Hari Hemofilia Sedunia 2026: Wujudkan Peningkatan Kesejahteraan Pasien melalui Ketepatan Diagnosis

Hari Hemofilia Sedunia 2026: Wujudkan Peningkatan Kesejahteraan Pasien melalui Ketepatan Diagnosis

Hari Hemofilia sedunia atau World Hemophilia Day diperingati setiap 17 April sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran terhadap hemofilia atau gangguan pembekuan darah yang bersifat genetik. Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Diagnosis: First step to care” yang menegaskan bahwa diagnosis yang tepat merupakan pintu gerbang utama menuju perawatan dan kualitas hidup yang lebih baik bagi penyandang gangguan perdarahan.

Menurut World Federation of Hemophilia (WFH), lebih dari tiga perempat individu dengan hemofilia di seluruh dunia diketahui masih belum terdiagnosis secara tepat. Kondisi ini bahkan lebih mengkhawatirkan pada gangguan perdarahan lainnya, seperti penyakit von Willebrand dan gangguan langka lainnya. Akibatnya, ratusan ribu orang masih belum mendapatkan akses terhadap pelayanan kesehatan dasar yang seharusnya diterima. Beberapa kasus menunjukkan bahwa pasien yang tidak terdiagnosis seringkali tidak memperoleh obat. Selain itu, tidak adanya pengobatan akan menimbulkan penurunan kualitas hidup pasien.

Dalam pernyataannya, Presiden WFH, Cesar Garrido, menekankan bahwa tantangan dalam diagnosis masih menjadi hambatan besar di banyak negara. Keterbatasan fasilitas laboratorium, kurangnya tenaga kesehatan yang terlatih, dan rendahnya kesadaran masyarakat menjadi faktor utama yang menyebabkan keterlambatan atau bahkan kegagalan diagnosis. Hal ini berdampak besar terutama bagi perempuan dan anak perempuan yang sering kali kurang terdeteksi meskipun mengalami gejala gangguan perdarahan.

Peringatan tahun ini juga menjadi ajakan global untuk memperkuat kapasitas diagnosis melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dan optimalisasi layanan laboratorium. Melalui diagnosis yang lebih cepat dan akurat diharapkan peluang untuk memberikan intervensi yang tepat waktu akan semakin besar. Selain itu, investasi dalam sistem kesehatan, pelatihan profesional, serta pemerataan akses layanan diagnostik menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan. Langkah ini dapat diperkuat dengan kolaborasi global dan komitmen bersama untuk mewujudkan perawatan yang merata dan setara secara berkelanjutan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://wfh.org/article/world-hemophilia-day-2026-theme-revealed/ 

 

Hari Kesehatan Sedunia 2026: Wujudkan Kesehatan Global Melalui Pendekatan One Health

Hari Kesehatan Sedunia 2026: Wujudkan Kesehatan Global Melalui Pendekatan One Health

Setiap 7 April diperingati sebagai Hari Kesehatan Sedunia atau World Health Day 2026. Tanggal ini menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap pentingnya kesehatan di seluruh dunia. Berdasarkan WHO, tema tahun 2026 yakni, “Together for health. Stand with science” menjadi seruan bagi masyarakat global untuk tidak hanya melindungi kesehatan manusia tetapi juga hewan, tumbuhan, dan lingkungan sekitar. Selain itu, tema ini juga menyoroti pentingnya kekuatan kolaborasi ilmiah dalam menjawab tantangan kesehatan global secara tepat dan akurat.

Salah satu fokus utama dalam peringatan tahun 2026 adalah pendekatan One Health. Pendekatan One Health menekankan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan, tumbuhan, dan ekosistem. Hal tersebut memiliki arti bahwa segala aspek kehidupan di bumi saling terhubung dan saling mempengaruhi. Pendekatan ini menjadi semakin relevan sejak meningkatnya variasi beberapa ancaman kesehatan seperti penyakit infeksi baru, resistensi antimikroba, isu keamanan pangan, dan perubahan lingkungan.

Melalui pendekatan One Health, berbagai sektor lain dari lingkungan hingga pertanian didukung untuk bekerja sama secara lintas disiplin. Kolaborasi lintas sektor ditekankan karena dapat membuka upaya penanganan kesehatan yang lebih komprehensif mulai dari pencegahan, deteksi dini, kesiapsiagaan, hingga respons dan pengelolaan masalah kesehatan. Pendekatan tersebut tidak hanya memperkuat sistem kesehatan tetapi juga dapat berkontribusi pada ketahanan kesehatan global secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, Hari Kesehatan Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa solusi tantangan kesehatan tidak dapat dicapai secara individual. Kolaborasi, kepercayaan, dan komitmen bersama dibutuhkan untuk mendukung kebijakan dan tindakan berbasis bukti ilmiah. Melalui kampanye ini, masyarakat global juga diajak untuk lebih aktif terlibat dengan bijak menggunakan dan memilah informasi kesehatan berbasis bukti dalam kehidupan sehari-hari. Kampanye ini juga mendorong upaya bersama untuk membangun kembali kepercayaan terhadap bukti berbasis ilmiah yang menjadi fondasi penting dalam menghadapi berbagai krisis kesehatan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:
https://www.who.int/news-room/events/detail/2026/04/07/default-calendar/world-health-day-2026-together-for-health-stand-with-science 
https://www.who.int/health-topics/one-health#tab=tab_1 

 

 

Peran Kebijakan Kesehatan dalam Meningkatkan Pelayanan Rumah Sakit

Kini seiring perkembangan, kebijakan kesehatan sejatinya tidak hanya sekadar menjadi dokumen formal tetapi juga fondasi utama yang menentukan arah pelayanan kesehatan di suatu negara. Review Omaghomi et al (2024) menunjukkan bahwa kebijakan kesehatan memiliki peran besar dalam membentuk strategi, proses operasional, serta kualitas layanan di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Kebijakan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari akses layanan, pembiayaan, serta standar mutu dan keselamatan pasien yang secara langsung mempengaruhi cara pengelolaan organisasi kesehatan.

Dalam praktiknya, manajemen rumah sakit harus mampu adaptif dengan dinamika kebijakan yang terus berkembang. Misalnya dalam kasus kebijakan terkait digitalisasi kesehatan yang mendorong adopsi rekam medis elektronik, manajemen rumah sakit seharusnya tidak hanya sekadar mengubah alur kerja tetapi juga menuntut peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan sistem keamanan data. Contoh lainnya, kebijakan yang menekankan mutu dan keselamatan pasien mengharuskan pihak manajemen mampu menerapkan pendekatan continuous quality improvement disamping memastikan kepatuhan terhadap standar akreditasi.

Secara lebih lanjut, perubahan kebijakan juga dapat berdampak besar pada aspek finansial dan akses layanan. Sistem pembiayaan kesehatan seperti pergeseran menuju value-based care menuntut rumah sakit untuk lebih fokus pada outcome pasien dibandingkan volume layanan. Sementara itu, kebijakan perluasan akses layanan mengharuskan rumah sakit menyesuaikan kapasitas dan strategi pelayanan agar mampu menjangkau populasi yang lebih luas termasuk kelompok rentan.

Secara keseluruhan, implementasi kebijakan kesehatan tidak selalu berjalan mulus. Hal ini menjadi tantangan yang tidak mudah. Tantangan seperti keterbatasan anggaran, resistensi tenaga kesehatan terhadap perubahan, dan kompleksitas operasional sering menjadi hambatan utama. Omaghomi et al (2024) menekankan pentingnya kepemimpinan transformasional, komunikasi efektif, serta pelibatan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan kebijakan dapat diterapkan secara optimal. Pendekatan bertahap, pelatihan berkelanjutan, dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci dalam mengurangi resistensi dan meningkatkan keberhasilan implementasi.

Bagi praktisi kesehatan dan manajemen rumah sakit, temuan ini memberikan pesan bahwa kebijakan bukan sesuatu yang harus diikuti secara pasif melainkan perlu dipahami, diadaptasi, dan bahkan diadvokasi. Manajer rumah sakit memiliki peran strategis dalam menjembatani kebijakan dengan praktik di lapangan dan memastikan bahwa setiap regulasi benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas layanan dan keselamatan pasien. Melalui pendekatan yang proaktif dan inovatif, kebijakan kesehatan akan dapat berpotensi menjadi peluang untuk memperkuat sistem pelayanan dan meningkatkan kinerja organisasi secara berkelanjutan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S.Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:
https://wjarr.com/content/general-healthcare-policy-and-its-influence-management-practices-review 

 

 

Pelatihan Penggunaan Aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) bagi Petugas Surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten Kota di Provinsi Maluku Utara

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 
 
logomu
 

Metode Blended Learning

Kejadian Luar Biasa (KLB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena kejadian ini dapat menyebabkan kesakitan dan kematian yang tinggi. KLB juga memiliki dampak pada aspek ekonomi, sosial, dan psikologis, serta dapat menyebar luas lintas kabupaten/kota, provinsi, bahkan internasional. Sampai saat ini, Indonesia memiliki beberapa penyakit potensial KLB seperti malaria, demam dengue, leptospirosis, diare, kolera, difteri, antraks, rabies, campak, pertusis, maupun ancaman penyakit – penyakit new emerging dan re-emerging. Penyakit-penyakit tersebut jika tidak dipantau dan dikendalikan akan mengancam kesehatan masyarakat Indonesia dan menyebabkan KLB yang lebih besar.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bekerja sama dengan World Health Organization (WHO) dan Central of Disease Control (CDC) membangun sistem yang digunakan untuk deteksi dini dan respon terhadap penyakit potensial KLB. Sistem ini dikenal dengan Early Warning Alert and Response System (EWARS) atau Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). SKDR diimplementasikan di Indonesia sejak tahun 2009 melalui Subdit Surveilans dan Respon KLB Direktorat Surveilans Epidemiologi, Imunisasi dan Kesehatan Matra (Ditjen P2PL) Kementerian Kesehatan RI. Prinsip utama SKDR adalah pendeteksian ancaman indikasi KLB penyakit menular yang dilaporkan setiap minggu, yang akan menampilkan alert atau sinyal peringatan dini jika terjadi peningkatan kasus penyakit melebihi nilai ambang batas pada suatu wilayah. Selain data mingguan, di dalam sistem SKDR terdapat Surveilans berbasis Kejadian atau yang disebut Event-based Surveillance (EBS). EBS merupakan laporan kejadian kesehatan masyarakat yang dilaporkan segera dalam 24 jam yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat dengan menggunakan sumber data dari media, masyarakat, dan tenaga kesehatan.

Pada akhir tahun 2015 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) mengembangkan SKDR berbasis website untuk mempermudah pengolahan dan pelaporan data. Berbagai pembaharuan dan penambahan menu diterapkan pada website SKDR untuk meningkatkan kualitas pelaporan dan mempermudah pemantauan oleh petugas di Dinas Kesehatan Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Sampai saat ini tingkat target ketepatan dan kelengkapan pelaporan SKDR serta verifikasi alert belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah dari aspek Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK), baik kuantitas maupun kualitasnya. Untuk meningkatkan kapasitas SDMK, diperlukan pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensi petugas pelaksana SKDR di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang lebih sistemik dan sistematis. Agar pelatihan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang diharapkan maka disusunlah kurikulum dan modul Pelatihan Penggunaan Aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) bagi Petugas Surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Kurikulum ini sebagai acuan penyelenggara pelatihan dalam melaksanakan pelatihan, sehingga siapapun penyelenggaranya mempunyai acuan standar yang sama.

Tujuan:

Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta mampu melaksanakan kewaspadaan dini dan respon terhadap penyakit menular yang berpotensi KLB/wabah menggunakan aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) di Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota sesuai dengan pedoman SKDR yang berlaku.

Sasaran:

Tim Surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Pelatihan Pelatihan Penggunaan Aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) bagi Petugas Surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten Kota (Metode Blended) di Provinsi Maluku Utara ini dilaksanakan selama 4 (empat) hari, 2 hari daring dan 2 hari klasikal.

Sesi pelatihan secara daring dilaksanakan tanggal 7-8 November di instansi masing-masing, sementara sesi pelatihan secara luring diselenggarakan tanggal 13-14 November di hotel di Ternate.

Hari, tanggal: 7 – 8 November 2023

Hari, tanggal: 13 – 14 November 2023

Tempat: Hotel di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara (dalam konfirmasi)

Waktu Materi JPL Fasilitator
    T P  
    SM SM AK Klasikal  
Hari I Selasa, 7 November 2023 | VIDEO
07.45 – 08.00 Registrasi         Panitia
08.00 – 08.45 Pre Test         Panitia
08.45 – 09.15 Pembukaan          
09.15– 10.45 BLC 0 2 0 0 MoT
10.45 – 11.30

Kebijakan Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini dan Kejadian Luar Biasa (KLB)

MATERI

1 0 0 0 dr. Triya Novita Dinihari
11.30 – 12.15

Konsep Umum Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon

MATERI

1 0 0 0 Eka Muhiriyah, S.Pd, MKM
12.15 – 13.15 ISHOMA          
13.15 – 14.45

Operasionalisasi Aplikasi SKDR

MATERI

2 0 0 0 Lia Septiana,SKM, M.Kes
 

Monitoring pengisian laporan mingguan dalam aplikasi SKDR

MATERI

1 0 0 0 Siti Masfufah, SKM. M.Epid
Hari II Rabu, 8 November 2023 | VIDEO
08.00 – 08.15 Refleksi         MoT
08.15 – 09.00

Surveilans berbasis kejadian (EBS)

MATERI

1 0 0 0 Muhamad Rizki Paranto, SKM
09.00-10.30

Manajemen data dalam aplikasi SKDR

MATERI

2 0 0 0 Fasilitator
10.30-11.15 Respon terhadap informasi dari SKDR 1 0 0 0 Rendi Manuhutu, SKM, MKM
11.15-12.30 ISHOMA          
12.30-14.00

Komunikasi dan Advokasi

MATERI

1 1 0 0 dr. Muh. Hardhantyo, MPH, PhD. FRSPH
14.00-15.30 Anti Korupsi 2 0 0 0 BBPK Makassar
Perjalanan Ke Lokasi Pelatihan
Hari III Senin, 13 November 2023
08.00-08.15 Refleksi         MoT
08.15-10.30

Operasionalisasi Aplikasi SKDR

MATERI

0 0 0 3 Lia Septiana,SKM, M.Kes
10.30-10.45 Coffee Break          
10.45-12.15

Monitoring pengisian laporan mingguan dalam aplikasi SKDR

0 0 0 2 Siti Masfufah, SKM. M.Epid
12.15-13.15 ISHOMA          
13.15-15.30

Surveilans berbasis kejadian (EBS)

0 0 0 3 Muhamad Rizki Paranto, SKM
Hari IV Selasa, 14 November 2023
08.00-08.15 Refleksi         MoT
08.15-10.30 Manajemen data dalam aplikasi SKDR 0 0 0 3  
10.30-10.45 Coffee Break          
10.45-11.30 Respon terhadap informasi dari SKDR 0 0 0 1 Rendi Manuhutu, SKM, MKM
11.30-13.00 ISHOMA         Panitia
13.00-13.45 Respon terhadap informasi dari SKDR 0 0 0 1 Rendi Manuhutu, SKM, MKM
13.45-15.15 Rencana Tindak Lanjut 0 0 0 2 Dr.dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua
15.15-15.30 Coffee break          
15.30-16.15 Post Test & Evaluasi Penyelenggaraan         Panitia
16.15-17.00 Penutupan         Panitia
Perjalanan Pulang dari Lokasi Pelatihan

Gallery Foto

 

Waktu Pelatihan

Pelatihan dilakukan bulan November selama 4 hari,
Pembelajaran Daring: 7 – 8 November 2023
Pembelajaran Luring: 13 – 14 November 2023

Narahubung

Eva Tirtabayu Hasri | No. HP 0823-2433-2525 (Konten).

 

Hari Autis Sedunia 2026: Momentum untuk Mendorong Pemberdayaan Individu Autisme

Hari Autis Sedunia 2026: Momentum untuk Mendorong Pemberdayaan Individu Autisme

World Autism Awareness Day (WAAD) atau hari autis sedunia diperingati setiap 2 April sejak ditetapkan oleh United Nations General Assembly pada 2007. Momentum ini menjadi pengingat terhadap pentingnya pemenuhan hak asasi manusia dan kebebasan dasar bagi individu autis secara global. Peringatan ini sekaligus juga bertujuan untuk memastikan pemberdayaan partisipasi individu autis secara produktif dan mandiri dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam perjalanannya, upaya ini semakin kuat berkat kontribusi para advokator autis yang membawa pengalaman nyata ke dalam diskusi global. Sejak diperingati secara rutin, dunia mulai mengakui bahwa individu autis bukan hanya sekadar menjadi bagian dari masyarakat melainkan berperan sebagai kontributor penting yang membawa perspektif baru, kreatif, dan inovatif.

Resolusi awal peringatan WAAD tidak hanya menekankan pentingnya peningkatan kesadaran tentang autisme tetapi juga mengarah pada acceptance (penerimaan), appreciation (apresiasi), dan inclusion (inklusi). Pada 2026, peringatan WAAD mengusung tema “Autism and Humanity – Every Life Has Value.” Tema ini menegaskan bahwa setiap individu autis memiliki martabat dan nilai yang setara sebagai bagian dari masa depan kehidupan. Dalam maraknya misinformasi dan narasi yang keliru tentang autisme, peringatan tahun ini menjadi seruan untuk bergerak melampaui stigma dan membangun pemahaman yang lebih inklusif dan manusiawi.

Selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), pendekatan yang mengedepankan “neurodiversity” atau keberagaman fungsi neurologis manusia dipandang sebagai kunci dalam menciptakan masyarakat yang adil dan berkelanjutan. Melalui prinsip ini, masyarakat dapat memperkuat inovasi, ketahanan, serta kualitas hidup secara keseluruhan. Diskusi global WAAD juga menyoroti peran neurodiversity dalam berbagai sektor penting, mulai dari kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, serta pembangunan ekonomi dan institusi lintas sektor yang kuat.

Penyelenggaraan WAAD 2026 didukung oleh Institute of Neurodiversity (ION) bersama United Nations Department of Global Communications. Sebagai organisasi global yang dipimpin oleh komunitas neuro minoritas, ION berperan aktif dalam mendorong perubahan di berbagai sektor seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan keadilan. Melalui jaringan di lebih dari 100 negara, ION menghubungkan ribuan individu, profesional, dan institusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan berorientasi pada seluruh masyarakat termasuk individu autis.

Melalui peringatan ini, seluruh masyarakat global didorong untuk melihat autisme bukan sebagai keterbatasan melainkan sebagai bagian dari keberagaman manusia yang memperkaya kehidupan bersama. Hari Autisme Sedunia 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa setiap kehidupan individu autisme memiliki nilai dan layak dihargai. Selain itu, setiap individu autisme juga berhak untuk tumbuh, berkembang, serta berdaya untuk berkontribusi secara optimal dalam masyarakat.

 

Disarikan oleh:

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://www.un.org/en/observances/autism-day

 

Bimbingan Teknis (Bimtek) Online Strategi Kesiapan Rumah Sakit dalam Pemenuhan Program PMKP (Peningkatan Mutu Keselamatan Pasien) dan Manajemen Risiko sesuai Standar Akreditasi Rumah Sakit

Latar Belakang

Peningkatan mutu pelayanan kesehatan merupakan suatu pendekatan sistematis dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien. Intisari dari berbagai macam upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien adalah untuk menggerakkan kepemimpinan menuju perubahan budaya organisasi; proaktif mengidentifikasi dan menurunkan risiko dan penyimpangan; fokus pada isu prioritas berdasarkan data; dan mencari cara perbaikan yang bersifat langgeng (JCI, 2012).

Berdasarkan hal tersebut maka upaya peningkatan mutu, keselamatan pasien (PMKP) dan manajemen risiko di rumah sakit harus dilakukan secara komprehensif, yang secara umum meliputi pengelolaan kegiatan peningkatan mutu, keselamatan pasien, dan manajemen risiko, pemilihan dan pengumpulan data indikator mutu, analisis dan validasi data indikator mutu, pencapaian dan upaya mempertahankan perbaikan mutu, sistem pelaporan dan pembelajaran keselamatan pasien rumah sakit, dan penetapan manajemen risiko (Kemkes, 2024)

Dalam rangka mendukung upaya peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan, diperlukan pemahaman yang komprehensif mengenai penyusunan program, pelaksanaan, serta evaluasi kegiatan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP), termasuk pengelolaan manajemen risiko secara sistematis.

Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Online ini dapat menjadi wadah pembelajaran dan penguatan kapasitas bagi tenaga kesehatan, manajemen rumah sakit, dan pemangku kepentingan lainnya. Kegiatan ini bertujuan memberikan panduan praktis dan strategis dalam merancang serta melaksanakan program PMKP, sekaligus mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko yang dapat berdampak pada mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

Tujuan

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan strategi pimpinan dan pengelola rumah sakit dalam menyusun, menerapkan dan mengevaluasi program peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) dan manajemen risiko

Peserta

Pelatihan ini secara umum perlu diikuti oleh pimpinan, manajer, staf RS, ketua dan anggota Tim PMKP, serta staf RS yang terkait dengan pengumpulan, validasi, pengolahan dan analisa data program peningkatan mutu, keselamatan pasien dan manajemen risiko

Materi

Pelatihan ini terdiri dari pokok-pokok materi, diantaranya:

  1. Pengelolaan kegiatan PMKP dan manajemen risiko
  2. Pemilihan dan pengumpulan data indikator mutu
  3. Analisis dan validasi data indikator mutu
  4. Mencapai dan mempertahankan perbaikan mutu
  5. Sistem pelaporan dan pembelajaran keselamatan pasien RS
  6. Penerapan manajemen risiko
Narasumber / Fasilitator

Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua

  • Lulus FK-UI 1994, lulus MARS-UI 1997, lulus program Doktor IKM-UGM 2019
  • Fellow of International Society for Quality in Healthcare (ISQua)
  • Berpengalaman mengelola grup RS swasta (1.000 TT) di Jakarta 1997-2003
  • Konsultan Pusat Kebijakan & Manajemen Kesehatan (PKMPK) FK-UGM sejak 2003
  • Dosen Magister Manajemen Rumah Sakit (MMR) UGM sejak 2003
  • Koodinator Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) sejak 2005
  • Pengurus Pusat PERSI dari 2009-sekarang, Pengurus Pusat Arsada dari 2016-sekarang
  • Pengurus Pusat Persatuan Dokter Manajemen Medik (PDMMI)-IDI dari 2009-sekarang
  • Anggota KNKP sejak 2020- sekarang
Persiapan Peserta
  1. Menyediakan data kinerja mutu RS atau bagian/bidang/unit masing-masing selama
    periode tahun 2025
  2. Menyediakan 1 (satu) SPO/SOP medis atau SPO/SOP manajemen
  3. Menyediakan 1 (satu) deskripsi kasus sentinel atau KTD/KNC yang pernah terjadi
  4. Menyediakan 1 (satu) contoh laporan perbaikan mutu seperti laporan GKM, PDCA,
    Kaizen, dsb
Waktu & tempat

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Selasa-Rabu, 28-29 April 2026
Waktu : 09.00–12.00 WIB
Tempat : Online melalui zoom meeting

Agenda Kegiatan
Waktu Kegiatan Narasumber/Fasilitator
Hari ke-1 
09.00 – 09.15 Pembukaan: Pengantar kegiatan, perkenalan, pembacaan tata tertib kegiatan, pre-test, dan mengunduh materi pelatihan Andriani Yulianti, MPH
09.15- 09.30 Sesi 1 : Konsep Penyusunan, Penerapan, dan Evaluasi Program Peningkatan Mutu Keselamatan Pasien & Manajemen Risiko Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua

09:30-10:30

Sesi 2: Pengelolaan Kegiatan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien

  1. Pembentukan Komite/Tim Mutu RS
  2. Penyusunan Program Pelatihan PMKP
Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua
10.30-11.30 Sesi 3: Pemilihan dan Pengumpulan data Indikator

  1. Pemilihan indikator mutu prioritas baik di tingkat rumah sakit maupun tingkat unit layanan.
  2. Pengumpulan data indikator nasional mutu, indikator mutu prioritas RS, indikator mutu prioritas unit.
  3. Membuat profil Indikator
Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua
11.30-12.00 Sesi 4: Analisis dan validasi data indikator mutu

  1. Agregasi dan Analisa data menggunakan metode dan teknik statistik terhadap semua indikator mutu
  2. Pembelajaran dari database eksternal untuk tujuan perbandingan internal
  3. Analisa efisiensi berdasarkan biaya dan jenis sumber daya yang digunakan (kendali mutu dan kendali biaya) terhadap satu proyek prioritas perbaikan yang dipilih setiap tahun.
  4. Validasi data berbasis bukti

Andriani Yulianti, MPH

Tri Yatmi, MNSc

Hari ke-2 
09.00– 10.00 Sesi 5: Pencapaian dan upaya Mempertahankan Perbaikan mutu

  1. Menyusun Dokumentasi/Laporan dengan Model PDCA/PDSA
Andriani Yulianti, MPH
10.00– 11.00 Sesi 6: Sistem pelaporan dan pembelajaran keselamatan pasien RS

  1. Sistem Pelaporan dan Pembelajaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit (SP2KP RS) dan Analisa RCA untuk Sentinel, KTD, KNC, KTC, KPCS.
  2. Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien
Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua
11.00-11.45 Sesi 7: Penerapan Manajemen Risiko

  1. Prinsip Manajemen Risiko
  2. Program Manajemen Risiko Rumah Sakit
  3. Menyusun Risk Registry
  4. Profil risiko dan rencana penanganan
  5. Menyusun FMEA
Dr. Hanevi Djasri, dr, MARS, FISQua
11.45–12.00 Penutup: diskusi akhir, penyusunan rencana tindak lanjut, post-test, pengisian lembar reaksi, foto bersama Andriani Yulianti, MPH

link pendaftaran

Informasi & Pendaftaran:

PJ Konten: Andriani Yulianti, MPH (081328003119)

Momentum Patient Safety Awareness Week 2026: Bersama Wujudkan Keselamatan Pasien

Setiap tahun, Patient Safety Awareness Week pada 9 – 13 Maret yang diinisiasi oleh Institute for Healthcare Improvement diperingati sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya keselamatan pasien. Pada tahun 2026, tema yang diangkat adalah “Team Up for Patient Safety”. Tema ini menekankan pentingnya kolaborasi antara tenaga kesehatan, pasien, dan keluarga dalam proses pelayanan. Selain kolaborasi, hal terpenting yang harus dilakukan untuk mewujudkan keselamatan pasien adalah manajemen tim yang kuat, komunikasi efektif, serta keterlibatan aktif pasien dalam setiap tahap perawatan.

Komitmen terhadap keselamatan pasien di Indonesia sendiri telah ditegaskan melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang mewajibkan fasilitas pelayanan kesehatan memberikan pelayanan bermutu dan mengutamakan keselamatan pasien. Ketentuan ini diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 yang menegaskan bahwa peningkatan mutu dilakukan melalui pengukuran indikator mutu, pelaporan insiden keselamatan pasien, dan penerapan manajemen risiko. Implementasi kebijakan tersebut salah satunya dijalankan melalui Program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) yang menjadi bagian penting dalam sistem manajemen rumah sakit.

Dalam praktiknya, PMKP mencakup pengukuran berbagai indikator mutu pelayanan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2022 tentang Indikator Nasional Mutu seperti kepatuhan kebersihan tangan, identifikasi pasien, penggunaan alat pelindung diri, serta kepuasan pasien dan keluarga. Selain itu, rumah sakit juga perlu menerapkan sistem pelaporan insiden keselamatan pasien sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2017 agar setiap kejadian dapat dianalisis dan menjadi pembelajaran untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Momentum Patient Safety Awareness Week menjadi kesempatan bagi rumah sakit dan tenaga kesehatan untuk merefleksikan upaya yang telah dilakukan dalam meningkatkan keselamatan pasien sekaligus memperkuat kolaborasi dalam tim pelayanan. Penguatan kapasitas melalui pelatihan dan pengembangan kompetensi menjadi langkah penting agar implementasi PMKP, manajemen risiko, serta budaya keselamatan pasien dapat berjalan secara konsisten demi tercapainya pelayanan kesehatan yang lebih aman dan bermutu. Dalam kesempatan ini, PKMK FK-KMK UGM memberikan fasilitas pelatihan bimbingan teknis penguatan PMKP dan manajemen risiko sesuai dengan standar akreditasi rumah sakit yang diselenggarakan secara online. Mari wujudkan keberhasilan keselamatan pasien melalui pelatihan kami!

Informasi selengkapnya:

https://www.mutupelayanankesehatan.net/4289-peningkatan-mutu-dan-keselamatan-pasien 

Peran Chat GPT dalam Dunia Medis: Asisten Cerdas yang Perlu Pengawasan

Perkembangan kecerdasan buatan khususnya Chat GPT telah membuka tantangan baru dalam pelayanan kesehatan dan penelitian medis. Berdasarkan penelitian Garg et al. (2023), teknologi ini diketahui memiliki potensi besar sebagai alat bantu klinis dan akademik terutama dalam meningkatkan efisiensi kerja tenaga kesehatan dan peneliti. Dalam praktik klinis, Chat GPT dapat membantu menjawab pertanyaan pasien, menyusun catatan medis, dan mendukung pengambilan keputusan terapi. Selain itu, Chat GPT juga berperan dalam edukasi pasien dan tenaga kesehatan dengan menyajikan informasi medis yang cepat dan mudah dipahami. Namun, kemampuan tersebut masih memiliki keterbatasan karena ChatGPT belum dapat memberikan diagnosa yang komprehensif dan tidak dapat menggantikan penilaian klinis berbasis pengalaman manusia.

Dalam bidang penelitian, Chat GPT terbukti mampu mempercepat proses riset mulai dari pengumpulan data, analisis, dan penulisan artikel ilmiah. Selain itu, teknologi ini dapat membantu dalam penyusunan abstrak, editing bahasa, hingga perumusan ide penelitian. Namun, penggunaan ChatGPT dalam penulisan ilmiah juga menimbulkan tantangan serius seperti potensi plagiarisme, bias, serta munculnya referensi yang tidak valid atau bahkan fiktif. Setiap hasil yang dihasilkan tetap memerlukan verifikasi dan penyuntingan oleh peneliti manusia.

Aspek etika menjadi perhatian utama dalam pemanfaatan Chat GPT di bidang kesehatan sehingga memerlukan pengawasan yang ketat. Beberapa isu penting yang diidentifikasi meliputi akurasi informasi, bias algoritma, privasi data pasien, dan pertanggungjawaban dalam publikasi ilmiah. Secara jelas, Chat GPT tidak dapat diakui sebagai penulis dalam karya ilmiah karena tidak memiliki tanggung jawab moral dan intelektual. Transparansi dalam penggunaan AI menjadi hal yang wajib diterapkan dalam praktik akademik dan klinis.

Bagi praktisi kesehatan, kehadiran Chat GPT dapat dimanfaatkan sebagai “clinical assistant” untuk meningkatkan efisiensi kerja terutama dalam tugas administratif dan edukatif. Namun, tenaga kesehatan tetap harus mengedepankan nilai etik dan melakukan validasi terhadap setiap informasi yang dihasilkan. Sementara itu, bagi manajemen rumah sakit, implementasi teknologi ini perlu disertai dengan kebijakan yang jelas terkait keamanan data, pelatihan literasi AI bagi tenaga kesehatan, serta regulasi penggunaan AI dalam pelayanan klinis agar tetap aman, etis, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Secara keseluruhan, Chat GPT menawarkan peluang besar dalam transformasi pelayanan kesehatan dan penelitian medis. Namun, tanpa pengawasan yang ketat dan regulasi yang memadai Chat GPT juga berpotensi menimbulkan risiko. Oleh karena itu, pendekatan yang seimbang antara inovasi dan kehati-hatian menjadi kunci dalam memanfaatkan Chat GPT secara optimal di sektor kesehatan.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10558973/ 

Deteksi Dini Tuberkulosis: Kunci Pemutus Rantai Penularan dan Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan

tuberculosis

Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang signifikan dengan jutaan kasus baru setiap tahunnya. Review Yayan et al. (2024) menemukan bahwa celah terbesar dalam pengendalian TB bukan hanya pada pengobatan melainkan pada keterlambatan deteksi dini. Proses deteksi dini sebenarnya tidak hanya sekadar menemukan pasien saat sudah sakit berat tetapi juga mengidentifikasi infeksi laten hingga gejala awal yang sering kali ringan dan tidak spesifik (seperti batuk berkepanjangan, demam, atau penurunan berat badan). Pendekatan ini terbukti krusial untuk mencegah progresivitas penyakit sekaligus menekan penularan.

Saat ini, berbagai metode deteksi dini terus berkembang pesat. Selain metode konvensional seperti pemeriksaan dahak, kini tersedia teknologi diagnostik molekuler seperti Nucleic Acid Amplification Tests (NAATs) dan Xpert MTB/RIF yang mampu mendeteksi bakteri TB dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi. Inovasi lain seperti penggunaan kecerdasan buatan pada foto rontgen dada juga menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan kecepatan dan akurasi diagnosis. Selain itu, metode berbasis imunologi seperti Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) serta ELISA ultra-sensitif mampu mendeteksi infeksi secara lebih dini dengan waktu pemeriksaan yang jauh lebih cepat .

Selain teknologi, deteksi dini berbasis pendekatan komunitas juga memiliki peran penting. Skrining kontak serumah pasien TB terbukti efektif dalam menemukan kasus aktif maupun infeksi laten yang sebelumnya tidak terdeteksi. Edukasi kesehatan yang komprehensif kepada keluarga pasien meningkatkan kesadaran, kepatuhan terhadap pemeriksaan, serta keberhasilan pengobatan. Selain itu, strategi active case finding menggunakan mobile X-ray memungkinkan tenaga kesehatan menjangkau populasi rentan di daerah terpencil atau padat penduduk sehingga mempercepat identifikasi kasus dan memulai terapi lebih awal.

Namun, implementasi deteksi dini masih menghadapi berbagai tantangan terutama di negara berkembang. Keterbatasan akses terhadap fasilitas diagnostik, biaya pemeriksaan yang relatif tinggi, dan stigma sosial menjadi hambatan utama. Selain itu, variasi metode dan kualitas penelitian menunjukkan perlunya standarisasi protokol serta pengembangan teknologi yang lebih terjangkau dan mudah diakses. Tanpa mengatasi hambatan ini, potensi besar dari inovasi deteksi dini tidak akan optimal dalam praktik lapangan.

Bagi praktisi kesehatan, temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan komprehensif dalam diagnosis TB mulai dari mengkombinasikan gejala klinis, skrining aktif, serta teknologi diagnostik terbaru. Sementara itu, investasi pada alat diagnostik modern, penguatan sistem rujukan, serta integrasi teknologi seperti AI menjadi langkah strategis untuk meningkatkan mutu layanan bagi manajemen rumah sakit. Penguatan program edukasi pasien dan keluarga serta kolaborasi lintas sektor juga dapat membantu menciptakan efektivitas sistem deteksi dini yang efisien dan berkelanjutan. Secara keseluruhan, deteksi dini sejatinya tidak hanya sekadar menjadi strategi klinis tetapi juga investasi penting dalam keselamatan pasien dan pengendalian penyakit secara menyeluruh.

 

Disarikan oleh: 

Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya: https://link.springer.com/article/10.1186/s41479-024-00133-z

 

Deteksi Dini Tuberkulosis: Kunci Pemutus Rantai Penularan dan Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan

Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang signifikan dengan jutaan kasus baru setiap tahunnya. Review Yayan et al. (2024) menemukan bahwa celah terbesar dalam pengendalian TB bukan hanya pada pengobatan melainkan pada keterlambatan deteksi dini. Proses deteksi dini sebenarnya tidak hanya sekadar menemukan pasien saat sudah sakit berat tetapi juga mengidentifikasi infeksi laten hingga gejala awal yang sering kali ringan dan tidak spesifik (seperti batuk berkepanjangan, demam, atau penurunan berat badan). Pendekatan ini terbukti krusial untuk mencegah progresivitas penyakit sekaligus menekan penularan.

Saat ini, berbagai metode deteksi dini terus berkembang pesat. Selain metode konvensional seperti pemeriksaan dahak, kini tersedia teknologi diagnostik molekuler seperti Nucleic Acid Amplification Tests (NAATs) dan Xpert MTB/RIF yang mampu mendeteksi bakteri TB dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi. Inovasi lain seperti penggunaan kecerdasan buatan pada foto rontgen dada juga menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan kecepatan dan akurasi diagnosis. Selain itu, metode berbasis imunologi seperti Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) serta ELISA ultra-sensitif mampu mendeteksi infeksi secara lebih dini dengan waktu pemeriksaan yang jauh lebih cepat .

Selain teknologi, deteksi dini berbasis pendekatan komunitas juga memiliki peran penting. Skrining kontak serumah pasien TB terbukti efektif dalam menemukan kasus aktif maupun infeksi laten yang sebelumnya tidak terdeteksi. Edukasi kesehatan yang komprehensif kepada keluarga pasien meningkatkan kesadaran, kepatuhan terhadap pemeriksaan, serta keberhasilan pengobatan. Selain itu, strategi active case finding menggunakan mobile X-ray memungkinkan tenaga kesehatan menjangkau populasi rentan di daerah terpencil atau padat penduduk sehingga mempercepat identifikasi kasus dan memulai terapi lebih awal.

Namun, implementasi deteksi dini masih menghadapi berbagai tantangan terutama di negara berkembang. Keterbatasan akses terhadap fasilitas diagnostik, biaya pemeriksaan yang relatif tinggi, dan stigma sosial menjadi hambatan utama. Selain itu, variasi metode dan kualitas penelitian menunjukkan perlunya standarisasi protokol serta pengembangan teknologi yang lebih terjangkau dan mudah diakses. Tanpa mengatasi hambatan ini, potensi besar dari inovasi deteksi dini tidak akan optimal dalam praktik lapangan.

Bagi praktisi kesehatan, temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan komprehensif dalam diagnosis TB mulai dari mengkombinasikan gejala klinis, skrining aktif, serta teknologi diagnostik terbaru. Sementara itu, investasi pada alat diagnostik modern, penguatan sistem rujukan, serta integrasi teknologi seperti AI menjadi langkah strategis untuk meningkatkan mutu layanan bagi manajemen rumah sakit. Penguatan program edukasi pasien dan keluarga serta kolaborasi lintas sektor juga dapat membantu menciptakan efektivitas sistem deteksi dini yang efisien dan berkelanjutan. Secara keseluruhan, deteksi dini sejatinya tidak hanya sekadar menjadi strategi klinis tetapi juga investasi penting dalam keselamatan pasien dan pengendalian penyakit secara menyeluruh.

Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)

Selengkapnya:
https://link.springer.com/article/10.1186/s41479-024-00133-z