Jakarta – Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, terdapat sekitar 12 juta penderita diabetes di Indonesia (proporsi 6,9% penduduk berusia kurang dari 15 tahun) dan lebih dari 330 ribu penderita kanker (prevalensi 1,4 per 1000 penduduk).
Data Kementerian Kesehatan lain juga menyebutkan, hingga September 2014, terdapat 22.869 penderita HIV di Indonesia. Penyakit-penyakit kronis dan mengancam jiwa tersebut selain membawa risiko kematian juga berdampak terhadap kualitas hidup penderita dan keluarga mereka.
“Beban penyakit terbesar di Indonesia sejak 2010 adalah penyakit kronis, seperti kardiovaskuler, diabetes, kanker, HIV dan sebagainya. Kalau sebelum 2010 beban penyakit di Indonesia adalah penyakit menular, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan sebagainya,” tutur Staff Khusus Menteri Bidang Peningkatan Kemitraan dan SDGs Kementrian Kesehatan RI, Diah Saminarsih pada jumpa pers Memperingati World Hospice Day dan Palliative Care Day oleh Yayasan Rumah Rachel dan Tropicana Slim di Jakarta, Selasa (13/10).
Dengan begitu, lanjut Diah, beban yang begitu banyak, namun jumlah sarana dan prasana kesehatan yang belum memadai, membuat masyarakat yang mengalami sakit kronis ataupun memiliki saudara yang sakit kronis membutuhkan asuhan paliatif.
“Asuhan paliatif merupakan perawatan holistik yang tidak hanya membantu pasien memperpanjang hidup, tapi juga membantu bagaimana menambah nilai-nilai dalam sisa kehidupan mereka,” tandasnya.
Inisiatif terhadap asuhan paliatif juga sudah tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 812/Menkes/SK/VII/2007 mengenai kebijakan perawatan paliatif.
“Dengan lahirnya kebijakan ini tentu asuhan paliatif terintegrasi dengan layanan kesehatan, dimana sudah tersebar tenaga kesehatan dari organisasi-organisasi nonprofit yang bisa memberikan asuhan paliatif di sekitar 14 rumah sakit di Jakarta dan luar Jakarta,” ungkap Diah.
Yayasan Rumah Rachel adalah salah satu organisasi yang sudah 9 tahun fokus terhadap asuhan palitaif berbasis rumah. Yayasan ini memberikan asuhan paliatif terhadap anak-anak (0-18 tahun) dengan kanker dan HIV.
“Kita tidak hanya mengurangi nyeri fisik mereka, tetapi juga psikis dan spiritual. Tidak hanya untuk mereka yang sudah menjelang ajal, tapi mereka yang di dalam perjalanan. Dan juga tidak hanya untuk pasien penguatannya, tapi juga untuk anggota keluarga yang tentunya juga perlu dukungan dalam menghadapi situasi sulit tersebut,” tambah Pendiri Yayasan Rumah Rachel, Lynna Chandra.
Sumber: http://www.beritasatu.com/