Bulukumba (Fajar.co.id) — Penderita HIV (human immunodeficiency virus) terus meningkat di Bulukumba dalam beberapa tahun terakhir. Dinas Kesehatan Bulukumba mencatat, hingga Mei 2013, sudah ada 110 orang warga Bulukumba yang teridentifikasi terserang virus mematikan tersebut.


Terakhir, Dinas Kesehatan (Diskes) bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bulukumba kembali menemukan dua orang lagi penderita HIV AIDS di Rumah Tahanan (Rutan) Bulukumba, 10 Mei lalu.

“Waktu itu kita menggelar tes pemeriksaan darah untuk 150 orang yang berpotensi terkena HIV. Mereka antara lain 88 orang pelayan kafe di kawasan wisata Tanjung Bira dan 62 tahanan di Rutan Bulukumba,” jelas Pengelola Penanggulangan AIDS Dinas Kesehatan Bulukumba, H Zaqyul Fahmi, Minggu 2 Juni.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan di Laboratorium Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bulukumba tersebut, menunjukkan semua pelayan kafe tanjung bira negatif. Meski demikian, angka 110 orang pengidap HIV dinilai cukup besar.

“Angka ini menunjukkan penyebaran yang cukup tinggi. Menunjukkan bahwa, setiap orang harus lebih mewaspadai penyebaran penyakit ini,” kata Zaqyul Fahmi.

Apalagi, kata dia, orang yang teridentifikasi penderita HIV tersebut, diketahui masih berusia sekitar 20 tahun. “Penyebaran penyakit HIV itu ibarat gelinding bola salju. Satu orang penderita HIV bisa menulari hingga seratus orang,” katanya.

Beberapa fenomena yang bisa dikaitkan dengan tingginya penyebaran HIV adalah tingginya kasus narkotika dan praktik prostitusi atau seks bebas. Di Bulukumba, kata dia, kasus narkotika juga besar.

“Jarum suntik yang digunakan penderita HIV sangat berpotensi menularkan virus itu. Selain itu, seks yang tidak aman juga menjadi salah satu penyebab,” katanya.

Dia menjelaskan, mereka yang diidentifikasi pengidap HIV sedang melalui tahap rehabilitasi. “Sebagian lain kita dorong untuk mendapat konseling dari dokter, agar bisa menghambat dampak buruk dari HIV, yakni Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS),” jelasnya.

Para pengidap HIV, kata dia, harus punya kekebalan tubuh dengan memaksimalkan fungsi sel darah putih. “Dengan begitu, penyerangan virus HIV ini bisa dihambat,” jelasnya.

Sementara, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bulukumba, H Tjamiruddin, mengungkapkan, Pemerintah perlu tegas menyikapi berbagai penyebab menyebarnya HIV, salah satunya praktik prostitusi.

“Praktik prostitusi ini meresahkan masyarakat. Padahal, kita sudah punya banyak Perda yang mengatur tentang prostitusi ini,” jelasnya. (sbi/aha)

Sumber : www.fajar.co.id

{module [153]}