Kali, dijadikan tempat penampungan dan pengobatan penyakit mata bagi pribumi.

Dalam perjalanan, penderita penyakit mata kian banyak. Waktu terus berlalu, hingga perjuangan tiada henti para dokter ini sukses menghasilkan ijin dan status dari pemerintah Belanda. Yaitu ditandai dengan berdirinya Vereeniging (Perhimpunan) bernama “De Soerabaiasche Oogheelkundige Kliniek.”

Pada mula pembangunan gedungnya, setelah sebelumnya menyewa bangunan Panti Wreda, bernama Thay Thong Bong Yan, di jalan Oendaan 36. Pada tahun 1932, tepat di sebelah kirinya dibangun gedung klinik yang kemudian menjadi Rumah Sakit Mata Surabaya. Dengan luas bangunan sekira 2.400 –an M2, dari luas lahan keseluruhan 7.009 M2. Sisa lahan dipakai untuk ruang terbuka dan penghijauan. (Sumber: 75 tahun Rumah Sakit Mata Undaan, 1933- 2008)

Gedung yang dirancang oleh Biro Bangunan Kerajaan Belanda, dulu dikenal A.I.A itu, memiliki ruangan berukuran besar dan tinggi. Sehingga suasana di dalam ruangan hawanya terasa sejuk. Material bangunan yang digunakan juga bahan pilihan. Sekalipun tahun depan usianya genap berusia 80 tahun, namun kondisinya tetap kokoh. Gedung yang berdiri kokoh di sudut Jl. Undaan Kulon 19 itu, diresmikan oleh Dr. A. Deutman.

Tanaman Langka
Sejak awal, di tengah komplek Rumah Sakit Mata terdapat tanah lapang, semacam halaman, yang ditumbuhi rumput dibiarkan terbuka. Pada akhir tahun 1950 –an, kebun dan lapangan rumput diubah menjadi hutan kecil yang sejuk dan rindang. Di beberapa titik ditanami pohon besar. Bahkan beberapa di antaranya adalah jenis tanaman yang langka keberadaannya di Surabaya. Sebut saja tanaman Kepundung, Jambu Mawar, Walisongo, dan Rosamala. Selain itu juga ada pohon Matoa, Asem, dan Mangga.

“Warisan dari jaman Belanda ini tetap kita pertahankan, walaupun penambahan fasilitas modern terus dilakukan,” papar Herminiati. HB, dr. MARS, direktur Rumah Sakit Mata Surabaya. Menurut Herminiati, bila kini Green Hospital menjadi kampanye rumah sakit dalam skala global. Di RS. Mata Undaan sudah diwarisi unsur-unsur green hospital sejak awal berdirinya. Termasuk mewarisi visi dan misi ideal para pendirinya, yaitu melayani semua golongan masyarakat.

2. RS. PREMIER, Resort Hospital

Lingkungan rumah sakit yang asri, tenang dan hijau atau yang dikenal dengan konsep green hospital membuat suasana RS Premier serasa resort.

Konsep inilah yang sedang dikembangkan Rumah Sakit Premier Surabaya yang berdiri dan mulai beroperasi secara resmi pada tanggal 16 Maret 1998, dibawah manajemen Ramsay Health Care Indonesia. Bertempat di lokasi yang aman, nyaman dan tenang di dalam sebuah perumahan di wilayah Surabaya Timur, Rumah Sakit Premier memiliki lahan terbuka cukup luas, yaitu 6 ribu meter persegi, dari luas keseluruhan 17 ribu meter persegi.

Hartono Tanto, Chief Executive Officer RS Premier menjelaskan, dengan suasana di tengah pemukiman didukung oleh suasananya yang mirip hotel, membuat RS Premier berbeda dengan rumah sakit pada umumnya.

“Bahkan ada mantan pasien kami yang menyebut rumah sakit kami sebagai resort hospital, karena suasananya nyaman, dan tidak seperti di rumah sakit,” kata Hartono. Sebagai contoh, bagian depan untuk menerima pasien, mirip seperti lobby hotel, tempat tunggu pasien juga tertata rapi, ruangannya bersih, karyawannya mengenakan seragam, dan dilengkapi dasi untuk karyawan pria. Penataan bangunan yang tidak lebih dari dua tingkat, kamar pasiennya.

Lahan yang diperuntukan untuk tanaman, sebagaimana konsep yang telah dikembangkan sejak awal pembangunan rumah sakit ini.” Dengan lahan terbuka yang masih luas, kami lebih memilih untuk memperluas taman daripada pemanfaatan ruang untuk pembangunan gedung, karena kami menyadari kebutuhan orang sakit yang butuh menghirup udara segar dan menatap hijaunya dedaunan,” jelas Hartono.

Untuk bisa melegakan mata dan menyejukkan hati, di halaman depan banyak ditanam pohon palem dan ketapang, yang membuat suasana depan rumah sakit ini terasa teduh. Di dalam rumah sakit, tepatnya di koridor bawah misalnya, ada lahan khusus taman, hanya dibatasi kaca bening agar para pasien bisa melihat hamparan tanaman bunga dan rumput.

“Kami diuntungkan dengan lokasi yang dekat pemukiman dan tidak di pusat kota, karena kami bisa menciptakan suasana di rumah sakit ini lebih asri,” tutur Hartono.

3. RS. BEDAH SURABAYA, Travel Health

Rumah Sakit Bedah Surabaya terletak di Jl. Raya Manyar no 9 Surabaya, didirikan oleh sebagian besar dokter spesialis bedah yang tergabung dalam IKABI (Ikatan Ahli Bedah Indonesia) bersama partner swasta yang telah bergerak di bidang sosial.

Pada tanggal 20 Desember 2010 Rumah Sakit Bedah Surabaya melakukan soft opening dan mulai melayani pasien. Tak mau kalah dengan rumah sakit luar negeri yang memberikan layanan antar jemput di bandara, RS Bedah Surabaya memberikan layanan one stop treatment untuk membantu mempermudah pasien luar kota yang hendak datang bertobat, selama di rumah sakit dan saat pulang.

Direktur Utama RS Bedah, dr. Widorini Sunaryo,MARS mengatakan, kenyamanan pasien menjadi perhatian yang sangat penting. “Dengan menjadikan pasien RS. Bedah Surabaya nyaman, maka proses penyembuhan akan berlangsung optimal,” jelas Widorini.

Salah satu fasilitas yang disediakan untuk membantu memudahkan pasien adalah, adanya kendaraan ambulance yang dapat melakukan penjemputan dan pengantaran pulang ketika dibutuhkan pasien. “Dimanapun pasien berada, di luar kota, sampai luar pulau, kami siap melakukan penjemputan, karena dalam travel health ini kami juga mempersiapkan evakuasi pasien luar pulau dengan menggunakan pesawat terbang dan didampingi oleh tim dari RS Bedah Surabaya.” tuturnya. Widorini juga menambahkan, fasilitas lainnya, juga diberikan kepada keluarga pasien. Agar tidak jenuh dan ingin jalan-jalan mengenal Surabaya, pihaknya siap mengantar ke Suramadu, ke Pasar Atom, dan tempat wisata lainnya.

Dengan adanya fasilitas ini, RS bedah mampu bersaing dengan rumah sakit dari luar negeri. Karena menurutnya, sampai sekarang rumah sakit di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia masih merupakan pilihan nomor satu bagi pasien mampu yang membutuhkan penanganan pembedahan. Tanpa menghiraukan biaya yang relatif mahal, pasien lebih percaya bahwa rumah sakit di luar negeri mampu memberi pelayanan yang lebih baik. “Padahal banyak rumah sakit di Indonesia, mampu memberikan pelayanan yang baik sehingga masyarakat tidak perlu jauh jauh berobat ke luar negeri,” tegas Widorini.

4. RS. ONKOLOGI SURABAYA, Boutique Hospital

Setiap organ tubuh dan penyakit membutuhkan kekhususan dalam penanganannya. Di era masa kini, kehadiran Organ Oriented Hospital tidak mungkin dielakkan lagi.

Berangkat dari kesadaran inilah kehadiran Rumah Sakit Onkologi Surabaya (RSOS). Hingga kini mendapat kepercayaan, berdasar data, sebagai rumah sakit paling banyak mendapat kepercayaan untuk menangani penyakit kanker di Indonesia. Resmi berdiri sejak enam tahun silam, RS Onkologi Surabaya hadir, dengan membawa konsep baru: Rumah Sakit Khusus yang efisien. Kemajuan teknologi membawa harapan baru bagi penderita kanker, disisi lain penanganan kanker menjadi semakin kompleks. Kini, penanganan penyakit kanker diperlukan kekhususan pada setiap tindakannya. Khusus dalam keilmuan, khusus dalam keterampilan, pemilihan teknologi, khusus pula dalam pendekatan pada pasien dan keluarga.

RSOS hadir dengan sasaran menjadi one stop solution bagi penanganan kanker. Penyakit kanker mempunyai beberapa keunikan. Kesempatan sembuh terbesar pasien kanker terletak pada ketepatan tindakan pertama. “Ketepatan tindakan pada penanganan pertama adalah hal yang tidak dapat ditawar,” jelas dr. Ario Djatmiko (Surgeon), konsultan senior RSOS.

Penanganan kanker tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua dokter. Untuk menentukan diagnosa dan tindakan yang akurat, dibutuhkan kerja-sama tim dokter ahli dari berbagai bidang keahlian yang mempunyai reputasi terbaik. Harus ditunjang dengan peralatan yang tepat dan terkalibrasi baik dan proporsional. Penanganan kanker harus menggunakan prosedur-prosedur standar internasional yang sudah terbukti benar. Kemudian yang tak kalah penting adalah harus ada rekam medis (medical record). Beban psikis penderita kanker amat berbeda.

Disamping penanganan medis yang tepat, penderita kanker membutuhkan teman berbagi. “RSOS yang semula merupakan Klinik Onkologi Surabaya, untuk mendukung keberhasilan penangnan terhadap penderita kanker. Pada tahun 2006 berubah menjadi Rumah Sakit Onkologi Surabaya,” papar dr. Siti Sundari Manoppo, direktur RSOS. Seluruh sarana penunjang pun didesain untuk mendukung performa rumah sakit.

Dengan desain arsitektur rumah sakit yang modern minimalis, suasana dalam ruang yang terkesan hangat. Sungguh menjauhkan kesan sebuah rumah sakit bagi siapapun yang datang. Tidak salah, bila sebutan sebagai Boutique Hospital dilekatkan pada rumah sakit yang berada di kawasan komplek Araya Galaxy Bumi Permai ini. Untuk informasi, pembaca SCG dapat mengunjungi www.rsonkologi.com.

5. RS. DARMO, Heritage Hospital

Mengunjungi Rumah Sakit Darmo, terasa bukan karena derita, tapi seperti hendak rekreasi belaka.

Bangunan rumah sakit ini lebih terasa seperti rumah tua dengan sederet nostalgia. Dus, dari sisi cerita melangutkan kenangan, dari segi fisik terasa menyejukkan.

Tentu tak mengherankan bila terbangun kesan seperti itu. Di usianya ke-91, RS Darmo tetap pada kondisinya yang mengagumkan. Bangunan arsitektur heritagenya tetap terjaga, taman dengan tetumbuhan hijaunya tetap asri dan melegakan.

Tak heran pula bila pada April 2010 lalu, rumah sakit yang dibangun pada 1919 ini menjadi salah satu wakil Indonesia dari Jawa Timur ke seleksi internasional dalam ajang 2010 Unesco Asia Pasific Heritage Awards for Cultural Heritage Conservation di Bangkok.

“Mempertahankan rumah sakit sebagai cagar budaya memerlukan improvisasi untuk terus menjaga tingkat hunian dan menembus pasar internasional,” tandas Laksma TNI (Purn) Imam Soewono, dr., SpPD, Direktur RS Darmo.

Cagar Budaya
Rumah Sakit Darmo didirikan oleh sekelompok orang Belanda yang dipimpin HJ. Offerhaus pada 9 Juni 1897 dan bernama “Soerabajasche Zieken Verpleging”. Permulaan 1898 didirikan sebuah Klinik di Jl. Ngemplak Surabaya yang dipimpin oleh Zr. Bonnekamp. Klinik itu kemudian menjadi Hotel Ngemplak dan kini sebagai Asrama Brimob Ngemplak.

Singkat cerita, pada 1921, Perkumpulan “Soerabajasche Zieken Verpleging” (SZV) membeli sebidang tanah di Jl. Raya Darmo 90 Surabaya. Lalu pada 15 Januari 1921 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan RS Darmo oleh Mejuffr G. Hempenius (Directrice SZV). Pembangunannya diarsiteki Mr Cornelis Citroen yang terkenal pada waktu itu.

Kemudian sejak 1994, RS Darmo mengganti perkumpulan Darmo menjadi Yayasan RS Darmo. Bagi warga Kota Surabaya, gedung tua ini memiliki nilai sejarah tinggi. Karena di depan gedung inilah pertempuran antara tentara sekutu dan pejuang Arekarek Suroboyo mulai meletus (27 Oktober 1945). Selanjutnya api pertempuran terus berkobar sampai peristiwa heroik 10 November 1945.

Keunikan rumah sakit yang punya semboyan Salus Aegroti Suprema Lex Est (menyelamatkan penderita merupakan kewajiban utama) ini terlihat pada bentuk bangunan dengan genteng yang unik, serta banyaknya jendela di sekitar genteng.

Selain itu gaya arsitektur yang melekat pada gedung ini lebih pada gaya rasjonajjsme, dengan perisai dan domer yang unik.Karena usia, nilai sejarah, dan kekhasan bangunan arsitektur kolonial itulah, RS Darmo menjadi rumah sakit cagar budaya kelas A, karena tetap terawat hingga kini. Selebihnya, bangunan berarsitektur Belanda yang juga banyak ditemukan di sejumlah kota di negeri Kincir Angin, seperti Scheveningen, Delt, Madurodam, Den Haag, Amsterdam, serta Kota Leiden itu, perlu dilestarikan.

6. RS. ADI HUSADA, Community Hospital

Tindakan terbaik terhadap kesehatan adalah preventif, bukan pengobatan. RS Adi Husada Undaan Wetan senantiasa mendesakkan hal ini di tiap kesempatan.

Bila berkesempatan berjalan-jalan Sabtu pagi di seputaran Masjid M Cheng Hoo, Anda akan menyaksikan puluhan orang berduyun menuju lapangan masjid tersebut. Mereka adalah orang-orang yang hendak senam diabetes. Mereka bukan hanya penyandang sakit diabetes, tapi juga orang-orang yang ingin menjaga kebugaran dan stabilitas tubuhnya dari serangan gula mematikan.

Kegiatan senam diabetes setiap Sabtu pagi itu merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan. Kegiatan seperti itu boleh jadi banyak juga dilakukan oleh rumah sakit atau komunitas di Surabaya. Tapi senam diabetes yang diadakan oleh RS Adi Husada Undaan Wetan, bisa dibilang paling eksis dan terkelola dengan baik.

Hal itu terbukti dari adanya program yang disebut dengan Diabetes Member Club Adi Husada (DMC-AH), yang dibentuk sejak Agustus 2004. Dengan metode member ini, RS Adi Husada makin peduli dengan menyediakan beragam program dan kegiatan yang ditujukan bagi kesehatan para anggotanya yang kini mencapai 500 orang.

dr. Edhy Listiyo, MARS, QIA, CEO RS Adi Husada Undaan Wetan, mengatakan RS Adi Husada ingin menerapkan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat secara serius. “Kita tak ingin menunjukkan kepedulian itu sebatas pada tindakan pengobatan saja. Menjaga kesehatan masyarakat sebelum terkena serangan sakit adalah lebih utama dengan upaya pengelolaan yang baik tentunya,” tegasnya.

Dengan program keanggotaan seperti ini, RS Adi Husada berharap setiap member dapat mengontrol dan melakukan perawatan secara mandiri. Untuk itu, tiap anggota dibekali dengan pengetahuan tentang apa itu diabetes mellitus (DM), dan bagaimana tata cara merawat diri agar terhindar dari serangan DM. Bagi mereka yang sudah terkena DM, juga dibangun kesadaran dan ketaatannya dalam minum obat dan waspada terhadap gaya hidup yang akan makin memicu serangan DM lebih parah.

Untuk itu, DMCAH rutin mengadakan seminar tentang diabetes setiap bulannya. Juga mengadakan demo tentang gizi bagi penderita DM, senam dan perawatan kaki. Secara periodik, organisasi ini juga mengadakan wisata sambil melakukan pemantauan diabetes anggotanya.

Selain komunitas DMC-AH, juga ada komunitas Stroke yang memiliki kegiatan serupa secara periodik. Anggotanya mencapai 100 orang yang aktif. Kegiatan yang menyasar terbentuknya komunitas ini merupakan wujud dari jargon RS Adi Husada “Hospital without Wall.”

Laporan AZ. Alim