Metrotvnews.com, Jakarta: Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) menilai tragedi yang menimpa Dera Anggraini, bayi yang keburu meninggal dan belum sempat dirawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU), akibat dari diabaikannya pembangunan infrastruktur di rumah sakit (RS).


“Adanya Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Jamkesmas membuat utilisasi RS melonjak hingga 90%. Sayangnya hal ini tidak diimbangi dengan sarana peralatan di RS,” sebut Ketua Umum Persi Sutoto saat dihubungi Rabu (20/2).

Menurut dia, sejak Pemrov DKI Jakarta memberlakukan sistem KJS, tingkat pemanfaatan tempat tidur meningkat hingga 90%-100%. Kini rumah sakit di Jakarta, khususnya milik daerah, sekitar 70% pasiennya adalah peserta KJS.

Di beberapa rumah sakit, seperti RS Fatmawati dan RS Budi Asih, bahkan pasien sudah antri sejak pukul 6.00 Wib. Para petugas medis di sana, melayani pasien dan bekerja hingga malam.

“Jadi sangat menyakitkan bagi petugas di RS, jika di berbagai media diberitakan RS tidak peduli pada pasien miskin. Padahal mereka bekerja dari pagi hingga malam,” protesnya.

Padahal yang menjadi masalah bukan di bidang pelayanannya, tetapi memang fasilitas sarana dan SDM-nya sangat terbatas. Dia mengakui, jumlah RS secara nasional terus bertambah dari tahun ke tahun. Jika pada 2008 tercatat ada sekitar 1.323 RS, maka pada tahun ini jumlah RS naik menjadi 2.102.

Tetapi, lanjut Sutoto, tetap saja pertumbuhan RS tidak dapat mengimbangi lonjakan pasien dari tahun ke tahun, seiring dengan dikeluarkannya berbagai program kesehatan gratis.

Sudah bukan rahasia lagi, katanya, yang banyak bertambah di RS pada saat ini hanya kapasitas tempat tidurnya saja. Tetapi peralatan medis, tenaga dokter dan perawat tidak bertambah.

Dia menambahkan, dengan sekitar 1%-3% persalinan di Jakarta dan sekitarnya membutuhkan ruang NICU, maka total NICU di Jakarta yang hanya berjumlah 143 unit jelas tidak mencukupi.

Di sisi lain, investasi untuk membangun ruang NICU lengkap dengan berbagai peralatan di dalamnya sangat besar, dengan kisaran Rp5 miliar-Rp7 miliar. Itu belum termasuk dengan harus menyediakan tenaga dokter sub-spesialis anak yang jumlahnya masih sangat terbatas di Indonesia.

Dengan nilai investasi yang sangat besar, jelas RS swasta sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan NICU. Oleh sebab itu, peran pemerintah untuk membangun ruang NICU menjadi sangat besar. (Cornelius Eko Susanto/Ray)

Sumber : http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/02/20/3/132632/-Pembangunan-Infrastruktur-RS-Terabaikan