Yogyakarta (suaramerdeka.com) – Tren teknologi kesehatan yang berkembang pesat mendorong rumah sakit untuk selalu inovatif. Selain kelengkapan piranti dan tenaga medis yang memadai, pengelola rumah sakit juga dituntut jeli membaca peluang.
Dalam jumpa pers milad ke-6 RS Jogja Internasional Hospital (JIH), Komisaris Utama, Herry Zudianto menilai, DIY memiliki banyak potensi untuk dipadukan dengan program sektor kesehatan. Khususnya ikon Jogja sebagai daerah pariwisata.
“Sangat terbuka kesempatan untuk menjadikan Jogja sebagai lokasi alternatif wisata kesehatan. Terlebih biaya hidup disini relatif murah,” katanya, Jumat (25/1).
Optimisme ini muncul dari pengalaman semakin banyaknya pasien luar Jawa yang memilih berobat di Yogyakarta. Pertimbangan mereka sebagian besar karena faktor biaya yang diklaim jauh lebih murah.
Sejalan dengan ide tersebut, mantan Walikota Yogya itu berharap adanya langkah sinergi antar pengelola rumah sakit se DIY. “Saya berharap bisa bertemu dengan Ngarsa Dalem untuk menyampaikan gagasan ini,” ujarnya.
Direktur Utama RS JIH, Suprijanto Rijadi mengatakan, kesiapan pihaknya dalam menghadapi era globalisasi salah satunya diwujudkan dengan penetapan target akreditasi Joint Comission Internasional (JCI).
“Kami sudah mengantongi ISO 9001:2008, dan sekarang sedang menggarap sasaran JCI. Akreditasi ini merupakan pengakuan atas standarisasi keselamatan pasien,” jelasnya.
Untuk mencapai target itu, pihaknya terus berupaya melengkapi berbagai sarana prasarana. Tahun lalu, pengembangan lebih difokuskan pada alat-alat kedokteran berupa MRI dan CT Scan. Sementara tahun ini, program lebih menyasar sarana fisik. Diantaranya pembangunan fasilitas fitnes, lapangan tenis, dan optimalisasi ruang inap.
( Amelia Hapsari / CN33 / JBSM )