Kompas.com – Dokter keluarga pada fasilitas pelayanan kesehatan primer tidak hanya menangani aspek kuratif penyakit, tetapi juga preventif dan promotif. Oleh karena itu, kompetensi yang dibutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan medis.

Itu ditekankan Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga Indonesia Dhanasari V Trisna dalam Symposia and Workshop ”Public Health in Urban Setting” yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) dengan Dutch Foundation, di Jakarta, Selasa (15/4). ”Belum banyak yang memahami seperti apa dokter keluarga itu. Bahkan, dokter sekalipun,” kata Dhanasari.

Dokter keluarga adalah dokter yang bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan primer dengan kompetensi dan kualitas lebih bagus daripada dokter umum. ”Mereka praktik seperti biasa, tetapi kualitasnya lebih bagus,” ujar Dhanasari.

Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran, tidak ada istilah dokter keluarga, yang ada adalah dokter layanan primer setara spesialis. Demi memenuhi tuntutan mampu melakukan upaya pencegahan dan promosi kesehatan, dokter keluarga harus memiliki kompetensi khusus. Kemampuan itu, di antaranya memiliki kemampuan komunikasi, pemahaman budaya, dan pendekatan yang tepat kepada pasien.

Pada saat mendapati pasien gatal-gatal, seorang dokter keluarga sepatutnya tidak hanya mengobati penyakitnya. Namun, juga bertanggung jawab terhadap pencegahan penularan penyakit itu kepada lingkungan di sekitar pasien.

Selain itu, turut bertanggung jawab juga atas pencegahan agar pasien bersangkutan tidak terkena penyakit yang sama di kemudian hari. ”Kalau hanya mendiagnosis 155 penyakit, bisa dipelajari kapan saja. Tapi, agar mampu berkomunikasi dengan baik kepada pasien, diperlukan pendidikan komunikasi, psikologi, dan pemahaman budaya,” tutur Dhanasari.

Wienke Boerma, peneliti senior pada NIVEL, The Netherland Institute for Health Service Research, menuturkan, salah satu aspek yang memperkuat fasilitas pelayanan primer adalah keberadaan dokter
keluarga yang kompeten. Dokter keluarga yang berada pada pelayanan primer menjadi penyaring agar rujukan tidak sembarangan diberikan kepada pasien.

Ujung-ujungnya, mayoritas penyakit bisa diselesaikan pada tingkat primer. ”Fokus seorang dokter spesialis sangat khusus, sedangkan dokter keluarga melihat dengan lebih komprehensif,” kata Boerma.

Pendidikan khusus
Oleh karena kompetensi yang harus dimiliki seorang dokter keluarga lebih dari dokter umum biasa, mereka perlu menempuh pendidikan tersendiri.

Sejauh ini, hanya fakultas kedokteran berakreditasi A yang boleh menyelenggarakan pendidikan kedokteran keluarga. Setelah menempuh pendidikan sarjana dan magang satu tahun, seorang dokter bisa
melanjutkan ke program spesialis kedokteran keluarga yang ditempuh dalam waktu 2 tahun 6 bulan-3 tahun.

Menurut Dhanasari, ada kalangan yang menilai bahwa kompetensi yang dimiliki dokter keluarga hanya cuplikan dari banyak spesialis. Ada juga yang mengatakan, kompetensi seorang dokter keluarga bisa diperoleh dengan sendirinya melalui pengalaman. ”Itu tidak benar,” kata dia.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006104778

{module [153]}