Narasumber : dr. Hanevi Djasri MARS, dr. Muhammad Hardhantyo PW, Armiatin SE, MPH
Kamis, 11 Desember 2014

Kegiatan pengembangan sistem dan pedoman rujukan layanan primer telah menghasilkan draf sistem rujukan layanan primer dan draf pedoman rujukan rujukan untuk empat penyakit spesifik. Berdasarkan draf sistem dan pedoman rujukan tersebut telah dilakukan kegiatan peningkatan kompetensi dokter umum dan uji coba sistem dan pedoman rujukan.
Untuk mendapatkan masukan perbaikan draf sistem dan pedoman rujukan tersebut maka pada hari Kamis, 11 Desember 2014 dilaksanakan pertemuan dalam bentuk Workshop untuk melakukan evaluasi pelaksaaan uji coba dan re audit. Kegiatan ini berlangsung di Puskesmas Sawah Besar Jakarta Pusat dan dihadiri oleh sekitar 40 orang perwakilan dari 44 Puskesmas dan Perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.
Workshop ini menghasilkan dokumen akhir (final) Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Primer dan Pedoman Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Primer bagi Provinsi DKI Jakarta dan menghasilkan beberapa laporan pelaksanaan kegiatan seperti laporan ujicoba sistem dan pedoman rujukan, laporan pelaksanaan audit mutu oleh Puskesmas dan adanya revisi sistem d an pedoman rujukan layanan Primer di Puskesmas.
Workshop ini dibuka oleh Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Unmul Khairi, yang menyampaikan harapannya agar peserta Workshop dapat memberikan masukan perbaikan dan dapat berperan serta dalam pelaksanaan sistem dan pedoman rujukan menjadi lebih baik. Hal senada juga disampaikan oleh dr. Hanevi Djasri, MARS yang mengharapkan agar 44 Puskemas secara terus menerus berinovasi memperbaiki Sistem dan Pedoman rujukan menjadi lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan Puskesmas. Kedepan diharapkan 44 Puskesmas tidak hanya memiliki pedoman untuk empat penyakit saja, namun Puskesmas dapat menambah dan menghasilkan pedoman-pedoman spesifik khusus penyakit yang lebih banyak lagi dan nantinya diharapkan mendapatkan payung hukum dan dibakukan dalam bentuk peraturan Kepala Dinas Kesehatan. Sedangkan sistem rujukannya diharapkan dapat dibakukan dalam bentuk peratura Gubernur DKI.
Analisa data hasil re-Audit di 44 Puskesmas Provinsi DKI Jakarta disampaikan oleh dr. M. Hardhantyo. Re-Audit diperlukan sebagai tahapan dalam siklus audit mutu rujukan puskesmas, dimana digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap intervensi yang dikerjakan. Berdasarkan hasil pertemuan tanggal 11 November 2014 di Hotel Puri Denpasar, disepakati bahwa puskesmas akan mencoba menggunakan sebuah form rujukan baru beserta guideline rujukan dari Pedoman Praktek Klinis dari IDI. Intervensi dilakukan selama 2 minggu pada periode 24 November hingga 7 desember 2014.
Pasca pelaksanaan intervensi selama 2 minggu, kemudian dilakukan re-audit terhadap seluruh pasien yang dirujuk pada periode tersebut, dengan ketentuan maksimal sebanyak 100 pasien per puskesmas. Total data sementara yang didapat adalah sebanyak 11 puskesmas mengumpulkan audit mutu rujukan sebanyak 850 pasien yang terbagi dalam
- Kasus Diabetes Melitus 105 (12,4%)
- Kasus Demam Dengue 9 (1,1%)
- Kasus PEB 11 (1,3%)
- Kasus Hipertensi Esensial 93 (10,9%)
- Kasus Lain (74,4%)
Berikut adalah gambaran hasil re-audit dibandingkan dengan audit sebelumnya
|
Kelengkapan Surat Rujukan |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Identitas Pasien |
96,1% |
0,0% |
3,9% |
100,0% |
0,0% |
0,0% |
|
Tanggal Merujuk |
93,0% |
0,0% |
7,0% |
99,9% |
0,0% |
0,1% |
|
Nama RS yang dtuju |
92,7% |
0,0% |
7,3% |
99,8% |
0,0% |
0,2% |
|
Poli / UGD yang dituju |
92,4% |
0,0% |
7,6% |
97,6% |
0,0% |
2,4% |
|
Hasil Anamnesa |
24,0% |
0,0% |
76,0% |
67,2% |
2,7% |
30,1% |
|
Diagnosa |
95,5% |
0,0% |
4,5% |
99,4% |
0,1% |
0,5% |
|
Hasil Pemeriksaan Fisik |
31,4% |
0,0% |
68,6% |
52,8% |
8,0% |
39,2% |
|
Pemeriksaan Laboratorium |
21,9% |
32,9% |
39,8% |
26,1% |
53,9% |
20,0% |
|
Terapi Sementara |
28,4% |
0,0% |
71,6% |
44,2% |
25,3% |
30,5% |
|
Tindakan yang telah diberikan |
24,3% |
1,5% |
74,6% |
33,6% |
28,8% |
37,6% |
|
Tanda tangan dokter yang merujuk |
92,7% |
0,0% |
7,3% |
99,9% |
0,0% |
0,1% |
Tabel 1. Kelengkapan Surat Rujukan
Tabel diatas menunjukkan bahwa pada awal penerapan audit mutu rujukan terkait kelengkapan komponen surat rujukan didapatkan ada 5 komponen kriteria yang berada dibawah standar mutu 80% yakni, hasil anamnesa yang tidak ditulis, pemeriksaan fisik, laboratorium jika ada, penulisan terapi sementara serta tindakan yang diberikan jika ada. Evaluasi yang dilakukan pada audit kedua ternyata didapatkan penurunan yang cukup besar dari kelima komponen tersebut, meskipun masih berada dibawah standar mutu 80% tetapi penerapannya sudah menjadi lebih baik, menurun tajam dibanding sebelumnya.
|
Mutu Rujukan PUSKESMAS |
Hasil Audit |
Hasil Re-Audit |
||
|
Sesuai Kriteria Merujuk |
Tidak Sesuai Kriteria & bukan perkecualian |
Sesuai Kriteria Merujuk |
Tidak Sesuai Kriteria & bukan perkecualian |
|
|
Puskesmas A |
74,5% |
25,5% |
93,7% |
6,3% |
|
Puskesmas B |
62,5% |
37,5% |
83,8% |
16,2% |
|
Puskesmas C |
76,2% |
23,8% |
88,2% |
11,8% |
|
Puskesmas D |
74,9% |
25,1% |
94,9% |
5,1% |
|
Puskesmas E |
72,1% |
27,9% |
100,0% |
0,0% |
|
Puskesmas F |
88,4% |
11,6% |
99,9% |
0,1% |
|
Puskesmas G |
76,6% |
23,4% |
86,5% |
13,5% |
|
Puskesmas H |
53,7% |
46,3% |
70,9% |
29,1% |
|
Puskesmas I |
78,2% |
21,8% |
77,2% |
22,8% |
|
Puskesmas J |
43,4% |
56,6% |
90,2% |
9,8% |
|
Puskesmas K |
97,4% |
2,6% |
99,7% |
0,3% |
Tabel 2. Ketepatan rujukan di masing-masing puskesmas
Tabel 2 menunjukkan kriteria ketepatan rujukan masing-masing puskesmas yang telah mengumpulkan data hasil re-audit, pada tabel hasil audit menunjukkan banyaknya ketidaksesuaian proses rujukan di 10 Puskesmas, seperti misalnya pada puskesmas H, data menunjukkan bahwa 46,3% pasien dirujuk tidak sesuai dengan kriteria rujukan, namun setelah adanya intervensi terjadi penurunan menjadi 29,1%, demikian pula dengan puskesmas lain, banyak rujukan yang kualitasnya meningkat.
|
Ketepatan Proses Rujukan |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Diagnosa diluar diagnosa layanan primer |
79,2% |
38,4% |
7,8% |
85,4% |
10,1% |
4,5% |
|
Merujuk ke tempat rujukan yang sesuai |
96,0% |
0,0% |
4,0% |
96,2% |
2,1% |
1,6% |
|
Pasien didampingi tenaga kesehatan |
17,2% |
42,6% |
21,3% |
21,9% |
74,9% |
3,2% |
|
Menggunakan ambulance transport |
11,2% |
42,8% |
22,3% |
21,9% |
74,9% |
3,2% |
|
Memberikan edukasi |
20,5% |
0,0% |
79,5% |
67,6% |
1,1% |
31,3% |
|
Melakukan Komunikasi dengan RS |
12,4% |
36,5% |
37,2% |
37,9% |
61,3% |
0,8% |
|
Pasien dirujuk 1×24 jam sejak diagonis ditegakkan |
43,0% |
46,7% |
7,0% |
43,4% |
56,7% |
0,0% |
Tabel 3: Ketepatan Proses Rujukan
Tabel 3 menunjukan kriteria ketepatan proses rujukan secara umum, dimana terdapat tujuh kriteria proses yang digunakan untuk menilai apakah rujukan tersebut baik atau tidak. Berdasarkan tujuh kriteria, diketahui bahwa terdapat tiga kriteria yang masih memiliki nilai dibawah standar 80% kesesuaian yakni pada penggunaan ambulance transport, edukasi pasien, maupun komunikasi dengan pihak rumah sakit. Setelah dilakukan intervensi, ternyata terdapat peningkatan kualitas rujukan, dimana hasil re audit menunjukkan hanya satu komponen kriteria yang masih belum memenuhi kualitas yakni pada pemberian edukasi kepada pasien. Hasil wawancara dengan dokter menunjukkan bahwa bukan edukasi yang tidak diberikan namun lebih kearah hasil edukasi yang tidak dituliskan didalam lembar rujukan.
Pemberian edukasi penting untuk dituliskan didalam lembaran rujukan, tidak hanya disampaikan secara lisan, karena sering ditemukan pasien lupa akan pesan dokter puskesmas terkait edukasi untuk dokter spesialis dirumah sakit, seperti apakah perlu dilakukan pengobatan lanjutan di RS, bisakah obat diberikan di puskesmas saja atau lainnya. Demikian dengan dokter spesialis, mereka juga sering dihadapkan pada kondisi dimana pasien berkata “tidak diberitahu apa-apa, saya tidak tahu tentang penyakit saya”, hal ini yang menyebabkan informasi alasan mengapa pasien perlu dirujuk tidak sampai ke dokter spesialis dan pemeriksaan diulang dari awal.
|
Mutu Rujukan Khusus |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Diabetes Melitus |
||||||
|
Merupakan DM Tipe 1* |
29.2% |
– |
68.2% |
– |
– |
– |
|
Pemeriksaan HBA1C 3 bulanan* |
6.1% |
– |
93.9% |
– |
– |
– |
|
Target gula darah tidak tercapai dengan perbaikan gaya hidup sehat dan terapi pemberian 2 OHO selama 3 bulan |
29.1% |
– |
70,9% |
57,1% |
38,1% |
4,8% |
Tabel 4: Kriteria Rujukan Khusus Kasus Diabetes Melitus Tipe 2
Tabel 4 menunjukkan kriteria ketepatan rujukan pada kasus diabetes melitus, dua kriteria awal tidak digunakan kembali pada kegiatan re-audit dikarenakan tidak relevan, sehingga pada saat kegiatan re-audit hanya digunakan satu kriteria yakni Target gula darah tidak tercapai dengan perbaikan gaya hidup sehat dan terapi pemberian 2 OHO selama 3 bulan, dengan perkecualian pada kasus DM 2 dengan komplikasi, DM tipe 1 atau kasus DM baru. Hasil re-audit menunjukkan bahwa dengan pemberian guideline terapi serta rujukan di puskesmas menurunkan rujukan kasus diabetes melitus yang tidak perlu.
|
Mutu Rujukan Khusus |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Demam Dengue |
||||||
|
Telah dilakukan pemeriksaan hemokonsentrasi |
92,9% |
0,0% |
7,1% |
88,9% |
0,0% |
11,1% |
|
Sudah menghubungi RS |
27,7% |
0,0% |
72,3% |
77,8% |
22,2% |
0,0% |
|
Tidak terjadi perbaikan kondisi dengan Infus Kristaloid 15 ml/KgBB/Jam |
– |
– |
– |
33,3% |
55,6% |
11,1% |
|
Terpasang Infus |
44,0% |
40,0% |
16,0% |
– |
– |
– |
|
Trombosit < 100.000 |
78,2% |
0,0% |
21,8% |
– |
– |
– |
Tabel 5: Kriteria Rujukan Khusus Kasus Demam Dengue
Tabel 5 menunjukkan kriteria ketepatan rujukan pada kasus Demam Dengue, dua kriteria tidak digunakan kembali pada kegiatan re-audit dikarenakan tidak relevan, sehingga pada saat kegiatan re-audit hanya digunakan tiga kriteria yakni Telah dilakukan pemeriksaan hemokonsentrasi, Sudah menghubungi RS dan Tidak terjadi perbaikan kondisi dengan pemberian Infus Kristaloid 15 ml/KgBB/Jam. Hasil re-audit menunjukkan bahwa dengan pemberian guideline terapi serta rujukan di puskesmas menurunkan rujukan kasus Demam dengue yang tidak perlu.
|
Mutu Rujukan Khusus |
Hasil Audit |
Hasil Re Audit |
||||
|
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
Kode 1 |
Kode 2 |
Kode 3 |
|
|
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria & Tidak Perkecualian |
Sesuai Kriteria |
Tidak Sesuai Kriteria Tetapi Perkecualian |
Tidak Sesuai Kriteria Tidak Perkecualian |
|
|
Hipertensi Esensial |
||||||
|
Target tekanan darah tidak tercapai dengan modifikasi gaya hidup dan pemberian terapi kombinasi 2 obat selama 3 bulan |
– |
– |
– |
62,4% |
36,6% |
1,1% |
|
Pre Eklamsia Berat |
||||||
|
tekanan darah > 160/110 / Proteinuria 500 gr/24 jam / dipstik +2 |
– |
– |
– |
90,9% |
9,1% |
0,0% |
|
Terdapat edema |
69,9% |
0,0% |
30,1% |
81,8% |
9,1% |
9,1% |
|
Merujuk dalam waktu 1×24 jam sejak diagnosa PEB ditegakkan |
93,6% |
0,0% |
6,4% |
100,0% |
0,0% |
0,0% |
Tabel 6: Kriteria Rujukan Khusus Kasus Hipertensi Esensial dan PEB
Tabel 6: menunjukkan kriteria ketepatan rujukan pada kasus Hipertensi Esensial dan PEB, Hasil re-audit menunjukkan bahwa dengan pemberian guideline terapi serta rujukan di puskesmas dapat menurunkan rujukan kasus Hipertensi Esensial dan PEB yang tidak perlu.
Sebelum sesi diskusi, dr. Hanevi Djasri MARS meminta kesediaan beberapa perwakilan Puskemas untuk menyampaikan pengalaman-pengalamannya selama pelaksanaan uji coba dan re-audit berlangsung. Diakui oleh beberapa Puskesmas bahwa selama pelaksaaan uji coba dan re audit masih ada kendala-kendala internal yang dialami oleh Puskesmas seperti formulir rujukan Puskesmas ke RS terlalu banyak sehingga petugas kadang tidak mengisi form rujukan tersebut, hal ini dipicu karena jumlah SDM yang terbatas ditambah adanya keluhan lama pelayanan jika harus mengisi semua form, form rujukan menggunakan karbon sehingga tulisan tidak jelas. Sementara kendala eksternal yang dialami oleh Puskesmas adalah pasien tidak datang pada saat meminta rujukan, Rujukan balik dari RS belum ada. Meski begitu Puskesmas mengakui bahwa dengan adanya sistem dan pedoman rujukan ini, dapat memudahkan petugas dan dapat diduplikasi, bahkan yang sangat menarik yaitu pengalaman dari Puskesmas Cengkareng yang disampaikan oleh dr. Eko Budhi bahwa empat pedoman rujukan tersebut ditempelkan kedinding agar mudah dilihat sehingga memudahkan pelayanan.
Pada sesi diskusi perwakilan dari 44 Puskesmas diminta memberikan masukan untuk Sistem dan pedoman rujukan. Dibagi dalam lima Kelompok, terdiri dari Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Hasil Diskusi Lima Kelompok sebagai berikut:
|
Usulan Perbaikan |
Sistem Rujukan |
Pedoman Rujukan 4 Penyakit |
Form Rujukan Puskesmas |
|
Jakarta Timur |
|
|
|
|
Jakarta Selatan |
|
|
|
|
Jakarta Barat |
|
|
Menambahkan no rekam medis di form rujukan |
|
Jakarta Utara |
Rujukan balik dari rumah sakit belum dikoordinasi dengan baik |
Pedoman di buat seperti bagan supaya lebih mudah |
|
|
Jakarta Pusat |
|
|
Untuk kelengkapan form rujukan yang telah diperbaiki sudah cukup baik, dan kedepannya diharapkan agar form yang ada dapat digabungkan ke dlm form BPJS menjadi 1 lembar |