Pada Januari 2025, ASIK mencapai tonggak sejarah yang luar biasa—memenangkan ASEAN Digital Award, sebuah pengakuan atas dampaknya yang mendalam pada kesehatan anak-anak di seluruh Indonesia.
Workshop Implementasi Rancangan dan Pelaksanaan OSCE (Objective Structured Clinical Examination) bagi Tenaga Kesehatan
Workshop Implementasi Rancangan dan Pelaksanaan OSCE
(Objective Structured Clinical Examination)
bagi Tenaga Kesehatan
Latar belakang
Pemerintah Indonesia, melalui Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2025, menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas SDM kesehatan. Instruksi ini bertujuan untuk memastikan tenaga Kesehatan memiliki keterampilan yang terstandar dalam pelayanan pasien, serta siap menghadapi tantangan sistem kesehatan yang terus berkembang. Peningkatan kapasitas SDM kesehatan melalui workshop implementasi rancangan dan pelaksanaan OSCE, diharapkan mutu pendidikan dan evaluasi tenaga kesehatan dapat meningkat, sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat menjadi lebih optimal. Program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat sistem kesehatan nasional guna mencapai tujuan pembangunan kesehatan yang berkelanjutan.
Melalui pendekatan yang terintegrasi, kegiatan ini akan memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan evaluasi klinis, untuk mencetak lulusan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan di dunia profesional. Upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia, pengembangan sumber daya manusia (SDM) kesehatan menjadi hal yang sangat penting. Salah satu metode yang telah terbukti efektif dalam menilai kompetensi tenaga kesehatan adalah Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Metode ini tidak hanya menilai keterampilan klinis, tetapi juga pengetahuan dan sikap profesional peserta didik dalam berbagai situasi klinis. Oleh karena itu, workshop ini diselenggarakan untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan dalam melaksanakan OSCE dengan benar.
Sumber daya manusia (SDM) kesehatan merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan di Indonesia. Untuk memastikan tenaga kesehatan memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar nasional dan internasional, diperlukan metode evaluasi yang objektif dan terstruktur dalam menilai keterampilan klinis mereka. Salah satu metode yang digunakan secara luas adalah Objective Structured Clinical Examination (OSCE), yang menguji kompetensi tenaga kesehatan dalam berbagai skenario klinis melalui pendekatan berbasis praktik.
Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dirancang untuk menilai kompetensi klinis secara komprehensif, meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional. Objective Structured Clinical Examination (OSCE) telah diakui secara luas sebagai metode yang efektif, dalam praktiknya. Pelatihan semacam ini tidak hanya membantu memahami prinsip-prinsip dasar OSCE, tetapi juga memberikan panduan praktis untuk mengaplikasikannya dalam konteks nyata. Workshop implementasi rancangan dan pelaksanaan OSCE akan dilaksanakan selama tiga hari. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mendalam mengenai OSCE, dengan melibatkan narasumber yang berpengalaman di bidangnya, peserta diharapkan dapat memahami sehingga dapat mengimplementasikan prinsip-prinsip OSCE secara efektif.
Tujuan
Tujuan dari pelatihan ini adalah:
- Meningkatkan pemahaman tentang prinsip-prinsip OSCE
- Meningkatkan keterampilan peserta dalam merancang dan melaksanakan OSCE
- Meningkatkan kemampuan peserta sebagai penguji dalam melaksanakan penilaian OSCE
- Meningkatkan standar penilaian keterampilan klinis
- Mendiskusikan pengalaman dan tantangan dalam OSCE
- Memperoleh umpan balik mengenai efektivitas pelaksanaan OSCE yang telah disiapkan.
Waktu dan Tempat
Selasa-Jum’at, 24-26 September 2025.
Pelatihan ini dilaksanakan di hotel Jayakarta Jogjakarta dan Laboratorium OSCE.
Rundown Kegiatan
|
HARI I: |
||
|
Waktu |
Materi/ Kegiatan |
Narasumber/ Fasilitator |
|
07.30 – 08.00 |
Registrasi |
Panitia |
|
08.00 – 08.15 |
Pengantar dan Sambutan |
Moderator |
|
08.15 – 09.00 |
Sesi 1 : |
dr. M. Hardantyo, MPH., PhD |
|
09.00 – 09.45 |
Sesi 2 : |
Dr. Tridjoko Hadianto, DTMH., M.Kes. |
|
09.45 – 10.00 |
Coffee break |
Panitia |
|
10.00 – 10.45 |
Sesi 3: |
Panca Desristanto SS., MA. |
|
10.45 – 11.30 |
Sesi 4: |
J.M. Metha, M.Med.Ed |
|
11.30 – 12.30 |
ISHOMA |
Panitia |
|
12.30 – 13.15 |
Sesi 5: Gambaran pelaksanaan ujian OSCE |
Dr. Tridjoko Hadianto, DTMH., M.Kes. |
|
13.15 – 14.00 |
Sesi 6: |
J.M. Metha, M.Med.Ed |
|
14.00 – 14.45 |
Sesi 7: Penetapan Batas Lulus dan Standard Setting |
Dr. Tridjoko Hadianto, DTMH., M.Kes. |
|
14.45 – 15.00 |
Coffee Break |
Panitia |
|
15.00 – 15.45 |
Sesi 8: Pengantar Persiapan Praktik dan Simulasi |
J.M. Metha, M.Med.Ed |
|
15.45 – 16.00 |
Refleksi |
Narasumber |
|
HARI II |
||
|
09.00 – 10.30 |
Briefing pada Penguji |
J.M. Metha, M.Med.Ed |
|
10.30 – 10.45 |
Coffee Break |
Panitia |
|
10.45 – 12.15 |
Briefing pada Peserta |
J.M. Metha, M.Med.Ed |
|
12.15 – 13.00 |
ISHOMA |
Panitia |
|
13.00 – 14.30 |
Briefing pada Pasien Simulasi |
dr. Arida Oetami, M.Kes |
|
14.30 – 15.00 |
Penjelasan Pelaksanaan Ujian |
Tri Yatmi, S.Kep., Ns |
|
HARI III |
||
|
08.00 – 08.15 |
Persiapan Soal Ujian |
Panca Desristanto SS., MA. |
|
08.15 – 08.30 |
Persiapan Pasien Simulasi |
dr. Arida Oetami, M.Kes |
|
08.30 – 08.45 |
Persiapan Alat dan Bahan |
J.M. Metha, M.Med.Ed |
|
08.45 – 09.00 |
Persiapan Peserta Ujian |
Dr. Tridjoko Hadianto, DTMH., M.Kes. |
|
09.00 – 10.00 |
Pelaksanaan Ujian Simulasi |
|
|
10.00 – 11.30 |
Evaluasi dan Umpan Balik |
Narasumber |
|
11.30 – 12.00 |
Penutupan |
Moderator |
Biaya Kepesertaan
Rp. 3.000.000/orang
Narahubung:
Opi (0851‑1744‑8499)
Pendidikan Orang Tua: Kunci Menurunkan Angka Kematian Anak
Pendidikan tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga, tetapi juga berperan besar dalam menurunkan angka kematian anak. Sebuah penelitian besar yang dipublikasikan di The Lancet tahun 2021 menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, semakin rendah risiko anak meninggal sebelum usia lima tahun. Penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa pendidikan dapat dianggap sebagai salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif.
Studi ini merupakan tinjauan sistematis dan meta-analisis terbesar yang pernah dilakukan terkait topik ini. Para peneliti menganalisis lebih dari 300 penelitian di 92 negara, mencakup data sekitar 3,1 juta kelahiran hidup. Mereka menilai bagaimana pendidikan orang tua memengaruhi angka kematian pada berbagai tahap usia anak, mulai dari periode neonatal (0–27 hari), masa bayi (1–11 bulan), hingga anak usia dini (1–4 tahun). Dengan metode meta-regresi, penelitian ini mengontrol faktor-faktor seperti tingkat ekonomi, pendidikan pasangan, dan variasi budaya untuk menghasilkan gambaran yang komprehensif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan ibu memiliki dampak yang sangat signifikan. Anak yang lahir dari ibu dengan pendidikan menengah (setara 12 tahun sekolah) memiliki risiko meninggal 31% lebih rendah dibanding anak dari ibu tanpa pendidikan. Bahkan, setiap tambahan satu tahun pendidikan ibu dikaitkan dengan penurunan risiko kematian anak sebesar 3,04%. Temuan ini menggambarkan betapa pentingnya akses pendidikan bagi perempuan, karena mereka sering memiliki peran utama dalam pengasuhan dan kesehatan anak sehari-hari.
Meski pengaruh pendidikan ayah tidak sebesar ibu, perannya tetap signifikan. Anak dengan ayah berpendidikan menengah memiliki risiko kematian 17,3% lebih rendah, dan setiap tambahan satu tahun pendidikan ayah menurunkan risiko kematian anak sebesar 1,57%. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya urusan perempuan, melainkan faktor bersama yang memengaruhi kualitas kesehatan generasi berikutnya.
Efek perlindungan dari pendidikan orang tua juga terlihat konsisten di semua rentang usia anak. Dampaknya paling kuat setelah melewati bulan pertama kehidupan, masa kritis yang penuh risiko bagi bayi. Namun manfaatnya tetap terasa hingga usia prasekolah, menegaskan bahwa pendidikan orang tua bukan hanya memberi keuntungan jangka pendek, tetapi juga perlindungan kesehatan jangka panjang bagi anak-anak mereka.
Temuan ini membawa pesan penting bagi kebijakan publik. Pendidikan universal yang berkualitas, terutama bagi perempuan, adalah investasi kesehatan yang tidak bisa ditawar. Dengan meningkatkan akses pendidikan, negara bukan hanya membangun sumber daya manusia yang lebih produktif, tetapi juga secara langsung menyelamatkan nyawa anak-anak. Upaya mencapai target pembangunan berkelanjutan—baik dalam pendidikan (SDG 4) maupun kesehatan anak (SDG 3.2)—dapat dipercepat dengan menjadikan pendidikan sebagai strategi utama untuk menurunkan angka kematian anak secara global.
Lebih lanjut dapat dilihat pada link berikut:
https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/piis0140-6736%2821%2900534-1/fulltext?utm_source=chatgpt.com
Chikungunya’s 2025 surge sparks urgent research response
The 2025 chikungunya outbreak has surged from the Indian Ocean to Europe, prompting an urgent global research response. With no antivirals and limited vaccine access, laboratories and biotech firms are under pressure to deliver solutions fast.
Ancaman KLB Campak, Lima Kecamatan Di Sumenep Jadi Zona Merah
Kasus campak di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kian mengkhawatirkan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2PKB) Kabupaten Sumenep, tercatat 1.944 balita terserang campak sejak Januari hingga Agustus 2025, dengan 12 balita meninggal dunia.
Membuka Peluang Riset dan Layanan Tepat Sasaran Melalui Terhubungnya Data Kesehatan
Dalam dunia kesehatan digital, data kesehatan adalah modal utama yang banyak digunakan sebagai pertimbangan pengambilan keputusan yang tepat. Namun, data kesehatan seringkali tersebar dalam berbagai sistem dan instansi sehingga sulit dimanfaatkan secara maksimal. Artikel terbaru oleh Mathason et al (2025) dalam jurnal Communications Medicine mengulas bagaimana data linkage—proses menghubungkan data dari berbagai sumber—dapat mengubah lanskap riset, kebijakan, dan layanan kesehatan. Rekam medis, klaim asuransi, hasil laboratorium, dan data genomik yang dapat terhubung secara aman dan lengkap dapat memudahkan peneliti memahami pola penyakit, membantu tenaga kesehatan membuat keputusan klinis yang lebih akurat, serta memungkinkan pemerintah merancang kebijakan kesehatan berbasis bukti.
Proses data linkage dilakukan dengan mengidentifikasi data yang merujuk pada orang yang sama dari berbagai sumber. Identifikasi data menggunakan beberapa metode seperti deterministic (ID unik), probabilistic (kemungkinan kecocokan), atau referential (data referensi tambahan). Data dapat berbentuk identified (dengan identitas asli) atau de-identified (dengan enkripsi untuk jaga privasi). Kunci keberhasilan data linkage terdapat pada kualitas dan standar data agar catatan bisa terhubung dengan akurat dan aman. Saat ini, data linkage salah satu contohnya telah dimanfaatkan dalam penelitian terkait virus Epstein-Barr dan risiko multiple sclerosis yang menghubungkan data medis jangka panjang dari jutaan individu.
Tantangan utama data linkage kesehatan adalah penjagaan kualitas data dan perlindungan privasi pasien. Upaya penjagaan kualitas data dan perlindungan privasi pasien dapat dilakukan dengan standarisasi format dan bantuan teknologi. Salah satu contoh standarisasi format, seperti yang dilakukan melalui inisiatif United States Core Data for Interoperability, menjadi kunci agar data dapat saling terhubung tanpa mengorbankan keamanan. Teknologi seperti Privacy Preserving Record Linkage (PPRL) memungkinkan penggabungan data tanpa membocorkan identitas pribadi sehingga riset tetap berjalan sambil menjaga kerahasiaan pasien.
Bagi praktisi kesehatan, implikasi data linkage tentunya sangat besar. Data linkage dapat membantu mengidentifikasi populasi dengan penyakit berisiko tinggi, memantau efektivitas terapi, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, dan memperkecil kesenjangan akses layanan di komunitas terpencil. Dalam era precision medicine, integrasi data juga dapat memandu terapi yang dipersonalisasi sesuai profil genetik dan kondisi sosial-ekonomi pasien. Kolaborasi lintas sektor dan inovasi teknologi akan menjadi penentu keberhasilan pemanfaatan data linkage di masa depan. Tenaga kesehatan, peneliti, dan pembuat kebijakan perlu memaksimalkan kerja sama dan komunikasi yang baik untuk memastikan data terhubung dengan aman, akurat, dan bermanfaat bagi semua pihak. Hal ini dapat membuka jalan bagi layanan kesehatan yang lebih efisien, adil, dan berbasis bukti.
Dirangkum oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Mutu PKMK FK-KMK UGM)
Selengkapnya: https://www.nature.com/articles/s43856-025-00769-y
Low-Quality Papers Based on Public Health Data Are Flooding The Scientific Literature
The appearance of thousands of formulaic biomedical studies has been linked to the rise of text-generating AI tools. Data from five large open-access health databases are being used to generate thousands of poor-quality, formulaic papers, an analysis has found. Its authors say that the surge in publications could indicate the exploitation of these databases by people using large language models (LLMs) to mass-produce scholarly articles, or even by paper mills — companies that churn out papers to order.
Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Jiwa: Pentingnya Evaluasi Berbasis Indikator
Kesehatan jiwa merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kualitas hidup, kesejahteraan sosial, dan produktivitas ekonomi. Namun, tantangan untuk memberikan layanan kesehatan jiwa yang benar-benar berkualitas masih menjadi tantangan besar, termasuk di negara-negara dengan sistem kesehatan yang sudah maju.
Kajian dalam International Journal of Environmental Research and Public Health oleh Samartzis dan Talias (2020) menekankan bahwa peningkatan kualitas layanan tidak dapat tercapai tanpa melakukan evaluasi yang terukur terlebih dahulu. Prinsipnya sederhana: apa yang tidak diukur, tidak dapat diperbaiki. Oleh karena itu, evaluasi untuk memastikan layanan yang diberikan benar-benar efektif, aman, dan sesuai kebutuhan pasien harus dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif.
Kajian ini merumuskan 8 indikator yang dapat menjadi panduan dalam menilai kualitas layanan kesehatan jiwa mulai dari kesesuaian layanan, aksesibilitas, penerimaan pasien, kompetensi tenaga kesehatan, efektivitas terapi, kontinuitas perawatan, efisiensi penggunaan sumber daya, serta keamanan pasien dan tenaga kesehatan. Setiap dimensi memiliki indikator khusus berupa structure indicators (jumlah tenaga kesehatan dan fasilitas), process indicators (alur pelayanan dan jalannya prosedur), dan outcome indicators (tingkat perbaikan pasien dan kepuasan). Contoh kesesuaian layanan dapat dilihat dari apakah pasien menerima ketepatan perawatan sesuai kebutuhan. Aksesibilitas diukur melalui waktu tunggu dan ketersediaan layanan. Penerimaan pasien dilihat dari pemenuhan hak dan kepuasan pasien. Kompetensi tenaga kesehatan dapat dievaluasi dari partisipasi pelatihan berkelanjutan. Kesesuaian layanan dapat dilihat dari kesinambungan kinerja layanan antara rawat inap dan rawat jalan. Indikator keamanan dapat dilihat dari adanya perlindungan risiko pasien dari kekerasan, pelanggaran data, atau bahaya lain.
Penerapan indikator kualitas pelayanan kesehatan jiwa sangat penting karena dapat membantu mengidentifikasi kelemahan dalam sistem dan menentukan prioritas perbaikan. Contohnya, keterlambatan akses dapat memperburuk kondisi pasien terutama pada kasus krisis seperti risiko bunuh diri. Tingkat kepuasan pasien juga mempengaruhi kepatuhan terhadap terapi jangka panjang. Kontinuitas perawatan dapat mencegah fenomena “revolving door” (pasien berulang kali keluar-masuk rumah sakit). Melalui pemantauan indikator secara konsisten, rumah sakit dan klinik dapat melihat tren peningkatan atau kemunduran layanan dari tahun ke tahun sekaligus menyesuaikan strategi yang diperlukan.
Bagi praktisi kesehatan, pemanfaatan indikator kualitas dapat membuka peluang untuk merancang perencanaan berbasis bukti, memperkuat program pelatihan tenaga medis, dan membangun transparansi yang meningkatkan kepercayaan publik. Layanan kesehatan jiwa yang baik tidak hanya berkaitan dengan penambahan jumlah fasilitas atau tenaga medis tetapi juga memastikan bahwa setiap langkah dalam proses pelayanan benar-benar memberikan manfaat yang optimal bagi pasien. Melalui adopsi sistem evaluasi yang terstruktur, tenaga kesehatan dapat berkembang memberikan layanan yang lebih tepat, aman, efektif, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat fondasi kesehatan jiwa masyarakat secara keseluruhan.
Disarikan oleh:
Nikita Widya Permata Sari, S. Gz., MPH
(Peneliti Divisi Manajemen Mutu PKMK)
Selengkapnya: https://www.mdpi.com/1660-4601/17/1/249
WHO Launches New Guide to Help Boost Quality in Health Services
WHO today launched a new guide on Measuring and monitoring quality of care for maternal, newborn, child, and adolescent health services. The guide and its accompanying tool are designed to support programme managers, policymakers and health workers in strengthening efforts to measure, monitor and improve the quality of health services, especially for maternal, newborn, child and adolescent health. Key messages in the guide include the following.
Five Ways Health-Care Workers Can Support Women’s Mental Health During Pregnancy
Ensuring the mental health of women during pregnancy, delivery and postnatal care is crucial for their overall well-being and the health of their babies. Here are five ways health-care workers can play a vital role in supporting women’s mental health: