Lensaindonesia.com : Sekitar 80 persen angka kematian bayi di Jawa Tengah, disebabkan berat badan bayi rendah. Bukan gizi buruk, tetapi faktor kehamilan yang butuh perhatian sejak dini.


Bahkan Dinas Kesehatan Jawa Tengah memperkirakan, angka kematian bayi bisa terus meningkat dari tahun kemarin. Berdasar catatan di tahun 2012, angkanya mencapai 695 bayi. Sedang hingga Juli tahun ini sudah mencapai 350 bayi meninggal.

Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Anung Sugihantono menjelaskan, angka itu disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain ukuran berat badan bayi tidak sesuai usia kehamilan. Ada pula penyakit lain yang sudah ada sejak bayi dalam kandungan atau sejak lahir.

“Faktor klinik ini yang memungkinkan terjadinya kematian bayi. Ada juga faktor-faktor lain yang dimungkinkan terjadi pada kematian bayi dari faktor eksternal,” ucap Anung Sugihantono, di Gedung Wanita Semarang, Jum’at (30/8/2013).

Anung menambahkan, beberapa faktor ekternal yang kerap kali muncul diluar perkiraan secara klinik dan medis, terjadi pada sektor pelayanan. Diduga, aspek tingginya kematian bayi itu dominasi jeleknya pelayanan bidan.

“Bukan berati tidak ada dokter untuk mengatasi permasalahan tersebut. Bisa saja pelayanan bidan tidak dilakukan secara lengkap seperti dokter. Iya terkadang bidan barangkali kurang mencatat apa-apa pelayanan secara klinik,” ujarnya.

Untuk itu, upaya penurunan angka kematian bayi dapat dilakukan melalui peningkatan pelayanan kepada ibu hamil. Pasalnya, penyebab kematian bayi dimungkinkan terjadi pada aspek kualitas pelayanan ibu hamil maupun saat melahirkan.

Karenanya kualitas pelayanan di sejumlah Puskesman dan klinik kesehatan juga harus ditingkatkan. “Selain itu juga ada permasalahan pilar pembiayaan sarana dan prasarana yang menjamin. Meskipun pemerintah telah memberikan Jaminan Persalinan (Jampersal) namun tidak secara keseluruhan biaya klaim dapat memenuhi,” tutupnya.

Sumber : www.lensaindonesia.com

{module [153]}