INILAHCOM, Jakarta – Kementrian Kesehatan membantah membayar rendah klaim pengobatan rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS. Sebaliknya Kemenkes menyebut ada beberapa rumah sakit yang justru mengalami keuntungan dari sistem pembayaran yang menganut tarif INA-CBG’S tersebut.
Namun ada beberapa rumah sakit mengalami defisit atau kerugian karena jumlah klaim biaya pengobatan mereka lebih tinggi daripada yang pemerintah bayarkan.
INA-CBG’s adalah sistem casemix yang berlaku di Indonesia dan menggunakan tarif paket, termasuk seluruh komponen buat rumah sakit. Sistem pembayaran tesebut menggantikan sistem pembayara klaim ke rumah sakit sebelumnya: fee for service.
“Ada isu yang berkembang kalau JKN membayar rendah klaim pengobatan yang diajuka rumah sakit. Kami ajukan data bahwa beberapa rumah sakit mengalami surplus dengan sistem pembayaran INA CBG’s itu,” kata Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kemenkes, Akmal Taher di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (12/03/2014).
Sebagai gambaran, Akmal memperlihatkan perbandingan total klaim antara tarif INA-CBG’s dengan tarif rumah sakit pada pelayanan rawat inap periode 1-31 Januari 2014.
Dari data ke-13 rumah sakit yang semuanya adalah rumah sakit milik pemerintah itu, Akmal menyebut ada 9 rumah sakit yang mengalami keuntungan dan empat sisanya mengalami kerugian. Namun untuk rumah sakit yang mengalami kerugian Akmal enggan mengekspose.
Terbesar adalah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang mengalami keuntungan mencapai sekitar Rp9,04 miliar, jumlah klaimnya sebesar sekitar Rp21,049 miliar dibayarkan menurut tarif INA-CBG’ sebesar Rp30,055 miliar. Lalu RSJP Harapan Kita mengalami kelebihan sekitar Rp8,133 miliar, karena klaimnya sekitar Rp19,303 miliar mendapat penggantian JKN sebesar Rp27,436 miliar.
Rumah Sakit Umum Daerah Ulin, Banjarmasin mengalami kelebihan sebesar Rp2,720 miliar, RS Persahabatan mengalami kelebihan sebesar Rp2,241 miliar dan lainnya.
Sementara untuk pelayanan rawat jalan, Rumah Sakit Dharmais mengalami keuntungan sebesar Rp1,994 miliar, klaim yang ia ajukan sebesar Rp4,58 miliar mendapat penggantian sebesar Rp5,826 miliar dari JKN. Lalu rumah sakit Persahabatan mendapat keuntungan sebesar Rp1,978 miliar. Rumah sakit ini mendapat penggantian sebesar Rp3,151 miliar dari total biaya yang ia klaim sebesar Rp1,217 miliar.
Lalu RSUP Kariadi di Semarang mengalami keuntungan sebesar Rp1,863 miliar, jumlahnya klaimnya sebesar Rp3,821 miliar mendapat penggantian sebesar Rp5,684 miliar.
Sedangkan pada pelayanan jenis ini, rumah sakit yang mengalami kerugian sebanyak satu rumah sakit. [aji]
Sumber: http://gayahidup.inilah.com/read/detail/
{module [153]}