Indikator utama akreditasi adalah keselamatan pasien. RS yang bisa menjamin keselamatan pasien secara otomatis akan mampu meraih akreditasi yang baik, begitu pula sebaliknya.
“Jangan bicara mutu jika tidak ada jaminan keselamatan pasien. Paradigma itu disebut Patient Centred Care (PCC). Muncul di Australia dan menjadi Sakit (KARS) Dr. Nico A.Lumenta,K.Nefro,MM, dalam sesi paripurna Seminar Nasional Perhimpunan RS Seluruh Indonesia (Persi) di Jakarta Convention Centre, kemarin .
“Dulunya kan dokter adalah pusat, captain of the ship, ini sudah terbukti menyebabkan patient safety tidak terjamin. Sudah banyak buktinya,” kata Nico.
Pada PCC, masing-masing pihak yang terlibat dalam upaya meningkatkan kesehatan pasien, memiliki kontribusi setara. “Dokter jadinya tidak lebih jago, ia berada sejajar dengan nutrisionis, perawat, fisioterapi. Dokter adalah team leader, coach,” kata Nico.
Dalam metode asuhan pasien, dokter pun wajib melakukan edukasi, bukan hanya berorientasi pada pengobatan. Namun, dokter tentunya harus memahami bahwa pasiennya sangat heterogen, baik itu dalam pengetahuannya, tingkat pendidikan hingga latar belakang ekonomi.
“Langkah-langkahnya adalah, metode assessment untuk mengetahui kedalaman pengetahuan pasien, lalu setelah diberi tahu, konfirmasi kembali apakah mereka sudah paham atau belum. DUlu kan untuk melayani pasien, kita mencocok-cocokkan pelyanan. Sekarang berbeda, kita lihat kebutuhan pasiennya. Kita lihat needs-nya, kadang juga wants-nya,” kata Nico. (izn)