Anggota DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky, mendesak Bupati Aceh Utara mengevaluasi pelayanan kesehatan di daerah tersebut. Desakan itu disampaikan Iskandar terkait pemberitaan tidak ada dokter dan tidak ada obat di Puskesmas Seunuddon, sehingga pasien harus dibawa ke rumah sakit di Lhokseumawe, seperti dilansir Serambi, Minggu (19/6).
Iskandar menilai, kasus yang dialami warga di Kecamatan Seunuddon itu, juga banyak terjadi di daerah-daerah lain. Tapi tidak terekspose media massa. Ia mengaku sangat prihatin terhadap bayi yang tidak mendapat perawatan saat dibawa ke puskesmas itu, walaupun kemudian sudah tertangani di Rumah Sakit Kesrem.
“Saya kira Bupati harus meminta penjelasan Dinas Kesehatan dan juga kepala puskesmas, mengapa hal itu terjadi. Sampai-sampai dokter yang piket juga tidak ada di tempat. Ini menyangkut keselamatan nyawa manusia. Sebaiknya yang tidak mampu bekerja maksimal bisa segera dievaluasi oleh bupati,” kata politisi Partai Aceh itu.
Ia menambahkan, potret buram pelayanan medis seperti itu akan menambah deretan kasus pelayanan publik yang buruk di Aceh. Seharusnya bila ada kekurangan stok obat bisa segera dilaporkan ke dinas kesehatan. “Kami akan menyoroti kasus ini dalam sidang paripurna DPRA nanti. Semoga ke depan semua pelayan publik dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat,” harapnya.
Seperti diberitakan kemarin, bayi 14 bulan asal Desa Paya Dua Uram, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, yang mengalami kejang-kejang, tak mendapat pertolongan di Puskesmas Seunuddon, Sabtu (18/6) sekitar pukul 23.00 WIB. Sebab, dokter tak ada di tempat. Petugas piket lalu menghubungi dokter untuk meminta resep.
Parahnya, obat yang diresepkan dokter juga tak ada di puskemas tersebut. Sehingga orang tua bayi harus membeli ke apotek di Pantonlabu. Tak lama, bayi itu dibawa ke RS Kesrem Lhokseumawe menggunakan ambulans puskesmas tersebut meskipun tanpa rujukan.(saf)
Sumber: http://aceh.tribunnews.com/
{module[153]}