Pelatihan Implementasi Value-Based Healthcare (VBHC) untuk Kendali Mutu dan Biaya Rumah Sakit

Pasal 303 UU Kesehatan Tahun 2023 mengamanatkan “Setiap Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan dalam melaksanakan Pelayanan Kesehatan wajib menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya (KMKB) serta memperhatikan keselamatan Pasien”. Berbagai negara dan organisasi kesehatan mulai mengadopsi prinsip-prinsip VBHC sebagai strategi untuk meningkatkan mutu dan efisiensi (KMKB). Value-Based Healthcare (VBHC), yaitu pendekatan yang berfokus pada pencapaian luaran kesehatan terbaik bagi pasien dengan biaya yang efisien. Konsep ini diperkenalkan oleh Michael Porter dan Elizabeth Teisberg pada tahun 2006. 

Salah satu bidang yang mulai menerapkan konsep ini adalah oftalmologi (pelayanan kesehatan mata). Hasil scoping review yang dilakukan oleh Abubakar dkk Tahun 2024 menunjukkan bahwa implementasi VBHC dalam oftalmologi memberikan dampak positif terhadap peningkatan nilai pelayanan bagi pasien serta penurunan biaya pelayanan kesehatan. Untuk itu, perlunya peningkatan pemahaman dan kapasitas tenaga kesehatan, manajer rumah sakit, akademisi, serta pengambil kebijakan mengenai konsep, prinsip, strategi implementasi, dan tantangan penerapan VBHC.

Tujuan

Meningkatkan pemahaman peserta mengenai konsep tata kelola KMKB, VBHC dan implementasinya.

Tujuan Khusus:

  1. Memahami tata kelola kendali mutu dan kendali biaya (KMKB)
  2. Memahami konsep dan implementasi Value-Based Healthcare (VBHC) dalam pelayanan kesehatan

Sasaran

  1. Manajemen rumah sakit: Direktur, Wakil Direktur Pelayanan, Komite Mutu dan Keselamatan Pasien, Komite Medik, Komite Keperawatan, Kepala Bidang Pelayanan Medis, Kepala Bidang Keperawatan, Kepala Instalasi/Kepala Unit RS, Tim Manajemen Risiko, Manajer Pelayanan Pasien (MPP), Tim Akreditasi Rumah Sakit.
  2. Klinisi: dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, serta tenaga kesehatan lainnya.
  3. Akademisi dan mahasiswa bidang manajemen rumah sakit
  4. Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: perguruan tinggi, peneliti, konsultan, dan pihak lain yang memiliki minat dalam pengembangan mutu pelayanan kesehatan.

Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal : Kamis, 13 Agustus 2026
Waktu : 09.00-12.00 WIB

Link Zoom : akan diinformasikan
Meeting ID : akan diinformasikan
Passcode : akan diinformasikan

Narasumber

  • Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., Dr.PH. – Guru Besar Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI
  • Dr. dr. Zulkarnain Abubakar, MARS – Corporate Secretary JEC ORBITA Eye Hospital & Clinics
  • Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS – Peneliti PKMK FK-KMMK UGM

Rundown Kegiatan

Waktu

Agenda

Narasumber/Fasilitator

08.45 – 09.00

Registrasi peserta

Panitia

09.00 – 09.05

Pembukaan

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

09.05 – 09.20

Materi 1:

“Pembelajaran dari Hasil Penelitian PKMK tentang Kendali Mutu dan Kendali Biaya (KMKB) di Rumah Sakit”

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

09.20 – 10.00

Materi 2:

“Tata kelola KMKB di Fasyankes”

Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., Dr.PH.

10.00 – 10.20

Sesi diskusi pertama

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

10.20 – 11.20

Materi 3: “Konsep dan studi kasus implementasi Value-Based Healthcare (VBHC)”

Dr. dr. Zulkarnain Abubakar, MARS

11.20 – 11.55

  • Sesi diskusi kedua
  • Latihan menghitung VBHC

Dr. dr. Zulkarnain Abubakar, MARS

11.55 – 12.00

Penutup

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

 

Biaya & Fasilitas

Biaya pendaftaran:

  • Individu : Rp  420.000,-
  • Kelompok (3 orang) : Rp 1.000.000,-

Link pendaftaran peserta: bit.ly/Reg-PelatihanVBHC 

Fasilitas yang akan didapatkan peserta:

  1. Sertifikat
  2. Materi dalam bentuk pdf
  3. Rekaman

Narahubung

 Helen (085117448499)

 

“Webinar Mutu Corner 5” Bagaimana Organisasi Belajar dari Insiden: Jalan Menuju Perbaikan Sistem Pelayanan

Insiden keselamatan pasien merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pelayanan kesehatan. Berbagai jenis insiden, baik kejadian tidak diharapkan (KTD), kejadian nyaris cedera (KNC), maupun kejadian tidak cedera (KTC), sering terjadi dalam praktik pelayanan sehari-hari. Setiap insiden tersebut pada dasarnya menyimpan informasi penting mengenai kelemahan sistem yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan.

Pada seri sebelumnya, telah dibahas bagaimana cara pandang terhadap insiden serta tantangan dalam pelaporan insiden keselamatan pasien. Namun, pelaporan insiden saja tidak cukup untuk menghasilkan perubahan. Tantangan berikutnya yang sering dihadapi oleh fasilitas pelayanan kesehatan adalah bagaimana mengolah insiden yang telah dilaporkan menjadi pembelajaran yang bermakna dan berujung pada perbaikan sistem pelayanan.

Dalam praktiknya, banyak organisasi pelayanan kesehatan telah memiliki sistem pelaporan dan investigasi insiden, tetapi belum selalu berhasil mengubah pembelajaran yang diperoleh menjadi perubahan yang nyata. Tidak sedikit rekomendasi yang berhenti pada dokumen, rapat evaluasi yang tidak berlanjut pada tindakan, atau pembelajaran yang tidak terdiseminasi secara luas dalam organisasi. Akibatnya, insiden yang serupa dapat kembali terjadi karena akar permasalahan sistem belum ditangani secara efektif.

Pendekatan keselamatan pasien modern menekankan pentingnya pembelajaran organisasi (organizational learning), yaitu kemampuan organisasi untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, serta mengubah pengetahuan tersebut menjadi perbaikan sistem yang berkelanjutan. Organisasi yang mampu belajar dari insiden tidak hanya berfokus pada siapa yang melakukan kesalahan, tetapi juga pada bagaimana sistem dapat diperbaiki agar risiko serupa tidak kembali terjadi.

Membangun organisasi yang mampu belajar dari insiden memerlukan kepemimpinan yang mendukung, budaya yang terbuka terhadap pembelajaran, serta komitmen untuk menjadikan setiap insiden sebagai peluang perbaikan. Oleh karena itu, diperlukan ruang diskusi yang memungkinkan para praktisi dan pemerhati mutu untuk merefleksikan bagaimana organisasi dapat memanfaatkan insiden sebagai pendorong perubahan yang bermakna.

Melalui seri kelima Mutu Corner ini, peserta diharapkan dapat memahami bagaimana organisasi dapat belajar dari insiden dan mengubah pembelajaran tersebut menjadi perbaikan sistem yang berkelanjutan.

Tujuan

Meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya pembelajaran organisasi dalam mengubah insiden keselamatan pasien menjadi perbaikan sistem pelayanan kesehatan.

Tujuan Khusus:

  1. Memahami konsep pembelajaran organisasi (organizational learning) dalam peningkatan mutu dan keselamatan pasien.
  2. Mengidentifikasi tahapan dalam pengelolaan insiden, mulai dari pelaporan, analisis, hingga tindak lanjut perbaikan.
  3. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan insiden yang sama terus berulang di fasilitas pelayanan kesehatan.
  4. Memahami tantangan dalam mengubah hasil pembelajaran dari insiden menjadi perubahan sistem yang berkelanjutan.
  5. Mendorong peserta untuk mengembangkan langkah awal dalam menerjemahkan hasil analisis insiden menjadi perbaikan sistem yang konkret dan berkelanjutan.

Sasaran

  1. Pengelola sarana pelayanan kesehatan: Direktur/Manajer/Ketua Komite Mutu/Kepala Instansi/Kepala Unit RS, Kepala Puskesmas, Pimpinan Balai Kesehatan, serta pimpinan klinik dan sarana pelayanan kesehatan lainnya.
  2. Regulator: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, organisasi profesi, lembaga asuransi/pembiayaan kesehatan (BPJS Kesehatan, asuransi kesehatan swasta/perusahaan), lembaga akreditasi fasyankes, LSM bidang kesehatan, dan sebagainya.
  3. Klinisi: dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, serta tenaga kesehatan lainnya.
  4. Mahasiswa: S1, S2, pendidikan dokter spesialis, S3.
  5. Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: perguruan tinggi, peneliti, konsultan, dan pihak lain yang memiliki minat dalam pengembangan mutu pelayanan kesehatan.

Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal : Jumat, 24 Juli 2026
Waktu : 13.00-15.00 WIB

Link Zoom : akan diinformasikan
Meeting ID : akan diinformasikan
Passcode : akan diinformasikan

Narasumber

  • dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP
    – Konsultan PKMK FK-KMK UGM
  • dr. Yael Esthi Nurfitri Kuncoro, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, FISQua, CRP
    – Ketua Sub Komite Mutu Profesi RS Ken Saras
    – Penyurvei UKP Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
  • Fasilitator: Andriani Yulianti, MPH  (Peneliti PKMK FK-KMK UGM)

Rundown Kegiatan

Waktu

Agenda

Narasumber/Fasilitator

12.45 – 13.00

Registrasi peserta

Panitia

13.00 – 13.15

Pembukaan

Andriani Yulianti, MPH

13.15 – 13.45

Materi 1:

Mengapa Insiden yang Sama Terus Terulang? Perspektif Pembelajaran Organisasi dalam Keselamatan Pasien”

dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP

13.45 – 14.15

Materi 2:

“Dari Pembelajaran ke Perubahan: Pengalaman Mendorong Perbaikan Sistem Pasca-Insiden”

dr. Yael Esthi Nurfitri Kuncoro, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, FISQua, CRP

14.15 – 14.45

Sesi diskusi dan tanya-jawab

Andriani Yulianti, MPH

14.45 – 15.00

Penutup

Andriani Yulianti, MPH

Biaya & Fasilitas

Biaya pendaftaran: Rp 50.000,00.

Link pendaftaran peserta: bit.ly/RegMutuCorner5 

Fasilitas yang akan didapatkan peserta:

  1. Sertifikat
  2. Materi dalam bentuk pdf
  3. Rekaman

Narahubung

Qonita (085117448499)

 

Pelatihan Penerapan dan Pengukuran Patient-Centered Care (PCC) di Fasyankes

patient safety

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 Tahun 2026 tentang Rumah Sakit memberikan sanksi administratif kepada rumah sakit yang menyebabkan kematian pasien atau kerusakan organ. Kondisi tersebut menuntut rumah sakit untuk memperkuat sistem pelayanan yang mampu mencegah risiko keselamatan pasien sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan secara berkelanjutan.

Salah satu pendekatan yang terbukti mendukung peningkatan mutu dan keselamatan pasien adalah PCC, yang menempatkan pasien sebagai pusat dalam setiap proses pelayanan. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan untuk menerapkan dan mengukur PCC sebagai dasar perbaikan mutu dan peningkatan keselamatan pasien.

Tujuan

Meningkatkan pemahaman dan kemampuan peserta dalam mengimplementasikan dan mengukur PCC di Fasyankes.

Tujuan Khusus:

  1. Menjelaskan konsep Patient-Centered Care (PCC) 
  2. Menjelaskan teknis penerapan PCC di Fasyankes
  3. Mengukur PCC di Fasyankes

Sasaran

  1. Manajemen rumah sakit: Direktur, Wakil Direktur Pelayanan, Komite Mutu dan Keselamatan Pasien, Komite Medik, Komite Keperawatan, Kepala Bidang Pelayanan Medis, Kepala Bidang Keperawatan, Kepala Instalasi/Kepala Unit RS, Tim Manajemen Risiko, Manajer Pelayanan Pasien (MPP), Tim Akreditasi Rumah Sakit.
  2. Klinisi: dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, serta tenaga kesehatan lainnya.
  3. Akademisi dan mahasiswa bidang manajemen rumah sakit
  4. Pemerhati mutu pelayanan kesehatan: perguruan tinggi, peneliti, konsultan, dan pihak lain yang memiliki minat dalam pengembangan mutu pelayanan kesehatan.

Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal : Jumat, 24 Juli 2026
Waktu : 09.00-12.00 WIB

Link Zoom : akan diinformasikan
Meeting ID : akan diinformasikan
Passcode : akan diinformasikan

Narasumber

  • Dr. Fridawaty Rivai, S.KM., M.Kes. – Dosen FKM Universitas Hasanuddin, pakar manajemen rumah sakit, mutu pelayanan kesehatan, dan keselamatan pasien
  • Dr. dr. Zulkarnain Abubakar, MARS – Corporate Secretary JEC ORBITA Eye Hospital & Clinics
  • Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS – Peneliti PKMK FK-KMMK UGM

Rundown Kegiatan

Waktu

Agenda

Narasumber/Fasilitator

08.45 – 09.00

Registrasi peserta

Panitia

09.00 – 09.05

Pembukaan

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

09.05 – 09.20

Materi 1:

Patient-Centered Care:
Perspektif Global dari ISQua”

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

09.20 – 10.00

Materi 2.1:

“Konsep Patient-Centered Care (PCC)”

Dr. Fridawaty Rivai, S.KM., M.Kes.

10.00 – 10.50

Materi 2.2:

“Studi Kasus Teknis Penerapan PCC di Fasyankes”

Dr. Fridawaty Rivai, S.KM., M.Kes.

10.50 – 11.40

Materi 3:

“Cara Mengukur PCC di Fasyankes”

Dr. dr. Zulkarnain Abubakar, MARS

11.40 – 11.55

Sesi diskusi dan tanya-jawab

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

11.55 – 12.00

Penutup

Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep, MPH, CQIPS

 

Biaya & Fasilitas

Biaya pendaftaran:

  • Individu : Rp 420.000,-
  • Kelompok (3 orang) : Rp 1.000.000,-

Link pendaftaran peserta: bit.ly/Reg-PelatihanPCC  

Fasilitas yang akan didapatkan peserta:

  1. Sertifikat
  2. Materi dalam bentuk pdf
  3. Rekaman 

Narahubung

Helen (085117448499)

 

Reportase ApHaH 2026: The First Asia Pacific Hospital at Home Congress – Hari 2

REPORTASE

ApHaH 2026:
The First Asia Pacific Hospital at Home Congress

Taiwan, 27-28 Juni 2026

From Knowledge to Collaboration

Table of Contents

Pembukaan

UGM-Yogyakarta. Pada hari 2 kongres pagi hari dilakukan Deklarasi Asia Pacific Hospital at Home di Taiwan (28/6/2026). Dari Jepang, Taiwan, Singapura, Australia, HongKong, dan negara-negara yang sudah mempunyai society dan asosiasi hadir. Memang namanya bervariasi, ada yang asosiasi dan ada yang society. Deklarasinya sebagai berikut:

Negara-negara di Asia Pasifik menghadap situasi dengan semakin menuanya masyarakat, semakin meningkatnya beban penyakit kronis, dan tekanan pada pelayanan yang berkelanjutan. Situasi ini menjadi  sangat penting untuk membayangkan kembali infrastruktur pelayanan klinis. COVID-19 telah menunjukkan betapa rapuhnya pelayanan kesehatan yang berorientasi ke rumah sakit. Kesemuanya ini mempercepat transisi ke arah patient-centre, serta pelayanan berbasis masyarakat di semua negara. Hospital at Home merupakan model inovatif yang memberikan pelayanan kesehatan level akut ke rumah-rumah pasien.  Dalam pertemuan ini telah didemonstrasikan berbagai kegiatan dalam memperkuat aksesibilitas pelayanan kesehatan, meningkatkan mutu dan keberlanjutan pelayanan, serta  meringankan beban sistem kesehatan.

Tagline yang diangkat dalam deklarasi ini:

H: Hospital at Home as a Pillar of System Resilience
E: Equity and Clinical Appropriateness
A: Advancing Evidence Based and Patient Centered Decision
L: Leveraging Technology and Home-Based Integration
T: Transdisciplinary and Cross Sector Collaboration
H: Harnessing Sustainable Financing and Policy Framework.

Selanjutnya dirumukan kebulatan tekad untuk meningkatkan kerjasama antar negara di Asia Pasifik, membagi pengalaman dan praktek terbaik, meningkatkan riset, mengembangkan kebijakan melalui dialog. Bersama kita bertujuan untuk mengembangkan Hospital at Home dan pelayanan kesehatan di rumah untuk mencapai status kesehatan yang lebih baik dan meningkatkan martabat manusia .

Deklarasi ini kemudian di tandatangani oleh  society dan asosiasi dari berbagai negara di Asia Pasifik dan Menteri Kesehatan  dan Kesejahteraan Taiwan.

Reporter:
Prof Laksono Trisnantoro

 

Keynote Session 1

 

The New Blueprint for Home Healthcare in Taiwan: Transformasi Sistem Pelayanan Kesehatan Menuju Hospital at Home

Chung-Liang Shih, MD, PhD
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan
The 1st Asia-Pacific Hospital at Home Congress, Taipei, 28 Juni 2026

Taiwan tengah menjalani transformasi besar dalam sistem pelayanannya sebagai respons terhadap perubahan demografi yang sangat cepat. Dalam presentasinya yang berjudul “The New Blueprint for Home Healthcare in Taiwan”, Dr. Chung-Liang Shih menjelaskan bagaimana negara tersebut membangun paradigma baru pelayanan kesehatan yang tidak lagi berpusat di rumah sakit, melainkan berpindah ke rumah dan komunitas melalui konsep Hospital at Home.

Berangkat dari Tantangan Masyarakat Super Lansia

Presentasi diawali dengan gambaran mengenai perubahan struktur penduduk dunia yang menunjukkan peningkatan populasi lanjut usia secara signifikan. Taiwan menjadi salah satu negara dengan proses penuaan penduduk tercepat di dunia. Setelah memasuki fase aging society pada tahun 1993 dan aged society pada tahun 2018, Taiwan resmi memasuki era super-aged society pada tahun 2025, ketika lebih dari 20 persen penduduknya berusia 65 tahun atau lebih.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Taiwan, tetapi juga menjadi tantangan global. Diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia di dunia akan melampaui 2,2 miliar orang pada akhir abad ini. Bersamaan dengan itu, penyakit tidak menular menyumbang sekitar 75 persen kematian global, sementara kebutuhan tenaga kesehatan diproyeksikan meningkat drastis hingga terjadi kekurangan lebih dari 11 juta tenaga kesehatan pada tahun 2030.

Perubahan tersebut menuntut sistem kesehatan yang lebih tangguh, efisien, dan mampu mempertahankan kualitas pelayanan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Healthy Taiwan Vision: Tidak Hanya Hidup Lebih Lama, tetapi Lebih Sehat

Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Taiwan meluncurkan visi nasional Healthy Taiwan yang memiliki dua sasaran utama.
Pertama, meningkatkan angka harapan hidup masyarakat hingga mencapai 82 tahun. Kedua, menurunkan proporsi unhealthy life expectancy, yaitu masa hidup yang dijalani dalam kondisi sakit atau disabilitas, dari 9,4 persen menjadi 8 persen. Dengan demikian, keberhasilan sistem kesehatan tidak lagi diukur semata-mata dari bertambahnya usia harapan hidup, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk tetap sehat, mandiri, dan produktif selama proses menua. Perbandingan dengan berbagai negara menunjukkan bahwa Taiwan telah memiliki angka harapan hidup yang tinggi, namun masih menghadapi tantangan dalam mengurangi jumlah tahun kehidupan yang dijalani dengan penyakit kronis atau keterbatasan fungsional.

Lima Strategi Utama Reformasi Sistem Kesehatan

Untuk mewujudkan visi tersebut, Taiwan menjalankan lima strategi utama. Strategi pertama adalah memperkuat promosi kesehatan dan pengendalian penyakit tidak menular melalui pendekatan pencegahan. Strategi kedua adalah mengembangkan pelayanan kesehatan berbasis komunitas yang terdesentralisasi sehingga masyarakat memperoleh layanan lebih dekat dengan tempat tinggalnya. Strategi ketiga adalah melakukan reformasi sistem pembayaran menuju value-based payment, sehingga pembiayaan lebih menekankan pada hasil pelayanan dibandingkan volume pelayanan.

Dua strategi pendukung lainnya adalah memperkuat ketahanan industri farmasi dan biomedis, serta mempercepat transformasi digital yang disertai penguatan keamanan siber. Seluruh strategi tersebut diarahkan untuk membangun sistem kesehatan yang lebih resilien dan berorientasi pada luaran kesehatan masyarakat.

Dari Hospital-Centered Menuju Home-Centered Care

Perubahan paling mendasar dalam blueprint Taiwan adalah transformasi model pelayanan kesehatan. Jika sebelumnya pelayanan akut hampir seluruhnya diberikan di rumah sakit, maka kini pelayanan secara bertahap dipindahkan menuju rumah pasien dan komunitas. Transformasi ini diwujudkan melalui tiga kelompok layanan utama.

Pertama, peningkatan efisiensi pelayanan rumah sakit melalui berbagai program seperti Outpatient Parenteral Antimicrobial Therapy (OPAT) dan Enhanced Recovery After Surgery (ERAS). Kedua, pengembangan pelayanan holistik yang mencakup telehealth, pelayanan penyakit kronis, program dokter keluarga, serta layanan terintegrasi berbasis komunitas. Ketiga, perluasan layanan Home Healthcare, termasuk Acute Care at Home (ACAH), home dialysis, dan home hospice care. Dengan pendekatan ini, rumah sakit tetap menjadi pusat keahlian medis, tetapi sebagian pelayanan berpindah ke rumah pasien sehingga kontinuitas pelayanan dapat dipertahankan dengan lebih baik.

Perjalanan Panjang Home Healthcare di Taiwan

Dr. Shih menjelaskan bahwa pengembangan pelayanan kesehatan di rumah bukanlah program yang muncul secara tiba-tiba. Sejak diberlakukannya National Health Insurance (NHI) pada tahun 1995, Taiwan telah memberikan pembiayaan untuk layanan medis di rumah.

Perkembangannya berlangsung secara bertahap. Pada tahun 2016 diperkenalkan Integrated Home Healthcare Program yang mendorong pelayanan multidisiplin berbasis tim. Tahun 2019 dilakukan perluasan cakupan pelayanan, termasuk layanan gawat darurat, transitional care, serta pelayanan farmasi. Tonggak penting berikutnya adalah peluncuran Acute Care at Home Pilot Program pada Juli 2024 yang menjadi implementasi awal konsep Hospital at Home.

Pada tahun 2025, program kembali diperluas dengan layanan home hemodialysis. Seiring perkembangan tersebut, jumlah kunjungan pelayanan kesehatan di rumah meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun.

Acute Care at Home sebagai Alternatif Rawat Inap

Program Acute Care at Home (ACAH) menjadi inti transformasi pelayanan akut di Taiwan. Program ini memberikan alternatif bagi pasien yang sebelumnya harus menjalani rawat inap meskipun kondisi klinisnya relatif stabil. Pasien dengan pneumonia, infeksi saluran kemih, infeksi kulit dan jaringan lunak, maupun beberapa penyakit infeksi lainnya dapat memperoleh terapi akut di rumah dengan supervisi tenaga kesehatan.

Model pelayanan melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas dokter, perawat, apoteker, dan profesi kesehatan lainnya. Pelayanan didukung oleh telemedicine, kunjungan rumah, konsultasi penyakit infeksi, pusat layanan 24 jam, serta mekanisme rujukan cepat apabila kondisi pasien memburuk.

Pendekatan ini memberikan berbagai keuntungan, antara lain mengurangi risiko infeksi nosokomial, meningkatkan kenyamanan pasien, menurunkan kepadatan rumah sakit, serta mempercepat proses pemulihan. Hingga Maret 2026, program ACAH telah melibatkan sekitar 190 tim pelayanan dari 862 institusi kesehatan, dengan sebagian besar penyedia berasal dari klinik pelayanan primer.

Sebanyak lebih dari 7.200 pasien telah mengikuti program, dan sekitar 89 persen berhasil menyelesaikan terapi di rumah tanpa memerlukan rawat inap lanjutan. Rata-rata lama perawatan hanya sekitar 7,2 hari, jauh lebih singkat dibandingkan perawatan konvensional yang berkisar 11–15 hari.

Biaya pelayanan juga hampir 50 persen lebih rendah dibandingkan rawat inap biasa. Keberhasilan tersebut mendorong pemerintah meningkatkan berbagai tarif pelayanan mulai Mei 2026, termasuk kunjungan perawat, pelayanan farmasi rumah, serta pemeriksaan laboratorium dan radiologi berbasis point-of-care.

Menjamin Mutu melalui Early Supported Discharge

Selain pelayanan akut di rumah, Taiwan juga mengembangkan model Early Supported Discharge (ESD). Program ini memungkinkan pasien pulang lebih awal setelah kondisi akutnya stabil, kemudian melanjutkan perawatan di rumah dengan dukungan tenaga kesehatan. ESD dilengkapi dengan standar lama perawatan untuk berbagai diagnosis, sistem pembayaran yang jelas, indikator mutu, serta insentif bagi fasilitas kesehatan yang mampu mempertahankan kualitas pelayanan. Prinsip utamanya adalah memastikan setiap pasien memperoleh pelayanan yang tepat, di tempat yang tepat, dan pada waktu yang tepat.

Menyiapkan Masa Depan Home Healthcare

Taiwan tidak berhenti pada pelayanan akut. Pemerintah sedang mengembangkan berbagai inovasi baru, salah satunya Home-Based Chemotherapy, yang memungkinkan pasien kanker tertentu menjalani kemoterapi di rumah secara aman melalui pemantauan telemedicine, pemantauan tanda vital jarak jauh, kunjungan perawat, serta dukungan tim multidisiplin.

Di sisi lain, Taiwan juga memperkuat kompetensi tenaga kesehatan melalui program sertifikasi nasional bagi dokter, perawat, apoteker, dan profesi lainnya yang terlibat dalam Hospital at Home. Langkah ini diharapkan berkembang menjadi subspecialty resmi sehingga menjamin kualitas pelayanan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Transformasi Digital sebagai Fondasi

Seluruh model pelayanan tersebut didukung oleh transformasi digital. Melalui Virtual National Health Insurance Card, masyarakat dapat melakukan registrasi, konsultasi daring, memperoleh resep elektronik, hingga melakukan pembayaran secara digital. Taiwan juga membangun Home Care Services Information Platform, yaitu platform nasional yang mengintegrasikan data rumah sakit, layanan primer, pelayanan kesehatan di rumah, dan layanan perawatan jangka panjang. Integrasi data ini memungkinkan koordinasi pelayanan berlangsung lebih cepat, memudahkan pemantauan pasien secara real time, serta mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih akurat.

Kesimpulan

Presentasi Dr. Chung-Liang Shih menunjukkan bahwa keberhasilan Hospital at Home tidak hanya bergantung pada penyediaan layanan medis di rumah. Taiwan membangun transformasi secara menyeluruh melalui reformasi pembiayaan, pengembangan tenaga kesehatan, digitalisasi layanan, integrasi lintas sektor, serta penyusunan kebijakan nasional yang konsisten.

Blueprint ini menggambarkan perubahan paradigma dari sistem kesehatan yang berorientasi pada rumah sakit menuju sistem pelayanan yang lebih terintegrasi, berpusat pada pasien, dan mampu memberikan pelayanan akut secara aman di rumah. Pengalaman Taiwan memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara lain di kawasan Asia-Pasifik yang mulai mengembangkan Hospital at Home sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan di tengah meningkatnya tantangan masyarakat menua.

Reporter:
Lutfan Lazuardi

 

Keynote Session 2

 

Home-based Care Ecosystem- Global Trends and Future Challenges 

Jika sesi-sesi sebelumnya banyak menampilkan pengalaman implementasi dari berbagai rumah sakit, keynote ini memberikan perspektif yang lebih luas mengenai arah masa depan Hospital at Home (HaH). Berangkat dari pengalamannya sebagai dokter geriatri, dr. Bruce Leff menceritakan bahwa saat menjadi residen di John Hopkins Hospital ia sering melakukan kunjungan rumah. Pengalaman tersebut membangun keyakinannya bahwa pelayanan kesehatan akan jauh lebih efektif jika pasien – bukan rumah sakit – yang menjadi pusat pelayanan.

dr. Bruce Leff

Pengalaman tersebut kemudian diperkuat oleh berbagai bukti ilmiah. Menurutnya, pelayanan berbasis rumah mampu menurunkan biaya yang sebenarnya dapat dicegah, mengurangi kejadian tidak diinginkan selama perawatan, serta menghasilkan luaran klinis yang lebih baik. Momentum Pandemi COVID-19 makin mempercepat perkembangan HaH, terutama ketika sistem pembiayaan mulai mendukung, dimana pelayanan di rumah dianggap setara dengan rawat inap konvensional yang dilakukan di rumah sakit. Bahkan dr. Bruce Leff menyebutkan bahwa, jika HaH adalah obat, maka ia akan menjadi blockbuster drug.

Dari model tersebut, dr. Bruce Leff membayangkan visi pelayanan kesehatan di masa depan. Sistem pelayanan rumah sakit di masa depan akan berfokus pada layanan yang benar-benar membutuhkan teknologi tinggi, seperti kegawatdaruratan, tindakan bedah, dan perawatan intensif. Sebaliknya, sebagian besar pelayanan kesehatan justru berpindah ke komunitas dan rumah pasien. Ia menekankan bahwa Hospital at Home bukanlah tujuan akhir, melainkan fondasi untuk membangun sistem kesehatan yang lebih berpusat pada pasien, lebih efisien, dan mampu menghadapi tantangan masyarakat yang semakin menua. Namun, transformasi tersebut membutuhkan perubahan budaya organisasi, kepemimpinan yang kuat, serta reformasi sistem pembiayaan karena perubahan perilaku institusi kesehatan tidak dapat terjadi secara instan. 

 

Moderator: dr. Ping-Jen Chen

Bagi Indonesia, gagasan ini memberikan perspektif bahwa pengembangan Hospital at Home sebaiknya tidak dimulai sebagai layanan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari pembangunan ekosistem pelayanan kesehatan berbasis rumah. Disinilah tatangan terbesarnya: meningkatnya populasi lansia, tingginya beban penyakit kronis, keterbatasan kapasitas rumah sakit, sistem pembiayaan, serta kebutuhan untuk integrasi layanan kesehatan dengan transformasi digital dan dukungan sosial di masyarakat. Pesan penting dr. Bruce Leff adalah bahwa keberhasilan Hospital at Home tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau kemampuan klinis, tetapi juga oleh kebijakan pembiayaan, kepemimpinan, koordinasi lintas sektor, dan keberanian mengubah paradigma pelayanan dari hospital-centered care menjadi person-centered care. Pesan ini sangat penting bagi Indonesia yang sedang mulai mencari model pelayanan yang mampu menjawab tantangan peningkatan penyakit kronis, penuaan penduduk, sekaligus keterbatasan kapasitas dan pendanaan RS.

Reporter:
Putu Eka Andayani

 

1st APHaH Congress Hari Kedua Sesi 3


Asia-Pacific Home Care Development Roundtable Forum: Membangun Masa Depan Hospital at Home di Asia Pasifik

Sesi Asia-Pacific Home Care Development Roundtable Forum yang dimoderatori oleh Dr. Sang-Ju Yu dan Dr. Ping-Jen Chen menghadirkan para pakar dari Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Australia, dan Amerika Serikat untuk berbagi perkembangan serta arah pengembangan Hospital at Home (HaH) di masing-masing negara. Meskipun setiap negara memiliki sistem kesehatan dan tantangan yang berbeda, seluruh narasumber sepakat bahwa keberhasilan Hospital at Home bergantung pada penguatan bukti ilmiah, tata kelola, pembiayaan yang berkelanjutan, serta integrasi ke dalam sistem kesehatan nasional.

Dr. Okino (Jepang) menjelaskan bahwa pengembangan Hospital at Home di Jepang masih menghadapi tantangan berupa belum kuatnya landasan hukum sehingga masyarakat masih cenderung memilih perawatan di rumah sakit. Selain itu, meningkatnya jumlah lansia yang hidup sendiri menyebabkan kebutuhan terhadap caregiver menjadi semakin besar. Ke depan, Jepang memprioritaskan standarisasi pelayanan, peningkatan edukasi, perluasan akses layanan, dukungan keluarga, reformasi sistem, serta penguatan penelitian dan kolaborasi untuk menghasilkan bukti ilmiah yang mendukung pengembangan ekosistem Hospital at Home.

Prof. Hyejin Lee (Korea Selatan) memaparkan bahwa pengembangan home-based medical care di Korea difokuskan pada penguatan model pelayanan berbasis bukti, peningkatan cakupan layanan dan kapasitas sumber daya manusia, serta reformasi sistem dan integrasi layanan agar Hospital at Home dapat menjadi bagian dari pelayanan kesehatan yang berkesinambungan.

Dr. Sang-Ju Yu (Taiwan) menjelaskan bahwa layanan home-based care di Taiwan telah berkembang sejak program visiting nurse care pada 1995 dan kemudian diperluas ke layanan paliatif di rumah. Namun, hingga saat ini data pelayanan home-based care masih tersebar pada berbagai sektor pelayanan, seperti rawat jalan, rawat inap, dan instalasi gawat darurat. Taiwan kini terus mengembangkan arah kebijakan agar pelayanan berbasis rumah dapat menjadi bagian yang lebih terintegrasi dalam sistem kesehatan nasional.

Dr. Lai Yi Feng (Singapura) menekankan bahwa keberlanjutan Hospital at Home sangat bergantung pada model pendanaan yang didukung oleh bukti ilmiah dari implementasi nyata (real-world use cases). Selain itu, tata kelola, sistem monitoring dan evaluasi perlu terus diperkuat untuk mempercepat adopsi layanan. Tujuan akhirnya adalah memastikan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang tepat tanpa harus selalu datang ke rumah sakit.

Dr. James Pollard (Australia) memaparkan bahwa implementasi Hospital at Home di Australia masih menghadapi variasi antar wilayah, seperti perbedaan akses terhadap instalasi gawat darurat, jalur pemulangan pasien, dan mekanisme rujukan yang masih bergantung pada keputusan klinisi. Untuk menjawab tantangan tersebut, Australia terus memperkuat kebijakan dan investasi serta mengembangkan kerangka pelayanan yang mencakup pengganti rawat inap akut (acute admitted substitution), pencegahan rawat inap (admission avoidance), virtual ward, pelayanan subakut di rumah, serta pemantauan penyakit kronis. Ke depan, arah pengembangan ditujukan menuju konsep virtual hospital dengan jalur pelayanan yang lebih terintegrasi, semakin mampu menangani kasus akut, dan memiliki standar pelayanan yang seragam.

Dr. Bruce Leff (Amerika Serikat) menyoroti bahwa keberlanjutan Hospital at Home dipengaruhi oleh struktur sistem kesehatan, kondisi demografi, serta dukungan dari kalangan akademik dan pembuat kebijakan. Beliau menjelaskan bahwa sebagian besar biaya rumah sakit berasal dari investasi infrastruktur tetap (fixed cost), sedangkan pada Hospital at Home biaya lebih banyak dialokasikan langsung untuk pelayanan pasien (variable patient cost). Untuk memperkuat implementasi di masa depan, Hospital at Home perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan dokter residen dan program pelatihan tenaga kesehatan, sehingga kompetensi implementasi dapat dibangun sejak tahap pendidikan profesional.

Diskusi ini menunjukkan bahwa meskipun setiap negara berada pada tahap perkembangan yang berbeda, terdapat kesamaan arah pengembangan Hospital at Home, yaitu membangun model pelayanan yang didukung oleh bukti ilmiah, pembiayaan yang berkelanjutan, tata kelola yang kuat, sumber daya manusia yang kompeten, serta integrasi yang semakin erat dengan sistem kesehatan nasional.

Reporter:
Hanifah Wulandari

 

Bagian 1: Memahami ekosistem Hospital at Home dengan perspektif kesehatan

Menggambarkan apa yang disebut dengan pelayanan di rumah tidak mudah. Namun satu hal yang sangat penting.  Jenisnya sangat bervariasi. Dalam kongres di Taiwan ini tidak ada keharusan untuk menggunakan satu definisi untuk Hospital at Home. Namun ada yang memetakan spektrum pelayanan kesehatan di rumah dengan cukup detil. Dalam diagram di bawah ini ada berbagai jenis pelayanan kesehatan di rumah (Leff 2026).

Dengan model ini, ada banyak jenis pelayanan kesehatan di rumah. Berbagai pengalaman empiric yang disajikan dalam bentuk poster menunjukkan spektrum yang luas dari  pelayanan kesehatan di rumah. Di masa depan, terlalu berisiko apabila suatu negara mengandalkan pelayanan hanya di RS secara tradisional.  Jumlah tempat tidur akan sulit menampung demand dan biaya yang sangat besar dalam operasionalnya. Pihak asuransi kesehatan/jaminan kesehatan juga akan kesulitan untuk membayar.

Dalam konteks Indonesia, kebutuhan tempat tidur rawat inap di terus melonjak, namun RS  dibatasi oleh batas maksimal pembangunan fisik dan keterbatasan dana untuk membangun. Model bisnis rumah sakit tradisional (brick and mortar) membutuhkan ke hati-hatian para pengelola arus kas RS. Tempat tidur konvensional menyedot postur anggaran yang berisiko, yakni 70% Capital Expenditure (CapEx) dan 30% Operational Expenditure (OpEx). Bagaimana dengan opsi menambah tempat tidur di luar RS. Pengalaman di Singapura dibahas di APHaH Congress ini. Implementasi MIC@Home (Mobile Inpatient Care at Home) secara radikal membalikkan struktur biaya institusi menjadi 20% CapEx dan 80% OpEx. Pertanyaannya apakah pelayanan Kesehatan di rumah akan meningkat? Hal ini yang menjadi pertanyaan besar di Taiwan.

Namun membuat sebuah pelayanan kesehatan di rumah tidaklah mudah. Banyak hal detil yang harus dipikirkan. Gambaran ekosistem di bawah ini menunjukkan betapa rumitnya sebuah pelayanan kesehatan di rumah. Tidak boleh asal membuat.

Berdasarkan ekosistem dengan perspektif kesehatan,  pasien yang berada di rumah menjadi pusat ekosistem pelayanan Kesehatan. Terlihat dalam ekosistem ini ada masalah medik,  kerumitan pelayanan kesehatan, data/informasi, sumber daya manusia, penjagaan mutu, sampai ke pendanaan dan pemberian pembayaran untuk petugas. Cara menggambarkan ekosistem ini sangat bagus untuk melihat bagaimana pelayanan Kesehatan di rumah berjalan. Namun penggambaran ekosistem seperti ini belum mampu memberikan Gambaran mengenai situasi makro dan kebijakan public mengenai pelayanan Kesehatan di rumah.

 

Bagian 2: Refleksi untuk Indonesia: Ekosistem Hospital at Home dengan Perspektif Industri

Setelah mengikuti kegiatan di Taiwan ada refleksi yang saya dapatkan. Ekosistem Home Health Care/Hospital at Home di Indonesia dapat dianalisis melalui pendekatan industri yang berbeda dengan deskripsi ekosistem diatas.  Mengapa? Pelayanan Kesehatan di rumah berada di sebuah ruang makro yang rumit dengan berbagai kebijakan public yang berbeda antar negara. Pendanaan pelayanan kesehatan di rumah menjadi salahsatu kunci yang menentukan ekosistem pelayanan kesehatan di rumah.  Ada negara yang tinggi kemampuan keuangannya, dan ada yang rendah.

Apa yang disampaikan oleh Presiden Taiwan saat membuka 1st Asia Pacific Congress in Hospital at Home mengenai pendanaan pemerintahnya yang kuat untuk Hospital Care di rumah merupakan suatu komitmen politik pemerintah. Komitmen ini dapat didukung secara finansial karena Taiwan merupakan negara yang mempunyai ekonomi kuat. Pendapatan per kapita (PDB per kapita) Taiwan jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Pada tahun 2026, PDB per kapita nominal Taiwan diproyeksikan mencapai US$45.610 (sekitar Rp725 juta), sementara PDB per kapita nominal Indonesia berada di angka US$5.362 (sekitar Rp85 juta)

Namun juga disebutkan bahwa sebagian anggota masyarakat harus bertanggung-jawab. Peserta dari Australia juga menyatakan walaupun dana untuk  pelayanan Kesehatan di rumah sebagian besar dari pemerintah, namun masyarakat harus tetap membayar persentase tertentu. Taiwan dan Australia adalah negara kaya.  Pendapatan per kapita Australia saat ini berada di kisaran USD 65.000 hingga USD 67.000 per tahun. Bagaimana di Indonesia?

Di Indonesia pelayanan kesehatan di rumah saat ini tidak didanai oleh BPJS atau pemerintah. Sejak BPJS berjalan di tahun 2014. Hal ini dapat dipahami karena kemampuan keuangan BPJS tidak memungkinkan, dan dana pemerintah tidak ada. Artinya pendanaan memang benar-benar diserahkan sebagian besar ke masyarakat. Dari BPJS ada obat yang dapat diambil di RS atau di Puskesmas. Namun biaya SDM dan fasilitas kesehatan tetap dari masyarakat.  Dalam situasi yang tidak ideal ini, mau tidak mau akan terjadi pelayanan kesehatan di rumah yang berdasarkan prinsip pasar. Ada demand dari masyarakat mampu dan supply.

Oleh karena itu penggambaran ekosistem dengan menggunakan Porter dapat dilakukan dengan berbagai modifikasi, terkait pendanaan yang berasal dari pemerintah dan filantropi. Jadi pendanaan tidak harus dari Masyarakat saja, namun ada kemungkinan pemerintah daerah yang mampu, dikombinasikan dengan dana filantropi akan membuat pelayanan Kesehatan di rumah berjalan. Dibawah ini ada prinsip Porter yang dimodifikasi dengan masuknya pendanaan dari pemerintah atau filantropi. Akan tetapi secara keseluruhan masih bertumpu pada pasar karena memang terbukti selama 12 tahun ini tidak ada pendanaan dari BPJS dan pemerintah.

Gambar 1: Model Industri Porter

 

Pengguna

Pertama adalah mengenai Pengguna . Dalam hal ini, pengguna layanan Kesehatan di rumah terbagi menjadi masyarakat mampu yang membeli sendiri dan tidak mampu yang didanai pihak lain. BPJS belum berperan. Terjadinya kegiatan ini dapat diterangkan dengan pendekatan Needs and Demand. Ada Needs (kebutuhan) medik yang ditentukan oleh dokter untuk mendapatkan pelayanan di rumah. Namun membutuhkan dana agar menjadi Demand (Permintaan). Tidak semua Masyarakat mempunyai dana yang membuat menjadi Demand.

Masyarakat mampu:

Masyarakat mampu merubah Need menjadi Demand dengan cara membeli melalui Out-of-Pocket. Untuk asuransi Kesehatan swasta saat ini belum ada skema yang memberi perlindungan untuk pelayanan Kesehatan di rumah.  Dengan kemampuan membayar (ablilty to pay) masyarakat mampu dapat membeli pelayanan kesehatan di rumah secara menyeluruh. Saat ini di berbagai daerah di Indonesia sudah terjadi kegiatan ekonomi untuk pelayanan kesehatan di rumah bagi masyarakat mampu.

 Demand  dari masyarakat mampu ini akan direspon dengan penyediaan jasa oleh  RS-RS yang kompeten dalam menangkap peluang usaha ini. Tentunya menggunakan strategi pengembangan produk baru yang bersifat differensiasi. Bagaimana memenuhi kebutuhan medik dan kenyamanan masyarakat mampu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah.

Masyarakat tidak mampu.

Bagi masyarakat tidak mampu ada kesulitan dalam merubah Need menjadi Demand. Mendapatkan pelayanan Kesehatan di rumah membutuhkan dana untuk membiayai berbagai kebutuhan pelayanan. Dana ini tidak mungkin di dapat dari keluarga. Oleh karena itu biaya diharapkan berasal dari pemerintah daerah yang mempunyai kemampuan fiscal, dan/atau sumber dana filantropi. Paper Trisnantoro dkk di Taiwan memperlihatkan hal ini.

Apa yang menjadi Need (kebutuhan) medik?

Pembeli atau penyandang dana menyerahkan dana ke penyedia jasa karena memang ingin sembuh. Dengan demikian ada berbagai masalah penyakit yang dapat diatasi dengan Hospital at Home. Atau masa menjelang kematian (end of life) yang dapat dilalui dengan lebih baik melalui pelayanan Hospital at Home. Berbagai isu di sini di bahas dalam Sesi-Sesi diskusi dan Poster.

 

Persaingan antar Pelaku

Siapa Pelaku industry yang kompetitif ini. Para pelaku adalah RS-RS dan klinik-klinik yang menyelenggarakan pelayanan home-care. Dalam hal ini tidak ada persaingan dengan RS di luarnegeri karena memang perawatannya di rumah. Dalam konteks hubungan dengan pembeli, pelaku (operator RS atau KLinik) penyediaan jasa pelayanan Kesehatan di rumah dapat di bagi menjadi 2: (1) melayani pembeli mampu; dan (2) melayani pembeli tidak mampu. Persaingan antar pemberi pelayanan terjadi secara local. Factor jarak  antara RS dan klinik dengan Rumah pasien sangat berpengaruh dalam konteks perawatan di rumah. Paper dari Singapura menunjukkan bahwa Singapura dibagi-bagi dalam berbagai wilayah untuk home-care.

Produk substitusi

Ada produk susbtitusi  berupa pelayanan tidak resmu. Pelayanan tidak resmi ini (bisik-bisik) dari staf RS yang menyediakan pelayanan setelah discharge. Seperti kita ketahui banyak RS belum memberikan pelayanan Kesehatan di rumah secara terintegrasi.  Pelayanan di rumah bagi pasien yang dipulangkan dalam bentuk belum sembuh secara baik dilakukan oleh sekelompok staf RS secara informal (bisik-bisik).

Ancaman potensial

  • Peluang untuk pasar Home care dari jaringan pelayanan luar negeri.
  • Perusahaan-perusahaan khusus untuk pelayanan di rumah berupa klinik-klinik swasta yang bergerak.

Supply

Secara garis besar sisi supply untuk membuat RS-RS dan klinik dapat memberikan pelayanan dibagi menjadi 2: (1) Sumber Daya Manusia; dan (2) Bahan dan fasilitas.

Sumber Daya Manusia

Apakah tersedia tenaga dokter, perawat, social workers, psikolog klinis yang kompeten dalam pelayanan Kesehatan di rumah? Ini tergantung dari Kolegium Dokter Keluarga, Kolegium Perawat Rumah, dll. Tempat-tempat Pendidikan SDM.

Fasilitas dan Peralatan

Dalam konteks pembeli yang mampu dan yang didanai pihak lain, jenis supply dapat bervariasi. Sebagai Gambaran tempat tidur di rumah sapat berupa tempat tidur RS yang sederhana dengan engkol, atau yang menggunakan mesin. Demikian juga dengan obat-obatan dan gizi. Pertemuan di Taiwan banyak membahas situasi supplier di sini dengan dukungan teknologi IT.

Kebijakan Pemerintah

Satu hal lagi adalah kebijakan pemerintah yang mengatur industry pelayanan Kesehatan di rumah. Hal ini terkait dengan kematangan pemerintah dan Masyarakat menangani hal ini.  Kematangan ini didorong oleh fakta demografi dengan adanya Super-Aged Community. Masyarakat yang didominasi oleh orang-orang usia sangat tua. Jepang merupakan negara yang mengalami perjalanan Sejarah panjang dalam menangani pelayanan Kesehatan di rumah. Demikian juga Taiwan. Namun banyak negara belum mempunyai aturan yang jelas mengenai pelayanan Kesehatan. Di berbagai negara ada pendekatan Sandbox untuk membangun kebijakan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan di rumah.

Di Taiwan, kebijakan pemerintah sudah jelas dan dipaparkan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan. Kebijakan ditetapkan berdasarkan bukti dengan menggunakan berbagai Pilot program seperti ACAH (Acute Care at Home). Pilot program ini memcakup perubahan insentif pembayaran agar berjalan dengan baik. Kebijakan ini juga mencakup pengembangan sertifikasi SDM untuk mengelola pelayanan rumah. Juga ada Early Supported Discharge Pilot Program. Di Jepang walaupun pelayanan sudah lama, belum ada kebijakan pemerintah untuk pelayanan home cara. Dengan demikian masih banyak pembayaran out-of-pocket untuk pelayanan Kesehatan rumah di Jepang. Hal ini terkait dengan ketersediaan tempat tidur di RS Jepang yang sangat besar.

Di dalam penutupan semua negara menyatakan bahwa masa depan pelayanan Kesehatan di rumah sangat besar. Akan ada apa yang disebut “virtual hospital” dengan ribuan tempat tidur di luar RS. Pathways yang baik dan efisien serta standarisasi yang baik

Perlu belajar dari pengalaman di Asia Pasifik dan Global.

 

PRA KONGRES

26 Juni 2026

HARI 1

27 Juni 2026

HARI 2

28 Juni 2026

Reportase ApHaH 2026: The First Asia Pacific Hospital at Home Congress – Hari 1

REPORTASE

ApHaH 2026:
The First Asia Pacific Hospital at Home Congress

Taiwan, 27-28 Juni 2026

Learning from the World

Konferensi 1 mengenai Hospital at Home di Asia Pasifik dibuka di Hua Nan Bank Convention Center, dekat Gedung 101 Taipei. Hospital at Home di kawasan Asia masih merupakan hal baru. Di global sudah relative lama, yang dipacu oleh pandemic Covid19. 

Pidato pembukaan dilakukan oleh Dr. Sang-Ju Yu, Honorary Chairman, Taiwan Society of Home Health Care Hospital at Home

From Taiwan to the world

Dr Yu menyatakan bahwa  2026 merupakan tahun ke 10 Asosiasi Home Care di Taiwan. Sepuluh tahun yang sangat menantang. Selangkah demi selangkah dapat berjalan dengan baik. Terimakasih kami ucapkan ke Kemenkes, Asuransi Kesehatan Taiwan  untuk dukungannya. Juga Dewan Pengetahuan, Kementerian Ekonomi, dan industri untuk sumbangan bagi pengembangan Hospital at Home di Taiwan. Kami juga  berparter dengan Jepang, Korea, Australia Singapura dan lain-lain.  

Hospital at Home bukan hanya isu pelayanan RS tapi penting untuk mengelola Aging Society yang jumlahnya semakin banyak.  Hospital at Home tidak hanya memindahkan pasien RS ke rumahsakit. Tapi bagaimana mendefiniskan kembali pelayanan Kesehatan di rumah. Berapa jumlah pasien. Apakah pasien dapat dirawat di rumah? Bagaimana keluarga dapat merawat. Bagamana  values based care diterapkan. Hospital at Home tidak hanya Social safety Net. Tapi ini komitmen bangsa. 

Saya mengutip Abraham Lincoln untuk menutup sambutan ini. Hospital at Home untuk semua warganegara di Taiwan. Dengan prinsip pelayanan  untuk warga kita untuk semua. Kita tidak bisa melepaskan  satupun orang sakit tertinggal. Masa depan Hospital at Home masih harus menempuh jalan panjang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan keluarga pasien. Jadi kembali ke ajaran lama, kita harus merawat….. tidak terbatas menyembuhkan.  

terimakasih 

Selanjutnya ada Video: Menggambarkan perkembangan klinik untuk Home Care di pedalaman Taiwan. Dengan menggunakan teknologi digital, dilakukan pengembangan secara sistematis. Tenaga Kesehatan mendatang rumah rumah penderita dengan prinsip Patient Centre. 

 

Cheng-Wen Wu, Minister without Portfolio, Executive Yuan; Minister of NSTC 

Saya merasa sangat terhomat diundang dalam pertemuan ini. Program Hospital at Home mengembangkan Medical Care dan promosi Kesehatan di rumah. Lebih dekat dan lebih berdasarkan kebutuhan pasien. Saya melihat bahwa kegiatan ini sangat didukung oleh perkembangan teknologi. Semua orang tahu perkembangan Teknokogi seperti AI dan ICT. Taiwan merupakan kekuatan global di sektor sini. Riset dan pengembangan terus tumbuh, selama 8 tahun terakhir ini. Taiwan mempunyai indeks Kesehatan yang tinggi  di internasional 

Teknologi terbaru dibutuhkan dalam mencapai pasien di rumah termasuk perkembangan ilmu biomediks. Terimakasih ke tenaga Kesehatan yang sudah sudah payah menjangkau mereka yang membutuhkan pelayanan di rumah. Saya sangat bergembira Kementerian Kesehatan & Kesejahteraan bekerja keras di sini. Juga asuransi Kesehatan nasional kita dan Sistem Pembayaran perlu mendukung Hospital at Home.  

Terimakasih. 

Dr. Ying-Chao Chen (TW), Chairman, Taiwan Society of Home Health Care 

Sudah 10 tahun, Society kami mendapat banyak dukungan. Terimakasih.  Bagaimana mendanai semua ini? Home health care merupakan solusi sangat penting untuk Masyarakat kita yang menjadi  aging society. Kita beruntung sudah berkembang cukup kuat. Saat dulu kita melihat Jepang pada tahun  2000an, saya merasa Taiwan masih kurang untuk mendanai Hospital at Home. Tapi sekarang sudah meningkat.  Harapan pertama:  kita harus memprkuat pendanaan untuk ini. Harapan kedua: Bagaimana usaha pengembangan Hospital at Home. Kita berusaha bekerjasama dengan berbagai pihak di dunia. Ada medical diplomasi melalui Hospital at Home. Kami berharap Society kita ini dapat menjadi tempat diplomasi.  

Terimakasih 

 

Presiden Lai Ching Te 

Presiden Taiwan dalam sambutannya menekankan mengenai  pentingnya mengembangkan Hospital at Home. Kita perlu membagikan pengalaman-pengalaman dari berbagai negara di pertemuan ini. Oleh karena masa depan HAH di Asia Pasifik sangat penting. Untuk itu diperlukan tata kelola global yang baik.  

Saya mengucapkan terimakasih pada Society Hospital at Home Taiwan. Dedikasi anda sangat penting untuk terus berlanjut. Perlu pengembangan berkelanjutan. Saat para orang tua bertambah banyak, kita harus memperkuat pelayanan di rumah.  Bagaimana memperkuat care-giving system serta proaktif untuk kunjungan ke rumah rumah, masuk ke kampung-kampung, dan memberikan pelayanan Kesehatan bermartabat. Untuk Healthy Taiwan ini sangat penting. 

Sejak saya menjadi Presiden di tahun 2023, ada berbagai pilot proyek yang mengembangkan pelayanan kesehatan di rumah. Ini dilakukan melalui uji-coba telemedisin, monitoring jarak jauh, dukungan asuransi kesehatan virtual, sampai ke precise medicine. Ini semua perlu pilot-pilot project. Pemerintahan saya akan mendukung ini termasuk pendanaan dari asuransi kesehatan. Namun Masyarakat juga harus bertanggung jawab sebagian. Ke depan, perlu sistem informasi yang lebih baik, perlu  pendekatan inter discipline, sampai perlu smart hospital system. Pemerintah akan terus  mendukung  untuk masa depan yang lebih baik. Mari kita share pengalamam kita ke seluruh dunia. Mari kita teruskan kerjasama ini untuk Asia Pasifik. 

Catatan tentang Presiden Taiwan: 
Lai Ching-te, yang juga dikenal sebagai William Lai, adalah seorang politikus, dokter, dan ahli nefrologi asal Taiwan yang menjabat sebagai Presiden Republik Tiongkok ke-8 sejak tahun 2024. Sebagai anggota Partai Progresif Demokratik, ia telah menjabat sebagai ketua partai tersebut sejak tahun 2023. 

 

Policy, Governance and Funding of Hospital at Home in Australia

Membangun Hospital at Home yang Berkelanjutan Melalui Tata Kelola yang Kuat, Standar Nasional, dan Pembiayaan Berbasis Mutu

Dr. James Pollard (Australia) 

Dalam sesi bertajuk Policy, Governance and Funding of Hospital at Home in Australia, Dr. James Pollard mengajak peserta melihat bahwa keberhasilan Hospital at Home (HaH) tidak hanya ditentukan oleh kemampuan klinis dalam merawat pasien di rumah. Justru, keberlanjutan model pelayanan ini sangat bergantung pada bagaimana pemerintah, rumah sakit, penyedia layanan, dan penyandang dana membangun tata kelola, standar mutu, serta sistem pembiayaan yang saling mendukung.

Presentasi diawali dengan pertanyaan mendasar mengenai definisi Hospital at Home. Menurut Dr. Pollard, sebelum membahas pembiayaan maupun perluasan layanan, perlu ada kesepahaman mengenai apa yang dimaksud dengan Hospital at Home. Pertanyaan seperti siapa yang berwenang menetapkan definisisiapa yang menentukan standar pelayanan, dan bagaimana memastikan seluruh penyedia layanan menerapkan standar yang sama menjadi isu yang sangat penting. Hal ini semakin relevan karena di Australia terdapat berbagai mekanisme pembiayaan dan beragam organisasi penyelenggara layanan.

Untuk menjamin konsistensi mutu, Australia mendorong penerapan standar nasional minimum bagi layanan Hospital in the Home (HITH). Standar tersebut mencakup seluruh perjalanan pelayanan pasien, mulai dari seleksi pasien yang sesuai, pemantauan kondisi klinis selama perawatan, tata laksana keadaan darurat, pencatatan luaran klinis dan kejadian tidak diinginkan, hingga mekanisme yang jelas untuk mengenali pasien yang mengalami perburukan sehingga harus segera dirujuk kembali ke rumah sakit. Dengan adanya standar tersebut, pelayanan di rumah diharapkan memiliki tingkat keamanan dan kualitas yang setara dengan pelayanan rawat inap.

Pada aspek pembiayaan, Dr. Pollard mengingatkan bahwa Hospital at Home seharusnya tidak dipromosikan semata-mata sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan perawatan di rumah sakit. Menurutnya, alasan utama pemerintah dan penyandang dana mendukung model ini adalah karena Hospital at Home mampu memberikan luaran kesehatan yang lebih baik, meningkatkan pengalaman pasien, serta menggunakan kapasitas rumah sakit secara lebih efisien. Jika fokus kebijakan hanya diarahkan pada penghematan biaya, terdapat risiko munculnya kompetisi harga yang pada akhirnya mengubah Hospital at Home menjadi sekadar komoditas pelayanan dengan mutu yang menurun.

Sebagai ilustrasi, Dr. Pollard memaparkan hasil analisis ekonomi dari Inggris yang menunjukkan bahwa Hospital at Home pada pasien lanjut usia mampu menurunkan biaya pelayanan bagi sistem kesehatan nasional sekaligus mengurangi biaya yang harus ditanggung pasien dan keluarganya. Selain memberikan manfaat ekonomi, model ini juga membantu membebaskan kapasitas tempat tidur rumah sakit sehingga dapat dimanfaatkan untuk pasien lain yang membutuhkan perawatan akut.

Sesi ini juga memberikan gambaran mengenai kompleksitas penyelenggaraan Hospital at Home di Australia. Berbeda dengan beberapa negara yang hanya mengandalkan rumah sakit sebagai penyelenggara, Australia memiliki ekosistem yang lebih beragam. Selain rumah sakit publik, layanan dapat diberikan oleh rumah sakit swasta, penyedia layanan independen, maupun organisasi non-rumah sakit yang bekerja berdasarkan kontrak dengan pemerintah atau perusahaan asuransi. Keragaman ini menciptakan fleksibilitas dalam penyediaan layanan, namun sekaligus menuntut mekanisme tata kelola yang kuat agar mutu pelayanan tetap terjaga di seluruh penyedia.

Kompleksitas semakin terlihat pada sektor rumah sakit swasta dan perusahaan asuransi kesehatan. Dr. Pollard menjelaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat definisi Hospital at Home yang sepenuhnya seragam di antara berbagai rumah sakit maupun perusahaan asuransi. Kriteria kelayakan pasien dapat berbeda-beda, dipengaruhi oleh lokasi geografis, kapasitas penyedia layanan, maupun ketentuan dalam kontrak pembiayaan. Selain itu, Australia juga belum memiliki standar tarif nasional yang berlaku untuk setiap episode pelayanan Hospital at Home, sehingga variasi mekanisme pembayaran masih cukup besar.

Di penghujung presentasi, perhatian diarahkan pada pentingnya insentif finansial yang tepat. Hospital in the Home di Australia telah diakui sebagai bagian dari pelayanan rawat inap sehingga memiliki mekanisme pendanaan tersendiri. Namun demikian, sistem pembayaran tidak boleh hanya mendorong peningkatan jumlah pasien yang dilayani. Skema pembiayaan harus dirancang agar mendorong kualitas pelayanan, keselamatan pasien, dan luaran klinis yang lebih baik. Dengan kata lain, insentif finansial harus selaras dengan tujuan pelayanan, bukan sekadar meningkatkan volume layanan atau menekan biaya.

Sebagai penutup, Dr. Pollard menegaskan bahwa keberhasilan Hospital at Home membutuhkan keseimbangan antara kebijakan yang jelas, tata kelola yang kuat, standar mutu nasional, dan sistem pembiayaan yang memberikan penghargaan terhadap kualitas pelayanan. Hospital at Home tidak boleh dipandang hanya sebagai strategi efisiensi biaya, tetapi sebagai transformasi model pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien dengan tetap menjaga mutu dan keselamatan. Pesan ini menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, yang sedang mengembangkan layanan Hospital at Home sebagai bagian dari transformasi sistem pelayanan kesehatan.

Hospital-at-Home in Japan: Reorganizing Existing Home Care into a Coherent Acute-Care-at-Home System

Membangun Hospital at Home di Jepang: Bukan Menciptakan Layanan Baru, Melainkan Menyatukan Sistem yang Sudah Ada

Dr. Yuki Miyamoto (Jepang)

Salah satu presentasi pada The First Asia-Pacific Hospital at Home Congress 2026 membahas bagaimana Jepang mengembangkan konsep Hospital at Home (HaH) melalui evolusi sistem pelayanan kesehatan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa Hospital at Home di Jepang bukanlah inovasi yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil integrasi berbagai komponen pelayanan kesehatan yang telah lama berkembang.

Presentasi diawali dengan menjelaskan bahwa Jepang sebenarnya telah memiliki hampir seluruh komponen yang diperlukan untuk menjalankan Hospital at Home. Tantangannya bukan menciptakan teknologi atau layanan baru, tetapi bagaimana mengorganisasi berbagai komponen tersebut menjadi sebuah sistem pelayanan yang terintegrasi.

Fondasi yang Telah Lama Dibangun

Pembicara menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan berbasis rumah di Jepang memiliki akar sejarah yang kuat. Tradisi home-based primary care dan home-based palliative care telah berkembang selama beberapa dekade dengan kepemimpinan dokter sebagai penanggung jawab utama pelayanan.
Filosofi yang mendasari pendekatan tersebut sangat sederhana namun kuat, yaitu bahwa penyakit seharusnya dapat dirawat di rumah apabila kondisi pasien memungkinkan. Prinsip ini menjadi landasan berkembangnya pelayanan kesehatan berbasis rumah di Jepang.

Kapabilitas Pelayanan di Rumah yang Semakin Matang

Seiring waktu, pelayanan kesehatan di rumah berkembang jauh melampaui kunjungan dokter biasa. Saat ini pelayanan home-based primary care mampu memberikan berbagai intervensi medis, seperti:

  • terapi oksigen di rumah,
  • pemberian infus,
  • pemeriksaan laboratorium sederhana melalui point-of-care testing,
  • pemantauan kondisi pasien secara berkala.

Di bidang perawatan paliatif, kemampuan pelayanan di rumah juga semakin luas. Tidak hanya untuk pasien kanker, tetapi juga pasien dengan penyakit kronis non-kanker. Berbagai tindakan yang sebelumnya hanya dilakukan di rumah sakit kini dapat diberikan di rumah, termasuk:

  • pemberian opioid,
  • drainase asites,
  • drainase efusi pleura,
  • terapi oksigen,
  • ventilasi non-invasif (NPPV/NIV),
  • hingga infus dobutamin kontinu pada gagal jantung stadium akhir.

Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan di rumah telah memiliki kemampuan klinis yang cukup matang untuk menangani pasien dengan kondisi kompleks.

Ketika Kondisi Pasien Memburuk, Pelayanan Mengikuti Pasien ke Rumah

Pembicara kemudian menggambarkan bagaimana konsep Hospital at Home sebenarnya telah muncul secara alami dari praktik pelayanan primer berbasis rumah.
Dalam pelayanan primer berbasis rumah, dokter telah mengenal pasien secara berkesinambungan. Ketika pasien mengalami perburukan akut, seperti infeksi, sesak napas, atau dehidrasi, dokter tidak selalu merujuk pasien ke rumah sakit. Sebaliknya, berbagai terapi akut dapat langsung diberikan di rumah, termasuk oksigen, cairan infus, serta pemantauan ketat.
Pendekatan ini memungkinkan banyak pasien menghindari rawat inap tanpa mengurangi kualitas pelayanan.

Mengapa Belum Menjadi Sebuah Sistem?

Walaupun hampir semua komponen telah tersedia, pembicara mengajukan pertanyaan penting:

Mengapa Hospital at Home belum sepenuhnya menjadi sebuah sistem nasional?
Jawabannya bukan karena kurangnya alat, teknologi, atau jenis pelayanan baru. Masalah utamanya bersifat struktural, yaitu bagaimana seluruh komponen tersebut disusun menjadi satu model pelayanan yang utuh.

Roadmap yang ditawarkan terdiri atas tiga tahapan:

  1. memahami komponen yang telah dimiliki Jepang,
  2. mengorganisasi ulang pelayanan yang sudah ada,
  3. menghubungkan pelayanan episode akut dengan pelayanan berkelanjutan di rumah.

Sistem Jepang yang Mendukung

Pembicara menjelaskan bahwa terdapat tiga karakteristik utama sistem kesehatan Jepang yang menjadi fondasi Hospital at Home.

  • Pertama, adanya cakupan kesehatan universal dengan biaya yang relatif rendah bagi pasien, sehingga masyarakat memiliki akses luas terhadap pelayanan kesehatan.
  • Kedua, terdapat satu sistem tarif nasional meskipun sebagian besar penyedia layanan merupakan institusi swasta. Pemerintah menetapkan tarif secara nasional sehingga mendorong keseragaman pelayanan.
  • Ketiga, pelayanan rawat jalan dan pelayanan di rumah sebagian besar masih menggunakan mekanisme fee-for-service, sementara pelayanan rawat inap menggunakan sistem pembayaran paket (bundled payment).

Karakteristik tersebut memberikan peluang sekaligus tantangan dalam mengembangkan Hospital at Home.

Pembiayaan Bukan Sekadar Menambah Satu Tarif

Salah satu pesan terpenting dalam presentasi adalah bahwa Hospital at Home tidak dapat dibangun hanya dengan menambahkan satu kode pembayaran baru.
Sering muncul pandangan bahwa apabila sebagian besar komponen pelayanan telah memiliki tarif, maka cukup menambahkan tarif untuk komponen yang belum ada, misalnya terapi oksigen di rumah.
Namun pembicara menolak pendekatan tersebut. Menurutnya, Hospital at Home harus dibiayai sebagai sebuah model pelayanan yang utuh, bukan sebagai kumpulan tindakan yang berdiri sendiri.

Model tersebut memerlukan:

  • kriteria eligibilitas pasien yang disepakati,
  • jalur eskalasi pelayanan yang jelas ketika kondisi pasien memburuk,
  • interoperabilitas data antarpenyedia layanan,
  • serta sistem pembayaran yang bersifat komprehensif dan terintegrasi.

Reimbursement dengan Pengaman (Guardrails)

Pembiayaan Hospital at Home juga harus disertai mekanisme pengendalian mutu.

Beberapa aspek yang harus tersedia antara lain:

  • protokol keselamatan pasien,
  • mekanisme pemantauan dan eskalasi klinis,
  • pengaturan pelayanan malam hari dan akhir pekan,
  • indikator mutu,
  • audit pelayanan,
  • serta kriteria seleksi pasien yang jelas.

Pengalaman selama pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa tanpa aturan yang jelas akan terjadi variasi praktik dan ketidakjelasan mengenai pasien yang layak memperoleh pelayanan Hospital at Home.

Dua Perubahan Besar

Sebagai penutup, pembicara menyampaikan bahwa pengembangan Hospital at Home memerlukan dua perubahan mendasar.
Bagi penyedia layanan kesehatan diperlukan payment model, yaitu sistem pembiayaan yang mampu menginstitusionalisasikan pelayanan Hospital at Home sehingga menjadi bagian dari praktik rutin.
Sementara bagi pasien diperlukan trust model, yaitu membangun kepercayaan bahwa menerima perawatan di rumah sama amannya dengan dirawat di rumah sakit. Dengan biaya yang terjangkau dan pelayanan yang terstandar, pasien akan merasa lebih aman menjalani perawatan di rumah dan tidak menganggapnya sebagai “dipulangkan terlalu cepat”.

Kesimpulan

Presentasi ini menegaskan bahwa keberhasilan Hospital at Home tidak terutama ditentukan oleh teknologi atau perangkat medis baru. Faktor yang paling penting adalah membangun integrasi sistem, mulai dari organisasi pelayanan, mekanisme pembiayaan, tata kelola, standar mutu, hingga kepercayaan masyarakat. Hospital at Home bukan sekadar memindahkan pelayanan rumah sakit ke rumah pasien, tetapi membangun suatu model pelayanan kesehatan yang terkoordinasi, berkesinambungan, dan didukung oleh kebijakan pembiayaan yang tepat.

Reporter:
dr. Lutfan Lazuardi, PhD

 

Implementasi Hospital at Home – Pembelajaran dari Singapura

Dr. Lai Yi Feng (MOH Office for Healthcare Transformation / MOHT)

Salah satu sesi yang menarik dalam First Asia-Pacific Hospital at Home Congress disampaikan oleh Dr. Lai Yi Feng dari MOH Office for Healthcare Transformation (MOHT), Singapura, yang memaparkan pengalaman Singapura dalam mengembangkan Mobile Inpatient Care at Home (MIC@Home) sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan menuju konsep “hospital without walls.”

Dr. Lai menjelaskan bahwa Hospital at Home bukan sekadar memindahkan lokasi pelayanan dari rumah sakit ke rumah pasien, melainkan membangun model pelayanan rawat inap akut yang tetap mempertahankan kualitas dan keamanan pelayanan rumah sakit melalui dukungan teknologi, sistem, dan koordinasi multidisiplin. Model MIC@Home memberikan akses kepada pasien terhadap tim medis selama 24 jam, didukung oleh command center yang menerima laporan pasien secara terintegrasi, remote vital sign monitoring, pelayanan medis di rumah (home treatment), pemeriksaan penunjang portabel, serta kolaborasi berbagai profesi kesehatan.

Pelayanan diberikan sesuai karakteristik pasien melalui beberapa skema, mulai dari pasien yang sejak awal menjalani full Hospital at Home, maupun pasien yang terlebih dahulu mendapatkan perawatan akut di rumah sakit sebelum melanjutkan perawatan di rumah. Pemilihan model disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit, diagnosis, dan kondisi klinis pasien. Alur pelayanan juga dirancang menyerupai rawat inap konvensional, dimulai dari identifikasi pasien yang memenuhi kriteria, proses admisi, fase perawatan (in-flight), hingga proses pemulangan (discharge).

Dalam implementasinya, Singapura memulai program melalui National Regulatory Sandbox selama dua tahun. Pendekatan ini memungkinkan inovasi diuji dalam lingkungan yang terkendali sebelum diterapkan secara nasional. Selama masa uji coba tersebut, sistem pengumpulan data disiapkan secara komprehensif untuk menjawab berbagai keraguan dari para pemangku kepentingan. Evaluasi tidak hanya berfokus pada luaran program, tetapi juga menggunakan pendekatan implementation science untuk memahami mengapa suatu proses berjalan baik maupun menghadapi kendala, sehingga hasil evaluasi dapat menjadi dasar perbaikan implementasi berikutnya.

Strategi implementasi dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu implementation science, stakeholder engagement, dan building mindshare. Ketiga pendekatan tersebut bertujuan memastikan bahwa inovasi bukan hanya layak secara teknis, melainkan juga diterima oleh tenaga kesehatan, pengelola rumah sakit, pembuat kebijakan, maupun masyarakat.

Pada aspek regulasi dan pembiayaan, Singapura memilih pendekatan yang mempermudah adopsi layanan dengan merancang aturan yang semirip mungkin dengan sistem rawat inap konvensional. Parameter seperti sumber admisi, tingkat keparahan pasien, serta jenis kasus tetap mengikuti standar pelayanan rumah sakit, sehingga transisi menuju model Hospital at Home tidak memerlukan perubahan yang terlalu drastis dalam sistem pelayanan maupun mekanisme pembiayaan.

Hasil implementasi selama fase sandbox menunjukkan capaian yang baik. Dalam dua tahun pelaksanaan, program berhasil melayani hampir 3.000 pasien sekaligus membantu mengurangi kebutuhan tempat tidur fisik di rumah sakit. Keberhasilan ini menjadi dasar bagi Singapura untuk memasuki fase mainstreaming, yaitu mengintegrasikan Hospital at Home ke dalam sistem kesehatan nasional. Tanggung jawab operasional secara bertahap dialihkan dari MOHT kepada Kementerian Kesehatan bersama klaster rumah sakit, sementara MOHT akan melanjutkan pengembangan inovasi kesehatan lainnya. Di tingkat nasional, pemerintah akan berperan dalam mengoordinasikan aspek pemantauan layanan, logistik, dan pengembangan sistem secara berkelanjutan.

Dr. Lai juga menekankan bahwa semakin banyak kasus pelayanan kesehatan akan bergeser dari rumah sakit menuju komunitas, sehingga regulasi perlu berkembang mengikuti kebutuhan pelayanan. Hospital at Home dinilai mampu mempercepat akses pelayanan, meningkatkan pemantauan penyakit kronis, sekaligus mendukung keberlanjutan sistem kesehatan. Namun demikian, keberhasilan implementasi tetap bergantung pada tersedianya model pembiayaan yang memadai, jaminan bahwa intervensi klinis dapat diberikan secara tepat waktu, serta dukungan penuh dari penyedia layanan kesehatan.

Sebagai penutup, Dr. Lai menyampaikan bahwa implementasi Hospital at Home memerlukan perencanaan yang matang, strategi berkelanjutan, dan komitmen yang kuat untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Beliau juga menekankan pentingnya keberadaan asosiasi profesi sebagai wadah untuk membangun konsensus lintas pemangku kepentingan mengenai standar pelaksanaan Hospital at Home. Konsensus tersebut selanjutnya menjadi landasan untuk melibatkan pembuat kebijakan dalam menyusun regulasi yang mendukung implementasi secara berkelanjutan. Pengalaman Singapura menunjukkan bahwa transformasi menuju Hospital at Home bukan hanya inovasi pelayanan, melainkan juga perubahan sistem kesehatan yang memerlukan kolaborasi, kepemimpinan, dan proses implementasi yang terencana dengan baik.

Kebijakan Hospital at Home di Israel

Dr. Ron Sabar (Pendiri & Chief Medical Officer, Sabar Health)

Panelis kedua, Dr. Ron Sabar, memaparkan implementasi Hospital at Home (HaH) di Israel terkait pengalaman Sabar Health, penyelenggara layanan Hospital at Home terbesar di negara tersebut. Presentasi ini menunjukkan bagaimana layanan berbasis rumah berkembang dari sebuah inisiatif swasta menjadi salah satu pilar penting sistem kesehatan nasional, bahkan ketika regulasi pemerintah masih sangat terbatas.

Sabar Health mengembangkan konsep hospital without walls yang mampu memberikan pelayanan akut setara rawat inap di rumah pasien. Saat ini, layanan tersebut menangani sekitar 3.000 pasien akut secara bersamaan dengan lebih dari 1.200 kunjungan rumah setiap hari. Cakupan pelayanannya sangat luas, meliputi penyakit dalam, bedah, kardiologi, kesehatan perempuan, perawatan paliatif, hingga pelayanan kesehatan jiwa dan psikiatri akut. Seluruh layanan didanai oleh sistem asuransi kesehatan publik sehingga pasien tidak mengeluarkan biaya tambahan (out-of-pocket).

Implementasi Hospital at Home di Israel menggunakan model single-payer dengan empat Health Maintenance Organization/HMO sebagai pengelola asuransi publik. Pemerintah mengalokasikan anggaran kepada HMO melalui mekanisme kapitasi, sementara setiap warga negara diwajibkan menjadi peserta asuransi dan memiliki kebebasan untuk berpindah HMO beberapa kali dalam setahun. Karena paket manfaat layanan telah ditetapkan secara nasional, kompetisi antar-HMO tidak berfokus pada variasi produk, melainkan pada kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Dalam konteks Hospital at Home, pembiayaan layanan dilakukan melalui negosiasi anggaran antara layanan rawat inap konvensional dan layanan berbasis rumah. Pendekatan ini memungkinkan Hospital at Home menjadi bagian integral dari sistem layanan tanpa menciptakan skema pembiayaan yang sepenuhnya baru.

Pengembangan Hospital at Home di Israel didorong oleh tiga tantangan utama. Pertama, meningkatnya kebutuhan tempat tidur rumah sakit akibat kombinasi pertumbuhan penduduk dan penuaan populasi. Kedua, kebutuhan membangun kapasitas cadangan menghadapi kondisi darurat seperti pandemi maupun konflik bersenjata. Ketiga, keterbatasan kapasitas rumah sakit sebagai tempat pendidikan klinis, sehingga Hospital at Home dipandang sebagai alternatif untuk memperluas wahana pembelajaran bagi tenaga kesehatan.

Perjalanan implementasi Hospital at Home di Israel menunjukkan perkembangan yang cukup unik. Layanan ini mulai dirintis oleh sektor swasta pada 2005, kemudian memperoleh dukungan pembiayaan dari HMO sejak 2009. Selama periode tersebut, pemerintah hampir tidak mengeluarkan regulasi khusus mengenai Hospital at Home. Memasuki 2019, semakin banyak penyedia layanan mulai memasuki bidang ini, sebelum akhirnya pandemi COVID-19 pada 2020 menjadi titik balik yang mempercepat adopsi Hospital at Home secara nasional. Kemampuan layanan berbasis rumah dalam menangani pasien COVID-19 membantu mengurangi tekanan terhadap kapasitas rumah sakit sehingga pemerintah mulai menyadari pentingnya model pelayanan tersebut.

Perubahan kebijakan semakin menguat setelah pecahnya konflik bersenjata pada 2023. Ancaman terhadap fasilitas kesehatan fisik mendorong pemerintah menetapkan kebijakan agar rumah sakit memiliki kemampuan mengevakuasi sebagian besar pasien ke rumah apabila diperlukan. Dengan demikian, Hospital at Home tidak lagi dipandang sebagai inovasi tambahan, tetapi sebagai bagian dari strategi ketahanan sistem kesehatan nasional.

Meskipun implementasi layanan telah berkembang pesat, penyusunan regulasi masih menjadi pekerjaan besar. Pemerintah Israel saat ini mulai menyusun berbagai standar terkait pelaksanaan riset klinis di rumah pasien, tata kelola logistik obat dan darah, distribusi kemoterapi ke rumah, hingga pengelolaan limbah medis di lingkungan permukiman. Untuk mempercepat proses tersebut, Israel juga mempertimbangkan adopsi berbagai kerangka operasional internasional sebagai acuan penyusunan standar nasional.

Pengalaman Israel menunjukkan bahwa inovasi pelayanan kesehatan tidak selalu diawali oleh regulasi yang lengkap. Dalam kasus Hospital at Home, kebutuhan sistem kesehatan akibat keterbatasan kapasitas rumah sakit, perubahan demografi, hingga situasi krisis justru menjadi pendorong utama lahirnya inovasi. Regulasi kemudian berkembang mengikuti praktik yang telah terbukti memberikan manfaat. Pengalaman ini memberikan pelajaran bahwa transformasi layanan membutuhkan fleksibilitas kebijakan, model pembiayaan yang mendukung, serta kemampuan sistem kesehatan untuk beradaptasi secara cepat terhadap tantangan yang terus berkembang.

Sesi diskusi yang dimoderatori oleh Dr. Chia-Ming Li dan Dr. Lian-Yu Chen, Director General of National Health Insurance Administration Taiwan, membahas dua isu utama dalam pengembangan Hospital at Home (HaH), yaitu penguatan kapasitas sumber daya manusia serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Pada aspek sumber daya manusia, para panelis sepakat bahwa layanan HaH membutuhkan tenaga kesehatan dengan kompetensi khusus karena menangani pasien akut di luar lingkungan rumah sakit. Pengalaman klinis, kemampuan mengenali perburukan kondisi pasien, serta mekanisme eskalasi pelayanan menjadi kompetensi yang sangat penting. Beberapa negara telah mengembangkan pelatihan internal, program rotasi dokter residen, hingga sertifikasi khusus bagi dokter dan tenaga kesehatan HaH. Selain itu, keberadaan asosiasi profesi dinilai penting untuk mendukung standardisasi kompetensi dan pengembangan kapasitas tenaga kesehatan.

Diskusi juga menyoroti bahwa model HaH lebih menarik bagi generasi muda karena menawarkan fleksibilitas kerja dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Namun, agar dapat berkembang secara berkelanjutan, HaH perlu menyediakan jalur karir yang jelas, termasuk peluang di bidang penelitian, pendidikan, layanan rumah sakit, maupun kepemimpinan.

Terkait peluang integrasi AI dalam ekosistem HaH, para panelis menekankan bahwa AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan tenaga kesehatan, melainkan menjadi alat pendukung dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan. Pemanfaatan AI dinilai potensial untuk membantu proses skrining pasien yang layak menjalani HaH, pemantauan tanda vital secara real-time, prediksi risiko klinis, dokumentasi otomatis (AI scribing), hingga optimalisasi logistik dan manajemen operasional.

Keberhasilan implementasi AI sangat bergantung pada tersedianya infrastruktur digital yang kuat, integrasi data kesehatan nasional, serta sistem pembiayaan yang terkoordinasi. Meskipun demikian, para panelis mengingatkan bahwa isu privasi dan keamanan data tetap menjadi tantangan penting yang harus diselesaikan sebelum AI dapat diimplementasikan secara optimal dalam layanan Hospital at Home.

 

Reporter:
Hanifah Wulandari

 

Ketika Hospital at Home Berpindah dari “Apakah Mungkin?” menjadi “Bagaimana Mengembangkannya?” 

Suasana di area pameran poster

Berbeda dengan suasana formal di ruang plenary dan parallel sessions, sesi poster berlangsung lebih hidup dan interaktif. Area poster ditempatkan menyatu dengan area pameran yang menampilkan beberapa perusahaan teknologi alkes serta area coffee break dan makan siang. Kombinasi ini membuat peserta secara alami berpindah dari satu poster ke poster lain sambil menikmati kopi, berdiskusi dengan penulis, bertukar kartu nama, bahkan saling bantu memotret untuk dokumentasi masing-masing. Ini membuat suasana sangat cair dan hangat.

Selain poster cetak, panitia juga menyediakan layar digital untuk e-Poster, untuk memfasilitasi para poster presenter yang tidak dapat hadir di Taipei. Setiap peserta memperoleh enam stiker untuk memberikan suara pada poster favorit, baik poster fisik maupun e-Poster. Mekanisme sederhana ini menjadikan sesi poster bukan sekadar pajangan ilmiah, tetapi ruang interaksi yang aktif sekaligus ajang apresiasi terhadap inovasi terbaik.

Jika ditarik benang merahnya, sebagian besar poster menunjukkan bahwa HaH tidak lagi membahas apakah HaH layak diterapkan, tetapi lebih berfokus pada bagaimana mengoptimalkan dan memperluas implementasinya. Tema-tema yang banyak diangkat meliputi pengembangan model pelayanan klinis untuk berbagai kelompok pasien (geriatri, gagal jantung, infeksi akut, neonatal, pediatri, postpartum hingga penyakit terminal), pemanfaatan virtual wardremote monitoring dan early warning system, integrasi jejaring rumah sakit dengan layanan satelit, mobile X-ray, point-of-care ultrasound, transfusi darah di rumah, hingga evaluasi pengalaman pasien dan caregiver.

Sejumlah poster juga mengangkat aspek yang lebih strategis seperti tata kelola organisasi, retensi tenaga kesehatan, efisiensi sumber daya, serta kontribusi HaH terhadap pengurangan jejak karbon danplanetary health. Keseluruhan tema tersebut menunjukkan bahwa HaH kini berkembang sebagai sebuah ekosistem pelayanan yang semakin matang, dengan perhatian yang sama besar terhadap mutu klinis, pengalaman pasien, keberlanjutan sistem, dan dampak lingkungan.

Indonesia turut berpartisipasi melalui lima poster yang berasal dari Universitas Gadjah Mada, RSUD dr. Soeratno, Gemolong (Sragen), kolaborasi UGM–INSPIRY, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, serta RSUP dr. Soerojo Magelang. Salah satu poster dari Indonesia memperkenalkan Soerojo@Home, model pelayanan terintegrasi yang menghubungkan rumah sakit, rumah pasien, layanan primer, dan komunitas untuk menciptakan kesinambungan pelayanan bagi pasien lanjut usia. Hal ini mengingatkan penulis pada presentasi oral dari RSUD dr. Soeratno Gemolong – dr. Kinik Darsono – yang menyatakan bahwa jika pasien tidak mampu datang ke RS, maka RS yang akan datang ke rumah pasien.

 

Poster-poster Indonesia lainnya menyoroti pengembangan model implementasi Hospital at Home, pengalaman inovasi layanan, serta kesiapan ekosistem pendukung di Indonesia. Kehadiran karya-karya tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi hanya menjadi pengamat, tetapi mulai berkontribusi dalam diskursus ilmiah HaH tingkat internasional.

Bagi Indonesia, pelajaran terpenting dari sesi poster adalah bagaimana negara-negara lain membangun HaH secara bertahap, yang dimulai dari model layanan yang jelas, dilengkapi protokol klinis yang aman, diperkuat teknologi pemantauan, dievaluasi melalui luaran pasien dan caregiver, lalu dikembangkan menjadi bagian dari sistem pelayanan rumah sakit. Pendekatan bertahap inilah yang tampaknya menjadi kunci agar HaH dapat berkembang secara berkelanjutan dan dapat direplikasi sesuai konteks masing-masing negara. Hal ini menegaskan, HaH sudah tidak dipandang sebagai proyek teknologi, tetapi sebagai transformasi model pelayanan rumah sakit.

Video RS Soerojo

 

Reporter:
Putu Eka Andayani

PRA KONGRES

26 Juni 2026

HARI 1

27 Juni 2026

HARI 2

28 Juni 2026

Optimalisasi Transformasi Digital Layanan Rumah Sakit Melalui Kompetensi Tenaga Kesehatan

Optimalisasi Transformasi Digital Layanan Rumah Sakit  Melalui Kompetensi Tenaga Kesehatan

Transformasi digital telah memberikan dampak signifikan dalam berbagai inovasi seperti rekam medis elektronik, telemedicine, kecerdasan buatan (artificial intelligence), pemantauan pasien jarak jauh, hingga aplikasi kesehatan digital. Namun, keberhasilan transformasi digital ternyata tidak hanya didukung oleh kecanggihan teknologi tetapi juga oleh kemampuan tenaga kesehatan dalam memanfaatkannya secara optimal. Berdasarkan artikel Longhini et al. (2022), kompetensi digital tenaga kesehatan menjadi salah satu faktor paling penting dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang aman, efektif, dan berpusat pada pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian mengenai kompetensi digital tenaga kesehatan meningkat pesat dalam lima tahun terakhir seiring semakin luasnya penerapan teknologi digital di fasilitas pelayanan kesehatan. Meskipun terdapat peningkatan, sebagian besar penelitian masih bersifat deskriptif dan hanya sedikit yang benar-benar mengevaluasi efektivitas program pelatihan untuk meningkatkan kompetensi digital tenaga kesehatan.

Kompetensi digital tenaga kesehatan dalam penelitian Longhini et al. (2022) dikelompokkan ke dalam empat komponen utama. Komponen pertama adalah kompetensi yang dinilai sendiri (self-rated competencies), yaitu kemampuan tenaga kesehatan dalam menggunakan perangkat digital, komputer, internet, aplikasi kesehatan hingga kemampuan mencari, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi kesehatan secara elektronik atau yang dikenal sebagai e Health literacy. Selain keterampilan teknis, kompetensi ini juga mencakup kemampuan mendampingi pasien menggunakan teknologi kesehatan, memberikan edukasi mengenai sumber informasi kesehatan yang terpercaya, merekomendasikan aplikasi kesehatan yang sesuai, serta mengintegrasikan informasi digital ke dalam proses pengambilan keputusan klinis. Komponen kedua berkaitan dengan aspek psikologis dan emosional terhadap penggunaan teknologi digital. Komponen ketiga adalah kemampuan menggunakan teknologi digital dalam praktik sehari-hari. Kompetensi ini mencakup penggunaan komputer, internet, surat elektronik, rekam medis elektronik, telemedicine, dokumentasi keperawatan digital, komunikasi dengan pasien hingga pemanfaatan teknologi untuk pendidikan, penelitian, dan pembaharuan ilmu pengetahuan. Komponen terakhir adalah pengetahuan mengenai teknologi digital.

Hasil kajian menemukan bahwa aspek psikologis berupa sikap, kepercayaan, rasa percaya diri, serta penerimaan terhadap teknologi memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan implementasi digitalisasi di fasilitas kesehatan. Tenaga kesehatan yang meyakini bahwa teknologi dapat meningkatkan mutu pelayanan, mempercepat pekerjaan, dan mempermudah komunikasi cenderung lebih siap mengadopsi inovasi digital dibandingkan mereka yang masih merasa cemas atau kurang percaya diri dalam menggunakannya. Artinya, transformasi digital bukan sekadar persoalan menyediakan perangkat, tetapi juga membangun budaya kerja yang mendukung perubahan. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan teknologi secara rutin dapat meningkatkan efisiensi pelayanan sekaligus memperkuat koordinasi antarprofesi dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Meskipun jumlah penelitian pada aspek komponen pengetahuan teknologi digital masih terbatas, kemampuan memahami keamanan data, perlindungan privasi pasien, etika penggunaan teknologi, keamanan siber, hingga pemilihan aplikasi kesehatan yang tepat menjadi kompetensi yang semakin penting di era digital. Ancaman kebocoran data dan serangan siber terhadap fasilitas kesehatan membuat tenaga kesehatan perlu memahami bahwa penggunaan teknologi tidak hanya berkaitan dengan kemudahan, tetapi juga tanggung jawab dalam menjaga kerahasiaan informasi pasien.

Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa sebagian besar instrumen yang digunakan untuk mengukur kompetensi digital masih berupa penilaian mandiri (self-assessment). Hanya sekitar sepertiga penelitian yang menggunakan instrumen yang telah tervalidasi, sedangkan sisanya mengembangkan kuesioner masing-masing. Bahkan, instrumen yang paling sering digunakan, yaitu eHealth Literacy Scale (eHEALS), sebenarnya dirancang untuk masyarakat umum, bukan khusus bagi tenaga kesehatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa hingga saat ini masih diperlukan alat ukur yang lebih objektif, valid, dan sesuai dengan kebutuhan berbagai profesi kesehatan agar kompetensi digital dapat diukur secara lebih akurat.

Temuan penelitian ini tentunya memberikan pelajaran penting bagi rumah sakit dan organisasi pelayanan kesehatan. Investasi pada teknologi digital sebaiknya perlu berjalan beriringan dengan investasi pada pengembangan sumber daya manusia. Program pelatihan tidak cukup hanya mengajarkan cara mengoperasikan aplikasi atau perangkat lunak tetapi juga perlu memperkuat kemampuan berpikir kritis dalam mengelola informasi digital, membangun kepercayaan diri menggunakan teknologi, memahami keamanan data pasien, serta meningkatkan kemampuan memberikan edukasi digital kepada pasien dan keluarganya. Pendekatan ini akan mempercepat adaptasi tenaga kesehatan terhadap berbagai inovasi yang terus berkembang.

Kesimpulannya, transformasi digital tidak akan berhasil hanya dengan menghadirkan teknologi tercanggih tetapi juga melibatkan kesiapan tenaga kesehatan sebagai pengguna utama teknologi tersebut. Ketika kompetensi digital berkembang secara seimbang rumah sakit tentunya akan lebih siap menghadirkan pelayanan yang berkualitas, aman, efisien, dan benar-benar berpusat pada kebutuhan pasien di era kesehatan digital.

 

Selengkapnya:

  • Longhini J, Rossettini G, Palese A. Digital Health Competencies Among Health Care Professionals: Systematic Review. J Med Internet Res 2022;24(8):e36414 https://www.jmir.org/2022/8/e36414

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM)

 

 

Reportase ApHaH 2026: The First Asia Pacific Hospital at Home Congress – Pra kongres

REPORTASE

ApHaH 2026:
The First Asia Pacific Hospital at Home Congress

Taiwan, 27-28 Juni 2026

Peserta mengikuti tur peralatan Hospital at Home/Home Care di International Medical, Health Care Expo 2026


Sebelum Konferensi Asia Pacific 1 mengenai Hospital at Home, tim FK-KMK UGM bersama dengan direktur-direktur RS dan pimpinan RS Daerah meliputi RSUD Soeratno Gemolong, RSUPP Betun,  RSUD Iskak Tulungagung, Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia, serta dari FK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengikuti pameran Medical Taiwan 2026 – International Medical, Health Care Expo di Taipei World Trade Center (TWTC), Taiwan tentang alat kesehatan, pelayanan kesehatan, dan sistemnya. Pameran ini diselenggarakan sebelum Asia Pacific Congress yang pertama mengenai Hospital at Home. Sebagai salah satu peserta, reporter menilai penyelenggara Expo sangat baik dalam menyiapkan dan menyelenggarakan kegiatan.

Tour di area expo yang diorganisir oleh panitia

Rombongan tiba di TWTC pukul 09.00 waktu setempat dan melakukan pendaftaran. Proses registrasinya gratis dan yang menarik dalam pameran ini tersedia pemandu untuk pengunjung pameran yang tertarik pada topik tertentu. Tur dengan pemandu (guided tour) merupakan kegiatan optional yang dapat dipilih oleh peserta saat melakukan registrasi congress secara online. Peserta yang mengikuti guided tour ini diberi bendera sebagai penanda, kemudian berkeliling dipimpin oleh pemandu mengunjungi area terpilih. Seluruh stand yang dipilih untuk dikunjungi dalam program guided tour ini merupakan pelaku industri dalam ekosistem pelayanan kesehatan yang memiliki produk untuk mendukung hospital at home, dan seluruhnya merupakan produk dalam negeri Taiwan. Para peserta bukan hanya dari Indonesia, melainkan juga dari negara lain.

Dengan tema peralatan dan sistem Hospital at Home, para peserta diajak berkeliling oleh guide. Sistem ini persis seperti di destinasi wisata. Reporter sudah puluhan kali mengikuti Expo di berbagai negara, namun baru kali ini mendapatkan pelayanan seperti ini. Hal ini menandakan sistem pemesanan tour guide sebelum kedatangan sangat membantu peserta.

Dengan cara ini kami yang berfokus pada peralatan Hospital at Home dan Home care dapat melihat satu persatu stand yang ada. Kemudian setelah selesai tur, para peserta dapat berkeliling stand lagi untuk melakukan

Petugas menjelaskan fitur dan teknologi di salah satu booth pada smart healthcare zone

Di setiap stand, guide mengarahkan agar koordinator stand yang siap menerangkan produk-produk yang dipamerkan kepada peserta. Sebagai catatan, koordinator stand ini memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang mahir dan dapat menerangkan dengan baik dan detil.

Berbagai peralatan penunjang diagnostik berbasis smart technology menjadi salah satu tema utama tour ini

Seorang spesialis produk inovatif bernama Soumyajit Balabantray dari EBM Technology  menerangkan produk inovasinya.  Pihaknya menerangkan mengenai Apps yang bisa dipakai oleh beragam jenis  komputer dan HP untuk mendukung pelayanan Homecare.

Bukan hanya sektor industri, rumah sakit pendidikan juga menjadi inventor penting dalam ekosistem teknologi kesehatan

Universitas-universitas banyak yang memamerkan produknya. Mereka langsung menghilirkan produk-produk inovasinya bersama mitra-mitranya.

Salah satu yang menarik adalah alat deteksi headache yang merupakan hasil karya mahasiswa doctoral di Kaohsiung Medical University Hospital. Melalui integrasi data psikologis eksternal dan catatan sakit kepala digital, platform ini mampu memproyeksikan risiko migrain dalam waktu 24 jam. Analisis berbasis pembelajaran mesin mencakup variabilitas detak jantung, tidur, aktivitas fisik, rekam rasa sakit, penggunaan obat, hingga faktor pemicu. Pasien dan dokter kemudian mendapatkan laporan klinis visual serta notifikasi risiko yang dipersonalisasi untuk mempermudah manajemen migrain. Ini menunjukkan bahwa hasil riset perguruan tinggi sudah sampai pada produk hilir yang langsung dapat digunakan dalam pelayanan pada pasien.

Stand Kaohshiung Medical University

Setelah tur selama 2 jam, peserta kemudian menyebar ke banyak stand untuk melakukan pendalaman sesuai dengan minat masing-masing. Saya melihat bahwa model tur seperti ini sangat bagus untuk dipakai oleh pameran-pameran di Indonesia, juga di tempat-tempat lain.

Video testimoni delegasi Indonesia:

 

Reporter:
UGM – Laksono Trisnantoro, Putu dan Hanifah Wulandari

PRA KONGRES

26 Juni 2026

HARI 1

27 Juni 2026

HARI 2

28 Juni 2026

Webinar Menghadapi Risiko Sanksi Keselamatan Pasien dan Perubahan Fungsi Komite-Komite Rumah Sakit: Bagaimana Menata Ulang Sistem Mutu dan Tata Kelola Klinis Pasca Permenkes No.6 Tahun 2026?

patient-safety

Permenkes Nomor 6 Tahun 2026 tentang Rumah Sakit membawa perubahan signifikan dalam tata kelola rumah sakit di Indonesia. Salah satu perubahan yang menjadi perhatian utama adalah penguatan mekanisme pemberian sanksi administratif terhadap rumah sakit yang melakukan pelanggaran yang berdampak pada keselamatan pasien. Regulasi ini memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk menjatuhkan sanksi administratif secara langsung terhadap rumah sakit yang terbukti melakukan pelanggaran hingga menyebabkan kematian, kecacatan permanen, atau kerusakan organ permanen pada pasien.

Perubahan tersebut menempatkan keselamatan pasien tidak hanya sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan, tetapi juga sebagai isu strategis yang berkaitan dengan kepatuhan regulasi, reputasi organisasi, dan keberlangsungan operasional rumah sakit. Dalam konteks ini, rumah sakit perlu memahami berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya sanksi administratif serta langkah-langkah mitigasi yang dapat dilakukan untuk memperkuat sistem keselamatan pasien dan mencegah terjadinya insiden yang merugikan pasien maupun organisasi.

Di sisi lain, Permenkes Nomor 6 Tahun 2026 juga menghadirkan perubahan dalam pengaturan tata kelola rumah sakit melalui tidak diaturnya secara khusus keberadaan Komite Medik, Komite Keperawatan, maupun Komite Mutu sebagaimana pada regulasi sebelumnya. Pasal 68 memberikan kewenangan kepada pimpinan tertinggi rumah sakit untuk membentuk komite, tim, atau penanggung jawab sesuai kebutuhan dan kemampuan rumah sakit. Fleksibilitas ini membuka peluang bagi rumah sakit untuk merancang sistem tata kelola yang lebih adaptif, namun sekaligus memunculkan berbagai pertanyaan mengenai bentuk organisasi, pembagian fungsi, mekanisme koordinasi, dan pengawasan mutu serta keselamatan pasien yang efektif.

Perubahan regulasi tersebut menimbulkan tantangan baru bagi direksi, pimpinan pelayanan, komite rumah sakit, serta tim mutu dan keselamatan pasien. Rumah sakit tidak hanya dituntut memahami konsekuensi hukum dan administratif yang mungkin timbul akibat insiden keselamatan pasien, tetapi juga perlu merumuskan strategi untuk menata ulang sistem mutu dan tata kelola klinis agar tetap mampu menjalankan fungsi pengendalian mutu, kredensial, manajemen risiko, serta pembelajaran organisasi secara efektif.

Sebagai respons terhadap kebutuhan tersebut, Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM menyelenggarakan webinar yang menghadirkan perspektif hukum kesehatan, kebijakan mutu dan keselamatan pasien, serta pengalaman praktis pengelolaan rumah sakit. Webinar ini diharapkan dapat menjadi forum pembelajaran dan diskusi bagi para pemimpin, pengelola, dan praktisi rumah sakit dalam memahami implikasi Permenkes Nomor 6 Tahun 2026 sekaligus mengidentifikasi langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan untuk memperkuat mutu, keselamatan pasien, dan tata kelola klinis.

Tujuan

Meningkatkan pemahaman dan kesiapan rumah sakit dalam menghadapi implementasi Permenkes Nomor 6 Tahun 2026 melalui penguatan sistem mutu, keselamatan pasien, dan tata kelola klinis sebagai upaya mitigasi risiko sanksi administratif serta adaptasi terhadap perubahan fungsi komite-komite rumah sakit.

Tujuan Khusus

  1. Memahami ketentuan Permenkes Nomor 6 Tahun 2026 terkait sanksi administratif yang berhubungan dengan keselamatan pasien.
  2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpotensi meningkatkan risiko terjadinya sanksi administratif di rumah sakit.
  3. Memahami strategi mitigasi risiko keselamatan pasien untuk mencegah terjadinya sanksi administratif.
  4. Memahami implikasi perubahan fungsi komite-komite rumah sakit terhadap tata kelola mutu dan keselamatan pasien.
  5. Mengidentifikasi alternatif pengorganisasian sistem mutu, keselamatan pasien, dan tata kelola klinis sesuai kebutuhan rumah sakit.
  6. Merumuskan langkah-langkah strategis untuk menata ulang sistem mutu dan tata kelola klinis pasca implementasi Permenkes Nomor 6 Tahun 2026.

Sasaran

  1. Direktur rumah sakit
  2. Wakil direktur pelayanan, penunjang, dan umum
  3. Ketua dan anggota Komite Medik, Komite Keperawatan, Komite Mutu, serta komite lainnya di rumah sakit
  4. Tim mutu, keselamatan pasien, manajemen risiko, dan akreditasi rumah sakit
  5. Kepala bidang, kepala instalasi, kepala unit, dan manajer pelayanan rumah sakit
  6. Dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya
  7. Dinas kesehatan dan regulator pelayanan kesehatan
  8. Akademisi, peneliti, mahasiswa, dan pemerhati mutu pelayanan kesehatan
  9. Konsultan rumah sakit dan pihak lain yang memiliki minat dalam pengembangan mutu dan keselamatan pasien

Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal  : Jumat, 3 Juli 2026
Waktu             : 13.00-15.30 WIB

Narasumber / Pembahas / Moderator

Narasumber:

  1. Dr. Rimawati, S.H., M.Hum. – Konsultan Hukum Kesehatan FH UGM
  2. Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua – Konsultan PKMK FK-KMK UGM

Pembahas:

  1. dr. H. Nanang Widodo, Sp.B, M.Sc., M.P.H, M.H., C.M.C, FINACS – Ketua Komite Medik RSI Siti Hajar Mataram
  2. dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP – Direktur RS Ken Saras

Moderator:

dr. Muhammad Hardhantyo Puspo Wardoyo, MPH, Ph.D, FRSPH
(Kepala Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMMK UGM)

Rundown Kegiatan

Waktu

Agenda

Keterangan

12.45 – 13.00

Registrasi peserta

Panitia

13.00 – 13.10

Pembukaan dan pengantar webinar

VIDEO

dr. M. Hardhantyo P.W., MPH, Ph.D, FRSPH

13.10 – 13.40

Materi 1:

“Risiko Sanksi Administratif terkait Keselamatan Pasien: Implikasi dan Strategi Mitigasi bagi Rumah Sakit”

VIDEO   MATERI

Dr. Rimawati, S.H., M.Hum.

13.40 – 14.10

Materi 2:

“Menata Ulang Sistem Mutu dan Tata Kelola Klinis Pasca Perubahan Fungsi Komite-Komite Rumah Sakit”

VIDEO   MATERI

Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua

14.10 – 14.25

Pembahas 1:

“Perspektif Direksi Rumah Sakit dalam Menghadapi Risiko Sanksi dan Perubahan Tata Kelola Rumah Sakit”

VIDEO

dr. H. Nanang Widodo, Sp.B, M.Sc., M.P.H, M.H., C.M.C, FINACS

14.25 – 14.40

Pembahas 2:

“Perspektif Implementasi Mutu, Keselamatan Pasien, dan Manajemen Risiko Pasca Permenkes No. 6 Tahun 2026”

VIDEO   MATERI

dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP

14.40 – 15.25

Diskusi panel dan tanya jawab

VIDEO

dr. M. Hardhantyo P.W., MPH, Ph.D, FRSPH

15.20 – 15.30

Penutup

dr. M. Hardhantyo P.W., MPH, Ph.D, FRSPH

 

   Reportase Kegiatan

PKMK-Yogyakarta. Sebagai respon atas terbitnya Permenkes Nomor 6 Tahun 2026, Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM menyelenggarakan webinar “Menghadapi Risiko Sanksi Keselamatan Pasien dan Perubahan Fungsi Komite-Komite Rumah Sakit: Bagaimana Menata Ulang Sistem Mutu dan Tata Kelola Klinis Pasca Permenkes Nomor 6 Tahun 2026”. Webinar tersebut menghadirkan Dr. Rimawati, S.H., M.Hum. dan Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua sebagai narasumber, dengan dr. H. Nanang Widodo, Sp.B., S.H., M.Sc., M.P.H., M.H.Kes. dan dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP sebagai pembahas, serta dimoderatori oleh dr. M. Hardhantyo P.W., MPH, Ph.D, FRSPH.

Pada sesi pertama, Dr. Hanevi membahas perubahan struktur organisasi rumah sakit pasca Permenkes Nomor 6 Tahun 2026. Narasumber menekankan bahwa meskipun regulasi baru memberikan fleksibilitas dalam pembentukan komite, tim, atau penanggung jawab sesuai kebutuhan organisasi, fungsi-fungsi utama seperti peningkatan mutu, keselamatan pasien, kredensial, audit klinis, pengendalian infeksi, pendidikan, serta manajemen risiko tetap harus berjalan. Perubahan tersebut perlu dimaknai sebagai kesempatan untuk mendesain ulang sistem tata kelola klinis yang lebih efektif tanpa menghilangkan fungsi-fungsi esensial. Narasumber juga menyoroti pentingnya penyesuaian peraturan internal rumah sakit, termasuk corporate bylaws dan clinical staff bylaws, agar selaras dengan ketentuan baru sekaligus tetap mendukung penerapan clinical governance dan budaya mutu yang berkelanjutan.

Selanjutnya, Dr. Rimawati memaparkan implikasi hukum Permenkes Nomor 6 Tahun 2026 terhadap penyelenggaraan rumah sakit. Narasumber menjelaskan bahwa keselamatan pasien tidak lagi dipandang bukan hanya sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu, melainkan juga sebagai aspek kepatuhan terhadap regulasi yang dapat berimplikasi pada sanksi administratif. Rumah sakit dituntut mampu membuktikan bahwa sistem mutu, pelaporan insiden, manajemen risiko, audit klinis, serta tindak lanjut perbaikan telah berjalan secara efektif. Selain menjelaskan tahapan sanksi administratif yang bersifat progresif, narasumber juga mengingatkan adanya kondisi tertentu yang memungkinkan sanksi dijatuhkan secara tidak berjenjang apabila pelanggaran menimbulkan dampak serius bagi pasien. Oleh karena itu, penguatan tata kelola, dokumentasi, dan kepatuhan regulasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga keselamatan pasien.

Pada sesi pembahasan, dr. Nanang dan dr. Tjahjono memberikan perspektif implementasi dari sisi direksi rumah sakit dan manajemen mutu. Kedua pembahas menekankan bahwa perubahan regulasi perlu direspon melalui penguatan tata kelola organisasi dan tata kelola klinis secara terintegrasi. Fleksibilitas organisasi tidak boleh mengurangi komitmen terhadap mutu pelayanan, keselamatan pasien, dan manajemen risiko. Rumah sakit juga perlu segera melakukan peninjauan terhadap regulasi internal, memperkuat sistem pelaporan insiden, dokumentasi klinis, serta pengelolaan risiko agar siap menghadapi masa transisi maupun proses akreditasi berikutnya.

Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta dari berbagai rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan. Beberapa pertanyaan disampaikan terkait implementasi fungsi komite pada berbagai tipe rumah sakit, penyesuaian hospital bylaws dan clinical staff bylaws, kesiapan rumah sakit menghadapi potensi sanksi administratif, hubungan regulasi baru dengan standar akreditasi, hingga strategi yang perlu dilakukan selama masa transisi sebelum pedoman teknis diterbitkan. Para narasumber menekankan bahwa perubahan nomenklatur organisasi tidak boleh mengurangi fungsi tata kelola klinis dan mutu, sehingga setiap rumah sakit perlu segera melakukan gap assessment, memperkuat sistem mutu, serta memastikan seluruh proses pelayanan tetap berorientasi pada keselamatan pasien dan kepatuhan terhadap regulasi.

Reporter:
Helen Anggraini Budiono

 

 

Akreditasi Bukan Sekadar Sertifikat: Pembelajaran dari Program Peningkatan Mutu Rumah Sakit di India

Akreditasi Bukan Sekadar Sertifikat: Pembelajaran dari Program Peningkatan Mutu Rumah Sakit di India

Sertifikat akreditasi sering dipandang sebagai penanda resmi kesuksesan mutu layanan kesehatan. Namun, proses untuk membangun budaya kualitas, keselamatan pasien, dan tata kelola organisasi yang baik masih sering diabaikan dibandingkan dengan sertifikat yang diperoleh. Dalam menjawab tantangan ini, penelitian Nair, et. al (2023) mengevaluasi pengalaman Program Manyata di India. Program Manyata adalah upaya inisiatif peningkatan mutu yang membantu fasilitas kesehatan swasta di India untuk meningkatkan kualitas layanan maternitas sekaligus mempersiapkan akreditasi dari National Accreditation Board for Hospitals and Healthcare Providers (NABH). Program Manyata dikembangkan karena sektor pelayanan kesehatan swasta sebenarnya memiliki potensi pengembangan yang sangat besar dalam pelayanan kesehatan di India, khususnya layanan persalinan. Namun pada kenyataanya, mutu layanan maternitas di fasilitas swasta masih bervariasi dan belum memenuhi standar yang diharapkan.

Penelitian ini menganalisis 28 fasilitas kesehatan swasta yang menjalani penilaian NABH antara 2017 hingga 2019. Hasil penelitian menemukan bahwa sebagian besar rumah sakit kecil memiliki kekurangan kapasitas tempat tidur dengan jumlah dibawah 50 bed dan volume persalinan yang relatif rendah. Sebagai solusi dari tantangan tersebut, fasilitas kesehatan yang bergabung dalam program Manyata mendapatkan pelatihan, pendampingan teknis, pengembangan prosedur operasional standar, penguatan sistem manajemen rumah sakit, dan dukungan dalam proses persiapan akreditasi. Pada penilaian awal, rata-rata kepatuhan terhadap standar NABH hanya mencapai 9%. Setelah mendapatkan pendampingan melalui Program Manyata, skor ternyata meningkat menjadi 80% pada saat penilaian NABH. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan teknis yang terstruktur mampu mempercepat kesiapan organisasi dalam memenuhi standar mutu dan keselamatan pasien.

Peningkatan terbesar terlihat pada aspek tata kelola organisasi dan dokumentasi klinis. Hampir seluruh fasilitas berhasil memperbaiki sistem pencatatan rekam medis, menjaga kerahasiaan informasi pasien, menetapkan struktur organisasi yang jelas, memastikan pelayanan sesuai pedoman klinis, dan menyediakan sumber daya untuk program peningkatan mutu berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa proses akreditasi dapat menjadi katalis untuk memperkuat sistem manajemen rumah sakit yang sebelumnya belum terdokumentasi dengan baik. Namun, penguatan sistem manajemen dari praktik akreditasi tidak bisa langsung berhasil secara instan. Sebanyak 831 kesenjangan kinerja (performance gaps) masih ditemukan selama proses asesmen. Menariknya, sekitar 70% dari seluruh ketidaksesuaian tersebut berkaitan dengan dokumentasi sedangkan 19% lainnya berhubungan dengan pelatihan staf. Permasalahan yang paling sering muncul mencakup ketidaklengkapan rekam medis, dokumentasi instruksi pengobatan, formulir persetujuan tindakan medis dan anestesi, ringkasan pulang pasien, serta berbagai kebijakan dan prosedur yang belum terdokumentasi secara memadai.

Temuan penting lainnya adalah bahwa sebagian besar kesenjangan mutu ternyata tidak memerlukan investasi besar dalam bentuk pembangunan fasilitas atau penambahan tenaga kerja. Sebanyak 62% masalah dapat diselesaikan melalui penyusunan atau revisi dokumen sedangkan sekitar 35% dapat diperbaiki melalui orientasi dan pelatihan staf. Hanya sebagian kecil yang membutuhkan pengadaan peralatan atau penambahan sumber daya manusia. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa banyak organisasi kesehatan sebenarnya telah memiliki sumber daya dasar yang memadai tetapi belum memiliki sistem yang terdokumentasi dan dijalankan secara konsisten.

Penelitian ini memberikan pelajaran bahwa mutu layanan tidak hanya ditentukan oleh kompetensi klinis tetapi juga kemampuan mendokumentasikan setiap proses pelayanan secara lengkap dan konsisten. Rekam medis yang baik, dokumentasi persetujuan tindakan, pencatatan pengobatan, serta kepatuhan terhadap prosedur operasional standar merupakan bagian integral dari keselamatan pasien. Selain itu, perlu dipertimbangkan juga bahwa keberhasilan akreditasi sangat bergantung pada kepemimpinan organisasi dalam membangun budaya mutu. Penyusunan kebijakan yang jelas, pelatihan rutin bagi staf, pemantauan kepatuhan terhadap standar, dan pengembangan sistem perbaikan berkelanjutan menjadi investasi yang lebih penting daripada sekadar memenuhi persyaratan administratif. Akreditasi seharusnya berfungsi untuk memperkuat tata kelola dan meningkatkan pengalaman pasien bukan hanya sebagai target sertifikasi. Pelajaran ini sangat relevan bagi rumah sakit dan fasilitas kesehatan di berbagai negara, termasuk Indonesia yang juga menuntut proses akreditasi yang semakin menuntut standar pelayanan yang tinggi. 

Selengkapnya:

  • Nair, T.S., Memon, P., Tripathi, S. et al. Implementing a quality improvement initiative for private healthcare facilities to achieve accreditation: experience from India. BMC Health Serv Res 23, 802 (2023). https://doi.org/10.1186/s12913-023-09619-w 

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM)

 

 

Pemeliharaan Pelayanan Keperawatan Rawat Jalan: Langkah Mewujudkan Efektivitas Mutu Pelayanan Kesehatan

Pemeliharaan Pelayanan Keperawatan Rawat Jalan: Langkah Mewujudkan Efektivitas Mutu Pelayanan Kesehatan

Pelayanan keperawatan rawat jalan merupakan salah satu komponen yang penting dari layanan rumah sakit. Pasien selalu berinteraksi dengan sistem kesehatan melalui klinik rawat jalan sehingga pengalaman yang diperoleh akan memengaruhi persepsi terhadap mutu pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Pemeliharaan mutu pelayanan keperawatan rawat jalan bukan hal yang mudah. Pasien rawat jalan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pasien rawat inap. Contohnya seperti mobilitas yang tinggi, waktu pelayanan yang relatif singkat, jumlah kunjungan yang besar, dan tingkat keparahan penyakit yang beragam. Kondisi ini menuntut adanya sistem evaluasi pengukuran mutu yang komprehensif dan terstruktur. Dalam menjawab tantangan ini, Yang et. al (2025) mengulas bagaimana Model Donabedian dapat diterapkan dalam pengukuran mutu pelayanan keperawatan rawat jalan. 

Model Donabedian yang diperkenalkan oleh Avedis Donabedian membagi mutu pelayanan ke dalam tiga komponen utama, yaitu struktur (structure), proses (process), dan luaran (outcome). “Struktur” menggambarkan sumber daya dan sistem yang mendukung pelayanan, “proses” menilai bagaimana pelayanan diberikan, serta “luaran” mengukur hasil akhir yang diperoleh pasien maupun organisasi pelayanan kesehatan. Model ini telah banyak diterapkan di berbagai unit klinis seperti ruang operasi, unit perawatan intensif, dan unit onkologi tetapi penerapannya pada layanan rawat jalan masih relatif terbatas.

Dalam tinjauan tersebut, peneliti menganalisis 18 studi yang dipublikasikan pada tahun 20192024 dari berbagai negara seperti Tiongkok, Jerman, dan Kanada. Studi-studi tersebut mencakup berbagai jenis layanan rawat jalan mulai dari klinik gigi, anak, penyakit ginjal, diabetes, reproduksi, dan pusat pemeriksaan kesehatan. Pada dimensi struktur, mutu pelayanan keperawatan rawat jalan ditentukan oleh keberadaan sistem manajemen yang jelas, lingkungan pelayanan yang mendukung, kecukupan sumber daya manusia, dan ketersediaan sarana-prasarana. Indikator yang banyak digunakan antara lain adanya standar operasional dan alur pelayanan yang terdokumentasi, sistem evaluasi mutu, rencana tanggap darurat, rasio dokter dan perawat yang memadai, tingkat pendidikan tenaga keperawatan, serta ketersediaan peralatan yang lengkap dan berfungsi baik. Lingkungan fisik seperti keberadaan ruang konsultasi yang memadai, penunjuk arah yang jelas, dan kepatuhan terhadap standar pengendalian infeksi juga menjadi aspek yang penting.

Dimensi proses menjadi aspek paling banyak dibahas dalam penelitian. Indikator yang digunakan meliputi kompetensi perawat dalam praktik klinis, pelaksanaan pelatihan dan sertifikasi keterampilan, kecepatan pelayanan, keselamatan pasien, edukasi kesehatan, identifikasi pasien, dokumentasi keperawatan, pengendalian infeksi, dan pengelolaan alat kesehatan. Pengendalian infeksi dan keselamatan pasien muncul sebagai indikator yang paling konsisten di berbagai jenis klinik. Selain itu, aspek kemampuan komunikasi perawat, perlindungan privasi pasien, pemenuhan kebutuhan pasien dan keluarga, serta dukungan emosional juga menjadi komponen penting dalam menilai mutu pelayanan rawat jalan modern.

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa indikator proses perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing klinik. Pada klinik anak misalnya, mutu pelayanan diukur melalui kemampuan petugas dalam berkomunikasi dengan keluarga, melakukan penilaian psikologis anak, dan menerapkan prosedur pengambilan darah yang aman. Sementara pada klinik pengobatan tradisional Tiongkok, indikator mutu lebih menekankan pada penerapan teknik keperawatan spesifik dan promosi kesehatan berbasis pengobatan tradisional. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun kerangka Donabedian bersifat universal indikator yang digunakan tetap perlu dikembangkan sesuai konteks layanan yang diberikan.

Kepuasan pasien menjadi indikator yang paling sering digunakan pada dimensi luaran. Selain kepuasan pasien, kepuasan dokter terhadap layanan keperawatan, jumlah keluhan yang diterima, dan efektivitas penanganan keluhan juga menjadi ukuran penting. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pemantauan kejadian tidak diharapkan seperti pasien jatuh, kesalahan pemberian obat, luka tekan, aspirasi, maupun paparan kerja pada tenaga kesehatan. Di beberapa layanan, indikator luaran bahkan mencakup produktivitas organisasi seperti jumlah pasien yang dilayani, pengembangan inovasi keperawatan, publikasi ilmiah, serta pengajuan paten.

Hasil tinjauan ini memberikan pesan penting bahwa peningkatan mutu pelayanan keperawatan rawat jalan tidak dapat hanya berfokus pada hasil akhir. Kepuasan pasien yang tinggi tidak akan berkelanjutan apabila tidak didukung oleh sistem yang kuat dan proses pelayanan yang berkualitas. Sebaliknya, pengelolaan sumber daya manusia, standar pelayanan dan pengendalian infeksi yang jelas, serta budaya keselamatan pasien yang baik akan meningkatkan mutu layanan dan menghasilkan penurunan risiko kejadian yang merugikan.

Bagi praktisi kesehatan, temuan ini menegaskan pentingnya menjaga kompetensi klinis sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi, edukasi, dan empati kepada pasien. Pendekatan yang berpusat pada pasien menjadi elemen kunci dalam meningkatkan mutu layanan keperawatan rawat jalan. Sementara itu, bagi manajemen rumah sakit, Model Donabedian dapat menjadi kerangka strategis untuk membangun sistem pemantauan mutu yang lebih terukur. Rumah sakit perlu mengembangkan indikator mutu yang sesuai dengan karakteristik masing-masing klinik, melakukan evaluasi rutin terhadap kepuasan pasien dan kejadian tidak diharapkan, serta memastikan ketersediaan sumber daya yang memadai. Peneliti juga menekankan bahwa keselamatan pasien, kepuasan pasien, dan perbaikan mutu berkelanjutan harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan layanan keperawatan rawat jalan di masa depan. Melalui pendekatan yang sistematis, diharapkan dapat tercipta pelayanan rawat jalan yang lebih aman, efektif, efisien, dan berpusat pada kebutuhan pasien.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:

  • Yang, Jinrong, Liu, Fan, Yang, Chunxia, Wei, Jingyi, Ma, Yonghong, Xu, Lisheng, Xie, Jingying, Wang, Jingjun, Application of Donabedian Three-Dimensional Model in Outpatient Care Quality: A Scoping Review, Journal of Nursing Management, 2025, 6893336, 15 pages, 2025. https://doi.org/10.1155/jonm/6893336