Jakarta (Inilah.com) – Kurang adanya pemahanan masyarakat akan obat-obatan membuat sebagian besar obat yang beredar digunakan secara tidak tepat.



“Sekitar 50% obat yang saat ini beredar di masyarakat, digunakan secara tidak bertanggungjawab, mulai dari penetapan dosis berlebihan, dan tidak sesuai dengan penyakit yang diderita,” kata Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Dani Pratomo, kepada media di Jakarta, Senin (25/2).


Menurutnya, fenomena ini disebabkan oleh kurang maksimalnya peran seorang apoteker dan minimnya pemahaman obat yang dimiliki oleh masyarakat pada umumnya.

“Masyarakat tidak paham soal obat sehingga tidak bisa menolaknya saat dokter menyodorkan resep,” ungkap Dani.

Akibatnya, selain banyak penyakit yang menjadi resisten, penggunaan obat secara berlebihan juga merupakan pemborosan biaya. Tidak ada kendali mutu dan biaya dalam sistem pengobatan yang diselenggarakan oleh dokter maupun rumah sakit.

Lebih lanjut, Dani menambahkan kondisi seperti itu mestinya tidak perlu terjadi jika saja apoteker dilibatkan dalam menyusun kerangka infrastruktur ke arah pelayanan kesehatan semesta.

Apoteker selama ini masih ditempatkan sebagai tukang obat dan bukan profesi kesehatan yang memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan pengobatan.

“Ingat bahwa dokter kurang memahani reaksi obat yang satu dengan yang lainnya, karena memang ini merupakan materi yang dikuasai apoteker,” lanjut Dani.

Sementara Sekjen IAI Nurul Falah mengatakan jika profesi apoteker diberi peran yang memadai dalam kerangka SJSN, maka apoteker dapat membantu penghematan pengeluaran rumah sakit dalam hal pembelian dan pengadaan obat.

Apoteker mampu melakukan seleksi atas molekul-molekul obat yang lebih dibutuhkan RS dengan mempelajari demografi pasien dan jenis penyakitnya.

Menurut Nurul Falah, 50% obat yang beredar saat ini digunakan secara tidak bertanggungjawab. Artinya, dosis diberikan tidak tepat sehingga penyakit tak kunjung sembuh. Selain itu, obat yang diberikan tidak memiliki khasiat yang sesuai dengan diagnosa. Akibatnya penyakit pasien berkepanjangan.

Ditambahkan, bisa juga pasien diberikan obat yang sebenarnya tidak perlu. Sehingga pasien terlalu banyak mengkonsumsi obat yang justru mempengaruhi kondisi ginjalnya. [mor]

Oleh: Dahlia Krisnamurti

Sumber : http://gayahidup.inilah.com/read/detail/1962278/duh-masyarakat-banyak-pakai-obat-tidak-tepat#.USz6bzcWDIV