Lokakarya Menulis Kreatif

Yogyakarta, 27-28 April 2014

 

art5mei6

“Menulis seperti membuat rumah”, ungkap Wahyu Dhyatmika pada hari kedua lokakarya komunikasi ” berbiduk kata-kejernihan adalah penyembuh”. Laki-laki dari pulau Dewata ini sharing knowledge tentang menulis efektif. Menulis layaknya membangun rumah, dimulai dengan pembuka, tubuh dan penutup.

Pembuka dalam paragraf berfungsi menarik dan mempertahankan minat pembaca. Minat pembaca dibangun oleh gagasan pokok paragraf yang menarik. Kadang-kadang, penulis sering tenggelam dalam lautan fakta sehingga tulisan menjadi tidak fokus. Fikiran penulis yang kompleks menghasilkan kalimat panjang dan beranak pinak. Akademisi mempunyai tendensi untuk menulis seperti itu. Maka di butuhkan outline sebagai alat bantu sebelum menulis.

Mengapa harus menulis efektif?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak didesign untuk mudah disentuh oleh narasi. Storytelling adalah metode efektif untuk menulis. Kisah storytelling selalu berbentuk kurva yang mempunyai irama menurun sampai ending. Narasi yang ideal selalu mempunyai ke lima komponen dibawah ini. Berikut gambar kurva narasi:

art5mei7

Penjelasan oleh Wahyu diperdalam kembali oleh Dodi Ambardi salah satu penulis setia Tempo. Lagu Tombo Ati menjadi pengantar sesi ke dua. “kaping telu wong kang sholeh kumpulono”, Dodi memaknai lagu Tombo Ati sebagai pesan, jika ingin menjadi penulis cemerlang maka harus berkumpul dengan penulis yang cemerlang.

Dodi membahas tulisan karya Paul Krugman berisi argumentasi atau building block tentang inequality matters. Paul beragumentasi dengan cara memaparkan data-data dari hasil penelitian yang mem-block situasi fakta di Amerika. Cara ini bisa digunakan oleh peneliti dalam mempengaruhi stakeholder untuk mencapai suatu kebijakan.

Di Indonesia, seringkali kebijakan hadir tanpa didasari penelitian yang berbasis pada realitas empirik dalam masyarakat. Akademisi dan pemerintah yang terlibat dalam proses pembuatan kebijakan biasanya hanya mengadopsi hasil-hasil kerja keilmuan dan teori-teori dari “luar” untuk dijadikan basis legitimas. Nampaknya kita cendrung mengabaikan kenyataan bahwa terdapat disparitas (ketimpangan kondisi) antara masyarakat kita dengan masyarakat “luar”.

Kehadiran Amarzan sebagai pembicara sesi ke tiga menambah semangat peserta lokakarya. Satu kalimat menarik dari Amarzan yang perlu diterapkan oleh penulis yaitu ” arti kata jauh lebih penting dari keindahan kata”.

Kita sering menjumpai judul tulisan dimedia masa yang mempunyai makna ganda, bahkan judul tidak sesuai dengan isinya. Media masa menggunakan cara ini untuk menarik minat pembaca. Apakah keindahan kata lebih penting dari keindahan kata? Sementara tulisan harus menyampaikan logika penulis. Hal ini tentunya menjadi gaya bahasa masing-masing media.

Gaya bahasa sangat personal, gaya tercapai dari sikap kebahasaan. Dari sikap kebahasaan dipilih diksi yang digunakan untuk mengayakan tulisan. Editor senior tempo ini memberikan pujian terhadap lirik lagu keroncong tahun 1955an, seperti syair berikut ” bulan sedang mengembang dalam angkasa biru, hatiku bimbang memikirkanmu”. Salah satu penggalan puisi Rinto harahap juga dijadikan contoh “wuh…wah”, tulisan seperti ini tidak direkomendasikan untuk menulis ilmiah maupun populer.

Sesi terakhir ditutup dengan klinik menulis. Peserta dibagi menjadi empat kelompok. Wakil dari PKMK FK UGM menjadi peserta kelompok satu yang dimentori oleh redaktur pelaksana Tempo, Wahyu Dhyatmika. Peserta diberi kesempatan berkeluh kesah tentang permasalahan menulis.

Menulis berarti menyampaikan logika penulis kepada pembaca. Menulislah secara efektif agar tulisan menjadi jernih, karena kejernihan adalah penyembuh.

Oleh: Eva Tirtabayu Hasri

  Materi Presentasi

 

{jcomments on}