Jakarta (Tempo.co.) – Pada acara Kick off Forum Stop Tuberkulosis (TB) Partnership Indonesia (FSTPI) yang belangsung pada Kamis, 30 Mei 2013 di Jakarta, Departemen Kesehatan Republik Indonesia meyakini program pengendalian TB di Indonesia telah meraih banyak kemajuan, terutama dalam beberapa dasawarsa terakhir.
“Terutama sejak dimulainya strategi Directly Observed Treatment, Short-course (DOTS) tahun 1995. Saat ini, pengendalian TB telah diakselerasi dan diekspansi ke seluruh fasilitas pelayanan kesehatan,” kata Ali Ghufron Mukti, Wakil Menteri Kesehatan RI.
Ali menjelaskan pada 2010, pengendalian TB diarahkan pada universal access untuk mewujudkan cakupan dan mutu pelayanan DOTS yang luas dan merata. Namun demikian Ali mengakui masih terdapat berbagai tantangan dalam pengendalian TB.
“Beberapa tantangan atau masalahnya antara lain, setiap tahun masih terdapat 450.000 kasus TB baru dengan angka kematian TB masih tinggi yaitu 64.000 orang per tahun. Kemudian meningkatnya ko-infeksi TB-HIV, kasus TB MDR, dan TB Anak maupun TB pada kelompok khusus. Yang tidak kalah penting manajemen dan kesinambungan pembiayaan untuk pengendalian TB belum optimal, kemudian peran masyarakat dalam Pengendalian TB dan dukungan pemangku kepentingan dalam pengendalian TB belum optimal. Yang tak kalah penting pemahaman masyarakat tentang pencegahan dan pengobatan TB masih kurang. Tantangan lainnya adalah masalah kemiskinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya morbiditas TB di Indonesia,” ungkap Ali panjang lebar.
Untuk menyikapi tantangan-tantangan tersebut, Ali mengingatkan diperlukan dukungan dan partisipasi jajaran lintas sektor beserta seluruh lapisan masyarakat melalui upaya terobosan yang inovatif, membumi dan tumbuh dari sumber daya masyarakat.
“Sebuah pepatah menyatakan, ‘If you want to go fast, go alone, but if you want to run far, run together’. Kalimat tersebut selaras dengan perjalanan panjang menuju Indonesia bebas TB pada 2050. Pemerintah tidak mungkin berlari sendiri tanpa mitra yang tangguh dalam pencapaian ini,” ujarnya.
HADRIANI P
Sumber : www.tempo.co
{module [153]}