Surabaya (detik.com) – Minimnya pengertian manfaat berkontrasepsi membuat Indonesia sebagai salah satu negara dengan Angka Kematian Ibu (AKI) tertinggi dibandingkan negara Eropa. Hal ini juga membuat tingkat aborsi ilegal serta kelahiran bayi yang tidak diinginkan meningkat.


“Merencanakan kehamilan tentu berkaitan erat dengan bantuan alat kontrasepsi dan masih banyak wanita di Indonesia yang enggan menggunakan alat kontrasepsi karena berbagai alasan, mulai dari kurangnya pengertian akan manfaat ber-kontrasepsi hingga takut efek samping/efek terhadap kesehatan,” kata dr Budi Santoso SpOG dalam seminar bertema ‘Golden Ways to be an Ideal Mother di Hotel Shangri-La Surabaya, Minggu (13/1/2013).

Selain itu, kata Budi, memilih alat kontrasepsi juga tak kalah penting. Menurutnya, dari 5 alat kontrasepsi yakni kondom, pil, injeksi, IUD dan implant atau susuk, kontrasepsi implant dianggap paling efektif, karena tidak mengganggu aktivitas seksual.

“Penggunaannya sangat mudah sehingga bagi ibu yang lupa atau terlambat tidak akan menyebabkan kehamilan serta tidak memerlukan kepatuhan akseptor seperti kontrasepsi lainnya,” imbuhnya.

Yang terpenting, lanjut Budi, dari semua permasalahan kontrasepsi yang menyebabkan kehamilan tidak diinginkan sehingga membuat ibu meninggal adalah komunikasi terhadap pasangan dan pengetahuan terhadap alat kontrasepsi sangat penting.

Dari data berbagai sumber, aborsi tidak aman berakibat kematian ibu dan tingginya biaya kesehatan yang diakibatkan serta efek psikososial bagi kaum wanita. Indeks AKI untuk Indonesia adalah 228 per 100 ribu kelahiran hidup (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007).

Sekitar 4,2 juta bayi yang lahir di Indonesia setiap tahun yang jika dibandingkan sama jumlahnya dengan total penduduk Singapura. Bahkan, menurut UNICEF, 760.000 atau 18% dari kelahiran tersebut merupakan kelahiran tidak diinginkan.

Sedangkan dari data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) jumlah peserta Keluarga Berencana (KB) di Indonesia baru mencapai 44 juta pasangan usia subur atau baru mencapai 61,9% dari 71,08 juta pasangan usia subur (PUS) tahun ini. Padahal target pemerintah adalah 65 persen.

(ze/fat)

Sumber : http://news.detik.com

{module [153]}