Okezone.com – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Andy Jap pada tanggal 27 Desember 2013 mengakui saat ini Kalbar kekurangan 1.800 dokter umum dan 100 dokter spesialis. Sekiranya ia mengatakan bahwa Kalbar memiliki 200 dokter spesialis, dan 180 orang spesialis dasar, serta 600-700 dokter umum.


Lantas, bagaimana tanggapan dari Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Dr. dr. Zaenal Abidin, Mkes, MHKes mengenai masalah tersebut?

Menanggapi hal itu, Dr Zaenal menuturkan bahwa hambatan selama ini sesungguhnya dalam hal penyebaran dokter.

“Seharusnya jaminan sosial itu bisa mendorong penyebaran dokter. Tetapi itu hanya bisa terjadi kalau misalnya kapitasinya cukup di layanan primer atau dana itu cukup untuk mereka (dokter),”ujar Dr. Zaenal kepada Okezone secara eksklusif di Kantor PB IDI, Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Lebih lanjut, Dr. Zaenal mencontohkan bahwa kalau kapitasinya tersebut cukup bisa membuat rayonisasi. Misalnya, Ketua PB IDI tersebut menjelaskan bahwa dalam 1 tempat praktik dokter bisa untuk 3.000 penduduk.

Selanjutnya, ia mengatakan kalau di dalam satu daerah sudah penuh dan tidak boleh menerima dokter, atau bahkan sebagian tidak ada tempatnya, maka harus ada kebijakan dari pemerintah. Misalnya dengan memindahkan dokter-dokter tersebut ke daerah terdekat, tetapi menurut Dr. Zaenal para dokter mungkin akan senang pindah kalau di tempat baru mereka bisa hidup atau kapitasinya cukup.

“Misalnya di daerah mendapat kapitasi cukup sehingga bisa membuka tempat praktik sendiri, dan kemudian diberi insentif bahwa kalau keluar kota ada tambahan penghasilan dibandingkan berdesak-desakan di pusat kota. Misalnya, saya rela saja pergi ke Kalimantan, tetapi kan harus ada yang lebih saya dapat di sana. Kalau itu bisa diwujudkan, pasti dokter ke sana, jadi itu harus bisa diciptakan ke depannya,”tutupnya. (ind)

Sumber : http://health.okezone.com/read/2014

{module [153]}