Jakarta (Liputan6.com) : Penerapan sistem Dokter Keluarga bagi warga Jakarta terus digodok. Dengan sistem yang bersifat pencegahan ini, diharapkan jumlah warga Jakarta yang sakit semakin berkurang.
“Dokter Keluarga dengan layanan primer. Nanti turun ke lapangan dengan Fakultas Kedokteran. Diharapkan 80 persen orang tidak perlu ke rumah sakit,” kata Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok usai membuka lomba marching band di GOR Soemantri Brodjonegoro, Jakarta Selatan, Sabtu (16/3/2013).
Konsep Dokter Keluarga ini diusulkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kepada pemerintah DKI Jakarta. Nantinya, pembiayaan untuk dokter keluarga dilakukan melalui sistem kapitasi bukan sistem gaji. Yakni metode pembayaran per pasien yang sehat, bukan per pasien yang sakit.
Misalnya, pembayaran akan dilakukan Rp 7.000 per pasien. Bila satu dokter bertanggung jawab tangani 3.000 orang dan sehat semua, maka Pemda DKI akan bayar dokter itu Rp 21 juta per bulan. Jadi, Pemda DKI akan membayar bila tidak ada warga yang sakit.
Tapi bila ada 50 orang yang sakit, maka si dokter justru tidak dibayar dari pengobatan pasien yang sakit. Sang dokter mendapat bayaran dari 2.950 pasien yang sehat, yakni sekitar Rp 20 juta per bulan.
“Kapitasi lagi kita hitung,” kata mantan Bupati Belitung Timur ini. Dengan begitu, Ahok yakin sistem Dokter Keluarga ini bisa mengurangi jumlah pasien, baik di Puskemas dan rumah sakit. (Ism)
Sumber : http://news.liputan6.com/read/536993/ahok-dokter-keluarga-kurangi-80-persen-pasien-rs