
Workshop Penyusunan Clinical Pathway dan Perhitungan Cost of Care di RSUD Natuna dilakukan secara bertahap dalam 3 kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan tanggal 12 – 13 Agustus 2014. Pertemuan kedua pada 30 September – 1 Oktober 2014. Sedangkan pertemuan ketiga pada 21 – 22 Oktober 2014.
Pada pertemuan pertama, peserta dibekali peran clinical pathway dalam SJSN bidang kesehatan dan konsep clinical pathway. Pada sesi pertama, dr. Hanevi Djasri, MARS, memaparkan pentingnya clinical pathway sebagai alat kendali mutu dan biaya dalam pemberian layanan kesehatan di era JKN. Pada sesi ini Hanevi juga menyampaikan konsep penyusunan clinical pathway mulai dari pengertian, tujuan penyusunan clinical pathway, hingga empat elemen penting yang harus ada dalam clinical pathway.
Pada sesi berikutnya peserta diajarkan tahapan-tahapan penyusunan clinical pathway. Sesi ini diisi oleh drg. Puti Aulia Rahma, MPH. Pada sesi ini peserta dipandu untuk menyusun 5 clinical pathway dengan topik BBLR dengan berat 1000 gram, Krisis Hipertensi, Laparatomi App Perforasi, SC Cito, dan Sepsis. Setelah tiap tahapan penyusunan dilalui, peserta diminta untuk mempresentasikan masing-masing topik clinical pathway. Clinical pathway yang dipaparkan kemudian diberi masukan oleh narasumber. Setelah pertemuan pertama berakhir, peserta diminta untuk melakukan uji coba clinical pathway kepada minimal 10 orang pasien dan melakukan revisi dari clinical pathway yang telah disusun.
Pada pertemuan kedua peserta diminta untuk mempresentasikan hasil uji coba dan revisi clinical pathway. Clinical pathway dengan topik BBLR dengan berat 1000 gram diuji coba pada 6 kasus. Tingkat kepatuhan pada topik ini belum dihitung karena terlalu banyak variasi yang ditemui. Clincial pathway dengan topik Krisis Hipertensi diuji coba pada 6 pasien dengan tingkat kepatuhan 99,2%. Topik Laparatomi App Perforasi diuji coba pada 1 pasien dengan tingkat kepatuhan 91%. Topik SC Cito diuji coba pada 11 pasien dengan tingkat kepatuhan 98,98%. Sedangkan topik Sepsis diuji coba pada 7 pasien dengan tingkat kepatuhan 74,3%.
Setelah uji coba, tim penyusun juga menemukan beberapa topik yang kasusnya tidak terlalu banyak ditemui di RSUD seperti BBLR dengan berat 1000 gram dan Laparatomi App Perforasi. Padahal, salah satu syarat topik yang dipilih untuk clinical pathway adalah bersifat high cost, hogh risk, high volume, dan problem prone. Atas dasar itu, tim penyusun pun akhirnya sepakat untuk mengganti topik clinical pathway secara berturut-turut menjadi Respiratory Distress dan Appendiktomi. Setelah pertemuan kedua selesai, peserta diminta untuk menguji coba clinical pathway pada 30 pasien, melakukan review dan revisi kedua.
Pada pertemuan ketiga, dilakukan perhitungan cost of care dari topik-topik clinical pathway yang sudah 2 kali direvisi. Cost of care ini kemudian dibandingkan dengan tarif INA CBGs untuk masing-masing topik. Perbandingan bersifat simulasi untuk membandingkan antara tarif INA CBGs dan biaya ideal untuk pelayanan yang bermutu.