Pontianak (okezone.com) – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Andy Jap mengakui saat ini Kalbar kekurangan 1.800 Dokter umum dan 100 dokter spesialis. Diakuinya, Kalbar hanya memiliki sekira 200 dokter spesialis dimana spesialis dasar hanya 180 orang, serta 600-700 dokter umum.
Andy mengatakan bahwa kondisi tersebut masih jauh dari standar karena seharusnya terdapat enam dokter spesialis perseratus ribu penduduk dan 40 dokter umum perseratus ribu penduduk.
”Berarti Kalbar masih kekurangan sekira 1.800 dokter umum dan seratusan dokter spesialis,” ungkap Andy kepada Okezone saat Open House merayakan Natal di kediamannya, Jumat (27/12/2013).
Menurutnya, pendistribusian dokter spesialis maupun umum di wilayahnya tidak merata. Dokter menumpuk di wilayah perkotaan, padahal daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan juga sangat memerlukannya.
”Dokter itu bertumpuk di Kota Pontianak, Singkawang, dan Mempawah. Di daerah hulu masih kurang,” ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa di Kalbar hanya terdapat 237 puskesmas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 91 unit melayani rawat inap. Setengah dari total puskesmas tersebut berada di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan. Selain puskesmas, Kalbar memiliki 39 rumah sakit dengan total tempat tidur mencapai 4 ribu unit. Dari total tempat tidur yang ada, sekira 2.400 unit merupakan kelas tiga. Sayangnya, fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada tersebut masih membutuhkan sumber daya manusia.
Andy mengungkapkan ketika berkunjung ke Kabupaten Kayong Utara, hanya ada 12 dokter umum yang melayani delapan puskesmas di sana. ”Ini sangat kurang,” sesalnya.
Dijelaskan lebih lanjut bahwa persoalan dokter umum ini telah disampaikan ke pemerintah pusat. Tetapi berdasarkan data yang ada di pusat, sebenarnya kekurangan dokter tidak banyak, hanya saja pendistribusiannya tidak merata. Berdasarkan regulasi saat ini, pemerintah pun tidak bisa memaksa dokter untuk bertugas di daerah seperti tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, Andy berharap kekosongan tenaga dokter bisa segera teratasi mengingat program JKN yang tinggal menunggu waktu
”Kekurangan tenaga dokter ini dikhawatirkan berpengaruh terhadap program Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan,” pungkas Andy. (ind)
Sumber : http://health.okezone.com/
{module [153]}