Peran Perubahan Iklim terhadap Munculnya Penyakit Menular Baru dan Kembalinya Penyakit Menular Lama

Perubahan iklim global kini tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga tantangan serius bagi kesehatan masyarakat. Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, serta meningkatnya frekuensi bencana alam telah menciptakan kondisi yang ideal bagi penyebaran berbagai penyakit menular. Fenomena ini berkontribusi terhadap kemunculan penyakit baru (emerging infectious diseases) dan kembalinya penyakit lama (re-emerging infectious diseases) di banyak wilayah. Dampak tersebut terlihat dari meluasnya distribusi vektor penyakit seperti nyamuk dan kutu, meningkatnya risiko penularan zoonosis, serta pergeseran pola epidemiologi penyakit tropis.

Penelitian yang dilakukan oleh Filho, et al. (2025) menerangkan bahwa perubahan iklim kini diakui secara luas sebagai salah satu penyebab utama munculnya dan kembalinya penyakit menular, terutama yang berasal dari hewan ke manusia (zoonosis). Kondisi iklim yang berubah, termasuk kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan dan intensitas cuaca ekstrem, membuat lingkungan semakin kondusif bagi vektor penyakit seperti nyamuk, kutu, dan tikus.

Dengan menggunakan pendekatan campuran, yakni analisis bibliometrik untuk memetakan literatur dan studi-kasus terpilih yang memperkuat bukti empiris, para peneliti mengidentifikasi empat klaster utama riset: aktivitas manusia & urbanisasi; faktor non-manusia seperti vektor dan reservoir; faktor lingkungan yang mempengaruhi habitat dan siklus hidup patogen; serta surveilans/integrasi pengendalian penyakit.

Salah satu insight penting yaitu urbanisasi dan perubahan penggunaan lahan semakin sering menempatkan manusia dalam kontak lebih dekat dengan satwa liar atau habitat alami yang terganggu, yakni kondisi yang meningkatkan risiko terjadinya spillover, dimana terjadi perpindahan patogen dari hewan ke manusia. Hal ini diperparah oleh iklim yang memudahkan vektor penyakit menyebab lebih luas.

Contohnya, perubahan suhu memungkinkan nyamuk‐penyebab penyakit seperti demam berdarah dan malaria bertahan hidup atau berkembang biak di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin. Begitu pula, banjir dan kekeringan yang intens bisa memicu peningkatan penyakit yang disebabkan air atau tikus seperti leptospirosis. Penelitian ini juga menyoroti bahwa populasi yang rentan, khususnya di negara berpenghasilan rendah atau sistem kesehatannya lemah, akan menghadapi risiko yang jauh lebih besar. Kekurangan akses ke air bersih, sanitasi dan layanan kesehatan, maka dampak perubahan iklim atas zoonosis menjadi lebih nyata dan mengancam.

Kebijakan kesehatan dan perubahan iklim yang terintegrasi, seperti memperkuat sistem surveilans penyakit, investasi riset untuk memahami nexus iklim‐penyakit, serta menanamkan pendekatan One Health, yang melihat keterkaitan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem, direkomendasikan untuk mencegah dan mengontrol penyakit menular masa depan. 

sumber: https://onehealthoutlook.biomedcentral.com/articles/10.1186/s42522-024-00127-3

 

Webinar Memahami konsep ERAS (Enhanced Recovery After Surgery): Strategi efisiensi operasi bedah dalam era JKN dan efisiensi

{tab title=”Kerangka Acuan” class=”red” align=”justify”}

Kamis 23 Oktober 2025  |  Pukul 13.00 – 15.00 WIB

Situasi Saat Ini: Operasi tetap menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengurangi angka kematian, dengan lebih dari 300 juta prosedur dilakukan secara global setiap tahun. Namun, sekitar 40% operasi mengakibatkan berbagai komplikasi. Komplikasi ini menyebabkan waktu pemulihan yang lebih lama, peningkatan biaya perawatan kesehatan, dan luaran pasien yang negatif. Keadaan ini tidak cocok untuk sistem kesehatan yang membutuhkan efisiensi, terlebih di masa JKN. Oleh karena itu diperlukan implementasi strategi pelayanan perioperatif yang efektif secara lebih konsisten.

Apa Solusinya? Berbagai teknik efisiensi saat ini dikembangkan di global. Salahsatunya adalah penerapan Protokol ERAS® (Enhanced Recovery After Surgery) yang telah terbukti secara signifikan mengurangi: (1) komplikasi pascaoperasi, (2) memperpendek masa rawat inap, dan (3) mempercepat pemulihan pasien. Studi menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap pedoman ERAS® dapat mengurangi masa rawat inap di rumah sakit hingga lebih dari 30%, menghasilkan penghematan biaya sebesar €2.500 hingga €5.500 per operasi di Inggris. Peningkatan ini tidak hanya meningkatkan luaran pasien tetapi juga memberikan efisiensi yang tinggi bagi penyedia layanan kesehatan.

Webinar ini menyajikan program ERAS®, yang dikembangkan oleh ERAS® Society dan diimplementasikan oleh Encare, yang dirancang untuk meningkatkan perawatan perioperatif dan luaran pasien menggunakan praktik berbasis bukti. Program ini mencakup Protokol ERAS®, Sistem Audit Interaktif ERAS® (EIAS), dan Program Implementasi ERAS® (EIP). Encare berkolaborasi dengan ERAS® Society untuk menawarkan EIAS dan EIP secara global kepada rumah sakit dan sistem kesehatan, menyediakan perangkat penting untuk implementasi yang efektif.

Tujuan Kegiatan:

  1. Memahami konsep ERAS sebagai alat untuk peningkatan efisiensi pelayanan klinisi.
  2. Menyajikan berbagai pengalaman klinisi di terkait dengan upaya mempercepat pemulihan pasca operasi di Indonesia
  3. Membahas kemungkinan implementasi ERAS di RS Indoenesia

Pembicara:

Eva Reinander (Encare, ERAS@ Society)

Pembahas:

Dr. dr. Birowo SpAn(K) Departemen Anastesi

dengan pembahas lainnya dari: Instalasi Kamar Bedah dan Anestesiologi RS Sardjito, Kepala KSM Bedah, KaKSM Kebidaan dan Kandungan, KaKSM Ortopedi, KaKSM Urologi, Kepala Departemen Keperawatan Bedah, dan lain-lain.

Fasilitator:

Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM: Dr. dr. Hanevi Jasri MARS, dan Prof. Laksono Trisnantoro.

Materi

Pengantar Diskusi
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD
materi
Dr. dr. Birowo SpAn(K) materi

 

{tab title=”Reportase” class=”orange”}

Pusat Kebijakan & Manajemen Kesehatan PKMK FK-KMK UGM bersama Departemen Anestesiologi dan Bedah RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta menyelenggarakan Webinar Internasional untuk membahas urgensi penerapan Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) sebagai strategi kunci mencapai efisiensi biaya dan kualitas luaran pasien di tengah tantangan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada Kamis (23/10/2025). Acara ini menghadirkan pembicara dengan perspektif global dari Encare, serta pandangan manajerial, klinis, dan kebijakan dari pakar kesehatan Indonesia.

Sesi Pembukaan dan Kritik terhadap Praktik Bedah

eras 1Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D. (PKMK FK-KMK UGM) membuka sesi dengan membuka diskusi terhadap praktik bedah. Beliau menyoroti bahwa variasi lama rawat Inap (LOS) yang lebar dalam prosedur seperti operasi kolon menunjukkan ruang perbaikan yang besar di Indonesia.

“Efisiensi bukan berarti mahal. Kualitas tidak selalu berbanding lurus dengan biaya tinggi. Saat ini, banyak praktik tradisional justru memilih yang terburuk bagi pasien, yang mengakibatkan LOS panjang dan biaya tinggi,” tegas Prof. Laksono.

Pembicara mendorong para klinisi dan manajer untuk membuat case study mendalam di Indonesia, menggunakan data yang detail, untuk membuktikan hasil nyata peran ERAS. Prof. Laksono juga menyoroti potensi pemanfaatan data BPJS untuk mengidentifikasi area yang belum efisien dan membandingkannya dengan luaran setelah implementasi ERAS.

ERAS: Prinsip Kualitas dan Kepatuhan (Eva Reinander, Encare)

eras 2Eva Reinander dan dr. Winner, MARS, MMedSc.,MSc (Encare, ERAS® Society) menegaskan bahwa prinsip utama ERAS adalah menjadikan kualitas berbasis praktik terbaik (evidence-based best practice) sebagai motor efisiensi. ERAS merupakan langkah niat untuk membuat efisiensi dengan mengurangi tradisi yang tidak lagi menguntungkan pasien. Eva menjelaskan bahwa untuk mencapai efisiensi dan cost saving yang tinggi seperti yang telah terbukti di Amerika Selatan, Korea Selatan, dan Australia diperlukan sistem audit yang ketat (seperti EIAS) untuk memastikan kepatuhan yang konsisten. Kehadiran teknologi audit inilah yang mengatasi tantangan terbesar dalam implementasi: compliance decay atau penurunan kepatuhan seiring waktu.

 

Dinamika Klinis: Anestesiologi dan Kontrol Stres Fisiologis (Dr. dr. Birowo, SpAn(K))

eras 3Dr. dr. Birowo, SpAn(K) (Departemen Anestesiologi) membahas implementasi ERAS sebagai tantangan untuk mengubah budaya dan doktrin tradisional dalam pelayanan bedah. Beliau menjelaskan bahwa ERAS adalah usaha untuk memodifikasi respons stres fisiologis dan psikologis terhadap operasi besar melalui pendekatan multimodal. Protokol Anestesi ERAS yaitu:

  • Terkait Puasa Singkat dan Cairan, Dr. Birowo mengonfirmasi bahwa diperbolehkan memberikan cairan karbohidrat tinggi 2 jam sebelum masuk kamar operasi. Hal ini bertujuan menghindari dehidrasi yang memicu fluid overload (kelebihan cairan) saat intra-operasi, yang terbukti menghambat penyembuhan luka dan proses pemulihan.
  • Kaitannya dengan Analgesia dan Mobilisasi, protokol anestesi ERAS menekankan analgesia multimodal opioid sparing dan dukungan untuk mobilisasi dini.

Perspektif Mutu Pelayanan dan JKN (Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQUA)

eras 4Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQUA (Spesialis Mutu Pelayanan) menyoroti pentingnya ERAS dari sudut pandang mutu dan kebijakan. Terkait mutu dan biaya, Dr. Hanevi menekankan bahwa mutu yang baik tidak selalu harus mahal. ERAS membuktikan bahwa kualitas didasarkan pada praktik terbaik (best practice) yang terbukti ilmiah, yang secara otomatis membawa efisiensi. Kemudian soal tantangan kepatuhan terdapat hambatan terbesar dalam implementasi ERAS di Indonesia adalah budaya organisasi dan masalah kepatuhan yang tidak konsisten (compliance decay). Terakhir, kaitannya dengan strategi penguatan mutu, dalam rangka mengatasi hambatan budaya dan memastikan keberlanjutan mutu, manajemen harus menggunakan data audit yang transparan (misalnya dari sistem EIAS) sebagai alat umpan balik untuk membangun akuntabilitas dan kolaborasi lintas disiplin. ERAS adalah inisiatif yang sangat sejalan dengan tuntutan JKN menuju pelayanan kesehatan berbasis nilai (value-based healthcare).

Strategi Manajemen: Insentif dan Efisiensi Tempat Tidur (Dr. dr. Darwito, SpB Onk (K))

eras 5Dr. dr. Darwito, SpB Onk (K) (Direktur RSA UGM) memaparkan bagaimana manajemen menerjemahkan ERAS sebagai alat untuk efisiensi dan kualitas:

  • Program terukur, hal ini dilakukan RSA UGM dengan memprogramkan inisiatif Fast-Track, termasuk untuk Seksio Sesarea (Caesarean Section), yang berhasil memangkas LOS dari satu minggu menjadi tiga hari.
  • Poli Perioperatif diupayakan melalui kunci dari manajemen adalah Poliklinik Perioperatif yang sudah stand by di RSA UGM. Poliklinik ini memastikan pasien dioptimasi di fase pra-admisi (sebelum masuk OP), sehingga 60% pasien sudah siap operasi.
  • Insentif tim diberikan untuk mendorong kepatuhan, tim yang berhasil menjalankan fast-track diberikan insentif per pasien (sekitar Rp 500.000). Hal ini membuktikan bahwa ERAS adalah investasi yang menguntungkan.
  • Sehingga hal tersebut menghasilkan dampak efisiensi → “RS dapat efisien. Adanya keterbatasan bisa 1 Tempat Tidur (TT) yang harusnya dipakai 7 hari bisa di cut menjadi efisiensi. Pasien tenang, dokter tenang,” ujar Dr. Darwito, menekankan manfaat langsung ERAS pada manajemen pemanfaatan tempat tidur.

Sesi Diskusi Kritis dan Tindak Lanjut

  • Sektor Swasta → Eva Reinander mengonfirmasi bahwa sangat mungkin bagi rumah sakit swasta yang sebagian besar klinisinya part-timer untuk mengimplementasikan ERAS, asalkan ada komitmen dan penggunaan sistem audit (EIAS) untuk menjaga standar.
  • Kerja Tim → Dr. Birowo kembali menekankan bahwa ERAS adalah keputusan multidisiplin yang melibatkan psikolog, ahli gizi, perawat, dan manajer, serta membutuhkan manajemen rehabilitasi medis dan kerja tim yang erat.

Webinar ditutup oleh Prof. Laksono yang menegaskan bahwa hasil diskusi ini menjadi modal penting bagi pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti di Indonesia. Materi kegiatan dapat diakses melalui mutupelayanankesehatan.net

video webinar

Reporter:
Salwa Nada Agfi Arofah (Divisi Manajemen Mutu, PKMK UGM)

 

 

{/tabs}

 

Hari Pangan Sedunia 2025

Setiap 16 Oktober, diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia yang merupakan bentuk komitmen global untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan dan gizi. Tahun 2025, peringatan hari pangan bertepatan dengan ulang tahun ke-80 Food and Agriculture Organization (FAO) dengan tema “Hand in Hand for Better Foods and a Better Future”. Tema ini menyerukan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan sistem pangan yang berkelanjutan dan inklusif. Melalui tema yang diangkat, FAO menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, masyarakat sipil, dan individu untuk menciptakan sistem pangan yang lebih baik. Sistem pangan yang lebih baik diharapkan dapat mewujudkan akses pangan sehat dan bergizi serta praktik pertanian ramah lingkungan. Secara lebih lanjut, sistem pangan juga diharapkan dapat menjadi inklusif dan berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat, pengurangan pemborosan pangan, dan peningkatan efisiensi rantai pasokan.

Berdasarkan laman website FAO, peringatan Hari Pangan Sedunia 2025 akan diisi dengan berbagai kegiatan. Contohnya seperti peresmian Museum Pangan dan Pertanian FAO di Roma yang bertujuan mendidik masyarakat tentang pentingnya sistem pangan berkelanjutan. Selain itu, diselenggarakan ceramah dan diskusi panel bertema “FoodS FutureS: Conversations for a Better World” untuk membahas masa depan pangan dan pertanian melalui perspektif empat pilar utama FAO. Kegiatan lokal seperti pameran, konser, lomba lari, dan aksi pengumpulan pangan juga dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan ketahanan pangan global di lebih dari 150 negara.

Meskipun bidang pangan pada praktiknya telah menghasilkan banyak banyak kemajuan, masih terdapat tantangan besar dalam mencapai ketahanan pangan termasuk perubahan iklim, konflik, dan ketimpangan ekonomi. Oleh karena itu, Hari Pangan Sedunia 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan sistem pangan yang lebih baik bagi masa depan. Peringatan ini mengingatkan kita akan pentingnya kolaborasi dalam mewujudkan sistem pangan yang berkelanjutan, inklusif, dan adil.

Selengkapnya: https://www.fao.org/world-food-day/en 

 

WHO Tobacco Trends Report: 1 in 5 Adults Still Addicted to Tobacco

The world is smoking less, but the tobacco epidemic is far from over. A new WHO global report shows the number of tobacco users has dropped from 1.38 billion in 2000 to 1.2 billion in 2024. Since 2010, the number of people using tobacco has dropped by 120 million – a 27% drop in relative terms. Yet, tobacco still hooks one in five adults worldwide, fuelling millions of preventable deaths every year.

Continue reading

Peran Tobacco Treatment Specialist (TTS) dalam Mewujudkan Upaya Berhenti Merokok pada Pelayanan Kesehatan Primer

Upaya berhenti merokok menjadi salah satu cara pencegahan keparahan penyakit dan kematian yang efektif bagi perokok. Namun, fakta menunjukkan bahwa hal ini sangat sulit dilakukan. Faktor ketergantungan nikotin, stres, dan kurangnya dukungan menyebabkan upaya berhenti merokok sering gagal. Studi Meyer, Cervenka, Lammers, dan Furst (2022) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kehadiran Tobacco Treatment Specialist (TTS) atau spesialis terapi tembakau di layanan kesehatan primer dapat memberikan dampak besar terhadap keberhasilan pasien dalam berhenti merokok. TTS merupakan tenaga profesional yang memiliki keahlian dan pelatihan khusus untuk membantu individu berhenti merokok melalui pendekatan berbasis bukti ilmiah. TTS tidak hanya memberikan obat-obatan untuk membantu mengatasi ketergantungan nikotin tetapi juga melakukan konseling, menyusun rencana terapi, memberikan edukasi, dan membantu mencegah kekambuhan. Melalui latar belakang pelatihan yang ketat dan sertifikasi nasional, TTS mampu memberikan pendampingan menyeluruh bagi pasien sekaligus menjadi sumber rujukan bagi tenaga medis lain yang ingin memberikan layanan berhenti merokok yang lebih efektif.

Penelitian yang dilakukan oleh Meyer dan rekan-rekannya melibatkan berbagai tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan asisten medis di fasilitas layanan primer. Hasilnya menunjukkan bahwa 85% staf mengetahui keberadaan TTS dan lebih dari setengahnya (55%) telah memanfaatkan perannya dalam praktik klinik. Sebagian besar staf menggunakan layanan TTS untuk rujukan kunjungan lanjutan berhenti merokok (54%) diikuti oleh konsultasi cepat (21%) dan pengelolaan obat (21%). Hampir semua responden menyatakan bahwa keberadaan TTS memberikan manfaat yang signifikan bagi pelayanan terutama karena memungkinkan pasien mendapatkan bimbingan yang lebih fokus dan berkelanjutan tanpa harus dirujuk ke tempat lain. Studi ini juga menemukan bahwa kehadiran TTS dapat membantu meningkatkan indikator kualitas kesehatan terutama pada pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes.

Bagi pasien, kemudahan mendapatkan layanan berhenti merokok di tempat yang sudah dikenal seperti klinik keluarga menjadi nilai tambah tersendiri. Mereka merasa lebih nyaman karena sudah terbiasa dengan staf dan lingkungan klinik. Faktor kedekatan dengan tenaga medis, kemudahan penjadwalan, serta rasa percaya terhadap rekomendasi dokter keluarga membuat mereka lebih termotivasi untuk berhenti merokok. Beberapa pasien bahkan menyebutkan bahwa kehadiran TTS di fasilitas layanan primer membuat proses berhenti merokok terasa lebih mudah karena dukungan yang mereka terima terasa lebih personal dan berkelanjutan. Selain itu, keberadaan TTS bagi tenaga kesehatan juga memberikan manfaat besar. Konsultasi antar profesional yang dapat dilakukan dengan cepat memudahkan pengambilan keputusan terkait terapi dan pengelolaan obat. TTS juga membantu mengurangi beban kerja dokter dan perawat dalam memberikan konseling sekaligus memastikan bahwa pasien menerima intervensi sesuai pedoman berbasis bukti.

Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa integrasi TTS ke dalam layanan kesehatan primer membawa manfaat nyata bagi pasien, tenaga kesehatan, dan sistem pelayanan kesehatan. Kolaborasi multidisiplin yang terbentuk membuat layanan berhenti merokok menjadi lebih efektif, efisien, dan manusiawi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa langkah kecil seperti menghadirkan seorang spesialis dalam lini pertama pelayanan dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan masyarakat dan menjadi contoh yang patut diterapkan di berbagai negara termasuk di Indonesia.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:
https://www.cambridge.org/

BGN: Ada 6.457 Orang Keracunan Menu MBG per 30 September 2025

Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap, sebanyak 6.457 orang terdampak keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) per 30 September 2025. BGN membagi 6.457 korban keracunan MBG itu ke dalam tiga wilayah, yakni Wilayah I yang mencakup Pulau Sumatera, Wilayah II di Pulau Jawa, dan Wilayah III mencakup wilayah Indonesia timur.

Continue reading

Tinjauan Sistematis Kesenjangan Kesehatan dalam Pelayanan Kritis Jantung: Memahami Ketidaksetaraan, Hambatan, dan Jalur Menuju Akses yang Adil serta Hasil yang Lebih Baik

Setiap tanggal 29 September, dunia memperingati Hari Jantung Sedunia (World Heart Day). Peringatan ini menjadi momentum global untuk mengingatkan akan pentingnya menjaga kesehatan jantung. Penyakit jantung dan pembuluh darah atau penyakit kardiovaskular (CVD) masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Menurut data WHO, penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian pada tahun 2022, atau sekitar 32% dari seluruh kematian global. Dari angka tersebut, 85% di antaranya disebabkan oleh serangan jantung (Ischemic Heart Disease) dan stroke. Yang lebih mengkhawatirkan, lebih dari 75% kematian akibat CVD terjadi di negara berpenghasilan menengah dan rendah, termasuk Indonesia.

Penelitian telaah literatur yang dilakukan oleh Abouzid et al. (2024) menyoroti bahwa kesenjangan dalam pelayanan jantung kritis tetap menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan global. Dalam literatur ini, penulis mengumpulkan bukti dari studi antara Januari 2000 hingga Mei 2023 untuk mengidentifikasi disparitas akses dan hasil dari intervensi jantung kritis di berbagai populasi. Mereka menemukan bahwa faktor sosial ekonomi, asuransi, akses geografis, ras dan etnis, hambatan bahasa dan budaya, serta kesenjangan literasi kesehatan berkontribusi signifikan terhadap ketidaksetaraan tersebut.

Salah satu hambatan utama yang diungkap adalah aspek pembiayaan kesehatan: populasi tanpa asuransi atau dengan cakupan asuransi terbatas sering mengalami penundaan diagnosis maupun keterbatasan akses ke tindakan lanjutan. Tercatat bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan rendah atau tinggal di daerah terpencil cenderung sulit menjangkau fasilitas kardiologi khusus atau pusat jantung. Hambatan geografis, termasuk jarak, transportasi, dan infrastruktur yang buruk, juga menjadi penghambat akses terhadap layanan kritis jantung.

Penelitian menunjukkan bahwa variabel ras dan etnis mempengaruhi akses dan hasil perawatan jantung kritis. Beberapa populasi etnis atau ras minoritas dilaporkan memiliki angka mortalitas lebih tinggi atau komplikasi lebih besar dibanding kelompok mayoritas, yang disinyalir karena kombinasi hambatan sistemik dan determinan sosial. Di samping itu, hambatan budaya dan bahasa memperparah situasi ketika pasien atau keluarga tidak memahami bahasa medis atau tidak merasa nyaman berkomunikasi dengan petugas kesehatan.

Disparitas dalam hasil klinis juga menemukan bahwa pasien dari kelompok rentan ini lebih mungkin mengalami hasil yang kurang baik, seperti komplikasi pasca operasi, durasi rawat inap lebih lama, atau kematian yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa bukan hanya akses yang timpang, tapi kualitas dan keberlanjutan layanan juga berbeda menurut latar belakang sosial dan kondisi pasien.

Untuk mengatasi ketidaksetaraan tersebut, para peneliti merekomendasikan intervensi lintas sektor yang mencakup perluasan akses layanan, pengurangan hambatan finansial, dan perluasan cakupan asuransi kesehatan. Pendekatan pelayanan yang berfokus pada pasien (patient-centered) juga dianggap vital, termasuk mendengarkan kebutuhan dan preferensi pasien, serta memperkuat sistem komunikasi antara pasien dan penyedia layanan.

Teknologi juga dianggap sebagai bagian dari solusi, seperti telemedicine dan teknologi jarak jauh, bisa menjembatani kesenjangan akses, terutama bagi pasien yang tinggal jauh dari pusat layanan. Namun, penggunaan teknologi ini harus disesuaikan dengan kondisi lokal dan mempertimbangkan tantangan seperti akses internet, kemampuan menggunakan perangkat, dan kesiapan sistem kesehatan setempat.

Penulis juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut, khususnya studi longitudinal dan riset implementasi, untuk mengevaluasi strategi intervensi yang sudah diterapkan serta dampaknya dalam jangka panjang. Selain itu, keterlibatan pasien dan advokasi kebijakan menjadi penting agar suara kelompok rentan bisa terwakili dalam perumusan strategi pelayanan jantung.

Secara keseluruhan, penelitian ini memperingatkan bahwa meskipun kemajuan teknologi dan medis telah membuka banyak kemungkinan dalam pelayanan jantung kritis, tanpa tindakan proaktif untuk mengatasi hambatan sosial dan sistemik, kemajuan tersebut bisa memperlebar jurang ketidaksetaraan dalam kesehatan jantung di masyarakat global.

Selengkapnya dapat diakses melalui:
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39119413/ 

 

World Leaders Show Strong Support for Political Declaration on Noncommunicable Diseases and Mental Health

World leaders have expressed overwhelming support for the text of the first United Nations global political declaration on responding to noncommunicable diseases (NCDs) and mental health in an integrated manner. The declaration, negotiated during a five-month intergovernmental process, will be considered at the 80th session of the General Assembly for final approval in October 2025.

Continue reading

Pentingnya Menjaga Kualitas Layanan Kesehatan Anak pada Kondisi Kasus Gawat Darurat Kesehatan Mental

Kondisi kesehatan mental anak dan remaja kini telah menjadi perhatian besar di banyak negara. Sayangnya, pengetahuan tentang kualitas layanan kesehatan mental dan pengalaman keluarga dalam perawatan selama periode perawatan masih terbatas. Peningkatan kasus krisis kesehatan mental anak faktanya tidak selalu sejalan dengan ketersediaan tempat perawatan di rumah sakit jiwa. Akibatnya, banyak anak dan remaja yang harus menunggu di unit gawat darurat atau ruang rawat inap rumah sakit umum. Kondisi kekosongan menunggu di unit gawat darurat tersebut disebut mental health boarding. Sebuah penelitian kualitatif oleh McCarty et al. (2022) menyoroti pengalaman orang tua dan tenaga kesehatan dalam menghadapi situasi ini.

Penelitian ini menemukan bahwa masa “boarding” sering kali tidak memberi lingkungan yang benar-benar mendukung pemulihan anak. Seluruh informan baik orang tua maupun dokter memiliki pendapat bahwa pengalaman ini mirip seperti berada di ruang tahanan. Persepsi ini muncul karena informan mengungkapkan bahwa kondisi boarding hanya diisi dengan aktivitas yang terbatas sehingga justru memperburuk kecemasan maupun depresi anak. Penelitian ini juga mengidentifikasi tiga aspek penting yang mempengaruhi kualitas layanan: (1) infrastruktur pelayanan seperti pelatihan tenaga kesehatan, komposisi tim, dan kondisi fisik ruang rawat; (2) proses pelayanan mencakup komunikasi, pembagian peran, serta prosedur yang jelas; dan (3) luaran yang terukur, seperti keselamatan pasien, pengalaman keluarga, status kesehatan mental, kecepatan penanganan, dan beban emosional tenaga kesehatan.

Bagi praktisi kesehatan, temuan ini menjadi pengingat penting untuk menyeimbangkan aspek keselamatan dalam kondisi gawat darurat secara komprehensif. Implikasinya, rumah sakit perlu berinovasi dalam menciptakan lingkungan boarding yang lebih ramah dan terapeutik. Contohnya dapat dilakukan dengan menyediakan ruang aktivitas fisik sederhana yang nyaman serta memperkuat koordinasi antar profesi. Selain itu, komunikasi yang jelas dan konsisten antara tenaga kesehatan dengan keluarga pasien penting dipertimbangkan. Dukungan kebijakan publik dan peningkatan sumber daya di komunitas juga penting agar anak-anak tidak berlarut-larut menunggu perawatan. Penelitian ini memberi pesan jelas: boarding bukan sekadar waktu tunggu melainkan periode kritis yang harus dikelola dengan bijak agar tidak memperburuk kondisi mental anak. Melalui perbaikan kualitas layanan pada masa tunggu, generasi muda dapat terlindungi dari dampak jangka panjang krisis kesehatan mental.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH (Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:
https://shmpublications.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/jhm.12906