TOKYO (Tribunnews.com)- Dua orang dokter Indonesia tahun ini akan diundang latihan di Toranomon Hospital (TH) Tokyo, sama seperti yang dilakukan tahun lalu dan tahun sebelumnya selama 30 tahun terakhir ini.
Namun karena tahun lalu peringatan 30 tahun program Japanese Council for Medical Training (JCMT) jumlah dokternya mencapai 4 dokter Indonesia.
“Kami ingin sekali membantu para tenaga medis Indonesia untuk meningkatkan kemampuan mereka di bidang kedokteran, sehingga kembali ke Indonesia dapat menyebarluaskan lebih luas lagi ilmu pengetahuan dan pengalamannya yang telah didapat di Jepang sini,” papar Yutaka Baba, Sekretaris Jenderal JCMT khusus kepada Tribunnews.com siang ini di kantornya.
Baba sendiri pernah ke Indonesia sekali saja selama kira-kira seminggu bulan Desember 2008, “Senang saya ke Indonesia karena manusianya senyum baik dan terbuka serta mudah berteman, kerja keras dan semangat mau menimba ilmu lebih baik lagi. Hubungan antar manusia juga baik, jadi kami yakin sekali program kami akan berjalan baik dan bermanfaat bagi Indonesia.”
Untuk tahun ini TH menantikan aplikasi pengajuan dokter yang akan dikirimkan dari RSCM, RS Persahabatan, RS Harapan Kita dan RS Dharmais.
“Nanti kami akan matching dan juga melihat anggaran yang ada. Yang pasti kami punya level kecakapan yang harus dipenuhi dan persyaratan lain. Kalau sudah memenuhi persyaratan, lalu kami matching lihat apakah memungkinkan kami terima. Kalau di sini tidak ada bagian yang diinginkan dokter Indonesia, tentu kami tak bisa menerimanya,” papar Atsuko Kato (Kathy) , Senior Koordinator JCMT yang lebih dari 10 kali ke Indonesia dan melihat dokter Indonesia sangat pintar-pintar, sehingga dia menyukainya, “Mudah-mudahan bisa lebih banyak lagi yang datang ke Jepang.”
Sampai dengan saat ini sudah sekitar 60 dokter Indonesia merasakan pelatihan di TH selama kira-kira 2 sampai 3 minggu atas undangan RS tersebut. Selain pengiriman tenaga medis RS Toranomon ke Indonesia, kegiatan terbalik, undangan kepada dokter Indonesia ke RS tersebut juga berkesinambungan.
Mereka yang sempat mendapatkan pelatihan, atau pun diskusi medis di RS Toranomon, antara lain Prof. Menaldi Rasmin, dr, Sp.P(K) Ketua Konsil Kedokteran Indonesia dan mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia Dr. Priyo Sidipratomo, SpRad.
“Saat datang ke Tokyo ada yang menarik menurut kami yaitu saat menunjukkan tempat sholat kami bingung ke mana arah angin sehingga ada yang sholat terbolak balik karena kami pun tak sadar perlunya arah angin tersebut. Mohon maaf sebesarnya,” tambah Kato lagi.
Program JCMT ini memang dimaksudkan bagi rumah sakit di Asia, termasuk di Indonesia, di mana perlunya para dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut, khususnya rumah sakit negeri, agar para tenaga medis dapat semakin terdidik lebih baik lagi dengan menimba pengalaman di negeri Sakura.
“Kalau sumbangan alat kedokteran misalnya, mungkin bisa lewat program ODA. Tetapi kalau sumbangan pendidikan agar lebih pandai lagi para tenaga kesehatan di Asia, ya itulah yang menjadi tujuan kami, memberikan ilmu pengetahuan serta pengalaman lebih banyak lagi kepada para dokter di Asia sehingga kerjasama khususnya di bidang medis dapat semakin erat di masa mendatang antara negara di Asia dengan Jepang,” ungkap Baba lebih lanjut.(*)
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo, dari Tokyo, Jepang