SUMEDANG, (PRLM).- Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang akan mengintensifkan pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) menjelang Hari Raya Idul Fitri 1436 H.
Upaya itu guna menangani para pasien emergency, terutama yang mengalami kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di perjalanan ketika mudik Lebaran ke kampung halamannya. Terlebi jika kecelakaannya menonjol (lakajol) yang menimbulkan lebih dari lima korban tewas.
“Namun, dengan dioperasikan tol Cipali (Cikopo-Palimanan), mudah-mudahan volume kendaraan yang masuk ke jalur tengah Sumedang berkurang sehingga potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas relatif sedikit,” kata Direktur RSUD Sumedang, H. Hilman Taufik WS, di ruang OKA RSUD Sumedang, Sabtu (4/7/2015).
Menurut dia, guna mengintensifkan upaya pelayanan menjelang Lebaran, RSUD Sumedang sudah mengatur jadwal cuti bersama bagi para karyawannya, kecuali untuk pelayanan di IGD dan rawat inap.
Menghadapi Lebaran ini, pelayanan rawat jalan mulai tutup Rabu (15/7/2015) dan akan buka kembali Rabu (22/7/2015). Sementara pelayanan IGD dan rawat inap tetap berjalan.
Dengan begitu, mulai 16 Juli sampai 21 Juli, pelayanan akan difokuskan dan diintensifkan untuk menangani para pasien rawat jalan dan IGD, termasuk para pasien yang tertimpa kecelakaan lalu lintas pada saat mudik Lebaran.
“Kami optimalkan dokter jaga, para perawat dan ambulance. Begitu juga penyediaan obat-obatan, stok darah dan sarana medis lainnya. Untuk optimalisasi tindakan dan penanganan medis, kami siapkan dua dokter jaga per ship,” ujar Hilman didampingi Humas RSUD Sumedang Iman Budiman.
Dikatakan, apabila ruangan IGD lama tak mampu menampung pasien gawat darurat termasuk korban kecelakaan lalu lintas yang menonjol, bisa saja menggunakan bangunan IGD baru tiga lantai yang pembangunannya hampir rampung. IGD baru ditargetkan selesai Agustus nanti.
Upaya lainnya meminta bantuan kepada rumah sakit lain. RSUD Sumedang hingga kini sudah berkoordinasi dengan rumah sakit lain untuk membantu penanganan apabila jumlah korban kecelakaannya relatif banyak.
Khusus pasien korban kecelakaan ganda (ada lawannya), akan mendapatkan pengobatan gratis dari Jasa Raharja senilai Rp 10 juta. Jika biayanya lebih dari Rp 10 juta, kelebihan biayanya akan ditanggulangi oleh BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).
“Supaya IGD-nya tidak kepenuhan, kami sekalian mengimbau kepada masyarakat agar jangan berobat langsung ke IGD apabila penyakitnya tidak darurat. Kalau penyakit biasa, cukup periksakan saja ke Puskesmas sesuai prosedur pelayanan BPJS,” ujarnya.
Terkait penataan PKL dan parkir liar yang menyebabkan kemacetan dan kesemrawutan di sekitar rumah sakit terlebih menjelang Lebaran,
Hilman membenarkan dalam waktu dekat ini, PKL (pedagang kaki lima) sekitar 30 orang yang ada di Jalan Palasari tepatnya di depan IGD, akan dipindahkan ke lantai 4 atap gedung IGD baru.
Sebab berdasarkan SK Bupati, di sepanjang Jalan Palasari terutama di depan IGD dan gedung rawat jalan, dilarang berjualan atau PKL. “Keberadaannya membuat macet kendaraan dan kesemrawutan di Jalan Palasari,” tuturnya.
Ia menambahkan, selain penataan PKL, RSUD Sumedang pun akan menertibkan parkir liar di Jalan Palasari, tepatnya di depan IGD dan rawat jalan. Hanya saja tak dipungkiri, munculnya parkir liar itu karena fasilitas lahan parkir di dalam rumah sakit relatif terbatas.
Mobil rata-rata sebanyak 46 unit dan sepeda motor sekitar 126 unit per hari, tidak tertampung di tempat parkir di dalam rumah sakit. Guna membersihkan parkir liar di depan IGD dan rawat jalan, RSUD Sumedang akan menyiapkan lahan di Jalan Cipada untuk tempat parkir kendaraan semua karyawan rumah sakit.
“Sementara tempat parkir di dalam rumah sakit, semuanya akan digunakan untuk kendaraan pengujung dan keluarga para pasien. Bahkan supaya Jalan Palasari tidak kumuh, macet dan semrawut, jalannya akan disatu jalurkan,” ucap Hilman. (Adang Jukardi/A-89)***