Balikpapan (Kaltimpost.co.id) – Ketua Umum Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) Prof DR Paul Tahalele SpB-BTKV mengatakan ketersediaan dokter spesialis bedah di Indonesia masih kurang. Hal tersebut diungkapnya dalam seminar dalam Pengembangan Profesi Bedah Berkelanjutan (P2B2) PABI X yang digelar di ballroom Hotel Gran Senyiur, Jalan ARS Muhammad, Gunung Pasir, Kamis (21/3).
 

Menyesuaikan tema Aktualisasi Peran Bedah Umum dalam Pelayanan Kesehatan di Indonesia, Paul menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sekitar 9.000 puskesmas yang tersebar di Indonesia, sebanyak 3.000 di antaranya belum terisi oleh dokter, termasuk rumah sakit kelas D dan C. “Karena tenaga SDM masih kurang, minat pemilihan kedokteran bedah juga kurang, produktivitasnya pun masih kurang,” kata spesialis bedah itu.
 
Selain itu, dia juga menyebutkan seiring perkembangan dan kemajuan pendidikan, para dokter yang baru lulus dan mendapatkan gelarnya jarang ada kemauan untuk membuka praktik dokter di daerah terpencil dan pedalaman. Kata dia, kebanyakan setelah lulus dan mengambil sumpahnya, para dokter baru bisa bebas memilih praktik di mana saja yang didominasi oleh pilihan ke kota. “Padahal dengan ada penyebaran di daerah terpencil dan masih jarang ada dokter ahlinya, itu sangat diperlukan,” paparnya.
 
Selain membahas masalah distribusi dokter bedah di daerah-daerah, dalam P2B2 tersebut juga dibahas soal maraknya klinik yang mengiklankan diri, seperti menawarkan penyembuhan segala jenis macam penyakit dengan ramuan herbal dan sejenisnya, sebaiknya dicermati dengan baik. “Kedokteran saja menempuh pendidikan sekian waktu dengan rangkaian proses yang tidak mudah.
 
Dan yang harus diingat, dokter spesialis saja punya spesifikasi dan konsentrasinya masing-masing. Selain itu, dokter juga harus mengucap sumpah dan menjaga kode etik. Masyarakat tentu sudah bisa menilai mana yang terbaik untuk kesehatannya,” beber Paul. Dia menambahkan, setiap dokter harus mawas diri. Selain menjaga kualitas dan ilmu pengetahuan yang sudah ditempuhnya berdasarkan kompetensi bidangnya, dokter wajib untuk menjaga etika dan moral berdasarkan sumpah dokter.
 
“Menjadi dokter bedah bukan hal untuk disegani, namun sebuah ketulusan serta kemuliaan untuk kemanusiaan dan bersedia mengabdikan diri bukan hanya kepada Yang Maha Esa, tapi juga kepada sesama manusia,” kata dia. DIHADIRI 3.000 DOKTER Sementara, kegiatan P2B2 PABI X yang rencananya digelar hingga besok (23/3) di Hotel Gran Senyiur dihadiri 3.000 peserta dari sejumlah daerah di Indonesia. Mereka terdiri dari dokter bedah spesialis, dokter bedah umum, profesor, dan beberapa dokter spesialis lainnya.
 
Menurut Ketua Panitia dr Rachim Dinata SpB, tujuan dari acara ini untuk meningkatkan profesionalisme bedah di Indonesia dalam segi pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penelitian. Kegiatan ini diharapkan meningkatkan kompetensi dan peran para ahli bedah yang tersebar di seluruh Indonesia agar pelayanannya kepada masyarakat semakin meningkat. “Mudah-mudahan P2B2 PABI X kali ini di Balikpapan dapat bermanfaat tidak saja untuk meningkatkan kompetensi, tetapi bisa menjadi media silaturami para anggota PABI, dan kecintaan terhadap tugas keilmuannya,” kata Rachim.
 
Kegiatan nasional tersebut dibuka oleh Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak. Saat sambutannya, ia mendukung para dokter yang serius menekuni di bidangnya agar memanfaatkan beasiswa untuk meningkatkan kompetensi. “Tiap tahun kami membuka program beasiswa, silakan para dokter khususnya di Kaltim untuk memanfaatkannya,” terangnya.(*/nno/tom/k5)