Jurnas.comKASUS penyakit Guillain-Barre Syndrome (GBS) sudah mulai melanda Indonesia. Tiga pasien sudah terkena penyakit GBS. Dua pasien yang masih hidup kini masih terbaring di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Azka Arriziq (4 tahun 3 bulan) dan Shafa Azalia (4 tahun 7 bulan).


Awal mulanya, Azka dan Shafa mendapati gejala kesemutan, setelah itu terjadi lumpuh total. Untuk bertahan hidup, Azka dan Shafa harus mengandalkan ventilator dan obat-obatan untuk mempertahankan nyawa.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menneg PP&PA), Linda Gumelar mengatakan dalam penanganan dua pasien yang masih kecil-kecil ini sangat membutuhkan dana besar.

Pemerintah sendirian yang berjalan juga tidak bisa, karena Shafa dan Azka perlu perawatan sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, Linda berinisiatif untuk mencarikan bantuan melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR). “Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, perlu ada donatur. Jangan hanya menunggu pemerintah saja. Sekarang bagaimana kita membantu. Kami akan mendorong CSR untuk membantu. Secepatnya akan saya carikan CSR untuk Azka dan Shafa,” kata Linda usai mengunjungi pasien penderita GBS di RSCM, Jakarta, Kamis (4/8).

Dalam kunjungannya, Linda, tampak membawa dua boneka di tangannya. Boneka berwarna biru yang diberikan untuk Azka, sementara boneka domba berwarna coklat diberikan kepada Shafa. Orang tua Azka dan Shafa yang menyambut di depan pintu ICU tampak tersenyum menerima kedatangan Linda. Meski menteri hanya sekitar 30 menit menemui Azka dan Shafa, raut bahagia terpancar dari orang tua Azka dan Shafa.

Sebelumnya Menteri Kesehatan (Menkes), Endang Rahayu Sedyaningsih juga menyempatkan waktu menemui Azka dan Shafa di RS Azra Bogor (31/7) dan di RS Carolus (1/8).

Sumber : www.jurnas.com

{module [153]}