Jakarta (detik.com), Pembuluh darah atau dalam istilah medis disebut dengan vaskuler bisa dikatakan sebagai induk dari berbagai macam penyakit. Banyak kondisi seperti kolesterol tinggi, hipertensi, stroke dan serangan jantung bermula dari kerusakan pembuluh darah. Sayang, tak banyak yang mendalami bidang ini.
Di Singapura, Malaysia dan negara-negara Eropa, masalah pembuluh darah sudah menjadi perhatian serius. Di sana, kondisi yang terlihat sepele semisal varises saja akan mendapat penanganan serius sebab dampaknya bisa menjadi fatal. Sedangkan di Indonesia, varises hanya dianggap angin lalu.
Inilah yang membuat dr Suhartono menjadi resah. Ketertinggalan dengan negara-negara lain membuatnya serius menekuni bedah vaskuler. Apalagi setelah melihat kenyataan makin banyak dokter asing yang berbondong-bondong ke Indonesia karena jumlah pengidap penyakit pembuluh darah cukup banyak.
“Saya lulus sebagai ahli bedah tahun 1996, saya melihat bahwa vaskuler kita itu sangat terlambat sehingga ini menjadi tantangan bagi saya untuk mengembangkan vaskuler di Indonesia. Karena orang luar sudah mengerjakan macam-macam sedangkan kita belum, tidak ada yang concern,” terang dr Suhartono kepada detikHealth seperti ditulis Senin (3/6/2013).
Ketidakpedulian masyarakat tersebut nampaknya menjadi alasan mengapa kebanyakan pasien yang datang ke dr Suhartono sudah dalam kondisi lanjut atau parah. Salah satu penyakit yang sering didiagnosis terlambat adalah aneurisma perut, yaitu pelebaran pembuluh darah arteri di bagian perut.
Ada juga penyakit pembuluh darah yang bisa menimbulkan komplikasi berbahaya, namun sering disepelakan, yaitu varises. Penyebab kematian akibat varises disebabkan karena darah tidak mengalir lancar sehingga ada kesempatan bagi darah untuk terjadi penggumpalan.
“Kalau gumpalan itu lepas, kembali ke jantung terus dipompa ke paru-paru akan menyumbat paru-paru, selesai. Varises paling banyak terjadi di betis karena di sana paling banyak pembuluh darah rusak. Wanita 3 kali lebih banyak ketimbang pria,” jelas dr Suhartono.
Sedangkan pada aneurisma perut, karena tidak menunjukkan gejala, penyakitnya sering baru terdeteksi setelah parah. Kondisi ini berbahaya sebab jika pelebaran yang terjadi sedemikian besar, pembuluh darah akan pecah dan perdarahan pada pasien bisa berakibat fatal.
“Biasanya ada benjolan atau berdenyut, atau tidak sengaja sedang periksa hati di USG terus ketahuan ada penyakitnya. Biasanya yang datang ke kita sudah besar, ada yang 8 cm sampai 10 cm. Sebagian besar tidak menimbulkan gejala. Kalau sudah nyeri dan pecah, terlambat,” terang dr Suhartono.
Dulu, untuk mengobatinya, dokter akan membedah perut pasien untuk mengecilkan pembuluh darah. Prosedur ini tak lepas dari risiko sebab pasien bisa kehilangan banyak darah. Namun kini, dokter bisa menyisipkan alat yang disebut stent lewat pembuluh darah di dekat lutut. Jadi tidak perlu lagi melakukan pembedahan.
Sayangnya, tidak semua rumah sakit dan dokter bisa melakukan prosedur tersebut. Hal ini wajar, sebab jika ditotal, dokter ahli bedah pembuluh darah di Indonesia hanya ada 16 orang, termasuk dr Suhartono. Walau demikian, hal itu tidak membuat dr Suhartono berkecil hati.
“Sekarang kita baru mulai, karena harus disupport oleh peralatan dan asuransi, karena biayanya mahal. Kalau asuransi tidak support, padahal pasiennya orang tua, kita tidak bisa ngapai-ngapain sebab biayanya mahal,” terangnya.
Keseriusan tersebut bisa dilihat di RS Premier Bintaro dengan mewujudkan fasilitas Vascular Center. Sebagai dokter spesialis bedah vaskular yang berpraktik di sana, dr Suhartono didaulat menjadi ketua tim bedah di fasilitas tersebut. Dengan adanya pusat pengobatan pembuluh darah ini, dia ingin bisa segera menyusul ketertinggalan Indonesia dibanding negara-negara lain.
Dr Suhartono berharap dengan prosedur one stop services, pasien bisa menjadi puas. Sebab pasien tidak harus bolak-balik untuk memeriksakan USG, rontgen dan sebagainya. Peralatan yang disediakan juga sudah terbilang lengkap, tak kalah dengan Singapura ataupun Kuala Lumpur.
BIODATA
Nama : Dr R. Suhartono, Sp.B(K)V
Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 25 Desember 1962
Praktik
Divisi Bedah Vaskuler Departemen Ilmu Bedah FKUI/RSCM
Ketua Tim Bedah Vascular Center RS Premiere Bintaro, Tangerang
Riwayat Pendidikan
1982 – 1988 : Pendidikan Dokter FKUI
1991 – 1996 : Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Bedah FKUI
Karir
1989 – 1991 : Staf RSU Tanjung Selor Bulungan Kalimantan Timur
1997 – 2000 : Staf RSU Bangkinang – Pekanbaru, Riau
1997 – sekarang : Anggota ”PESBEVI” (Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Vaskuler Indonesia)
2001 – sekarang : Staf Divisi Bedah Vaskuler Departemen Ilmu Bedah FKUI/RSCM
2009 – 2011 : Kepala Departemen Bedah FKUI/RSCM
2010 – 2013 : Ketua Perhimpunan Spesialis Bedah Vaskuler dan Endovaskuler Indonesia
2012 – sekarang: Presiden Elect Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI)
(pah/vta)
Sumber : health.detik.com
{module [153]}